Posted in Oneshot

Naughty Girl [OneShot]

image

JiKon — (Jiyeon – Yunhyeong)
Story by @siskameliaaa

                              Naughty Girl

Gadis lemah lembut itu biasa, tapi menjadi urakan jauh lebih luar bisa.

Menaati peraturan itu bagus, tapi sesekali melanggar akan membuat kita jauh lebih belajar.

Selalu ingin terlihat sempurna terkadang membuat sebagian orang akan membencimu, tapi menjadi diri sendiri akan membuat banyak orang menyukaimu.

Cantik? C-a-n-t-i-k. Bukan, k-u-r-u-s. Bukan juga, p-i-n-t-a-r. Apalagi, s-e-k-s-i. Tapi cantik itu memiliki ejaan; c-a-n-t-i-k. Tidak perlu menjadi kurus, pintar atau seksi. Jadilah dirimu sendiri agar bisa menjadi pujaan hati pangerang sekolah, Song Yunhyeong.

Yaps, Yunhyeong itu kapten basket yang memiliki fangirls dimana anggotanya hampir seluruh siswi Shinwa Art High School. Wajahnya yang rupawan mirip Zayn Malik berhasil membuat siapa saja yang meliriknya akan berfantasi untuk menjadi pacar sang idola. Banyak para gadis dari sekolah lain yang juga mengidolakan Zayn Malik Korea ini. Waw, amazing boy. Eits, tapi dari lahir sampai saat usianya 16 tahun ini, sang idola tidak pernah terlihat menggandeng seorang gadis. Wajahnya memang bersahabat tapi mulutnya yang tajam bisa bikin kaum hawa menangis seketika. Cruel.

Bukannya gay atau mencari yang sempurna karena dirinya nyaris sempurna. Tapi sampai saat ini tidak ada satupun manusia berjenis kelamin perempuan yang mampu membuatnya tertarik, dulu. Kini setiap malam selalu ada sosok gadis yang menjadi fantasinya. Gadis yang sebulan ini selalu mencari masalah dengannya semenjak kepindahan gadis itu dan duduk disampingnya. Cantik sih, mata hitamnya yang berkilau selalu sukses menarik Yunhyeong untuk menatapnya. Gadis itu juga tidak pernah bisa diam hingga rambut ikal caramel gadis itu selalu tanpa sengaja menyapu wajah Yunhyeong, nyaris membuat Yunhyeong tersedak karena aroma vanilanya.

Tapi, gadis itu sangat galak dan selalu melanggar aturan. Tidak pernah takut pada apapun serta siapapun. Herannya, siapa saja pasti mengenalnya dan bilang, “Park Jiyeon yang itu?” Iya, Jiyeon mana lagi yang terkenal tidak bisa diam dikelas dan selalu bisa ditemukan dimana saja jika dicari. Hanya Park Jiyeon yang itu. Yang dicap sebagai hantu sekolah, bukan karena wajah seram atau kaki melayang. Wajahnya cantik, bahkan menggemaskan. Ia di panggil hantu sekolah karena selalu bergentayangan mengelilingi sekolah. Yunhyeong bahkan sempat berpikir jika gadis itu memiliki baterai karena tidak pernah merasa lelah.

Disetiap kelas yang ada di Shinwa dari tingkat satu sampai tiga pasti ada saja yang menjadi teman dekat Jiyeon. Gadis itu walaupun nakal tapi memiliki kepedulian yang tinggi walau kepekaannya wajib dipertanyakan.

“Minggir!” Nah, baru saja masuk sekolah setelah libur dua hari karena tanggal merah nasional gadis itu sudah membuat ulah. Seragamnya yang berantakan, rambut ikal panjangnya yang diikat pony tail kini telah menjadi perhatian seluruh murid karena ulahnya yang bermain skate board di koridor lantai satu. Tempat para murid tingkat satu yang tidak lain adalah junior Jiyeon karena gadis itu kini berada ditingkat dua.

Woah, Jiyeon sunbae keren!” Jerit sekumpulan gadis yang dilewati Jiyeon. Mereka semua tidak berhenti melayangkan tatapan kagum serta teriakan yang terus saja memuji Jiyeon. Sementara kaum adamnya hanya bisa mematung berdoa agar tidak mimisan. Demi Tuhan, itu rok pendek yang dikenakan Jiyeon berkibar hingga hotpants hitamnya terpampang seolah mengejek para kaum pria hingga muncul fantasi liar mengotori pikiran anak dibawah umur. “Berhenti disana!” Dimana ada pembuat masalah pasti selalu ada penegak kedisiplinan. Jika ada Jiyeon si rusuh, maka ada Yunhyeong si murid teladan.

Selain kapten basket, Yunhyeong baru saja diangkat menjadi ketua Osis. Kurang apalagi? Tidak ada.

“Park Jiyeon, berhenti!”

Sudah menjadi tontonan wajib melihat Yunhyeong menertibkan Jiyeon. Selalu ada ulah yang bikin kepala si tampan jadi pusing dan memilih dimasukkan kerumah sakit jiwa saja sekalian. Semua guru sudah angkat tangan dan menyerahkan Jiyeon pada Yunhyeong. Dasar, pemakan gaji buta.

Maunya sih Jiyeon dikeluarkan saja, mengingat Kakek Jiyeon merupakan penyumbang dana terbesar disekolah, semuanya jadi mikir ulang.

“Berhenti atau aku tidak akan memberimu contekan lagi.” Kali ini Yunhyeong lebih kalem seolah itu adalah kata andalannya. Benar saja, Jiyeon yang hampir memasuki area kantin tiba-tiba saja menghentikan laju skate board bahkan sampai terjungkal karena skate boardnya membentur lantai cekung. Poor Jiyeon.

Two things are infinite. The universe and human stupidy…” Jiyeon berdiri dengan wajah ditekuk, “..dan aku tidak yakin soal alam semesta.” Ejek Yunhyeong masih mempertahankan kekalemannya. Pria itu hanya berdiri sambil memasukkan kedua tangan kesaku celana dan bersender di dinding. “Secara tidak langsung kau mengataiku bodoh.” Sungut Jiyeon ketika ia sudah kembali berdiri sambil menenteng skate board.

“Ya, bodoh. Dan ceroboh.”

Yayaya, tuan sok pintar.”

“Aku memang pintar. Buktinya kau selalu mencuri jawabanku saat ujian.”

Jiyeon memutar kedua bola matanya, lalu melempar skate board hingga mengenai dada Yunhyeong. “Makan tuh, pintar.” Ketusnya sambil bertolak pinggang. Hey, bahkan mereka tidak menyadari suara bel yang sudah berbunyi dua menit yang lalu. Terlalu asik sampai mengabaikan tanda peringatan masuk, “disita.” Jiyeon semakin kesal karena skate board kesayangannya disita. Sesaat dia menyesal telah melempar ke laki-laki kutub es macem Yunhyeong.

