Posted in OBSESSION

8. OBSESSION : Christmas

We meet everytime and we face each other

————————————————————————–

“Bagaimana dengan ini?”

Minho berhenti memilih pernak pernik natal saat Jiyeon memanggilnya dan menunjukkan dua gantungan malaikat bersayap, gadis itu tampak senang dan antusias saat menatap Minho meminta persetujuan membuat pria nya lantas menunjukkan segaris kurva di sertai anggukan. Ini luar biasa, pemandangan yang Minho lihat sulit ia gambarkan dengan kata-kata dan ini sangat nyata.

Ada seorang gadis cantik disampingnya dengan senyum indah serta penampilan wanita berkelas, dan Minho bangga mengatakan bahwa gadis itu adalah miliknya. Ini pertama kalinya Minho berbelanja pernak pernik natal bersama orang yang ia sayang. Dulu sekali, Minho pernah merencanakan banyak hal untuk merayakan natal bersama mantannya, tapi wanita itu sudah pergi menghianatinya sebelum impian itu terwujud dan kini impian itu benar-benar terwujud bersama gadis lain, gadis yang lebih baik dan terhormat, gadis yang sudah mencuri separuh dunianya.

Dia adalah Park Jiyeon, gadisnya yang kini sedang memasukkan banyak barang keperluan natal serta hadiah-hadiah yang akan gadis itu berikan pada anak-anak di sebuah panti anak. Bahkan, gadis itu memiliki hati seorang malaikat. Dan jelas Minho menyadari tatapan para pria yang memandang gadisnya dengan pandangan seperti dirinya. Minho benci saat ada pria lain yang memperhatikan gadisnya, pria itu langsung memeluk pinggang Jiyeon posesif sambil menatap tajam pada pria-pria yang memilikinya seolah berkata ‘jangan tatap gadisku dengan mata kotormu’ sementara Jiyeon tampak tidak perduli dan terus memilih banyak barang tanpa berniat melepaskan tangan Minho di pinggangnya.
“Aku mulai berpikir, apa pohon natal kita tidak terlalu besar? Maksudku, pohon itu akan terbuang sia-sia setelah natal berakhir, jadi kenapa kita tidak beli yang lebih kecil saja?” Tanya Jiyeon sambil terus memasukkan barang-barang yang ia suka kedalam keranjang.

Minho mendengus diatas kepalanya, “ini natal paling mengagumkan, sayang. Tidak ada salahnya merayakan dengan meriah, lagipula apartemen kita cukup besar untuk menampung pohon natal itu.” Kata Minho enteng, Jiyeon memutar matanya sebal. “Sangat besar, apartemen mu sangat besar. Aku bahkan lebih setuju jika apartemen itu di sebut seperti rumah pribadi.” Sahut Jiyeon.

Minho berhenti di depan tempat kotak musik membuat Jiyeon menatapnya sambil bertanya, pria itu hanya tersenyum sekilas lalu mengambil sebuah kotak musik besar berbentuk piano, “mau ini?” Tanyanya kemudian.

Jiyeon menggeleng kaku, “aku lebih suka mendengar kau bermain piano untukku daripada mendengar alat musik ini.”

“Hn, aku sudah menemukan hadiah natal untuk mu.”

“Dasar Tuan Tidak Mau Rugi.” Canda Jiyeon sambil kembali melangkahkan kakinya di iringi tawa Minho.

Tahun pertama.

Tahun pertama mereka merayakan natal dengan penuh suka cita, terhitung sudah sepuluh bulan mereka bersama walau banyak konflik yang terus menjadi kerikil di dalam hubungan mereka. Dan malam ini, mereka berdua duduk berbagi selimut sambil memandangi pohon natal yang berkerlap-kerlip indah juga hujan salju yang menghiasi kota Seoul melalui jendela kaca. Jiyeon menggeliatkan tubuhnya saat Minho menekan tombol pada sofa dan mengubahnya menjadi sofa tidur yang nyaman. Jiyeon menempelkan kepalanya di dada Minho saat pria itu merapatkan tubuh mereka.

