Posted in E N I G M A

2. E N I G M A : Disorder

kau tahu pelangi?
Ya. Warni warni cerah yang muncul setelah hujan
Menurutmu, ada berapa warna pelangi?
Tentu saja tujuh
Kau salah
Bagaimana mungkin bisa salah? Dari kecil aku sudah belajar jika pelangi memiliki tujuh warna
Sebutkan
Merah, Jingga, Kuning, Hijau, Biru, Nila, Ungu
Kau salah
Bagaimana bisa?
Karena pelangi memiliki sembilan warna yang melambangkan kesembilan Pangeran langit yang jatuh cinta pada seorang Putri di Bumi

.


E N I G M A

.

Specially for Exo-l and Queen’s (1st JiXo fanfiction)

Special pairing : Jiyeon – Sehun or other? Maybe.

Timeline : age : 16 years old.

.

Seoul dimata Kai merupakan surganya dunia. Banyak gadis modis berpenampilan menarik dan energik. Mereka begitu mempesona dimatanya. Di banding Incheon, Kai akan memberikan nilai sepuluh untuk Seoul. Pria itu juga tak pernah berkedip memandang bangunan bertingkat yang berjejer sepanjang jalan, namun banyak taman yang membuat keseimbangan ekosistem tetap terjaga. Sebelum bertemu Nana dan Jaejoong, Kai tinggal di pedesaan Busan. Yatim piatu dan ia adalah seorang gelandang kecil yang malang.

Tak heran, melihat kota besar seperti Seoul membuatnya tidak bisa berhenti terpana. Suho berbaik hati melepaskan ikat magicnya setelah negosiasi panjang. Baekhyun tertidur dengan topi menutupi wajah. Disampingnya, Chen sangat seru bermain game di IPhone 7 miliknya. Begitu lagu Maid With Flaxen Hair milik Richard Stoltzman berputar menggantikan suara merdu Carly Rae Jepsen. Mini bus mereka mulai memasuki distrik Gwanghamun di sambut cuaca gelap dengan angin kencang. Banyak daun berguguran yang mengotori aspal. Bangunan yang ada disana sangat besar dengan tembok kokoh yang menutupi masing-masing bangunan. Suho masih terlelap dalam tidurnya dengan mulut terbuka saat Kai tak berkedip memandangi desain bangunan setiap rumah.

Chanyeol menguap sambil merentangkan tangannya sementara Sehun hanya melirik sebentar Chanyeol lalu kembali duduk dengan nyaman sambil mendengarkan musik dari earphone putihnya. Pria itu seperti orang banyak pikiran akhir-akhir ini. Terkadang Sehun tak pernah fokus saat di ajak bicara seperti akalnya berada di tempat lain. Sekilas ada kesedihan dimata Kai melihat kondisi keluarganya yang seperti ini, tapi pria blonde itu buru-buru mengatur mimik wajahnya kembali normal. Ia akan kembali memainkan bersikap seolah semuanya baik-baik saja.

Mini bus mereka baru saja memasuki pagar besar yang terbuat dari besi tembaga besar, pagar itu terbuka otomotis. Hal pertama yang Kai lihat adalah pekarangan luas dengan pohon besar, terdapat danau serta lapangan golf. Di pinggir jalan berjejer pohohn oak dengan daun kering berguguran. Beberap meter kemudian, mata Kai dimanjakan dengan banyaknya pohon sakura sepanjang jalan. Kai mulai berpikir, dimana rumah mereka? Karena sejauh ini yang kai lihat hanya pemandangan alam yang sangat indah. Hingga beberap meter kemudian terlihat banguan megah bergaya modern dengan tiang-tiang khas Eropa. Ada air mancur dengan patung cupit di tengah-tengah pekarangan rumah, dan juga ada sepuluh bangunan terpisah dari rumah utama. Masing-masing dari bangunan itu terdapat symbol dari masing-masing magic mereka.

