Posted in Vampire Hall

5. Vampire Hall : The Was a Great Story Finished (end)

image

Even if you’re on the right track, you’ll get run over if you just sit there. –Will Rogers

————————————–

“Tampang kalian tidak meyakinkan untuk seorang anak indigo spesial.” GD menatap tajam satu persatu ketiga manusia indigo di depannya. Setelah mencari di berbagai tempat akhirnya Thunder berhasil menemukan Minho, mereka bertemu di dekat pertokoan kota. Tepat di bawah papan reklame yang memajang wajah Jiyeon. Jr menjadi satu-satunya yang berusaha keras menahan air liur, baginya Jiyeon luar biasa. Gambar itu menampilkan gambar full face Jiyeon, wajah nya putih bersih berseri dengan rambut yang di ikat kuncir kuda.

Lalu di samping papan reklame ada juga gambar Jiyeon yang lain. Gambar nya yang sedang berpose mesra bersama Cho Kyuhyun Super Junior, mereka mengenakan pakaian musim panas di mana tubuh indah Jiyeon terlihat sempurna dengan pakaian minim. Rahang Minho mengeras dan matanya nyaris berubah warna, tapi Chayeon berhasil memperingati. Mata Minho kembali hitam sebelum papan reklame tersebut hangus terbakar.

“Aku rasa telinga kalian masih cukup sehat untuk mendengar perkataan kakak ku.” Thunder ikut menggertak membuat ketiga manusia indigo yang di maksud meneguk ludah panik. Menghadapi satu vampir menyebalkan seperti Minho saja sudah hampir membuat mereka ingin loncat dari atas kincir angin. Di tambah dua vampir lain, mereka hanya berharap semua ini hanya mimpi buruk.

Tapi melihat bagaimana cara GD dan Thunder menatap mereka penuh intimidasi, membuat mereka sadar dari apa itu mimpi buruk. Dani buru-buru menggeleng panik, sementara Jr memohon agar Minho mau membantu. Tapi Minho terlalu sibuk memperhatikan wajah Jiyeon.

“Apa itu penting? Aku pikir tujuan kalian ada di sini untuk mencari Jiyeon.” Kata Chayeon bernada sumbang.

GD menatapnya sejenak, “kau benar. Jadi, apa ada yang tahu dimana adikku sekarang?”

“Aku sudah mencarinya di internet. Dari apa yang aku dapat, saat ini Jiyeon tinggal di Galleria Foret. Demi Tuhan, itu apartemen impian ku.”

Chayeon memutar matanya saat menyaksikan ke histerisan Dani.

Thunder menatap GD, tatapannya menyiratkan sesuatu yang aneh. Dan Minho bisa membaca itu semua, “kalian sungguh tidak tahu Jiyeon ada di Galleria Foret sementara saat ini kalian tinggal di apartemen itu?” Tanyanya tepat sasaran.

Dani dan Chayeon refleks menutup mulut tidak percaya, sedangkan Jr berusaha bersikap keren meniru tiga pria di sekitarnya. Demi Tuhan, mereka masih berdiri di pinggir jalan, dan itu membuat para gadis yang lewat selalu menyempatkan diri melirik bahkan ada sebagian yang menjerit histeris melihat Minho, GD serta Thunder.

“Kami tahu. Baru tahu tadi.” Kilah Thunder membuat Minho nyaris ingin membenturkan kepala besar Thunder ke tiang lampu merah.

“Aku seperti di kelilingi aktor-aktor Hollywood.” Bisik Dani pada Jr di sela perdebatan Minho dan Thunder. Jr mengagguk menyetujui tapi matanya tidak melirik sama sekali, ia masih mencoba bersikap kalem walau chayeon berkali-kali mencibir kelakuannya.

“Baiklah apa kita akan terus berdebat di jalan seperti ini atau pergi mencari Jiyeon? Aku rasa kalian tidak lupa jika gerhana cincin tinggal lima hari lagi.” Jengkel Dani, sejak awal hingga entah sudah berapa lama mereka berdiri di pinggir jalan hanya membuang waktu dengan membahas hal yang tidak penting. Ayolah, ia hanya merasa kakinya mulai keram dan kaku. Bagi Thunder, Minho dan GD mungkin itu suatu hal yang biasa tapi bagi Dani itu sangat menyiksa. Dan melihat bagaimana mata Minho menatapnya tajam tidak membuat rasa keram itu hilang.

“Kau benar, kita pergi sekarang.” Kata GD yang langsung membuat hati Dani bersorak gembira serta Chayeon dan Jr yang bersuka cita mendapati kepastian dalam sikap tiga makhluk aneh tersebut.
.

.

.

Uh, harga memang tidak pernah menipu. Ini menakjubkan, apartemen ini sangat mewah dan berkelas.” Puja Chayeon.

Di saat Chayeon, Dani dan Jr bersikap norak memandangi lorong apartemen sambil terus mengambil gambar, GD, Thunder dan Minho justru memasang raut tegang sambil memandang pintu di depan mereka.

