Posted in OBSESSION

4. OBSESSION : The Conversation Is Dirty

image

Love Is A Game That Two Can Play And Both Win –Eva Gabor

————————————–

“Aku ada jam kuliah respirasi, tiga jam lagi aku jemput dan aku harap kau tidak kemanapun.” Kata Minho memperingati. Tatapannya tidak bergulir kemanapun, hanya fokus pada objek di depannya. Baginya tidak ada hal menarik selain memperhatikan gadisnya, bahkan ekspresi gadis itu yang kaku cenderung risih membuatnya semakin tergoda. Walau posisinya mereka sedang berada di depan kelas endokrin dan situasi di lorong cukup ramai tidak membuat Minho malu ataupun takut. Ia justru sengaja menempelkan kedua tangannya di dinding pada posisi kanan dan kiri kepala Jiyeon.

Jiyeon sendiri berusaha keras untuk mempertahankan wajah galak, tapi itu semua hanya ada dalam imajinasinya. Kenyataan bahwa detak jantungnya selalu singkron saat berdekatan dengan Minho membuatnya frustasi sendiri. Ini bukan efek suka ataupun hal-hal menggelikan tentang percintaan, melainkan efek yang timbul karena rasa panik hingga menciptakan daya getar seperti suara jantung berdebar. Minho salah jika  berpikir Jiyeon akan menurut padanya, ia tipikal gadis keras kepala yang plin-plan.

Terkadang ia bisa berubah pikiran sesuai situasi. Jika semalam situasinya terpojok dan memutuskan untuk tinggal, beda halnya dengan sekarang saat situasi ramai dan banyak kemungkinan untuk melarikan diri. Setidaknya banyak celah yang bisa ia manfaatkan untuk niat tersebut.

“Ya.” Jiyeon bergumam ambigu, matanya bergerak kanan dan kiri berusaha menghindari tatapan tajam Minho yang semakin mengintimidasi, mengetahui bahwa Minho semakin mempersempit jarak diantara mereka membuat Jiyeon berpaling mencari objek menarik.

Minho tersenyum miring, “aku tahu apa yang kau pikirkan.” Katanya sambil mencium ujung kepala Jiyeon, kemudian Minho menunduk berusaha keras membuat Jiyeon yang lebih pendek darinya berpaling menatapnya.

“Wow, aku pikir kau berubah profesi dari penculik menjadi peramal.” Kata Jiyeon galak, matanya mengerling tajam membuat seringai Minho semakin lebar. Sifat aslinya keluar disaat seperti ini, disaat bukan hanya ada mereka berdua tapi puluhan mata lain yang mengawasi mereka berdua.

“Dan aku pikir kau tidak cukup berani untuk melawan.”

Jiyeon tertawa sinis, “jangan bercanda. Situasinya berbeda. Maksudku, disini aku bisa berteriak dan aku yakin kau tidak ingin terkena masalah.”

“Apa tuduhanmu? Aku yang menculikmu?”

“Kau yang ingin memperkosaku.”

Minho tertawa, untuk pertama kalinya Jiyeon melihat Minho tertawa. Jika saja Jiyeon baru mengenal Minho, mungkin saja Jiyeon akan langsung jatuh cinta karena tawa pria itu begitu renyah dan seksi. Tapi Minho tidak sesempurna itu, fisiknya mungkin terlalu berkilau, tapi kelakuannya sangat buruk terkesan suram. Kombinasi yang menarik, berkilau dan suram. Akan sangat indah jika di artikan dengan samar-samar atau kesan misterius.

Jiyeon masih memperhatikan Minho yang tertawa, menatapnya aneh juga bingung. Lalu saat tawa pria itu berganti kembali dingin membuat wajah Jiyeon pias seketika.

Minho mendekatkan bibirnya ke telinga Jiyeon, “aku bisa saja mengabulkan tuduhanmu itu.” Jiyeon melotot sadis, “jangan bercanda!”

“Itu tidak buruk. Lagipula aku tidak keberatan bercinta di tempat ramai.”

