Posted in OBSESSION

2. OBSESSION : Stalker

image

Finally, thanks for wonderfull poster selviawu74PosterChannel


When you are not here, I have to get snuggled up zone supplanting you -Anonymous-
————————————–

Perasaan gelisah terus Jiyeon rasakan sejak seminggu terakhir, sejak Minho menciumnya penuh gairah saat itu Jiyeon merasa hidupnya yang sempurna telah berakhir. Tidak ada lagi rasa ingin menjelajah, yang ada justru rasa takut ingin kemana-mana. Feeling seorang Park Jiyeon tidak pernah salah, dan feeling itu mengatakan jika ia telah di awasi sejak seminggu yang lalu atau sudah lama sebelum itu.

Kakinya menginjak tanah tidak sabar sambil setiap menitnya melirik jam tangan yang melingkari pergelangan tangan halusnya. Perasaannya semakin gusar begitu menyadari bus nya tidak juga datang, padahal hari sudah mulai gelap dan Jiyeon sudah berusaha keras menghindari Minho di kampus.

Tapi rasanya tetap sama.

Gadis itu tetap merasa takut, meskipun di sekitarnya masih ramai oleh pejalan kaki sepertinya, sama sekali tidak membantu apapun.

Sampai tiga puluh tujuh menit lamanya menunggu, akhirnya bus nya datang seolah melambai-lambai pada Jiyeon untuk segera masuk. Segera saja gadis itu masuk ke dalam bus karena sejak tadi dia merasa mobil Volvo putih yang berhenti di ujung jalan sana seolah mengawasinya membuat perasaan tidak nyaman itu menguat drastis.

Jiyeon benci ini, rasanya seperti di teror dan itu sangat menyebalkan.

Volvo putih itu bergerak maju seiring bus yang di taiki Jiyeon mulai kembali berjalan, meng-space tidak terlalu jauh juga menyamai kecepatan bus tersebut. Mata jelaga dari si pemilik mobil tidak pernah melepaskan pandangan pada bus, juga tersirat kekesalan untuk menabrak saja bus itu, menarik dan memaksa Jiyeon untuk masuk ke dalam mobilnya.

“Suho, kau dimana?”

Jiyeon berusaha keras menjaga suaranya agar tidak mengganggu penumpang lain. Ia duduk gusar sambil sesekali terus melihat ke luar jendela, mobil Volvo tadi benar-benar mengikutinya.

“Apartemen. Kenapa?”

“Bisa kau jemput aku di halte dekat apartemen? Tolong ini urgent.”

“Ada apa? Dimana kau sekarang?”

“Uh, I’ve had just about enough of this condition.”

“What’s the matter?”

Jiyeon kembali melirik mobil di belakangnya, mencoba melihat siapa di balik kemudi itu, tapi karena kaca mobil yang gelap di tambah pencahayaan lampu jalan yang kurang membuat Jiyeon hanya bisa menebak satu nama.

“Dengar,” Jiyeon membanting tubuhnya di sandaran kursi, “sudah beberapa hari ini aku merasa diikuti, that is very annoying juga membuatku takut.”

“Kau bercanda? Tendang saja bokongnya.”

“Shut up! Aku serius, berhenti menganggap ini lelucon.”

“Shit, you sure?”

“Oh Tuhan berhenti berdebat, Suho. Sekarang juga jemput aku di halte dekat apartemen, aku sudah mau sampai dan orang itu terus mengikutiku.”

“Baiklah, kau tunggu aku dan hutang penjelasana nona.”

“Ya. Jadi cepatlah.”

Setelah mematikan telepon dan memasukkan handphone nya ke dalam tas, Jiyeon kembali mengecek Volvo itu lagi, dan kenyataan jika mobil itu masih ada berhasil membuatnya depresi berat. Hingga suara getar pada handphone nya membuat Jiyeon kembali pada realita yang ada.

+010 12 4444 2070

Turun dan ikut denganku atau aku akan menarik mu secara paksa.

Minho sialan.

Jiyeon kembali menelpon Suho, memencet tombol call dengan tangan bergetar.

“Persetan dengan halte. Jemput aku di depan kantor polisi cepat!”

.

.

.

.

.

“Nama?”

“Park Jiyeon.”

“Keluhan?”

“Ada seseorang yang menguntitku.”