“Ini natal pertama kita,” Kata Jiyeon di sela-sela tidur mereka. “Aku sangat bahagia, biasanya aku merayakan natal sendirian terkadang teman-teman ku akan datang ke apartemen dan kami nonton sepanjang hari.”

“Orang tua mu?” Tanya Minho pelan.

“Mereka hanya menelpon dan mengucapkan; selamat natal, sweety.Oh sial, mereka bahkan tidak pantas di sebut orang tua. Ada banyak orang tua di luar sana yang sangat menginginkan seorang anak, orang tua ku justru menyia-nyiakan anak mereka. Kau tahu, seperti orang kaya yang menyia-nyiakan makanan sementara banyak orang miskin kelaparan. Aku bahkan tidak pernah melihat wajah orang tua ku lagi semenjak mereka bercerai, aku yakin mereka juga tidak berniat melihat ku. Maksudku, siapa aku bagi mereka? Aku tidak penting, aku sampah bagi mereka.”

Minho menarik tubuh Jiyeon hingga kepala mereka sejajar, ada emosi di mata Jiyeon yang bisa Minho lihat hingga membuat mata itu berkaca-kaca. Demi Tuhan, hal yang paling tidak ingin Minho lihat adalah melihat Jiyeon sedih, dan malam ini gadis itu sangat rapuh seperti daun kering, Jiyeon menjelma dari seorang gadis karang menjadi gadis daun kering yang rapuh hanya dalam satu genggaman.

“Kau istimewa,” tatapan Minho pada Jiyeon sangat lembut seolah tatapan itu memberikan energi positif yang bisa membuat gadisnya merasa senang. “Kau gadis paling istimewa di dunia ini, sayang. Kau salah jika orang tua mu menganggap kau sampah, karena aku yakin ada alasan kenapa orang tua mu tidak pernah menemuimu.”

“Karena aku tidak penting lagi.”

Minho menggeleng. “Itu karena mereka bekerja keras untuk membiayai mu, selama ini Ibu mu selalu mengirimkan barang-barang branded yang aku yakin banyak remaja yang iri melihat barang-barang mu, Ayah mu juga selalu memberikan uang yang cukup bahkan sangat cukup untuk membiayai mu selama setahun dan Ayah mu memberikan semua uang itu di setiap bulan. Ada banyak cara menunjukkan kasih sayang.”

“Oh, sial. Aku tidak butuh itu semua Minho. Aku hanya butuh mereka ada bersama ku, persetan dengan barang-barang branded ataupun uang yang banyak. Yang aku butuhkan hanya kasih sayang mereka, aku ingin mereka ada di saat aku sedih sambil memelukku dan bilang semuanya akan baik-baik saja ada kami di sini bersama mu, dan aku ingin mereka merawatku di saat aku sakit, membuatkan aku makanan dan menjagaku sepanjang malam. Aku anak yang tidak beruntung.” Keluh Jiyeon. Gadis itu bangun dari tidur nya dan mengusap wajahnya yang tampak kacau. Seharusnya, mereka bersenang-senang malam ini untuk menyambut natal tapi Jiyeon menghancurkan itu semua karena emosinya yang tidak terkontrol. Tapi ini manusiawi, semua perasaannya tumpah malam ini dan ia benar-benar tidak bisa menahannya.

Rasa rindu pada kehangatan keluarga membuat Jiyeon lemah dan tidak terkendali, bahkan di saat tangan Minho merayap ke pinggangnya dan menarik tubuhnya kedalam pelukan pria itu, Jiyeon hanya bisa menangis pedih tanpa niat berhenti.

“Ada aku di sini, aku akan memperlakukan mu seperti yang kau mau. Aku akan memeluk mu di saat kau sedih dan akan merawat mu saat kau sakit. Kau tidak sendiri lagi, ada aku.. ada aku, sayang.” Ungkap Minho sambil mengusap lembut punggung Jiyeon dan mencium kupu-kupu rambut gadisnya.

