Posted in Destiny

Destiny [extra chapt.]

image

                                 Rated M

“Sshh.. Hanbin.” Tangan Hanbin merayap membelai punggung Jiyeon, mengusapnya lembut sambil mengecup kupu-kupu cuping telinga Jiyeon. Bibirnya kemudian beralih ketelinga, tulang selangka dan berakhir dibibir Jiyeon.

“Kau selalu terlihat seksi.” Bisik Hanbin, dibaringkannya tubuh Jiyeon yang kini tidak mengenakan sehelai pakaian dengan hati-hati. Begitu juga Hanbin yang begitu menggoda memperlihatkan bentuk tubuhnya yang berotot. Ciuman Hanbin beralih keperut buncit sang wanita. Hati-hati namun mampu membuat tubuh Jiyeon merasa bergetar. Jiyeon hanya mempu menjambak rambut Hanbin, menariknya dan mencium mesra bibir seksi Hanbin, merasakan bagaimana hidung mancung Hanbin menempel dikulit pipinya. “Sebentar lagi aku akan menjadi seorang Ayah.” Hanbin menekan bibir Jiyeon, “ya. Dan kau harus bersabar sayang. Biarkan aku memakai bajuku.” Hanbin terkekeh, merasa malu karena tidak bisa menahan diri saat melihat tubuh Jiyeon ketika sedang mandi. Menyeretnya keluar dan memberikan sentuhan-sentuhan yang selalu disukai Jiyeon. “Saranghae..” bisikan Hanbin menjadi pengantar kembalinya ciuman panjang.

“Kim Jiyeon aku membuatkan sup rumput laut untukmu!”

Jiyeon mendorong tubuh Hanbin ketika mendengar suara teriakan Junhoe. Sementara Hanbin mendengus kesal, membiarkan Jiyeon mencari pakaian dilemari sementara Hanbin memunguti bajunya yang sengaja ia buka dan taruh dilantai. “Hidupku tidak akan pernah damai selama ada mereka disini.” Ketusnya, berjalan mendekati Jiyeon dan membantu gadis itu untuk mengaitkan bra. “Terimakasih.” Jiyeon menoleh hanya untuk memberikan kecupan pada bibir Hanbin sebagai rasa terimakasih membantunya mengaitkan bra.

“Kim Jiyeon cepatlah turun!” Kali ini suara teriakan Yunhyeong yang terdengar. Hanbin memegang pinggang Jiyeon, memberikan ciuman dikepala untuk istri tercintanya. “Aku tunggu dibawah.” Ujar Hanbin. Kakinya melangka pasti keluar setelah mendapat anggukan setuju dan bersiap mengomeli dua makhluk yang sejak tadi berteriak memanggil istrinya.

Semenjak pensiunnya ketujuh mafia, mereka memulai semua dari awal. Membangun rumah sakit dimana Donghyuklah dokter kepala. Mereja juga mendirikan restauran bergaya Eropa klasik. Terdapat pahatan patung dewa disetiap dinding, termasuk dewa cupid. Terkadang Junhoe akan memainkan piano untuk menghibur para tamu, bergantian dengan Jiyeon. Banyak para lelaki yang datang berkunjung hanya demi melihat penampilan Jiyeon, tidak sedikit juga para gadis lajang yang datang hanya untuk sekedar mencuci mata melihat ketampanan ketujuh pria pemilik restaurant.

Setelah enam tahun fokus dengan bisnis mereka, Hanbin memutuskan untuk meminang Jiyeon. Membawanya keikatan suci pernikahan dan menjadikan Jiyeon sebagai teman hidup untuk selamanya.

Terkadang Jiyeon merasa terharu jika mengingat masa lalu. Walaupun masalalu mereka terlalu kelam, untungnya ada Jiyeon sebagai jalan penuntun cahaya. Betapa beruntungnya mereka memiliki Jiyeon, bukan Jiyeon yang beruntung memiliki mereka.

“Akhirnya kau turun juga. Sup rumput lautnya hampir dingin.” Jiyeon tertawa melihat Yunhyeong sangat semangat menarikkan bangku untuknya. Sementara Junhoe langsung menuangkan sup kedalam mangkuk. “Dimana Hanbin?” Tanyanya sambil mencari keberadaan suaminya. “Membahas tender besar dengan Bobby hyung, Donghyuk dan Chanwoo.” Jawab Jinhwan, mewakilkan kedua saudaranya yang tampak merengut enggan menjawab. Ya, saudara. Bukan lagi rekan satu tim, tapi mereka sudah menjadi satu keluarga.

