Posted in OBSESSION

1. OBSESSION : I Find You

image

Minho tidak pernah seperti ini, begitu mencintai seseorang hingga gila karenanya. Manik coklat susu nya yang cemerlang, senyum menawan, rambut ikal hitam panjang, serta postur tubuh proposional sang gadis seakan terus terbayang hingga menciptakan suatu euforia sepektakuler. Suatu rasa yang bahkan tidak bisa terkendali hingga Minho menyadari satu hal, dia –Park Jiyeon adalah miliknya dan tidak ada satu orang pun yang boleh menyentuh miliknya. Bahkan seujung kuku pun, Minho tidak akan pernah rela.

He saw you anytime, anywhere, everyday
Don’t touch if you can be safe
Because, he’s always come

.

.

OBSESSION
.

.

Choi Minho & Park Jiyeon
(Little bit romance and violence)

————————————

Ketika penghujung musim dingin, Minho senantiasa berdiri di ujung rel kereta yang tertutupi salju. Tubuhnya dilapisi coat berwarna coklat kelabu, seiring matanya yang terus memperhatikan hamparan bukit bersalju di ujung rel sana, pria itu hanya bisa diam termangu menunggu seorang gadis yang diharapkan akan datang kepadanya kembali walau penghiatan yang dia lakukan mampu menorehkan luka tersayat.

Dia, sosok yang menemani harinya satu tahun lamanya. Pergi bersama laki-laki lain yang lebih tampan. Pria itu tersenyum pedih ketika ulasan masa lalu melintas mencabik-cabik jantungnya, bagaimana tiada hari tanpa mereka habiskan waktu bersama, berbagi keluh kesah serta canda tawa. Minho akan menghapus air mata gadis itu ketika bersedih, dan akan memeluknya ketika bahagia.

Hingga malam menjelang, sang gadis tidak juga datang membuatnya kembali merasa terbuang. Bukan senyum pedih lagi yang ia tunjukan, melainkan senyum sinis penuh dendam. Sambil merapatkan coat nya, Minho berbalik pergi berjalan sendirian menyisiri jalan bersalju. Mata hitam jelaganya menatap jalan penuh dengki, hingga sesuatu mengenai kakinya sampai terasa nyeri. Minho kemudian memilih duduk di bangku pinggir jalan ditemani sorot lampu kuning keemasan, dibukanya sepatu bot dan menyaksikan sendiri bagaimana kakinya berdarah terkena paku.

“Oh, astaga tuan.. kaki mu terluka.”

Minho mendongak, melihat seorang gadis bermantel tebal hijau tosca sedang menaruh dua kantong pelastik belanjaannya di sisi trotoar. Gadis itu merogoh sesuatu didalam tasnya disertai mimik panik. Minho hanya diam, terlalu tertarik melihat ekspresi gadis yang baru dijumpainya ini.

“Ini bisa membantu menyumbat darahnya agar tidak keluar.”

Gadis itu melilitkan sebuah sapu tangan berwarna pink ditelapak kakinya, mengabaikan tatapan tajam Minho yang sejak tadi terus memperhatikan. Ketika lilitan dikakinya selesai, gadis itu mendongak dan sempat terlonjak kaget begitu bertemu dengan mata jelaga Minho. Tidak lama, karena setelah itu gadis itu menyunggingkan senyum ceria menunjukkan deretan gigi putihnya yang rapih hingga matanya menyipit lucu.

Gadis bersurai dark black itu memilih acuh dan berdiri, beralih mengambil kantong belanjaannya kembali, kemudian kembali berbalik dan masih mendapati tatapan tajam Minho yang tertuju padanya.

“Lain kali hati-hati,” gadis itu menepuk bahu Minho berulang, “aku pergi. Dah.” Sebelum berbalik gadis itu menyempatkan diri untuk memberikan senyum cerianya mengabaikan suasana menusuk yang dirasa tidak nyaman.

Pada akhirnya gadis itu menghilang di tikungan jalan, membuat seringai Minho tercipta seiring kepergiannya.

Ya, gadis itu. Gadis yang baru saja ditemuinya beberapa menit lalu sangat mirip dengannya, mirip dengan orang yang dulu telah menghianatinya. Gadis itu telah memunculkan kembali perasaan berdesir yang telah lama terpendam akibat sentuhannya. Namun rasa ini berbeda, perasaan ini lebih kuat dan menyiksa. Seolah Minho akan mati jika tidak memiliki sosoknya. Gadis itu lebih berbahaya daripada narkotika, gadis itu memiliki aroma vanilla dan mint yang menggoda.