“Bercinta? Maksudmu pemerkosaan? Atau sex? Kau gila jika berpikir aku mau bercinta denganmu.”

Minho mengangkat bahunya tidak perduli, “bercinta tidak kedengaran buruk.” Jiyeon mendengus jijik, “kau mungkin tidak bisa membedakan antara bercinta dan sex atau pemerkosaan.”

“Jadi, kau itu calon dokter atau calon pakar sex?”

Jiyeon bersiap protes tapi Minho lebih dulu memotong dan mencium keningnya, “yang pasti, kau adalah calon istriku.”

Muka Jiyeon memerah karena kesal. Pria itu semaunya dan selalu bisa menjawab semua argumen Jiyeon. Bahkan Jiyeon tidak mengerti awal dari pembahasan apa yang menyebabkan pembicaraan mereka menjurus pada suatu pernikahan.

“Apa kalian tidak berpikir untuk mencari tempat yang sepi?”

Jiyeon menengok spontan bersama Minho, mendapati Luna yang sedang tertawa geli sambil menenteng dua tumpukan buku tebal. Gadis itu berdiri di dekat pintu kelas. Jiyeon hanya bisa menggeram dalam hati. Melihat tatapan menggoda Luna padanya membuat pagi harinya semakin menyebalkan. Dan juga saat Jiyeon berpaling ke arah lain dan mendapati tatapan semua mahasiswa tertuju padanya membuat Jiyeon mengernyit aneh. Ia kemudian memperhatikan Minho, kenyataan bahwa objek tatapan semua orang adalah keintiman mereka berdua dengan Jiyeon yang menyender pada tembok dan Minho yang mengurungnya dengan kedua tangan posesif membuat Jiyeon merasa malu luar biasa.

Jiyeon mendorong tubuh Minho sampai tercipta beberapa jarak, “sebaiknya kau kembali ke kelasmu. Sebentar lagi dosen ku datang.” Katanya berusaha untuk lepas. Tapi tidak semudah itu melepaskan diri dari Minho, Jiyeon tahu itu sejak awal. Ia hanya mencoba untuk lepas, setidaknya walaupun gagal ia sudah berani mencoba. Kemungkinan untuk bisa lepas dari orang macam Minho adalah suatu kemungkinan yang mustahil. Sekali lagi ia mencoba memperingati diri.

“apa?!” Ketus Jiyeon, matanya menatap Minho galak. Tapi pria itu hanya diam tanpa satu pun kata, berbanding terbalik dengan tindakannya yang di luar kepala. Minho kembali menarik Jiyeon, memeluknya posesif dan menciumi rambut Jiyeon dalam waktu singkat, “kau milikku.” Katanya dengan lembut.

Jiyeon hanya bisa terdiam untuk beberapa saat, sampai Minho pergi meninggalkannya, tanpa berbalik. Gadis itu menarik napas lega, mencoba menikmati udara bebas untuk sesaat. Kemudian ia menggeleng meyakinkan diri jika ini bukan kebebasan sesaat, tapi kesempatan emas untuk bebas selama-lamanya. Mungkin dia akan pindah kampus, atau pindah negara jika perlu. Kembali ia menggeleng, kali ini Jiyeon memutuskan untuk masuk kedalam kelas. Tatapan menggoda Luna menjadi pengiring langkahnya kedalam.

“Kalian manis.”

Komentar Luna langsung mendapat tatapan tajam mengintimidasi dari Jiyeon.

.

.

.

.

.

.

“Jadi, bisa jelaskan apa yang terjadi antara kau dan Minho?” Tanya Sulli protektif, Jiyeon berhenti menyedot milkshake diatas meja kantin sambil memberikan tatapan polos yang membuat semua temannya kesal sendiri, “jelaskan apa?”

Luna menunjuk sumpit ke wajah Jiyeon, “jangan bercanda! Tentu saja penjelasan tentang kau dan Minho. Sejak kapan kalian dekat?”

