Posted in OBSESSION

7. OBSESSION : Because, I’m Falling In Love

image

Maybe cause of her eyes, maybe cause of her smile,or maybe cause she is ordinary woman. I love to her. –Annonymous

————————————–

Rasanya baru kemarin Minho mengenal Jiyeon, melihat senyum gadis itu mengembang hingga matanya menyipit lucu. Minho ingat, saat ia kacau setelah bernostalgia cukup lama di pinggir rel yang bertumpuk salju. Saat itu banyak rencana untuk mengakhiri hidupnya hingga kaki nya terkena tusukan paku yang menembus sepatu bot nya yang mahal.

Minho tidak pernah menyesali itu, karenanya Minho menemukan Jiyeon. Gadis sederhana yang keras kepala, gadis plin plan yang mengacaukan hidupnya. Tawa gadis itu renyah, matanya besar dan bercahaya. Coklat hazel, mata yang menakjubkan. Jiyeon terkadang suka membuat lelucon lucu untuk menarik perhatiannya, dan akan bertingkah seperti anak kecil saat Minho memarahinya. Semuanya, semuanya Minho ingat tentang Jiyeon. Tentang keseharian gadisnya, jazz adalah musik favoritnya, hitam dan putih adalah warna kesukaannya walau terkadang Jiyeon sangat menyukai warna biru.

Jiyeon pernah bilang jika ia sangat menyukai karakter Dory di Finding Nemo dan Jiyeon ingin menjadi Elsa yang mempunyai kekuatan es dalam animasi Frozen. Terkadang, gadis itu ingin di lahirkan seperti putri Aurora yang selalu bahagia dalam hidupnya, tidur panjang dan mendapatkan ciuman cinta sejati dari Phillip yang tampan.

Semuanya tentang Jiyeon.

“Kau sudah sadar?”

Tempat ini asing dan ada bau obat. Saat Minho sadar yang pertama kali ia lihat adalah wajah Jiyeon yang tampak khawatir dan terdapat selang infus di tangannya, juga tabung oksigen.

“Syukurlah. Dokter bilang kau banyak pikiran hingga stres, dan kau juga kurang istirahat. Kau kelelahan karena menjagaku saat sakit kan? Kau bodoh.”

Minho hanya diam memperhatikan wajah Jiyeon yang mengkerut, gadis itu memarahinya. Dan Minho lega karena itu pertanda Jiyeon perduli. Gadisnya telah kembali.

“Maafkan aku,” Kata Minho serak, tangannya berusaha keras menggapai pipi Jiyeon. “Aku minta maaf.” Ulangnya lagi.

Jiyeon menyentuh tangan Minho yang menempel di pipinya, di tarik dan di genggamnya erat, “oh Tuhan, aku tahu aku gadis paling bodoh.”

“Kau tidak bodoh.”

Jiyeon menggeleng sebal mendengar komentar Minho, “gadis mana yang mau memaafkan pria brengsek yang sudah menyakitinya? Hanya gadis bodoh. Dan aku bodoh karena memaafkan mu, aku juga sudah memikirkan ini..”

Mata Jiyeon menatap Minho tidak yakin, “bagaimana dengan kesempatan kedua? Aku sadar jika kita sama-sama keras kepala kita akan menemukan jalan buntu dan semua akan berakhir secara percuma. Ayo kita sama-sama berjuang, kita mulai dari awal. Aku akan membantumu melepas bayang-bayang wanita masa lalu mu. Oh, sial aku bahkan tidak tahu dia seorang gadis atau wanita.”

Minho tersenyum kaku, “mungkin wanita. Tapi aku bersumpah tidak pernah menyentuhnya.”

“Jadi, darimana kau mendapat asumsi itu jika kau sendiri tidak pernah menyentuhnya?” Mata Jiyeon menyipit sarkastis, satu-satunya kelakuan yang membuat Minho semakin jatuh padanya. Gadisnya benar-benar menggemaskan.

“Dia pergi dengan lelaki brengsek. Aku pikir itu alasan yang masuk akal.”

