Posted in OBSESSION

10. OBSESSION : Hurt


You make my heart so strong, and you make my heart so broke.
——————————————-

Tidak pernah ada yang tahu bahwa puncak dari kesetiaan akan menciptakan percikan mematikan. Dan tidak ada yang bisa mengukur seberapa menderitanya seseorang hanya dari penampilan luar. Suatu ketika Jiyeon mengingat betapa bahagianya ia saat kecil, setiap akhir pekan keluarganya akan mengajaknya mengunjungi wisata taman bermain dengan kedua tangan di gandeng Ayah dan Ibu nya, mereka bahagia. Tentu saja, ada banyak tawa di sertai lemparan lelucon konyol yang membuatnya tergelitik antusias.

Saat pertama kali masuk SD, Jiyeon ingat betapa bahagia kedua orang tuanya saat memakaikannya seragam dan menyiapkan bekal makanan, serta sang Ibu yang setia menemani hingga bel pulang berbunyi. Saat itu adalah saat dimana Jiyeon ingin memencet tombol waktu dan menghentikannya tanpa ingin berlalu.

Kemudian, orang tua nya mulai sibuk bekerja karena Ibu nya memilih menjadi wanita karir. Jiyeon mulai terabaikan, hidup dengan kasih sayang bayaran. Puncaknya saat Jiyeon mengalami kecelakaan hebat ketika SMP, ia kritis dan nyawanya hampir tidak tertolong. Orang tua mulai saling menyalahkan dan meneriaki satu sama lain hingga ia pulih dari segala rasa sakit dan mendapati surat cerai yang di bumbui tanda tangan membuatnya gemetar.

Jiyeon hanya diam, dan tersenyum palsu sambil berkata; aku tidak apa-apa. Nyatanya Jiyeon menangis seharian. Hak asuh di pegang Ayahnya, tapi Ayahnya adalah dokter Kardiolog yang super sibuk hingga ia memutuskan untuk pergi tinggal dengan Ibunya. Dan Ibu nya berubah menjadi sosialita yang mementingkan uang daripada apapun. Jiyeon pergi, sendirian dan memutuskan tinggal di apartemen pemberian Ayahnya. Jiyeon tahu bukan hanya dia yang terluka, orang tuanya juga sama terlukanya.

Tapi, bukankah setiap luka ada obatnya?

Ya. Ada, dan itu yang menjadi candu setiap tahunnya. Sejak awal masuk SMA, sejak ia memutuskan untuk tinggal sendiri Jiyeon sangat tergantung pada obat. Obat yang membuat pikirannya jernih dan bebannya terangkat. Bertahun-tahun Jiyeon mengkonsumsi obat penenang sesuai anjuran dokter sampai Minho datang menjungkir balikkan dunianya, membuatnya merasa berharga dan di butuhkan. Jiyeon mulai berhenti meminum obat, ingin merubah pola hidup yang sehat karena Jiyeon ingin hidup lebih lama.

Dan, kini luka itu kembali menggores lebih dalam hingga menembus sumsum tulang, Jiyeon berdiri memandang gedung-gedung yang ada di Seoul melalui jendela kaca besar di kamarnya sambil memegang dua butir obat, tidak apa-apa. Jiyeon mencoba meyakinkan diri ratusan kali karena konsekuensi dari tindakannya, Jiyeon akan kembali kecanduan obat. Tapi, Minho sedang tidak ada. Pria itu keluar mencari makanan untuknya, jadi tidak apa-apa.

Jiyeon berbalik memutar tubuh, ia berjalan pelan penuh perhitungan hingga mencapai tepi kasur. Ia duduk perlahan, menatap dua butir obat yang berada di telapak tangan dan mengambil segelas air putih yang ada di atas meja dengan tangan yang satunya. Kini, tatapannya begitu yakin hingga sekali teguk obat itu tertelan menembus tenggorokannya yang kering.

