Posted in OBSESSION

3. OBSESSION : Obedient

image

Whatever the broken level of my heart, I never think in mind to leave you
–Anonymous
————————————

Banyak teori cinta yang sering Jiyeon baca lewat artikel ataupun quotes tentang suatu hubungan. Dari banyaknya teori cinta yang ia baca, Teori Cinta Elaine Hatfield adalah favoritnya. Sejak dulu Jiyeon selalu bermimpi jika kisah cintanya kelak persis seperti teori compassionate love. Cinta kasih sayang yang memiliki ciri saling keterikatan, sama-sama menghargai, kepudilian, dan rasa percaya. Bukan passionate love yang justru bersifat fana karena dipengaruhi oleh faktor ketertarikan fisik.

Jiyeon tidak bodoh, sejak awal ia sudah curiga mengenai apa yang Minho ultimatum padanya. Jiyeon ingin tertawa saat Minho bilang ia miliknya. Bahkan, Jiyeon sendiri tidak mengerti apa yang di pikirkan orang asing itu hingga memilihnya sebagai miliknya, bukan orang lain. Jika bukan faktor fisik, apa lagi? Bukannya ia ingin sombong dengan fisiknya sendiri. Tapi itulah kenyataan yang ada.

Contoh lainnya pembuktian bahwa passionate love memiliki arti adanya daya tarik emosi yang intens, kecemasan, dan senzualitas. Itulah yang menjadi faktor utama kenapa Jiyeon memilih teori passionate love. Mungkin ia harus menebalkan kata senzualitas sebagai faktor pendorong penting. Merasakan bagaimana Minho mengurung tubuhnya dalam dekapan saat tidur, juga tidak membiarkan tubuh Jiyeon bergerak sesenti pun membuatnya merasa tidak nyaman juga takut.

Jiyeon tidak pernah bersentuhan dengan pria manapun seintim ini. Oke, mungkin jika berpelukan atau berciuman Jiyeon pernah dengan mantannya terdahulu. Tapi tidak pernah seintim dan selama ini. Mengetahui fakta bahwa ini kamar satu-satu nya di apartemen Minho menjadikan alasan kuat kenapa mereka tidur satu ranjang, juga kekeras kepalaan Minho yang tidak menerima penolakan.

Tapi, Jiyeon tidak bisa tidur dengan keadaan seperti ini. Tidak dengan Minho yang memeluk leher serta pinggulnya protektif. Juga kepala pria itu yang menempel di perpotongan lehernya. Harum sampo Minho begitu kuat hingga Jiyeon nyaris tersedak. Mengetahui fakta bahwa Minho sangat tampan dan seksi saat tidur sedikit banyak membuatnya merona.

Jangan pergi…

Minho bergumam, membuat Jiyeon menghentikan pikiran tidak pentingnya. Gadis itu merasakan cengkraman pada tubuhnya semakin kuat yang di hasilkan pelukan Minho, Jiyeon juga bisa merasakan saat tubuh pria itu bergetar ketakutan. Jiyeon kemudian mencoba bersenandung sambil menghusap rambut Minho, merasakan ada air keringat yang membasahi tangannya.

Minho ketakutan dan begitu lemah, satu fakta lagi yang membuat Jiyeon semakin bingung juga labil. Disatu sisi ia ingin segera lepas dari pria gila ini, tapi di sisi lain ia merasakan jika Minho sama sepertinya. Sama-sama sendirian dan terbuang. Dan fakta itu yang membuatnya ingin tetap tinggal.

Jiyeon melirik kebawah, sekedar mengecek Minho yang mulai tampak tenang, membiarkan pria itu kembali tidur.

“Jangan pergi..” Minho bergumam sekali lagi, kali ini pelukannya tidak seerat tadi, ada sedikit unsur lembut juga hati-hati dan Minho memberikan ciuman kecil pada leher Jiyeon yang membuat gadis itu menggeliat geli. “Jangan pergi, Jiyeon-ah. Jangan tinggalkan aku.. aku mohon.”

Tidak ada yang bisa Jiyeon lakukan kali ini. Gadis itu hanya mendesah sedih sambil menatap langit-langit kamar tanpa berhenti mengusap rambut Minho. Kenyataan ini begitu membuatnya frustasi, ia bahkan tidak bisa memberikan keputusan yang tepat. Minho membutuhkannya, tapi Jiyeon tidak bisa mengorbankan masa depannya.