“Buatmu saja!” Lain dihati lain dimulut. Itu sebutan yang pantas untuk gadis macam Jiyeon. Tapi sepertinya Yunhyeong tidak perduli dan lebih memilih angkat bahu lalu berbalik berniat pergi. Sebelum pergi Yunhyeong menolehkan sidikit kepalanya, “terimakasih makanannya,” Yunhyeong menunjukkan skate board milik Jiyeon, “bodoh.” Lanjutnya. Napas Jiyeon menjadi naik turun secara konstan, mengumpulkan seluruh rasa kebencian yang ada, jadi saat Yunhyeong berbalik dan melangkahkan kaki. Jiyeon memilih membungkukkan tubuhnya sambil menggesekkan kaki kanan kelantai lalu berlari menyundul punggung Yunhyeong.

Boom! Pria itu sukses mendarat dilantai dan sukses juga membuat tawa Jiyeon membahana jahat. Sebelum Yunhyeong berkata, Jiyeon sudah lebih dulu berlari menaiki tangga. Mengabaikan tatapan mematikan Yunhyeong serta pura-pura tidak perduli saat Yunhyeong meringis kesakitan. “Park Jiyeon!” Yunhyeong menggeram lalu melempar marah skate board yang sejak tadi dipegangnya. Sepertinya alasan Yunhyeong selalu membayangkan wajah Jiyeon bukan karena perasaan suka, melainkan rasa bencinya yang kian mendalam. Sisi baiknya, Jiyeon justru menjadi satu-satu nya gadis yang namanya bisa diingat Yunhyeong. Hmm, bisa dicoba.

..

ketika bel istirahat berbunyi, suara Jiyeon yang paling nyaring. “Yeah!” Hebohnya sambil meloncat dari bangku, Yunhyeong yang sedang membereskan buku untuk dimasukkan kedalam tas sampai menghentikannya dan menatap Jiyeon aneh. Gadis itu benar-benar tidak ada takutnya, bahkan dengan guru macam guru Han, guru tergalak sepanjang masa jabatan. Tingkah gadis itu benar-benar tidak ada yang bisa menandingi. Jiyeon kini dengan santai dan tanpa bersalahnya berjalan kedepan karena tempat duduknya ada dibelakang, menghampiri guru Han yang sejak tadi sudah menahan rasa lapar karena ingin memakan Jiyeon.

Thank you, brother.” Dengan santainya Jiyeon menepuk bahu guru Han lalu berjalan keluar kelas. Meninggalkan rasa takjub dan juga emosi mendalam. Yunhyeong hanya bisa menepuk keningnya frustasi. “Apa yang kalian lihat?!” Guru Han berteriak marah membuat yang lain hanya menggeleng dan memilih cepat-cepat kabur keluar kelas. Dalam hati, mereka mengutuk Jiyeon. Siapa yang salah siapa yang kena, perumpamaan yang sejak zaman nenek moyangpun selalu dikenang.

.
.
.
.

“Dia berulah lagi?” Yunhyeong memfokuskan bola basket ditangannya untuk masuk kedalam ring, disaat bola itu masuk dengan sempurnanya barulah dia menoleh keteman setim yang sejak tadi mengganggu konsentrasi, “bukankah tidak aneh? Yang aneh itu jika dia tidak berulah.” Jawabnya cepat, berjalan kepinggir demi seteguk air mineral.

“Ya, aneh.” Sambung Lay, teman setim Yunhyeong yang sejak tadi mengekor itu ikut berjalan kepinggir lapangan dan duduk menyelonjor dibawah sambil meneguk air mineral. Ini bukan latihan, hanya saja mereka berdua merasa suntuk jadi melampiaskan ke basket. “Tapi kau juga aneh. Semenjak gadis itu datang, kau selalu mengurusinya. Biasanya kau tidak pernah perduli pada siapapun, aneh ‘kan?” Lay kembali melanjutkan argumennya, anehnya Yunhyeong tiba-tiba merasa mual dan ingin memuntahkan air mineral yang baru saja diminum ke wajah Lay. Ide bagus, tapi Yunhyeong masih punya rasa kasihan. Manusia berhati kutub –menurut Jiyeon itu melempar botol mineral yang sudah kosong kekepala Lay, “dan kau menjadi banyak bicara seperti perempuan. Aneh.” Yunhyeong berkata sambil berjalan keluar lapangan basket, namun kesialan justru menanti.

Bukankah sejak awal sudah diberitahu jika Jiyeon itu hantu sekolah yang suka bergentayangan? Jangan heran jika saat Yunhyeong keluar lapangan basket indoor yang didapat justru wajah Jiyeon yang sudah tidak berbentuk. Bukan karena wajahnya hancur karena tertabrak kereta, itu sih Yunhyeong langsung mengamini ditempat. Tapi hancur karena rambutnya acak-acakan serta wajahnya penuh make up seperti sadako. “Hiiiii…” Jiyeon mencoba menakuti Yunhyeong dengan mendekatkan wajahnya kewajah Yunhyeong, tapi pria itu justru memundurkan kepalanya lalu mendorong kepala Jiyeon kebelakang dengan satu jari, “mulutmu bau.” Kata Yunhyeong, kakinya melangkah ringan melewati Jiyeon namun langsung terhenti karena gadis itu langsung loncat kepunggungnya, jadilah Yunhyeong menggendong Jiyeon.

Haaaa!” Yunhyeong oleng karena ulah Jiyeon, gadis itu menarik kepala Yunhyeong kebelakang hingga wajah mereka kembali bertemu lalu Jiyeon mengeluarkan napas dari mulut, “wangi, ‘kan?” Begitu katanya setelah loncat turun dari punggung Yunhyeong. Memang kelakuan gadis satu ini selalu bisa membuat Yunhyeong tidak bisa berpikir jernih. Seperti biasa pula, sebelum Yunhyeong mengeluarkan omelannya yang Jiyeon yakin tidak akan selesai sampai siang ketemu siang itu, Jiyeon memilih kabur daripada harus mati bosan.

“Park Jiyeon!” Lagi-lagi hanya bisa menggeram setelah orangnya pergi. Hidupnya tidak akan pernah tentram selama ada Jiyeon disekitarnya, mungkin jika biasanya Yunhyeong paling malas pulang kerumah, kini rumahlah yang paling dinanti dan dirindukan.