Sesuatu terasa membakar tubuhnya yang dingin. Tidak akan pernah Minho melepaskan gadis itu, gadis itu satu-satunya obat atas ke frustasiannya selama ini.

Dia tidak boleh lepas.

Tidak boleh berpaling.

Gadis itu ditakdirkan untuknya,

….sebagai pengganti.

“Park Jiyeon…”

Minho mengingat kembali kalung yang dikenakan gadis itu, kalung emas putih berukir nama Park Jiyeon dengan permata perak yang menghiasi.

“….aku menemukanmu.”

.

.

.

.

“Kalian harus tahu!” Sulli menggebrak meja yang dikerubungi teman-temannya, mengabaikan protesan mereka sambil terus histeris disertai mata penuh binar.

“Jurusan kedokteran kedatangan murid baru. Serius, dia sangat tampan.”

Suzy menoyor kepala Sulli, “aku pikir ada apa. Kau itu terlalu heboh hingga membuat yang lain ikut menapatmu penuh minat.”

Kedua bola mata Sulli berputar menatap teman-teman kelasnya sedang menatapnya penasaran, gadis itu lalu memberikan senyum canggung sambil mengacungkan dua jari tanda perdamaian. Atensinya kembali pada teman-temannya yang lain, berbisik tidak ingin memancing yang lain untuk kedua kalinya.

“Kali ini aku serius. Dia tampan, sangat. Wajah dinginnya mencerminkan bad boy yang penuh misteri. Aku bersumpah aku jatuh cinta.”

“Kau selalu jatuh cinta pada lelaki tampan, nyonya Choi.” Sahut Amber, gadis berambut pendek berpakaian casual itu memilih cuek sambil memainkan smartphone ditangannya.

“Oh dan jangan lupakan pacar tua mu itu.”

Hyorin tertawa mengejek yang dibalas pukulan halus Sulli pada bahunya, “kau menghancurkan impianku, sialan.” Protesnya kemudian, gadis yang sejak tadi tampak semangat itu memilih duduk di bangku samping Amber tanpa minat.

“Tunggu, kau bilang dia masuk kedokteran?”

“Ne. Kenapa? Penasaran? Jangan lupakan pacar muda mu itu nona Lee.”

Hyorin mendengus sebal, “bukan itu bodoh.”

“Maksudku, bukankah Jiyeon itu mahasiwi kedokteran? Wah, beruntung sekali gadis tengil itu.”

Suzy terbahak mendengar komentar Hyorin, “gadis tengil kita akhirnya bisa cuci mata.” Amber mulai tertarik, gadis yang terkenal cuek nya itu memasukkan smartphonenya kedalam saku celana kemudian mencondongkan tubuhnya kearah Suzy dan Hyorin yang duduk didepannya, “itu pun kalau si murid baru tidak ingin sakit hati. Jiyeon kan lebih mencintai obat-obatan daripada siapapun.”

Dan Suzy kembali terbahak sementara Hyorin tertawa geli.

Yosh. Dosen statistik menyebalkan itu tidak datang.”

Lengkingan suara Sulli membuat atensi semua kelas menatapnya lapar, dirinya pun langsung menunjukkan layar handphone nya yang menampilkan chat dari sang dosen disertai cengiran polos hingga menciptakan suara riuh penuh rasa syukur.

Gadis bermarga Choi itu kemudian berdiri membuat ketiga temannya melayangkan tatapan penuh tanya kembali.

“Aku pikir, aku sedang merindukan sahabatku si mahasiswi kedokteran.”

Suzy meraih tas gendolnya lalu menggandeng lengan Sulli, “well, walaupun semalam aku habis dinner dengannya aku juga merindukan celotehan garingnya itu.”

Kedua gadis itu kemudian berjalan sambil tertawa centil, sementara dibelakang Hyorin dan Amber mengekor mengikuti.

“Kalau aku tidak salah, Jiyeon sedang ada kuis minggu ini, itu sebabnya semalam dia mengajak dinner untuk menyuap kita agar tidak mengganggunya.”

Amber tertawa sadis, “aku bersumpah. Aku orang pertama yang akan mendukung Jiyeon melontarkan omelannya yang tajam.”

Hyorin bergidik ngeri, “membayangkannya saja membuat ku merinding.”

.

.

.

.

.

“Aku dengar jurusan kedokteran kedatangan mahasiwa baru. Dari Universitas Yonsei.”