“Dan cari penjelasan yang masuk akal.” Lanjut Hyorin.

Jiyeon mengangkat bahu acuh, ia lebih memilih menghabiskan milkshake nya daripada menceritakan hal yang ia sendiri tidak tahu awal mulanya. Bercerita jika Minho tiba-tiba saja menciumnya di taman kampus, setelah itu di ikuti setiap hari, di culik yang berakhir dengan pelecehan semi seksual? Katakan Jiyeon idiot. Tapi ia lebih memilih mengarang cerita lain daripada menceritkan hal memalukan seperti itu.

“Kami tidak butuh diam mu, Park Jiyeon.” Kata Amber mulai merasa geram akan kecuekan temannya itu. Posisi Amber yang duduk disamping Jiyeon memudahkan gadis tomboy tersebut untuk membaca setidaknya ekspresi yang di tunjukkan Jiyeon. Tapi, Jiyeon terlalu pintar menyembunyikan ekspresinya. Amber hanya bisa melihat wajah datar tanpa senyum atau kerutan.

Amber menyerah bersikap drama queen.

“Dia itu tampan, tentu saja.” Jiyeon mulai penjelasan memutar tapi cukup untuk menarik perhatian kelima temannya untuk menyimak. “Maksudku, dengan wajah tampan seperti pria-pria di webtoon dan tubuh atlentisnya yang seksi, gadis mana yang tahan untuk menolak?”

“Langsung saja pada intinya, Ji.” Kesal Suzy yang sejak tadi hanya diam. Jiyeon balas menatap Suzy tidak kalah kesalnya, “kau mau dengar tidak? Kalau mau diam saja.”

Suzy memilih diam dan menyerah, pandangan teman-temannya yang lain seolah tajam mengintimidasi semakin membuatnya berhenti protes. Mendengarkan Jiyeon tanpa protes adalah pilihan bijak sementara. Suzy cemberut setelahnya.

Jiyeon kembali melirik teman-temannya sambil memainkan sedotan dan sesekali menyeruput minuman, “dia tiba-tiba saja datang waktu aku sedang duduk di taman belakang kampus. Awalnya aku biasa saja, tapi tiba-tiba dia mengenalkan diri dan saat itu aku sadar jika dia Choi Minho yang kalian bicarakan. Dia ramah dan baik.” Jiyeon merasa mual sendiri, tapi mendapati tatapan teman-temannya yang seolah percaya membuatnya bangga. “Kami mulai dekat dan dia selalu memperlakukanku seperti tuan putri. Aku merasa seperti gadis paling beruntung di dunia. Kemudian, dia bilang dia mencintaiku dan aku juga mencintainya. Tamat.”

Jika ada penobatan ratu drama queen, maka Jiyeon yakin ia akan menang. Bahkan apa yang ia ceritakan merupakan kebalikan dari apa yang sebenarnya terjadi. Minho sungguh beruntung karena Jiyeon jelas membelanya dalam kasus ini. Setidaknya pria itu harus memberikannya reward yang mahal.

“Waw.” Ekspresi Sulli berbanding terbalik dengan ucapannya. Gadis itu mengerling menggoda, “sudah sejauh mana hubungan kalian? Aku penasaran seberapa kuat Minho dalam semalam? Apa punyanya besar?”

Jiyeon tersedak minumannya sendiri, ia melotot tajam. “Jangan gila. Aku bahkan tidak ada pikiran kesana.”

“Kau bercanda? Kau bahkan tidak bisa memanfaatkan pria mu yang, oh Tuhan, Jiyeon! Dia sangat seksi, maksudku aku yakin kau akan puas.” Sulli mulai berargumen sementara yang lain mulai tertawa geli, Jiyeon justru kesal sendiri.

“Jangan samakan aku denganmu, jalang.”

Sulli mengerling merasa terhina, “ini negara bebas Jiyeon. Lagipula kita sudah besar, sex bukanlah masalah besar.” Katanya cuek, disampingnya Suzy tampak yang paling tertarik akan topik tersebut. “Ini perbedaan kau dan Jiyeon. Kau selalu berpikir modern dan Jiyeon berpikir kuno.”