Jiyeon mendesis marah saat polisi di depannya menatap aneh, “apa tidak ada hukum untuk penguntit? Ini namanya pelanggaran, mengganggu privacy. Apa aku perlu ke komnas perlindungan anak?” Marahnya kemudian.

Tapi polisi itu masih diam, mata nya terpusat ke belakang Jiyeon sambil memberikan senyum sopan.

“Minho?”

Mati kau Jiyeon, mati.

Jiyeon tidak mengerti kenapa telinganya mendadak bermasalah. Polisi itu jelas menyebut nama Minho, dan suara gumaman pria itu terasa nyata di telinganya. Katakan ini lelucon, tidak mungkin Minho bisa ada di kantor polisi.

Mau cari mati?

“Aku kesini untuk membawa pacar ku pergi.”

Suara berat itu nyata, sangat nyata nyaris membuat Jiyeon pingsan di tempat. Pelan-pelan ia menggerakan kepalanya untuk menengok ke belakang, tidak lupa disertai ekspresi waspada.

“Dia pacar mu? Dia baru saja membuat laporan tentang penguntit.”

“Di penguntitnya!” Jerit Jiyeon spontan begitu yang di lihatnya ternyata Minho, pria yang sudah mencuri ciuman serta terus mengganggunya.

“Kau bercanda nona? Dia ini keponakannya direktur kami. Untuk apa menguntit mu. Apa ini semacam lelucon?!”

Jiyeon menatap polisi itu sadis, terlebih apa yang di lakukan Minho selanjutnya benar-benar membuat Jiyeon menaruh dendam pada polisi di depannya. Bagaimana bisa polisi itu hanya diam saat Minho menariknya berdiri dan mengurungnya agar tidak memberontak.

Kekerasan di dalam kantor polisi.

“Maaf paman, kami sedang bertengkar jadi dia suka mencari sensasi untuk menarik perhatian ku.”

Mata Jiyeon melotot ngeri sambil mendongak menatap Minho, “m-wo?”

Bibirnya bergetar, lagi-lagi tatapan Minho menyeramkan juga membuatnya tidak berdaya, “ah, ne.” Bodohnya Jiyeon justru mengiyakan karena panik. Membuat Minho menyeringai sombong.

“Dasar anak muda.”

Suara bantingan pada pintu tidak membuat Minho marah, pria itu justru langsung memakaikan sabuk pengaman untuk Jiyeon, memberikan kecupan kecil pada bibir gadis itu setelahnya.

“Sudah aku bilang, kau tidak bisa lari.” Suara napas Minho yang berbau mentol membuat bulu Jiyeon merinding, sensasi yang di ciptakan pria ini selalu bisa membuat Jiyeon seolah beku tidak bisa berkutik.

Mata nya kemudian menangkap siluet Suho yang baru turun dari mini cooper nya, merutuki bagaimana keterlambatan pria itu hingga ia berakhir di dalam mobil ini bersama orang gila yang sayangnya sangat tampan. Ia mengurungkan niat membuka pintu secara paksa, tidak ingin mencari masalah yang berakhir neraka baginya.

Minho terlalu berbahaya, harus nya Jiyeon menyadari itu sejak awal sebelum semua ini bermula. Harusnya Jiyeon tidak pernah bertemu pria ini, pria yang mengacaukan dunia nya. Menerobos masuk dan mengklaim bahwa Jiyeon adalah miliknya.

Memikirkan ini semua membuat Jiyeon pusing, juga lelah.

Ia memijit pelipisnya frustasi sambil memejamkan mata, membiarkan Minho bertindak semaunya, menyalahkan mesin mobil membawanya ke suatu tempat yang Jiyeon yakin akan lebih buruk dari ini semua. Jiyeon sudah pasrah, ia yakin dirinya sudah tamat.

“Aku akan mengantar mu pulang.”

“I cannot say that I fell happy.”

Minho melirik sekilas Jiyeon yang sedang menyenderkan kepalanya di kaca mobil sambil memperhatikan jalan, “hn,” hanya gumaman ambigu yang Minho utarakan. Tidak cukup untuk menarik minat Jiyeon untuk berdebat atau setidaknya menghilangkan bosan.