Ulangan mendadak, hal yang paling dibenci Jiyeon. Setelah lembar jawaban serta soal dibagikan guru Ahn, Jiyeon langsung menyenggol Yunhyeong menggunakan sikutnya. Sialnya, Yunhyeong justru menggeser menjauh sambil menutupi lembar jawaban dengan lembar soal. Jiyeon makin menjadi, gadis itu menendang keras-keras kaki Yunhyeong dibawah meja hingga pria yang katanya mirip Zayn Malik itu menengok dan menatap Jiyeon penuh intimidasi. Jiyeon justru menunjukkan senyum terbaik serta kedipan menggoda.

Tidak mempan. Yunhyeong justru mengangkat tangannya tinggi-tinggi membuat guru Ahn menoleh, “Jiyeon menggangguku, saem.” Seru Yunhyeong, Jiyeon lantas menjadi pusat perhatian dan gadis itu langsung cemberut, “Park Jiyeon, harap tenang.” Peringat guru Ahn. Jiyeon hanya mengangguk sebal, dengan sengaja ia menusuk tangan Yunhyeong menggunakan pulpen, “tidak setia kawan.” Sungutnya marah sambil membuang wajah berlainan arah dengan Yunhyeong.

“Sejak kapan aku menjadi kawanmu.” Ketus Yunhyeong, menahan rasa nyeri ditangannya dan berusaha keras untuk tidak menjambak rambut Jiyeon yang terkuncir kuda. Jiyeon diam, setidaknya reaksi yang ditunjukkan gadis nakal itu dimanfaatkan Yunhyeong untuk mengerjakan soal ujian. Ingat, Jiyeon diam adalah suatu keanehan? Ya. Maka jangan heran jika kini suara gaduh bisa didengar berasamaan jatuhnya Yunhyeong dari bangku. “Baiklah, ruangan kepala sekolah? Who fear.” Bahkan tidak merasa bersalah setelah menendang bangku Yunhyeong, gadis itu dengan angkuhnya berjalan sendiri menyerahkan diri ke kepala sekolah.

Tampaknya ia benar-benar tidak takut pada apapun, mengabaikan jika seseorang yang selama ini terlibat pertikaian dengannya memiliki pasukan fangirls terbanyak. Seharusnya gadis itu takut, namun yang terjadi justru mengibarkan bendera perang.

                              Naughty Girl

Jiyeon tidak tahu apa yang terjadi, sesaat setelah ia menutup pintu ruang kepala sekolah tiba-tiba saja mata serta mulutnya tertutup dan kini berada di toilet wanita. Menghadapi kira-kira delapan orang para gadis bertampang wajah bengis. “Jangan pernah mengganggu Yunhyeong kami!” Salah satu gadis berlipstik merah mulai menunjuk Jiyeon tidak sopan, hasilnya jari itu langsung dipelintir Jiyeon hingga gadis berlipstik merah tadi mengaduh kesakitan, “ya! Kau itu benar-benar kurang ajar!” Marah gadis yang lain, bukannya takut ataupun berteriak, Jiyeon justru menunjukkan ekspresi datar namun menantang, membuat kedelapan gadis pembela Yunhyeong semakin beringasan. Mengeroyok seseorang merupakan hal yang paling disukai para manusia bermental karet. Nyatanya ketika diajak one versus one malah lari diketiak sang Ibu.

Jika gadis lain berada diposisi Jiyeon pastinya hari ini adalah hari terakhir melihat dunia, tapi ini Jiyeon dan bukan gadis lain. Gadis itu justru dengan santainya keluar toilet wanita menyisahkan kedelapan gadis menumpuk dilantai. Walau seragam berantakan serta wajah sedikit memar, Jiyeon tetap stay cool seolah itu bukan apa-apa. Pelajaran hidup, jangan pernah mencoba mengusik Park Jiyeon. Oke, itu wajib dicatat.

….

“Pagi ini Jiyeon sunbae tampak lebih keren!” Gosip para murid tingkat satu mengawali pagi hari ketika melihat Jiyeon meluncur dengan sepatu roda. Rambut ikal coklat tergerai indah ditutupi snap back berwarna putih bertuliskan ‘Swag’, lalu ada kemeja kotak-kotak merah yang menggantung dipinggangnya serta wajahnya yang tertutupi masker. “Ya, aku dengar gosipnya skate board Jiyeon sunbae kemarin disita Yunhyeong sunbae.” Perkumpulan para gadis itu mulai heboh, “aku juga mendapat info katanya kemarin Jiyeon sunbae habis dikeroyok fangirls Yunhyeong sunbae.”

“Lalu siapa yang menang?” Satu siswi lagi ikut masuk dalam pembicaraan, “tentu saja Jiyeon sunbae. Dia itu keren!” Semua siswi junior yang ada disitu mengangguk setuju, “terlalu keren.” Timpal salah satunya lagi.

Memang keajaiban dunia SMA itu adalah mulut mereka. Setiap ada kejadian apapun pasti satu sekolah akan tahu, menjadi heboh dan sayang jika dilewatkan untuk menjadi bahan obrolan –gosip. Apapun itu, selama menarik dan bertemakan dari orang-orang populer.

Gosip pengeroyokan Jiyeon, bahkan sudah terdengar ketelinga Yunhyeong. Biasanya ia tidak pernah perduli dengan kelakuan para fangirlsnya, namun pengecualian untuk kali ini. Sedikit merasa bersalah serta merasa khawatir. Yunhyeong ditemani Lay yang memang penasaran dengan keadaan Jiyeon mencari gadis itu namun tidak ketemu. Biasanya gadis itu mudah sekali dicari, namun kini sangat susah. Menurut informasi sih, Jiyeon meluncur ke lantai tiga tempat para senior berada. Entah apa yang gadis itu cari, tapi Yunhyeong langsung bergegas kelantai tiga.

“Park Jiyeon!” Teriak Yunhyeong saat melihat Jiyeon sedang bercanda bersama dua senior laki-laki serta tiga senior perempuan. Tidak ada hal menarik selain melihat Yunhyeong berlari hingga poninya berkibar seksi, bahkan ketenaran Yunhyeong sudah mencangkup kakak kelas. Para seniorpun bahkan nyaris menjerit begitu wangi harum mint tubuh Yunhyeong tercium saat pria itu berlari.

“Kau melanggar aturan lagi.” Seru Yunhyeong sambil menunjuk penampilan Jiyeon dari atas sampai bawah, “sangat aneh jika Jiyeon tidak melanggar aturan.” Lay menyahuti dari belakang membuat Yunhyeong menatapnya sengit. Beda hal dengan kelima senior yang berada disisi Jiyeon, mereka justru tertawa membenarkan, “ya. Dia itu selalu bersikap anarkis.” Ledek Joon, salah satu senior. Jiyeon sendiri tidak ambil pusing, gadis itu tidak mengeluarkan suara nyaris satu oktafpun.