“Hey, aku hanya tidak suka memberikan tubuhku pada pria yang aku sendiri tidak yakin dia akan menikahiku. Aku hanya ingin memberikan diriku yang utuh pada suamiku.”

Hyorin menambahkan, “seperti barang yang tersegel rapih akan lebih menarik daripada segelnya yang terbuka. Aku masih ingat perkataanmu, Jiyeon.”

Jiyeon semakin kesal mendapati teman-temannya mulai memojokkannya. Apasalahnya menjaga kesuciannya untuk suaminya nanti? Ia hanya ingin memberikan hadiah yang mahal pada suaminya. Mungkin dari teman-temannya yang lain hanya dia dan Amber yang masih perawan. Tapi dia bukan Sulli si pecinta sex, bahkan wanita itu bisa melakukan beberapa ronde dalam sehari dengan pacarnya. Bukan juga Suzy yang kebetulan kehilangan perawan akibat mantannya yang brengsek, dan bukan Hyorin yang menanamkan bahwa sex adalah pelengkap hidup.

Jiyeon juga bukan Luna yang kehilangan perawan akibat benda aneh yang dijadikannya bahan masturbasi.

Jiyeon hanya gadis yang berpikiran kuno. Ia mulai mengakui itu, tapi masih ada Amber yang sama sepertinya. Masih sama-sama menjaga keperawanan. Amber bahkan tidak segan mematahkan tangan pria yang berani menyentuhnya pada titik sensitif.

Mungkin karena Amber tidak memiliki ketertarikan khusus pada pria. Bisa jadi. Tapi, Amber normal.

“Jadi Jiyeon, apa kau masih berpikir untuk tidak meniduri pria tampan seperti Minho? Jika aku jadi kau, aku tidak akan bisa tahan.” Kata Sulli sambil memberikan tatapan sensual.

Jiyeon merinding geli, “aku bukan kau. Dan urus saja pacar tua mu itu daripada mengurusi pacar orang lain.”

“Salahkan pacarmu yang terlalu menggoda. Lagipula, pacarku tidak tua. Dia hanya memiliki umur yang jauh diatasku.”

Ya ya, apapun itu yang membuatmu bahagia.” Ketus Jiyeon membuat Sulli dan yang lain tertawa. Jiyeon kemudian melirik jam tangannya panik, “sisa lima belas menit. Aku harus pergi.”

“Biar kutebak. Kau mulai basah dan tidak sabar menemui pacar tampan mu?”

Jiyeon memutar mata jengah mendengar perkataan vulgar Suzy, “kau salah.” Jiyeon bersiap berdiri sambil memasukkan dompet dan handphonenya kedalam tas, “aku hanya ingin lari dari kenyataan. Bye, aku benci kalian.” Kata Jiyeon sambil memberikan kecupan satu persatu pada temannya.

                              OBSESSION

Jiyeon berjalan buru-buru keluar kampus. Sisa sepuluh menit dari waktu yang di berikan Minho. Jika tidak cepat-cepet Minho akan lebih dulu keluar kelas dan Jiyeon akan berakhir di apartemen mewah pria itu lagi. Demi Tuhan, Jiyeon benci di kurung. Selama ini hidupnya begitu bebas dan lepas. Ia rindu bar dan alkohol. Se kuno apapun Jiyeon, tetap saja alkohol akan sangat menggiurkan untuk diminum disaat stres seperti ini. Tidak banyak, hanya satu gelas sudah bisa membuat Jiyeon mabuk. Minum alkohol terlalu banyak tidak baik bagi kesehatan, apalagi untuk dirinya yang calon dokter.

