Posted in OBSESSION

6. OBSESSION : Broken Heart

image

No words can fully describe all my feelings to you

————————————–

“Kau demam.” Simpul Minho ketika ia menyentuh kening Jiyeon. Gadis itu menggigil dan pucat, tapi tetap dengan kekeras kepalaannya yang membuat Minho frustasi. Gadis itu bersikeras bangkit, dan Minho akan lebih bersikeras menyuruh Jiyeon untuk tetap berbaring. Walau pada kenyataannya gadis itu akan melakukan hal sebaliknya, tapi Jiyeon bisa menjadi gadis yang penurut saat Minho menatapnya dalam penuh intimidasi.

Jiyeon tidak pernah suka tatapan itu.

“Baiklah aku demam.”

Mata Jiyeon berotasi sebal, mencoba membuat kesepakatan pun percuma. Karena Minho keras kepala, Jiyeon keras kepala. Mereka berdua keras kepala.

Jiyeon masih berbaring di kasur, memperhatikan cahaya yang terpantul dari gorden putih sementara Minho duduk di tepi ranjang sambil memperhatikan wajah Jiyeon yang terkena sedikit sinar matahari. Wajahnya semakin terlihat pucat, tapi berkilau. Walaupun gadis itu bilang menerima dirinya dan menerima hubungan ini, tapi sikap gadis itu tidak berubah sama sekali. Jiyeon masih tetap menjaga jarak, terkadang tatapannya terlihat lembut tapi ada saat tatapan itu berubah menjadi emosi yang terkumpul. Minho tidak bisa menyimpulkan itu semua. Gadis ini kembali menutup diri, kembali menjadi Jiyeon yang misterius. Jiyeon yang sesungguhnya, yang membuatnya jatuh cinta.

Kemudian dia kembali hadir menjadi bayang-bayang masa lalu yang tidak ingin di ingat. Minho ingin memulai hidup baru, tapi dia terus mengikuti. Semua terasa hambar dan pias. Ya, semua.. saat ia kembali mengingat dia adalah saat di mana Minho merasa hancur. Sebagian hancur, walaupun ada Jiyeon di sisinya tapi Minho masih tetap merasa hancur.

Minho masih memperhatikan Jiyeon yang mulai merasa lelah, terlalu lama bermonolog ria membuat Minho membenci dirinya, membenci dirinya yang dulu. Yang lemah dan tidak bisa bertindak tegas. Tangan Minho kembali menyentuh dahi Jiyeon, lalu beralih ke leher dan menyentuh denyut nadi tangannya. Ia merasa kebas, merasa tidak berguna.

“Jika panas mu belum turun dalam jangka waktu lima jam, kita akan kerumah sakit,” Kata Minho, ia kemudian mencium kelopak mata Jiyeon yang terpejam. “Aku akan mengambilkan air hangat dan membuat bubur. Kau jangan tidur sebelum perut mu terisi makanan.”

Langkah kaki Minho berjalan konstan ke luar kamar setelah sebelumnya mencium kening Jiyeon. Perasaan itu lagi, Jiyeon ikut membatin. Gadis itu mulai menatap langit-langit kamar dan tampak menerawang saat pintu kamar tertutup rapat. Raut wajahnya menggambarkan sebuah perasaan acak yang tidak di mengerti. Jiyeon hanya tidak mengerti. Ya, semuanya terasa tiba-tiba. Bagaimana tubuhnya mulai berdesir saat menerima sentuhan Minho, dan bagimana jantungnya di penuhi kupu-kupu saat Minho memberikannya perhatian lebih.

Perasaan ini, perasaan yang tiba-tiba timbul perlahan membentuk rasa kejut yang membuat rongganya terasa penuh. Penuh oleh sensasi menggelitik juga sesak.

Jiyeon selalu menjadi orang pertama yang mencibir ketika temannya jatuh cinta, menjadi orang pertama yang menyalahkan cinta saat temannya terluka. Dunia berotasi seimbang. Ada kala nya di mana ia terjebak oleh cinta. Terjebak dengan kata yang ia benci. Selama hidupnya, ia hanya mencintai obat, ia mencintai obat bukan tanpa sebab. Baginya, obat adalah satu kata ajaib yang mampu menyembuhkan segala macam penyakit.