Tenang, lepas, semua beban terasa terbang mengikuti hembus angin. Jiyeon mulai mengambil napas konstan, teratur dan perlahan. Ia tersenyum, pelan lalu mulai membaringkan tubuh dan memejamkan mata. Ia ingin istirahat, barang sejenak demi kesehatan mentalnya.

Minho baru saja memasuki apartemen dengan dua kantong plastik penuh makanan, ia tahu hari ini akan terjadi. Jiwon akan kembali dan membuat segala sesuatunya menjadi rumit. Dulu sekali, Minho sangat mencintai Jiwon dan bertekat akan menikahi wanita itu kelak, ia buta karena cinta. Hingga cinta itu sendiri yang membuatnya hancur dan merana, kemudian ia berubah. Mengikuti teori orang-orang  bahwa seseorang yang pendiam akan lebih berbahaya daripada seorang kriminal sekalipun. Lalu ia bertemu Jiyeon, selain rupanya yang mirip, nama merekapun hampir sama. Di situ Minho bertekat untuk melampiaskan semuanya pada gadis itu, Minho ingin mengurung dan membuatnya menderita.

Tapi Jiyeon berbeda dengan Jiwon. Minho mulai goyah, goyah karena kekeras kepalaan Jiyeon yang membuatnya pening. Lalu, muncul ide gila untuk memanfaatkan gadis itu saja, menganggapnya sebagai Jiwon hingga wanita itu datang lagi dan Minho akan membuang Jiyeon karena tidak di perlukan. Lambat laun meskipun sulit mengakui, Jiyeon berhasil membuatnya melupakan Jiwon dan membuatnya jatuh cinta untuk ke dua kali. Minho masih tidak mau mengakui, tapi perasaannya tidak bisa membohongi, Minho kalah saat Jiyeon mengetahui segalanya. Ia mulai takut kehilangan hingga putus asa, biarlah Jiwon saja yang pergi tapi tidak dengan Jiyeon. Biar saja Minho menjadi manusia tolol yang hanya bisa melihat kepergian Jiwon, tapi ia akan menjadi lelaki egois yang tidak akan membiarkan Jiyeon pergi.

Dan dia benar-benar sadar dari sekian banyaknya batu sandungan, hanya Jiyeon yang ia inginkan.

“Jiyeon,” Minho mulai memanggil pelan. Ia membuka hati-hati pintu kamar menggunakan siku sementara kedua tangannya memegang nampan berisi makanan dan segelas air putih. Matanya menjelajah sekitar dan mendapati gadisnya tertidur lelap di atas ranjang, tanpa selimut.

Minho menaruh hati-hati nampan di atas meja lampu, ia duduk hati-hati di sisi ranjang memperhatikan gadisnya yang masih tidur dengan posisi nyaman.

“Hey,” kembali ia bersuara, hati-hati. Jiyeon sama sekali tidak terusik, ia tidak menunjukkan pergerakan apapun.

Ujung jempol Minho mulai membuat pergerakan lembut di pipi Jiyeon, menekannya dalam sambil lama-lama bermain, “bangun. Kau belum makan dari kemarin.” Ujarnya penuh perhatian.

Jiyeon melenguh, pelan.

“Aku tahu kau masih marah dan tidak mau bicara denganku, tapi setidaknya kau harus makan.” Minho kembali berusaha membujuk.

Minho menatap kosong punggung Jiyeon, gadis itu sengaja memunggunginya karena tidak ingin bertemu muka. Sejak pulang dari rumah sakit Jiyeon benar-benar menjadi manusia tanpa ekspresi, ia hanya diam tanpa mampu bersuara dan berkali-kali juga mengabaikan Minho. Jiyeon hanya mau bicara jika di kampus, itu pun bicara dengan teman-temannya. Bukan dirinya. Jadi, siapa yang harus di salahkan jika sudah seperti ini? Jiwon? Masalalunya? Dirinya? Atau masalalunya bersama Jiwon yang membuat keadaan serumit ini?