Jiyeon mendongak menatap Minho dengan mata bengkak serta hidung merah, “aku merusak malam kita.” Rengeknya. Minho memijit leher Jiyeon dengan sebuah senyum, “tidak sama sekali. Kau merasa baik?” Tanya Minho.

Jiyeon mengangguk, ia memejamkan mata setelahnya membiarkan Minho menghapus jejak-jejak air mata sambil kemudian menciumi kedua mata Jiyeon yang bengkak secara bergantian.

“Mau menonton film? Aku punya semua seri Home Alone, aku rasa itu film favoritmu saat natal.” Kata Minho lembut membuat Jiyeon tersenyum sambil mengangguk antusias. Dia adalah Jiyeon, ya karena dia adalah Jiyeon yang bisa dengan cepat berubah perasaannya. Dan karena dia adalah Jiyeon yang Minho cintai.

Film Home Alone seri pertama yang baru saja di putar tidak membuat Minho berpaling dari gadisnya. Hanya Jiyeon yang antusias menonton sementara Minho antusias memandangi gadisnya yang kadang-kadang tertawa. Mereka mengubah sofa tidur menjadi sofa duduk dan bersender di sandaran sofa dengan nyaman. Minho kemudian mengubah duduknya, ia menaruh kepala Jiyeon di atas pundaknya sementara tangannya memeluk bahu Jiyeon. “Jiyeon..” panggil Minho di sela-sela rasa antusias Jiyeon saat melihat Kevin mulai meletakkan berbagai perangkap untuk penjahat. Jiyeon berdehem singkat merespon panggilan Minho.

“Bagaimana jika kita merayakan natal di rumah ku? Eomma pasti sangat senang karena gadis kesayangannya datang.”

“Kau bercanda?” Mata Jiyeon berbinar gembira, “itu luar biasa Minho. Oh Tuhan ini akan jadi natal yang paling indah.” Katanya antusias. Minho hanya bisa tertawa melihat Jiyeon yang kembali bertingkah kekanakan sambil memeluknya antusias. Ada kekehan bernada renyah saat Minho mencubit gemas hidung Jiyeon mengabaikan Home Alone yang masih berputar.

Malam ini, Minho benar-benar mendapat keajaiban natal yang sesungguhnya melalui senyum Jiyeon dan mendengar bagaimana gadis itu tertawa riang membuat nya yakin bahwa tidak ada hadiah yang lebih indah dari ini semua. Besok adalah hari natal, mereka sudah melakukan segala sesuatunya bersama-sama mulai dari membeli pohon natal serta pernak-perniknya, membeli banyak hadiah untuk anak-anak di panti anak
oh, bahkan Minho ikut merasa bahagia saat anak-anak di sana berlari menghampiri mereka dan mengatakan mereka adalah Sinterklas yang membawa banyak hadiah.

Disana Minho juga merasa hatinya tentram dan beban kehidupan yang pelik seolah pergi bersama tawa para anak-anak di sana, dan favoritnya adalah saat melihat Jiyeon tengah mengendong seorang bayi perempuan dengan mata besar dan tangan yang mungil berusaha menggapai wajah Jiyeon. Saat itu Minho memeluk Jiyeon dari belakang sambil melihat bayi itu yang juga tengah menatapnya sambil tertawa lucu. Itu adalah impiannya di masa depan.

Minho melirik gadisnya saat tidak ada pergerakan setelah lelah bercanda, dan ya gadisnya tertidur dengan sedikit membungkuk dan mulut terbuka, wajahnya tampak polos dan lembut. Minho mencium bibir Jiyeon sebentar lalu menekan tombol sofa untuk kembali menjadi sofa tidur, pria itu kemudian menarik selimut tebal dan menyelimuti tubuh mereka berdua. Sekali lagi, ini benar-benar natal paling menakjubkan hingga menciptakan garis senyum di bibir Jiyeon dan Minho ketika mereka mulai sama-sama terlelap lelah membiarkan layar televisi yang masih menyala.

