Posted in OBSESSION

12. OBSESSION : Think Big and Act Now [end]



In the deep of my broken heart, I always love you more than him.

————————————–

Gangguan psikosomatis.

Minho sudah menduga jika efek dari stres yang dialami Jiyeon akan berdampak gangguan mental seperti psikosomatis. Wanitanya sering merasa mual, sakit perut dan pusing berlebihan. Bahkan Jiyeon selalu merasa nyeri saat sedang berhubungan badan dengan Minho. Efek dari gangguan ini pula Jiyeon tidak pernah lagi menunjukkan senyum yang Minho sukai. Hanya ada kesedihan di wajahnya, selain dari perasaan sedih, Jiyeon tidak menunjukkan ekspresi apapun.

Seperti saat ini. Minho sengaja memberikan waktu untuk Jiyeon dan teman-temannya berkumpul, menghabisakan waktu bersama sementara ia mengawasi dari jauh. Minho tidak tahu apa yang sedang mereka bicarakan hingga tertawa lepas. Tapi, Jiyeon tidak tertawa sama sekali. Ia hanya diam tanpa minat, bahkan sedikit lengkungan kurva pun tidak nampak di wajah cantik wanitanya. Minho mendesah lelah, ia sangat marah pada dirinya sendiri.

Sebenarnya, teman-teman Jiyeon sudah sepakat untuk menghajar Minho dan menjauhkannya dari Jiyeon begitu Suzy menceritakan kejadian di kedai tempo lalu, dan mengetahui fakta bahwa Jiyeon terkena gangguan psikosomatis semakin membuat mereka marah. Tapi Minho terlalu pandai dalam merangkai kata-kata pedas hingga membuat mereka semua tidak berkutik. Mereka kalah, walau Amber masih bersikeras tidak terima jika Jiyeon kembali pada Minho. Dan mereka semua benar-benar bungkam saat Minho mengatakan jika dia sudah merenggut keperawanan Jiyeon, Minho berjanji bertanggung jawab dan semuanya sudah benar-benar tidak tahu harus melakukan apa selain membiarkan Minho bertanggung jawab atas perbuatannya.

“Wow. Wow. Wow… akhirnya Suho mendapatkan Yoona. Kita harus merayakannya.” Luna berseru antusias.

Sulli memutar handphonenya di atas meja kantin sambil mendengus, “aku rasa Suho cuma pelarian. Satu kampus bahkan tahu seberapa keras usaha Yoona untuk menggoda Minho.” Ucapnya sinis. Hyorin berdehem sebentar setelah melirik Jiyeon yang masih tidak tertarik ikut dalam percakapan tidak penting menurutnya. “Dan sayangnya Minho sangat tergila-gila dengan Jiyeon.” Kekeh Hyorin.

Suzy menggigit bibirnya kaku, “cinta itu buta. Padahal Yoona memiliki tubuh yang lebih indah dari Jiyeon.”

“Tapi otaknya kosong. Memiliki tubuh indah tanpa isi otak lebih baik jika dia menjadi artis film porno.” Amber tertawa jahat setelah mengolok-ngolok Yoona. Semuanya mulai ikut mengolok-ngolok Yoona akibat dari ulah mulut pedas Amber. Canda tawa tidak bisa terlewatkan saat itu. Pengecualian untuk Jiyeon. Gadis itu hanya mendengus sambil menopang dagu, sesekali matanya terpejam mencari ketenangan.

Ia sangat lelah. Mood nya sudah tidak terkendali. Tubuhnya bahkan bisa dikategorikan dengan tubuh semacam triplek. Sebenarnya Jiyeon sering diam-diam menangis di kamar mandi jika Minho tidak ada atau saat Minho sudah tidur pulas. Ia hanya tidak bisa menerima kenyataan. Oke, mungkin Minho sudah menceritakan tentang masalalunya dan meyakinkan Jiyeon jika pria itu begitu mencintainya. Tapi rasa sakit yang terlanjur tergores susah untuk dikembalikan seperti gelas pecah yang sulit menjadi utuh kembali.

Jiyeon bahkan sudah bosan mendengarkan Minho mengatakan kata cinta ratusan kali, ia tidak membenci Minho. Ia hanya butuh waktu untuk memulihkan kembali goresan-goresan yang Minho ciptakan akibat ulahnya ditambah ibu nya yang terus-terusan menghubunginya untuk bicara.

“Jiyeon, bagaimana Minho? Aku lihat semakin hari dia semakin protektif. Aku bahkan iri, Choiza oppa terlalu cuek.” Sulli mengerucutkan bibirnya sambil meminum jus wortel.