Kai paham, jika kesepuluh bangunan yang di buat mengelilingi rumah utama adalah bangunan yang disiapkan untuk privasi mereka. Arsitektur rumah itu begitu unik dan berbeda dari rumah-rumah lain di distrik Gwanghamun. Namun itu yang membuatnya unik. Kai tidak pernah tahu jika Nana dan Jaejoong memiliki rumah semewah yang layak disebut seperti istana seperti ini.

Mini bus mereka berhenti di —Kai lebih suka menyebutnya lobby. Suho dan Baekhyun langsung bangun dan menyusul yang lain untuk turun, kemudian mini bus itu langsung dibawa pergi oleh supir keluarga mereka menuju garasi. Jaejoong dan Nana yang baru turun dari van mereka dan langsung memberikan senyum seolah mengatakan “ini rumah baru kalian”. Di belakangnya ada Kyungsoo yang tampak kalem menunggu Jiyeon keluar. Saat gadis itu mulai keluar, wajah Jiyeon tidak terkejut sama sekali melihat rumah baru mereka seperti yang lainnya. Gadis itu hanya tidak menunjukkan ekspresi apapun selain kekosongan. Kyungsoo buru-buru menarik tangan Jiyeon dan mengajaknya masuk. Sehun mulai mendengus dan berjalan melewati yang lain dengan perasaan kesal dan kecewa.

“Ah,” Baekhyun merentangkan tangannya sambil menghirup aroma segar hujan yang mulai membasahi bumi. “Aku selalu suka hujan.” Katanya kalem.

“Biasanya setelah hujan akan muncul pelangi,” kata Suho menimpali dengan nada sendu. “Tapi kurasa, pelangi tidak akan muncul untuk waktu yang lama.” Lanjutnya disertai senyum miris.

Jaejoong muncul ditengah Baekhyun dan Suho yang masih berdiri menatap hujan, pria itu merangkul kedua pundak anaknya. “Nah, son. Aku rasa kalian paham kenapa aku mengajak kalian pindah ke Seoul.” Kata Jaejoong.

“Mudah bagi kami melupakannya. Tapi bagaimana dengan Jiyeon? Aku rasa dengan kepindahan kita ini tidak merubah apapun.”

Jaejoong mengangguk mengerti akan ke khawatiran Suho. “Percayalah, son. Aku tahu apa yang harus aku lakukan.” Katanya penuh keyakinan. Namun bagi Suho dan Baekhyun, Jaejoong seperti sebuah enigma. Pria ini seperti mudah ditebak, namun tebakan itu tak pernah tepat sasaran. Seperti labirin yang susah menemukan jalan keluar dan seperti ular tangga yang susah untuk mencapainya. Terkadang mereka semua dibuat frustasi dengan teka-teki yang pria ini mainkan. Dan juga, Nana adalah pelengkap dimana kebingungan itu semakin kuat.

“Hey, mau sampai kapan kalian disana?” Teriak Nana dari depan pintu. Serempak ketiga pria itu menoleh melihat Nana yang sedang bertolak pinggang menatap tajam mereka —tatapan tajam main-main lebih tepatnya. Jaejoong nyengir lalu melangkah lebih dulu setelah menepuk pundak Baekhyun dan Suho. Setelahnya barulah mereka mengikuti jejak pria yang sudah seperti ayah bagi mereka.

Melihat bagaimana cara Jaejoong merangkul Nana dan menggodanya sambil masuk kedalam membuat Suho dan Baekhyun setidaknya bisa tersenyum tipis. Setidaknya, mereka masih bisa mendapatkan kehangatan keluarga berkat kedua orang tua angkatnya. Terlepas dari enigma yang selama ini menggangu mereka, yang penting selama mereka baik-baik saja, itu bukanlah masalah.

