Posted in Destiny

Destiny [VIII]

image


“Dia bangun.” Seru Yunhyeong ketika melihat kelopak mata Jiyeon perlahan bergerak konstan membuat semuanya langsung membentuk lingkaran mengelilingi Jiyeon, “kau beruntung karena dia sadar dihari keempat.” Jinhwan memberikan peringatan pada Donghyuk yang berdiri disampingnya, sementara Donghyuk hanya bisa menatap Jinhwan dengan tatapan penuh sesal dan bersalah. “Lihat sisi baiknya saja, dia sudah sadar dan semoga apa yang kita harapkan terjadi.” Bela Junhoe tanpa mengalihkan fokusnya dari Jiyeon.

Uh,” lenguhan Jiyeon yang terus berusaha membuka matanya membuat Bobby lantas melirik Donghyuk untuk meminta kejelasan. “Reaksi alamiah.” Kata Donghyuk sambil tersenyum meyakinkan.

Penantian selama empat haripun terbayar saat manik hijau zambrut itu terlihat berkilau indah menatap wajah mereka, “apa aku sudah mati?” Jiyeon bergumam putus asa, sosok pertama yang dilihatnya adalah pria dengan mata sebesar bulan sabit sedang menatapnya penuh kecemasan, wajahnya yang rupawan serta putih mulus berseri membuat Jiyeon merasakan perasaan aman.

“Jadi kalian malaikat maut? Aku tidak heran kenapa para gadis banyak yang ingin bunuh diri.” Yunhyeong nyaris saja ingin menjitak kepala Jiyeon jika Chanwoo tidak sigap memegangi tangan Jiyeon dan memberikan peringatan untuk sabar. “Kau baik-baik saja? Apa ada yang sakit?” Hanbin menyentuh pipi Jiyeon membuat gadis itu langsung menoleh menatapnya, melihat pria yang tidak kalah rupawannya dari yang pertama dia lihat. Bedanya, rahang pria kedua ini terlihat keras dan memiliki dada bidang serta kharisma yang sangat berkilau dan memiliki hidung yang mancung. “Aku baru tahu jika orang meninggal bisa merasakan sakit.” Junhoe tersedak air liurnya sendiri karena tidak kuat menahan sensasi geli saat Jiyeon melontarkan lelucon konyol baginya.

“Aku ingin menghantui Chanwoo setelah ini.”

Ctak

“yaa!”

“Apa orang meninggal bisa merasakan sakit?” Dumel Chanwoo setelah menjitak kepala Jiyeon dan membuat gadis itu meringis sakit, “kau menyakitinya.” Marah Hanbin lalu mengusap bagian kepala Jiyeon yang sakit. Namun reaksi yang ditunjukan Jiyeon selanjutnya hanya menatap mereka penuh ketidakpercayaan, “aku masih hidup?” Tanyanya memastikan.

“Kau pikir? Ayolah bisakah kau tunjukan rekasi yang lain? Seperti ‘waow aku bisa lihat’ atau ‘kyaaa aku tidak percaya ini’ bukannya ‘aku sudah mati?’ Atau ‘aku masih hidup?’ Kau merusak momen, miss.” Jengah Yunhyeong yang langsung membuat ekspresi Jiyeon berubah konstan menjadi ekspresi terkejut yang terjadi secara alamiah sambil menutup mulutnya takjub, “jadi aku sungguh masih hidup dan bisa melihat? Waw.” Histeris Jiyeon sambil menunjukkan kilatan matanya yang semakin berkilat membuat Bobby, Hanbin, Junhoe, Donghyuk dan Jinhwan tertawa gemas sementara Yunhyeong dan Chanwoo hanya menampilkan raut masam.

“Kau senang?” Tanya Jinhwan langsung mendapatkan anggukan Jiyeon.