                            OBSESSION

“Saljunya mulai tebal.” Jiyeon menatap keluar kaca mobil sementara Minho berusaha keras berkonsentrasi memperhatikan jalan yang tertutupi salju.

Setelah menyalakan penghangat di mobil, Jiyeon kembali melihat ke kaca membiarkan Minho terus berkonsentrasi hingga matanya melihat sekumpulan gadis yang baru keluar dari toko hadiah, mereka tampak bercanda sambil sesekali mengeratkan mantel yang mereka pakai.

Jiyeon tersenyum sendu dan itu tertangkap jelas oleh Minho yang sedang melirik Jiyeon.

“Kau masih bertengkar dengan mereka?” Minho ikut melirik sekumpulan gadis yang Jiyeon lihat.

Jiyeon tersenyum paksa, “hanya Amber sebenarnya. Tapi aku tidak bisa bersama mereka saat ada Amber di sana. Aku rasa mereka bersenang-senang tanpa aku.” Katanya sedih.

Minho kembali melirik gadisnya melalui ekor mata, terlihat jelas di sana bahwa Jiyeon mulai kacau.

“Ini sudah dua bulan kan sejak kalian bertengkar?”

Jiyeon mengangguk tanpa berpaling dari kaca, gadis itu membuat tulisan BBF di kaca yang penuh uap sambil memberikan gambar love kemudian menghapusnya. Kemudian ia membuat garis horizontal dan kembali menghapusnya, ia kembali membuat uap dengan mulutnya lalu mulai menggambar petir dan Jiyeon kembali menghapusnya.

Minho hanya bisa mendengus di samping. Jalanan menuju Gwangju sangat sepi dan tertutup salju, walaupun ini masih terhitung siang hari tapi lampu jalan sudah menghiasi pinggir jalan. Pria bermata oniks tersebut lantas menyalakan radio dan menyari saluran yang memutar lagu jazz.

Minho menarik Jiyeon, menyuruh gadis itu menyender di bahunya sementara tangan kanannya merangkul bahu Jiyeon dan tangan kirinya memegang stir.

“Ini bahaya Minho.” Keluh Jiyeon berusaha lepas, tapi Minho justru mengencangkan pelukannya dan memelankan kecepatan mobil.

“Diam saja, tutup matamu dan nikmati lagu ini.”

Jiyeon mencoba menurut, ia memeluk perut Minho sambil memejamkan mata dan bersender di bahu pria itu. Ada ketenangan di sana, jazz selalu bisa membuatnya tenang. Ini mengingatkan Jiyeon saat perjalanan pertama mereka ke Gwangju, saat itu mereka belum saling terbuka dan masih saling mencoba membuka. Di dua kalinya perjalanan ke Gwangju mereka sudah saling terbuka dan memiliki keterikatan yang membuat perjalanan kali ini lebih menarik daripada perjalanan sebelumnya. Dan salju adalah bonus, pelukan Minho adalah bonus dan perlakuan lembut Minho adalah bonus tertinggi.

.

.

.

.

.

.

.

“Oh, sayang akhirnya kalian sampai.” Nyonya Choi memeluk Jiyeon sambil memberikan ciuman pada pipi kiri dan kanannya lalu memeluk Minho dan menyuruh mereka masuk.

Di dalam sangat hangat, tapi sepi. Tidak ada orang lain di rumah ini selain Nyonya Choi tapi rumah ini penuh dengan berbagai hiasan natal, di luar juga penuh dengan lampu taman berbagai warna. Nyonya Choi bilang bahwa di hari natal tidak ada yang boleh bekerja, Nyonya Choi menyuruh seluruh pelayannya pulang dengan memberi bonus besar sebagai hadiah natal.