Sejak Jiyeon menginjakkan kaki dirumah ini, semua kenangan akan keluarganya seketika membuat Jiyeon lupa akan rasa sakitnya ditinggal Minho —cinta pertamanya. Yang Jiyeon rasakan justru rindu akan kehangatan keluarga yang dulu dimilikinya. Sajujurnya, sejak memasuki distrik Gwanghamun, gadis itu sudah merasakan getaran pada dadanya yang membuatnya sulit bernapas. Jika saja tidak ada Kyungsoo yang terus mengontrol emosinya, mungkin saja tangis gadis itu sudah pecah sejak tadi. Dan begitu mereka mulai memasuki gerbang yang amat dikenalnya, rasanya kenangan buruk itu membuatnya tak sanggup lagi menahan diri. Tempat ini. Jiyeon mulai mengelilingi kamar bernuansa putih itu dengan rasa gundah yang luar biasa menyiksa.

“Sakit…” Gumamnya dengan suara tercekat. Tangannya menyengkram kaos bagian dada hingga kusut sambil jatuh terduduk di sisi kasur. Rasa sakit yang ia rasakan kini karena kenangannya akan masa lalu yang sudah ia lupakan kembali muncul. Jiyeon tidak tahu apa yang membuat Nana dan Jaejoong kembali membawanya ketempat ini. Tempat dimana semua kejadian buruk itu terjadi.

Semua seperti lautan darah saat sekelompok orang dengan keji membantai seluruh keluarganya. Jiyeon menutup telinganya sambil mengisak kecil ketika suara serak seorang pria berteriak marah mencari dirinya.


“Dimana Motley itu berada?!”

Jiyeon kecil bersembunyi di dalam lemari sesuai perintah kakeknya, berusaha menyembunyikan patternnya dari pria yang memiliki aura gelap itu. Setelah membunuh kedua orang tua dan seluruh paman, bibi serta spupunya, pria itu lantas menyiksa kakeknya. Jiyeon kecil yang sangat ketakutan menggigit kuat bibirnya hingga berdarah karena tekanan kuat yang ia lakukan. Kepalanya pusing karena terus menahan tangisannya. Bau anyir darah sangat tercium hingga membuat kerongkongannya sakit. Ia tak sanggup lagi menutupi patternnya jika satu-satunya keluarga yang tersisa berjuan seorang diri demi melindunginya.

Jiyeon tak tahu jika magic yang dimilikinya diincar oleh kelompok jahat yang sudah membunuh seluruh keluarga ini.

Dari dalam lemari, Jiyeon kecil bisa mendengar bagaimana kakeknya terus berdebat yang Jiyeon yakin saat itu kakeknya dalam kondisi sekarat. Meski begitu kakek Jiyeon terus bersumpah untuk tidak menyerahkan cucunya pada orang jahat seperti mereka. Tepat setelah Jiyeon tak bisa mengontrol patternnya, seorang anak laki-laki seumurannya datang membuka pintu lemari. Jiyeon hampir berteriak jika saja ia tak merasakan pattern anak itu. Bersamaan itu pula sekelompok pria yang ada di bawah langsung berteriak jika mereka bisa merasakan pattern dari Teleporters. Jiyeon masih dalam keterkejutan saat anak itu menariknya dan seketika kepalanya berputar begitu memasuki dimensi waktu.

Yang Jiyeon tak tahu jika setelah itu muncul kelompok lain yang langsung membantai habis kelompok yang sudah membantai keluarganya.

Pembantaian dibalas pembantaian.

Dan kini, setelah tujuh tahun ia bisa melupakan semuanya. Nana dan Jaejoong justru membawanya kembali ke tempat yang baginya adalah neraka. Jiyeon memang tak asing dengan Nana. Karena dulu, Nana sering datang kerumah kakeknya entah untuk urusan apa. Tapi, dulu Jiyeon tak pernah mau tahu urusan sang kakek. Dan kini, Jiyeon seolah mendapat sebuah potongan puzzle. Jiyeon penasaran ada hubungan apa antara kakeknya dan Nana. Juga, kenapa Jiyeon yang dulu harus selalu sembunyi tiba-tiba dibawa kembali ke Seoul? Sedangkan Nana dan Jaejoong adalah orang yang menyelamatkannya dulu. Bagaimana jika kelompok jahat itu datang lagi? Jelas mereka masih mengincar dirinya.