Bahkan saat ia terlibat jalinan kasih dengan Jb, Jiyeon tidak merasakan getaran ini. Datar dan terlalu membosankan. Mereka tidak pernah bertengkar atau terlibat perselisihan. Hingga mereka memutuskan untuk berpisah baik-baik. Menjalin hubungan sebatas antar sahabat. Pengalaman Suzy yang membuat Jiyeon mulai membenci kata cinta. Temannya hancur, hancur di depan matanya sendiri. Bagaimana Suzy yang menangis histeris saat orang yang ia cintai ternyata sudah memiliki istri, bahkan anak.

Jiyeon ingat tatapan penuh binar Suzy saat gadis itu bilang jatuh cinta. Jatuh cinta pada lelaki dewasa yang membuatnya buta hingga menyerahkan keperawanannya secara percuma. Dan bagaimana frustasinya Suzy saat ada wanita dewasa bersama anaknya yang berumur tiga tahun. Lee Sinhye datang memaki Suzy, mengaku bahwa ia adalah istri sah Lee Minho. Bahkan perut wanita itu tampak membuncit. Demi Tuhan, wanita itu sedang hamil dan Suzy tidak bisa berhenti untuk memaki dirinya sendiri. Cinta membuat Jiyeon muak.

Hingga cinta itu datang mengikis kata muak. Awalnya, Jiyeon hanya ingin menyerah dengan sikap berontaknya dan mencoba mencari jalan pintas dengan menerima perlakuan Minho. Tapi, pria itu berubah menjadi lembut dan penuh kasih sayang. Membuat perasaan nyaman kian datang hingga berganti menjadi kata cinta.

“Kau melamun.”

Sentuhan Minho saat meletakkan kain basah ke atas keningnya kembali membuat jantung Jiyeon berdetak sesak. Jiyeon masih setia dengan kebisuannya, sementara Minho membantu Jiyeon untuk duduk dan menyender di kepala ranjang sambil menyuapinya sesuap bubur kimchi.

Hening, sampai satu mangkuk bubur tersisa satu sendok.

“Minho..”

“Hn?” Jawab Minho sambil memberikan segelas air putih untuk Jiyeon, tatapannya melembut walau tidak terlihat jelas.

bagaimana jika aku jatuh cinta?

“Apa kau mencintaiku?”

Mata itu berubah gelap, suram. Jiyeon merasa kecewa untuk alasan yang ia sendiri tidak pahami.

“Kenapa kau bertanya di saat kau tahu jawabannya?”

Dan Jiyeon benar-benar merasa kecewa.

“Hmm, lupakan.” Serunya bernada sumbang. Berusaha keras menutupi rasa kecewa tapi ia tidak bisa menutupi matanya yang berkaca-kaca.

Tangan besar Minho menyentuh pipi Jiyeon yang berwarna pink pucat, “kau flu. Apa itu sangat sakit?”

Jiyeon menelan ludahnya susah payah, pandangannya menembus tepat pada kornea mata Minho,

“Sangat sakit… sakit sekali.”

.

.

.

.

.

.

“Waw, aku pikir seorang Park Jiyeon tidak akan pernah terkena flu.” Luna menyenggol main-main bahu Jiyeon saat gadis itu duduk di sampingnya sambil menaruh tumpukkan buku di atas meja.

“Kau pikir Park Jiyeon bukan manusia? Oh, aku harap aku adalah malaikat yang tidak pernah bisa sakit.”

Luna tertawa geli mendengar cemoohan Jiyeon di tambah ekspresi gadis itu yang tampak suram. Walau demikian, Luna tidak akan pernah bosan menggoda temannya ini, “aw, kau pikir malaikat tidak bisa sakit? Jangan bodoh, malaikat juga bisa sakit saat dia jatuh cinta pada manusia. Kau tahu, Ill feeling?”

Jiyeon memutar malas matanya, “itu tandanya malaikat itu bodoh. Untuk apa jatuh cinta dengan manusia yang sifatnya semu sementara banyak malaikat tampan yang sifatnya nyata? Manusia itu perasaannya selalu berubah, sedangkan malaikat hanya akan jatuh cinta satu kali.”