“Kalian yakin Jiyeon tinggal di sini?” Ada nada marah saat Minho bertanya, Dani mengagguk yakin, “aku sudah mencari dari berbagai sumber. Apa ada masalah?”

“Tidak ada bau Jiyeon disini,” Thunder melirik GD lewat ekor matanya dan kembali melanjutkan ucapannya, “tapi ada bau vampir lain.”

Minho mendecih sinis melihat ketiga manusia indigo spesial itu mendadak bungkam dan berdiri merapat padanya mencari perlindungan, sementara itu GD menjadi pihak yang aktif di sini. GD menekan tombol yang ada di samping pintu sambil memasang raut waspada.

Di saat pintu terbuka, mata Minho mulai berubah warna menjadi merah.

“Yebin?” Kaget Thunder.

GD memberi isyarat pada Minho untuk tenang seolah tidak apa-apa dan gadis mungil yang baru saja membuka pintu tidak lah bahaya. Jr mendadak gugup, gadis itu sangat manis walaupun wajahnya datar tidak bersahabat.

“Apa yang kau lakukan disini?” Tanya Minho tajam. Yebin hanya meliriknya sekilas lalu membuka pintu lebar, “lebih baik kita bicara di dalam.” Mata Yebin menjadi sangat tajam dan sinis saat menatap Jr, Dani dan Chayeon.

“Mereka bersama kami.” Kata GD dalam.

“Mereka manusia,” Yebin mendengus tajam. “Dan bau darah mereka sangat busuk.”

Mata Jr melebar tidak terima begitu juga dengan Dani dan Chayeon yang langsung mencium badan mereka sendiri.

“Tentu saja, mereka indigo spesial. Dan tolong biarkan kami masuk.” Kesal Minho, sekilas ada raut terkejut di wajah Yebin tapi gadis itu langsung menutupinya dengan baik sambil mempersilahkan mereka semua masuk kedalam.

“Jadi kenapa kau ada disini dan dimana Jiyeon?” GD bertanya to the point sambil duduk angkuh di sofa merah maroon berbentuk melingkar, disamping kanan ada Thunder dan Minho dan di depannya ada Jb, Dani serta Chayeon sementara Yebin berdiri menyender di dinding.

“Aku di sini karena paman menyuruh ku mencari Eonni. Kabar menghilangnya Jiyeon Eonni sudah tersebar di seluruh Park Hall juga Choi Hall. Dan juga para tetua dari seluruh Hall sedang mengadakan perkumpulan untuk membahas masalah kutukan Beatrice,” Yebin terdiam sebentar matanya berubah sayu dan ekspresinya berubah sedih. “Kutukan itu membuat sikap Jiyeon Eonni semakin menyebalkan. Aku tidak sengaja melihatnya, emmm..” mata Yebin terlihat gelisah saat bertatapan dengan Minho. “Berciuman dengan Ahn Jaehyun.”

Krak

Mata Minho merah saat menghancurkan meja di depannya, “apa kau bilang? Ahn Jaehyun? Bajingan itu ada di sini?” Teriak Minho sengit. GD dan Thunder langsung merubah mata mereka menjadi hijau membuat Minho tenang dan rileks, tapi mata Minho tidak juga berubah warna membuat Jr, Dani dan Chayeon panik dan memilih bungkam tidak ingin ikut campur.

“Ya, Coler ada di sini. Ahn Jaehyun adalah Coler dan Beatrice masih sangat mencintai Coler. Beatrice memanfaatkan tubuh Jiyeon Eonni untuk mendapatkan Coler dan sialnya Coler menyukai Jiyeon Eonni. Jaehyun menyukai Jiyeon. Tapi aku bersumpah aku pernah melihat Jiyeon menangis histeris menyuruh Beatrice untuk pergi. Aku bersumpah Eonni tidak menyukai ini semua, aku mohon…” mata Yebin berubah hijau dan sedikit bercahaya, “aku mohon kendalikan diri mu Oppa, Jiyeon Eonni sedang tersesat dan emosi bukan hal yang tepat. Kita harus bicara dengan Jaehyun, Jaehyun harus tahu akibat perbuatannya.”

Minho mendesis tidak terima, tapi Yebin benar emosi bukan yang tepat untuk masalah ini. Lagi pula Jiyeon tidak suka dengan kekerasan, gadis itu memiliki hati yang lembut sebelum Beatrice mengendalikan dirinya dan mendengar bagaimana Jiyeon berusaha keras untuk lepas membuat Minho semakin tidak punya daya.

Minho menghempaskan kasar tubuhnya ke atas sofa saat GD menepuk bahunya.

“Dimana Jiyeon?” Tanya GD.

Yebin melirik lewat ekor mata, “ada pemotretan di Jeju, dua hari lagi akan pulang. Dan aku berencana menemui Jaehyun dan mengatakan semuanya, Jiyeon.. maksudku Beatrice selalu menghalangiku untuk memberitahu Jaehyun jika dia ada disini. Ini kesempatan kita untuk bicara. Lima hari lagi di potong dua hari sebelum Eonni kembali. Waktu kita tidak banyak.”