Jiyeon berusaha mengingat setiap jalan yang di lewatinya, jaga-jaga jika Minho berbuat nekat membawanya lari dan menyekapnya di tempat yang jauh dan menyeramkan. Ini konyol, tapi sikap paranoid Jiyeon mulai muncul seiring jalan yang di lewatinya terasa asing.

“Ini bukan jalan menuju apartemen ku!” Jiyeon menunjuk jalanan di luar, rasa marah yang di pendamnya sejak tadi meluap sudah, keterlaluan. Innernya terus menjerit, memaki atau apapun itu yang dirasa tidak mungkin di ungkapkan.

Mungkin ide bagus jika Jiyeon mencekik Minho saat ini, tidak ada yang melihat juga menyalahkan. Jiyeon tinggal membuang mayat Minho ke jurang setelah itu masalah selesai dan hidupnya pun menjadi tenang. Tapi permasalahan utamanya adalah Minho terlalu menyeramkan atau Jiyeon yang mendadak menjadi penakut.

Sial, Minho bahkan sama sekali tidak menjawab pertanyaan. Jelas Minho mendengar, tapi pria itu justru menaiki kecepatan mobil membuat Jiyeon kembali mengerang marah.

“Demi Tuhan! Dasar idiot menyebalkan. Alien payah!!!”

“Aku sudah bilang akan mengantarmu pulang.”

“Tapi ini bukan jalan ke apartemen ku, tuan. Kau mau menculikku, hah?!”

“Kau pulang ke apartemenku.”

Mata gadis bermanik coklat ini mengerjap panik, “a-apa? Kau bilang apa?”

“Kau pulang ke apartemen ku. Tidak ada komentar apapun jika kau tidak ingin aku memperkosa mu saat ini juga.”

“Oh Tuhan!” Jiyeon menjambak rambutnya frustasi, masih menatap tajam Minho yang sangat santai mengendarai mobil. “Perkataan mu sangat menjijikan.”

“Diamlah. Kau terlalu banyak bicara.”

“Kau ingin aku diam? Baiklah aku akan diam setelah kau memutar mobil mu dan antarkan aku ke apartemenku atau kembali ke kantor polisi dan membiarkan aku pergi bersama Suho. Dan berhentilah mengg–”

Minho menghentikan mobilnya di pinggir jalan, ada suara decitan saat mobil itu berhenti mengingat se kencang apa Minho mengendarai Volvo nya, nyaris membuat dahi Jiyeon membentur dashboard, nyaris dan itu akan terjadi jika Minho tidak lebih dulu menarik wajah Jiyeon dan menciumnya berutal.

Sama seperti ciuman di taman, tidak ada kelembutan melainkan nafsu yang membuat Jiyeon tidak bisa mengimbanginya. Gadis itu meremas punggung kemeja Minho, menjeritpun tidak bisa di lakukan. Ciuman kali ini lebih menuntut, kasar, dominan, juga agresif.

Rasanya sabuk hitam taekwondo nya tidak bisa di banggakan di situasi seperti ini. Yang ada otot Jiyeon terasa tegang dan kaku. Saat Minho semakin memperdalam ciumannya gadis itu memilih pasrah, pasrah sambil menahan tangis karena harga dirinya sebagai perempuan sudah di lecehkan untuk kedua kalinya.

“Ah,” ringisan rasa sakit akibat gigitan Minho pada bibirnya menjadi peluang untuk Minho memasukkan lidahnya ke dalam mulut Jiyeon, membuat lidah pria itu bersentuhan dengan lidahnya. Jiyeon berusaha keras mendorong lidah Minho keluar sambil menjambak rambut pria itu, tapi hal itu justru membuat libido Minho naik.

Hormon remaja sialan. Balasan yang di dapati Jiyeon bukan Minho yang menghentikan ciuman ini, tapi lidah Minho justru menghisap kuat-kuat lidah Jiyeon sambil merapatkan tubuh mereka. Jiyeon bersumpah tidak pernah merasakan sensasi seperti ini, sensasi seperti kulit terbakar namun ada sedikit rasa nikmat yang membuatnya kesal. Jiyeon bahkan tidak sadar kapan Minho melepaskan sabuk pengaman mereka berdua. Yang Jiyeon tahu, saat ini tubuh mereka benar-benar rapat hingga Jiyeon bisa merasakan ereksi pria ini.