“Kau lebih cocok menjadi mahasiswi sastra,” cibir Luna, Jiyeon hanya angkat bahu dan mulai membuka bukunya. “Oiya, besok kita satu kelas dengan Minho, kan? Waw, aku tidak sabar melihat sikap protektifnya padamu. Kau ingat minggu kemarin? Sehun bahkan tidak berani lagi mengganggu mu saat Minho membuat rahang pria itu biru.”

“Bukan hanya Sehun, tapi semua pria di kampus tidak ada yang berani mendekati Jiyeon.”

Jiyeon dan Luna menatap Suho yang tiba-tiba ikut terlibat dalam pembicaraan. Mata Luna mengerling jenaka, “hai Suho.”

“Oh, hai Luna.”

Jiyeon menutup bukunya dan menatap Suho curiga, “ada apa dengan kalian?”

“Ada apa apanya?” Tanya Suho kembali. Pria itu bermain-main dengan Jiyeon, dan Jiyeon langsung memukul kepala Suho dengan buku tebal miliknya, “jangan bercanda. Hai? Sejak kapan ada sapaan menjijikan seperti itu? Jangan membuat lelucon.”

Suho tersenyum menggoda, ia melirik Luna dan kembali menatap Jiyeon, “tanyakan pada teman mu yang seksi itu,” Katanya nakal, Suho memilih pergi sambil bersiul tapi kembali berbalik saat langkahnya hampir sampai pintu, “aku bolos dulu, sedang malas.”

Hingga pria itu benar-benar pergi keluar Jiyeon memberikan tatapan bertanya pada Luna, “jadi?”

“Oh, sweety.. jangan melihat ku seperti itu. Kami tidak ada hubungan apapun. Serius,” Kata Luna di sertai tawa, Jiyeon masih memperhatikannya serius penuh selidik hingga Luna berhenti tertawa tapi tidak bisa menutupi raut geli karena rasa penasaran Jiyeon. “Kau tahu kan aku sekarang tinggal di apartemen mu. Aku dan Suho sering menghabiskan waktu bersama dan semalam kami minum tequila di apartemennya kemudian kau tahu hormon anak muda,” Luna melirik genit sementara Jiyeon menutup mulutnya tidak percaya. “A sexual relationship lasting only one night.”

“One night stand? Kau gila.”

Luna tertawa geli, “hey kau saja yang terlalu naif. Ayolah, apa yang salah dengan seks? Kau akan merasa ketagihan saat merasakannya.”

Jiyeon mencibir, “aku tidak percaya selera mu seperti Suho.” Luna tertawa terbahak mendengar komentar Jiyeon, wanita itu bahkan tidak tahu sudah berapa kali ia tertawa karena Jiyeon.

“Well, sweety.. Suho sangat seksi saat di ranjang. Felching yang sempurna, kau tahu.” Luna tertawa lagi sementara wajah Jiyeon sudah memerah mendengarnya.

“Kau dan Sulli sama-sama maniak.”

Untuk kesekian kalinya Luna kembali tertawa. Bahkan mereka tidak sadar sudah ada dosen yang mulai menjelaskan anatomi tubuh.

                           OBSESSION

“Suaramu masih sumbang.” Bisik Minho dari cela-cela rambut Jiyeon yang sedang ia ciumi. Minho bersender di mobil Volvo nya yang terparkir di parkiran kampus, ada Jiyeon di sisinya sedang bersender di pelukan Minho dengan pipinya yang menempel dengan dada bidang prianya.

Jiyeon mendongak menatap Minho, “dan berdengung.” Keluhnya tidak suka.

Tangan Minho menekan pinggang Jiyeon, tangan lainnya mengelus kepala Jiyeon mencoba memberikan rileksasi agar gadisnya merasa nyaman, dan perasaan itu kembali muncul. Rasa menggelitik yang membuat Jiyeon tidak suka. Rasa ini semakin nyata dan memberontak. Tapi Jiyeon juga bisa merasakan apa yang di rasakan Minho lewat detak jantung pria itu yang diam-diam dia hitung. Minho sama sepertinya, sama-sama jatuh cinta. Tapi, Jiyeon tidak yakin.