GD mengangguk mengerti lalu menatap Minho yang hanya diam dengan tatapan kosong, “kau harus ikut.” Katanya mutlak.

Minho menatap GD, “aku tidak yakin bisa mengendalikan diriku saat tahu si brengsek itu mencium gadisku.” Marahnya.

Yebin memutar mata hal yang sama dilakukan juga oleh Dani dan Chayeon.

“Perlu di ingatkan yang mencium Jaehyun adalah Beatrice bukan Jiyeon.” Tekan Yabin.

“Dan Si Sial Beatrice memakai tubuh Jiyeon.”

Perlu di tekankan, vampir akan sangat menyebalkan jika sedang cemburu dan itu terus di ingat Dani untuk menulis sebuah jurnal.

Thunder sendiri mulai sebal dan malas berdebat, ia lebih memilih berdiskusi dengan Yebin mengenai spupu nya itu yang bisa lebih dulu bertemu dengan Jiyeon di banding mereka.

“Aku pikir adik ku tidak pantas dengan vampir manja seperti mu.” Gertakan GD membuat Minho menatapnya emosi.

“Oh, sial. Kau benar-benar sial.” Kesal Minho.

Thunder hanya bisa menatap kagum kakak nya dari jauh.

“baiklah jadi kapan kita akan bicara dengan Jaehyun?” Tanya Jr mencoba menarik perhatian Yebin.

Demi Tuhan Jr tidak masalah jika Jiyeon jodoh Minho, tapi Jr berharap berjodoh dengan Yebin. Gadis itu memiliki mata yang besar dan bibir merah jambu yang menggoda.

Thunder yang menyadari tatapan aneh Jr hanya menatap sinis dan bersyukur Yebin termasuk salah satu keturunan Park yang berhati dingin.

“Aku sudah membuat janji dengannya. Besok, dia sendiri yang akan datang kesini.” Kata Yebin menutup diskusi malam ini.

     
                            Vampire Hall

“Well, Jiyeon adalah Beatrice dan dia di kutuk?” Tanya Jaehyun santai.

Sejak awal kedatangannya Minho sudah sangat jelas menunjukkan raut tidak suka, begitupula GD, Thunder dan Yebin. Lain hal nya dengan Jr, Chayeon serta Dani yang justru memberikan tatapan memuja. Wajar saja pesona vampir Jaehyun di drama Blood sangat kuat, ternyata pria itu vampir sungguhan dan sialnya dari ras kelas atas. Tapi suasana di sini sangat mengerikan berbeda dengan wajah-wajah para vampir yang membuat hati sejuk.

Setelah memberikan penjelasan panjang lebar mengenai Jiyeon dan kutukan Beatrice, Jaehyun tidak pernah menyela sedikit pun pria itu terus menyimak dengan serius hingga sebuah pertanyaan santai keluar dari bibir tipisnya seolah itu bukal hal besar.

“Dengar,” Minho mulai menggeram dan tangannya terkepal mencoba menahan emosi agar matanya tidak berubah warna. “Kau harus bertanggung jawab dengan perbuatan mu dulu, kau pergi begitu saja di saat upacara penyatuan berlangsung. Kau membuat Beatrice membakar dirinya sendiri dan menciptakan kutukan ini. Jiyeon milikku, jadi aku harap kau enyah dan jangan mengganggu Jiyeon ku.”

Jaehyun menyeringai, “ow.. kau mengusirku dan mengancam? Bagaimana jika aku tidak mau dan membiarkan Beatrice mengendalikan Jiyeon? Aku rasa itu ide yang bagus, Jiyeon akan jadi milikku.” Katanya dalam.

Mata Minho mulai berwarna merah terang membuat barang-barang yang ada di dalam ruangan bergerak melawan gravitasi hingga menciptakan suara pecahan yang saling beradu. Yebin menggiring Jr, Chayeon serta Dani masuk ke dalam kamar sementara GD dan Thunder ikut menatap tajam Jaehyun.

“Kau hanya akan dapat ke palsuan. Dan aku mengerti kenapa Beatrice sangat membenci mu. Kau vampir brengsek!” Marah GD. Matanya tidak lagi berwarna hijau jernih, melainkan hijau pucat yang bisa membuat sebuah delusi.

Thunder bertugas menenangkan Minho, amarah Minho sudah mencapai Level Jeopardy dan itu akan beresiko membuat gedung apartemen ini runtuh. Tapi, Minho benar-benar tidak bisa terkendali. Pria itu mengamuk dan memecahkan seluruh benda yang ada menambah daftar barang-barang yang hancur berantakan dan membuat kursi-kursi mental tidak tentu sambil berteriak memaki Jaehyun.