Rasa sakit yang Jiyeon rasakan mulai mereda. Gadis itu bahkan sudah melupakan apa yang terjadi di Incheon. Ia berubah menjadi jenius yang ingin menyatukan sebuah puzzle. Rasanya Jiyeon yakin jika Nana dan Jaejoong tahu sesuatu namun enggan mengatakannya. Pasti ada alasan lain yang membuat mereka membawanya kembali kesini. Jiyeon enggan mengatakannya, tapi gadis itu mulai merasakan takut akan hal-hal buruk yang ia pikirkan.

Perpustakaan.

Ya, gadis itu mulai kembali dengan akal sehatnya. Ia pasti akan mendapatkan sesuatu di perpustakaan kakeknya. Seingatnya, kakeknya itu adalah kolektor yang suka menyimpan barang-barang kuno termasuk buku sejarah zaman dulu. Dan ia ingat buku dongeng tentang magic yang selalu dibacakan kakeknya.

..

“Jiyeon?”

Jiyeon menoleh dengan was-was. Ia melihat Nana yang baru saja keluar dari ruangan kakeknya. Gadis itu semakin yakin bahwa ada sesuatu antara Nana dan kakeknya. Gadis itu memincingkan matanya tajam, ia buru-buru berbalik menghadap Nana.

“Siapa kau?” Tanya Jiyeon penuh penekanan. Nana berusaha keras menutupi keterkejutannya. Wanita itu memang sudah menduga reaksi ini akan terjadi jika membawa Jiyeon kembali kesini. Tapi Nana tak tahu jika Jiyeon akan bereaksi secepat ini. “Aku tanya kau siapa?!” Tanyanya lagi sedikit membentak.

“Jiyeon,” ucap Nana pelan.

“Jangan basa-basi. Katakan kau siapa dan ada hubungan apa dengan kakekku?”

Dear, dengarkan aku.” Nana mencoba menyentuh lengan Jiyeon namun gadis itu buru-buru menepisnya. “Kita bicara di bawah.”

“Tidak!” Jiyeon menjerit. Matanya diliputi emosi namun tak ada urat kehitaman disana yang artinya gadis itu berusaha mengontrol magicnya agar patternnya tidak ter detect. Gadis itu masih memiliki trauma, pikir Nana.

“Tujuh tahun! Tajuh tahun aku mengira jika kau dan Jaejoong adalah orang baik.”

Nana tak bisa menutupi keterkejutannya saat Jiyeon menyebut nama Jaejoong tanpa panggilan ayah. Nada gadis itu juga sarat akan kekecewaan. Nana menjadi tak mengerti apa yang ada dipikiran gadis ini sebenarnya.

“Kau tahu, Nana?”

Nafas Nana mulai tercekat sedangkan Jiyeon semakin menatap tajam dirinya.

“Kau jelas sangat tahu ini rumah siapa, kan? Dan kau jelas tahu aku bukan lagi gadis bodoh yang bisa kau tipu. Katakan kau siapa dan kenapa kau bisa mendapatkan hak atas rumah kakekku?!”

..

“Hey,” Chanyeol menepuk pundak Sehun yang sedang melamun di atas balkon. “Apa yang kau lihat?” Tanyanya ikut berdiri di samping pria itu meski Sehun sendiri menghiraukannya. Pria itu hanya bergumam tak jelas menatap bangunan lain yang ada di depannya.

“Hanya merasa aneh.” Sehun mulai bermonolog. “Aku tak merasa asing dengan tempat ini. Kau tahu, seperti dejavu.”