“Aku tidak akan pergi.” Kata Jiyeon disertai ketegasan dalam kalimatnya.

Biarlah ia akan menyesali ini di kemudian hari, Jiyeon terus menyemangati diri. Ia hanya tidak ingin masalah ini terlalu berbelit-belit. Sekeras atau sebesar apapun usahanya untuk lari, maka Minho akan semakin keras mengejarnya dan menyakitinya. Tapi, ia mencoba teori baru. Jika ia menyerah dan menurut maka besar kemungkinan Minho akan baik padanya. Setidaknya sampai pria itu bosan atau menemukan wanita lain, maka saat itu Jiyeon yakin ia akan terbebas dari ini semua.

Tidak menyadari bahwa ada seringaian yang ditunjukan Minho setelah Jiyeon bilang tidak akan pergi. Seringai yang menunjukkan kepuasan serta kemenangan. Suatu simbol bahwa Minho lah pemenangnya. Dan Jiyeon tidak akan bisa lepas sampai kapanpun. Tidak sampai Minho mati. Tidak akan pernah.

.

.

.

.

.

.

“Apa masih jauh?” Tanya Amber pada Hyorin yang sedang fokus menyetir, Hyorin memberikan lirikan sedikit lalu kembali memperhatikan jalan di depan, “dari informasi yang aku dapat, apartemen Minho ada di pinggir kota Seoul.” Amber membanting tubuhnya gusar pada senderan mobil setelah mendengar penjelasan Hyorin, sambil terus melihat jam di tangannya. Kenyataan bahwa jam sudah menunjukkan jam dua belas lewat lima belas menit tidak membuatnya menyerah mencari.

“Kau yakin kali ini alamatnya benar, kan? Kita sudah mengunjungi banyak apartemen seharian ini, tapi tidak juga menemukan apartemennya.” Keluh Suho yang duduk di kursi belakang samping kaca, disampingnya ada Suzy dan Sulli yang tertidur pulas. Sementara Luna di pilih tetap stay di apartemen Jiyeon, berjaga jika Jiyeon pulang nanti.

Hyorin melirik Suho melalui kaca spion, “kali ini aku yakin. Minho memang sering berpindah-pindah apartemen, tapi aku sudah memastikan bahwa apartemen yang ini adalah alamat yang sama yang ada di biodata kampus.” Jelasnya kemudian.

“Tapi aku masih tidak mengerti,” Amber dan Hyorin kembali melirik Suho. “Ada hubungan apa Jiyeon dan Minho? Yang aku tahu mereka tidak saling kenal.”

“Itu juga yang aku pikirkan,” Amber diam sebentar, kemudian gadis tomboy itu memilih menatap jalanan di sampingnya sementara Hyorin dan Suho sudah menunggu kelanjutan ucapannya. “Jiyeon tidak mungkin, kan berpacaran dengan Minho seperti apa yang dikatakan polisi itu? Jiyeon pasti bercerita jika dekat dengan pria manapun. Ada yang aneh.”

Hyorin mengangguk setuju, “lagi pula, Jiyeon tidak pernah terlihat tertarik pada Minho. Kalau Minho, aku memang beberapa kali melihat pria itu terus menatap Jiyeon.”

“Nah!” Suho berseru antusias, “ini bisa saja cinta sepihak, kan? Atau mungkin Minho itu memang sudah lama mengincar Jiyeon dan karena kalian tahu kan seperti apa Jiyeon? Gadis itu tidak peka, dan jadilah Minho yang menculik Jiyeon karena rasa sukanya tidak terbalas.”

Amber melotot ngeri, sementara Hyorin sudah tertawa keras membuat Suzy dan Sulli terbangun.

“Kau terlalu banyak menonton drama, Suho.” Keluh Amber sambil memberikan jitakan pada kepala pria satu-satu nya yang ada dalan mobil tersebut.

“Ini dia, kamar 1027.”

Hyorin, Amber, Suho, Sulli dan Suzy berdiri tegang di depan pintu apartemen. Berdoa dalam hati semoga apartemen yang mereka kunjungi saat ini benar-benar apartemen Minho. Mengingat ini sudah malam dan juga terlalu lelah setelah seharian mencari, mereka tentu saja berharap jika pencarian terakhir mereka ini membuahkan hasil.