Jaehyun, pria itu berdiri kaku dan mengutuk kemampuan para ras vampir Hybrida khususnya keturunan langsung Rain Park pemimpin Park Hall. Lutut vampir itu lemas, melihat dengan jelas bagaimana pertama kali ia bertemu dengan Beatrice, di saat mereka dalam oase di mabuk cinta dan bagaimana dengan bodohnya ia terhasut pria yang menawarkannya kehidupan sebagai manusia berkelas. Manusia yang akan di puja banyak orang dan semua itu berganti dengan kekacauan yang ada di halaman Choi Hall. Tepat di saat gerhana cincin muncul dan di saat itu ia sudah tidak ada. Pergi meninggalkan Beatrice demi iming-iming manusiawi. Dan tubuhnya terjatuh lemas saat melihat Beatrice membakar diri nya sambil bersumpah untuk kembali menghancurkan keturunan Origin yang akan di jodohkan dengan keturunan Hybrida. Dan semua itu karena ulahnya.

“Brengsek!” Teriak Minho membuat tubuh Jaehyun terpental membentur dinding hingga tercipta retakan di sana.

“Tenang Minho!” Kata GD bijak, “dia akan memberikan jawaban yang lain setelah ini.”

“Oh sial!”

GD, Minho serta Thunder menoleh pada Yebin saat gadis itu berteriak berlari ke arah mereka, matanya terlihat panik dan takut.

“Jiyeon Eonni hilang.”

.

.

.

.

.

Gelap.

Hanya ada pohon-pohon tinggi menjulang dan suara serigala yang mengiringi langkah Jiyeon. Gadis itu meloncat dari dahan ke dahan. Ia merasa marah dan muak. Beatrice selalu sukses membuatnya menjijikan. Setelah membuatnya berciuman dengan Jaehyun dan hampir berhubungan badan, kali ini Beatrice membuatnya menjadi wanita menjijikan yang kembali mencium pria lain, Ji Soo.

kau menikmatinya, dia menyukaimu.

“Diam kau!” Teriak Jiyeon sambil terus berlari memasuki bagian paling dalam hutan.

Kau harus lihat wajah Ji Soo saat kau menciumnya, dia bahagia.

“Aku bilang diam brengsek!”

Jangan munafik!

Ji Soo lebih baik daripada Minho. Atau kau ingin bersama Jaehyun, sweety?

Langkah kaki Jiyeon berhenti tepat di ujung tebing pembatas antara hutan dan Park Hall. “Tsk,” Jiyeon mendecih sinis. “Kau pikir aku tidak tahu siapa itu Ahn Jaehyun? Dia Coler.. pria yang meninggalkan mu.”

Hahahahahaha, kau memang pintar. Pantas saja Minho sangat menyukaimu bahkan Coler sialan itu juga menyukaimu.

“Jangan lakukan! Aku tahu apa yang kau rencanakan.”

Kau memang selalu tahu apa yang aku pikirkan.

Jiyeon memutar tubuhnya dan kembali berlari masuk ke dalam hutan.

Ya, sayang terus berlari.. berlari lah dan berlari. Hahahahaha

“Aku memang selalu tahu apa rencanamu tapi kau tidak pernah tahu apa rencanaku.”

Mencoba mengancamku?

“Tidak,” garis rahang Jiyeon mengeras bersamaan dengan matanya yang berubah hijau jernih, “pastinya kau tidak lupa dengan buku yang aku curi saat aku melarikan diri dari Vampire Restrain.”

Sial, kau tidak akan lakukan itu Geneviève!

“Ya, aku akan melakukannya.”

Jangan bodoh!

“Itu satu-satunya cara agar kau tidak bisa menyakiti Minho.”

Kau bodoh, idiot! Jangan mengorbankan dirimu sendiri demi vampir rendahan seperti mereka. Minho dari ras Origin yang biadab, mereka hanya memanfaatkan kita untuk menjadi sempurna!

“Tapi Minho berbeda dengan Coler mu!”

Kau hanya di butakan dengan cinta!

Jiyeon terdiam di salah satu dahan saat Beatrice membalas teriakkannya.

“Aku tidak mencintai Minho.” Kata Jiyeon pelan.

Kau mengelak.

“Tidak. Aku bersungguh-sungguh.”

Kau terus ada di titik ini. Terus mengelak dan menghindar demi melindungi si brengsek Minho.

“Aku bilang aku tidak mencintainya! Dan tutup mulut mu. Kau yang brengsek, kau tidak pantas menyandang nama besar Park!”

Nah, kau terjebak dengan perkataan mu sendiri.

“Apa maksudmu?”

Kau membelanya.

“Itu tidak berarti apa-apa.”

Kau membelanya dan itu artinya kau perduli padanya! Kau terus mengelak dan menghindar karena tahu aku akan datang. Kau membuat sandiwara seolah kau membenci perjodohan ini tapi kenyataannya kau mencintainya. Kau mencintai dengan cara yang berbeda, kau mencintainya sejak kecil saat kalian bertemu untuk pertama kalinya di bawah pohon apel Park Hall. Dan kau kecewa karena Minho melupakan mu dan bilang jika pertemuan pertama kalian saat acara perkenalan berlangsung.

Kau cemburu melihat Minho bersama Slave nya dan saat itu kau membiarkan aku menguasi tubuh mu.

Kau munafik.

Tubuh Jiyeon menegang kaku dan matanya meredup menjadi hitam kembali. Gadis itu jatuh terduduk diatas dahan sambil terisak kecil.