“Jadi kau bukan lelaki brengsek?”

Minho mengerang tidak terima, “aku pria dewasa yang bertanggung jawab.” Katanya membuat Jiyeon tertawa mengejek. Hanya ada keheningan setelahnya, Jiyeon memilih merebahkan kepalanya di sisi kasur menghadap Minho, mata mereka saling bertemu dan bertatap tanpa arti. Minho mengusap lembut kepala Jiyeon dengan tangan yang satu sementara tangan satunya masih di genggam erat Jiyeon. Pria itu tersenyum tulus, “aku bersumpah aku mencintaimu.” Katanya di sertai senyum pedih.

Jiyeon tahu itu, hanya saja ia masih belum ingin percaya. Tidak ingin terlalu berharap lebih. Ini baru awal dan ada banyak tahap yang belum mereka lewati, walau ada sedikit perasaan tidak yakin tapi Jiyeon berani mencoba. Ini langkah mereka untuk bersama-sama keluar dari kegelapan, beriringan tangan menuju cahaya hidup yang lebih baik. Menjalin hubungan layaknya pasangan yang sesungguhnya.

“Buat aku percaya Minho. Yakinkan aku jika aku membuat keputusan yang benar.”

Ada secercah harapan di sana, lewat mata gadisnya yang bersinar saat mengucapkan itu. Minho yakin, suatu saat nanti akan ada masa di mana semuanya akan baik-baik saja. Tidak ada dia, hanya ada Minho dan Jiyeon yang berubah menjadi kita. Meskipun Minho yakin akan ada saat juga di mana masa lalu itu akan muncul, tapi itu akan menjadi tugasnya, membereskan masa lalu yang ia buat sendiri kekacauannya. Minho ingin bahagia, membuat dunianya sendiri dengan orang yang paling ia sayangi.

Dan Minho tidak sendiri, ada Jiyeon yang dengan suka rela menariknya dari lubang keputusasaan, mengajaknya untuk hidup lebih baik dan memberikan ruang untuk mengisi hatinya. Padahal, Minho sendiri sangat tahu seberapa sulit seorang Park Jiyeon untuk jatuh cinta, tidak mau mengalah untuk hal-hal yang merugikan.

Semua baik-baik saja.

Semua baik-baik saja.

Entah berapa kali kalimat itu terus terucap sebagai penguat, sebagai pegangannya untuk yakin melangkah ke hidup yang lebih baik.

Minho menarik telapak tangan Jiyeon dan mengecupnya berulang, “pasti. Aku akan membuat mu yakin jika aku mencintaimu.” Katanya tulus membuat senyum mengembang di wajah Jiyeon. Gadis itu semakin terlihat menawan dengan cahayanya sendiri, raut bahagia dan mata bersinar membuat Minho ingin selalu menjaga ekspresi itu. Tidak akan ada lagi rasa sakit, Minho menekankan itu dalam hati.

“Jadi, mau aku potongkan apel?” Tanya Jiyeon.

Minho menoleh sedikit ke samping dan melihat banyak makanan di atas meja, ada parsel buah dan bungkusan roti serta sekotak susu segar. Pria itu kembali menatap gadisnya dengan ekspresi bertanya.

“Kau pingsan selama tiga hari, teman-teman ku yang membawakannya. Mereka bilang kau harus cepat sehat agar mereka bisa memukul mu sesuka hati.” Kata Jiyeon di sertai tawa. Gadis itu beralih mengambil satu potong apel dan pisau, mengupas kulitnya dengan teliti dan membiarkan Minho terus menatapnya lembut.

Jiyeon mendongak, “jangan menatapku seperti itu, kau bisa jatuh cinta nanti.” Godanya sambil memasukkan sepotong apel berbentuk bulan sabit ke mulut Minho. Pria itu lantas tersenyum samar, “aku memang sudah jatuh cinta.” Katanya kemudian.

Jiyeon tertawa renyah, ia kembali memasukkan sepotong apel ke mulut Minho tanpa berkata apapun membiarkan keheningan terjadi. Tapi tatapan mereka tidak pernah berpaling, mereka terus saling tatap tanpa makna hingga potongan apel habis dan Jiyeon mengusap lembut wajah Minho.