Minho mendesah kecewa, kepalanya kembali pening jika memikirkan masalah mereka akhir-akhir ini yang berada di ujung tanduk. Sejujurnya Minho ingin memukul dirinya sendiri karena tidak bisa bercerita tentang masalalunya. Baginya itu adalah sebuah luka yang sebaiknya tidak di ungkit. Tapi Minho juga sepenuhnya sangat tahu jika keterbukaan adalah bumbu suatu hubungan. Tapi Minho benar-benar tidak bisa, butuh waktu serta proses yang panjang hingga rasa sakit itu menghilang.

Jika orang bilang cinta dan benci beda tipis, Minho akan sangat tegas membantahnya. Benci adalah cinta hanyalah kiasan anak muda zaman sekarang. Karena benci yang benar-benar nyata adalah benci itu sendiri. Minho sangat membenci Jiwon, tapi ia tidak mencintainya. Dan itu adalah teori benci dan cinta orang dewasa.

Minho mengerti Jiyeon ingin sendiri, ia akan membiarkan gadis itu sendiri jika saja gadis itu memikirkan kesehatannya juga. Tapi Jiyeon tidak makan sejak kemarin, biasanya gadis itu akan makan di kampus setelah teman-temannya membujuk. Tapi dua hari ini adalah weekend, tidak mungkin Minho membiarkan Jiyeon kelaparan sampai besok.

“Aku lebih senang jika kau memaki dan memukulku. Berhenti mengacuhkanku dan berhenti membuatku khawatir.” Kata Minho frustasi. Ia kemudian membalik paksa tubuh Jiyeon, mengangkatnya dan mendudukannya kemudian menyenderkan tubuh Jiyeon di kepala ranjang. Jiyeon mendengus lemah sambil menatap sinis Minho. Ia bisa apa memang selain diam dan pasrah? Mungkin efek dari obat yang di minumnya tidak terlalu kuat hingga Jiyeon masih bisa merasakan beban yang ia pikul sangat berat. Ini benar-benar menyakitkan, hingga ia ingin memohon kepada Tuhan untuk mengambil nyawanya sekarang.

“Buka mulutmu.” Kata Minho memberi perintah. Jiyeon memalingkan wajahnya kesamping dan Minho langsung mencengkram pipi Jiyeon membuat wajah Jiyeon menghadap Minho sementara lirikan matanya mengarah sebaliknya, tidak ingin menatap Minho.

Tangan Minho semakin mencengkram pipi Jiyeon membuat mulutnya terbuka sedikit. Minho memasukkan sendok berisi nasi dan daging secara paksa melalui celah mulut yang terbuka tersebut. “Kunyah.” Kata Minho singkat. Jiyeon tetap dengan kekeras kepalaannya untuk diam membuat Minho berang.

Minho mencium bibir Jiyeon kasar, mendorong nasi yang ada di mulut Jiyeon dengan lidahnya sambil menekan belakang leher Jiyeon untuk memperdalam. Jiyeon memberontak, tapi tenaga Minho terlalu kuat hingga sulit lepas. Pria itu terus mencium Jiyeon dan terus mendorong makanan itu masuk kedalam sampai Jiyeon tersedak dan merasakan tenggorokannya benar-benar panas dan perih. Minho melepas ciuman itu ketika sudah tidak ada lagi sisa makanan yang tersisa, Jiyeon buru-buru mengambil segelas air dan meneguknya hingga habis.

Mata Jiyeon melirik Minho marah, “kau hampir membunuhku.” Amuknya tidak terima.

“Itu satu-satunya cara agar kau mau makan.” Kata Minho enteng.

Jiyeon mendelik marah. Sialan, apa yang Minho lakukan hampir membuatnya mati. Oke, itu sedikit berlebihan tapi Minho benar-benar tahu caranya mengendalikan seseorang. Mungkin julukan death kisser sangat cocok untuknya. Jiyeon benar-benar tidak mengerti sekarang, kepalanya seperti berputar dan banyak bayangan, mungkin efek tidak makan seharian dan ciuman Minho benar-benar membuatnya mabuk.

