Posted in Destiny

Destiny [end]

image


“Hai, Paman.” Sapa Jiyeon begitu dirinya berdiri tepat dimeja direktur yang biasa diduduki Ayahnya, pemandangan sejak kecil yang selalu disukainya saat melihat raut wajah Ayahnya yang tengah serius memeriksa dokumen-dokumen penting sambil sesekali melirik, memberikan senyum pada Jiyeon kecil yang tengah asik bermain boneka Barbie di sofa jika selesai bermain piano kini berganti menjadi pemandangan orang lain.

Park Hyungsik. Begitu nama yang tertera pada label nama diatas meja, menatap Jiyeon penuh keterkejutan serta ketidakpercayaan. “Jiyeon? Kau masih hidup?” Tanyanya tidak percaya sambil berdiri berjalan mendekati Jiyeon, gadis itu hanya memberikan cengiran polos sambil mengangguk energik, “apa kau senang? Lihatlah keponakanmu masih hidup.” Riang Jiyeon. Gadis itu ikut mendekati pamannya dan memberikan pelukan hangat, “tapi aku rasa kau lebih menginginkan kematianku, Paman.” Hyungsik terkejut mendengar bisikan Jiyeon yang bernada ketus, ia kemudian berusaha melepaskan pelukan Jiyeon tapi tenaga Jiyeon lebih kuat darinya, gadis Aphrodite itu bahkan mencengkram kuat leher belakang Hyungsik serta pinggangnya.

“Kenapa buru-buru? Nikmati saja pelukan keponakan tersayangmu ini.” Jiyeon mengambil bingkai foto milik Hyungsik yang ada dimeja lalu membantingnya hingga kacanya terpecah, “sejak kapan kau bisa melihat?!” Gertak Hyungsik berusaha menutupi rasa takutnya. Aura yang Jiyeon berikan sungguh berbeda, aura hitam mencengkam membuat Hyungsik merasa terancam terlebih saat Jiyeon dengan mudahnya membalik tubuh Hyungsik ke sisi meja dan mengunci kedua tangannya dibelakang.

Jiyeon menggores pipi kiri Hyungsik menggunakan pecahan beling kaca, “sejak aku diselamatkan para malaikat maut.” Serunya disertai teriakan marah Hyungsik. “Well, dimana kakak tersayangku?” Hyungsik tertawa seiring pertanyaan yang Jiyeon lontarkan membuat amarah Jiyeon kian terpancing dan membenturkan kepala Hyungsik kemeja sampai terdengar bunyi retakan pada kayu jati tersebut, kemudian Hyungsik menggunakan kakinya untuk menendang kaki Jiyeon sebagai pembalasan rasa sakit yang ia rasakan.

“Tendangan macam apa itu? Tidak heran jika kau selalu berada dibelakang dan memanfaatkan orang lain. Lem-mah.” Sindiran halus Jiyeon disertai goresan dipipi kiri Hyungsik untuk yang kedua kalinya kembali membuat Hyungsik berteriak histeris. “Say thank you pada ruangan kedap suara ini. That’s amaze.”

“Brengsek! Seharusnya kau ikut mati saja!”

Jiyeon memasang wajah sedih mendengar umpatan Hyungsik, gadis itu kemudian menjambak rambut Hyungsik yang penuh darah dan menghadapkan wajah Hyungsik kewajahnya, lewat netra hijaunya Jiyeon menatap sendu Hyungsik, “aku turut menyesal.” Ungkapnya masih setia memasang mimik sedih, “tapi kau harus menerima kenyataan.” Hyungsik meludahi wajah Jiyeon tepat mengenai hidung mancung gadis itu, “kau berubah menjadi iblis karena ketujuh pria setan itu!” Amuknya.

Go to hell!” Jiyeon berteriak marah sambil membanting tubuh lemah Hyungsik kelantai lalu memelintir tangannya hingga patah bergantian memelintir tulang lehernya, “game over.” Katanya begitu Hyungsik sudah tidak bernapas. Gadis itu terdiam sejenak merasa bersalah, namun rasa sakit hati sudah menutupi itu semua, ditambah Hyungsik sudah menghina orang-orang yang sangat Jiyeon sayangi. Pikiran Jiyeon kembali terusik saat timah emas menembus bahunya menciptakan rasa kejut yang menyakitkan, gadis itu menoleh melihat siluit pria tinggi tegap yang berdiri angkuh bersama empat orang pria berpakaian serba hitam dibelakangnya.

Not over, but just started.” Si pria itu berjalan mendekati Jiyeon yang sedang menahan kesakitan, sementara itu Jiyeon justru berusaha keras untuk tetap tersadar dan tidak ingin terlihat lemah, namun apadaya karena kondisinya memang belum pulih betul paska operasi serta tenaganya yang sudah terkuras habis. Pria itu lantas mencengkram dagu Jiyeon, “mata yang indah, sweety.” Jiyeon melotot marah, “Oppa!”

Yes, It’s me. Merindukanku?”

Never!” Pria beridentitas Park Sejun itu lantas tertawa seperti orang tidak waras, berbalik memunggungi Jiyeon yang sedang terduduk lemas dilantai kemudian kembali berbalik dan langsung mencengkram wajah Jiyeon menggunakan tangan kanannya, matanya melotot tajam sarat akan kemarahan mendalam, “kau akan segera menemukan ajalmu, tuan putri.” Gertaknya sambil memerintahkan salah satu dari keempat pria tadi untuk membawakan map berisi dokumen penting, begitu map itu sudah ditangannya, Sejun langsung menamparkan map tersebut kewajah Jiyeon, “tapi kau harus menandatangani surat ini.” Gertaknya semakin keras mencengkram wajah Jiyeon, tidak ada reaksi apapun yang ditunjukkan Jiyeon. Jiyeon hanya terdiam kalem membuat Sejun merasa dipermainkan, “kau tuli? Ayo tanda tangan!” Teriak Sejun.