Sulli menjadi yang paling tidak sabar, ia segera memencet tombol bel yang ada di sisi pintu. Mengetahui fakta bahwa pria incarannya berkencan dengan temannya sendiri tentu membuatnya sedikit terguncang, walaupun sebenarnya dia sendiri sudah memiliki kekasih. Tetap saja Minho itu pria favoritnya, di lihat dari sudut manapun pria itu nyaris sempurna, seperti gambaran nyata dari pria webtoon yang sering ia baca.

Dan rasa kagumnya itu semakin menjadi begitu pintu terbuka, menunjukkan sosok pria tampan dengan rambut acak-acakan yang justru membuatnya terlihat seksi. Juga kaos polo warna putih pria itu sedikit kusut dan pria itu hanya mengenakan boxer hitam polos yang memperlihatkan otot kaki nya yang menggoda.

Sulli nyaris pingsan.

“Dimana Jiyeon?” Amber bertanya to the point. Minho mengangkat satu alisnya sambil menatap orang-orang di depannya satu persatu sebelum memberikan senyum tipis dan mempersilhakan mereka semua untuk masuk.

Gaya interior klasik bertabur nuansa modern menjadi alasan utama Suho mengagumi isi apartemen Minho, ditambah luasnya apartemen ini sehingga apartemen lebih terlihat seperti rumah di banding apartemen. Ada juga kaca besar yang tertutup gorden putih tipis hingga Suho masih bisa melihat dengan jelas kerlap-kerlip lampu jalan yang berkilau.

“Jadi, apa Jiyeon ada disini?” Hyorin bertanya dengan nada tegas karena kediaman Minho. Pria itu hanya berdiri pongah sambil melipat kedua tangan.

“Tunggu disini.” Kata Minho bernada dingin, semua yang ada di situ tidak melepas pandangan mereka. Mulai dari saat Minho berjalan sampai Minho memasuki satu-satunya ruangan berpintu dan menghilang setelah pintu kembali tertutup.

Minho diam sebentar, duduk di sisi ranjang sambil memperhatikan Jiyeon yang tertidur lelap, mulut gadis itu terbuka sedikit tanda jika gadis itu tidur dalam keadaan lelah. Sejujurnya Minho tidak tega membangunkan Jiyeon, terlebih memperhatikan Jiyeon yang sedang tertidur merupakan bagian favoritnya yang lain, selain mencium bibirnya dan memeluknya.

Hanya usapan lembut pada pipi Jiyeon yang Minho lakukan, menekan ibu jarinya pada pinggiran bibir Jiyeon dan menciumnya kemudian sambil menghisap dan memberikan gigitan kecil. Terus seperti itu sampai Jiyeon menggeliat terganggu dan terbangun menampilkan mata coklat yang berkaca-kaca.

“Bangunlah.” Minho kembali mencium bibir Jiyeon, “ada yang ingin bertemu denganmu.”

“Siapa?”

Minho mengangkat tubuh Jiyeon hingga membuat tubuh gadis itu terduduk, kedua tangannya menangkup pipi mungil Jiyeon hingga pipinya terjepit kedua tangan besar Minho dan bibirnya menantang maju. Minho menciumnya, lagi.

“Bangun dan lihatlah sendiri,”

Minho melanjutkan, “Tapi kau harus ingat untuk tidak membuatku marah.”

Jiyeon mengangguk patuh membuat Minho memberikan hadiah dengan mencium keningnya, “anak pintar. Nah, sayang.. ayo temui tamu mu.”

                            OBSESSION

“Kenapa lama sekali sih?” Keluh Suzy sambil berdiri tidak nyaman membuat Sulli yang berada disampingnya merasa terganggu. Sulli memilih bergeser dan berdiri di samping Amber. “Lihat kan? Kalian lihat? Dia itu benar-benar tampan. Astaga aku tidak rela jika Jiyeon berpacaran dengan pangeranku.” Sulli berceloteh genit. Dan kali ini Amber yang bergeser karena merasa terganggu dengan suaranya.

Sementara itu Hyorin lebih tertarik memperhatikan isi apartemen Minho. Tidak ada lukisan di dinding, tidak ada juga foto. Hanya dinding polos bercat cream sedikit abu-abu. Disamping pintu masuk ada bar mini yang menyatu dengan dapur, lalu lemari berisi jenis-jenis alkohol. Hyorin tidak yakin Minho seorang pemabuk mengetahui pembawaan pria itu yang cukup tenang.