Itu cara Minho membuatnya menyerah untuk makan, itu mungkin berhasil. Tapi kemarahan Jiyeon pada pria itu tidak akan ada yang bisa merubahnya. Jiyeon benar-benar marah lebih dari apapun, lebih dari perpisahan orang tuanya.

“Aku akan makan sendiri.” kata Jiyeon menyerah dengan nada ketus dan pelan. Minho tersenyum di sampingnya, mencoba mengerti tanpa harus kembali berdebat.

“Baiklah. Aku akan keluar sebentar, aku harap makanan mu habis tanpa sisa.” Minho memberikan ciuman singkat di kening Jiyeon, tapi gadis itu langsung menghindar membuang muka mencoba menghindari ciuman Minho. Pria itu mendengus, kemudian menarik paksa wajah Jiyeon lalu mencium lama kening sebelum akhirnya mengecup bibir pink Jiyeon singkat.

Tanpa berkata-kata Minho langsung pergi keluar kamar. Bahkan, dengan kondisi marah seperti ini pun rasanya Jiyeon tidak rela membiarkan Minho pergi. Ia mulai menjadi gadis sakit jiwa karena cinta sementara cinta itu semakin berkembang setiap detiknya. Mungkin, jika ini bukan cinta pertamanya Jiyeon tidak akan seperti ini. Atau mungkin jika bukan hanya Minho satu-satunya yang selama ini memberikannya kasih sayang, Jiyeon akan mudah melepaskan.

Oke, katakan Jiyeon adalah gadis jalang yang gila cinta atau haus kasih sayang. Tapi semua itu karena ia takut kehilangan lagi. Mungkin teman-temannya akan datang mengulurkan tangan sambil berkata; ada kami disini. Tapi itu semua tidaklah cukup karena kasih sayang mereka berbeda dari kasih sayang yang Minho berikan padanya.

Jiyeon terus memikirkan ini berkali-kali sambil menyuap sesendok nasi di sertai air mata yang terus menetes sampai terdengar panggilan masuk dari handphonenya. Itu Ibu nya, oh baiklah sekarang apalagi? Batin Ibu dan anak yang saling terhubung?

Jika saja ini hubungan Ibu dan anak yang normal, Jiyeon akan menjawab telepon itu sambil menangis meraung mengadu segalanya. Tapi hubungan ini berbeda.


“Halo.”
Jiyeon mencoba bersikap tenang dengan memejamkan mata dan menggigit bibirnya untuk menahan isakan. Suara Ibu nya begitu gembira di ujung sana.


“Halo sweetheart, apa aku mengganggu mu?”

“Tidak.”


“Itu jawaban yang aku tunggu. Dan ya, coba tebak aku punya kabar gembira untukmu.”

Jiyeon menekan mulutnya menggunakan tangan karena gigitan pada bibirnya tidaklah cukup untuk menahan isakan, “emm? Apa?” Tanya serak.


“Hey, whats wrong?”


“Nope. I’m okay,”
Bibir Jiyeon mulai bergetar. “I’m okay mom. I’m okay.” Katanya berulang. Jiyeon mengangkat kepalanya ke atas langit-langit kamar mencoba menahan air mata agar tidak jatuh.


“Mom..”

“Ya sweetheart?”

“I require your embrace at this time..”


“Oh honey… the amount I miss you.”

Jiyeon kecewa mendengar jawaban Ibunya yang tidak sesuai harapan. Jiyeon menghapus air matanya kasar sambil menahan napas juga isakan secara bersamaan. Napasnya benar-benar sesak sekarang.

“Kau bilang ada kabar gembira, apa itu?” Tanya Jiyeon bernada dingin walau ia masih tidak bisa menghentikan tangisnya.


“Ah, ya aku hampir lupa! Aku akan menikah, dia rekan kerjaku dan dia orang baik. Aku akan menikah sayang!”