“Kami akan memperkenalkan diri kami satu persatu.” Kata Junhoe namun langsung ditepis Jiyeon. Gadis itu menggeleng tanpa berhenti tersenyum, “aku bisa mengenali kalian.” Jawabnya lalu memberikan intruksi pada Bobby yang berada disamping kirinya untuk mendekat dan Jiyeon langsung memejamkan matanya sambil meraba tangannya diwajah Bobby, setelah selesai dia membuka mata dan tersenyum. “Bobby oppa.” Riangnya sambil memperhatikan wajah yang pertama kali dia lihat tadi, mata yang berbentuk bulan sabit itu makin menipis seiring lengkungan pada bibirnya yang tertarik menunjukkan senyum, “you right.” Seru Bobby.

Lalu Jiyeon beralih ke sosok tinggi disamping Bobby, wajahnya keras dan bibirnya tebal serta jakun yang lumayan besar, namun terlihat keren. “Koo Junhoe.” Tebaknya dan langsung dihadiahi senyuman menawan Junhoe membuat semburat merah pada pipi Jiyeon muncul. “Next.” Intruksi Hanbin yang bernada kaku itu membuat Jiyeon langsung beralih pada sosok disamping Junhoe, tingginya setara dengan Bobby dan memiliki tubuh kurus namun berisi, hidung mungil serta bibir tipis yang seksi. Rambutnya yang acak-acakan disertai cengiran super seksi membuat Jiyeon kembali teringat akan kenangan masa kecilnya, “my sexy boy, Hyukie?” Jerit Jiyeon tanpa meraba wajah Donghyuk dan langsung melompat memeluk membuat yang lain tampak tidak terima hingga Hanbin langsung menarik kaos belakang Jiyeon membuat gadis itu kembali terduduk diranjang, namun Jiyeon masih tetap menatap Donghyuk penuh kerinduan. “Next, Jiyeon.” Seruan Bobby membuat Jiyeon menekuk wajahnya dan menampilkan ekspresi cemberut, “apa-apaan wajah itu?” Protes Jinhwan setelah Jiyeon beralih padanya. Jiyeon melihat pria mungil yang tingginya hampir setara dengannya sedang menatapnya datar, hidungnya mungil serta mancung seperti Donghyuk, matanya sama-sama sipit seperti Donghyuk namun bibirnya agak sedikit lebih tebal dan terdapat tanda hitam dibawah mata sebelah kanannya, kemudian poni yang hampir menutupi matanya itu membuat wajahnya semakin terlihat imut.

Ekspresi Jiyeon berubah kembali ceria, “barbie Jinan!” Jeritnya lagi sambil melompat memeluk Jinhwan amat erat hingga Jinhwan merasa sesak dan langsung melepaskan Jiyeon, “kau hampir membunuhku.” Protes Jinhwan menciptakan wajah cemberut Jiyeon kembali muncul tapi Jinhwan segera mengacak rambut Jiyeon disertai senyuman yang selama ini tidak pernah ia tunjukan pada siapapun. Benar-benar senyum tulus tanpa kepalsuan, “aku selalu suka melihatmu tersenyum.” Gemas Jiyeon semakin memperkuat pikiran Hanbin jika membuat Jiyeon kembali melihat adalah tindakan yang salah, dia takut posisinya semakin terancam.

“Ehem.” Yunhyeong berdehem keras sambil mengusap dagunya dan melirik kelangit-langit berpura-pura acuh. Begitu tidak mendapat reaksi apapun ia langsung melirik Jiyeon dan melihat gadis itu tengah menatapnya intens. Jiyeon melihat sosok pria bertubuh tinggi seperti Donghyuk dan Bobby, bibirnya seksi serta sorot matanya yang tajam seolah mampu menghipnotis kaum adam. Model rambutnya yang memiliki poni seperti mangkuk sebatas alis membuat penampilannya semakin menawan.