“Dasar pria sombong. Setidaknya dia menyuh kita untuk duduk, apa dia takut kita akan merusak sofa nya yang mahal itu? Oh Tuhan, kenapa dia begitu menyebalkan?! Padahal sofa itu begitu menggoda untuk di duduki.” Suho mulai berargumen sendiri, sambil matanya terus melirik kearah sofa putih gading berbentuk U lebar di belakangnya, Suho berani bertaruh jika harga sofa itu bahkan lebih mahal dari mini coopernya.

“Kalian kenapa ada disini?”

Sapaan Jiyeon yang lebih bernada terkejut membuat fokus teman-temannya tertuju padanya, melihat dengan jelas seberapa dekat Jiyeon dan Minho. Tangan kekar Minho yang melingkar di pinggang gadis itu semakin memperkuat dugaan jika mereka terlibat suatu ikatan. Dan lagi, mereka rasanya ingin mencekik Jiyeon karena ekspresi gadis itu begitu menyebalkan.

Setelah mereka panik karena kehilangannya dan berputar mengelilingi Seoul demi mencari Jiyeon, gadis itu justru bertanya seolah tidak ada yang terjadi.

“Oh, Tuhan. Apa yang Jiyeon pakai itu kaos Minho?” Sulli bergumam lirih, terkejut melihat penampilan Jiyeon. Gadis itu mengenakan kaos abu-abu kebesaran dilapisi hotpants dan rambutnya yang terikat acak-acakan menambah kesan sensual. Juga, Sulli dapat melihat dengan jelas lewat mata tajamnya bahwa ada tanda merah di garis rahang Jiyeon.

Sulli juga masih ingat bibir tipis Jiyeon yang selalu di lapisi lip gloss, tapi yang dilihatnya justru bibir itu agak sedikit membengkak. Membuatnya memikirkan hal-hal aneh dan liar.

Sulli bahkan tidak sadar jika teman-temannya sudah bersiap untuk duduk. Dan Jiyeon masih setia menempel dengan Minho. Andai saja ia punya tongkat sihir, maka Sulli akan menukar posisinya dengan Jiyeon. Betapa beruntungnya jalang cantik itu bisa duduk berdekatan dengan pria setampan Minho. Bonus tangan pria itu yang terus melingkari pinggang Jiyeon tanpa lepas sejak tadi. Sulli duduk sambil memberikan tatapan penuh protes pada Jiyeon tapi Jiyeon hanya menunjukkan wajah polos tidak mengerti. Dan Sulli semakin merasa sesak saat Minho semakin menekan tubuh Jiyeon merapat pada tubuh atlentisnya.

Dan puncaknya, Sulli semakin gila melihat Minho mencium rambut Jiyeon di depan mereka, di depannya. Mengabaikan jika saat ini mereka sedang terlibat percakapan penuh awkward.

Sungguh, Sulli bahkan tidak sanggup hanya untuk melirik.

“Kau benar, Minho memang sangat seksi.” Bisikan Suzy membuat telinganya panas seketika. Dan Sulli lebih memilih diam daripada berdebat, gadis itu perlu menormalkan detak jantungnya terlebih dahulu sebelum meledak di tempat. Ini sadis, ia bahkan mulai berpikir anarkis. Minho memang sukses membuatnya tidak waras, dan Jiyeon menjadi alasan ketidak warasan otaknya semakin nyata.

“Kau dan Minho benar-benar berpacaran?” Tanya Amber penuh selidik, menatap tepat ke titik pusat kornea mata Jiyeon. Cengkraman tangan Minho pada pinggang Jiyeon mengerat membuat tangan gadis itu sedikit bergetar. “Ya. Kau bisa melihat sendiri kan?” Jawab Jiyeon sambil mengusap lutut Minho, cengkraman tangan Minho mengendur berganti menjadi usapan lembut.

Hyorin menatap curiga, begitu juga Amber.

“Kau tidak pernah cerita pada kami, Jiyeon. Dasar menyebalkan.” Suzy memprotes keras, sambil sesekali memperhatikan Jiyeon dan Minho bergantian. Kemudian gadis berponi mangkuk itu tersenyum childish, “tapi kalian cocok! Aku setuju.” Serunya bersemangat.