“Dilarang menggunakan masker disekolah.” Perintah Yunhyeong, menarik paksa masker yang menutupi sebagian wajah Jiyeon secara paksa. Hasilnya, terpampang sudah sudut bibir Jiyeon yang membiru, Yunhyeong tertegun begitupun yang lain. “Jiyeon, pipimu?” Tanya Hyorin, senakal apapun Jiyeon gadis itu juga seorang manusia yang pasti merasakan sakit. Hyorin sendiri merasa khawatir dan ngilu karena luka lebam itu sungguh tidak pantas berada diwajah gadis seimut Park Jiyeon.

“Ah biasa, jagoan bukan jagoan jika tidak memiliki luka.” Ujarnya santai, Yunhyeong tidak bisa menahan diri untuk tidak menjitak kepala Jiyeon, “tetap saja seorang gadis tidak pantas memiliki lebam seperti itu.” Kesalnya karena kecuekan Jiyeon. “Dia itu bukan gadis kebanyakan. Dia itu aneh dan agak sedikit gila.” Keluh Lay, Jiyeon langsung melangkahkan kakinya kedekat Lay, gadis itu kemudian mengalungkan kedua tangannya keleher Lay membuat pria itu menahan napas, Yunhyeong merasa tidak senang.

“Orang gila tidak tahu jika mereka gila, aku tahu aku gila maka dari itu aku tidak gila. Itu tidak gila, ‘kan?” Setelah berkata demikian Jiyeon menepuk pipi Lay lalu meluncur pergi sambil melambaikan tangan. Kelima senior yang tadi berbincang dengan Jiyeon hanya bisa menggelengkan kepala dan memilih masuk kelas kerena bel akan berbunyi lima menit lagi. Menyisahkan Lay dan Yunhyeong dengan kediaman mereka.

Lay menengok, menatap Yunhyeong dengan wajah bodohnya, “tadi itu.. intim.” Ujarnya, Yunhyeong menatap tidak suka. Rasanya ada perasaan kebas yang tidak bisa terdefinisikan dengan akal dan logika, “berisik.” Ketus Yunhyeong sambil melangkahkan kakinya cepat, meninggalkan Lay dan segala fantasi yang ada dipikiran pria itu.

.
.
.
.
.

Perubahan Jiyeon secara signifikan jelas membuat Yunhyeong heran, gadis itu memang tetap tidak bisa diam dan selalu mencari masalah. Tapi, Jiyeon jelas menunjukkan secara terang-terangan menjauhi Yunhyeong. Jika biasanya rambut ekor kuda Jiyeon selalu mengibas kewajah Yunhyeong, kini rambut itu hanya tergantung rapih. Menengok saja tidak, mungkin gadis itu kapok dan trauma mencari masalah dengan Yunhyeong. Memang itu yang selalu diharapkan Yunhyeong, terbiasa diganggu juga membuat Yunhyeong justru merasa aneh karena tidak diganggu. Maunya apapun Yunhyeong tidak tahu, kesimpulan yang ia dapat hanya ia merasa hidupnya kembali hambar, –flat.

“Yunhyeong-sii.” Seorang gadis datang kemeja Yunhyeong sesaat setelah bel istirahat berbunyi, pelampilannya rapih dan suara halusnya menandakan jika gadis itu memiliki pribadi yang lembut. Berbeda dengan gadis disampingnya, Jiyeon justru mengangkat kedua kakinya diatas meja sambil mengunyah permen karet. “Ini aku membuatkan syal rajut untukmu. Aku membuat sendiri.” Gadis itu menunduk malu sambil memberikan kotak berisi syal, Yunhyeong justru kembali melirik Jiyeon seolah mencemooh gadis itu karena tidak bisa merajut, dan Jiyeon sendiri malah acuh sambil bersiap keluar kelas, melakukan kegiatan rutinnya berkeliling sekolah.

“Hn.” Gumam Yunhyeong sambil mengambil kotak berisi syal tersebut, gadis yang memakai name tag Lee Hi itu tidak kuasa menahan rasa bahagia, pipinya merona dan tangannya bergetar. Saat Yunhyeong membuka kotak dan mengeluarkan syal rajut berwarna hijau tosca, Lee Hi berniat menanyakan apa Yunhyeong menyukainya, tapi semua itu hanya bisa terucap dalam hati karena Yunhyeong langsung berdiri.

“Pakai ini.” Yunhyeong melingkarkan syal keleher Jiyeon saat gadis itu hampir menginjakkan kaki diluar kelas, dengan tidak elitnya juga karena cara Yunhyeong yang memakaikan syal Jiyeon terkesan tidak biasa dalam artian menarik leher Jiyeon kebelakang menggunakan syal, dan gadis itu langsung tertarik kebelakang menyentuh dada bidang Yunhyeong. Pemandangan dimana kedua mata onyx itu saling tatap dalam keintiman tubuh seolah menjadi hal langka untuk segera diabadikan. “Ck, pinky.” Bisik Yunhyeong, ia memilih mundur hingga bokong Jiyeon berakhir dilantai.

Jiyeon buru-buru menutupi area dadanya dengan kedua tangan berbentuk silang, “Yaa!” Protesnya setelah Yunhyeong berjalan melewatinya untuk keluar kelas. Sial, untuk pertama kalinya Jiyeon menyesal karena melepas dua kancing teratas seragamnya.

Gadis bermarga Park itu langsung berdiri sambil merutuki Yunhyeong dan menyumpahi pria itu. Tiba-tiba saja Lee Hi menghadang Jiyeon dan mengambil syal rajut hijau tosca yang tadi diberikannya untuk Yunhyeong, ekspresi tidak bersahabat yang ditunjukkan Lee Hi membuat Jiyeon mengernyit aneh, “ini untuk Yunhyeong, bukan untukmu.” Ketusnya sambil lalu. Sialan, gadis itu mempunyai dua kepribadian ganda. Jiyeon jadi sebal sendiri, jadinya pas Lee Hi berbalik Jiyeon langsung menempelkan permen karet yang dikunyahnya kerambut Lee Hi.

“Ada kecoa dirambutmu!” Teriak Jiyeon, Lee Hi panik sambil menyentuh rambutnya, yang didapati justru permen karet yang menyatu dengan rambut, “Park Jiyeon!” Jeritan Lee Hi menjadi pengiring kepergian Jiyeon.

“Kyaaaa Yunhyeong sunbae!”

“Yunhyeong, saranghae.”

“Ommo, seksi sekali!!”