Minho mencubit pipi Jiyeon membuat gadis itu mendongak tidak terima, “kau melamun lagi.” Katanya tajam. Jiyeon hanya menatapnya sekilas tanpa ingin berdebat. Banyak pertanyaan di pikirannya. Bagaimana ia bisa sedekat ini dengan Minho, bagimana mereka bisa terikat dalam suatu hubungan yang Jiyeon sendiri tidak yakin ada di kategori mana ikatan hubungan mereka.

Dan bagaimana perasaan Minho terhadapnya. Jiyeon benar-benar buntu untuk menjawab itu semua.

“Uh, kalian benar-benar menggelikan.”

Jiyeon melepas pelukannya, tapi tidak dengan Minho. Pria itu kembali menarik pinggang Jiyeon dan menatap tajam Suho yang sedang tersenyum menggoda.

“Seharusnya kalian sadar ini masih di kampus. Masih tempat umum, apa berduaan di apartemen setiap malam tidak cukup?” Goda Suho sambil mengedipkan matanya menggoda Jiyeon. Gadis itu cemberut sebal dan meninju main-main bahu Suho yang berdiri tepat di sampingnya. Tidak ada yang sadar jika tatapan Minho mulai menggelap.

“Jadi, menjadi parasit adalah kerjaan mu sekarang? Waw, Suho Si Parasit. Aku rasa itu nama yang keren.”

Suho tertawa mendengar sindiran Jiyeon, tapi ia buru-buru menelan ludahnya gugup ketika ekor matanya menangkap bayangan Minho yang sedang menatapnya. Saat ia berbalik, mencoba mencari tahu tatapan tajam itu benar ada dan menusuk. Rasanya rongga dada Suho sesak hanya dengan melihat tatapan dari mata oniks Minho.

“Aku lupa ada janji dengan anak klub english debate. Bye, Jiyeon dan emm, bye Minho-ssi.”

Jiyeon mencibir Suho saat pria itu benar-bebar pergi membuat Minho semakin merasa terancam, Minho tidak menyukai Suho. Sejak awal Minho sudah tidak menyukai kedekatan Jiyeon dan Suho.

“Jauhi dia.” Kata Minho tajam.

Jiyeon melirik Minho, tatapannya menuntut tidak mengerti hingga ia paham arti dari tatapan Minho yang gelap. Jiyeon memutar kedua matanya bosan, “oh astaga…. ayolah dia hanya Suho, Minho.”

“Tapi Suho itu seorang laki-laki.”

“Dan kau cemburu pada seorang laki-laki? Harusnya kau tahu Suho itu seorang laki-laki dan bukan seorang pria.”

“Jiyeon, bukan tidak mungkin dia menyukaimu. Aku tahu kalian dekat sejak SMA, dan pertemanan antara laki-laki dan perempuan hampir sembilan puluh sembilan persen salah satunya menyimpan rasa. Dan aku berani bertaruh bukan kau yang menyimpan rasa itu.”

Jiyeon terlalu gemas melihat tingkah kekanakan Minho, “bagaimana jika kau salah? Bagaimana jika aku yang menyukai Suho?”

Tatapan Minho semakin tajam dan menyeramkan. Tapi Jiyeon tidak merasa gentar kali ini, gadis itu balik menatap Minho sambil menantang menyilang tangannya di depan dada dan mengangkat dagunya pongah.

“Kita berdua tahu itu tidak benar. Suho hanya seorang laki-laki dan kau hanya menyukai seorang pria.” Minho menekankan suaranya pada setiap kalimat dan mencengkram tangan Jiyeon, menariknya mendekat walau gadis itu bersikeras memberontak.

“Kau benar, aku hanya menyukai seorang pria. Dan kau disini ada di kelompok laki-laki. Kau bukan seorang pria yang bertanggung jawab, kau hanya seorang laki-laki brengsek yang memainkan hati para gadis. Kau brengsek Minho!”

“Kenapa kau berpikir aku begitu?”

Tatapan Jiyeon lebih gelap kali ini, lebih tajam. Banyak emosi terkumpul yang siap ia keluarkan hingga membuat matanya berkaca-kaca.

“Kau selama ini menjadikan aku sebagai pelarian. Aku tahu dimata mu aku hanya sebagai pengganti. Dia, huh?!” Suara Jiyeon mulai bergetar dan saat itu juga tubuh Minho menjadi tegang. Ia melepas cengkraman tangannya pada lengan Jiyeon dan mundur menabrak sisi mobil nya.