Semakin rapat sampai dada nya sesak terlalu menekan dada bidang Minho. Pelukan pria itu pada tubuhnya juga semakin kuat dan berlebihan. Dan lagi pria itu beralih pada cuping telinga, menghisap dan menggigit sebelum menjilati leher dan menjalar ke tenggorokan. Lututnya sudah lumpuh total, bergerak pun rasanya enggan.

“Aku tidak suka ada nama pria lain yang keluar dari mulut mu.” Minho beralih mengecup tulang selangka Jiyeon, membuat gadis itu menyesal karena mengenakan kaos v-neck yang justru membuat Minho lebih mudah menciuminya. “Dan aku juga tidak bisa membiarkan milikku satu gedung apartemen dengan pria lain.”

“Aku sudah bilang kau milikku. Jadi jangan pernah membuat aku marah.”

Jiyeon membuang muka ke jendela begitu Minho melepaskannya, “I cannot hold it anymore. Pertama kau mencium ku di taman, lalu menguntitku setiap hari, membuat hari-hari ku buruk karena itu sangat mengganggu. Ketiga kau bilang aku milikmu, seenaknya menyeretku dan memaksaku tinggal dengan mu. Oh no, what now?” Jiyeon berbalik menatap Minho kemudian memukul-mukul bahunya sambil menangis histeris, “you want raped me? Apa aku semurahan itu di matamu?!”

“Jawab brengsek!”

Minho mengabaikannya, sekali lagi itu melukai harga dirinya sebagai perempuan. Pria itu lebih memilih menginjak gas membiarkan Jiyeon terus menangis dan memakinya.

“Kita bahkan tidak saling kenal. Dan aku tidak tahu apa kesalahan ku padamu.”

Salahnya, kau terlalu mirip dengan dia.

                               OBSESSION

“Handphone nya masih tidak aktif.” Luna menatap handphone nya sedih, sudah sejak semalam sejak Suho menceritakan kronologis bagaimana Jiyeon menelponnya, mengatakan ada seseorang yang menguntit dan menyuruh Suho untuk menjemput di kantor polisi.

“Kau yakin polisi itu bilang Jiyeon pergi dengan pacarnya?”

Amber menatap tajam Suho yang tampak bersalah, “ya. Aku pikir Jiyeon memang diam-diam punya pacar. Jadi aku tidak mempermasalahkannya dan kembali ke apartemen.” Akunya kemudian.

“Tapi kau jelas tahu Jiyeon tidak punya pacar. Dan kau jelas mendengar sendiri Jiyeon ketakutan. Gadis bodoh itu tidak mungkin pergi ke kantor polisi hanya untuk mencari sensasi.”

“Tapi polisi bilang Jiyeon sendiri yang meng-iya kan.”

Amber menendang meja Suho, “kau percaya? Kau percaya begitu saja? Bagaimana jika saat itu Jiyeon sedang di ancam?” Suho meneguk ludahnya gugup, tapi pria itu tetap menatap mata Amber yang di selimuti amarah. Sulli dan Suzy masih berusaha menghubungi Jiyeon, sementara Luna tampak menenangi Amber.

“Apa yang akan kita lakukan? Kau tahu sendiri Jiyeon hidup sendiri di Seoul. Setelah orang tua nya bercerai dia tidak mempunyai siapa-siapa lagi selain kita.”

Suho semakin merasa bersalah, seharusnya semalam ia tidak percaya begitu saja. Seharusnya ia bersikeras mencari Jiyeon. Amber benar, Jiyeon tidak memiliki siapa-siapa. Orang tua nya pergi tidak memperdulikan, hanya kiriman uang setiap bulan yang menjadi dasar hubungan anak dan orang tua.

“Aku akan meminta bantuan teman-teman yang lain.” Putus Suho, ia langsung menghubungi satu-satu nomor telepon temannya sambil memperhatikan rutinitas yang terjadi di luar lewat jendela yang ada di apartemennya.

Dan suara bel pada apartemen Minho membuat mereka semua menghentikan aktifitas masing-masing. Saling berebut melihat berharap itu adalah Jiyeon.

Kenyataan bahwa itu bukanlah Jiyeon melainkan Hyorin membuat bahu mereka lemas begitu saja.

“Aku tahu Jiyeon dimana.”

“Makanlah.”

Jiyeon menolak.

“Makan.”