“Aku rasa aku tidak perlu menjelaskan.”

Hyorin menyenggolnya main-main, “hey.. maksud kami apa kalian sudah baikan? Ini sudah nyaris satu bulan kau dan sikap keras kepalamu itu membuat Minho frustasi.”

Jiyeon menatap Hyorin tidak senang. Wanita itu lalu melirik Minho yang duduk di pojok kantin sambil merokok, “kau lihat? Dia bahkan tidak terlihat frustasi saat menghisap rokok.” Ucap Jiyeon dingin.

“Rokok alasan Minho meredakan sakit kepalanya karena lelah menghadapimu. Aku bahkan heran, sudah berapa lama Minho tidak bercukur? Dia terlihat berantakan.” Bahkan Amber ikut membela Minho. Jiyeon terkadang tidak mengerti dengan teman-temannya yang terkadang membelanya namun terkadang mengasihani Minho.

Jiyeon mengerucutkan bibirnya, “aku masih butuh waktu.” Ucapnya pelan. Jiyeon kembali melirik kearah Minho lagi. Prianya sedang menatapnya kali ini, ada tatapan yang membuat Jiyeon terkadang bimbang dengan perasaannya. Amber benar, Minho sangat berantakkan. Rambut Minho mulai panjang dan ada bulu-bulu halus di sekitar dagu. Kantung mata Minho bahkan terlihat jelas menghitam.

“Kau hanya perlu memulai dari awal Jiyeon.” Luna menepuk halus bahu Jiyeon, “aku tahu kau seperti apa. Kau cerdas, kau memiliki pikiran yang luas yang aku yakin kau mampu menghadapi setiap masalah yang ada.”

Jiyeon menatap Luna dalam, “kau tidak mengerti apa yang aku rasakan. Mudah bagimu bicara seperti itu.”

“Kami mengerti.” Ucap Suzy.

“Tidak. Kalian tidak mengerti.”

Sulli ikut berkomentar, “kami tahu rasanya, Jiyeon.”

“Kalian tidak mengerti! Kalian tidak tahu bagaimana rasanya hidup tanpa orang tua, bersikap sok kuat karena tidak mau dikasihani orang-orang. Kalian tidak mengerti bagaimana hancurnya aku saat orang yang aku anggap ibu dengan mudahnya mengatakan akan menikah lagi sementara aku memimpikan hidup bahagia bersama kedua orang tuaku yang kembali bersatu. Dan kalian tidak mengerti saat cinta pertama kalian hanya menganggap kalian sebagai duplikat dari orang yang ia cintai. Kalian tidak mengerti, tidak ada yang mengerti bagaimana sakitnya harus menerima kenyataan bahwa aku hanya kunci cadangan yang dicari saat kunci aslinya menghilang. Lalu disimpan lagi saat kunci asli ketemu. Aku hanya barang duplikat!”

Hyorin, Amber, Sulli, Suzy dan Luna menggeleng tidak membenarkan apa yang Jiyeon katakan. Sementara Minho dari jauh semakin merasa bersalah. Jiyeon berkata dengan keras hingga ia bisa mendengar semuanya. Tapi Jiyeon salah, Jiyeon bukan barang duplikat. Jiyeon hanyalah manusia biasa yang ditakdirkan bertemu dengan Minho. Membantu pria itu dari bayang-bayang masalalu hingga bayang-bayang itu bersih seiring berjalannya waktu. Dan saat itulah cinta datang mengisi kekosongan lalu ujian itu datang. Seberapa kuat mereka menghadapi ujian itu dengan ikhlas maka itu yang dinamakan pemenang.

“Aku hanya bingung. Aku tidak membenci Minho, sungguh. Cintaku lebih besar daripada rasa benci. Tapi apa yang terjadi padaku, itu yang menghalangi. Seperti ada batas yang membuatku enggan memulai semuanya dari awal.”

Hyorin menyentuh tangan Jiyeon, “itu masalah terbesarnya. Itu ego mu yang membuatmu lemah, darl. Dengarkan aku, musuh terbesar manusia adalah egonya sendiri. Kau hanya perlu melawannya, jangan membiarkan ego mu menang melawan nurani. Aku ingin kau bahagia, aku sudah melihat seberapa besar cinta Minho padamu. Aku tidak akan bicara seperti ini jika aku tidak yakin dengan Minho.”