“Kau…”

Jiyeon tersenyum pedih, “ya Minho. Aku tahu, aku tahu semuanya. Aku mendengar percakapan mu dan Ibu mu. Aku hanya sebagai pengganti dia, kau tidak mencintaiku. Kau tidak melihat aku sebagai aku, kau melihat aku sebagai dia. Sampai kapan kau akan berpura-pura? Sampai kapan aku menunggu agar kau yang mengatakan langsung padaku? Dan sampai kapan kau menganggap aku gadis bodoh.

Aku muak Minho. Kau melarang ku berdekatan dengan pria lain, bahkan aku baru tahu kau yang membuat tangan Jb patah. Aku hanya diam, walau aku marah karena dirimu impian Jb hanya tinggal angan-angan. Pria itu membenci ku sekarang. Dan sekarang kau menyuruh ku menjauhi Suho? Jangan gila!” Jerit Jiyeon histeris. Gadis itu tidak bisa mengendalikan dirinya sendiri walau wajahnya penuh dengan air mata. Saat Minho maju untuk menyentuh bahunya, Jiyeon langsung mundur dan mengangkat tangannya menyuruh Minho untuk tidak mendekat.

Jiyeon tahu, dengan bertengkar di tempat umum seperti ini akan menjadi bahan tontonan banyak mahasiswa. Tapi sekali lagi rasa sakit yang sudah ia pendam berhari-hari yang membuatnya tidak perduli, yang membuatnya merasa harus mengeluarkannya saat ini juga.

“Kita harus bicara Jiyeon. Aku serius.” Kata Minho putus asa.

“Tidak. Kita bicara di sini, selesaikan di sini. Kau dan aku kita selesai di sini. Tidak ada kita lagi, hanya ada kau dan aku.”

Tangis Jiyeon pecah saat itu juga, dan Minho benar-benar tidak mengerti kenapa dia ikut menangis melihat kehancuran Jiyeon di depan matanya. Hatinya sakit, lebih sakit saat mantannya pergi meninggalkannya. Ini jauh lebih kacau, rasanya sangat sesak hingga ia tidak tahu harus melakukan apa.

“Aku mencintamu.”

Akhirnya, hanya dua kalimat sederhana itu yang mampu Minho keluarkan, dua kalimat yang membuat Jiyeon semakin menatapnya benci.

“Cinta katamu?! Jangan buat aku tertawa! Ini bukan cinta Minho, kau tidak mencintaiku kau mencintai orang lain!”

“Tidak!” Panik Minho, ia mengguncang tubuh Jiyeon mengabaikan fakta bahwa gadis itu kesakitan dengan cengkramannya. Mereka saling tatap dengan dua emosi berbeda. Jiyeon dengan kekecewaannya dan Minho dengan keputusasaan yang ada.

Mereka sama-sama merasa sakit.

“Aku mencintaimu. Persetan dengan dia persetan dengan masa lalu ku. Kau yang ada di depan ku sekarang, kau yang aku cintai bukan dia atau wanita manapun.”

“Jadi,” suara Jiyeon hampir habis karena tangisannya di barengi flu yang membuat tenggorokannya memerah. “Jika dia kembali dan ada di sini, kau akan memilihnya? Membuang ku seperti sampah. Bahkan setelah aku mencintaimu kau akan membuangku. Karena kau hanya mencintai dia dan aku hanya penggantinya.”

Minho menggeleng cepat, ada satu kalimat yang membuatnya tidak percaya dan semakin membuat perasaannya tertusuk ribuan rasa sesal yang menyakitkan, “kau.. kau apa? Kau mencintaiku?” Tanyanya tidak percaya.

Mereka masih saling tatap, “kenapa? Merasa bersalah? Kau jangan khawatir ini hanya perasaan sesaat. Karena saat dia datang, perasaan ini akan hilang.”