Telinga Jiyeon rasanya mau pecah saat melintas dilapangan sekolah. Melihat kumpulan gadis-gadis remaja sedang meneriaki sang pria pujaan yang kini bermain basket bersama semua timnya. Jika biasanya mereka bermain di lapangan indoor, kini mereka bermain dilapangan outdoor. Percaya tidak percaya, tapi seisi sekolah menjadi sangat heboh bahkan menjadi lautan manusia seperti menonton artis kelas dunia. Zayn Malik mungkin Jiyeon masih bisa terima, tapi kalo Zayn Malik yang dimaksud adalah Yunhyeong, terimakasih. Jiyeon tidak berminat.

“Jiyeon-ah, kau dipanggil kepala sekolah.” Salah satu teman sekelasnya memberitahu, “oke. Terimakasih.” Sahut Jiyeon.

Sumpah, kenapa ingin berjalan ke ruang kepala sekolah saja Jiyeon harus berjuang keras sih. Kepopuleran Yunhyeong sudah keterlaluan, lama-lama Jiyeon jadi berpikir untuk membuat rambu lalu lintas disekolah. “Minggir!” Teriak Jiyeon, saking frustasi karena banyaknya gadis yang menghalangi jalannya.

.
.
.
.
.
.

“Pindahkan saja ke LA, aku tidak keberatan.” Kata Jiyeon. Kakek Jiyeon awalnya hanya mengancam tidak tahu jika reaksi cucu kesayangannya justru terlalu santai. Sang kepala sekolahpun hanya bisa menggeleng maklum. Kedatangan Kakek Jiyeon kesekolah bukan tanpa alasan, beliau datang karena permintaan kepala sekolah yang sudah tidak tahu harus dengan cara apa menghadapi Jiyeon. “Tidak ada LA. Kau akan pindah ke desa, dan kau akan tinggal dirumah Nyonya Im.” Jiyeon melotot, tinggal didesa dan dirumah salah satu pelayannya adalah suatu keputusan yang amat fatal. Jiyeon tidak pernah bisa meninggalkan gaya hidup dikota metropolitan, “Kakek… kau mau menyiksaku?” Rengeknya.

“Apapun, asal kau bisa merubah sikapmu.” Final sang Kakek, “baiklah, pasti ada syarat agar aku tidak pindah, ‘kan? Apa syaratnya?”

Kakek Jiyeon terdiam, menunjukkan senyuman tipis yang mampu membuat Jiyeon merinding. “Kau harus bisa masuk tiga besar. Jika tidak, kau harus segera pindah.” Bahaya, mustahil bisa Jiyeon lakukan mengingat selama ini ia selalu berada diperingkat terakhir. Namun bayangan wajah Yunhyeong membuat Jiyeon bisa menghirup udara segar, “aku setuju!” Tantangnya yakin.

                             Naughty Girl

“Menjadi gurumu? Tidak. Terimakasih.”

“Ayolah, aku janji akan menuruti semua yang kau katakan.” Jiyeon menarik jaket kulit Yunhyeong, pria itu saat mendengar penawaran Jiyeon langsung saja membuka helm lalu turun dari motor gedenya, “apapun?” Yunhyeong bertanya memastikan, Jiyeonpun langsung mengangguk memberi kepastian.

“Baiklah. Sekarang kau ikut aku.” Seru Yunhyeong, tidak bertanya lagi dengan semangatnya Jiyeon langsung naik motor gede Yunhyeong. “Pegangan, aku tidak biasa membawa motor pelan seperti siput.” Perintah Yunhyeong, mendapat pengabaian dari Jiyeon, Yunhyeong hanya bisa memutar bola matanya. “Aku sudah memperingatkanmu, nona.”

“Kyaaa! Kau mau membunuhku?!” Jerit Jiyeon karena Yunhyeong langsung menancap gas hingga dirinya hampir terjungkal kebelakang hingga refleks memeluk pinggang Yunhyeong. Pria bermarga Song itu tersenyum dibalik helmnya, namun tidak menjawab jeritan Jiyeon. Gadis itupun memilih diam menikmati pemandangan kota Seoul ketika musim semi. Tidak pernah tahu dan tidak mau tahu kemana Yunhyeong membawanya, yang jelas pemandangan sepanjang jalan membuat mata Jiyeon termanjakan.

I can’t get these memories out of my mind
And some kind of madness has started to evolve
I tried so hard to let you go
But some kind of madness is swallowing me whole, yeah

Hamparan bunga sakura yang berguguran dipinggir jalan serta angin sejuk yang membuat rambut ikal Jiyeon berkibar membuat perasaan gadis itu nyaman.

I have finally seen the light
And I have finally realized what you mean

Jiyeon menyenderkan kepalanya kepunggung Yunhyeong sambil mengeratkan pelukannya, matanya terpejam menikmati angin. Sementara Yunhyeong semakin melebarkan senyumnya sambil sedikit melirik Jiyeon dan kembali fokus kejalan beraspal bertutupi daun-daun gugur.

And now I need to know this is real love
Or is it just madness keeping us afloat?
And when I look back at all the crazy fights we had
It’s like some kind of madness was taking control, yeah

Lagu madness milik Muse seolah menjadi soundtrack yang cocok untuk mengiringi perjalanan Yunhyeong dan Jiyeon. Saking tidak terasanya, mereka sudah sampai pada tujuan. Taman bertutupi rumput hijau disertai puluhan bunga sakura yang bermekaran. Ada bangku taman berwarna putih disisi pohon serta hamparan danau buatan yang tidak terlalu luas namun cukup untuk disebut danau.

Jiyeon berlari gembira sambil merentangkan kedua tangannya dan berputar-putar seperti anak kecil, sementara Yunhyeong sedang memarkirkan motornya.

And now I have finally seen the light
And I have finally realized what you need

“Ayo duduk disitu.” Ajak Yunhyeong, menunjuk tempat dipinggir danau membuat Jiyeon mengangguk antusias tanpa melunturkan senyum bahagianya. Yunhyeong ikut tersenyum, senyuman yang tidak pernah ditunjukkan pada gadis manapun. Bukan karena Jiyeon dianggapnya spesial, tapi karena Jiyeon mampu membuat Yunhyeong merasa nyaman hingga menjadi dirinya sendiri.

“Ini tempat yang cocok untuk belajar.” Ujar Yunhyeong ketika mereka berdua sudah duduk diatas rumput hijau, “hahhh, yang ada alam ini membuat fokusku hilang. Indah sekali! Aku tidak pernah ketempat seperti ini setelah orang tuaku meninggal.”

Yunhyeong menghentikan tangannya yang sedang mengeluarkan buku dari dalam tas, “orang tuamu, meninggal?” Tanyanya hati-hati, Jiyeon mengagguk, “iya. Kecelakaan mobil saat usiaku sembilan tahun. Makanya aku tinggal dengan Kakek, tapi Kakek selalu sibuk mengurus perusahaan jadi aku tidak pernah diajak jalan-jalan.” Tidak ada kesedihan diwajah Jiyeon, gadis itu tetap mempertahankan senyumnya. Justru itulah yang membuat Yunhyeong khawatir, tapi setidaknya Yunhyeong mengerti dengan kenakalan Jiyeon.

