Posted in OBSESSION

9. OBSESSION : Kim Jiwon


Sometimes someone who tries to keep everyone happy is most lonely person.
—————————————————————————-

“Kau aneh.” Sindir Jiyeon ketika Minho memasuki kamar mereka dengan wajah kusut berantakan.

Minho hanya melirik sekilas dengan wajah malas lalu melepaskan kaos biru bercorak abstrak dan melemparnya asal. Pria itu kemudian merangkak ke atas tempat tidur lalu memeluk perut Jiyeon posesif sambil menghisap dalam-dalam harum tubuh gadisnya, Jiyeon menjambak rambut Minho. Hanya main-main dan itu terhitung lembut juga penuh perhatian.

“Ada apa? Sejak pulang dari Gwangju kau menjadi aneh. Kau tidak pernah fokus dan sering marah-marah. Apa kau masih marah padaku?” Tanya Jiyeon untuk kesekian kalinya. Biasanya Minho hanya diam sambil mencium bibirnya dan mengacak-acak rambutnya pelan, tapi kali ini Minho tidak melakukannya. Minho justru semakin memeluk Jiyeon lebih kencang dan menciumi payudara Jiyeon yang masih tertutup piyama berwarna pink pucat.

Jiyeon benar-benar tidak mengerti. Seharusnya dia yang marah karena Minho masih tidak mau cerita mengenai wanita masa lalunya, tapi yang terjadi justru sebaliknya. Minho mogok bicara dan sering hilang konsentrasi. Bahkan, yang Jiyeon dengar Minho semakin urakan di kampus, terlebih pada pria yang jelas-jelas menyukainya. Pria itu tidak segan memukul dan mengancam, seperti melampiaskan sesuatu yang lama terpendam. Minho semakin tidak terkendali, semakin sinis dan kaku. Minho juga menjadi pria menyebalkan yang tidak kenal bantahan dan Jiyeon cukup merasakan dampaknya. Pria itu melarang Jiyeon kemanapun sendirian, tidak tanpanya.

Dan semua itu di perkuat dengan kelakuan Minho hari ini. Minho membanting handphonenya, hingga hancur cuma karena mendapati dirinya sedang berbicara dengan Suho. Ekspresinya tajam, keras dan tidak terbaca. Mata Minho semakin kelam saat Jiyeon meneriakinya dan mengatakan bahwa itu hanyalah Suho. Dan setelahnya Minho pergi pegitu saja mengunci diri di ruang perpustakaan hingga sore menjelang malam.

“Kau milikku. Apapun yang terjadi kau milikku dan tidak ada yang boleh membawa mu pergi dariku.” Racau Minho.

Jiyeon hanya diam menerawang kaca besar di dalam kamar yang menembus kepadatan kota Seoul dengan lampu-lampu indah menghiasi perkotaan. Ia tidak bodoh, bukan gadis bodoh yang tidak mengerti kondisi saat ini. Ia pernah belajar psikologi, dan cukup tahu dasar-dasar sifat manusia.

Semuanya berubah sejak malam natal, sejak seorang wanita menyapanya di depan pertokoan. Jiyeon masih mengingatnya, tapi wajah wanita itu terlihat asing dan samar-samar hingga Jiyeon lupa seperti apa rupa wanita itu. Apa hubungan wanita itu dengan Minho? Jika teman, Minho tidak akan bersikap kasar dan uring-uringan. Tapi Minho tidak pernah mengenalkan temannya, tidak satu pun dan Jiyeon sangat yakin bahwa Minho tidak memiliki teman. Di kontak handphonenya, hanya ada namanya dan nama Ibu nya. Tidak ada yang lain.

Jadi, siapa wanita itu? Kenapa dampak dari pertemuan mereka bisa sebesar ini? Yang jelas, Jiyeon semakin merasa khawatir sekarang, juga waspada. Gadis bermarga Park itu memilih melupakan semuanya, ia memilih menjernihkan pikirannya dan mencoba bersikap dewasa. Ia lelah bertengkar. Dan Jiyeon memilih melingkarkan tangannya di kepala Minho sambil memejamkan mata berusaha untuk tidur. Ada pergerakan pada tubuh Minho, tapi Jiyeon tetap memejamkan mata hingga ia merasakan tangan Minho mengusap pipinya lembut sambil menyingkirkan helai rambut yang menutupi wajahnya, dan Minho mencium bibirnya, lama dan hanya menempel.