“Dilihat dari sikapmu, kau pasti si iblis Yunhyeong.” Yunhyeong melayangkan tatapan tidak terima, “dasar setan merah.” Kesalnya namun Jiyeon langsung melengos kesamping membuat Yunhyeong semakin kesal dan pergi keluar tanpa mengucapkan sepatah katapun. Seolah tidak perduli, Jiyeon langsung meraba wajah sosok pria yang tingginya setara dengan Junhoe namun wajahnya tampak polos dan memiliki mata yang besar, hidung mancung serta bibir tipis, bahunya juga terlihat tegap dan kokoh. “Waw, Chanuku ternyata sangat besar.” Goda Jiyeon membuat Chanwoo hanya menunduk malu-malu membuat Donghyuk mencibir kesal. “Seperti kingkong.” Sahut Donghyuk yang langsung mendapat tatapan protes Chanwoo.

And the last. Jiyeon sudah bisa menebak dengan jelas bahwa yang terakhir pasti Hanbin, Hanbin adalah pria yang tadi mengusap kepalanya. Sosok kedua yang dilihat setelah Bobby, pria berkharisma idaman seluruh wanita. “Kim Hanbin.” Seru Jiyeon, nada suaranya melembut hingga Hanbin tidak tahan untuk tidak memeluk Jiyeon. Gadis Aphrodite itu tertawa renyah sambil mengelus punggung lebar Hanbin sementara Hanbin terus mencium dalam-dalam harum tubuh Jiyeon yang sangat dirindukannya.

“Nuna, kau tidak memelukku seperti itu. Kau curang.” Protesan Chanwoo seakan racun bagi Hanbin karena Jiyeon langsung melepaskan pelukannya dan beralih ke Chanwoo, “Chanwoo-ya.. come to nuna.” Seru Jiyeon sambil merentangkan kedua tangannya untuk memeluk Chanwoo. Saat berada dipelukan Jiyeon, Chanwoo langsung menjulurkan lidahnya meledek Hanbin menciptakan hiburan sendiri bagi Bobby, Junhoe, Donghyuk serta Jinhwan karena perubahan ekspresi Hanbin yang berubah masam seperti anak kecil.

“Jiyeon-ah.” Panggil Bobby, Jiyeon melepaskan pelukannya pada Chanwoo lalu menghadap Bobby yang kini tengah merapihkan rambutnya yang berantakan membuat perasaan Jiyeon kian menghangat, “sebaiknya kau bicara dengan Yunhyeong. Dia yang memintaku untuk memberikanmu sebuah mata.” Ungkapan Bobby tadi merubah ekspresi Jiyeon menjadi murung disertai rasa bersalah.

Are you okay?” Kawatir Junhoe sambil mengusap bahu Jiyeon.

Jiyeon mengangguk disertai senyum samar, “ya. Aku rasa aku perlu bicara dengan Yunhyeong.” Ungkapnya.

                                   Destiny

Yunhyeong mencelupkan sebagian kakinya dikolam renang sambil menikmati rintikan hujan kecil yang mampu menenangkan hatinya, dia sendiri tidak tahu kenapa merasa sangat kesal saat Jiyeon menunjukkan reaksi yang tidak pernah ia harapkan. Bahkan dinginnya udara tidak membuatnya berpikir untuk berlindung sejenak, membiarkan kakinya yang hanya dibalut boxer hitam terkena rintikan kecil-kecil air hujan.

“Kau bisa sakit.” Suara lembut ciri khas kaum adam mampu membuat Yunhyeong berpaling, mendapati Jiyeon yang ikut duduk disampingnya. Gadis itu menggulung celana katun panjang yang dia kenakan sebatas lutut lalu ikut mencelupkan kakinya kedalam kolam. Kaos v-neck tipis berwarna hot pinknya mulai terlihat transparan karena terkena gerimis. Mata gadis itu kemudian terpejam, menikmati hembusan angin yang juga membuat pohon bunga kamboja kuning yang berada ditepi kolam tertiup menyebarkan harumnya. “Seharusnya kau mengkhawatirkan dirimu sendiri.” Kata Yunhyeong sambil membuang mukanya kesamping, tidak minat menatap wajah Jiyeon terlalu lama.