Suara alarm kebakaran berbunyi nyaring, seketika itu juga Jiyeon menunjukkan senyum yang menurut Sejun amat menakutkan, “they here.” Peringat Jiyeon. Sejun lantas menyuruh keempat pria berpakaian serba hitam langsung mengecek kondisi diluar sementara dia langsung meraih handphonenya untuk meminta bantuan semua anak buahnya.

“Brengsek!” Umpatnya karena tidak mendapatkan sinyal, matanya beralih menatap Jiyeon yang mulai memucat karena luka tembak yang didapatnya, kemudian Sejun langsung tergesa-gesa menghampiri Jiyeon dan menarik paksa tangan Jiyeon, menyuruh gadis itu memegang bolpoin kemudian menggerakannya kearah map, “cepat tanda tangan!” Teriaknya sambil terus mencengkram tangan Jiyeon, “kau menyakitiku!” Jiyeon balas menjerit, merasakan nyeri pada bahu serta jarinya yang kian menyiksa. Jiyeon bahkan tidak tahu sampai kapan dia bisa bertahan mengulur waktu.

Plak

Rasa amarah Sejun terus meningkat hingga membuatnya gelap mata dan menapar Jiyeon hingga pipinya memiliki cap tangan berwarna merah yang diciptakan Sejun, “tidak berguna!” Sejun kembali ingin menampar Jiyeon, namun tebasan pada tangannya lebih dulu terjadi membuatnya menjerit menyaksikan sendiri bagaimana tangannya jatuh menggelinding kebawah. Kepalanya buru-buru menengok mencari sang pelaku, begitu juga dengan Jiyeon.

“Balasan yang setimpal karena telah menyakiti Aphroditeku.” Pria bertubuh tegap berjubah hitam serta topeng Guy Fawkes yang dikenakannya berdiri angkuh sambil menodongkan pedangnya keleher Sejun. Menyusul pria yang serupa dengannya langsung menggendong Jiyeon dan membawanya pergi, “tidak ada waktu. Selesaikan dengan cepat, Ares.” Pesan pria tersebut sebelum benar-benar pergi membawa Jiyeon.

“Kau dengar itu? Tidak ada waktu.” Suara berat Ares mencengkam bagaikan suara malaikat maut kian menyudutkan Sejun yang terlalu terkejut dengan kondisi tangannya. Darah menetes seperti aliran keran yang tidak bisa berhenti, hal itu justru dimanfaatkan Ares untuk menebas langsung kepala Sejun dan menusuk kedua matanya sadis, “mata dibalas mata.” Katanya. Suara peringatan Chanwoo tentang kedatangan polisi setempat membuat Ares langsung berlari keluar dan berpapasan dengan Poseidon serta Zeus, “dimana Sejun dan Hyungsik.” Tanya Poseidon, Ares menunjuk kebawah menggunakan telunjuknya, “neraka.” Jawabnya dingin.

“Cepat keluar! One minute again.” Suara peringatan Chanwoo kembali terdengar, Zeus lantas memerintahkan Ares serta Poseidon untuk berlari melewati jalan tikus yang mereka buat karena seluruh akses keluar sudah dikunci mereka. “Hades, ada satu mobil polisi yang terlibat kerja sama. Ledakan sekarang!” Perintah Ares sambil terus berlari. Saat sudah sampai diluar, mereka langsung memasuki mobil dan mengemudikan dengan batas maksimal, baru tujuh detik mereka keluar gedung tiba-tiba terdengar ledakan yang cukup besar dari lantai delapan dan api yang membakar mulai merembet membakar hangus gedung pencakar langit tersebut.

Dipersimpangan jalan Ares, Zeus dan Poseidon melihat sendiri ada satu mobil polisi yang hangus terbakar ditengah-tengah jalan, lalu Hades bergegas masuk kedalam mobil memanfaatkan situasi yang tengah ricuh dijalan raya. “Aphrodite?” Tanya Hades begitu tidak menemukan Jiyeon didalam mobil.

Apollo sudah membawanya terlebih dahulu, bahunya terluka.” Jawab Ares sambil terus fokus mengemudi, “dia baik-baik saja?” Poseidon mulai ikut bertanya, “tidak baik. Tapi aku sudah menyuruh Dionisos untuk mengoperasi segera,” Ares melirik Zeus yang duduk disampingnya tengah menatapnya menanti penjelasan, “kita terlambat. Bahunya terkena timah emas.” Sesal Ares, Zeus langsung saja memukul dashboard mobil penuh emosi sementara Hades memukul kaca mobil berkali-kali dan Poseidon menjambak rambutnya gusar.

“Aku harap bahunya tidak lumpuh.” Harap Ares.

                                   Destiny

Sesampainya dirumah, Zeus, Poseidon, Hades serta Ares langsung menerobos ruang operasi dan melihat sendiri bagaimana Jiyeon kesakitan saat Donghyuk sedang berusaha mengeluarkan timah emas yang berada cukup dalam dibahu Jiyeon. Hanbin langsung sigap menarik kapala Jiyeon kedadanya dan membiarkan Jiyeon menggigit jubah yang masih dikenakannya. Zeus memilih menyingkir ke sudut ruangan bersama Hades, sedangkan Poseidon mengambil langkah kesamping Junhoe dan Chanwoo yang berdiri tepat bersebrangan dengan Hanbin.

“Apa kau tidak bisa membiusnya lebih dulu?” Tanya Hanbin karena rasa sakit yang Jiyeon rasakan membuatnya ikut merasa terluka. “Tidak ada waktu untuk itu.” Donghyuk menjawab tanpa menghilangkan fokus, sedikit susah mengeluarkan timah emas yang menyatu dengan daging pada bahu Jiyeon, terlebih gadis itu terus bergerak gelisah karena rasa sakit yang dirasakannya. “Jiyeon, tenang!” Donghyuk berkata berusaha menutupi rasa paniknya, Hanbin menunduk berusaha melihat wajah Jiyeon. Gadis itu semakin keras menggigit jubahnya disertai lelehan air mata yang menggumpal, batin Hanbin ikut terluka.