Hancur sudah impian Jiyeon untuk mempersatukan kembali kedua orang tuanya. Semua sudah hancur. Kenapa Tuhan sangat senang mempermainkan hidupnya? Kenapa semua penderitaan harus datang beruntun tanpa ada ujungnya? Katakan kapan ini akan berakhir? Katakan ini hanya sandiwara Tuhan untuk mengerjainya. Sial, Jiyeon benar-benar histeris sekarang. Ia sudah tidak bisa menutupi tangisannya dengan tangan ataupun mulut.


“I am fed up with this!”

“Jiyeon? Are you cried?”


“Shut up!” Jerit Jiyeon histeris membuat Ibu nya terdiam. “Don’t call my name..”

“Sayang..”


“I hate you,” mata Jiyeon sudah tertutupi sepenuhnya dengan air mata. “I hate you!” Jeritnya histeris sambil mematikan telepon kasar. Jiyeon merosotkan tubuhnya dramatis ke kasur dan meringkuk sambil memeluk handphonenya disertai makian dan jeritan. Kali ini ia benar-benar di ambang batas dari apapun itu. Semuanya sudah berakhir. Cintanya, keluarganya sudah berakhir. Jiyeon muak, ia muak dengan dirinya sendiri karena kembali menjerit seperti orang gila untuk hal yang bahkan tidak pantas untuk ia tangisi.

Persetan dengan Minho, persetan dengan Ibunya. Jiyeon sangat sial karena berada di tengah-tengah manusia brengsek seperti mereka. Ia ingin menghilang saja. Luka ini terlalu dalam hingga ia sendiri tidak mampu memikulnya. Jiyeon kembali histeris. Gadis itu kemudian menghentakan tubuhnya marah, ia berdiri dan berjalan cepat ke arah lemari mengeluarkan koper dan mamasukkan seluruh bajunya ke dalam. Ia hanya ingin pergi, menghilang tanpa ada satupun yang tahu.

Kemudian, handphonenya kembali berbunyi. Jiyeon meletakkan kopernya sembarang mencoba menutupi emosi walau tetap tidak bisa. Jiyeon bahkan membuka pesan singkat dengan tangan bergetar emosi.


From: Suzy


Shit, aku tidak tahu apa wanita ini yang bernama Jiwon atau bukan. Yang jelas aku melihat Minho dengan wanita ini di kedai kopi, mereka terlihat akrab. Katakan apa ini Jiwon? Aku bersedia menamparnya di depan umum jika kau mau. Aku serius, aku akan menamparnya sekarang, ah tidak aku ingin mencangkarnya. Aku serius Jiyeon.

Ada foto Minho disitu, duduk santai dengan Jiwon di depannya. Ya itu Jiwon. God, apa lagi ini? Jiyeon menjerit dalam hati mendapati alasan kepergian Minho karena menemui Jiwon. Semuanya benar-benar brengsek. Handphonenya berbunyi kali ini, itu Suzy. Suzy pasti tidak sabar menerima balasan pesan singkatnya.

“Hn.” Jiyeon menjawab lewat hembusan napasnya yang lembut.

“Demi Tuhan kenapa kau lama sekali membalas pesan singkatku? Katakan apa itu Jiwon? Dia seperti wanita jalang yang tidak tahu malu merangkul pacarmu. Katakan Jiyeon! Itu Jiwon?”

Jiyeon memejamkan matanya bersamaan dengan jatuhnya air mata untuk kesekian kalinya.

“Ya.” Jawabnya lemah. Jiyeon merosot jatuh di atas lantai setelah mematikan telepon dan membanting kasar handphonya hingga terbelah. Ia histeris untuk kesekian kalinya.

OBSESSION

Koper Jiyeon terus terjatuh berulang karena ia menyeretnya terburu-buru sambil sesekali menangis. Ia sudah biasa menjadi pusat perhatian, jadi tatapan orang-orang yang memandanya kasian tidak sama sekali ia perdulikan. Ia hanya ingin cepat-cepat pergi dari apartemen Minho. Tapi koper itu seolah menjadi penghambat jalannya. Jiyeon muak, kesal. Gadis itu bahkan mengumpat kopernya sendiri.