“Oh, Tuhan!” Minho mundur berbalik menjambak rambutnya sendiri dan memukul kap mobilnya berkali-kali. Matanya merah dan basah, pria itu bahkan memijat pangkal hidungnya berkali-kali dan saat Minho berbalik Jiyeon sudah tidak ada. Tidak ada di mana-mana. Hanya ada kumpulan mahasiwa yang suka mencampuri urusan orang lain. Juga semua teman-teman Jiyeon yang berdiri menatapnya benci.

Dan Minho baru sadar bahwa ia benar-benar mencintai Jiyeon. Ia tidak ingin gadis itu pergi kemanapun, tidak akan membiarkan gadis itu pergi darinya.

Dan untuk pertama kalinya juga Minho sangat membenci sosok dia yang hadir di tengah-tengah hubungannya dan Jiyeon.

Pria itu berlari seperti orang gila, menabrak setiap mahasiswa yang membuat larinya terhambat. Minho terus berlari sambil meneriaki nama Jiyeon berulang. Tapi, Jiyeon tidak ada di mana-mana. Gadis itu tidak meninggalkan jejak apapun. Semua berakhir disini, berakhir dengan kebodohan yang ia lakukan.

“Brengsek!” Umpatnya.

Adakalanya manusia merasakan ke tidak adilan dalam hidup, merasa terbuang dan tidak di inginkan. Tapi faktor dari perasaan itu semua adalah faktor dari kerasnya kehidupan, juga faktor bagaimana cinta membuat orang gelap mata. Jadi, kenapa harus ada cinta jika akhirnya menyakitkan? Kenapa harus ada kehidupan jika harus melewati penderitaan? Minho tidak paham dengan itu semua, hanya menambah pusing kepalanya.

Tapi Minho tidak mau kehilangan untuk kedua kalinya. Biarlah dia pergi terserah mau kembali atau tidak. Tapi cukup ambil dia jangan ambil Jiyeon. Karena Jiyeon adalah hidupnya.

Bahkan saat matanya mulai buram dan berkunang, Minho hanya bisa mendengar suara Jiyeon yang meneriaki namanya sebelum matanya benar-benar gelap dan tidak bisa merasakan apapun

Tbc.

A/n: jgn tanya kenapa gue malah update ini XD plis uas bikin gue gila dan gue gaada mood buat lanjut VH. Hiks tiba2 file kedelet padahal udah ngetik sampe tamat. Serius itu rasanya asdfghjkl bgt. Jadi, gue mutusin VH di pending dulu tapi gaakan lama kok:”) gue lagi muter otak karena jujur tbtb ide nya buyar.

Advertisements

Author:

If you Jiyeon fans, you must stay here. but, if you hate my fav idol..you must go on without drama. thx

50 thoughts on “6. OBSESSION : Broken Heart

  1. Duhh jiyeon kasian bgt dijadiin pelarian tapi moga aja minho bener jatuh sama jiyeon, si dia jangan balik lagi dong kasian jiyeon 😭 lanjut thor ditunggu bangett 😆

  2. Akhirnya yang ditunggu datang juga hahaha
    Hem,,, minho agak setres karena dia,, dan buat jiyeon jdi plarian,, tpi saat jiyeon tau semuanya,, minho malah jatuh cinta beneran sama jiyeon,, tpi gimana kalau si dia itu kembali lagi,, akankah minho memilih jiyeon atau dia

  3. yahhh… akhirnya jiyeon tau ttg si dia
    kasian jiyeon ampe sakit gara2 masalalu minho… cewek mana sihh yang enggak sakit hati kalo tau dijadikan pelarian semata 😦
    ayo dongg minho perjuangkan jiyeon, pilih jiyeon jangan dia…
    makin greget aja ceritanya…

  4. wahhh seneng bnget akhirnya part 6 nya ada 😀
    g nyangka ternyata Jiyeon ngedengerin omongannya minho sma eommanya dia jga tau tentang Jb,,
    salah minho sih inget mulu sma “dia” disaat sekarang Jiyeon pergi baru nyadar klo dia sebenernya udah bner2 jatuh cinta sma Jiyeon ,,
    ternyata Jiyeon jga udah jatuh cinta sma Minho,,
    semoga aja Minho dpet menghilangkan memori tentang si “dia” dan ngeyakinin Jiyeon klo Jiyeon bukan lagi sebagai pengganti ,,
    ditunggu part selanjutnya 😀

  5. Thor janji yah, ni ff harus di publish sampai selesai… Keren banget ceritanya, next part mereka berdua udah baikan yah trus minho segera tahu klo jiyi sakit pa.. Tapi teraerah author sih.. Next next next…

  6. sepertinya minho bnr2 harus sedikit merubah sikapnya yg sedikit memyebalkn bagi jiyeon,,, and ‘dia’,, who???????