Seseorang tidak akan berbuat nakal jika tidak mempunyai alasan mendasar. Hari ini, tanpa sadar Jiyeon sudah memberitahu Yunhyeong kenapa sikap Jiyeon berbeda dari gadis kebanyakan. Gadis itu hanya merasa kesepian, dan butuh perhatian. Melampiaskan rasa sepinya melalui perbuatan.

“Syarat pertama. Kau harus mengenakan seragam dengan rapih. Tidak ada sepatu roda dan tidak ada skate board.” Yunhyeong berkata berusaha meminimalisir perasaan tidak enaknya, “dan kau harus mengancingi seragammu dengan benar.” Perkataan terakhirnya itu membuat Jiyeon meringis malu, mengingat kejadian dikelas tadi. Pinky?ck.

“Apalagi?” Ketus Jiyeon, “tidak ada acara keliling sekolah. Kau harus belajar diperpustakaan denganku.”

“Tidak ada bantahan serta protes. Ingat, apapun.” Lanjut Yunhyeong menyela protes Jiyeon. Akhirnya gadis itu mengatupkan kembali mulutnya karena tidak jadi melontarkan protesan.

“Ayo belajar.”

Jiyeon menatap ngeri buku tebal bertuliskan fisika yang ditunjukkan Yunhyeong, “hahhh aku bisa mati muda! Setidaknya jangan terlalu serius. Nikmati hidup ini, brother.” Ujar Jiyeon, tatapan datar yang ditunjukkan Yunhyeong membuat Jiyeon menghentikan gurauannya dan buru-buru membuka buku tebal tersebut, “tadi baik, sekarang galak. Dasar aneh.” Gerutunya, “Jiyeon.” Jiyeon nyengir saat Yunhyeong menyebut dingin namanya.

“Santai, aku bercanda. Ayo belajar.”

Yunhyeong pun hanya bisa menggeleng pasrah. Sepertinya akan sangat sulit mengajari Jiyeon.

.
.
.
.
.
.

“Apa Jiyeon sunbae demam?” Lontaran para junior lantaran melihat Jiyeon berjalan sewajarnya layaknya murid pada umumnya serta seragam yang rapih, rambut ekor kudanya pun senantiasi mempermanis dirinya. “Dia manis ya jika seperti ini.” Kali ini teman seangkatan Jiyeon ikut menyuarakan pendapat.

“Yunhyeong sunbae, suka coklat?”

“Ah dia pasti lebih suka bunga.”

“Tidak, dia itukan atlet basket. Pasti sangat suka bola.”

Sementara itu Yunhyeong dibuat pusing karena tingkah fansgirlnya yang mengepung dan memborongi banyak pertanyaan. Pagi-pagi sudah bikin moodnya buruk. Apa para gadis ini tidak ada kerjaan? Mencari laki-laki lain misalnya. Agaknya itu adalah hal termustahil yang akan terjadi. Satu-satunya yang bisa kembuat para gadis itu berpaling hanya jika Yunhyeong sudah tidak ada lagi didunia, atau sudah memiliki orang yang dimiliki. Agaknya opini yang kedua membuat Yunhyeong merasa mual karena wajah Jiyeonlah yang justru terbayang.

Ngmong-ngomong tentang Jiyeon, rambut ekor kuda gadis itu berhasil ditangkap indra pelihat Yunhyeong. Walau dari jauh dan samar-samar tapi Yunhyeong yakin itu Jiyeon. Benar saja tebakannya, gadis itu berjalan dengan santainya dengan seragam yang rapih. Tunggu, seragamnya rapih? Well, Yunhyeong mulai menyeringai.

Kyaaa Yunhyeong sunbae manis sekali jika tersenyum.” Kembali kedunia penuh fana. Teriakan para fansgirlnya membuat seringaian Yunhyeong memudar. Dan satu lagi, Yunhyeong itu menyeringai bukannya tersenyum. Karena sudah tidak tahan, begitu Jiyeon hampir berjalan mendekatinya, Yunhyeong langsung buru-buru keluar dari kerumunan fansgirlnya dan menarik Jiyeon pergi memasuki kelas.

Kyaaa aku cemburuuu.”

“Andai aku jadi Jiyeon sunbae.”

“Aku rela menjadi tangan Jiyeon sunbae.”

Kira-kira seperti itulah jeritan yang Jiyeon dengar. Gadis itu tertawa, terlalu lucu melihat wajah cemberut Yunhyeong.

“Apa?!” Yunhyeong bertanya sengit karena Jiyeon terus memperhatikannya. “Tanganmu.” Tunjuk Jiyeon melihatkan tangan Yunhyeong yang masih memegang tangannya. Padahal mereka sudah sama-sama duduk dibangku masing-masing, itu adalah hal yang memalukan yang dirasakan Yunhyeong. Buru-buru dia melepaskan tangannya.

Uuu Yunhyeong sunbae sayang…” goda Jiyeon, Yunhyeong menatap sengit dirinya, “diam atau aku tidak akan mengajarimu!” Gertakan Yunhyeong cukup ampuh membuat Jiyeon terdiam dan cemberut, “dasar tukang ancam.”

….

Sssttt!”

“Tuhkan. Aku bilang apa, tutup mulutmu.”

Sssstttttt!”

Jiyeon tertawa meledek, “tutup mulutmu.” Bisiknya membuat kerutan samar didahi Yunhyeong terlihat jelas. Sejak jam istirahat berbunyi mereka langsung keperpustakaan dan mencari buku sejarah. Awalnya semua tenang, tapi karena Jiyeon tidak biasa berada dilingkungan kaku dan membosankan, gadis itu membuat gaduh hingga diomeli penjaga perpustakaan.

“Belajar yang benar.” Perintah Yunhyeong tegas. Jiyeon tidak akan bisa membantah jika Yunhyeong sudah mengeluarkan sikap bossy nya. “Sepuluh menit sebelum bel masuk, kau baru boleh makan.” Katanya lagi. Jiyeon semakin cemberut, perutnya sudah berontak meminta asupan. Mau tidak mau, rela tidak rela dia harus belajar dengan serius agar bisa makan. Taruhannya, nyawa.

.
.
.
.
.

Sepulang sekolah Jiyeon dan Yunhyeong kembali ketaman yang kemarin. Menghabiskan waktu hingga petang untuk belajar. Menikmati keindahan alam yang menawan. Kegiatan belajar akan berlanjut esoknya diperpustakan, pulangnya akan kembali ketaman penuh kenangan. Terus seperti itu sampai tidak terasa mereka selalu menghabiskan waktu bersama hingga satu setengah bulan. Sampailah dimana hari ujian datang.