Luna berceloteh disamping Suho yang sedang tegang menghadapi ujian neuromuskuloskeletal. Wajah tampannya dihiasi kerutan samar berlapis karena celotehan tidak penting kawannya tersebut. Gerutuan samar ia lontarkan karena deretan istilah yang ia hapal hilang seketika.

Kemudian lemparan tas pada meja di depan Luna membuatnya dan Suho menatap aneh, menyaksikan bagaimana berantakannya penampilan gadis yang baru saja datang dan membuat keributan itu. Gadis itu mengenakan dress putih gading berlapis cardigan hijau pucat serta sepatu boots hitam mengkilat, rambut hitam panjangnya terikat asal-asalan dan ada noda hitam disekitar lingkar matanya.

“Sialan. Nama-nama istilah ini membuat ku gila.” Celotehnya singkat sambil membuka kembali catatan dan membacanya panik.

“Aku pikir tidak ada pelajaran apapun yang bisa membuat mu mengumpat.”

Jiyeon berbalik, menunjukan wajah bengisnya yang membuat Suho menciut hingga hanya bisa menunjukkan tawa canggung.

“Salahkan dosen sialan itu yang kalau mengajar tidak perduli mahasiswa nya mengerti atau tidak. Aku bersumpah jika nilai ujian ku jelek aku akan menghadap dekan dan minta penggantian dosen.”

Luna menatap Jiyeon prihatin, di usapnya punggung Jiyeon, “mau coklat? Itu bisa membuat rasa stres mu sedikit berkurang.” Bijaknya yang justru membuat Jiyeon berpaling menatapnya sadis hingga Luna nyaris terlonjak kaget.

“Demi Tuhan Luna!”

Luna meneguk ludahnya gugup sementara Suho pura-pura tidak melihat sambil melipat bibirnya menahan tawa.

“Aku tidak butuh coklat. Yang aku butuhkan dosen baru. Dasar profesor gila, hanya karena dia profesor dia mengajar jadi seenak jidatnya yang lebar tanpa rambut itu. Aku ingin sekali mencekiknya jika kau ingin tahu.”

Jiyeon mendengus keras lalu kembali berbalik ke depan berhadapan dengan buku catatannya yang penuh dengan deretan rumus mematikan.

“Setidaknya aku merasa lega karena sudah mengeluarkan rasa marahku.”

Luna menatap punggung Jiyeon dengan rasa lapar. Setelah memarahinya tanpa jeda kini gadis itu berbalik membelakanginya tanpa rasa bersalah, atau setidaknya meminta maaf karena memarahinya sebegitu menyebalkannya hingga rasanya ia ingin menceburkan diri ke dasar laut.

Gadis itu kemudian mengalihkan pandangannya kearah Suho yang duduk disampingnya, matanya memelas sedih.

“Omelannya membuatku melupakan nama-nama yang aneh itu..”

                            OBSESSION

Jiyeon baru saja akan membereskan buku catatannya dan berniat pergi ke kantin fakultas untuk mengisi perutnya yang lapar akibat deretan soal yang membuatnya mabuk. Tapi sapaan centil teman-temannya dari fakultas Ilmu Komunikasi membuatnya urung dan kembali duduk.

“Iya aku sudah mendengar tentang anak baru itu. Kalau tidak salah namanya Choi Minho.”

Luna menimpali ocehan panjang Sulli mengenai seorang murid yang kini di elu-elu kan para gadis di fakultas mereka. Bukan hanya di fakultas kedokteran saja, namun para gadis dari fakultas lain pun ikut membicarakannya.

“Tapi kenapa dia tidak masuk di kelas ini ya? Padahal aku sudah berharap lebih.”

“Siapa bilang? Nanti sekelas kok, hanya dua mata kuliah sih, sisanya dia harus mengejar sks.”

Sulli mengangguk antusias mendengar jawaban Luna.

Jiyeon lalu memilih berdiri tanpa menatap teman-temannya, “kalian berisik.” Protesnya kemudian sambil pergi meninggalkan kelas mengabaikan ekspresi kecewa Amber.

“Ah, padahal bukan reaksi seperti itu yang aku harapkan.”

.

.

.

.

.

.

Langkah kaki lebar Jiyeon yang terkesan buru-buru menyebabkan rambut ekor kuda berantakannya mengayun menggoda ditambah hembusan angin menerbangkan harum vanilla-mint pada tubuhnya menyebar luas hingga bisa terhirup orang-orang yang di lewatinya.