“Aku mencintaimu.” Bisik Minho. Ia menarik selimut hingga batas dada dan kembali memeluk perut Jiyeon, kali ini kepalanya menempel dengan kepala Jiyeon.

.

.

.

.

.

.

“Iya aku janji akan langsung pulang, kau kuliah saja yang benar. Aku hanya ingin membeli roti. Em, kau tenang saja jika ada pria yang mendekatiku aku akan menendang selangkangannya. Ya Tuhan, jangan membolos hanya karena aku. Iya, Minho aku akan langsung pulang, kau bawel sekali. Astaga pria ini! Duduk di bangku mu dan tenanglah, aku milikmu oke? Iya sayang, aku juga mencintaimu. Emm, dah.”

Jiyeon memasukkan kembali handphone barunya kedalam tas setelah mematikan telepon dari Minho. Akhirnya pria itu mengijinkannya pergi sendiri setelah ia mengeluh lapar dan ingin memakan roti di toko langganannya walau sedikit ada perdebatan dan Jiyeon di suruh membawa mobilnya karena Minho tidak mengizinkan Jiyeon mengendarai kendaraan umun.

Jiyeon diam sebentar di depan toko roti dan melihat ke toko di sampinya, –kedai kopi. Ia melihat Sulli di sana dengan pacarnya dan bermesraan. Oh, sial Jiyeon sudah sangat merindukan temannya itu. Akhirnya toko roti terlupakan, Jiyeon lebih memilih ke kedai kopi dan melampiaskan hasratnya untuk memeluk Sulli.

“Wow, bagus sekali pagi-pagi sudah bermesraan di tempat umum.” Sindir Jiyeon. Gadis itu menyilangkan tangannya di depan dada dengan bibir mengerucut.

Sulli menatapnya terkejut, “oh, sayang! Kau akhirnya menampakkan diri.” Girang Sulli sambil berdiri dan memeluk Jiyeon kencang, gadis itu sedikit terhuyung kebelakang. Sulli menggeser satu kursi untuk Jiyeon dan menyuruhnya duduk.

Mata Jiyeon melirik pria di sampingnya dan Sulli, “hai paman.” Sapanya mencoba humoris. Pria itu tertawa spontan sementara Sulli mencubit pahanya gemas.

“Aw, itu sakit Sulli.” Keluh Jiyeon.

Mata Sulli berputar sebal, “sudah berapa kali aku bilang jangan panggir pacar ku paman. Panggil saja Choiza Oppa.”

“Ewh, kau tahu pria ini seumuran dengan Ayah ku dan aku tidak akan memanggilnya Oppa.” Kata Jiyeon dengan ekspresi jijik.

Choiza kembali tertawa, sudah terbiasa dengan mulut Jiyeon yang blak-blakan. Tapi Choiza tahu gadis itu tidak membencinya, hanya seperti itu sikapnya dan itu juga yang membuat Choiza lebih akrab dengan Jiyeon di banding teman Sulli yang lain.

“Dasar bocah tengik.” Omel Sulli.

Jiyeon menyengir polos, “kalian benar-benar tidak tahu malu ya? Pagi-pagi sudah bermesraan di sini.” Kata Jiyeon sinis.

Sulli kembali mendengus sementara Choiza menaruh cangkir kopi setelah meminumnya seteguk, “kau tahu sendiri hormon teman mu, Jiyeon. Kami tidak bertemu selama satu minggu, dan setelah bertemu dia melampiaskan dengan seks yang menakjubkan dan baru selesai pagi tadi. Jadi kami berpikir untuk minum kopi di sini karena Sulli punya fantasi luar biasa.” Kata Choiza enteng.

Jiyeon mendengus jijik. “Iihh, jangan katakan kalian ingin melakukan seks di kedai kopi, Sulli yang tidur di atas meja dengan keki terbuka lebar dan kau paman! Kau menungganginya seperti orang kerasukan karena hormon mu meningkat saat para pengunjung melihat kalian melakukan seks?”

Sulli memukul kepala Jiyeon dengan tasnya. “Itu ide yang bagus, tapi kau terlalu berpikir jauh. Apa Minho meracuni otak polos mu dengan hal menjijikan seperti itu, bocah?” Kata Sulli gemas.

“Sialan. Aku hanya bercanda bodoh, jadi fantasi apa yang di maksud?” Tanya Jiyeon kalem.