“Aku pikir hanya aku yang berpikir seperti itu.” Chanyeol memasukkan kedua tangannya ke kantung celana sambil menatap bintang, meniru Sehun. “Aku baru pertama kali kesini. Rumah ini luas, tapi aku heran kenapa aku tidak tersesat.Saat ayah memintaku membawakan mac book ke kamarnya, aku heran kenapa aku bisa tahu di lorong keberapa kamar itu.”
“Begitu juga denganku. Aku tidak tahu dimana pantry rumah ini, tapi kakiku justru melangkah ringan dan membawaku langsung ke pantry. Aku seperti sudah hafal setiap sudut rumah.”

Chanyeol menoleh melirik Sehun dengan wajah frustasinya. “Aku bisa gila.” Katanya seperti desisan.

“Kau tahu,” Sehun ikut melirik Chanyeol. “Rasanya seperti amnesia. Dan itu sangat menyiksa.”

“Kau benar.”


“Tidak!”

Sehun dan Chanyeol serempak mencari sumber teriakan. Itu suara Jiyeon, hanya melalui tatapan mereka bisa saling mengerti jika pikiran mereka sama. Lantas tanpa banyak bicara mereka langsung keluar kamar dan bertemu dengan Chen serta Suho yang baru saja keluar kamar mereka. Walaupun di luar rumah utama terdapat sepuluh bangunan dengan symbol magic mereka masing-masing. Tapi Jaejoong justru menempatkan mereka di kamar berderet lantai dua seperti sebuah hotel.

Lorong itu panjang dengan lukisan arsitektur menghiasi dinding. Lukisan yang menghiasi dinding tak jauh-jauh dari warna. Lukisan abstrak dengan warna-warni yang saling membentur terpampang paling besar di ujung lorong. Sehun, Chanyeol, Chen dan Suho bertemu dengan Jaejoong, Kai, Kyungsoo dan Baekhyun yang hendak menuju lantai tiga. Mereka tak saling sapa, semuanya hanya ingin cepat-cepat mengetahui apa yang terjadi hingga suara lantang Jiyeong bisa terdengar.

Begitu mereka sudah mencapai titik temu, mereka seolah dibekukan oleh waktu.

Mungkin, melihat Jiyeon menyerang Nana dalam keadaan tak sadar sudah biasa bagi mereka, dan Nana biasanya hanya diam sambil menangis. Tapi apa yang mereka lihat jelas bukan keadaan biasanya. Jiyeon dalam keadaan sadar karena Jaejoong tak bisa men detect pattern gadis itu. Jiyeon mengontrol magicnya saat membuat Nana terpental ke tembok, Nana berdiri dan luka yang di dapatnya akibat benturan tertutupi daun yang keluar dari tangannya.

Jiyeon tertawa sinis. “Sudah ku duga kau bukan cenayang biasa,” katanya tajam.

Jaejoong berlari kearah Nana sementara Sehun dan yang lain berada disisi Jiyeon. Mereka juga penasaran dan menunggu apa yang akan dikatakan Nana

Jaejoong menatap Jiyeon serius. “Kita perlu bicara.”

“Aku tak perlu basa-basi. Cukup katakan siapa kalian sebenarnya? Apa kalian kelompok yang waktu itu membantai keluargaku?”

Tujuh pria yang berada disisi Jiyeon menatapnya terkejut. Mereka tak pernah menyangka jika Jiyeon akan melayangkan tuduhan seperti itu. Disisi lain, Kai mulai ingat rumah ini. Tujuh tahun yang lalu Kai pernah ke sini karena Nana menyuruhnya untuk menyelamatkan Jiyeon. Tapi apa yang membuat gadis itu tega menuduh Nana adalah dalang dari pembantaian sementara wanita itu sendiri yang menyelamatkan dan merawatnya selama ini? Kai juga baru tahu jika Nana bukanlah sembarang cenayang —bukan hanya kai, yang lainpun baru mengetahui fakta mengejutkan ini.