Jiyeon menendang kopernya marah, ia berjongkok menundukkan muka sambil kembali menangis. Ini sulit dipercaya, ia terlihat seperti gelandang jalanan. Gelandangan dengan pakaian mewah dengan rambut acak-acakan.

“Jiyeon?”

Jiyeon mendongak terkejut, matanya terbelalak kaku.

“Kau benar-benar Jiyeon? Astaga apa yang kau lakukan disini dengan penampilan seperti ini?” Tanya seorang pria dengan nada terekejut. Pria itu segera menjongkokkan dirinya hingga sejajar dengan Jiyeon.

“Kai?”

Pria bernama Kai itu mengangkat tubuh Jiyeon paksa dengan mencengkram bahunya. Tangisan Jiyeon pecah, sekali lagi benar-benar pecah. Jiyeon memeluk Kai yang merupakan teman kecilnya, pria itu pindah ke Belanda sejak usia lima belas. Dan sekarang Kai ada disini, Jiyeon tidak mengerti harus bersyukur seperti apalagi. Baginya Kai adalah harapan satu-satunya untuk melarikam diri. Karena Minho tidak mungkin mengenal Kai.

Jiyeon semakin memeluk Kai dan mencengkram kaos pria itu, yang dilakukan Kai hanya membalas dan memberi usapan lembut di punggung Jiyeon tanpa tahu apa yang terjadi dengan gadis yang berusaha ia tenangkan.

“Bawa aku pergi Kai. Aku mohon.”

.

.

.

.

.

“Kau masih tidak mau cerita?” Tanya Kai untuk yang kesekian kalinya. Kai menaruh sekaleng bir di atas meja lalu duduk di samping Jiyeon. Gadis itu membuka kaleng bir dan meminumnya sekali teguk. Kai masih memperhatikan. Jiyeon benar-benar tidak mau menceritakan apa yang terjadi pada gadis itu, bahkan ketika gadis itu sudah membersihkan diri dan cukup tenang pun, gadis itu masih belum mau bercerita.

“Sejak kapan kau pindah ke Seoul? Dimana Paman dan Bibi?” Jiyeon bertanya tanpa menatap Kai. Gadis itu lebih memilih menatap kaleng bir ditangannya. Tatapannya kosong.

Kai tertawa aneh, “kau mencoba mengalihkan pembicaraan.” Sindirnya sebal. Jiyeon tersenyum miring disampingnya. “Aku akan menjawab setelah kau menjawab.” Kata Jiyeon mencoba menunda.

“Tiga minggu yang lalu, aku sedang dalam pertukaran pelajar. Ayah dan Ibu masih di Belanda karena mereka memang tidak berencana kembali ke Korea,” Kai melirik Jiyeon yang duduk di sampingnya, “giliranmu.”

Jiyeon menengok menatap Kai. “Giliran apa?” Tanyanya bodoh.

Kai memutar bola matanya malas, “kau masih sama menyebalkannya, Nona Park.” Kesalnya. Kai melihat Jiyeon tertawa di sampingnya, tapi tawa itu terkesan hampa dan Jiyeon terlihat seperti orang bingung yang tidak apa sedang di bicarakan. Jiyeon jelas tidak mabuk, sekaleng bir tidak akan membuat Jiyeon mabuk.

“Jam berapa sekarang?” Tanya Jiyeon sambil kembali meneguk sisa bir yang ada di dalam kaleng. Kai melirik jam besar yang ada di atas televisi, “sebelas lima belas.”

“Temani aku ke club.”

“Apa?” Kai mentap tidak percaya Jiyeon. Gadis itu meliriknya malas, “temani aku ke club bodoh. Aku sudah lama tidak ke sana.” Kesal Jiyeon.

Kai mendengus sambil menahan tawa di sampingnya. “Dasar Nona Tukang Perintah. Bisa apa aku jika Nona sudah meminta.”

….