Choiza kembali meminum kopinya, “seks di pinggir jalan di dalam mobil.”

Mata Jiyeon melotot, “lalu apa hubungannya dengan kedai kopi?” Kesalnya kemudian.

“Hanya singgah sebentar mengumpulkan stamina.” Genit Sulli sambil memeluk mesra Choiza.

“Oh Tuhan. Pagi-pagi kalian sudah membuat otak dan mataku ternodai,” Jiyeon mengeluh sebal, ia memilih berdiri dan bersiap pergi karena tujuan awal nya adalah toko roti. Jiyeon mencium pipi Sulli. “Aku harus pergi dan aku bersumpah aku merindukanmu, tidak. Aku merindukan kalian semua.” Katanya singkat.

Sulli menatapnya sungguh-sungguh, “kami juga sangat merindukanmu. Kau tahu kami seperti orang bodoh yang menanyakan kabar mu setiap hari pada Luna. Dan Amber benar-benar menyesal, dia tidak bermaksud menyakitimu. Amber hanya tidak ingin kau di sakiti Minho.”

“Aku mengerti, aku akan menemui kalian nanti. Dah.” Jiyeon tersenyum tulus pada Sulli, kemudian menatap Choiza untuk berpamitan. “Salam untuk Minho Si Pacar Sempurnamu Jiyeon.” Kata Choiza sambil mengedipkan mata. Jiyeon memutar matanya dan menatap Sulli. Wanita itu tertawa tanpa dosa dan membuat Jiyeon kembali mengerang.

“Sialan kau!”

OBSESSION

“Astaga, maafkan aku.” Jiyeon memungut tiga bungkus roti yang jatuh dan membantu wanita yang di tabraknya untuk memasukkan kembali ke dalam plastik. Ini salahnya, salahnya karena terus terpaku pada layar handphone karena Minho terus-terusan mengiriminya pesan singkat.
Jiyeon membungkuk singkat, “maafkan aku. Aku akan mengganti roti mu yang rusak.” Kata Jiyeon sopan. Wanita yang di tabraknya mengalihkan perhatian dari roti pada matanya.

Matanya membesar, sedikit terkejut sementara Jiyeon hanya memandangnya aneh.

“Kau wanita yang bersama Minho di malam natal, kan?”

Jiyeon mengernyitkan alisnya bingung, “kau siapa?”

“Aku wanita yang malam itu bertemu kalian.”

“Ah,” Jiyeon memperhatikan penampilan wanita itu dari atas sampai bawah. Pakaian wanita itu memang mahal, tapi setelah Jiyeon perhatikan itu hanyalah brand dari kalangan menengah dan tidak semahal barang-barangnya. Wanita itu juga memiliki garis rahang yang sama dengannya, tapi bedanya wanita itu memiliki potongan rambut yang pendek sebatas tengkuk. “Kau berbeda. Bukankah rambut mu panjang?”

Wanita itu tersenyum miring, “aku memotongnya. Emm, apa kau ada waktu?”

“Sebenarnya aku harus pulang karena pacarku akan marah kalau aku pulang telat.” Kata Jiyeon tidak enak.

“Jadi kau pacarnya Minho?”

Jiyeon mengangguk singkat sambil sesekali melirik jamnya.

“Aku Kim Jiwon. Mantannya Minho.”

Jiyeon melotot tajam, seketika ia membayangkan ada banyak kilat yang berlomba memasuki jantungnya dan ada banyak ribuan semut yang menggerogoti. Persetan dengan Minho dan persetan dengan kenyataan bahwa gadis itu harus segera pulang.

Ekspresi Jiyeon yang mulanya ramah berubah menjadi keras, matanya memincing sinis.

“Aku rasa kita memang perlu bicara. Kau membawa mobil?” Kata Jiyeon datar.

“Tidak. Aku naik taksi kemari.”

“Sebaiknya kita mencari tempat yang nyaman. Kau menumpang saja di mobilku, maksudku mobil pacarku.”

Jiwon tersenyum singkat, “oke.”

“Ah ternyata Minho belum mengganti mobilnya. Aku ingat sekali ini mobil yang Minho beli atas pilihanku.” Jiwon memasang sabuk pengamannya tanpa tahu ekspresi Jiyeon yang semakin mengeras sambil mencengkram stir hingga tangannya memutih.