Angin musim semi mulai menerbangkan rambut Jiyeon saat gadis itu mulai berlari kecil, melihat pintu gerbang kampus yang terbuka lebar seperti melihat pintu surga baginya. Surga kebebasan. Tapi tidak saat Jiyeon marasakan tangannya tertarik kebelakang, ada tangan besar yang mencengkram pinggangnya kuat dan benturan kecil antara hidungnya dan dada seseorang yang di akibatkan daya tarik gravitasi. Jiyeon mendongak bersiap protes, tapi tatapan gadis itu berubah memelas seperti tatapan kucing.

“Minho..” gumam Jiyeon tidak percaya. Ia hampir saja lolos, tapi Minho datang menggagalkan semua rencana yang sudah ia susun matang-matang. Di lihat dari posisi seperti ini Minho memang sangat tampan. Poninya yang menutupi jidat sedikit basah akibat keringat, juga cahaya matahari tampak tepat bersinar di wajahnya yang putih seperti porselin. Bagaimana bisa ada pria tampan seperti ini?

“Aku sudah bilang aku tahu apa yang kau pikirkan.”

Jiyeon meneguk ludah gugup, dari jarak sedekat ini Jiyeon bisa mendapati keuntungan lain atau bisa di sebut kesialan tepatnya. Tatapan tajam Minho seolah menusuk nya sadis, “aku tidak kabur. Aku hanya ingin membeli sesuatu di luar.” Jiyeon mencoba berbohong. Tapi Minho tidak merubah ekspresinya.

“Bagaimana jika kau lepaskan aku dan biarkan aku pergi sebentar? Aku akan kembali dalam waktu lima menit.” Lanjutnya mulai memberikan penawaran. Kesialan terjadi setelahnya, Minho justru semakin menekan tubuh Jiyeon pada tubuhnya, tangannya yang tadi digunakan untuk menarik tangan Jiyeon berganti meraih tengkuk Jiyeon guna mempermudah Minho untuk mencium Jiyeon. Tidak hanya mencium, tapi juga menghisap kuat bibir atas dan bawah bergantian. Reaksi Jiyeon yang berlebih menyebabkan mulutnya sedikit terbuka justru memberikan kesempatan untuk Minho memasukkan lidahnya kedalam mulut Jiyeon.

Sialnya, perkataan kotor teman-temannya tentang tubuh Minho yang sangat seksi membuat Jiyeon merasa tubuhnya terbakar. Akal sehat Jiyeon sudah hilang sepenuhnya akibat Minho yang terlalu mahir menciumnya. Jiyeon sendiri tidak sadar saat tangannya terangkat mengalungi leher Minho sambil membalas ciumannya. Mereka saling berciuman panas.

Jiyeon bernapas lelah, masih melingkarkan tangannya di pundak Minho. Lalu kepala gadis itu bersender di lipatan leher Minho sambil bernapas cepat, sedangkan kedua tangan Minho memeluk pinggang Jiyeon posesif. Jiyeon bertaruh jika ciuman pria itu memang sangat menakjubkan. Ia jadi malu sendiri tidak berani menatap Minho setelah kejadian barusan. Bahkan tatapan mahasiwa lain yang lagi-lagi terpusat padanya tidak ia perdulikan sama sekali.

Minho menciumi rambut Jiyeon, ia bisa merasakan itu dengan pasti. Wangi mint tubuh Minho sangat jelas tercium bercampur keringat. Sialnya, harum seperti ini membuat Jiyeon merasa tergoda. Ini seperti harum yang memabukkan. Mint dan keringat adalah kombinasi seksual. Jiyeon mulai membentuk rumus sendiri.

“Baiklah aku mengaku. Aku berniat kabur tadi.” Kata Jiyeon mengakui kesalahannya. Minho menyeringai puas, “aku sudah bilang kau tidak akan bisa lepas.”

“Aku tahu.” Jiyeon mengulangi, “aku tahu itu.”

Jiyeon memberanikan diri mendongak, “kau begitu menakutkan Minho. Kau ada dimanapun seperti hantu.” Keluhnya. Minho mencium ujung hidung mancung Jiyeon, “aku hanya ada di mana kau ada.”

“Itu lebih terkesan mengerikan.”