“Aku suka hujan, jadi tidak masalah.”

“Jelas masalah. Kau baru sadar dan kondisimu masih belum stabil. Kau bisa sakit.”

Jiyeon langsung menengok menghadap Yunhyeong, menunjukkan deretan gigi putihnya yang berjejer rapih disertai matanya yang berkilat penuh binar. “Kau mengkhawatirkan aku?” Tanyanya pada Yunhyeong yang masih berpaling.

“Aku pikir kita sudah berdamai. Kenapa kau mengacuhkanku?” Sedih Jiyeon sambil memandang pantulan dirinya dikolam renang dan menggoyang-goyangkan kakinya seirama. Sekali-kali matanya melirik Yunhyeong namun pria itu tetap enggan melihatnya membuat perasaan Jiyeon semakin menyedihkan. “Gomawo..” gadis yang kini memiliki manik mata hijau zambrut tersebut bergumam lirih yang nyatanya mampu menarik perhatian Yunhyeong untuk menoleh sekedar ingin melihat raut ekspresi Jiyeon.

“Terimakasih karena kau sudah mewujudkan impianku untuk bisa melihat. Terimakasih untuk mata ini.” Jiyeon kembali mendongak, mata hijau jernihnya menatap langsung mata kelam Yunhyeong yang kini memperhatikannya dalam kebisuan. “Aku tahu sikapku tadi keterlaluan, aku minta maaf.” Jiyeon menyentuh tangan Yunhyeong yang berada ditepi kolam sambil meremasnya pelan, “maaf?” Ungkapnya sekali lagi.

“Bagaimana jika aku tidak mau memaafkan?” Tantang Yunhyeong. Senyum tulus Jiyeon berubah menjadi datar disertai kerutan samar lalu memukul tangan Yunhyeong main-main, “kau memang iblis berhati batu.”

“Hey!” Protes Yunhyeong. Matanya memelototi Jiyeon namun gadis itu hanya melengos dan cemberut, “padahal aku susah payah menahan gengsi untuk minta maaf.” Gerutu Jiyeon mampu membuat Yunhyeong tertawa walau samar.

“Memangnya apa yang perlu dimaafkan? Aku kan tidak marah.” Kepala Jiyeon merespon cepat untuk kembali menengok Yunhyeong yang kini matanya menyipit akibat senyuman yang dia tunjukan, “teman?” Tanya Jiyeon memastikan dan langsung dibalas anggukan Yunhyeong, “hu’um, teman.” Jawabnya meluruskan.

Cengiran Jiyeon semakin melebar seiring dengan tingkahnya yang langsung bergeser untuk memeluk Yunhyeong, “gomawo, chingu-yaa.” Senangnya. Namun berbeda dengan Yunhyeong yang hanya bisa terdiam kaku, terlalu terkejut karena Jiyeon memeluknya secara tiba-tiba. Bahkan Yunhyeong terlihat susah payah menelan liurnya sendiri, tangannya ragu-ragu membalas pelukan Jiyeon namun hanya terhenti diudara.

“Yunhyeong-ah..”

“N-ne?”

“Kau masih ingat saat kau bilang tidak akan jatuh cinta padaku?”

“Ya.”

“Lalu kenapa jantungmu bunyinya cepat sekali?”

Wajah Yunhyeong memerah, pria itu lantas melepaskan paksa pelukan Jiyeon dan melayangkan tatapan sengit namun Jiyeon justru tersenyum menggoda. “Masih mau mengelak?” Goda Jiyeon.

“Tsk, aku jatuh cinta padamu? Aku pikir itu seperti gunung fuji yang mencair. Mustahil.”