Suara musik dj benar-benar keras di dalam ruangan ini. Semuanya menari bebas walau ada sebagian yang hanya duduk di meja bar sambil menikmati alkohol. Ada juga para pria berjas mahal yang duduk memangku wanita seksi. Tempat ini kotor, penuh dengan orang-orang busuk munafik. Tempat untuk hura-hura dan melakukan one night stand. Bahkan sebagian tidak jijik diraba pada bagian vital di tengah keramaian club malam. Hanya ada uang di pikiran mereka, hormon yang terpuaskan ada diposisi dua.

Berciuman panas bisa di saksikan di manapun, bahkan wanita yang menari tanpa busana pun ada di dalam sini. Ini benar-benar tempat terkutuk yang seharusnya di musnahkan.

Tapi Jiyeon tidak terganggu dengan itu semua, gadis itu bahkan dengan santainya mengalungkan tangannya di leher Kai sementara Kai memeluk rapat pinggang Jiyeon. Mereka menari diiringi musik dj, mulut mereka bau alkohol dan tarian mereka semakin panas.

“Katakan berapa kali dalam seminggu kau melakukan seks?” Bisik Kai sensual, Jiyeon tertawa. “Aku seorang perawan Kai.” Akunya jujur. Kai menatap Jiyeon terkejut, sikap gadis itu menunjukkan bahwa ia mengatakan yang sejujurnya membuat Kai tertawa garing.

“Aku benar-benar terkejut. Kau harus mencobanya. Sial, ekspresimu membuatku ingin kau melakukan Dirty Sanchez untukku sekarang, di toilet.”

Jiyeon tertawa nakal akibat pengaruh alkohol, tapi kesadarannya tidak benar-benar hilang.

“Aku tidak tertarik. Tinggal di Belanda membuat pergaulanmu menjadi rusak.”

Kai mendekatkan wajahnya pada Jiyeon hingga hidung tidak mancungnya bersentuhan dengan hidung mancung Jiyeon, “kau tumbuh menjadi gadis yang cantik.” Kata Kai pelan nyaris disertai desahan karena pria itu semakin menekan tubuhnya dengan Jiyeon sambil menggoyangkan pinggul mereka. Jiyeon tersentak kaget, berusaha lepas walau gerakannya terkesan lembut. Kai mencium leher Jiyeon. “Tidak Kai.” Tolak Jiyeon pelan. Kai terus menekan tubuh mereka dan menciumi lehernya. Tangan Kai meraba kebawah, ia berusaha menarik keatas ujung dress Jiyeon lalu menekan lembut pangkal paha Jiyeon. Dress hitam sebatas paha bertali spageti yang memiliki belahan dada terbuka itu semakin membuat birahi Kai tidak terkendali. Jiyeon memberontak lebih keras kali ini.

“Tidak Kai!” Suara teriakan Jiyeon terkalahkan suara musik dj. Bukan ini yang Jiyeon harapkan untuk senang-senang. Jiyeon tidak pernah tahu bahwa Kai telah berubah menjadi laki-laki brengsek seperti ini. Atau semua ini karena pengaruh alkohol yang di minum Kai? Yang jelas Kai benar-benar kelewatan.

“Brengsek!”

Kepala Jiyeon berputar-putar, ia melihat ada kekacauan di depannya. Tidak jelas tapi sangat gaduh. Jiyeon menggeleng berusaha meraih kesadarannya kembali. Dan apa yang di lihatnya benar-benar mengejutkan. Minho disini, penampilannya acak-acakkan. Pria itu masih mengenakan kemeja biru dongker tadi siang, lengannya tergulung hingga siku. Ia benar-benar marah. Jauh dari kata marah, Minho mengamuk kesetanan.

“Ini balasan karena menyentuh milikku!” Teriak Minho. Pria itu menyeramkan, ia terus menduduki Kai yang terkapar diatas lantai sambil terus memukuli rahang pria itu. Tidak ada ampun, tidak ada niatan untuk berhenti. Banyak wanita yang berteriak histeris sementara yang laki-laki memisahkan. Tenaga Minho terlalu kuat, tidak ada yang berhasil memisahkan.