“Aku senang sekali natal tahun ini Minho pulang, karena tahun kemarin Minho lebih memilih mengunci diri di apartemennya.” Nyonya Choi meletakkan dua cangkir coklat panas di atas meja dan duduk di samping Jiyeon.

Jiyeon menatap Nyonya Choi penasaran, “benarkah bi? Kenapa Minho tidak pulang?” Tanyanya membuat raut wajah Minho berubah mengkerut.

Tatapan Nyonya Choi tampak tidak senang, “berapa kali aku bilang? Panggil aku Eomma, sayang. Kau sudah aku anggap seperti anak ku sendiri.” Katanya lembut.

Jiyeon hanya bisa tersenyum haru, “baiklah Eo..mma?” Ejanya tidak yakin. Nyonya Choi langsung memeluknya hangat dan memberikan wink pada Minho yang berada di belakang Jiyeon sambil meminum coklat panas.

“Jadi, Eomma… kenapa natal kemarin Minho mengurung di apartemen?”

“Biasa, anak muda akan seperti itu jika patah hati.” Kata Nyonya Choi lembut. Minho menaruh cangkir di atas meja, kemudian tangannya merayap memeluk pinggang Jiyeon tapi gadis itu mengabaikannya, gadis itu membelakanginya dan tidak ingin menoleh sedikit pun. Jiyeon lebih memilih berhadapan dengan Nyonya Choi walaupun kini Minho semakin merapatkan duduknya.

“Wanita masa lalunya yang mirip dengan ku?” Kata Jiyeon tepat sasaran.

Nyonya Choi menatapnya terkejut, ia kemudian melirik Minho dan melihat rahang pria itu mengeras.

“Oh sayang, itu hanya masa lalu. Maksudku, kau tahu setiap orang punya masa lalu yang buruk dan wanita itu adalah masa lalu Minho yang buruk. Dia bukan gadis yang baik jadi kau tidak perlu khawatir. Itu hanya masa lalu, oke?”

Jiyeon tertawa canggung membuat Nyonya Choi merasa bersalah.

“Ah, aku lupa sedang memanggang kalkun. Kalian tunggu sebentar ya.” Katanya buru-buru. Nyonya Choi melihat dengan jelas tatapan Minho pada Jiyeon dan sikap Jiyeon yang berusaha tidak perduli. Mereka hanya butuh ruang untuk berbicara berdua.

Saat Nyonya Choi sudah menghilang dari ruang tengah, Minho langsung memeluk Jiyeon dari belakang meyakinkan gadis itu bahwa semuanya baik-baik saja.

“Dia hanya masa lalu ku.” Kata Minho bernada sumbang.

Jiyeon masih mengabaikannya dan itu membuatnya tidak senang. Minho menarik paksa tubuh Jiyeon untuk berpaling, “Jiyeon.. kita sudah berkali-kali membahas ini.” Katanya lagi.

“Tapi aku tidak pernah tahu bahwa wanita itu bisa membuat mu se kacau itu hingga mengurung diri di apartemen.” Jiyeon memulai argumen dengan suara pelan namun sarat akan kemarahan. Gadis itu tampak marah dan tidak senang.

“Aku juga akan se kacau itu jika kau pergi meninggalkan ku.”

“Kau menyamakan aku lagi!” Kesal Jiyeon. Ia memincingkan matanya tajam penuh sinisme, “kau bahkan tidak pernah terbuka padaku. Kau tidak pernah menceritakan masa lalu mu, kau masih menganggap aku orang asing.”

“Jiyeon, aku mohon tidak sekarang. Tidak di sini dan tidak di malam natal.”

Jiyeon membuang mukanya sambil membuang napas kasar dan kembali melirik Minho melalui ekor mata. “Oke.” Katanya pelan. Minho tersenyum tulus, ia memeluk Jiyeon sambil mencium kepala gadisnya walau pada kenyataannya gadis itu tidak membalas pelukkannya, Jiyeon hanya diam membiarkan kekacauan pada hatinya kembali terpendam dan pada saat itu kata-kata Amber kembali membuatnya bimbang.