“Kau boleh pulang besok jika kondisi mu membaik.” Kata Jiyeon.

Gadis itu masih mengusap wajah Minho, sementara tangan Minho menyentuh tangannya membuat usapan itu berhenti. Matanya menatap bibir Jiyeon yang terpoles lip gloss merah muda, lip gloss favoritnya yang memiliki rasa strawberry.

“Kemarilah.” Kata Minho lembut.

Jiyeon bangun dari kursinya, ia duduk di tepi ranjang Minho dan pria itu langsung melingkarkan tangannya yang masih di infus ke pinggang Jiyeon sementara tangan satunya menarik wajah Jiyeon mendekat. Mata Jiyeon terpejam, menunggu dengan sabar apa yang akan prianya lakukan hingga bibirnya merasakan tekanan dari sesuatu yang kenyal, Minho menciumnya dalam… dan penuh perasaan. Ini ciuman yang tidak pernah ia rasakan, ciuman ini berbeda dari ciuman-ciuman sebelumnya yang selalu menuntut dan penuh emosi. Ciuman kali ini lembut dan tulus, bahkan ini ciuman paling menakjubkan yang pernah Jiyeon rasakan.

Kedua tangan Jiyeon beralih memeluk kepala Minho saat tangan kanan Minho menekan tengkuknya lebih dalam. Mereka masih terus saling menyalurkan perasaan, atas dan bawah, hisap dan jilat. Hingga kepala Jiyeon jatuh di lipatan leher Minho dengan napas berat dan berulang, dan kedua tangan Minho memeluk punggung gadisnya erat sambil menciumi rambut Jiyeon yang menutupi sebagian wajahnya. Pria itu kemudian memberikan ruang pada tempat tidur, menyuruh gadisnya untuk mengisi ruang itu.

Mereka saling berpelukan di balik sinar berwarna jingga, saling bercerita tentang kisah masa kecil dan hal paling memalukan yang pernah mereka alami. Sesekali ada tawa hangat yang keluar dari mulut sang gadis dan nada mengejek dari prianya. Mereka saling berbagi dekapan hangat saat langit mulai berwarna kelam di balik selimut tebal rumah sakit sesaat setelah perawat dan dokter memeriksa keadaan sang pria.

                          OBSESSION

“Aku tidak pernah merindukan rumah seperti ini.” Bisik Minho sambil terus menciumi Jiyeon seperti orang mabuk, “apartemen, maksudmu?” Tanya Jiyeon melarat membuat Minho mengerang tidak suka saat Jiyeon melepaskan ciumannya.

“Oh sayang, jangan buat semua ini menjadi rumit.” Sebal Minho membuat Jiyeon tertawa ringan. Pria itu kembali menarik tengkuk Jiyeon menciumi seluruh permukaan bibirnya tanpa terkecuali. Mereka terus berciuman sejak sampai apartemen hingga masuk ke dalam kamar membiarkan barang-barang Minho berserakan di ruang tengah.

Tubuh Jiyeon terbanting ke atas kasur dan Minho langsung merangkak keatasnya, menciumi leher jenjang gadisnya dan menjilati kulit belakang telinga membiarkan Jiyeon meremas kaos nya hingga kusut. Minho kembali beralih ke bibir Jiyeon yang merah ulah dari ciumannya, satu tangannya membuka kancing kemeja Jiyeon hingga sebatas dada, memperlihatkan bra berwarna hitam menggoda. Minho meremasnya nakal hingga membuat Jiyeon mengeluarkan suara aneh dan membuatnya ereksi. Minho duduk di paha Jiyeon, membuka kaos nya buru-buru sambil memperhatikan wajah sayu gadisnya dan menatap lapar belahan dada yang terekspos di depannya.

Tangan nakal Minho membuka seluruh kancing kemeja Jiyeon dan melemparnya asal, membiarkan bra hitam yang tertinggal di tengah-tengah kulit porselin gadisnya.