Termasuk Minho, pria itu sudah menyadari kehadiran gadis itu saat matanya menangkap siluet sang gadis yang baru saja berbelok ke koridor yang kini dia jelajahi. Menyaksikan bagaimana tubuh mungil itu berjalan angkuh namun tetap terkesan ramah dengan menyapa beberapa mahasiswi yang dikenalnya. Hingga gadis itu berjalan melintasinya, mata mereka sempat bertemu namun gadis itu hanya menunduk sopan walau senyum terus menjadi aksesoris wajah ayu nya.

Harum itu, masih sama seperti malam saat ia mendeklarasikan bahwa Jiyeon adalah miliknya. Malam yang penuh tertutup salju tiga minggu yang lalu.

Ruang dekan yang menjadi tujuan awalnya seolah bukan hal penting karena kakinya justru memutar mengikuti jejak Jiyeon yang berjalan ke fakultas seni.

Matanya berada di titik dimana gadis itu sedang bercengkrama dengan seorang pria berambut pirang, tangan pria itu penuh dengan cat minyak saat menempelkan telapak tangannya ke wajah Jiyeon. Sebuah candaan ringan yang berakhir dengan omelan manja Jiyeon dan tawa bahagia pria berambut pirang tersebut.

Minho tidak suka ini. Tidak ada yang boleh menyentuh miliknya seujung kuku pun. Tidak ada yang boleh merebut miliknya lagi, karena kali ini Minho tidak akan pernah membiarkan miliknya lepas kembali.

Dulu, mungkin Minho hanyalah pria culun berkacamata yang membosankan hingga mantannya menghianati dan lari bersama pria yang lebih tampan darinya.

Tapi semua sudah berubah, Minho bukan lagi si pria culun ramah yang membosankan. Ketampanannya bahkan sudah dikatakan sebagai model kelas international dan sikap dinginnya justru membuat para gadis semakin mabuk kepayang.

Seharusnya Jiyeon pun sama seperti para gadis yang lain, mengelu-elukannya, bukannya mengabaikannya. Gadis itu mungkin bahkan sudah lupa jika mereka pernah bertemu.

Rasa emosi Minho semakin meluap saat melihat pria itu memeluk Jiyeon serta reaksi Jiyeon setelahnya yang tertawa sambil mengacak rambut si pria. Dia berbalik, mengepalkan tangannya hingga kukunya membuat goresan kecil pada kulit tangannya.

Wajah kerasnya tergantikan sebuah seringaian, seringai licik penuh dengki.

“Dia harus membayar mahal ini semua.”

….

Jiyeon tidak mengerti kenapa JB tiba-tiba menghindarinya, baru saja kemarin mereka jalan bersama sebagai perayaan ulang tahun pria tersebut sekaligus merayakan failed anniv mereka. Kini bahkan untuk melihat wajah Jiyeon saja JB merasa enggan dan memilih memutar jalan lain demi terhindar.

Dan lagi tangan kanan pria itu terlilit perban yang membungkusnya hampir sepertujuh bagian.

“Aku dengar tangannya patah.”

Jiyeon berbalik dan mendelik sebal karena suara Hyorin yang berada di tengkuknya membuatnya sedikit terkejut.

Hyorin tertawa garing, “aku tahu dari si ratu gosip Sulli.”

“Katanya semalam dia berdebat dengan seorang pria. Pria itu membuat tangan kanannya patah.”

“jadi, kenapa aku yang dia jauhi? Memangnya aku salah apa?”

Jiyeon cemberut melihat reaksi Hyorin yang jelas menggodanya, “yang itu aku tidak tahu.” Jiyeon memukul kepala Hyorin dengan buku catatannya yang tebal. “Ngomong-ngomong, apa yang kau lakukan disini? Di fakultas seni?”

“Menemui pacar imut ku, apa lagi. Kau juga bukannya sedang ujian? Kami saja tidak boleh mengganggu mu, kau sendiri malah mengganggu mahasiswa fakultas lain. Dasar centil.”

“Umm, hanya iseng lewat kok.”

Hyorin merangkul pundak Jiyeon, mencolek dagu gadis itu dengan senyuman sensualnya, “tidak ingin merengek minta balikan, kan?” Godanya yang dibalas Jiyeon dengan cubitan keras pada lengannya.

“Sialan! Aku sudah move on tahu.”

.

.

.

.

.

.

Kuis endokrin yang berjalan lancar cukup mempengaruhi mood Jiyeon dalam hal apapun. Semuanya berjalan lancar hingga suasanan hatinya mendukung untuk duduk santai di taman universitas sambil menikmati sebatang coklat pemberian Luna.

Jiyeon hanya duduk sendiri di bangku taman bercat putih, karena taman ini letaknya berada di belakang universitas yang jarang di kunjungi mahasiswa. Hanya jika mereka butuh ketenangan tempat ini akan menjadi pelarian yang pas.