“Aku mohon… bebaskan aku.”

Jangan lemah!

“Kau yang membuatku menajadi gadis lemah!”

Cinta yang membuatmu lemah. Aku benci cinta, hapus cinta itu dalam dirimu sebelum kau merasakan apa yang aku rasakan.

“Empat hari lagi.”

Apa?

“Empat hari sebelum gerhana cincin dan kutukan ini akan menjadi abadi.”

Ya, kau akan bebas. Tidak perlu memikirkan perjodohan apapun dan kau akan merasa beku kau tidak akan bisa merasakan cinta.

“Di buku itu tertulis, aku bisa terbebas dari kutukan tanpa harus menunggu gerhana cincin.”

Aku sudah peringatkan untuk tidak melakukan itu!

Jiyeon berdiri dan bersiap kembali berlari, “sayangnya kau tidak bisa menguasai tubuhku saat siang hari, Jiyoung.”

Brengsek kau Jiyeon! Jangan sebut nama ku!

Park Jiyoung kau akan enyah ke neraka bersama ku.” Kata Jiyeon tajam. Matanya kembali berwarna hijau dan bercahaya, menatap tajam objek di depannya tanpa memperdulikan Beatrice yang terus berteriak memperingatinya.

Kau gila! Jangan korbankan dirimu!

“Kau akan membunuh Minho! Kau akan menyakitinya dengan tanganku, brengsek!” Jerit Jiyeon.

Tidak! Geneviève jangan! Aku mohon jangan bodoh! Park Jiyeon!!

.

.

.

.

.

“Tinggal satu hari.” Kata Thunder lemah. Mereka sedang berkumpul di dalam meja bundar yang ada di kediaman Park. Saling diam dan terlarut dalam rasa frustasi.

“Andai saja kita datang lebih cepat, kita akan menemukan Jiyeon di perbatasan Park Hall.” Kali ini Luna ikut bersuara. Ia sudah mendengar semuanya, kutukan Beatrice yang menguasai tubuh spupunya. Juga kabar yang menyebutkan jika salah satu penjaga Park Hall mencium bau Jiyeon di dekat perbatasan namun kembali kehilangan jejak.

Minho menoleh ke sampingnya, menatap penuh harap pada Dani yang sejak tadi hanya diam, “apa kau mendapat penglihatan lagi?” Tanyanya penuh harap.

Dani menggeleng lemah membuat semua yang ada di situ mendesis kecewa.

Dani harapan mereka satu-satunya. Gadis itu tiba-tiba saja jatuh terduduk dan mendapat bayangan samar Jiyeon yang sedang berlari di dalam hutan dan itu pula yang membawa mereka ke Park Hall dan mendapati Jiyeon baru saja dari sana.

Pintu besar ruangan terbuka lebar, menampakkan Ahn Jaehyun yang berdiri mengenakan jubah hitam, ekspresinya tampak menyebalkan.

“Hukuman penjara tiga ratus tahun dan Daylight Ring ku di hancurkan.”

Minho mendecih, “lalu kenapa kau masih disini?” Katanya sinis.

“Hanya sampai Jiyeon ketemu, aku akan membantu mencarinya.”

Pintu kembali terbuka, kali ini Jinwoo dan Seulong yang masuk dengan wajah panik.

“Mereka kembali mencium bau Jiyeon. Di Batu Infinity.

.

.

.

.

Berhenti kucing-kucingan.

“Dan berhenti menghalangiku untuk mati.”

Kau harusnya berterimakasih karena aku selalu menyelamatkan mu.

“Tidak. Itu bagian dari rencanamu. Kau tidak akan bisa membalaskan dendam mu jika aku mati.”

Bisa jadi.

Jiyeon beristirahat di dalam goa setelah jauh dari Batu Infinity tempat penyatuan itu akan berlangsung besok.

“Jiyoung, boleh aku bertanya?”

Tidak.

“Bagaimana rasanya saat kau jatuh cinta dengan Jaehyun?”

Aku bilang tidak.

“Apa itu membuatmu sangat bahagia?”

Sial, tutup mulut mu.

“Ciuman itu, bagaimana rasanya? Kau menikmati saat kau mencium Jaehyun?”

Kau yang menciumnya. Tutup mulut mu sekarang, brengsek!

“Bagaimana jika sebenarnya Jaehyun masih mencintaimu.”

Tidak perduli.

“Kau perduli.”

Aku. Tidak. Perduli.

“Bagaimana jika kau ada di posisi ku? Kau menderita karena ke egoisanku dan tidak bisa bersatu dengan orang yang kau inginkan. Kau tidak berdaya saat ragamu di kendalikan untuk membunuh orang yang ingin kau lindungi? Kau menderita, serba salah dan terluka.”

Saat itu hanya ada keheningan dan tidak ada suara Beatrice lagi yang menjawab setiap perkataan Jiyeon.