Minho benar-benar gelap mata kali ini. Meskipun Kai sudah tidak sadarkan diri, Minho masih terus memukulnya.

“Mi..Minho..” Jiyeon bersuara pelan. Ia menutup mulutnya dengan kedua tangan, terlalu terkejut dengan apa yang dilihatnya. Berkat suaranya yang pelan bergetar itu juga Minho menghentikan pukulannya, pria itu menengok ke belakang menatap Jiyeon tajam. Matanya benar-benar gelap membuat Jiyeon ketakukan.

Minho bangun, masih terus menatap Jiyeon marah dengan rahang mengeras. Jiyeon mundur kebalakang, ia merasa tamat sekarang.

“Kau harus di hukum.” Minho mencengkram pergelangan tangan Jiyeon, ia menyeret Jiyeon kasar tanpa perduli rontaan dan jeritan gadis itu. Apapun yang terjadi, Minho tidak akan membiarkan Jiyeon lepas darinya lagi. Tidak akan.

Tbc

A/n : part ini cukup lebay si menurut gue. Wajar aja gue nulis ini emang lagi kondisi lebay, depresi sebenernya jadi ikut kebawa. I’m so sorry guys for late post btw. Ada banyak urusan yg bikin gue sedikit ga fokus. Jd mohon maaf juga buat kekurangan part ini.

Advertisements

Author:

If you Jiyeon fans, you must stay here. but, if you hate my fav idol..you must go on without drama. thx

102 thoughts on “10. OBSESSION : Hurt

  1. Waduhhh hukuman apa tuh? Hmmmm warning nih kyk nya buat next part nya 😃

    Miris deh klo ngebayangin jiyeon kyk begitu
    Jiyeon punya masa sulit bgt pas ortu nya cerai dan ditambah lagi ortu nya seolah ga peduli sama dy

    Tekanan batin bgt deh jiyeon

    Next part juseyo

  2. chingguu minta pwnya part 11 donggg.. penasaran bangettt ceritanyaa👀 nanti krim lewat email yah. udah follow kok blognya dan selalu likee.. dibales yah emailnya. makasi😂😂

  3. Thor aku minta pw part 11 nya dong.. tp jngn krm ke email soalnya lupa kata sandinya.. kalo d fb bsa gk thor.. aku udah kirim pesan lewat fb..

  4. ceritanya makin seru, kenapa juga minho ketemuan sama jiwon , penasaran minho bakal apain jiyeon , semoga hubungan mereka cepet baik deh

  5. Ceritanya makin menarik dan menegangkan >.< penasaran kenapa minho ketemuan sama jiwon.. semoga jiyeonnya gak diapa2in sama minho.. kalau iya berarti ini salah kai sama jiwon –"

  6. kasihan jiyeon bner2 tertekan dngan kondisinya….
    apa smua krna yng prtama ??
    trus minho masih ada urusan apa sma jiwon hingga ketemu gitu….
    kai sbg cameo dsni….ckckckck
    next 🙂

  7. halo thor aku reader baru, izin baca ya
    keren bgt ceritany, paling suka kalo uda bc ff minji couple, suka banhet sama ff kamu

  8. Minho bener” hebat, dia selalu tau dimana jiyeon berada.
    Minho sama jiyeon kalau udah marah nyeremin banget yah, ooo kira” apa yah hukuman jiyeon dari minho hehehe

  9. OMG!! Jiyi benar² terluka, belum selesai masalah dg minho eommanya Kasih kabar mau nikah lagi. Sumpah jadi ikutan mewek baca part ini.
    Kirain kai namja yg baik, karna mereka teman kecil.
    Minho bisa nemuin jiyi.

  10. Kak aku minta pw part 11 nya dong !

    penasaran bgt!

    suka bgt sama kata2 nya yang rapih. Terus tidak ngebosenin.!

    kak minta pw nya yah. Saranghae :*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s