Untuk kesekian kalinya Jiyeon tetap menolak. Memilih meringkuk diatas kasur sambil menutupi tubuhnya dengan selimut. Menantang Minho dengan aksi protesnya untuk tetap diam.

“Park Jiyeon!” Suara dingin Minho tidak juga membuat Jiyeon membuka selimut. Minho mengenakan celana piyama dan t-shirt putih polos tipis, berdiri di sisi tempat tidur sambil membawa satu piring pasta, tapi pria itu langsung menaruh dengan kasar piring ke atas meja disamping tempat tidur.

Minho menarik paksa selimut, menunjukkan betapa berantakannya Jiyeon. Kaos v-neck biru navy nya masih ia kenakan, namun rip jeans sudah tergantikan hotpants dan rambutnya begitu mengenaskan dengan kusut dimana-mana.

Gadis itu langsung berbalik badan, memunggungi Minho sambil kembali meringkuk dramatis.

“Kau membuatku marah.” Amuk Minho, ia menarik paksa tubuh Jiyeon untuk berbaring lurus, menindih tubuh kurus itu dengan badan tegapnya. Jiyeon bisa melihat sendiri seberapa kencangnya otot tangan Minho, tapi itu semua tidak penting sekarang.

Gadis keturunan Park ini mulai menampilkan wajah menyedihkan, “aku mau pulang.” Isaknya, tidak kuasa menahan tangis dan sok tegar. Nyatanya gadis itu begitu lemah.

“Ini rumah mu sekarang.”

Minho mencium bawah mata gadisnya berniat menghapus air mata, “bukan. Aku mau apartemen ku.” Amarah itu kembali muncul, Minho tidak suka ini. Minho tidak suka Jiyeon menolaknya. Susah payah pria itu untuk mendapatkan Jiyeon, lalu dia akan melepaskannya begitu saja? Tidak akan. Pria ini sudah terlanjur terobsesi, semua yang ada pada diri gadis itu membuatnya overdosis.

Jiyeon merintih sakit dibawah tindihan Minho, bagaimana cara pria itu menjambak rambutnya sambil kembali mencium paksa bukanlah sesuatu yang harus di nikmati. Pria ini sangat kasar, tapi juga terkadang lembut.

“Sakit,” mata Minho masih menatap tajam mata gadisnya saat Jiyeon mengeluh sakit, wajah Minho mengeras menciptakan otot pipi nya yang terlihat jelas, “kau jelas tahu aku bisa melakukan lebih dari ini jika kau tidak mau menurut.”

Hidung mancung mereka bersentuhan, sambil sesekali Minho menggigit bibir atas dan bawah Jiyeon bergantian, “jadi sayang, diamlah dan jangan menolak.” Minho tersenyum, senyum aneh yang lebih menyerupai seringaian saat Jiyeon mengangguk patuh.

“Kau mau makan?” Tanya Minho setelah bangun dan duduk di sisi tempat tidur, kembali menyeringai saat Jiyeon tidak menolak melainkan mengangguk yakin.

Tbc.

A/n: kalian tau jiyeon sama minho mau mc brg lagi? Damn! Gue pengen meledak gilssssssss. Akhirnya couple favorit gue dipertemukan kembali!!!! Minji jjang!! Dan berkat itu gue jd semangat cepet update HAHAHAHA

Advertisements

Author:

If you Jiyeon fans, you must stay here. but, if you hate my fav idol..you must go on without drama. thx

89 thoughts on “2. OBSESSION : Stalker

  1. yahhh loh kok minho nya tambah nyeremin gitu sih, kan kasihan jiyeon nya
    Tapi minho gk psyco kan? please jebal jangan jadikan minho sebagai seorang psyco gitu, cukup terobsesi aja, tapi terobsesinya Yg aman” aja, lol
    lanjut!!!