Minho tersenyum kaku melihat Jiyeon yang bergidik ngeri, pria itu lalu beralih menggenggam tangan kanan Jiyeon dan menariknya pergi, “ayo kita ke apartemen mu.” Jiyeon tersenyum senang, “kau akan mengantarku pulang?”

“Hanya untuk mengambil barang-barangmu untuk di pindahkan ke apartemenku.”

Wajah Jiyeon berubah masam. “Sialan. Harusnya aku tahu kau tidak mungkin membiarkan ku pergi.”

Tbc.

A/n: berhubung gue udah bilang bulan puasa bakal di pending, jadi sebelum puasa gue sempetin post obsession. Jd puasa bakal fokus ke vampire hall. Dan makasih bgt yg udah nunggu dan setia sama obsession dan vampire hall. Gue terharu kalo responnya positif:”)

Advertisements

Author:

If you Jiyeon fans, you must stay here. but, if you hate my fav idol..you must go on without drama. thx

69 thoughts on “4. OBSESSION : The Conversation Is Dirty

  1. kalah cepat dari minho nih jiyeon,seharusnya sejam dari waktu yg di janjikan minho..
    ah tapi percuma minho sudah tahu semua tentang jiyeon,kayaknya walau jiyeon keujung dunia pasti dikejar minho..
    jalan satu2nya jiyeon harus nyerah kwkwkw..

  2. Tuh kan minho makin berani aja dimana aja tebar kemesraan,kasain jiyeon gk bisa kabur. Wkwkwk… Temen2 nya jiyeon lucu juga.
    Sbnrny sedih jg klo ditunda ffnya ,tp yg penting masih ada ff mu yg lain yg terbit ya thor.

  3. minho nakutin bener-bener kaya hantu hihi, jiyeon nyoba kabur terus sih, coba nurut mungkin minhonya jadi lebih baik???

  4. Jiyeon yang sabar yaa, Minho benar-benar kaya setan selalu muncul dimana Jiyeon ada.. dan Minho bener-bener suka bikin iri semua orang deh.. bermesraan didepan banyak orang.. dan Jiyeon harus berbohong ke temen-temen nya bilangnya saling mencintai *eaaa* semoga aja cepet yaaa mereka bersama 😀

  5. ternyata cuma jiyeon yang masih polos,,, sulli wow,,,, apakah jiyeon bisa menahan pesona minho,,, penasaran lnjutanya,,,

  6. Yeiii nemu ff minji yang baru, eh tunggu, minho putih seperti porselin ? Btw aku suka minho yang bad boy, semaunya sendiri, egois dan yadong, banyakin ff minji dengan katakter minho yang seperti ini ya thor xD

  7. ya ampun mereka benar2 sedang talk dirty….
    dan pengalaman2 mereka tnntang se*…..
    untung jiyeon msih bersegel….
    tpi klo sma minho ?
    trus minho,,apa ada yng prtama ?
    next 🙂

  8. Suka banget kata kata jiyeon“Sialan.
    Harusnya aku tahu kau tidak mungkin
    membiarkan ku pergi.” sudah berharap eh tau tau nya … Cma plang bawa barang barang gahahh …

  9. Parti ini emang bahasannya menjurus ke arah sana ya kekeke.
    Tp untung blm apa part minho sm jiyeon begituan lol.
    Wkwk ternyata se geng yang msh perawan jiyeon sm amber.

  10. Minho makin over dimana pun jiyeon berada pasti minho juga ada di situ,semoga minho bener2 cinta sma jiyeon deh kelakuan nya minho makin bikin yang baca greget.

  11. Minho overprotect deh, ngga bisa ngeliat jiyi bebas, mau kabur aja udah ketahuan
    Udah kebaca kayaknya karakter jiyi, jadi minho bisa tau ap yg ad di fikiran jiyi buat kabur dr minho, makin seru nih Thor

  12. gila itu omongan temen-temennya jiyeon
    yah jiyeon ketauan nih,
    dimana ada jiyeon disitu pasti ada minong,minho hantu dong kkkk

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s