“Kau juga harus tahu Jiyeon, setiap orang punya masalalu. Masalalu itu yang membuat kita belajar untuk lebih baik. Minho sudah menunjukkan itu, tidak perduli seperti apa masalalunya dengan Jiwon. Minho tetap memilihmu sekarang. Ingat, setiap orang bisa berubah, kan? Maka itu yang Minho lakukan. Aku saksi bahwa Minho sangat mencintaimu. Aku bersumpah.” Ucap Amber penuh simpati.

Jiyeon menutup wajahnya dengan kedua tangan, ia mengisak pelan terpukul mendengar kata-kata teman-temannya. Kenapa dia bisa begitu bodoh menutup mata dengan apa yang Minho lakukan selama ini. Minho sudah jelas tidak ada hubungan apapun dengan Jiwon, Minho juga selalu berusaha membuatnya bahagia sesuai anjuran dokter. Minho berubah menjadi pribadi hangat yang tidak pernah marah-marah, Minho berubah menjadi idiot saat berusaha memberikan lelucon, tidak ada lagi Minho yang sesuka hati memerintahnya ini itu. Minho juga selalu memperhatikan pola makan Jiyeon dengan baik sementara Jiyeon tahu Minho sendiri jarang makan akibat selalu memperhatikannya.

Minho berubah total. Dan Jiyeon begitu bodoh menutup mata dengan semua kebenaran ini. Setiap orang berhak mendapat kesempatan kedua, termasuk Minho.

Jiyeon berdiri mengambil tas nya yang tergeletak di atas meja, ia menatap temannya satu persatu sambil menunjukkan senyum tulus untuk pertama kalinya semenjak ia didiagnosis terkena gangguan psikosomatis.

“Aku tahu kalian menyebalkan, tapi terkadang sikap kalian yang sok membuatku kalah. Terimakasih.” Katanya tulus lalu pergi menghampiri Minho.

Sementara itu kerumunan wanita yang baru saja ditinggal Jiyeon tersenyum senang mendengarnya.

“Si bodoh itu, terkadang perlu diberikan sentilan supaya sadar.” Ucap Suzy pelan sambil memperhatikan Jiyeon yang berjalan menghampiri Minho.

Minho mematikan rokoknya saat Jiyeon berjalan kearahnya, ia membenarkan kemeja putih garis-garis yang berantakan lalu berdiri, berjalan ikut menghampiri Jiyeon.

Minho menyelipkan anak rambut Jiyeon ke belakang telinga, “sudah selesai?” Tanyanya lembut.

Jiyeon mengangguk dengan raut polos, ia hanya sedih menyadari tampang Minho yang benar-benar berantakkan. Jiyeon mengelus dagu Minho, “kau lupa bercukur?”

“Bagaimana aku bisa bercukur jika tidak ada kau yang membantuku.”

“Dasar manja.”

Minho tertawa mendengarnya, Jiyeon memukul dadanya main-main dengan bibir mengerucut. Minho semakin tersenyum lebar, ia menarik Jiyeon kedalam pelukannya sambil menciumi kepala wanitanya berkali-kali. Jiyeon menenggelamkam kepalanya di leher Minho. Harum mint bercampur cytrus kenapa bisa menjadi aroma yang memabukkan. Jiyeon rindu wangi ini, wangi tubuh Minho yang tidak pernah membuatnya bosan. Ia membalas pelukan Minho tidak begitu erat, tapi penuh perasaan.

Jiyeon mengecup leher Minho, “kau perlu memotong rambutmu.”

Minho melepaskan pelukannya, “asal kau berjanji tidak akan meninggalkan aku lagi.”

“Aku janji.”

“Tidak akan membuatku khawatir?”

“Janji.”

Minho kembali memeluk Jiyeon dengan perasaan haru, “aku sangat mencintaimu.”

“Aku juga mencintaimu.”


OBSESSION

“Jadi, Yoochun itu pamanmu?” Tanya Jiyeon sambil memotong paprika. Rambutnya diikat cepol acak-acakan memperlihatkan leher jenjangnya yang putih mulus, ia mengenakan kemeja putih kebesaran milik Minho dengan hotpants hitam.

Minho mengangguk dileher Jiyeon. Ia memeluk Jiyeon dari belakang sementara Jiyeon terus memotong paprika, Minho mengecup bibir Jiyeon dari samping kini. Suatu pemandangan yang sudah lama ia impikan. Apartemen ini kembali dengan nuansa hangat sebelum masalah menimpa mereka. Bahkan pembicaraan mereka terlalu santai ketika membahas Jiwon dan Yoochun. Jiyeon tampak tidak masalah, berbanding terbalik dengan Minho yang merasa tidak nyaman. Bukan karena rasa itu masih ada, tapi karena ia tidak mau menyakiti Jiyeon lagi dengan kembali mengungkit masalalu.