Sepasang earphone terpasang ditelinganya, sambil mendengarkan lagu, Jiyeon juga memakan coklat sambil membaca novel yunani kuno.

Semua terasa nyaman.

Sampai ia merasakan ada seseorang yang duduk disampingnya. Memancarkan aroma cytrus bercampur mint. Juga sedikit membuatnya merinding geli.

“Boleh aku duduk disini?”

Suara sopran dari pria disampingnya membuat Jiyeon tertawa aneh, pria dengan kaos v-neck putih polos berlapis blazer dark blue itu memiliki aura yang kuat, juga memikat. Dahinya tertutup poni namun ada sedikit tetesan keringat hingga menciptakan kesan sensual.

Rasanya pria ini tidak asing.

Jiyeon meneguk ludah gugup, “untuk apa bertanya jika kau sudah duduk.”

Pria itu menunjukkan garis lengkung di bibirnya saat Jiyeon kembali fokus membaca novel, “namaku, Minho. Choi Minho”

Atensi Jiyeon kembali beralih pada pria yang mengaku bernama Minho, “oh? Kau anak baru itu? Senang bisa bertemu dengan mu. Namaku Park Jiyeon.”

“Ya. Aku tahu.”

“Ne?”

Minho menyeringai melihat reaksi terkejut Jiyeon, semakin dirasa perasaannya semakin dalam pada gadis itu. Bibir tipis nya yang terlapis lipgloss pink sedikit terbuka seolah menggodanya untuk mendekat. Minho sudah tidak tahan, tidak tahan untuk menjadikan gadis ini menjadi miliknya. Sebuah candu yang semakin lama semakin membuatnya overdosis.

“Kau milikku, Jiyeon.”

Tangan besar Minho menarik tengkuk Jiyeon hingga tubuhnya tertarik mendekat menempel pada dada bidang Minho, sementara bibirnya menjadi tawanan bibir tebal namun halus milik Minho. Novel dan coklat yang di pegang gadis itu jatuh membentur permukaan rumput yang lembab, suara keras dari earphone yang di pakainya jelas tidak berfungsi dikalahkan suara detak jantungnya yang menggila.

Jiyeon memberontak, memukul-mukul punggung tegap Minho saat ciuman itu semakin dalam penuh emosional membuatnya nyaris pingsan kehabisan napas. Sesaat setelahnya Minho melepas ciumannya namun tidak memisahkan jarak, membiarkan bibirnya menempel dengan bibir Jiyeon sementara dahi mereka saling menyatu dan tubuh mereka yang merapat intim.

Minho menikmati ini. Menikmati cara Jiyeon meraup udara untuk bernapas serta lelehan keringat yang berjatuhan dari wajah mulusnya. Gadis ini istimewa.

“Kau… gila.” Keluh Jiyeon, bibirnya bergerak menciptakan dua kata yang justru membuat Minho menutup mata merasakan sensasi saat bibir itu bergerak menyentuh bibirnya. Matanya pun kembali terbuka dan menghisap bibir atas Jiyeon, “aku serius. Kau milikku.” Bisiknya sensual.

Duag.

Suara benturan di dahi Minho akibat benturan dari dahi Jiyeon membuatnya meringis hingga gagal fokus, membuat Jiyeon buru-buru mendorong tubuhnya dan menarik kasar tas selempang yang berada disamping lalu berlari tergesa-gesa. Gadis cerdik.

Mata onyx Minho menatap tajam punggung Jiyeon yang menjauh,

“Jadi sayang, kemana lagi kau akan lari?”

Tbc.

A/n: masalah dosen yang nyebelin itu jatohnya malah gue curhat deh. Btw, niatnya gue mau publish nanti aja nunggu poster jadi. Tapi berhubung gue gereget jd gue post aja.

Dan gue udah bilang kan OB ini bakal ada part yg di pw? So yea, buat yg mau minta pw bisa lewat:

Email: siskaa71@gmail.com
Line: pjysiska (jarang respon)
Twitter: @siskameliaaa
(Sms gak gue bales)

Advertisements

Author:

If you Jiyeon fans, you must stay here. but, if you hate my fav idol..you must go on without drama. thx

102 thoughts on “1. OBSESSION : I Find You

  1. Minho mah baru kenalan aja langsung dicium. Lagi bosan ngk ada kerjaan jadinya baca ff ini lagi. Minta password ff ini sama school life new version samaff ini yg di protect dong thor. No:082390679087

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s