“Jiyeon, kau kuat.” Suara semangat Yunhyeong justru semakin membuat Jiyeon menggigit jubah lebih keras. Hanbin harus nekat, dia memegang bahu Jiyeon erat dan membiarkan Donghyuk mengambil timah emas tersebut. Tangan kanannya terus mempertahankan bahu Jiyeon untuk tidak bergerak sementara tangan kirinya memeluk kepala Jiyeon erat. Melihat hal itu Junhoe menunduk sambil tertawa kecil, “aku kalah.” Lirihnya langsung menarik perhatian Chanwoo serta Yunhyeong yang memang berdiri dekat dengannya, “sejak awal kita memang sudah kalah. Too late.” Timpal Yunhyeong.

Chanwoo terkejut begitupun dengan Junhoe, “kita? Kau?” Bisik Chanwoo pada Yunhyeong dari balik punggung Junhoe, berbeda dengan reaksi Chanwoo, Junhoe justru menyeringai menggoda Yunhyeong. “Apa?! Perasaan orang bisa berubah.” Kilahnya sambil membuang muka, berusaha keras memfokuskan tatapannya pada Jiyeon yang tengah menahan sakit dan mengabaikan segala godaan yang dilontarkan Chanwoo serta Junhoe.

Berbeda dengan Bobby, tahu bagaimana sifat Hanbin sejak kecil justru membuat Bobby tersenyum lega, “aku tidak percaya jika Jiyeonlah kelemahan terbesar Hanbin. Selama ini aku tidak pernah melihat Hanbin tersenyum, sedih dan terluka. Bukankah menarik?” Tawa samar Bobby membuat fokus Jinhwan beralih. “Kau baik-baik saja? Aku tahu kau juga menganggap Jiyeon spesial.” Bobby tersenyum amat tulus, “apapun selama Hanbin bisa membuat Jiyeon bahagia. Yang pasti, aku bisa kapan saja merebut Jiyeon kembali jika Hanbin menyakitinya.”

“Bukankah Jiyeon sendiri belum memutuskan? Bisa saja dia lebih memilihku.” Bobby tertawa sambil memukul pelan kepala Jinhwan yang lebih pendek darinya, “impossible. Takdir Aphrodite ada apa Ares.” Jinhwan kembali menatap Bobby samar, “berarti letak kesalahan ada padamu yang memberi namanya Aphrodite.” Perkataan Jinhwan itu hanya mampu membuat Bobby merasa geli sekaligus kesal karena tidak akan pernah selesai jika berdebat dengan Jinhwan.

“Selesai.” Lega Donghyuk ketika timah emas tersebut berhasil dikeluarkannya dan meletakannya diatas nampan perak yang berada diatas meja. Lantas saja Bobby dan Jinhwan langsung bergegas menghampiri Jiyeon dan memeluk gadis itu bergantian setelah bahunya diperban. “Coba gerakan bahumu perlahan.” Perintah Donghyuk, Jiyeon pun langsung mengikutinya dan menggerakan bahunya walaupun masih terasa sakit, “woaa, strong girl.” Puji Chanwoo karena tidak terjadi kelumpuhan pada bahu Jiyeon.

“Terimakasih.” Lirih Jiyeon pada ketujuh lelaki yang selama ini selalu melindunginya.

.
.
.
.
.
.
.

Hanbin sedang menemani Jiyeon duduk ditaman sambil menikmati indahnya langit sore yang berwarna oranye sementara keenam pria yang lain justru lebih memilih menyibukkan diri tidak ingin mengganggu, bahkan Donghyuk harus berucap syukur karena Hanbin melupakan duel yang ditakutinya. Jiyeon tersenyum manis, kaos v-neck hot pink yang dikenakannya sudah berganti menjadi dress rumahan berwarna dark blue semakin mempercantik dirinya. Rambut dark coklat bergelombangnya berkibar seiring tiupan angin gugur dan mata hijau cerahnya membuat daya tarik kian memikat. Hanbin tidak bisa memalingkan wajahnya, wajah ayu Jiyeon terlalu sayang jika harus dilewatkan.

“Mau sampai kapan kau memperhatikanku seperti itu?” Jiyeon tertawa seiring kepalanya yang menoleh pada Hanbin, senyum cerah yang Jiyeon tunjukkan seolah membuat tubuh pria yang memiliki hidung mancung itu merasa mati rasa, “kau cantik.” Hanya satu kalimat sederhana itulah yang mampu Hanbin keluarkan. Tapi justru kalimat sederhana itu berhasil membuat Jiyeon berpaling menutupi pipinya yang bersemu merah jambu.

“Aku tidak percaya jika pria tempramental sepertimu memiliki wajah seperti pahatan dewa.” Ujar Jiyeon tanpa menatap Hanbin, gadis itu justru menatap dedaunan kering yang ada dibawah kakinya. Hanbin memijit belakang lehernya sambil tersenyum malu, hal yang tidak akan pernah bisa dia tunjukkan pada siapapun kecuali pada seseorang yang menurutnya spesial, dan Jiyeonlah orang itu.

Tidak akan pernah ada kesempatan kedua. Itu yang selalu diterapkan Hanbin sejak kecil. Melihat kondisi Jiyeon yang sudah mulai membaik, pria itu sudah memutuskan langkah apa yang akan dia ambil, tidak akan pernah juga ia memberikan kesempatan pada yang lain untuk memiliki Jiyeon. “Jiyeon-ah..” maka tidak akan ada waktu yang tepat selain saat ini, melihat bagaimana cara Jiyeon berpaling untuk menatapnya disertai senyum yang selalu ia sukai, tidak akan lagi ada sebuah keraguan, “saranghae.” Dan akhirnya apa yang selama ini mengganjal dihatinya telah ia ungkapkan hanya tinggal menunggu keputusan akhir. “Sejak pertama kita bertemu dan sejak saat ini. Tidak pernah berkurang melainkan bertambah.”  Jiyeonlah yang dapat memutuskan akhir dari kisah ini.