“Aku tidak bisa membayangkan jika aku ada diposisi Jiwon. Wanita itu pasti sangat menderita.”

“Tapi, kau bukan Jiwon.”

“Aku tahu,” Jiyeon mendongak menatap Minho yang menopang kepalanya di atas kepala Jiyeon. “Jangan sinis seperti itu, aku kan hanya berandai.”

Minho mencium kening Jiyeon, “bukan seperti itu. Aku hanya tidak suka dengan pembicaraan ini. Kenapa kita tidak bahas hubungan kita saja?”

Jiyeon melepaskan pelukan Minho saat ingin mencuci daging, Minho berjalan santai ke kulkas dan mengambil minuman dingin.

“Aku bosan setiap hari selalu membahas hubungan kita. Tidak ada yang berubah Minho, semua masih sama.”

“Tapi, kau belum menjawab pertanyaanku.”

“Pertanyaan apa?” Tanya Jiyeon pura-pura bodoh sambil menumis paprika dan bumbu-bumbu lain yang akan dicampur dengan daging yang sudah ia potong dadu tipis.

Minho kembali memeluk Jiyeon, sementara Jiyeon terus pura-pura bodoh dan berusaha terlihat sibuk dengan masakkannya.

“Menikahlah denganku.”

Jiyeon mematikan kompor, pandangannya menerawang jauh saat berbalik dan memeluk leher Minho sementara tangan Minho melingkari pinggang Jiyeon.

“Kau tahu aku belum siap. Aku memiliki cita-cita sebagai dokter, aku ingin mengejar S2 ku di USA. Menjadi seorang dokter tidak mudah Minho, butuh kerja keras.”

“Kau bisa melanjutkan S2 sebagai nyonya Choi, aku tidak menyuruhmu untuk berhenti bermimpi jadi dokter. Hanya saja gelarmu bukan lagi dr. Park, tapi, dr. Choi.”

“Bagaimana denganmu? Kau juga seorang mahasiswa kedokteran. Aku yakin kau bercita-cita menjadi seorang dokter.”

“Tidak.” Ucap Minho datar.

Jiyeon menatap Minho tidak mengerti, “apa maksudmu tidak?”

“Aku mengambil kedokteran karena kau mahasiswi kedokteran. Sebelumnya aku mahasiswa bisnis.”

“Tapi kau pindahan fakultas kedokteran.”

“Manipulasi, sayang. Apa yang aku tidak bisa? Aku seorang Choi, dan apapun bisa aku lakukan.”

Bibir Jiyeon mengurucut mendorong Minho menjauh, ia berjalan keluar pantry sambil mendumal sebal.

“Dasar manipulator!”

Minho terkekeh mengejar Jiyeon yang berjalan cepat ke kamar mereka. Jiyeon itu lucu jika sedang merajuk, tapi Minho suka karena wanitanya tampak menggemaskan dan rasa cintanya pada wanita itu seakan semakin dalam dan dalam. Akhir-akhir ini mereka sering beradu argumen, apalagi jika Minho mulai membahas masalah pernikahan, Jiyeon terkadang berusaha mengalihkan pembicaraan, mengabaikannya dan marah-marah yang justru terlihat lucu dimata Minho.

“Hey, kau sengaja mengundangku ke kamar, love?” Goda Minho ketika ia menutup pintu.

Jiyeon duduk di atas kasur dengan kaki menyila dan tangan melipat di bawah dada.

“Ish, menjijikan.”

Minho merangkak naik keatas kasur, mendekatkan tubuhnya dengan Jiyeon hingga wajah mereka nyaris bersentuhan, “ayolah, itu hanya sebuah kata cinta, love.”

“Minho!”

Minho mencium bibir Jiyeon, “baiklah sayang. Kau selalu menang. Tapi tidak pernah menang di atas ranjang.” Ucap Minho dengan seringainya yang membuat wajah Jiyeon memerah. Minho kembali mencium bibir Jiyeon, lebih dalam dan berirama. Jiyeon melenguh pelan, “dasar mesum.” Ucapnya terengah.

“Aku tahu kau suka, sweetheart.”

“Ow, mulutmu memang sangat berbisa.”

Minho terkekeh sebelum mendorong Jiyeon keatas kasur dan menindihnya, melakukan kegiatan yang paling disenangi Minho jika sudah bersama Jiyeon. Kegiatan yang menjadi favoritnya setelah merasakan apa itu seks pertama kali bersama Jiyeon. Rasanya memabukkan, candu yang membuatnya ingin lagi dan lagi dan hanya bayangan wajah Jiyeon yang mampu membuatnya tergoda.