Jiyeon mengabaikannya. Tidak ada gunanya untuk memjawab gumaman wanita di sampingnya, hanya akan menambah emosi. Jiyeon lebih memilih menyalakan mesin dan mulai berkendara, hanya ada keheningan di dalam mobil sampai Jiwon kembali bersuara.

“Sayang sekali hanya ada kaset lagu jazz di sini, padahal dulu Minho selalu menyimpan banyak lagu pop. Itu lagu ke sukaan ku dan aku akan bernyanyi sepanjang jalan, Minho selalu memuji suaraku.” Jiwon masih mengutak-atik kaset dan mencoba mencari kaset yang ia suka.

Jiyeon memutar stir ke kiri, “itu lagu kesukaanku.” Katanya bernada dingin.

Jiwon meliriknya sebentar, “oh ya? Kau tidak keberatankan aku mengacak-acak kaset ini? Minho biasanya tidak akan marah.”

Jiyeon berusaha keras untuk tidak mengumpat, tapi wanita ini benar-benar menyebalkan dan terus saja memancingnya untuk mengumpat. Tidak ada yang lebih buruk selain terjebak dengan mantan dari pacarnya sendiri, dan itu tidak akan baik untuk jantung juga tekanan darahnya.

Sial, mantan adalah penyakit paling mematikan.

“Kita sampai.” Jiyeon membuang napas lega, akhirnya ia akan terbebas dari wanita menyebalkan ini. Setidaknya terbebas untuk satu mobil, mereka akan lebih terlibat dalam percakapan yang lebih menyebalkan.

“Restoran Prancis? Kau memiliki selera yang bagus.”

Jiyeon memutar matanya, lagi. Entah terhitung berapa kali Jiyeon memutar matanya dalam jangka waktu singkat untuk hari ini. Yang jelas wanita itulah alasan kenapa Jiyeon sering memutar matanya.

“Reservasi untuk dua orang, atas nama Park Jiyeon.” Kata Jiyeon pada pelayan yang menjaga pintu masuk. Pelayan itu mengangguk singkat dan mengantar Jiyeon dan Jiwon ke dua kursi yang terletak di pojok ruangan.

“Terimakasih.” Pelayan itu kembali mengangguk dan datang pelayan lagi yang membawa buku menu.

Jiyeon menatap Jiwon, “kau mau memesan apa?”

“Samakan saja dengan mu.”

Jiyeon menatap pelayan yang berdiri di sampingnya sambil menyerahkan buku menu, “dua lasagna dan dua teh Inggris.” Pelayan itu mengangguk sambil mencatat di note kecil.

Jiyeon kembali menatap Jiwon, “jadi nama mu Kim Jiwon?” Tanya Jiyeon pelan. Jiwon mengangguk, “ya. Dan nama mu Park Jiyeon?”

Jiyeon ikut mengangguk. Jiwon tertawa aneh setelahnya. “Jiyeon dan Jiwon. Wow, nama kita hampir sama dan kau sedikit mirip dengan ku. Apa Minho benar-benar tidak bisa melupakanku sampai mencari wanita yang mirip seperti ini?” Jiwon semakin menyebalkan dan Jiyeon sudah benar-benar tidak tahan.

“Well, kau dan aku tidak mirip. Wajah mu lebih sedikit berisi dan ya, kita tidak mirip. Perlu di tekankan juga aku masih gadis, bukan wanita.” Kata Jiyeon tajam.

Jiwon pura-pura terkejut, “wow. Jadi kau masih gadis? Bagaimana bisa Minho tidak menyentuh gadis cantik sepertimu? Dulu aku dan Minho sering berhubungan intim.”

Rahang Jiyeon mengeras, “karena aku menolaknya. Dan Nona, tidak usah mencoba mengkomporiku. Aku tahu Minho tidak pernah menyentuhmu dan kau hanya wanita murahan yang pergi meninggalkannya dengan seorang pria brengsek.” Tatapan Jiyeon tajam dan menusuk, eyeliner pada matanya semakin mempertegas tatapan tajam gadis itu. Tatapan tajam penuh sinisme.

Ekspresi Jiwon berubah kaku, “darimana kau tahu Minho tidak membohongimu?” Jiwon bersikap defensif, ia mulai serius dan tidak bertele-tele.

“Karena aku percaya Minho.”

Kali ini Jiwon yang memutar matanya, “ya baiklah kau benar. Kami memang tidak pernah melakukan seks. Bahkan hubungan terparah kami hanya sebatas ciuman.”