Senyuman yang Hanbin tunjukan perlahan memudar saat Jiyeon mulai melunturkan senyumnya, ekspresi wajahnya membuat Hanbin mengerti bagaimana akhir kisah cinta yang bahkan baru saja ingin dia bangun, Hanbin memilih untuk memutar waktu dan mencegah mulutnya berbicara daripada harus menerima kenyataan pahit yang tidak akan pernah bisa diterimanya, sang Ares pun menunduk menyembunyikan onyx nya serta menghindari netra hijau  milik Aphrodite. Terlalu sakit, namun satu kecupan pada pipinya membuat kepala itu kembali mengangkat, Jiyeon tersenyum.. Aphrodite tersenyum membuat perasaan Ares kembali menghangat.

Disaat Hanbin ingin mengatakan sesuatu, Jiyeon justru berdiri dan berlari kedalam rumah namun menyempatkan diri hanya untuk melihat Hanbin sambil terus tertawa riang, “I’m yours.” Teriaknya lantang dan kembali berlari masuk kedalam rumah menyisahkan Hanbin yang hanya bisa terdiam menggigit bibir bawahnya menahan sensasi menggelitik yang mampu menguasi tubuhnya hingga ia tidak tahan untuk tidak berteriak senang. Hanbin yang biasa terlihat kalem dan manly kini melompat sambil mengulangi perkataan Jiyeon, “I’m yours.” Teriaknya lalu berlari menyusul Jiyeon. This isn’t happily ever after, it’s so much more than that.

                                   Destiny

Drama is begin.” Keluh Yunhyeong saat Jiyeon cemberut karena Hanbin akan kembali menjalankan misi kelas S bersamanya serta Jinhwan. Sejak Bobby mengatakan jika Hanbin yang mendapat tugas malam ini, Jiyeon langsung melayangkan protes tapi ditolak Bobby dengan tegas. Hasilnya gadis itu selalu cemberut dan tidak ingin bicara dengan Bobby, puncaknya sampai Hanbin benar-benar harus pergi dan Jiyeon mengantarkannya sampai kedepan pintu seperti seorang istri yang akan mengantarkan suaminya pergi berperang.

“Jangan membawa luka segorespun.” Pesan Jiyeon tanpa menghilangkan wajah cemberutnya. Hanbin hanya mampu tersenyum geli melihat kelakuan Jiyeon yang kini sudah menjadi gadisnya, diciumnya kening Jiyeon cukup lama, “berikan aku senyum, aku janji tidak akan terluka jika kau memberikan aku senyummu.” Perkataan Hanbin tersebut berhasil merubah suasan hati Jiyeon menjadi sangat baik, dampaknya gadis itu langsung memberikan senyuman lebar dan itu semua ditunjukkan untuk Hanbin, “hn. Aku pergi.” Pamit Hanbin setelah memberikan ciuman sayang dibibir Jiyeon membuat Chanwoo yang melihat dari balik punggung Jiyeon ingin memuntahkan isi perutnya. Yunhyeong sendiri terang-terangan menunjukkan ekspresi kesal namun pura-pura tersenyum manis saat Hanbin menatapnya intim.

“Sudah pergi sana.” Perintah Junhoe, sejak tadi dia merasa udara sekitar terasa panas bahkan sejak dua hari yang lalu begitu Hanbin dengan bangganya memperkenalkan Jiyeon sebagai miliknya dan sejak saat itu pula Jiyeon selalu lengket dengan Hanbin. Begitu Hanbin, Yunhyeong dan Jinhwan sudah memasuki mobil dan mobilnya hilang dibalik gerbang, Junhoe langsung merasakan apa itu udara segar, “yang lama.” Lanjutnya kemudian.

Bobby tidak akan pernah bisa berhenti tertawa jika melihat kelakuan anggota yang lain karena masih belum bisa menerima kenyataan, “mana senyum cantiknya adik oppa?” Goda Bobby setelah gadis itu berbalik dan berhadapan langsung dengannya, mata sipit yang diperlihatkan Bobby menandakan jika pria itu sedang tersenyum lebar sambil menunjukkan gigi kelincinya yang lucu, “lucunya jika sedang marah.” Godanya lagi sambil memeluk kepala Jiyeon dan menciumi kepalanya gemas. Untungnya Hanbin tidak ada jadi Bobby bisa sesuka hati memperlakukan Jiyeon tanpa takut kena amukan Hanbin.

Jiyeon melayangkan tatapan protesnya sambil mencengkram baju pada bagian pinggang kanan Bobby yang justru terlihat jika mereka sedang berpelukan, “kau membuat rambutku rusak.” Keluhnya sambil mendongak menatap mata Bobby, Bobby justru semakin senang menggoda Jiyeon dan mengusapkan hidungnya kerambut Jiyeon, “oppa!” Protesnya kembali membuat Bobby tertawa.

“Aish, si kelinci itu mencari kesempatan saat Hanbin pergi.” Kesal Donghyuk. Pria yang mendapat julukan Dionisos itu langsung menarik tangan Jiyeon dan menariknya pergi, “ayo kita latihan kendo.” Alibinya sambil mengabaikan panggilan Bobby dan teriakan protes Junhoe.

“Pusing kepala Chanwoo.” Keluh Chanwoo dan lebih memilih untuk stanby di monitor untuk memantau ketiga rekannya yang sedang bertugas.

.
.
.
.
.
.
.
.

You never really got to lie
I just need you to say goodbye
Then I’ll really let you go
And you’ll never see me so just,
Stop wasting my time

I’ll never come around you again, No more
This will be the end, now just shut that door
But you’ll miss me everyday,
So hurt in every way It will probably make you wanna go and drive yourself insane

Suara merdu Jiyeon ditambah permainan piano Junhoe membuat Chanwoo serta Bobby memejamkan mata menikmati sambil duduk dianak tangga, sementara itu Donghyuk berdiri disamping grand piano sambil menenteng gitar putih dan mulai memetik sinarnya.