Minho kembali mencium bibir Jiyeon, tapi kali ini bibirnya lebih menjelajah, menjelajah hingga ke tulang selangka dan memutara area payudaranya, lidahnya bermain di perut rata Jiyeon, kembali lagi ke bibir, menggigit bahu dan kembali ke bibir. Tangannya kembali meremas payudara Jiyeon dan membuka bra hitamnya. Minho terdiam sebentar, melihat indahnya tubuh Jiyeon dan kembali mencium bibir gadisnya. Lebih dalam dan menuntut, hingga saat Minho beralih menghisap payudara Jiyeon, gadis itu tersentak, ia mendorong kuat-kuat tubuh Minho hingga terjatuh ke samping.

Napas mereka sama-sama berat, “maaf.. tidak seharusnya kita seperti ini. Ini salah.”  Kata Jiyeon bernada berat.

Mereka tidur bersampingan dengan napas berat dan bagian atas tubuh tanpa pakaian. Ini memalukan, hampir saja Jiyeon menjilat omongannya sendiri. Salahkan Minho yang terlalu menggoda hingga membuatnya terbuai dan kehilangan akal sehat. Juga salahkan cinta yang membuatnya buta. Sebelumnya Jiyeon tidak akan pernah membiarkan Minho menyentuhnya sejauh ini, tapi kali ini Jiyeon hampir menyerahkan seluruh hidupnya pada Minho.

Katakan ini konyol, tapi Jiyeon tidak akan pernah memaafkan dirinya sendiri jika hal itu sampai terjadi.

Jiyeon merasakan pergerakan pada sisi tempat tidur, ia melihat Minho memungut kaosnya dan memakainya lalu membawa bra dan kemeja Jiyeon. Jiyeon tidak tahu atau tepatnya tidak mengerti bagaimana perasaan pria itu, gadis itu jelas tahu Minho sudah sangat ereksi melihat bendanya mengeras di balik celana. Tapi, Minho tidak menunjukkan tanda-tanda marah, pria itu justru memberikan bra dan kemejanya sambil memberikan ciuman di pipi.

“Aku mengerti sayang, sebaiknya aku ke kamar mandi dan kau siapkan makanan untukku. Aku lapar.” Katanya lembut kemudian menghilang di balik pintu kamar mandi.

.

.

.

.

.

.

“Oh Tuhan, kau bercanda? Aku yakin Minho ejakulasi di kamar mandi. Kau benar-benar payah.” Ejek Sulli.

Jiyeon memutar mata sambil meminum jus jeruk membiarkan Sulli terus mencercanya dengan berbagai bahasa yang ia tidak mengerti tapi paham maksudnya. Gadis itu hanya diam sambil sesekali mendengus sebal, sementara teman-temannya ikut berkomentar membuatnya tambah sebal. Mereka sedang duduk di kantin fakultas walau tidak ada jam kuliah, mereka hanya duduk saling bercerita sembari menemani Jiyeon yang menunggu Minho selesai kuliah.

“Bahkan Ana yang idiot saja melakukan seks dengan Christian setelah pertemuan mereka yang ke sekian.” Komentar Sulli lagi.

Jiyeon kembali memutar mata, “itu karena Ana terlalu polos dan bodoh.” Katanya sebal.

Suzy menunjuk Jiyeon dengan sendok dan mulut penuh nasi, “dan jatuh cinta. Sama sepertimu.”

“Beda. Maksudku, ya aku memang jatuh cinta tapi aku tidak sebodoh Ana.”

“Maksudmu tidak se kolot Ana?” Canda Hyorin mengundang tawa teman-temannya yang lain. Jiyeon kembali mendengus, “sudah aku bilang aku tidak akan menyerahkan perawanku kepada pria yang bukan suamiku.”

“Dan kau pikir Minho tidak akan menjadi suamimu?”

Jiyeon menggeram mendengar ejekan Luna, “oh Tuhan, kenapa kalian sangat menyebalkan hari ini.” Katanya frustasi.