                               Vampire Hall

“Sial, dia hilang lagi.” Umpat Minho saat tidak menemukan jejak Jiyeon atau mencium sisa-sisa bau gadisnya. Matanya menjelajah sekitar hutan dan tidak ada petunjuk apapun, semuanya berpencar mencari kecuali tiga manusia indigo yang diam di Batu Infinity .

GD datang dari arah barat dan menepuk bahu Minho, “jangan menyerah. Kita hanya punya sisa waktu sampai besok siang ketika matahari tertutupi bulan, waktu kita tidak banyak. Terus mencari Minho.” Kata GD bijak, pria itu kembali pergi ke arah timur dan Minho pergi ke utara.

Tidak ada yang menyerah dan berpikir untuk istirahat, tidak ada waktu lagi. Seluruh vampir sudah di arahkan untuk ikut mencari dan memperluas pencarian. Hara sempat berpapasan dengan Luna dan Yebin, mereka saling beradu pandang dan kembali berlalu setelah Yebin memberi peringatan tajam untuk tidak mengganggu Minho.

Banyak vampire liar yang ikut menyebar dan tidak sedikit yang menatap lapar Chayeon, Jr serta Dani membuat mereka bertiga ketakukan hingga gemetar. Di samping mereka ada Seulong dan Jinwoo yang tampak menikmati pemandangan ini dan membuat ketiga manusia indigo itu mengutuk siapapun yang menyuruh dua vampir itu untuk melindungi mereka.

Hingga fajar tiba, seluruh vampir masih sibuk mondar-mandir mencari dan wajah Minho semakin frustasi.

“Aku mohon.. Jiyeon…” katanya lirih berusaha keras untuk terlihat tegar tapi pertahanannya benar-benar runtuh. Ia lemah, tidak berdaya.

“Minho!” Jerit Chayeon.

Minho menoleh, mendapati Jr yang terduduk dengan mata menerawang kosong. Saat itu juga Minho memiliki titik terang, GD, Thunder dan vampir lain ikut berdiri mengelilingi Jr dan menunggu kesadaran pria itu pulih.

“Dia sedang mendapat penglihatan. Sama sepertiku.” Kata Dani.

Dan saat mata Jr berkedip cepat serta napasnya berderu kencang, Jr menatap Minho.

“Dia datang. Dalam perjalanan, kita hanya harus menunggu.”

“Dimana dia?! Bulan sudah hampir menutupi matahari.” Tegas Rain sambil terus menatap keatas melihat bagaimana bulan sudah menutupi sebagian matahari. Sedangkan Minho sudah berdiri di tengah-tengah batu, menatap penuh harap kedalan hutan yang di penuhi rimbunan pohon lebat.

“Sial. Tiga menit lagi akan terjadi gerhana matahari cincin total.” Umpatan Siwon menambah rasa panik Minho dan ia semakin berdiri gusar.

Jr, Chayeon dan Dani hanya bisa menggigit jari mereka panik. Sedangkan GD tampak tenang memejamkan mata berusaha menajambkan indra penciumnya, matanya terbuka bercahaya hijau jernih dan memukau, “dia datang.” Katanya pasti.

Dan dia di sana, Jiyeon di sana muncul dari rimbunan pohon dengan gaun hitam yang terbuka, rambutnya terkepang rumit dan acak-acakan. Matanya berwarna hijau jernih dan ada garis senyum yang mengukir wajah yang seputih porselin. Bahkan Minho sudah lupa berapa lama ia tidak melihat gadisnya, Jiyeon sangat cantik.

Gadis itu berlari secepat kilat, menyambar tubuhnya dan menarik lehernya kemudian mencium bibir Minho penuh perasaan, tepat ketika bulan menutupi matahari dan berbentuk cincin melingkar yang sempurna. Mereka saling berciuman, melepas kerinduan. Tangan Minho meraih punggung Jiyeon menariknya mendekat dan menghisap bibir gadisnya bergantian atas dan bawah dan mereka saling bertatapan penuh cinta, mata merah Minho bertemu mata hijau Jiyeon, saling tersenyum dan kembali berciuman.

“Menakjubkan. Aku tidak percaya jika kisah cinta vampir akan se indah ini.” Puji Dani sambil memeluk Chayeon. Mereka berdua terlarut melihat Minho dan Jiyeon yang masih berciuman, mereka menatap kagum juga iri. Tapi Minho dan Jiyeon memang vampir yang luar biasa.

Isaac akan sangat berkilau saat bertemu Geneviève.

Mereka saling melengkapi, saling mengingatkan dan saling menguatkan.

Jr mendadak ikut melankolis bersama Seulong dan Jinwoo dan entah sejak kapan mereka bertiga menjadi dekat juga kompak.

“Aku mencintaimu.” Bisik Jiyeon.

Minho menatapnya damba, mencium kembali Jiyeon, “kau tahu seberapa besar aku mencintaimu, putri apel.” Dan mereka kembali berciumana walaupun langit sudah kembali terang tanda bahwa gerhana cincin telah berlalu.

Thunder menyenggol Jaehyun menggoda, “menyesal telah mencampakkan Beatrice, Coler?” Katanya disertai tawa.