Foto yang terpajang diruang tamupun, menggambarkan bagaimana bahagianya keluarga kecil ini. Jiyeon dan Hanbin duduk dikursi menggunakan pakaian pengantin. Sementara dibelakangnya ada Chanwoo, Yunhyeong, Bobby, Jinhwan, Donghyuk dan Junhoe yang berdiri mengenakan tuxedo hitam. Ada juga foto dimana mereka semua sedang piknik ditaman rumah. Santai, namun cukup menunjukkan kehangatan keluarga.

“Junhoe-ah, bagaimana hubunganmu dengan Hyeri?” Tanya Jiyeon setelah menelan sup, memperhatikan Junhoe sejenak sebelum akhirnya kembali menyuap sesendok. “Aish, aku tidak tertarik dengannya. Dia saja yang kecentilan.” Sungut Junhoe.

Mengenai kisah asmara keenam pria yang lain. Jiyeon tidak pernah habis fikir kenapa tidak ada satupun wanita yang membuat mereka tertarik. Satupun, tidak ada. Jiyeon selalu menjodohkan mereka dengan para pelanggannya direstoran, tapi yang terjadi mereka tidak ada yang mau berbicara dengan Jiyeon. Wanita itupun menyerah dan tidak lagi menjodoh-jodohkan. “Cukup satu wanita dirumah ini.” Sahut Bobby, pria itu tiba-tiba saja muncul bersama Hanbin, Donghyuk dan Chanwoo.

Jiyeon kembali menyuap sup rumput lautnya, “kalian itu aneh.”

“Sangat aneh.” Hanbin menambahkan perkataan istrinya, duduk disamping Jiyeon lalu mengelus perut buncit Jiyeon kemudian mencium ubun-ubun Jiyeon. “Kalian tidak iri?” Sindir Hanbin. Melihat kekesalan pada wajah saudara-saudaranya selalu bisa membuat Hanbin senang. “Sayang!” Jiyeon menyikut perut Hanbin, memperingati suaminya untuk tidak mencari masalah.

“Iya sayang.” Hanbin mendelik, kesal karena Chanwoo lebih dulu menjawab Jiyeon. Panggilan sayang Jiyeon itu hanya untuk dirinya. Bukan untuk Chanwoo, bukan untuk Yunhyeong, bukan untuk Bobby bukan juga untuk yang lainnya. “Lebih baik kau mandi saja. Kau bau Chanu.” Ketus Hanbin.

“Mau mandikan aku, sayang?” Manja Chanwoo, sesaat Hanbin merasa mual melihat wajah menjijikan Chanwoo. Lain hal dengan Jiyeon yang kini sedang tertawa geli. Yunhyeong memajukan bibirnya, “uuu sayang, ayo aku mandikan.” Hanbin semakin merasa mual. Menyaksikan bagaimana mesranya Yunhyeong dan Chanwoo membuat Hanbin jijik. “Sepertinya akan ada pasangan pengantin baru dirumah ini.” Bobby tertawa, menepuk bahu Hanbin sebelum duduk disamping pria itu. “Ihh..” cemooh Hanbin.

 “Ya. Iihh.” Tiru Jinhwan. Ia juga sebenarnya geli melihat tingkah Yunhyeong dan Chanwoo. Terlebih, mereka berdua benar-benar pergi menghilang.

Donghyuk memilih mengabaikan mereka dan lebih tertarik memperhatikan Jiyeon. “Besok jadwal check up, ‘kan?” Tanyanya pada Jiyeon. Hanbin langsung menoleh memperhatikan istrinya yang tengah mengangguk, “aku besok harus rapat bersama Bobby hyung. Kau bersama Donghyuk saja tidak apa-apa?” Khawatir Hanbin. Memang tidak ada yang perlu dikhawatirkan karena pasti selalu ada saja yang menemani Jiyeon jika dirinya ada urusan menyangkut restaurant maupun rumah sakit.

“Tidak masalah. Aku mengerti.”

“Kau tenang saja. Jagoanmu aman, aku akan menjaganya dengan baik.” Yakin Donghyuk.

Hanbin mengangguk, mempercayakan semuanya pada Donghyuk selalu bisa membuatnya tenang. Beda halnya jika mempercayakan Chanwoo atau Yunhyeong untuk menjaga Jiyeon. Semuanya akan berakhir berantakan dan membuat Hanbin frustasi.