You could have it all but you broke my heart
And now I gotta do what I do
You know you always bring out the best in me
But you played me for a fool
Why you do that babe It doesnt have to be this way
But there’s no way I could stay

And your eyes, nose, lips
It hunts my memory
I can’t forget you if I try
I wanna believe in your lies

And your eyes, nose, lips
It hunts my memory
I can’t forget you if I die
Feels like I’m losing my mind

I’m tired, I’m tired, I’m so done
Before you wake up I will be gone
No more sitting home alone
Or waiting for your phone call
You don’t deserve my love

Now you can go look for that girl next door
Caus you ain’t the one I can call my own
I know you’ll miss me everyday
So hurting every —

“Donghyuk-ah!” Suara jeritan Hanbin membuat Jiyeon dan yang lain langsung berlari mengecek Hanbin menghentikan permainan piano serta gitar, mata mereka semua terbelalak saat Hanbin dan Jinhwan menggandeng Yunhyeong yang hampir tidak sadarkan diri dengan lengan kirinya yang berceceran darah. “Tolong Yunhyeong!” Jinhwan ikut berteriak panik, yang lainpun langsung bergegas membantu. Chanwoo dan Junhoe dengan badan besar mereka langsung mengangkat Yunhyeong keatas sementara yang lain mengikuti dibelakang, “tolong carikan persediaan darah golongan A.” Perintah Donghyuk tanpa berhenti berlari. Jinhwan serta Bobby langsung berlari berlawanan arah untuk mencari darah golongan A dirumah sakit terdekat.

“Apa yang terjadi?” Panik Jiyeon, gadis itu tidak henti-hentinya menangis dari pertama melihat keadaan Yunhyeong sampai pria itu sudah dibaringkan ditempat tidur, Hanbin sendiri tidak bisa menjawab karena ia juga dalam keadaan panik dan tidak tahu apa yang harus dilakukan, “Jiyeon menyingkirlah.” Panik Donghyuk, Hanbin langsung membawa Jiyeon ke pojok ruangan agar tidak mengganggu konsentrasi Donghyuk yang kini sedang fokus pada kondisi Yunhyeong. Chanwoo serta Junhoe dengan gesit mambantu Donghyuk mengurus Yunhyeong.

“Aaaahhhhhhh!” Jeritan Yunhyeong saat Donghyuk memeriksa tangannya lantas membuat Jiyeon tidak tega dan memilih menutup matanya, Hanbin memeluk erat Jiyeon, mendekapnya dan tidak membiarkan tubuh Jiyeon berbalik walau sejengkalpun, “tutup telingamu.” Perintah Hanbin.

“Sial. Kita harus amputasi tangan Yunhyeong, ada racun yang mulai menyebar.” Marah Donghyuk sambil meminta persetujuan Hanbin, Junhoe serta Chanwoo. Jiyeon yang mendengarnya langsung mengeratkan pelukannya semakin histeris, “lakukan!” Perintah Hanbin. “Lakukan apapun agar dia selamat.” Lanjutnya kemudian. Donghyuk mengangguk kemudian bergegas menyiapkan alat yang tersimpan dalam lemari, “Yunhyeong-ah ini pasti akan sakit, jadi maafkan aku harus membiusmu.” Setelah meminta izin, Donghyuk langsung menyuntikkan obat bius pada lengan Yunhyeong hingga suara teriakan kesakitannya kembali terdengar, hanya sebentar karena setelahnya Yunhyeong tidak sadarkan diri.

Jiyeon mulai berpikir jika dia tidak bisa hanya diam dan menangisi keadaan, maka yang dilakukannya melepas kasar pelukan Hanbin dan berlari keluar ruangan diikuti Hanbin. “Jiyeon-ah!” Panggilan Hanbin diabaikan Jiyeon, gadis itu semakin mempercepat larinya hingga keluar gerbang dan terus berlari, entah apa yang ditujunya tapi Hanbin tetap setia mengikutinya dari belakang.

Gereja.

Itu tujuan Jiyeon. Kakinya melangkah memasuki gereja dan berdiri didepannya, tangannya terkatup menjadi satu dan matanya terpejam. Hanbin sendiri hanya bisa berdiri kaku didepan pintu gereja tanpa niatan untuk melangkahkan kakinya kedalam gereja. Tidak pernah terbesit dalam pikirannya untuk mendatangi tempat seperti ini setelah apa yang telah dialaminya saat kecil. Dulu, dulu sekali saat kecil ia sering datang ke gereja bersama kedua orang tua dan kakaknya. Tapi tidak lagi saat Hanbin melihat sendiri bagaimana kedua orang tuanya dibakar hidup-hidup oleh kakaknya sendiri. Kakaknya membebaskan Hanbin dan membiarkan Hanbin hidup dengan dendam yang membayangi.

Hingga diusianya yang ke 17 tahun, dengan bantuan Bobby ia berhasil membunuh kakaknya yang seorang psikopat.

Ia sedih, merasa kotor dan tidak pantas berada ditempat suci seperti ini. Hingga sebuah tangan menyentuh bahunya, Hanbin bahkan tidak sadar sejak kapan Jiyeon sudah berdiri didepannya. “Berdoalah, Tuhan pasti akan mengabulkannya.” Hanbin menggeleng, “Tuhan tidak akan menerima manusia kotor sepertiku.” Kali ini Jiyeon yang menggeleng, “selama kau mau memperbaiki diri, maka Tuhan akan selalu memaafkan.” Hanbin hanya bisa diam saat Jiyeon menariknya masuk kedalam, menyuruh Hanbin mengikuti intruksinya untuk berdoa.

Mata Hanbin pun terpejam, memohon keselamatan Yunhyeong dan memohon ampun atas segala dosa yang pernah diperbuatnya serta teman-temannya, menyadari bahwa apa yang menimpa Yunhyeong kini adalah balasan dari apa yang mereka perbuat, dan pria yang selalu bersikap tegas itu mulai meneteskan air matanya. Selesai berdoa, Hanbin langsung memeluk Jiyeon, “kau harus mau menuruti apa yang aku katakan.” Kata Jiyeon sambil mengusap punggung Hanbin yang bergetar.