Amber menatapnya dalam diam, ekspresisnya cukup serius di banding teman-temannya yang lain, yang sedang mentertawakan Jiyeon.

“Jadi, apa kau yakin dengan keputusanmu?” Tanya Amber membuat Jiyeon menatapnya tidak mengerti. “Minho. Kau yakin ini keputusan yang tepat?” Katanya memperjelas.

Sejujurnya ini pembahasan yang ingin ia hindari, tapi Amber terlalu perhitungan dalam suatu masalah. Dan Jiyeon yakin tidak bisa menghindar.

“Aku jatuh cinta, dan aku pikir tidak ada yang salah dengan itu.”

“Apa kau pikir semuanya akan baik-baik saja? Bagaimana perasaan mu jika wanita masa lalu Minho datang dan merebutnya darimu, apa kau mau mengatas namakan cinta?”

Suasananya mulai sedikit tegang dan ekspresi di wajah Jiyeon tidak bisa menutupi jika ia merasa khawatir dan cemas dan itu semua tertangkap dengan jelas oleh teman-temannya.

Suzy tertawa canggung, “ayolah Amber, aku rasa cinta Jiyeon dan Minho tidak secetek itu. Mereka saling mencintai dan itu tidak bisa di ganggu gugat.” Katanya di sertai anggukan Luna, “Ya. Aku juga yakin Minho tidak cukup bodoh untuk meninggalkan Jiyeon demi wanita murahan itu. Maksudku, lihat Jiyeon.. siapa yang tidak suka dengannya, Jiyeon cantik dan pintar, Jiyeon calon dokter dan dari keluarga terpandang.” Sambung Luna.

Hyorin ikut menambahi, “aku melihat ada cinta yang kuat di mata Minho, dan aku juga yakin Minho tidak akan melepaskan Jiyeon.”

Amber tertawa mengejek membuat Jiyeon meremas ujung dress nya gugup, “kalian bisa bicara seperti itu karena wanita itu tidak ada disini. Tidak ada yang tahu seperti apa hubungan mereka dulu, memori apa yang mereka buat dan hal-hal menakjubkan apa saja yang mereka lakukan bersama,” Amber terdiam sebentar menatap tajam Jiyeon yang menggigiti bibirnya sendiri. “Cinta bisa membutakan segalanya, termasuk akal sehat. Oke, mungkin sekarang kalian menyimpulkan Minho yang jatuh cinta dengan Jiyeon, Minho yang tidak akan meninggalkan Jiyeon atau Jiyeon yang mencintai Minho dan cinta mereka yang kuat,”

Semua terdiam mendengarkan komentar Amber yang di selimuti emosi, Suzy yang duduk di samping Jiyeon hanya bisa mengusap tangannya penuh perhatian.

“Persetan dengan itu semua. Di sini aku ingin mengantisipasi keadaan. Apa kau pernah berpikir jika suatu saat wanita itu akan kembali dan membuat Minho dilema? Ibaratkan kau bengkel mobil dan Minho adalah mobilnya. Di saat mobil itu rusak, Minho akan ke bengkel untuk memperbaiki kerusakannya dan akan kembali ke garasi ketika kondisinya baik. Dan wanita itu adalah garasinya –”

“Cukup Amber.” Sela Jiyeon, gadis itu menatap tajam Amber. “Kau hanya tidak pernah merasakan jatuh cinta. Kau tidak mengerti rasanya karena kau tidak akan pernah mau mengerti.”

“Cinta itu hanya membuat mu bodoh!” Bentak Amber, Sulli dan Hyorin berusaha keras membuat Amber tenang sementara Luna dan Suzy menjadi penengah. Tapi Jiyeon sudah terlanjur emosi, “aku hanya jatuh cinta. Apa itu salah?” Tanya Jiyeon penuh penekanan.

“Tidak. Tapi penempatan cinta mu yang salah. Tidak seharusnya kau mencintai orang seperti si brengsek Minho, dia tiba-tiba saja datang dan mengkalim kau miliknya, lalu apa? Dia bisa saja tiba-tiba membuangmu semudah ia mengklaim mu. Dimana Jiyeon yang selalu berpikir dengan logika?! Sekali lagi jangan pernah mengatas namakan cinta.”