                                 Destiny

“Kandungannya baik. Prediksiku, bayi ini akan lahir satu minggu lagi. Jaga terus pola makanmu, Nyonya Kim.” Jiyeon mengangguk paham mendengar saran dokter kandungannya. “Tentu saja, Hanbin akan mengamuk jika kami tidak menjaga pola makan istrinya.” Sahut Donghyuk, Jiyeon hanya tersenyum sementara dokter kandungan didepannya tertawa maklum. “Nyonya Kim beruntung memiliki suami seperti Tuan Kim. Selain tampan, dia juga sangat mencintaimu.”

“Saking mencintainya, dia tidak rela Jiyeon disentuh siapapun. Lihat saja dia bahkan menujukmu secara langsung untuk menangani istrinya, dia tidak suka Jiyeon ditangani dokter pria. Protektif.”

Jiyeon menyenggol Donghyuk, “hey, jangan menggosipkan suamiku.” Serunya. Donghyuk dan sang dokter hanya bisa tertawa geli, tapi Jiyeon juga turut terbawa suasana dan ikut tertawa.

Jiyeon dan Donghyuk berdiri setelah menerima hasil pemeriksaan kandungannya, “terimakasih dokter Jang.” Kata Jiyeon. Setelahnya mereka langsung keluar ruangan. “Kau mau ke restaurant?” Tanya Donghyuk.

“Memangnya kau tidak ada jam? Jangan karena rumah sakit ini milikmu kau jadi seenaknya ya.”

Donghyuk tertawa, “milik kita.” Ujarnya mengoreksi, “lagipula hari ini rumah sakit tidak terlalu sibuk.”

“Jika kau memaksa. Aku juga ingin melihat Jinhwan dan Junhoe. Mereka akan bermain piano dan saksofon, ‘kan?”

Donghyuk membukakan pintu mobil dan mempersilahkannya masuk, “ne. Makanya aku mengajakmu ke restaurant.” Katanya sambil menutup pintu mobil, berjalan memutar didepan kemudian membuka pintu kemudi dan masuk kedalam, “mungkin banyak penggemarmu yang akan senang melihatmu berkunjung.” Lanjut Donghyuk sebelum memutar kunci, pria itu melirik Jiyeon hanya untuk melihat reaksi gadis itu. “Semoga saja mereka masih mengidolakan wanita gendut ini.” Canda Jiyeon, “kau itu tetap cantik.” Jiyeon hanya bisa menggeleng mendengar penuturan Donghyuk, “aish.. sudah ayo kita pergi.”

.
.
.
.
.
.
.

You can take me all the way, you can take me all the way

Jiyeon mendengus, –sebal. “Kita terlambat.” Sesalnya karena melihat Junhoe serta Jinhwan turun dari panggung mini dan berjalan keruangan tempat mereka bersantai. “Kalau begitu, kita susul mereka saja.” Ajak Donghyuk. Pria berbibir tipis itu baru saja melangkahkan kakinya kedepan, namun cengkraman pada kemeja biru lautnya membuat langkahnya terhenti. Melihat bagaimana ekspresi kesakitan Jiyeon. “Jiyeon, kau kenapa?” Paniknya. Dahi Jiyeon mulai mengeluarkan banyak keringat dan wanita itu terus saja memegangi perutnya, “perutku sakit.” Donghyuk semakin panik, ia langsung memeriksa denyut nadi Jiyeon sambil merangkul Jiyeon untuk mempertahankan keseimbangan. “Kau akan melahirkan!” Donghyuk semakin panik, prediksi dokter memang tidak selalu tepat. Karena tidak tega mendengar jeritan kesakitan Jiyeon, Donghyuk langsung menggendong Jiyeon dan membawanya kemobil.

“Katakan pada Junhoe dan Jinhwan jika Jiyeon akan melahirkan.” Pesan Donghyuk pada penjaga yang membukakan pintu mobilnya, “bilang juga untuk menelepon Hanbin dan suruh dia untuk segera kerumah sakit.” Lanjutnya lagi, ketika mendapat anggukan dari penjaga restaurant, Donghyuk langsung buru-buru tancap gas kerumah sakit.