Jaehyun menatap Thunder aneh. “Ah, jadi apa yang terjadi dengan kutukan Beatrice?”

.

.

.

.

“Beatrice melepaskan mu?” Tanya Luna tidak percaya, mereka berkumpul di halaman Istana Choi Hall setelah upacara penyatuan selesai dan berbagai petuah di dengarkan.

Jiyeon mengangguk dalam pelukan Minho, “aku tidak mengerti kenapa, tapi Beatrice tiba-tiba saja bilang aku melepaskanmu, pergilah. Dia bilang seperti itu saat aku terus membahas tentang Coler. Jiyoung masih sangat mencintai Jaehyun. Kekuatan cinta.” Kata Jiyeon sambil terkekeh, Minho mengeratkan pelukannya sambil terus menciumi rambut Jiyeon membuat Jr terus mencibir sebal.

“Aku akan sanpaikan ini pada Jaehyun,” GD mengusap lembut rambut adiknya. “Kau dan Minho istirahatlah, aku tahu kalian butuh waktu untuk berdua.”

Mereka mengangguk patuh, Jiyeon dan Minho menghilang setelah GD dan Thunder memberinya pelukan sayang.

“Aku akan mengantar kalian kembali pulang.” Kata Yebin pada Jr, Dani serta Chayeon. Tatapan gadis itu tidak lagi dingin, melainkan tulus disertai senyum. GD dan Thunder menepuk bahu mereka dan mengucapkan banyak terimakasih. Walaupun sangat berat bagi mereka bertiga untuk pergi karena terlanjur nyaman berada di sini, tapi GD berjanji mereka bisa berkunjung kapan saja mereka mau, karena GD yakin akan banyak vampir lain yang membutuhkan mereka bertiga.

Setelah semuanya pergi, Jinwoo mendesah frustasi. “Aku tidak percaya jika aktor favoritku, Ahn Jaehyun adalah Coler.” Katanya sebal, Seulong tertawa mengejek, “salah mu yang tidak pernah mendengarkan saat pelajaran sejarah.”

“Memangnya kau tahu?”

“Tidak juga.” Seulong tertawa melihat raut wajah Jinwoo yang berubah masam.

.

.

.

Minho selalu menantikan momen seperti ini, momen dimana ia bisa menyentuh Jiyeon tanpa ada jarak. Jika saja kutukan Beatrice tidak pernah ada, sejak dulu Jiyeon bisa ia sentuh seperti ini. Memeluknya dari belakang sambil melihat pohon-pohon yang bergerak tertiup angin.

“Aku senang kau kembali.” Bisik Minho sambil mencium leher jenjang Jiyeon.

Gadisnya berbalik, mengalungkan kedua tangannya di leher Minho dan memberikan kecupan kupu-kupu di bibir Minho, “berterimakasih lah pada Beatrice.”

“Berterimakasih? Dia yang membuat jarak di antara kita.”

Tatapan Jiyeon melembut, membuat hati Minho menjadi tenang dalam sepersekian detik, “dia yang membuat kita kuat. Dan aku jadi tahu seberapa besar cinta mu untukku.” Kata Jiyeon membuat segaris kurva terbentuk indah di bibir Minho, pria itu mengusap pipi gadisnya dengan ibu jari, “dan seberapa besar pengorbananmu untuk melindungiku?”

Jiyeon terkekeh mendengar nada sindiran Minho, tapi pria itu langsung memeluknya erat, menarik kepalanya untuk menyender di lehernya, “jangan lakukan itu lagi. Jangan pernah bertindak bodoh.”

“Maafkan aku, Minho.. maaf karena membuat mu tersiksa.”

Minho menarik kepala Jiyeon dan mereka saling bertatapan, Jiyeon bisa melihat cinta yang besar di mata Minho begitu pula cinta  yang tulus di mata Jiyeon, “lupakan semuanya. Ini malam pertama kita sebagai pasangan vampir.”

Mata Jiyeon terpejam saat Minho mendekatkan wajahnya, memberikan ciuman dari rambut, dahi, mata, hidung dan bibir. Menggigit telinga, menghisap leher dan kembali ke bibir. Mereka saling menyentuh, saling menyalurkan kasih sayang dan saling melepaskan rasa rindu yang membengkak. Semuanya terlepas malam ini, membuncah hingga menjadi malam paling indah. Malam-malam yang akan terus ada selamanya, malam yang akan mereka terus lewati dengan suara-suara lirih minta lebih.

Karena sudah tidak ada lagi yang menghalangi mereka. Sejauh apapun Jiyeon pergi maka Minho akan terus berlari mendekat. Serumit apapun benang takdir mereka, Minho akan berusaha tanpa henti untuk membuat benang itu kembali lurus.

Everything will be okay in the end, if its not okay, its not the end.

End.