“Kau siap?” Tanya Minho saat tubuh mereka sudah benar-benar tanpa busana, Jiyeon mengangguk di bawah tindihannya. Dan siang itu mereka benar-benar merasakan yang namanya bercinta.

….

Jiyeon baru saja keluar dari kamar mandi dengan jubah mandi berwarna merah muda pucat dan rambut basah saat Minho menatapnya tajam dari atas kasur.

“Ada apa? Kenapa menatapku seperti itu?” Tanya Jiyeon bingung.

Minho menunjukkan botol yang sangat Jiyeon kenali. Wanita itu buru-buru mendekat ingin merebut botol dengan panik. “Minho kembalikan.” Kata Jiyeon cepat. Minho berdiri mencengkram bahu Jiyeon, “sejak kapan kau meminum obat ini?” Tanyanya bernada keras.

Jiyeon menggigit bibirnya, “sejak orang tuaku bercerai.”

Minho mengeraskan rahangnya marah, “kau tahu ini racun, Jiyeon!” Amuknya, Minho menyodorkan botol itu tepat di wajah Jiyeon saat wanita itu menunduk takut. Minho terus menatap Jiyeon yang terus bergetar hingga pria itu membanting botol ke dinding hingga terdengar suara pecahan yang keras.

“Kau tidak membutuhkan itu lagi.”

Jiyeon mendongak, tatapannya persis seperti anak kucing hingga Minho tidak mampu berlama-lama marah dengannya.

“Kesehatanmu sangat penting Jiyeon. Aku tidak mau kau mengkonsumsi obat sialan itu. Maafkan aku karena membuatmu takut, aku hanya tidak senang.” Minho memeluk Jiyeon yang mulai terisak. “Tidak ada yang perlu ditakutkan, aku tidak marah. Hanya saja kau harus memulai hidup sehat mulai saat ini. Tidak ada obat-obatan lagi, love.”

“Jangan panggil aku seperti itu.”

Minho tersenyum mendengar Jiyeon yang mencoba bergurau, “itu panggilan sayangku untukmu, love.”

Jiyeon menggeram tapi terhenti saat Minho mengecup bibirnya cepat, “tidak ada argumen.” Katanya disertai tawa ketika Jiyeon mengerucutkan bibirnya.

Jiyeon tersenyum berjinjit mencium bibir Minho, “aku rasa aku sudah punya jawaban dari pertanyaanmu.” Ucapnya tersenyum. Minho menyeringai, “jadi, kau mau menikah denganku, kan?”

“Aku tidak bilang seperti itu.”

Minho pura-pura merajuk, “hey aku tidak pernah menerima penolakan.” Angkuhnya yang dihadiahi cubitan pada hidungnya. Jiyeon terkekeh melihat Minho yang kembali merajuk dengan menenggelamkan kepalanya di leher Jiyeon. Tidak tahu lagi apa yang dapat menggambarkan perasaan Jiyeon saat ini. Semuanya terlihat sempurna, berbanding terbalik dengan apa yang mereka alami sebelum kebahagiaan ini muncul.

Jiyeon menepuk kepala Minho pelan, “aku mau menikah denganmu.”

.

.

.

.

.

.

.

.

.

“Ugh siapa yang mengetuk pintu pagi-pagi seperti ini?” Kesal Jiyeon karena suara ketukan pada apartemennya tidak mau berhenti sejak tadi. Minho hanya menggeram sebentar lalu menarik Jiyeon memeluknya seperti guling. “Minho buka pintunya.” Perintah Jiyeon dengan suara serak.

“Biarkan saja.” Minho justru semakin mengencangkan pelukannya sambil mengendus wangi vanilla dari tubuh Jiyeon.

“Uh, suara itu tidak mau berhenti.”

Minho menggeram marah, “shit!” Umpatnya seraya turun dari kasur mengambil celana piyama yang tergeletak di lantai. Jiyeon menggeleng melihatnya, prianya itu bahkan sangat cuek tanpa malu keluar dengan telanjang dada. Jiyeon buru-buru merapihkan rambutnya yang berantakan lalu memungut baju tidur terusan tipis berbahan sutra dengan tali spageti. Jiyeon juga tidak lupa membawa kaos Minho.

Ia ingin melihat siapa yang bertamu dan mengganggu acara minggu paginya ini.