Jiyeon baru ingin membalas perkataan Yunhyeong, tapi hujan yang semula hanya rintik-rintik berubah menjadi besar membuat mereka berdua menjadi panik. “Jiyeon, ayo masuk.” Panik Yunhyeong berusaha melindungi kepala Jiyeon dengan tangannya dan melindungi tubuh Jiyeon dengan cara merangkul gadis itu lalu menggiringnya masuk kedalam.

.
.
.
.
.

“Park Sejun tahu Jiyeon masih hidup?” Tanya Junhoe, matanya berkilat waspada begitu Bobby memberitahu jika Park Sejun mengetahui keberadaan Jiyeon saat ini. “Ya. Itu sebabnya dia mengirim FBI langsung dari Amerika untuk menghancurkan kita. Dia ingin merebut Jiyeon karena membutuhkan tanda tangannya untuk pengalihan saham.” Timpal Hanbin.

Jinhwan mulai gelisah diatas sofa begitu juga Chanwoo yang biasanya terlihat masa bodo kali ini dia benar-benar serius mendengarkan pembicaraan. Sementara itu Donghyuk menunduk seperti memikirkan sesuatu, “apa dia otak dari semua ini? Aku tidak percaya Jiyeon dikelilingi orang-orang licik seperti mereka.” Rahang Donghyuk mengeras seiring anggukan yang diberikan Hanbin.

Park Hyungsik sudah merencenakan semuanya dua hari setelah Jiyeon lahir. Tahu jika semua harta waris akan diberikan untuk Jiyeon, Hyungsik menyuruh Ayah Jiyeon untuk mengadopsi Sejun yang saat itu berusia dua tahun dengan dalih anak lelaki akan membuat perusahaan maju.”

Hanbin meneruskan keterangan Bobby, “tapi Hyungsik selalu membayang-bayangi Sejun dari kecil. Hingga pas remaja Sejun berhasil dia kendalikan, mempermainkan emosi keluarga Park dengan cara memanipulasi kecelakaan pesawat yang dialami Sejun, Nenek dan Kakek Jiyeon. Padahal kejadian yang sebenarnya Sejun telah membunuh mereka berdua terlebih dahulu dan membakar mayatnya untuk menghilangkan bukti. Saat perhatian keluarga Park teralihkan, saat itu Hyungsik mempermainkan saham salah satu perusahaan Ayah Jiyeon hingga jatuh bangkrut. Tapi berhasil dikendalikan kembali dan membuat Hyungsik murka, hingga terjadilah pembunuhan saat itu.”

“Brengsek.” Junhoe mengumpat menahan marah, tangannya terkepal hingga memperlihatkan urat-urat nadi tangannya terlihat dari balik kulitnya yang putih. “Hyung, kau harus cepat mengambil keputusan. Kita tidak bisa membiarkan Jiyeon dalam bahaya.” Kata Jinhwan. Bobby hanya bisa mengangguk kalem, pemimpin bertittle Zeus itu juga pastinya akan melakukan apa saja untuk melindungi satu-satunya gadis yang ada disini, satu-satunya juga sosok yang selalu hadir dalam setiap mimpinya. Tapi acara diskusi mereka harus terpotong saat Yunhyeong menggebrak meja menciptakan suara gema yang lumayan kencang.

“Sebelum itu kalian harus bertanggung jawab karena Jiyeon sudah mengetahui semuanya!” Teriaknya marah.

“Apa kalian bodoh membicarakan hal sepenting ini disini? Kalian tidak berpikir jika Jiyeon bisa saja mendengar? Demi Tuhan!” Yunhyeong semakin frustasi, bajunya yang basah tidak membuatnya merasa terganggu karena saat ini Jiyeonlah yang paling penting. Hanbin dan Bobby langsung berdiri menghadap Yunhyeong, “dimana Jiyeon?” Tanya Bobby.