“Cukup Amber! Seharusnya kau mendukungku bukan menjatuhkanku. Ini pertama kalinya aku jatuh cinta, pertama kalinya aku bisa tersenyum seperti orang gila. Harusnya kau bahagia, seharusnya kau menjadi orang yang berdiri di belakangku untuk memberi semangat bukan mendorongku ke dalam lubang.”

“Aku tidak akan seperti ini jika bukan Minho yang kau cintai. Apa salahnya antisipasi? Sepertinya pribahasa sedia payung sebelum hujan sangat cocok untukmu. Kau harus menyiapkan hatimu sebelum terluka, terselimuti badai yang tebal hingga air mata tumpah membuat mu basah.”

Tangan Jiyeon terangkat menyuruh Amber diam, mata Jiyeon tajam penuh amarah. Ia kecewa dengan pemikiran Amber, kecewa karena memunculkan rasa ragu pada dirinya dan sedikit membuatnya goyah karena apa yang di katakan Amber tepat sasaran menusuk jantungnya hingga ada rasa sakit yang tertinggal.

“Aku jatuh cinta. Ini pertama kalinya,” Jiyeon mengangkat jari telunjuknya kedepan wajah Amber saat gadis itu ingin menyela. “Aku tahu aku bodoh tentang cinta. Aku tidak berpengalaman seperti Sulli atau Hyorin, dan aku tahu kau hanya takut aku terluka seperti Suzy. Tapi aku mohon, untuk kali ini biarkan aku merasakan bahagianya jatuh cinta walau nanti aku akan merasakan sakit karena cinta. Karena ketika kau siap jatuh cinta, kau harus siap untuk sakit karena cinta. Aku tidak pernah lupa jika aku berada di dunia yang kejam dimana ada rasa cinta di situ ada rasa sakit. Tapi aku tidak lupa jika ada hal indah yang menanti di balik suatu kesabaran.”

Jiyeon menatap Amber yakin, “dan aku akan bersabar sampai Minho benar-benar mencintaiku dan melupakan wanita itu. Dan aku rasa ungkapan yang menyatakan pertemenan bisa retak karena seorang pria adalah benar. Selamat tinggal.” Jiyeon mengambil tasnya dengan kasar lalu pergi terburu-buru mengabaikan teriakan teman-temannya yang memanggil namanya, juga mengabaikan tatapan orang-orang di kantin yang terus mengikuti hingga ia menghilang dari kantin.

.

.

.

.

.

Minho terus memperhatikan gadisnya yang hanya diam menatap keluar kaca mobil, gadis itu berubah menjadi pasif sejak ia selesai kuliah dan melihat gadisnya sedang berdiri dalam diam sambil menyender di kap mobil. Jiyeon bahkan hanya memberikan senyum tipis saat Minho mencium bibirnya singkat.

Dan ke anehan itu semakin menjadi saat Minho dengan sengaja memutar musik jazz dan gadisnya tetap diam mengabaikan. Minho mengerem mendadak, menghentikan mobilnya di pinggir jalan yang sepi hingga membuat kepala Jiyeon membentur kencang sandaran mobil. Gadis itu menatapnya sebal tapi tidak berkomentar apapun.

“Kau kenapa?” Tanya Minho langsung. Jiyeon hanya menggeleng tanpa bicara dan berpaling keluar membuat sifat keras Minho keluar. Pria itu menarik bahu Jiyeon, memaksanya untuk berhadapan, “jangan memalingkan wajah mu saat ada aku di depanmu.” Kata Minho bernada keras. Jiyeon menghadap Minho, tapi matanya melirik arah lain hingga kesabaran Minho habis. Minho tidak tahu ada apa dengan gadisnya, tapi sikap yang di tunjukkan Jiyeon benar-benar membuatnya jengkel. Minho mencengkram wajah Jiyeon dengan tangan kanannya hingga bibir gadis itu mengerucut karena tekanan pada kedua pipinya dan memaksanya untuk menatapnya.