Dan, demi Tuhan! Tamu yang ia tidak pernah harapkan, bahkan mungkin Minho juga tidak harapkan. Jiwon berdiri di depan pintu terlihat sedang beradu argumen dengan Minho. Minho tampak marah dan kesal sementara Jiwon berusaha menenangkan. Jiyeon semakin sebal melihat Minho yang bertelanjang dada. Sialan, Jiyeon yakin Jiwon sedang mengagumi otot-otot prianya.

“Minho, pakai bajumu.” Kata Jiyeon cepat, Minho terkejut dengan wajah panik. Ia buru-buru memakai kaos yang di lempar Jiyeon. “Sayang, aku bersumpah ini tidak seperti yang kau bayangkan.” Ucap Minho cepat.

Jiyeon masih memperhatikan Jiwon dan Minho dengan ekspresi menuntut, terkesan sinis.

“Sebaiknya kau pergi!” Ucap Minho pada Jiwon dengan nada keras. Ia tidak mau ada masalah lagi, ia masih berusaha membujuk Jiyeon untuk masuk tapi wanitanya menepis tangannya masih memelototi Jiwon. Ia menggeram frustasi, wanita jika sedang cemburu memang sangat menakutkan.

Jiwon tidak buta, ia bisa melihat penampilan menggoda Jiyeon dengan baju tidurnya yang seksi juga ruam-ruam merah di sekitar leher serta tulang selangka. Ia sedih melihatnya, hatinya sudah benar-benar hancur.

“Maaf karena aku mengganggu kalian.” Ucapnya pelan berusaha tegar.

“Kau memang pengganggu.” Ketus Jiyeon. Minho mendesah frustasi, ia melingkarkan tangannya di pinggang Jiyeon berusaha membuat wanitanya tenang, “sepertinya kau cukup tahu diri untuk tidak menemui pacar orang lain. Itupun jika kau masih punya harga diri.”

Jiwon tersenyum kaku, melihat keintiman antara Jiyeon dan Minho merupakan suatu pukulan telak baginya. Dan sekarang ia melihat sendiri dengan matanya, betapa tidak tahu malunya Minho mencium bibir Jiyeon tepat di depannya seolah mempertegas bahwa Minho sangat mencintai Jiyeon sekarang.

“Aku datang kesini untuk minta maaf,” Ucapnya pelan setelah Minho dan Jiyeon melepas ciuman mereka. “Aku tahu karena aku hubungan kalian rusak. Aku benar-benar minta maaf. Khusus untukmu Jiyeon, Minho sangat mencintaimu. Kami sudah tidak ada hubungan apapun setelah Minho menolakku dan mengatakan bahwa ia tidak bisa bersama wanita lain selain dirimu. Kau menang. Aku akan kembali pada Yoochun, karena hanya dia yang mau bersama wanita rusak sepertiku.”

Jiyeon baru saja ingin mengatakan sesuatu, tapi rasa mual membuatnya bungkam dan buru-buru lari kedalam kamar mandi. Minho panik, ia spontan menyuruh Jiwon pergi lalu menyusul Jiyeon setelah menutup pintu dengan kencang. Jiwon mematung di depan pintu dengan jantung berdebar, dalam hati ia merutuki sikap Minho yang kasar terhadap wanita. Ia menatap pintu apartemen itu sendu, kebahagiaannya ada di dalam sana sedang berbahagia bersama wanita lain. Ia benar-benar iri tapi terlalu lelah untuk mempermalukan dirinya sendiri. Jadi, ia memutuskan untuk melepas kebahahagiaannya dan berharap mendapat kebahagiaan yang lain.

“Kau baik-baik saja? Kita ke dokter ya?” Ucap Minho cemas sembari memijat tengkuk Jiyeon yang terus memuntahkan isi perutnya ke dalam kloset.

“Aku rasa, aku hanya masuk angin.” Jiyeon mencuci mulutnya di keran wastafel.

Minho menatapnya dari kaca saat Jiyeon melakukan hal yang sama. “Aku takut ini karena gangguan psikosomatis lagi.”

“Aku sudah melewati fase itu Minho. Semua sudah baik-baik saja, aku hanya masuk angin.”

Minho memeluk Jiyeon dari belakang dengan wajah cemas, ia tidak tega melihat Jiyeon mual hingga wajahnya pucat seperti sekarang. Ia mencium pipi Jiyeon dari samping, “tetap saja kita harus periksa ke dokter.” Ucapnya keras kepala.

Jiyeon memutar tubuhnya berbalik memeluk Minho, “aku tidak mau. Aku hanya ingin bersamamu.” Jiyeon merajuk.

“Aku selalu bersamamu, love.”

“Aku tahu. Tapi aku benar-benar ingin bersamamu, aku tidak ingin kau pergi kemana-mana.”