A/n: minal aidin wal faizin, mohon maaf lahir dan batin semuanya. Maaf hanya bisa ngasih ini untuk ending VH, begini hasilnya ngetik di tunda-tunda dan buru2. Jadi utang VH udah kebayar dan tinggal fokus sama obsession. Sekali lagi mohon maaf lahir dan batin, ya🙇

Advertisements

Author:

If you Jiyeon fans, you must stay here. but, if you hate my fav idol..you must go on without drama. thx

25 thoughts on “5. Vampire Hall : The Was a Great Story Finished (end)

  1. sama2,minal aizin walfa izin juga..
    lucunya gd dan thunder yg satu gedung tapi tidak tahu jiyeon juga tinggal disana..
    entah kenapa selalu suka sikap pencemburu minho di tiap ff mu..
    cemburu nya melindungi.
    hohoho jr jatuh di lubang yg sama jatuh hati dg vampire..

  2. rada sebel juga sih sama si jiyong bibir jiyeon jd dicium selain minho..
    tpi ternyata sikap jiyeon yg terkesan gak peduli malah mau lindungi minho.
    ah dua2nya manis.

  3. anyeeeoong author..
    aku reader baru,mw minta izin numpang baca yaa..
    ceritanya bagus,sukaaa..
    happy ending buat mereka berdua..

  4. Huaa suka quote terakhir… “Everything will be okay in the end, if its not okay, its not the end.” Terkadang emang butuh pengorbanan besar untuk mencapainya, tapi pengorbanan dan perjuangan itu tidaklah sia-sia

  5. EMmmm… so sweet banget merekaaa…. beneran yah karna kekuatan cinta vampire jg bisa luluh.. kayanya jaehyun jg masih suka sama jiyeong deh… minho sama jiyeon pasangan yg serasi mereka saling ngelindungin…

  6. mohon maaf lahir batin juga ya kaks…
    wahh akhirnya ini cerita happy ending 🙂
    cepet bgt udah end,, mash berharap ada lanjutannya kaks…
    dibalik sikap dingin dan cueknya jiyeon, ternyata dia melindungi minho
    ahh mereka sweet bgt 🙂
    sangat sangat sangat suka

  7. sama” minal aidzin walfaidzin juga….
    dilait dari awal sifat Jiyeon ke Minho aku kira Jiyeon gak mencintai Minho,,,eh ternyata sifat gak peduli dan cuek Jiyeon ke minho itu semata- buat melindungi Minho aja…
    agak tegang bacanya bikin deg-deggan kirain mereka bakalan gak akan bersatu tapi ternyata mereka bersatu juga akhirnya walaupun banyak rintangannya untuk minji bersatu….

  8. huaaahhhh akhirnya bahagi jiyeon ❤ minho bersatuuuuuu yuuu huuuu ;;) kirain bkl sad ending krn jiyeon dikendaliin sma jiyoung.

    ditunggu thorrrrr obsession nyh, jngn lma2 yaaa :v

    minal aidzin walfaidzin thor maap ye kalo aye ada salah 🙂

  9. akhirnya mereka bersatu juga… dan happy ending…
    perjuangan cinta mereka keren bangett… jiyi eonni ngelindungin minho oppa,minho oppa sayang banget sama jiyi eonni keren banget eonni…

  10. akhir nya jiyi trbebas dari kutukan ituuu… nah gtu donggg kan so sweet minji hahahaha…
    minalaidzin walfaidzinn… ^^

  11. ohh aku baru ngeh disini ttg kutukannya hehe
    jiyeon trnyata udah lama suka minho tp disembunyiin karna kutukan itu..
    tp jiyeon bisa jg bikin beatrice sadar kk , semua org udah panik nyari jiyeon .. jiyeon pinter amat yaaa ngilangin jejak nyaa
    minho akhirnya dpet jg yaa tu jiyeon nya seneng deh pasti , dan bakal gk emosi2 lg ..
    tu 3 kurcaci udah bebas ya dr pangeran ganteng yg egois hehe
    akhirnya happy ending keren dehh
    dan kata2 terakhir nya motivasi bgt chingu 🙂

  12. Yg nama nya jodoh kemanapun pergi nya pasti tetap bersatu, hhh udah end dan minji bersatu…^_^

    Minal Aizin Walfaizin juga Author, Maaf lahir batin ya…^_^

    selalu di nanti karya” nya yg lain, jadi terus bekarya and Fighting…!!!^_^

  13. Suka bgt deh sama quote nya di ending

    Tp jujur aja ending nya kesannya terburu2 tp gpp lah di maklumi koq, yg penting kan minji ttp bersatu, dan kutukan beatrice juga ilang

    Coler pasti nyesel udh ninggalin beatrice

    1 ff udh tamat mdh2an akan ada ff baru ya 😃
    Selingi sama Ji-kon donk
    Kangen juga nih sama ff ji-kon 😊😊

  14. Makasih beatrice udh mau penglepasin jiyeon.jadi selama ini Jiyeon itu cinta minho cuma dia ngak mau nyakitin minho karena kutukan itu.bikin sekuel dong.kehidupan Jiyeon ma minho yg udah punya anak.&

  15. seneng minho sama jiyeon bisa happy ending , batrice ngelepasin jiyeon. jiyeon berusaha ngelindungin minho terus minho sayang banget sama jiyeon

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s