“Dimana Jiyeon?” Panik Hanbin. Kemeja putih serta dasinya berantakan karena terlalu panik begitu mendengar istrinya akan melahirkan. Dibelakang menyusul Bobby yang sama berantakannya dengan Hanbin. Sementara itu Chanwoo, Jinhwan, Yunhyeong dan Junhoe tampak gelisah ditempat duduknya. Donghyuk menepuk bahu Hanbin, “dia didalam. Kau harus tenang.” Katanya bijak. Sebagai dokter berpengalaman, Donghyuk jelas sering melihat situasi seperti ini. Tapi kepanikan bukan sesuatu yang baik, Donghyuk berusaha keras membuat Hanbin tenang.

Pintu ruangan terbuka, keluar seorang perawat yang langsung dikepung ketujuh pria tampan, mungkin jika ini bukan keadaan darurat, suster itu akan menjerit histeris. Tapi ini bukan saatnya untuk itu, “suaminya silahkan masuk.” Perintahnya, membuat ketujuh pria itu masuk semua namun berhasil dicegahnya. “Suaminya.” Tegasnya lagi, “kalian minggir.” Gertak Hanbin lalu menerobos masuk kedalam.

“Hah, aku juga ingin masuk.” Protes Junhoe.

Tampaknya masih ada perasaan tidak rela karena Hanbinlah suami Jiyeon. Ayah dari anak yang sebentar lagi melahirkan.

Didalam, Hanbin rasanya ingin bertukar tempat dengan Jiyeon. Ia tidak tega menyaksikan bagaimana perjuangan Jiyeon melahirkan anaknya. Teriakan itu, rasa sakit itu.. Hanbin rela bertukar posisi. Dipegangnya erat tangan Jiyeon sambil mengusap keringat dikening istrinya. “Dorong!” Perintah sang dokter, Jiyeon sekuat tenaga mendorong bayi yang ada dalam perutnya untuk keluar, menyengkram tangan Hanbin hingga Hanbin ikut merasakan sakit pada tangannya. Tidak masalah, rasa sakit pada tangannya tidak sebanding dengan rasa sakit yang jiyeon rasakan.

Sampai suara tangisan bayi terdengar, Hanbin langsung menciumi wajah Jiyeon, “aku mencintaimu.. aku mencintaimu.. aku mencintaimu.” Katanya berulang-ulang sambil terus menciumi wajah Jiyeon. Wanita itu hanya bisa memberikan sedikit senyumnya karena merasa terlalu lelah.

“Laki-laki. Dia sehat dan tampan.” Dokter Jang menyerahkan bayi mungil itu ketangan Ayahnya setelah dibersihkan dan dipakaikan kain. “Dia mirip denganku.” Tidak ada yang bisa menggantikan kebahagiaan yang dirasakan Hanbin saat ini selain melihat kelahiran putra serta kesehatan istrinya. Ia nyaris saja menjatuhkan air mata jika tidak segera mengusapnya. Terlalu bahagia sampai ia tidak bisa mengontrol emosinya, “sayang lihat.. dia tampan.” Hanbin menunjukkan bayi itu ke Jiyeon, dan Jiyeon langsung mencium kening bayi mungilnya. “Kim Hanji.” Lirih Jiyeon sambil melirik Hanbin, meminta persetujuan atas nama pemberiannya. Hanbin tersenyum, memberikan ciuman pada kening Jiyeon, “Kim Hanji. Aku suka.”

….

“Lihat, dia bersin!” Seru Jinhwan, rasanya bahagia sekali melihat kehadiran anggota baru. Apalagi, Hanji sangat menggemaskan dan sering sekali tersenyum sendiri membuat keenam pamannya gemas ingin mencubit. “Aigoo anakku sudah bangun, ne?” Bobby ikut berseru saat mata mungil Hanji terbuka, menampilkan iris hitam klorofilnya yang besar seperti mata Jiyeon. “Hey, dia anakku.” Protes Hanbin dari jauh karena pria itu sedang duduk diatas ranjang Jiyeon sambil memeluk istrinya mesra. Mengawasi keenam pria yang terus saja menempeli anaknya.

Chanwoo mendelik, “kau harus terima jika Hanji memiliki tujuh Ayah, hyung.” Katanya. “Sejak kapan Jiyeon menikah dengan kalian? Tidak bisa. Hanji itu anakku.” Jiyeon tertawa sambil mendengarkan detak jantung Hanbin karena wanita itu menyender di dada bidang Hanbin, merasakan bagaimana getaran itu seolah Hanbin baru saja berlari maraton. “Anakmu dan anak kita.” Yunhyeong ikut mengompori, “sebaiknya kita tentukan siapa yang akan dipanggil Ayah dua, Ayah tiga sampai Ayah tujuh oleh Hanji.” Kata Junhoe, membuat Hanbin semakin kesal.