“Aku akan bicarakan ini dengan yang lain.” Jawab Hanbin. Jiyeon tidak akan pernah bisa memaksa, semua keputusan ada pada Hanbin dan yang lainnya. Bagaimanapun Jiyeon hanya bisa berharap yang terbaik untuk mereka. “Ayo pulang.” Ajak Jiyeon.

                                 Destiny

“Dia sudah mulai membaik.” Ungkap Donghyuk saat Jiyeon dan Hanbin kembali dan melihat Yunhyeong tertidur nyenyak. Namun perhatian Jiyeon justru terfokus pada tangan kiri Yunhyeong yang menghilang, dadanya sesak. Kembali air mata tidak bisa dibendungnya. Jiyeon meminta izin pada Hanbin untuk menemani Yunhyeong hingga pria itu terbangun, Hanbin mengizinkannya dan yang lainpun memilih keluar untuk beristirahat.

Kenangannya bersama Yunhyeong membuat Jiyeon kembali dibuat sedih. Gadis itu mengusap dahi Yunhyeong yang tertutup poni penuh kelembutan, “kau ingat saat pertama kali aku datang kesini? Kau orang pertama yang menolakku dan terang-terangan mengibarkan bendera perang,” Jiyeon tertawa pelan membayangkan kekonyolan mereka berdua, “kau terus mencari masalah sampai aku merasa lelah dan mengabaikanmu.” Jiyeon beralih mengusap pipi pucat Yunhyeong, “hingga suatu malam aku melihat dirimu yang rapuh. Kau hampir membunuhku, tapi aku percaya kau tidak akan membiarkanku mati, maka dari itu aku hanya diam. Setelah kejadian itu kau tidak lagi datang menggangguku, sampai aku yang meminta bertemu denganmu.”

Menghela napas sebentar, Jiyeon menatap Yunhyeong sendu, “kau harus tahu seberapa senangnya aku saat berbaikan denganmu. Terimakasih sudah mau menjadi temanku. Yunhyeong-ah, aku harap kau kuat menghadapi ini semua.” Jiyeon menunduk, tidak kuasa menahan kesedihan akan keprihatinan atas apa yang kini menimpa Yunhyeong. Sampai sebuah tangan mengusap kepalanya yang kini sedang berjongkok ditepi ranjang. Jiyeon mendongak, melihat bagaimana Yunhyeong tersenyum walau wajahnya sangat pucat, “kau pikir aku lemah? Hey, jangan meremahkan seorang Song Yunhyeong! Aku bisa melawanmu walau dengan satu tangan.” Canda Yunhyeong, tangan kanannya yang masih utuh menyentil dahi Jiyeon hingga gadis itu tertawa disertai air mata, “dasar iblis jelek.” Rengeknya kemudian, wajah Jiyeon sudah dipenuhi air mata walau sekeras apapun Jiyeon berusaha menghapusnya, tapi air matanya terus saja turun tanpa mau berhenti. Yunhyeong tertawa dibuatnya.

“Hei. Ada kabar baik.” Suara Bobby yang terdengar telinga Jiyeon serta Yunhyeong membuat mereka menengok dan mendapati semua anggota The Seven God Of Death berdiri didepan pintu. “Kita akan memulai kehidupan yang baru. Yang lebih baik dari sekarang.” Lanjut Bobby. Jiyeon lantas menutup mulutnya menggunakan kedua tangannya karena rasa tidak percaya, ia melirik Hanbin dan pria itu langsung mengangguk sambil tersenyum tipis membuat Jiyeon langsung berlari memeluknya hingga tubuh Hanbin sedikit oleng kebelakang, “terimakasih. Terimakasih banyak, Hanbin-ah.” Riang Jiyeon, kepalanya ditenggelamkan kelekukan leher Hanbin sementara Hanbin hanya bisa tersenyum dan memberikan ciuman di telinga Jiyeon sambil mempererat pelukannya.

“Tunggu.. ada apa ini?” Tanya Yunhyeong tidak mengerti, sebagai satu-satunya orang yang merasa tidak mengerti apa-apa membuatnya sedikit cemberut lantas membuat Chanwoo menghampirinya sambil tertawa riang. “Yo, brother! Ternyata ada untungnya juga tanganmu buntung, kita jadi pensiun.” Riang Chanwoo, tapi jitakan harus diterimanya saat Junhoe turut mendekati Yunhyeong, “kita akan berhenti dari dunia mafia.” Koreksi Junhoe.

“Apalagi yang kita cari? Semua dendam sudah terbalaskan. Tidak ada alasan untuk kita membunuh orang-orang tidak bersalah.” Jinhwan ikut menjawab, memang tidak ada lagi alasan bagi mereka untuk terus menggeluti dunia hitam. Junhoe juga sudah selesai membalaskan dendamnya pada salah satu kolega Ayahnya yang sudah dengan sadis menembak kepala Ayah dan Ibu nya saat dirinya sedang menunjukkan pertunjukkan piano waktu taman kanak-kanak. Ya, tidak ada lagi alasan untuk membunuh.