Jiyeon duduk dikursinya sambil membaca buku serta meminum sekotak susu pisang, tidak menyadari kehadiran Yunhyeong yang sudah duduk disampingnya dan mengambil paksa susu kotak yang sedang disedot, “apa yang kau baca?” Tanya Yunhyeong cuek, menghabiskan sisa susu Jiyeon tanpa rasa bersalah. Karena nyatanya, selama satu setengah bulan mereka selalu bersama membuat kecanggungan sirna.

“Sastra Korea.” Sahut Jiyeon. Setelah memberikan pukulan pada bahu Yunhyeong karena telah merebut susu.

“Semoga berhasil. Aku pergi keruanganku.” Katanya, Yunhyeong mengacak rambut Jiyeon membuat gadis itu langsung memprotes kesal.

                           Naughty Girl

Aaaa kenapa harus peringkat 4?!” Jiyeon menjerit frustasi ditaman sekolah. Melampiaskan kekesalan atas kegagalannya. Yunhyeong yang sejak tadi hanya melihat tingkah Jiyeon mulai menghampiri gadis itu mengelus bahu Jiyeon, “setidaknya kau sudah berusaha. Peringkat 4 tidak buruk dibanding peringkat terakhir. Semua itu butuh proses yang panjang.”

“Aku tahu! Tapi 4 itu nyaris mencapai 3. Aku kesal, seandainya aku bisa lebih maksimal. Aaa aku tidak mau pindah ke desa. Tidak mauuuu!” Jiyeon meloncat-loncat sambil menggeram marah menarik-narik rambutnya. Yunhyeong tidak tega juga melihat Jiyeon menjadi sefrustasi ini. Lama-lama apa yang dikatakan Lay tentang Jiyeon yang gila bisa saja menjadi kenyataan. Akhirnya Yunhyeong memilih bertidak, menarik tangan Jiyeon keruang kepala sekolah. Mempunyai teman yang gila seram juga.

“Ish, aku tidak mau masuk. Didalam ada Kakek.” Amuk Jiyeon.

“Setidaknya bicara dulu dengan Kakekmu. Kau akan tahu hasilnya jika kau bicara.”

Jiyeon pasrah, apa yang dikatakan Yunhyeong ada benarnya juga. Semoga saja Kakeknya berbaik hati dan tidak jadi mengirimnya ke desa. Lagipula, Jiyeon sudah menjadi anak yang baik selama ini. Tidak pernah berulah dan membuat guru-guru frustasi. “Baiklah. Doakan aku.” Yunhyeong mengangguk yakin, pria yang menjadi peringkat satu itu dengan senang hati membuka pintu ruang kepala sekolah dan langsung mendorong Jiyeon masuk.

“Yunhyeong sialan.” Jiyeon mengumpat sebal. Mendapati tatapan Kakeknya yang menusuk membuat nyalinya ciut. “Hai, Kek.” Jiyeon menyengir sambil jalan pelan-pelan mendatangi Kakeknya, duduk disamping tanpa disuruh.

“Aku sudah menyiapkan kopermu.”

Demi apa?! Jiyeon langsung panik dan menemukan koper besar kesayangannya disamping sang Kakek. Menerima apanya?! Tahu gini lebih baik Jiyeon melarikan diri. Habis sudah harapannya.

“Ha ha ha, Kakek bercanda. Kau sudah berjuang dan aku cukup bangga dengan hasilnya.” Jiyeon bangun dari mimpi buruknya, melihat bagaimana Kakeknya tertawa bersama sang kepala sekolah membuat sudut bibirnya berkedut-kedut. “Selamat Park Jiyeon. Kau tidak jadi pindah ke desa.” Ungkapan sang kepala sekolah membuat Jiyeon menatap Kakeknya meminta penjelasan. “Setidaknya 4 lebih baik daripada peringkat terakhir.” Kakeknya lagi-lagi tertawa geli.

Jiyeon harus bekerja ekstra untuk mempertahankan ambisinya untuk membunuh pria beruban disampingnya. Sial, sejak kapan Kakeknya belajar menipu orang seperti ini? Dan itu sukses bahkan Jiyeon nyaris ingin berlutut untuk memohon. Untung egonya lebih tinggi, jika tidak habis sudah nama baiknya.

“Ish menyebalkan!” Jiyeon mengamuk, memukul meja berkali-kali karena rasa geregetan. Anehnya, sang kepala sekolah dan Kakeknya malah semakin tertawa senang. Jadi Jiyeon memutuskan untuk keluar saja.

“Bagaimana?” Tanya Yunhyeong ketika Jiyeon menutup pintu. “Aku mau makan es krim!” Sahutnya. Raut wajahnya yang masam serta caranya mempoutkan bibir setidaknya membuat Yunhyeong lega, itu tanda-tanda ekspresi kekesal Jiyeon, bukan ekspresi kesedihan. Yunhyeong yakin jika hasilnya bagus, walau ia tidak tahu apa yang membuat Jiyeon menampakkan ekspresi seperti itu.

“Ayo. Aku tahu tempat yang bagus sambil menikmati es krim.”

.
.
.
.
.
.

Biang lala.

Tidak ada dipikiran Jiyeon jika Yunhyeong akan mengajaknya menikmati es krim dari dalam biang lala.

“Jadi Kakekmu dan kepala sekolah mengerjaimu?” Jiyeon mengangguk singkat sambil menjilati es krimnya. Sementara Yunhyeong justru tertawa geli, “yaa! Tertawa saja terus sampai kau puas.”

“Ha ha ha, aku rasa Kakekmu orang yang menyenangkan.”

Jiyeon merengut, “ya. Dia cocok denganmu.” Ketusnya.

Yunhyeong hanya menggelengkan kepalanya, masih merasa geli karena tingkah kekanakan Jiyeon yang kesal dengan Kakeknya hanya karena dibohongi. Setelahnya hanya ada keheningan yang mengisi kurungan biang lala yang ditaiki Jiyeon dan Yunhyeong. Jiyeon tampak sangat menikmati es krim sambil melihat pemandangan. Sementara Yunhyeong menunduk seperti memikirkan sesuatu.

“Aku bingung.” Akunya, “aku menyukai seseorang.” Jilatan Jiyeon pada es krimnya terhenti, pernyataan Yunhyeong seolah membuat Jiyeon lebih tertarik. “Aku tidak pernah merasakan perasaan seperti apa yang aku rasakan saat bersamanya. Dia begitu dekat namun sulit dijangkau.”

“Siapa?” Jiyeon tersentak saat merasakan es krimnya meleleh ketangan, gadis itu buru-buru menjilatnya walau tidak tahu kenapa pembicaraaan ini membuatnya tidak nyaman.