Jiyeon benar-benar terkejut kali ini, tidak bisa percaya jika Minho tipikal pria yang tidak berbuat macam-macam. Tapi kenapa? Kenapa Minho yang sekarang sangat berbeda? Minho bahkan melakukan lebih dari sebuah ciuman padanya, mereka bahkan nyaris melakukan seks. Jiyeon ingin bertanya tapi pelayan sudah datang membawakan pesanan mereka.

“Sambil makan saja.” Ujar Jiyeon.

“Ah ya, aku mulai bertanya kapan kau memesan tempat ini sedangkan kita baru bertemu tadi.”

Jiyeon melirik Jiwon di sela-sela makannya, “restoran ini milik kenalan Ibu ku, aku memesannya lewat pesan singkat tadi.”

Jiwon mengangguk paham. “Sudah berapa lama kau pacaran dengan Minho?” Tanyanya kemudian sambil menyuap lasagna.

“Hampir satu tahun.”

“Wow. Aku sangat terkejut Minho secepat itu melupakanku. Satu tahun aku meninggalkannya dan hampir satu tahun ia memiliki pacar.”

Jiyeon menghentikan makannya saat handphonenya berbunyi, ia membuka tas dan melihat nama Minho di sana. Jiyeon menggeser tombol merah dan mematikan handphonenya.

“Dari Minho?”

Jiyeon mengangguk malas.

“Dia memang selalu posesif dari dulu.”

Jiyeon bernapas berat, ia meletakkan dengan kasar sendok dan garpu di atas meja dan menatap tajam Jiwon. “Berhenti membahas masa lalu. Oh, sial aku benar-benar marah sekarang. Aku mengajakmu bicara bukan untuk membahas masa lalu, oke mungkin sedikit mengenai masa lalu. Tapi ada pertanyaan yang lebih menarik. Kenapa kau kembali?”

Jiwon ikut meletakkan sendok dan garpu. Ikut menatap Jiyeon. “Kenapa aku kembali? Cukup jelas jika aku kembali kerena Minho. Aku ingin kembali padanya.” Jiyeon semakin di pancing emosi, “kau jelas tahu Minho tidak lagi sendiri dan kau harusnya menerima konsekuensi dari kesalahan mu di masa lalu.”

“Aku pergi karena aku muak dengan segala macam teror yang Ibu nya berikan padaku,” suara Jiwon mulai meninggi. “Dia selalu saja menyuruhku pergi menjauhi anaknya. Beberapa kali dia memberikan aku cek dengan jumlah uang yang banyak, tapi aku terus menolaknya karena aku sangat mencintai Minho. Tapi Nyonya Choi sangat keras kepala. Akhirnya aku menyerah dan pergi.”

“Dan kenapa Nyonya Choi menyuruh mu pergi?”

“Karena aku sebatang kara, dan tidak punya apa-apa. Nyonya Choi tidak suka kerena aku tidak sekelas dengan mereka.”

“Dan karena kau penari club? Kau mencari uang dengan menemani lelaki hidung belang minum. Bukan begitu Kim Jiwon?” Jiyeon tersenyum sinis melihat ekspresi terkejut Jiwon. Gadis itu memelototinya marah. “Apa Nyonya Choi yang mengatakannya?” Jiyeon mengangguk kalem sementara Jiwon langsung menggeram marah, “brengsek!”

“Wow, kau akhirnya menunjukkan dirimu yang sesunggunya.” Sindir Jiyeon.

“Aku memang salah karena pekerjaan itu, tapi aku lakukan itu demi mencari uang yang banyak supaya aku di akui. Supaya aku bisa sekelas dengan Minho, tapi aku tahu sekeras apapun aku berusaha aku tidak akan bisa sekelas dengannya. Minho terlalu tinggi dan terhormat.” Jiwon tampak kacau kali ini, tapi Jiyeon sama sekali tidak memiliki rasa simpati. Jiyeon justru menikmati setiap ekspresi yang wanita itu tunjukkan.

“Lalu kenapa kau kembali? Apa kau pikir kau sudah cukup layak bersama Minho?”

Jiwon menatap Jiyeon datar, “aku tahu aku tidak sekaya dirimu. Tapi aku yakin Minho masih sangat mencintaiku, dan aku yakin Minho akan memilihku karena perasaan kami saling terhubung. Kau hanya penggantiku Jiyeon, apa kau sadar kau hanya pengganti?”