“Tidak ada yang tahu seperti apa hubungan mereka dulu, memori apa yang mereka buat dan hal-hal menakjubkan apa saja yang mereka lakukan bersama.”

Jiyeon memejamkan matanya berusaha menghilangkan suara Amber yang mengacaukan pikirannya.


“Apa kau pernah berpikir jika suatu saat wanita itu akan kembali dan membuat Minho dilema? Ibaratkan kau bengkel mobil dan Minho adalah mobilnya. Di saat mobil itu rusak, Minho akan ke bengkel untuk memperbaiki kerusakannya dan akan kembali ke garasi ketika kondisinya baik. Dan wanita itu adalah garasinya.”


Setidaknya Minho pernah singgah padanya, –pada hatinya.

“Sayang, saatnya makan!” Teriak Nyonya Choi dari meja makan.

….

Natal, salju, hadiah, Sinterklas, musik klasik, kehangatankeluarga adalah segalanya.

Nyonya Choi duduk di sofa nya sambil menyilangkan kaki dan menyeruput secangkir teh hangat, matanya terus mengawasi pergerakan dua orang yang sedang berdansa di depan penghangat ruangan di iringi lagu Broken Tango. Sekilas mereka terlihat seperti pasangan kekasih yang harmonis, terlihat bagaimana cara Minho memeluk pinggang Jiyeon dengan lembut serta tatapan penuh kasih sayang, dan Jiyeon yang mengalungkan kedua tangannya di leher Minho sambil kaki nya terus bergerak maju mundur mengikuti irama musik.

Mereka pasangan yang serasi.

“Katakan sesuatu.” Minho berbisik di tengah dansanya sambil terus menatap Jiyeon yang juga sedang menatapnya.

“Apa?”

“Apa saja.”

Jiyeon terdiam sebentar membuat jeda di antara percakapan mereka.

“Bagaimana dengan wanita masa lalu mu?”

“Tidak yang itu.”

Ada senyum paksa di wajah Jiyeon saat Minho langsung menolak pertanyaannya. Gadis itu menghentikan kakinya dan mendorong pelan tubuh Minho. Nyonya Choi menaruh cangkir teh nya, “ada apa sayang?” Tanyanya lembut. Jiyeon memberikan senyum kecil sambil mengambil mantel nya yang tergantung di atas sofa. “Tidak apa-apa. Aku hanya ingin melihat salju di luar.” Katanya enteng.

Minho menyusulnya keluar dan mengatakan pada Nyonya Choi mereka hanya ingin berjalan-jalan. Jiyeon berjalan begitu cepat di saat salju turun. Tapi Gwangju sangat indah di malam natal, banyak lampu di pinggir jalan yang berwarna warni juga hiasan pada setiap pohon. Jiyeon semakin mempercepat jalannya hingga keluar dari halaman rumah dan berada di pinggir pertokoan saat Minho meneriaki namanya.

“Park Jiyeon!” Panggil Minho kencan. Ia berhasil menangkap pergelangan gadisnya berdiri di depan Jiyeon. Mata mereka saling bertatap tajam, ada dua emosi di sana. Marah dan khawatir.

“Oke Minho oke, aku tidak akan menanyakan apapun. Tidak akan lagi, jadi menyingkirlah.” Marah Jiyeon mencoba melepaskan tangan Minho yang sangat kencang memegang tangannya.

“Aku sudah menceritakannya.. di rumah sakit.”

Jiyeon tertawa sinis, “itu tidak spesifik Minho. Kau hanya bilang wanita itu pergi dengan lelaki brengsek dan kau selalu menolak menceritakan yang sebenarnya.” Jiyeon kembali mencoba melepaskan tangannya sementar Minho semakin kencang memegang tangannya.

“Tenangkan dirimu.”

Jiyeon kembali tertawa, lebih sinis dan berlinang. Ia mencoba memukul tangan Minho dan menendang kakinya. Tapi pria itu terlalu kuat, ia bahkan hanya diam saja saat Jiyeon meninju wajahnya hingga memar, Minho masih menatapnya tanpa kata.