“Hidup normal jauh menyenangkan. Aku berencana membangun rumah sakit untuk membantu rakyat-rakyat kecil.” Bobby mulai angkat bicara sambil menepuk Donghyuk dan mengedipkan matanya, Donghyuk sendiri hanya bisa tertawa dibuatnya. “Kita juga akan membuat restoran bergaya Eropa. Aku rasa Junhoe dan Jiyeon bisa sesuka hati menjadi bintang disana.” Kata Donghyuk. Jiyeon hanya bisa tertawa dipelukan Hanbin saat mendengar pengakuan Donghyuk, Hanbin hanya memberi respon mengusap bahu Jiyeon hingga gadis itu mendongak dan Hanbin menghadiahinya sebuah ciuman dibibir. “Dengan identitas baru pastinya.” Lanjut Hanbin. Mendengar teman-temannya berbicara aneh justru membuat Yunhyeong menganga tidak percaya, “jangan bilang kita akan berpisah?” Paniknya, yang lain langsung tertawa karena pertanyaan Yunhyeong yang mereka anggap idiot, “kau berniat membunuhku secara perlahan, heh? Tentu saja kita akan terus bersama. Tapi kita akan menjalani kehidupan yang lebih baik.” Kata Jinhwan, “lagipula aku tidak akan rela membiarkan Jiyeon dan Hanbin hanya hidup berdua.” Junhoe melanjutkan disertai anggukan yang lainnya.

Hanbin melayangkan tatapan sinisnya sementara Jiyeon tidak bisa berhenti tertawa, “itu artinya kalian tidak akan membiarkan aku menikahi Jiyeon, kan?” Tanya Hanbin sarkastis.

“Tentu saja tidak!” Jerit keenam lelaki yang ada disitu, tentu saja teriakan Yunhyeong paling kencang hingga mengundang perhatian yang lain. “Aku tidak akan rela partner berantemku diambil Hanbin.” Alibinya sambil mengalihkan pandangan. “Perasaan orang bisa berubah. Siapa ya yang bilang seperti itu?” Goda Chanwoo memancing Junhoe untuk ikut menggoda Yunhyeong, berlanjut ke yang lain.

Disaat Junhoe, Chanwoo, Jinhwan, Donghyuk serta Bobby puas menggoda Yunhyeong, Hanbin justru semakin mempererat pelukannya pada Jiyeon sambil sesekali menciumi kepala gadis itu, Jiyeon sendiri tidak bisa mengatakan apapun selain merasa bahagia karena akhirnya awan hitam akan berganti menjadi awan biru. Malam akan berganti menjadi siang.

“Jiyeon-ah, saranghae.” Bisik Hanbin, Jiyeon mendongak memberikan kecupan kecil pada bibir Hanbin, “nado saranghae. Hanbin-ah.”

End.

.

.

Park Jiyeon (22 th)
Kim Hanbin (22 th)
Kim Bobby (24 th)
Song Yunhyeong (22 th)
Kim Jinhwan (22 th)
Kim Donghyuk (22 th)
Koo Junhoe (23 th)
Jung Chanwoo (20 th)

.

.

A/n: finished~ yeay! Kelar juga, men. Walaupun agak garela namatin ini karena gue makin cinta ikon dan bakal kangen banget sama ff jikon. *tebarvirusjikon* DAN KYAAAAAA IKONCERT INA ABIS LEBARAN, CUY!  Walaupun masih lama tapi gue udah exited banget pengen ketemu pacar *pelukyoyo*. Yahhhh jiyeon sama hanbin (HAHAHAHA) abis gimana Aphrodite kan hak patennya Ares! *ngeles* yunhyeong itu hak patennya gue XD. Say thanks deh buat kalian semua yang udah kena wabah virus jikon :* lup yu all. Btw keputusan final oneshot; JiKon (Jiyeon-Yunhyeong) ini sebagai pengobat fans yunyeon karena mereka tidak bersatu.

Advertisements

Author:

If you Jiyeon fans, you must stay here. but, if you hate my fav idol..you must go on without drama. thx

32 thoughts on “Destiny [end]

  1. yahhhh kok udah end aja, padahal masih pengen baca nih ff.
    huaaaa sempet syok waktu tangan yunhyeong mau diamputasi. untung aja yunhyeong masih bisa ketawa gak dibawa sedih sama tangannya.
    nahhhh bagus deh mereka udah pensiun jadi mafia wkwkwk. biar keselamatan mereka gak buat jiyi khawatir. wkwkwk mereka masih aja gak bisa ngerelain jiyi sama hanbin. tapi salut sama kebersamaan mereka 🙂

  2. intinya smua mau ngejalanin hidup yang baru dengan lebih baik,,
    haha dan ternyata jiyeon ma hanbin toh, tpi ttep pda ga rela ya klo ampe nikah

  3. Arghhhhhhh Jiyi sama Binannnnn jieeeee selamatttt walau harus nerima kalo mereka berdua pasti bakal selalu dirusuhi sama ke 6 orang lain’a tapi emang bener dah Aprhodite hanya akan selalu untuk Ares huwaaaaa mereka romantis

    Walau sempet deg”an pas Jiyi kena tembakan dan saat diambil itu lohhh bener” kita merasakan sakittttt dan dari situ semua tau kalo sang Dewi cinta hanya untuk sang Dewa Ares

    Saat Yun kena luka dan harus diamputasi ya ampunnnn itu tuh kaya menyanyat banget sampe Jiyi ngk kuat dan pergi ke gereja dan si Binan juga ikut berdoa karna dukungan dari Jiyi itu tuh bener” mengharukan

    Ini FF daebakkkkkkkkk sampe ngk rela kalo udah ending semoga ada ff JiKON lagi dan JiHan Couple lagi hehehe

    Minta maaf kalo part sebelum’a ngk dicoment karna kejar tayang

  4. udah end ternnyata,,
    masih g rela nihh harus berpisah sma ff ini,,
    g ada sequel kahhh?? 😀
    akhirnya Jiyeon sma Hanbin dehh emang aprhodite cuma milik ares 😀
    ksian yunhyeong pas harus diamputasi tpi untungnya dia g terpuruk,, lucu bget pas dia cemburu ngeliat moment hanbin Jiyeon,
    emang perasaan pasti bisa berubah yg dlunya kya sebel bnget sma Jiyeon sekarang malah di jatuh cinta,, poor yunhyeong

    sangat dituggu ff oneshotnya 🙂

  5. Wahhh happy ending,,, knp ngga dibuat ampe jiyeon hangbin menikah lalu pnya anak,, kan biar nambah gimana gitu,, rasa kekeluargaan yg lebih sweet ^^