“Brengsek! Kalau Minho lebih memilih mu di banding aku, kenapa saat itu Minho menarikku pergi dan meninggalkan mu? Dia mencampakkan mu!” Rahang Jiyeon mengeras dan suaranya mulai tidak terkontrol, untungnya restoran ini masih sangat sepi dan mereka berada di pojok sehingga tidak perlu khawatir dengan pandangan pengunjung lain karena Jiyeon dan Jiwon saling meneriaki satu sama lain.

“Bagaimana masalalu mu dengan Minho?” Tanya Jiyeon setelah sedikit tenang, Jiwon tertawa remeh. “Kau bertanya itu tandanya Minho tidak cerita. Itu cukup membuatku bahagia, dan biar aku tebak kau tidak tahu jika dulu Minho hanyalah pria kutu buku yang lemah?”

Jiyeon menggeleng lemah sementara Jiwon semakim tertawa mengejek.

“Aha,” Jiwon menjentikkan jarinya main-main. “Minho tidak menganggap mu penting. Aku tahu Minho seperti apa, Minho bukan pria yang suka menutupi apapun dari wanita yang di sayanginya khususnya masalalunya sendiri. Aku yakin kau juga tidak tahu kenapa orang tuanya bercerai, kan?” Wajah Jiyeon semakin kacau membuat Jiwon semakin puas. “Minho bahkan menceritakannya tanpa aku meminta. Ia langsung terbuka saat kami mulai berteman. Jadi kau bisa lihat seberapa berharganya aku di banding dirimu? Kau hanya pengganti Jiyeon. Minho terobsesi pada sesuatu yang mirip dengan ku, kau mengerti obsesi dan cinta sangat berbeda.”

“Disini kau rupanya.”

Jiyeon dan Jiwon sama-sama terkejut saat ada suara lain yang masuk dalam pembicaraan mereka, suara berat yang dalam. Minho disini, berdiri di sampingnya dengan rahang mengeras.

“Hai Minho.” Sapa Jiwon, Minho hanya menatapnya sekilas. Tapi tatapan itu sarat akan kemarahan yang membuat Jiwon bergidik. Jiwon tahu tatapan ini, ini tatapan Minho saat pria itu memang benar-benar marah, itu tatapan yang sama saat Minho tahu Jiwon pergi dengan laki-laki lain. Tapi tidak, tatapan ini lebih banyak mengandung ke marahan dan itu jelas terlihat bahwa Minho tidak suka Jiwon mengganggu gadisnya.

Jiyeon mencoba lepas dari Minho, kali ini cengkraman Minho lebih kuat dari cengkraman-cengkraman sebelumnya. Jiyeon hanya diam, ia memalingkan matanya berusaha lari dari tatapan Minho.

“Dengar, aku tidak ingin melihat kau ada di kota ini lagi. Bahkan negara ini. Pergi dan jangan pernah mengganggu gadisku.” Ancam Minho. Pria itu langsung menarik Jiyeon keluar tanpa mau mendengar jawaban Jiwon mengenai ancamannya.

Jiyeon terus merengek minta lepas, gadis itu bahkan menangis hingga di parkiran restoran Minho melepaskannya, ia mencengkram bahu Jiyeon. “Aku sudah bilang untuk tidak kemanapun.” Marah Minho.

Jiyeon menatapnya dengan wajah penuh air mata, “kau tidak pernah mau bercerita tentang Jiwon –”

“Jangan menyebut namanya!” Teriak Minho. Jiyeon sedikit bergetar karena teriakan Minho terlalu kencang di dengar untuk jarak sedekat ini.

“Kenapa? Memangnya salah jika aku mencari tahu sendiri lewat Jiwon?” Tantang Jiyeon justru membuat Minho semakin marah. “Aku bilang jangan menyebut namanya, Park Jiyeon!” Geram Minho sambil mengencangkan cengkraman tangannya pada bahu Jiyeon membuat gadis itu meringis kesakitan.

“Jiwon. Jiwon. Jiwon. Kim Jiw–.”  Kata Jiyeon berulang yang langsung terputus karena Minho menciumnya kasar, penuh emosi di sertai gigitan pada bibirnya hingga terdapat luka lecet di sudut bibirnya. Napas Jiyeon terengah, tapi tidak dengan Minho.