“Tidak ada Ayah dua atau Ayah tujuh. Hanji akan tetap memanggil kalian Paman. Atau Kakek.” Kesalnya. Bersamaan dengan suara Hanbin yang meninggi, Hanji langsung menangis membuat Jiyeon refleks bangun dan meminta Bobby untuk membawa Hanji padanya. “Kau sih berisik.” Tegur Donghyuk, Hanbin menyesal. Ia mengelus kepala Hanji yang saat ini berada digendongan Jiyeon.

“Kalian sebaiknya keluar dulu. Aku akan memberikan Hanji asi.” Kata Jiyeon.

Bobby, dan yang lain mengangguk paham memutuskan untuk keluar. Membiarkan Jiyeon memberikan asi untuk Hanji. “Aku ini Ayahmu, mereka Kakekmu.” Bisik Hanbin, “sayang..” tegur Jiyeon karena Hanji menggeliat terganggu dengan suara Hanbin. “Maafkan aku. Aku hanya ingin membuat Hanji memanggil mereka Kakek.” Katanya bersungguh-sungguh, Jiyeon hanya menggeleng maklum, dan kembali fokus pada Hanji.

“Sayang..”

“Emm.” Jawab Jiyeon tanpa berpaling dari Hanji.

“Aku juga ingin minum asi.”

“Yaa!”

Dan suara tangisan Hanjipun kembali terdengar.

                                 Destiny

Jiyeon melenguh saat lidah panjang Hanbin menyusuri lehernya, merambat kedagu lalu masuk kemulutnya, menghisap lidah Jiyeon tanpa rasa jijik. Pegal karena sejak tadi mereka berciuman sambil berdiri, Hanbin berjalan mundur tanpa melepaskan ciumannya, ditekan kepala Jiyeon untuk lebih menempel dengan wajahnya. Kemudian Hanbin duduk di sofa yang ada dikamar, memposisikan Jiyeon duduk dipangkuannya. Mengangkat kaos tipis yang dikenakan Jiyeon dan melepas bra hitamnya. Tangannya merambat kedepan mengusap halus daging kenyal yang berpusat di dadanya sambil menjamah bibir Jiyeon. Wanita itu kembali melenguh, menjambak rambut Hanbin karena sensasi geli yang dirasakannya membuat tubuhnya bergetar.

Jiyeon selalu suka. Suka saat Hanbin menyentuhnya, memanjakan tubuhnya. Rasanya tubuhnya haus akan sentuhan Hanbin. Biarlah anaknya bermain dengan keenam pamannya dibawah, sementara Ayahnya memanjakan tubuh Ibunya. Jiyeon merintih saat gigi Hanbin menggigit putingnya pelan lalu menghisapnya. Tubuh Jiyeon merespon baik, wanita itu menggerakan pinggulnya hingga ia dapat merasakan sesuatu yang menonjol seakan menembus celana katun panjang Jiyeon.

Tangan kiri Hanbin menarik tengkuk Jiyeon kedepan, membuat Hanbin kembali menguasi bibir Jiyeon. Sedangkan tangan kanannya menekan pinggul Jiyeon pada selangkangannya. Memberikan sensasi menggairahkan.

“Jiyeon, Hanji buang air besar!” Sampai teriakan Jinhwan menghilangkan birahi pasangan muda tersebut. Jiyeon bangun dari pangkuan Hanbin, membenarkan letak bra serta kaosnya yang berantangkan. Sedangkan Hanbin tidak bisa menutupi eksperesi kekesalannya. Jiyeon memberikan ciuman singkat, “kita lanjutkan nanti malam. Sekarang kau sebaiknya bermain sendiri.” Kata Jiyeon lalu bergegas keluar kamar karena Jinhwan terus saja berteriak memanggilnya. Hanbin bersumpah akan memberikan Jinhwan pelajaran setelah ini, setelah Hanbin selesai menyelesaikan permainan solonya dikamar mandi.

Rasanya hidupnya akan terus terusik selama masih ada keenam pria pembawa masalah dirumah ini. Tapi, Hanbin setidaknya berterimakasih karena ada keenam saudaranya, ia dan Jiyeon jadi tidak terlalu lelah mengurus Hanji.

Hah, keluarga bahagia.

End.

A/n: Maafkan kenistaan gue, men!XD btw, ini udah bener-bener tamat.

Advertisements

Author:

If you Jiyeon fans, you must stay here. but, if you hate my fav idol..you must go on without drama. thx

24 thoughts on “Destiny [extra chapt.]