“Sial! Biarkan aku pergi, aku tidak mau berdebat di pinggir jalan dan di malam natal. Biarkan aku pergi dan menenangkan diri, brengsek!” Jiyeon semakin frustasi karena mulai menjadi tontonan orang-orang yang lewat. Dalam hati ia mengumpat, mengumpat semua orang yang menatap iba dan kasihan tanpa niat membantu. Mereka semua pengecut jalanan yang hanya bisa melihat tanpa membantu. Mereka tidak membantunya, demi Tuhan mereka tidak membantu seorang gadis yang mencoba lepas dari pria brengsek seperti Minho. Oh ya, karena wajah tampan itu. Karena wajah tampan Minho yang mampu memanipulasi segalanya hingga menganggapa pria itu adalah pria baik-baik dan berpikir mereka hanyalah sepasang kekasih yang sedang bertengar di pinggir jalan.

Memangnya apa? Mereka memang sepasang kekasih yang bertengkar di pinggir jalan, kan? Sial.

“Minho? kau kah itu? Choi Minho?”

Hingga ada seorang wanita yang tiba-tiba saja datang di tengah perdebatan mereka. Seorang wanita cantik, berambut lurus panjang dengan poni lurus yang menutupi dahinya. Pipinya merah menahan dingin, dan gadis itu memakai pakaian mahal serta kaki yang jenjang. Matanya berbinar menatap Minho, dan wanita itu berjalan cepat ke arah mereka. Minho terdiam di tempatnya, rahangnya mengeras dan itu terlihat dengan jelas oleh Jiyeon.

Tidak salah lagi, mereka saling kenal.

“Akhirnya aku menemukanmu,” kata gadis itu riang, ia kemudian menatap tangan Minho yang sedang memegang lengan Jiyeon.Wanita itu menatap Jiyeon, datar. “Siapa wanita ini?” Tanyanya pada Minho. Minho melirik Jiyeon, melihat gadis itu masih berusaha melepaskan tangannya sambil menahan tangis. Dan, di situ kesadaran Minho kembali muncul.

Minho menatap wanita yang tadi menyapanya, tatapannya tajam dan rahangnya mengeras. “Dia pacarku. Minggir kau.” Kata Minho tajam, ia menyeret Jiyeon pergi dari pusat keramaian sambil menyenggol kasar bahu wanita tersebut hingga jatuh terduduk di trotoar, wanita itu tertawa paksa setelahnya. Ia masih duduk, tidak berniat bangun dan mengabaikan bantuan seorang remaja yang ingin membantunya berdiri.

Wanita itu terus memperhatikan Minho, melihat dengan jelas gadis yang di tarik Minho masih berusaha melepaskan diri hingga Minho menggendong gadis itu, menggendongnya paksa di atas bahu sambil berjalan cepat.

Gadis itu tersenyum sedih. “Aku kembali Minho.” Katanya pelan.

Tbc.

Advertisements

Author:

If you Jiyeon fans, you must stay here. but, if you hate my fav idol..you must go on without drama. thx

55 thoughts on “8. OBSESSION : Christmas

  1. kasihan jiyeon…
    frustasi bnget mikirin perkataan amber….
    apalagi ada cwe bru…
    apa itu mantan minho ????
    next 🙂

  2. Ckckck udah 2bln jiyi gx gabung ma temen²nya,
    Lama² jiyi kepikiran omongan amber juga kan, jiyi ngira gx yah itu yeoja adalah mantan minho.

  3. Nah loh itu jgn” si jiwon,yaaak knp lu blik sih..awas aj klu ntar dy cari gra”..ksihan uri jiyi unnie,dy gk ngerasain ksih syang ortunya jd wajar klu dy ska bgt diajk ktemu ma nyonya choi..aku hrap minpa teteo disisihnya jiyi unnie

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s