  7. Kyaaaaa….comeback….!!!😄😄 ahhhh senang nya yang ditunggu di post juga….^_^ makasih author..:*

    Aduh abang minho !! Janganlah kau buat jiyeon sebagai pelarianmu, kan kasian eonni ku, dan ingat cepatlah sadar kalau kau benar” jatuh cinta pada jiyeon….

    Makin seru thor…,selalu ditunggu lanjutannya, ^_^
    Terus bekarya dan Fighting…!!! ^_^

  8. tulisan mu makin bagus saeng,suka banget gaya bahasamu..
    Duh duh q aja kalau jadi jiyeon capek dan tekanan batin,hubungan yg masih abu2 dan tertekan dg semua kecemburuan minho,serba du batasi bergaul dg sapa,dan akhirnya jiyeon sampai klimaksnya..
    mungkin enggak tu jiyeon lari ke amrik ketempat eomanya atau apanya,mencoba jauh dari minho..
    apapun yg kamu post ditunggu slalu..

  9. Nyesek banget baca nya nih…
    hubungan mereka jadi renggang lgi gara2 minho yg terlalu protektiv. salah minho jg ngobrol sama eomma tentang mantannya itu, ada jiyeon lgi drmh.
    hmm, mkin pelik ni kisah cinta minji dan kisah cinta masa lalu minho yg blm terungkap.
    tapi minho d akhir chapter ni bneran pingsan kah? wah, apa sakng pusing nya nyari jiyeon….
    d tunggu segera next chap nya yg lebih mendebarkan lagi…..
    fighting

  10. Nah loh minho knp tuh?
    Tp dengan pertengkaran ini mereka jd mengakui perasaan masing2 kan
    Minho sadar klo dy bener2 cinta sama jiyeon, bukan sebagai pengganti dan jiyeon juga ngaku klo udh jatuh cinta sama minho

    Mdh2an hub minji segera membaik ya
    Trus bisa lovey dovey deh hehehehee

  11. ternyata jiyeon denger percakapn minho dan ibunya,,,, pasti jiyeon salah paham,,,, minho kenapa pingsan, ada apa dengan minho,,,,

  12. She she she. Who she?
    Akhirnya 2dua nya dah saling cinta, yg pnting saling tau dulu deh masalah si dia mh urusan belakangan.
    Minho why? Pingsan?
    Ya ahirnya update ff ini skrang, kirain iya habis lebaran

  13. aish pasti sakit banget disaat dah jatuh cinta.ternyata kita hanya jadi pelarian aja ..jiyeon ampe sakit gara” mikirin itu.ternyata dia denger omongan minho ma eoma nya. minho nya ga kenapa” kan ?

  14. Omona jiyeon tau tentang dia??waduh gmn dong.. jadi makin runyam deh jadinya. Plis minho km bener2 hrs njelasin yg sejelas2nyaa ke jiyeon buat dia percaya dan kembali padamu. Padahal kalo menurutku minho sm jiyeon udh saling cinta. Itu minho pingsan kenapa ??
    next and fighting thor..

  15. jiyeon ternyata denger percakapan minho sama eomma nya??
    aigooo jiyeon pasti sakit bgt pas denger itu. tuhhh kan minho, nyesel kan udah jadiin jiyeon pelarian. itu knpa minho? pingsan kah?

  16. ouhh Jiyeon dah tau tentang dia,,dan membuat Jiyeon gamang akan perasaannya ma Minho karena takut disakitin…
    Jiyeon ma Minho bertengkar tapi itu membuat mereka tau perasaan masing”…. dan kuharap Minho bener” dah jatuh cinta ma Jiyeon dan ngelupain si dia itu…
    ouhh minho kenapa pingsan???
    ditunggu next chapter nya …..
    fightinggg…..