  1. hahhahah agaknya sampe kapanpun jiyi bakal tetep dikelilingin sama tujuh namja tampan wkwkw. hanbin yg sabar aja yaa.
    makin lengkap aja mereka dengan anggota baru yaitu anak jiyi sama hanbin 🙂

  2. Wkwk kasian si hanbin, mau itu tapi diganggu mulu. modus bgt dah tuh yang lain, makanya cpat kawin biar gak nganggu hanbin hehe

  3. Hahahahaha hidup JiHan couple tidak akan tenang kalau masih bersama ke 6 laki” tampan lain’a kocakkk kalii mereka bener” layak’a saudara ahhhhh Q juga mau jadi Jiyi bisa dapet suami kaya Hanbin dan juga dicintai dan dilindungi sama 6 laki” tampan lain’a

  4. wkwkwk pengen banget mrk dipanggil ayah ampe mau pake ni segala..
    ah seneng mrk bahagia walau hrus penuh liku

  5. Hahaha lucu banget disaat jiyeon udah hamil keenam yang lain malah masih gagal move on XD owww oww adegan hot hanyeon owwww…. Gakuat aku tuh bayangin badannya hanbin *kotor mode on* apalagi sejak ikoncert kemaren yang hanbinnya topless… Tolong tolong tolong… Tattoo nya mak :’c. Ngakak ih ayah satu ayah dua ayah tujuh :”) aku tuh butuh asupan jikon lagi… Aku haus akan jikon :” *apasih* hohoho tapi keren lahh aku sukaa XD

  6. kasihan sama yang lain belum pada punya istri apalagi pacar lah mereka belum bisa move on dari jiyeon
    Duh hanbin tingkah lakunya kayak anak2 aja

  7. ahh so sweeet banget.kluarga yng bahagia ..walau selalu gatot pas mau ml ..tspi setidak nya hanji punya 6 babysister gratis heeee..

  8. wahhh ternyata ada extra chapternya 😀
    kasian Jiyeon sma hanbin keganggu mulu 😀
    bner2 lucu klo sampai kejadian hanji bilang sma member lainnya ayah ,,
    ditunggu ff Jiyeon lainnya 😀

  9. Sesuai judulnya emang udh takdir nya jiyeon hidup dengan 7 namja tampan
    Jiyeon serasa permaisuri

    Gagal move on nihhh dr ff ini
    Jadi makin ketagihan baca jikon hahahaha

  10. Duh aku mau dong dftr jd calon slh satu dr ke-6nya. Masa iya mereka masih jomblo, gagal move on sih wkwk #salahfokus

  11. aigoo seneng bangett baca nya ,
    yeeeyyy happy ending 😀
    hanji beruntung banget … punya 7 appa yang ganteng2 ..
    walau hanbin gak setuju 😀
    aaakhh Daebakkk banget ni ff eon ><

  12. jadi ini benar2 end,kalau begitu bye hanbin jiyeon..
    coba anaknya kembar 7,kekeke. biar appa 1 sd 7 kebagian semua..

  13. yaampun cutenya mereka ahahaha pasti bahagia banget jadi jiyeon, 7 cowonya gamau lepas dari dia wkwwkk ayah kedua ketiga sampe hanbin ngamuk :”) sequel lagi plissss tapi hanbin-jiyeon honeymoon ahahahaha #plak

  14. woanday! ngakak ayahnya banyak banget nyampe7😂 kkkkk dasar pria-pria jomblo yg gagal move on😂 ganggu moment hanbin ama jiyeon aja ya😂 kkkkk yg sabar aja ya kalian, nunggu tuh para jogan (jomblo ganteng) menanggalkan gelar jomblonya kkkkk
    maigat suka banget sama mereka semua ini😊 keharmonisan mereka tuh bikin envy tau ga😊

  15. Happy ending ^^
    Thankyou so much thor sumpah suka banget ama ceritanya dan castnya bener2 nyentuh seakan ceritanya nyata sperti drama . Maaf baru ninggalin jejak disini karna jujur aja ak terlalu terbawa rasa penasaran untuk ngabisin chaptnya terlebih dhulu kkkk~
    Lain kali bisa req jiyeon june ga thor? Suka bgt sumpah!!!
    Author jjang! Teruslah berkarya thor

  16. Klau hanbin ikutan minum asi jatah hanji kurang donk. Keluarga bahagia. Bikin sequelnya lagi dong hehehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s