“Tidak sopan jika tidak menatap langsung lawan bicaramu. Tatap aku, Park Jiyeon.”

Jiyeon menatap Minho. Dan pertahanannya runtuh saat itu juga, gadis itu bekaca-kaca lalu menangis dalam diam, “apa aku menyakitimu? Oh, Tuhan.. maafkan aku.” Panik Minho sambil memeluk Jiyeon.

Minho pikir Jiyeon menangis karena cengkraman tangan pada pipinya sangat kencang, tapi pada kenyataannya rasa sakit yang Jiyeon rasakan jauh lebih sakit dari sebuah cengkraman.

Jiyeon membalas pelukan Minho erat sambil terisak di dada bidang prianya, sementara Minho terus mengusap rambut gadisnya penuh perhatian.

“Aku mencintaimu.” Bisik Jiyeon di sela isakannya.

Minho yakin ada sesuatu yang mengganggu pikiran gadisnya. Sesuatu yang membuat Jiyeonnya berbicara dengan nada terluka. Dan Minho sadar bukan perlakuannya yang membuat gadis itu menangis melainkan sesuatu yang lain. Minho melepaskan pelukannya, mengusap lembut pipi Jiyeon sambil menghapus jejak-jejak air mata.

“Ada apa?” Tanyanya lembut, Jiyeon masih terisak dan Minho sabar menunggu jawaban.

“Karena aku mencintamu, apa itu salah?”

“Tidak. Tidak ada yang salah karena aku juga mencintaimu.”

Jiyeon memeluk Minho, erat. “Jangan tinggalkan aku, karena kau bilang kau mencintaiku jadi aku mohon jangan tinggalkan aku. Apapun alasannya jangan tinggalkan aku.” Jiyeon merengek seperti anak kecil, anak kecil yang takut kehilangan orang yang ia sayangi. Minho pernah merasakan ini, merasakan rasa takut di tinggalkan dan rasa sakit di tinggalkan. Jiyeon adalah gambaran dirinya di masa lalu, dan apa yang Jiyeon rasakan seolah menular padanya hingga merasakan sesak saat Jiyeon kembali terisak.

Minho memeluk Jiyeon, lebih erat. “Tidak sayang, aku tidak akan pernah meninggalkan mu.” Katanya yakin.

Kemudian Minho hanya bisa melihat wajah Jiyeon dalam pikirannya. Senyuman gadis itu yang hangat, tawanya yang renyah, matanya yang bersinar, Jiyeon yang dewasa namun terkadang kekanakan. Jiyeon yang penuh perhitungan dan keras kepala. Jiyeon yang selalu mengangkat tinggi dagunya sambil mengatakan pada dunia aku adalah Park Jiyeon. Dan ya, karena dia adalah Park Jiyeon. Bukan orang lain, tapi Jiyeon.

Tbc.

A/n: konflik kemarin cuma pemanasan. Spoiler, konflik yang sebenernya bakal lebih sinetron bgt wakakak. Btw, yg masalah mobil, bengkel sama garasi gue dpt inspirasi dr meme di instagram haha. Daannn berhubung udah ga puasa makanya gue bikin yg asem-asem XD

Advertisements

Author:

If you Jiyeon fans, you must stay here. but, if you hate my fav idol..you must go on without drama. thx

52 thoughts on “7. OBSESSION : Because, I’m Falling In Love

  1. Ingat dengan kata²mu itu minho, awas aja kalo sampe ninggalin jiyi demi mantan or wanita lain.
    Yaaah,,, jangan berantem donk, masa cuman gegara cowo jadi gitu sih. Amber ma jiyi sama² keras kepala ihh.

  2. Ya iylh jiyi unnie tkut bgt klu minpa ninggalin dy,awas aj klu brni ninggalin jiyi unnie,dan prshbtn emg bs rusak krena cowok,krna aku prnh ngalaminnya,dan si ember dy hnya tkut si jiyi diskitin,tp kta”nya slah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s