“Kau juga mengenalnya, kok.”

Jiyeon hanya mengangguk, “oh.” Jawabnya singkat.

“Tapi aku bingung. Bagaimana aku mengatakan padanya ‘aku mencintaimu’.”

“Lakukan saja.” Masih menikmati jilatannya pada es krim yang mau habis, Jiyeon menjawan cuek. Yunhyeong justru mengambil langkah untuk menggenggam tangan Jiyeon yang tidak memegang es krim, “baiklah. Ayo latihan.” Kata Yunhyeong, “oke.” Jiyeon menjawab cuek, tanpa melihat Yunhyeong dan lebih memilih menghabiskan seluruh eskrimnya.

“Aku mencintaimu.”

Jiyeon mengangguk, menjilati jarinya dari sisa-sisa es krim. “Aku juga mencintaimu. Mudah, ‘kan? Sekarang katakan padanya.” Ungkap Jiyeon.

I just did.”

And now I have finally seen the end
And I’m not expecting you to care, no
But I have finally seen the light
And I have finally realized
I need to love
I need to love

“Aku baru saja melakukannya.” Ulang Yunhyeong.

Jiyeon menatap Yunhyeong, raut tidak percaya, terkejut menjadi satu. Tidak ada kata yang dapat mendefinisikan perasaan apa yang dia rasakan. Satu yang pasti, perasaan kecewa berubah menjadi perasaan berbunga.

Come to me, just in a dream
Come on and rescue me

“Aku?” Jiyeon bertanya, masih tidak bisa percaya karena menurutnya Yunhyeong menyukai gadis lain.

“Ya. Memangnya selama ini siapa yang selalu bersamaku? Cinta itu muncul karena terbiasa, dari keterbiasaan itu muncul rasa tidak rela kehilangan. Dari rasa itu hadir rasa ingin memiliki. Dan itulah cinta. Aku mencintaimu, Park Jiyeon.”

Jiyeon tidak bisa menahan diri untuk tidak memeluk Yunhyeong, “bodoh. Aku pikir kau menyukai gadis lain. Aku sudah sangat takut kau akan meninggalkanku.” Yunhyeong tertawa, membalas pelukan Jiyeon sama eratnya sambil menciumi rambutnya. “Aku tidak akan kemana-mana. Tidak akan pernah.” Bisikan Yunhyeong membuat pipi Jiyeon merona.

“Lihat. Sunset!”

Yunhyeong melepaskan pelukannya, melihat sunset dari atas biang lala ternyata tidak kalah indah dari melihat sunset dari tepi pantai. Bersamaan dengan itu, biang lala sudah mencapai putaran terakhir hingga mereka harus turun. Melihat bagaimana cara Yunhyeong merangkul pundak Jiyeon sambil menciumi kepala Jiyeon, dan bagaimana cara gadis itu tertawa mengajarkan bahwa bahagia itu sederhana.

Cukup memiliki seseorang yang mencintaimu disampingnya, maka hidup akan jauh lebih berwarna.

Yes I know I can be wrong
I’m too headstrong
Our love is…
MA-MA-MA-MA-MA- madness

End.

A/n: Yunyeon finish! Fiuh~ awalnya plotnya bukan kaya gini. Gue mau bikin yang inspirasinya dr kisah gue sama risa yg dijadiin satu. Karena menurut kita kisah kita berdua itu kaya Jiyeon sama Minho. Makanya pas mau bikin Yunhyeong gadapet feel. Jadinya ya ini hahahaha. Gue juga mutusin kalo mau make Minho aja sebagai pasangan Jiyeon di oneshot yang baru. Tapi gatau kapan, sesempet dan seada moodnya gue aja. Semoga fict ini bisa ngobatin ras kecewa karena ending destiny ya.

Advertisements

Author:

If you Jiyeon fans, you must stay here. but, if you hate my fav idol..you must go on without drama. thx

25 thoughts on “Naughty Girl [OneShot]

  1. hohohoho,untung ya jiyeon cantik dan kaya,kakek yg kaya raya..
    jadi biar banyak tingkah masih banyak yg suka..
    hahaha benaran ngakak ni baca ff..sama aja deh minho atau yg lain..
    okey ditunggu minhonya..

  2. Menurut aku bgus feelnya jg dapet trus bcnya ga boring mlh nyenengin ky yg masuk k hati trus berasa gmn yah pokoknya bgus bnget dan menurut aku mrk cocok ko soalnya jiyeon itu cantik banget jdi d pasangin sm sp aja cocok viiiis

  3. Aw aw aw Jiyi sunbae kerennn dari gaya’a dan tingkah’a bener” coollllllll bahkan sampe Yuno kalang kabut tapi emang harus gitu yang satu teladan harus dapet yang sedikit “gila” biar ngak monoton

  4. yo ada ff baru lagi.jadi ngk bosan deh.beberapa hari ino bosan bgt ngk ada ff baru jiyeon.
    wah hyunhyeong bisa juga romantis.ngk ada kiss nya ya ?#yadong hehehe.
    lucunya itu pas “pinky” ngk nyangka jiyi suka pink wkwkwkwk dan yg liat itu hyunhyeong

  5. Feelnya kurang dapt pas di ending aja sih, yg lain2nya ttp bagus. tapi crita kyak ini keren, pling suka karakter jiyeon yg sprti ini.

  6. kerennn…
    dari tadinya berantem n adu mulut mulu mlah jadi akur dan jadi pasangan jg.
    hahaha pasti disekolah pada gempar klo denger berita mrk pacran!!!

  7. keren ffnya dpet bnget feelnya ,,
    kirain Jiyeon bkaln bneran dipindahin kedesa gegara dia juara ke 4 taunya kakek Jiyeon cma godain Jiyeon aja 😀
    cma moment sweet Hyunyeong sma JIyeonnya agak kurang yahhh 😀
    ditunggu ff Jiyeon lainnya 🙂

  8. Aku sukaaaaaa
    Tiap moment mereka serasa sweett bgt dah
    Yunhyeong perhatian bgt deh sama jiyeon kkk
    Karakter jiyeon yg kyk gini cocok bgt klo di couple in sama ikon

  9. Trnyta musuh bebuyutan bisa saling jatuh cinta,, sumpah ya kakeknya jiyeon ngetroll bgt, bisa2nya nipu jiyeon suruh tetep pindah ke desa wkwk

  10. cukup manis ceritanya walaupun disitu yunhyeong karakternya gak terlalu sesuai sma sifat dingin kebanyakan yg cuek minta ampun tapi tetep bagus apalagi endingnya so sweet :v
    ok ditunggu next ffnya, fighting^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s