“Aku akan menemanimu kerumah sakit. Kau tidak perlu khawatir.”

“Aku tidak mau, Minho. Aku tidak mau.”

Minho menggeleng tidak percaya melihat tingkah manja Jiyeon yang merengek seperti anak kecil, ia menjawil hidung Jiyeon. “Dasar manja.”

“Biarin. Ayo gendong aku ke kamar.” Jiyeon merentangkan kedua tangannya sambil mengerucutkan bibir. Minho terkekeh melihat tingkah Jiyeon, “kau benar-benar membuatku gila, love.” Ungkapnya tidak bisa menutupi rona bahagia. Minho memeluk perut Jiyeon, menggendongnya seperti anak kecil lalu berjalan ke kamar mereka sambil tertawa bahagia.

Sesampainya di kamar, Minho mendudukkan Jiyeon di atas kasur, “tingkahmu seperti hormon wanita hamil.” Ucap Minho bergurau.

Jiyeon tersentak menepuk jidatnya, “ya Tuhan! Aku telat datang bulan.” Ia buru-buru meraba perut bagian bawah dengan wajah cemas. Minho terdiam kaku di tempatnya berdiri, ia ikut duduk di samping Jiyeon masih tidak mengerti apa yang terjadi.

Jiyeon menatap Minho dengan wajah pucatnya, “aku tidak percaya ini. Aku hamil.” Ucapnya setelah memeriksa perut bagian bawah berulang kali karena tidak percaya dari diagnosa yang di dapatnya.

Minho masih dalam keadaan tidak percaya tapi wajahnya mulai berseri, “kau serius? Itu tandanya kau benar-benar tidak bisa menolak lamaranku, love!”

“Dan kita benar-benar harus ke dokter.”


OBSESSION

Jiyeon tidak tahu harus bereaksi seperti apa saat dokter bilang usia kandungannya sudah tiga minggu. Ia tampak diam sepanjang jalan pulang dari rumah sakit tanpa sedikitpun berbicara.

“Kau menyesal?”

Jiyeon menoleh kesamping melihat Minho yang menatapnya cemas sambil sesekali melirik ke depan memastikan keadaan jalan di depan. Sebelah tangannya yang bebas menggenggam tangan Jiyeon, sesekali jari jempolnya memberikan usapan halus. Jiyeon tersenyum sebagai jawaban yang dapat ia berikan untuk saat ini.

“Aku hanya masih tidak bisa percaya bahwa ada detak jantung lain yang berada dalam tubuhku. Kau tahu, rasanya hatiku ikut bergetar dan aku benar-benar tidak tahu harus mengatakan seperti apa. Yang jelas rasanya bahagia sekali.”

Minho tersenyum memperhatikan Jiyeon yang mulai berkaca, “itu wajar. Naluri seorang ibu memang sangat kuat.” Katanya lembut. Minho mengusap kepala Jiyeon, menariknya mendekat dan mengecupnya kilat sebelum benar-benar kembali fokus pada jalanan yang mulai di basahi air hujan.

“Aku rasa ini akhir dari semua penderitaan.”

Minho menggeleng tidak setuju, “masih ada satu yang belum selesai, love.”

“Apa?”

“Ibumu.”

Jiyeon menggeram sebal. Disaat seperti ini Minho justru membahas hal yang paling ingin ia hindari, Jiyeon memilih bungkam dan memiringkan tubuhnya menghadap kaca membelakangi Minho. Minho bisa melihat seberapa kacaunya wajah Jiyeon dari kaca yang berembun. Sejujurnya Minho tidak merasa menyesal, ia hanya ingin semua masalah benar-benar selesai sebelum mereka menikah.

Minho meminggirkan mobilnya di jalan sepi, hujan tidak terlalu deras sekarang. Hanya rintik-rintik kecil serta jalanan yang basah. Pria itu kemudian membuka sabuk pengamannya, mencoba membujuk Jiyeon untuk menatapnya.

“Kau mau masalah benar-benar selesaikan?”

Jiyeon mengangguk walau tak yakin. Minho membingkai wajah Jiyeon dengan tangannya. “Kau sudah dewasa. Sudah banyak masalah yang dapat kau atasi sendirian. Kau berhak bahagia, ibumu berhak bahagia, bahkan ayahmu berhak bahagia. Semua orang berhak bahagia, sayang.”

“Tapi aku tidak suka melihat eomma bersama pria lain.”