Itu artinya, Nana adalah Enigma. Selama ini wanita itu sangat pandai menyembunyikan patternnya.

“Apa tujuan kalian membawaku kembali kesini? Kalian ingin memanfaatkan magicku seperti kelompok jahat itu, kan?”

“Karena hanya tempat ini yang sudah diberikan patroness oleh kakekmu,” kata Jaejoong kalem setelah membantu Nana berdiri. Mereka saling pandang sejenak lalu Nana mengangguk seolah mengatakan jika ini saatnya.

“Apa maksudmu?” Tanya Kyungsoo yang sejak tadi tak bisa menutupi rasa penasarannya. “Dan juga, siapa kau sebenarnya?” Lanjutnya pada Nana.

“Aku seorang Plantings yang juga memiliki bakat sebagai cenayang,” cetus Nana.

“Kau juga Enigma?” Sehun ikut buka suara. Wanita itu menggeleng. “Bukan. Aku seorang Witchery.”

Witchery? Sejenis dengan Witches?” Tanya Kai. Jiyeon masih menatap curiga Nana. Banyak yang ingin ia tanyakan namun bingung dimulai darimana pertanyaannya itu. Kakeknya dulu pernah bercerita tentang seorang Witchery, cenayang yang memiliki bakat sihir. Witchery yang selalu dikatakan kakeknya adalah para penyihir yang diutus untuk melindungi para Enigma dari para Witches. Dan Witchery dengan magic Plantings adalah pengikut setia Kaisar pada masa dinasti Earth Sky.

Nana menggeleng lagi. “Kami berbeda. Withcery sejenis penyihir putih, sedangkan Witches penyihir hitam.” Nana menatap Jiyeon yang kini menatap Jaejoong penuh penilaian.

“Aku seorang Guardian,” kata Jaejoong setelah memahami tatapan Jiyeon.

Suho mengusap kasar wajahnya. “Oke, jika kau adalah Witchery dan kau Guardian,” ucapnya sambil menunjuk Nana dan Jaejoong. “Dan kami adalah Enigma. Bisa kau jelaskan makhluk apa sebenarnya kita ini?”

“Ya,” Jiyeon menimpali serius. “Karena aku yakin kita tidak hidup di dunia fairy tail. Pasti ada penjelasan mengenai kekuatan yang kita miliki ini.”

“Biar aku yang jelaskan.” Sebuah suara mengintruksi dari belakang.

“Bibi Gyuri.”

Tbc.

Pattern disini sejenis cakra. Ada yg tahu anime Naruto? Jadi, pattern itu kaya energi yang bisa dirasakan orang-orang tertentu kalau si pemilik pattern ini bukan manusia biasa. Pattern bisa dirasakan jika si pemilik kekuatan ini bisa ngontrol magicnya, dengan kata lain cuma menggunakan sedikit dari magic yang dimiliki. Nah, abis ini akan banyak adegan flashbacknya.

Advertisements

Author:

If you Jiyeon fans, you must stay here. but, if you hate my fav idol..you must go on without drama. thx

10 thoughts on “2. E N I G M A : Disorder

  1. Woah,mkin seru critanya..aq suka jlan critanya..berbeda sama crita2 yg aq bca sblomnya..ini kli prtama aq bca ff kayak crita fantasi gitu..suka bgt..tp lucu juga ya melihat sehun cmburu sama kyungsoo yg dkat2 dgn jiyeon..keke…mkin pnasaran sama critanya..apa mreka smua akn jtuh cnta sama jiyeon???..aq tggu lnjutannya..smangat ya thor..^^

  2. Woooow ini fantasi ygbkeren dan tak mmbosankan bysa yg genre fantasi agak mmbosankan klo cma dtulis bukan spty movie.. Itu mnurut q sech hehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s