“Brengsek kau!” Amuk Jiyeon. Jiyeon memukuli dada Minho kencang di sertai isakan yang lebih kencang. “Harusnya kau biasa saja saat aku menyebut namanya jika kau sudah tidak mencintainya. Kau masih mencintanya!” Jerit Jiyeon histeris. Minho memeluk Jiyeon, “berapa kali aku bilang jika aku hanya mencintamu Jiyeon. Aku mencintaimu bukan yang lain.” Kata Minho putus asa. Berkali-kali Minho mengusap wajahnya saat Jiyeon semakin histeris.

“Kau hanya tidak mengerti, nama itu seperti luka bagiku.”

“Karena kau masih menyukainya! Aku hanya pengganti Minho dan kau akan membuangku ketika dia kembali. Pergi! Buang aku!” Jiyeon mengamuk di pelukan Minho, jeritannya semakin kencang dan Jiyeon terus memukuli Minho tanpa ampun. Minho mengencangkan pekukannya, menciumi rambut Jiyeon penuh perasaan. “Kita pulang.” Bisiknya lembut.

Tapi Jiyeon tidak mau masuk ke dalam mobil gadis itu menekan erat-erat kakinya pada aspal, “aku tidak mau naik mobil ini!” Marah Jiyeon.

“Sayang…”

“Jangan panggil aku sayang!”

Minho mengacak rambutnya frustasi sementara tangan satunya masih memegang tangan Jiyeon, “sial, Jiyeon jangan membuat ini menjadi sulit.” Kesal Minho. Tapi yang di lakukan Jiyeon selanjutnya membuatnya tercenang, Jiyeon menendang kuat-kuat kaca spion mobil hingga patah dan meninju kaca mobil Minho dengan tangannya yang bebas hingga pecah. Mereka sukses menjadi pusat perhatian, Jiwon yang memperhatikan dari jauh sama terkejutnya dengan orang-orang yang ada di sana.

“Aku benci mobil pilihan Jiwon!” Amuk Jiyeon yang lagi-lagi membuat Minho terkejut dengan perkataannya. Sial, Minho mengutuk Jiwon dalam hati.

Mata Minho menatap tangan Jiyeon yang berdarah, darah itu menetes di atas aspal karena tinjuannya tadi, dan Minho benar-benar tidak perduli dengan mobil mahalnya. “Astaga Jiyeon!” Paniknya sambil mengangkat tangan Jiyeon yang terluka, Minho menyobek ujung kaosnya dan melilitkan pada tangan Jiyeon.

Gadis itu meringis kesakitan. Penampilannya acak-acakan dengan rambut kusut, wajah merah penuh air mata serta mata, hidung dan bibir yang membengkak. Minho menarik kepala Jiyeon hingga menempel dengan dadanya, “jangan melakukan hal bodoh.” Katanya dengan nada khawatir, Minho menciumi kepala Jiyeon berkali-kali lalu menggendongnya, “kita ke rumah sakit.” Bisik Minho.

Jiyeon pasrah, ia sudah sangat lelah dan tidak kuat untuk memberontak. Jiyeon hanya menurut saat Minho menarik tangannya dan meletakkan di leher Minho sementara kedua tangan Minho berada di bawah lutut dan pundaknya. Jiyeon merapatkan kepalanya di dada Minho, Ia terlalu malu melihat orang-orang yang berkumpul memperhatikannya.

“Kita naik taksi.” Bisik Minho lembut.

Tbc.

Advertisements

Author:

If you Jiyeon fans, you must stay here. but, if you hate my fav idol..you must go on without drama. thx

62 thoughts on “9. OBSESSION : Kim Jiwon

  1. Kim jiwon sukses deh buat jiyeon ngamuk sama minho, minho nya sih masih belum bisa ngelupain jiwon,
    Wooww jiyeon hebat ya bisa mecahin kaca mobil 😅

  2. jiwon sukses ngebuat minho sama jiyeon berantem, kasian jiyeon kayaknya frustasi banget, semoga minho bener2 gak ada rasa lagi sama jiwon

  3. omg….
    aku jg ikut penasaran bgmna kisah minho jiwon dlu….
    smpe minho sprti itu reaksinya….
    dan jiwon,,, qw memang menyebalkan sbg mantan….
    kasihan jiyeon…..
    next 🙂

  4. Minho nya juga gx mau jujur ke jiyi, hal itu memang akan membuka luka lama minho, tapi kalau kejadiannya sekarang kek gini… jiyi benar² marah.
    Jiwon pergi sana

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s