“Ibumu bahkan rela membatalkan pernikahannya demi berbaikan denganmu, kan? Sayang, coba kau pikirkan seberapa penting restumu bagi ibumu. Jika ibumu mencintai orang lain, apa dia tidak pantas bahagia? Jika ayah dan ibumu kembali bersatu demi dirimu tanpa adanya cinta. Apa itu bisa disebut bahagia?”

Jiyeon menggeleng lemah, sementara Minho masih terus memberikan Jiyeon pengertian. Pria itu sudah benar-benar berubah menjadi pria bijak sekarang.

“Nah. Sekarang semua keputusan ada ditanganmu. Jika kau mengambil keputusan yang benar, maka ada lebih dari satu orang yang bahagia karenamu.” Minho merogoh saku celananya mengeluarkan handphone lalu menyodorkannya pada Jiyeon.

Jiyeon mengambil napas berat sebelum mengambil handphone Minho dan menekan angka yang sudah sangat diingatnya.

“Halo, mom.” Jiyeon melirik Minho saat tangan prianya menggengam tangannya erat. Minho tersenyum hingga Jiyeon ikut tersenyum penuh keyakinan.

“Aku baik. Emm, bagaimana Matthew? Tidak apa-apa, aku hanya bertanya. By the way, mom… aku mau bilang jika aku tidak masalah jika kau mau menikah lagi. Hey, mom aku benar-benar tidak keberatan selama Matt membuatmu bahagia.” Jiyeon tersenyum lebar kali ini. Minho tidak tahu apa yang dikatakkan ibunya Jiyeon hingga membuat tawa lebar pada wanitanya. Sesuatu yang membuat Minho turut bahagia melihatnya.

“Emm, ya semua baik-baik saja, kau tenang saja aku bahagia di sini.” Jiyeon melirik Minho sekedar memberikan kerlingan nakal membuat Minho terkekeh dan mencium cepat bibir wanitanya. “Aku juga mencintaimu. Well, aku punya kabar baik untukmu. Aku akan menikah. Dengan seorang pria tentu saja.” Jiyeon terkekeh, “aku akan mengajaknya ke Prancis untuk bertemu denganmu setelah mengenalkannya pada appa. Ngomong-ngomong, ini nomor calon suamiku. Aku yakin kau akan terkejut karena calon suamiku ini anak dari sahabatmu. Itu rahasia, dah mom, sampai bertemu di Prancis.”

Jiyeon mengembalikan handphone Minho masih dengan wajah berseri-seri.

“Jadi kau mau mengenalkan aku dengan ayah dan ibumu?” Tanya Minho sambil tersenyum.

“Kau tidak keberatan, kan?”

“Tidak. Hanya saja aku belum siap kena pukul ayahmu saat tahu anak gadisnya sudah hamil duluan.”

“Aku pikir kau tidak takut pada apapun.” Kekeh Jiyeon.

“Kecuali ayah mertua.”

Jiyeon kembali tertawa mendengar kejujuran Minho, ia mengecup pipi Minho gemas saat prianya mulai menyalakan mesin mobil kembali setelah memasang sabuk pengaman.

“Kau jangan khawatir, aku berada dipihakmu.” Ucap Jiyeon sembari menyenderkan kepalanya di pundak Minho. Minho mencium kepalanya cepat sementara Jiyeon mulai memejamkan mata lelah.

“Aku mencintaimu.” Bisik Minho lembut.

“Aku juga mencintaimu.” Balas Jiyeon.

Akhirnya semua masalah selesai disaat yang benar-benar tepat. Sudah tidak ada lagi teror Jiwon karena wanita itu pantas bahagia dengan pria lain. Kai, kembali ke Belanda setelah Minho mengancamnya untuk menjauh dari Korea jika tidak ingin kembali berakhir di rumah sakit. Masalahnya dengan ibu nya juga sudah terselesaikan berkat sikapnya yang dewasa. Dan semua dari kebahagian ini akhirnya berujung pada sebuah pernikahan. Suatu ikatan sakral dimana hubungan mereka sah dimata Tuhan dan negara.

Setidaknya, Jiyeon benar-benar menyerahkan keperawanannya pada suaminya. Walau waktunya yang terlalu cepat. Karena pria yang mengambil keperawanannya merupakan calon suaminya sendiri. Minho dan teman-temannya benar, bahwa semua orang berhak bahagia.

When life gives you a hundred reasons to cry, show life that you have a thousand reasons to smile.

-anonim-

End.

A/n: yup ini udah tamat. Tapi tenang masih ada satu epilog.

Advertisements

Author:

If you Jiyeon fans, you must stay here. but, if you hate my fav idol..you must go on without drama. thx

52 thoughts on “12. OBSESSION : Think Big and Act Now [end]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s