Jiyeon tersenyum canggung, kembali mengundang tatapan curiga Hyorin dan Amber. Suho sendiri memilih memejamkan mata karena rasa kantuknya, dan Sulli lebih memilih menjadi pihak yang bisu.

“Jadi, kapan kalian mulai dekat? Kau sudah benar-benar move on dari Jb, kan?” Tanya Hyorin.

Jiyeon kembali merasakan cengkraman pada pinggangnya, lebih erat dan sakit. Minho terlalu kencang mencengkram pinggangnya membuat Jiyeon yakin akan ada bercak biru setelahnya. Jiyeon ingin menjawab melayangkan kata pembelaan, tapi suara dingin Minho lebih dulu membuatnya diam.

“Ini sudah malam. Aku yakin kalian tidak berencana untuk tinggal.”

“Cara mengusir yang halus, eh?” Sindir Suho, matanya bertatapan dengan Minho. Sama-sama menatap tajam. Kejengkelan yang membuat ngantuk Suho hilang.

“Jika kau berpikir begitu.”

Jiyeon semakin merasa bersalah. Ia tahu seberapa perduli teman-temannya padanya. Tapi disaat seperti ini Jiyeon justru tidak bisa berbuat apa-apa. Gadis itu mencoba memberi kode pada Amber dan Hyorin lewat tatapannya yang penuh sesal dan memohon untuk pergi, beruntung kedua temannya itu memiliki tingkat ke pekaan yang tinggi. Jadi, sebelum Suho dan Minho terlibat pertikaian yang lebih serius, Hyorin menyeret Suho, Sulli dan Suzy pergi setelah berpamitan pada Jiyeon.

“Kita bertemu besok di kampus.” Adalah kalimat terakhir yang Amber ucapkan sebelum Minho menutup pintu apartemen. Menatap Jiyeon penuh intimidasi.

“Aku tidak berbuat kesalahan apapun.” Jiyeon menunduk takut.

Minho hanya memperhatikan untuk beberapa saat, ia terlalu sensitif dengan pria lain yang dekat dengan Jiyeon. Melihat adanya Suho di tengah kumpulan teman-teman Jiyeon saja dengan susah payah ia tahan untuk tidak menendang pria itu keluar. Mendengar nama pria yang merupakan mantan pacar Jiyeon adalah puncak kesabarannya.

Tapi, Jiyeon benar. Gadis itu tidak melakukan kesalah apapun. Hyorin lah yang salah karena memancing Jiyeon dengan menyebut nama pria yang Minho sendiri malas menyebutnya.

“Kau tidak salah.” Kata Minho setelah terdiam beberapa saat membuat Jiyeon mendongak menatapnya. Tatapan seperti anak kucing yang membuat Minho semakin menggilainya membuat langkah kaki pria itu mendekati gadisnya yang berdiri kaku di dekat sofa. “Kau tidak bersalah karena kedatangan temanmu ataupun karena nama pria itu. Tapi, kau bersalah karena membuatku semakin menginginkan mu.”

“Minho, kau tidak akan…”

“Tidak.”

Minho membantah tegas, dia kemudian merangkul Jiyeon dan menariknya ke arah kamar mereka. Sambil menarik Jiyeon, Minho menciumi rambut gadisnya berkali-kali, “tidak sekarang, sayang.”

Tbc.

A/n: maaf telatnya parah bgt. Serius gue banyak urusan dan itu ganggu mood buat nulis. Mohon maaf juga nih, kalo di liat dr genre dan alurnya kayanya selama puasa gue bakal pending update obsession. Mungkin, kalo gue lagi halangan gue bisa nyuri waktu ngetik dan update. Dan setelah lebaran bakal aktif kembali 🙂

Advertisements

Author:

If you Jiyeon fans, you must stay here. but, if you hate my fav idol..you must go on without drama. thx

63 thoughts on “3. OBSESSION : Obedient

  1. ‘Tidak sekarang sayang’
    Oemjiiii berarti di next2 chapter doong hihihi.
    Kasian ji jadi kayak kepaksa gitu

  2. Minho kaya psikopat, tapi seruu.. suka jalan cerita nya feel nya dapet banget karakter minho juga cocok sama dia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s