  6. YAhhhh ending 😦
    Bakal kangen nih sama ff jikon
    Buatin lagi donk jikon yg baru
    Aku suka soalnya ada tema persahabatan dan cinta jd bacanya makin semangat

    Part ending bener2 daebak deh
    Moment saat jiyeon mau diambil peluru nya itu bikin mirisss bgt trus moment saat yunhyeong harus kehilangan sebelah tangannya itu bikin sedih 😦

    Tapi….. moment yg bikin senyum itu saat jiyeon bilang ‘im yours’ ke hanbin hahahahahaa mereka cute bgt ><

    Buatin ff jikon lagi ya
    Aku ketagihan jadi nya

  7. Kereeen !!! Jiyi saat mghadapi pmn na seruu bgt action na ^^
    Cyeeee hanbin-jiyi mrk jadian nich . .
    Mrk bwt yg laen pd iri hahhaha
    Kshn yunhyung khlngn tangan na,
    Syukurlah dy pny tmn2 yg brsm na
    Sediiih ni ending
    (-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩__-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩)​

  8. salah tebak dari awal kirain bakal jiyeon yunhyeong haha tapi gapapa tetep keren endingnya :v
    ngeri banget loh thor pas baca adegan tebas menebasnya apalagi pas tau tangan yunhyeong harus diamputasi rasanya kaki nyilu sumpah daebakk dah, ditunggu next ff nya, fighting!! 🙂

  9. huhuhuhu kerennnn thor
    suka endingnyaaaa
    kadang lucu, sedih, pokoknya daebakkk dehh
    ditunggu ff JIKON lainya thor
    FIGHTING JUSEYOOO~ ^^

  10. ya ampunn sii sayankk hyunyeong akhu tangan.a ilang … sedihhh iihhh .. knpa haruss dia yg kena musibahh.a … huhhuuhhhuuu …

    sedihh jga sii cozz udda tamatt lagi ff.a di tunggu ff jikonn lainn.a .. haa

  11. ah udh tamat aja.ditunggu ff yg lainnya ya thor.
    ikon kebanyakan umur 22 ya berartilahiran 93 sama kek jiyi.
    yeay happy ending dan mereka mau mengubah hidup mereka menjadi lebih baik

  12. Hua apa²an udah ending aja eon!!!😩😩😩 huaaa yoyo tangannya mesti ilang😩😩😩 ditunggu aja eon ff JiKON yang lain. yang banyak eonn 😂😂😂

  13. udah end aja,jadi jiyeon pasangannya hanbin..
    yang pintar itu bobby udah kalah dari hanbin tapi dg bertitelkan oppa bisa meluk2 lagi..hahahaha..
    mau juga lah oneshoot hanbin jiyeon yg romance..perasaan kurang deh moment hanyeon,kwkwkw…

  14. Yehhhhh jahat si yunhyeong gak dgn jiyi huhu 😢😢😢😢 udah yunhyeong dgn diriku aja hihi

    Akhirnya mereka berhenti jg dari dunia gelap huft

  15. ya tuhan gak nyangka banget jiyeon hanbin ….
    yaahhh udah end 😦 😦
    ditunggu eon ff jiyeon yunhyeong nyaaa :-* :-*

  16. Happy ending juga…
    Tpi kasian sama yunhyeong waktu tangannya diamputasi…
    Ditunggu ff selanjutnya eonni

  17. Haaaaaaahhh ko udah end sihh… Kirain masih baru di mulai konflik utamanya.. Aiih garela udah end huhuhu :’c tapi gapapa kusuka, cieeeeeeeeee ares ciee cieee berhasil mendapatkan aphrodite nya XD bener juga kata jinhwan ya letak kesalahan ada di bobby yang ngasih nama aphrodite, coba ngasih namanya nama istrinya zeus mesti akhirnya ama bobby atau athena mesti akhirnya sama apollo(??) hohoho bersyukurlah kamu hanbin. Thanks to bobby XD gatau kenapa yang scene di mobil yang pas awal2 itu jadi keinget mv dumb&dumber… Kan hanbin nyetir, disebelahnya bobby, sisanya dibelakang wkwkwkwk XD ucul banget pas para member ga terima atas bersatunya aphrodite dan ares. Apalagi jiyeonnya jadi nempel banget ke hanbin wkwk. Pusing pala chanwoo XD sempet sedih juga pas yunhyeong jadi buntung…. Tapi bener kata chanu, ada untungnya juga yunhyeong buntung(?) wkwkwk ciee selamat atas pensiunnya 7 dewa kematian.. Dan 1 dewi kematian(?) jiyeon juga sudah membunuh orang kan XD ayoo jikonnya ditunggu lagiiii… Sama semua member kalo bisa huahuahua

    1. yeaaayy sama hanbiiinnn ><

      anyway sorry ya thor langsung komen dipart ini, soalnya ketinggalan jauh 😦 udah gak buka wp beberapa hari ahaha

  18. Agsk shock lo pas udh muncul judul ending,,, whaattt gila cepet bgt… kirain jiyeon bakal ikut2 an jd mafia, wkwk. Tp ga apa lah, gwenchana.
    Dann yg trbyang2 tuh pas si hanbin nebas tangannya park sejun. Agak geli tp ngeri gmn gitu. Haha

  19. yeeee akhirnya happily ever afer😃
    aku suka banget sama ceritanya 😀 seru banget 😀
    dan lagi karakternya canu disini keknya minta gue kawinin deh kkkkk
    weh mas yoyo teriakannya kenceng amat-_- kalem aja beb kamu ga bakalan jomblo kok meski jiyeon nya sama hanbin. kan masih ada aku kembarannya😊😊😊 kkkkkk

  20. Yaaaaaaa udah end… Keren ceritanya,, buat lg dong ttg legend yunani, wkwkkk,, dgn cerita yg berbeda tentunya ^^
    Wkwkwkwkkk yunhyeong jd yg paling cemburu, ngakak, hahahaaa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s