  17. ‘Dia’ itu siapa sih penasaran banget.
    Jiyeon udah mulai ada rasa tp salah paham gara2 denger obrolannya minho sama ibunya.
    Minho pingsan? Apa ketabrak? Kok jiyeon sampe teriak2
    Ditunggu next partnya

  18. Yaa begitulah laki-laki, baru sadar setelah ditinggalkan -_-
    Dan di chptr ini gaada hot hot nya wkwk
    Siapa diaaaaa?

  19. Ya anpun ngena bgt eonn 😦 aku mewek,kasian jiyeonnya:( tapi minhonya juga kasian . Lama bgt ga update ff aku nungguin banget ff iniii >< nextnya jangan lama lama yaaaaa

  20. nah loh jd bener jiyeon denger pembicaraan minho ma eomma nya , kan jiyeon jd nya ngeluarin emosi yg slama ini d pendam ngeri dah tu ..
    minho kasiann jiyeon , mudah2an minho bner2 udah lupain dia ..
    eh itu knapa minho ada apa2???

    *gak nyangka ini bakal d update d bulan puasa , sengaja nunggu buka dlu baru baca ehh trnyata aman2 aja wkwk

  21. aku new reader disinii. seharian baca ff ini dan ternyata belum tamat.. ><
    Suka banget dengan jalan cerita nyaa. suka sama semua ff kamu tentang minji couplee..
    Now I am your loyal readers… di tunggu kelanjutan FF nyaa. fighting!!!!

  22. yahhh akhirnyaaa enniii post ff ini juga omoooo ternyata jiyein udah tau klo minho masih blum move on dari mantanya gara gara percakapan minho sma ibunya..jadi makin penasaran sma nasib nya minho di tinggalin jiyeon..kasihan jiyeon apa karna mikirin itu jiyi jadi sakit…nexxttt eonnniii lanjutanannyaaa

  23. kasian bangett jiyeon jadi pelariaan semataaa😭
    ckkk, minho itu baru sadar kalo mencintai jiyeon disaat semuanya telah berakhirr.
    sedihh dehh baca part 6 ini, huhiii terbawaa emosii sampe naggis dikitt😭😪
    lanjuttt yaaa…

  24. Mampus minho dah ketauan
    Yak yak konflik mulai keliatan. Sebenernya udh bermasalah dr awal sih hihi. Itu minhonya pingsankah?

  25. akhirnya udah ada konfliknya
    hayo minho gimana rasanya ketahuan?
    akhirnya sakitkhan? kenapa sih ngga sadar2 dari mau jiyeonnya nnti sadar jiyeonnya udah meledak..
    loh kenapa tuh minhonya sampe jiyeon panik gitu???
    ditunggu next partnya udah ngga sabar semoga konfliknya lebih pelik 🙂

  26. DIA itu sebenarnya siapa sih ????
    Masa lalu minho yg sangat menyebalkan sekaligus menyedihkan ,,,
    Jiyeon itu sbg pengganti dia itu,
    Huh klo minho menganggap jiyeon sbg pengganti, minho bnern brengs*** dehhh

  27. Minho move on dong, ad jiyeon kali ngapain mesti ngigat dia yg udah ninggalin kamu, ak jadi baper deh ngeliat minho sedih gara2 bertengkar sama jiyeon , minho cepet deh bilang cinta sama jiyeon, jangan malah dijadiin pelarian, kan kasian jiyeon nya

  28. Sumpah konflik nya di sini kompleks banget sampe aku bisa terbawa suasan karna baca ceritanya. Jadi bisa ngerasaain perasaan mereka masing” gimana sakitnya.
    Sumpah ini cerita keren banget

  29. Gx nyangka kalo ternyata jiyi denger percakapan minho ma eommanya,,
    Jiyi udah cape, makanya dikeluarin semua unek²nya.
    Ngedenger jiyi mencintainya bikin minho speechless.
    Kalo emang kamu Cinta dan gx mau kehilangan jiyi, kejar donk bang, jelasin semuanya. Minho pingsan?

  30. Kyaaaaa mian thor aku telat bgt comennya,bru ngeh klu ak blum lnjutin bca ff ini,udh end pula…mianhe krna aku sibuk ma krjaan jd gk smpet bca ff klu gk ps weekend..dn trnyata aku lupa ff ini,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s