  2. omegat minho serem banget thor tapi suka sama karakternya kan kalo orang terobesesi kaya gth tapi minho akut banget jiyeonnya jadi takut tapi sedih juga sih minho gtuin jiyi cuma karna jiyi mirip sama seseorang 😦
    uhhh suho kenapa baru nyadarnya tunggu dibentak dulu si sama amber cepetan cariin jiyi keburu diapaapain tuh sama minho 😦
    ahhh aku juga seneng banget thor minji ngemc bareng lagi 🙂 udah kangen sama mc minji 🙂

  3. ya ampunn minho bener2.. kasihan dong jiyi nya.. bisa lembut gak sichh.. jgn pke kekerasan.. sabar jiyi.. Nextt ^^

  4. Benar” takut Q sama kejiwaan Menong yang awal’a obsesi entar menjadi psiko yang sadis ya ampun semoga Menong sembuh walau ngak sekarang” tapi nanti dan bisa ngak sih Menong bersikap wajar dan buat Jiyi jatuh hati tapi kalau gitu ngak ada tantangan’a ya

    Jiyi sampe frustasi gara” diuntit Menong terus sampe dia dilecehkan walau ngak terlaku fatal tapi kalau terus” gitu Jiyi lama” bisa mengalami trauma psikis dan malah gila ya ampunn ngak ngebayangin dah

    Itu Hyomin tau dimana Jiyi apa jangan” dia yeoja yang bikin Menong “sakit” atau ternyata masih ada cast yeoja lain yang belum terungkap

    OMG MINJI MAU MC BARENG HUWAAAAAAA PARTNER LAMA BERJUMPA KEMBALI

  5. sumpah klo jd jiyeon bakal takut bgt gitu , polisi main percaya aja deuh trus klo dia keponakan direktur napa halahh polisi jaman sekarang .. keke
    minho serem bgt .. ada apa ma minho knapa kasar bgt , gk bisa lebih lembut gitu biar jiyeon bisa nerima minho ..
    duhh penasaran next dtunggu chingu ..
    fighting ..
    MC minji couple back . yeahh

  6. Masa minho suka sam jiyeon karena mirip mantan nya,, huuuu gk terima,, minho seenaknya aja sama jiyeon,, serem kalqu minho kayak gtu

  7. dasar minho psyco kan jiyi bukannya suka malah jd takut.. minho itu punya kelainan jiwa bukan kejam banget kaya gitu..

  8. Jiyeon dlm bahaya nih. Minho kyk orang pisikopat. Sayang sm jiyeon tp disaat itu juga dia bisa menyakiti jiyeon. Semoga aja teman” jiyeon bisa nyelamatin dia.

  9. Minho bukannya bikin jiyeon buat suka sama dia tapi malah bikin jiyeon takut 😠 apalagi sikap sama tingkahnya nunjukin dia kek psycopat kan malah buat jiyeon makin takut
    ditunggu next nya

  10. Minho sampe overdosis ke jiyi,, tp jan jadiin jiyi pengganti siapa itu donk min, km harus bener² cinta in jiyi.
    Minho nakutin gitu, tp aq enjoy aja bacanya.
    Jiyi yg kuat yah.
    Jiyi cmn sendiri di Seoul,, 😦
    Hyorin beneran tahu keberadaan jiyi kah?
    Lanjut min….

  11. minho serem ihkk.. suka sih boleh tapi ga segitunya kalii, atuh Jiyeon jadi takut jadinyaa gara-gara dipaksa.. tapi kalau udh suka mah sulit sih.. tapi keren seriussan ceritanyaaaa… Ditunggu Next partnya lagii..

  12. Wah minho jangan kasar2 dong, itu minho emang terobsesi atau udah jatuh cinta banget nih sama jiyeon hahaha…
    ceritanya bagus banget

  13. Tulisan mu memang bener bener keren feel nya dapet… enak banget di baca typo ugh ngga ada *toh saya ngga merhatiin fokus ke cerita apa lagi semua chararak ter nya memukau… Ini bener bener keren

  14. Feel nya dapet banget, ngeri banget sama karater minho disini , dia kaya over banget sama jiyeon, jiyeonnya jadi takut

  15. Karakter minho disini serem banget, kayak psikopat kekeke.
    Tp semoga nanti dia nggak terobsesi yang sampe segitunya deh ke jiy. Kasian jiyinya digituin gara2 mirip sama si ‘dia’

  16. Hmm minho serem tp emh ya/? Jd jiyeon mah diculik cem minho malah seneng /gak . Penasaran nanti gimana caranya minho bisa bikin jiyeon lulhh

  17. Otp banget wkwk minhonya seremtp bikin mhh l/? Klo jd jiyeon sih seneng diculik macem minho malah gamau pulang /gak. Tp penasatan himana nanti dia bikin jiyeon luluh….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s