Yunhyeong mendelik sinis, “dikamarnya. Dia langsung pergi setelah mendengar semuanya. Aku sudah menyusulnya tapi kamarnya terkunci.” Ketusnya. Bersamaan dengan itu Bobby dan Hanbin langsung bergegas pergi ke kamar Jiyeon, diikuti Donghyuk, Jinhwan serta Junhoe. Menyisahkan Chanwoo yang hanya diam menatap Yunhyeong, “apa yang kau lihat?” Marah Yunhyeong membuat Chanwoo menggeleng kaku, pria paling muda itu langsung berdiri berniat menyusul yang lain, begitu disamping Yunhyeong, Chanwoo menepuk bahu Yunhyeong dramatis, “aku bangga padamu, hyung.” Tukasnya kemudian sambil berlari menaiki tangga menghindari amukan murka Yunhyeong.

….

“Jiyeon..” panggil Hanbin sambil mengetuk pintu Jiyeon sementara Jinhwan sedang berusaha keras untuk mengakali pintu Jiyeon yang terkunci. “Ayolah jangan seperti ini, kita bicara ya?” Sambung Bobby namun masih tidak mendapat respon apapun dari Jiyeon. “Hyung.. sudah selesai.” Lapor Jinhwan ketika pintu kamar Jiyeon sudah bisa terbuka, mereka langsung saja menerobos masuk karena terlalu khawatir dengan keadaan gadis Aphrodite tersebut. Namun nihil, tidak ada sosok Jiyeon dimanapun berhasil membuat kelima pria itu merasakan firasat buruk.

Mata Donghyuk menatap curiga jendela kamar yang terbuka, menghampirinya dan melihat ada sobekan kaos didekat jendela, matanya berkilat tajam dan rahangnya mengeras, “Jiyeon dalam bahaya.” Teriaknya sambil menunjukkan sobekan kaos Jiyeon.

“Brengsek!” Amuk Hanbin langsung berlari keluar begitupula yang lain. Sebelum itu, mereka mengambil persediaan senjata yang ada serta topeng dan jubah yang biasa mereka pakai.

Tbc.

Advertisements

Author:

If you Jiyeon fans, you must stay here. but, if you hate my fav idol..you must go on without drama. thx

27 thoughts on “Destiny [VIII]

  1. Weeeiii itu jiyeon kbur sndiri atau diculik?
    Kyaknya kabut deh
    Aduh ji kamu bru aja bsa ngeliat udh kbur aja
    Tpi ska bgt moment yunhyeong ama jiyeon

    Lucuuu
    Hanbin udh cinta bgt ama jiyeon
    Isshhh pnasaran ama lanjutannya

  2. Ohh no…konflik yg sebenarx akn segera dimulai..semoga jiy selamat..dan yg pling ditunggu tunggu jiy sama siapa..sma yunhyeong juga gk papa.keke.next!

  3. Jiyeon diculik??? Apa kabur??
    Padahal di awal moment nya udh bagus bgt tp di akhir part bener2 bikin penasaran abis
    Duhh bingung dah mau ngomong apa
    Pokoknya pengen cepet2 baca lanjutannya xd

  4. Itu jiyeon kabur atau diculik sama sejun
    Ya ampunn padahal jiyeon baru bisa ngeliat
    Next chap lebih cepet ya update nya
    Penasaran sama lanjutannya

  5. Senengg bgt akhirnya jiyeon bisa melihat lg.
    Eii… itu si jiyeon kabur apa diculik ya?? Jgn smpek knp2 deh sama dia.

  6. Jiyeon diculik kah?? Atau kabur?? Aiihhh padahal baru aja bahagia2 bisa ngeliat :””” semoga cepet ketemu dan baik2 aja Jiyeonnya…. Uhhh hanbin posesif banget orangnya ya wkwkwk, yunhyeong juga kayanya udah mulai ada rasa, bobby juga hmmm sampe selalu hadir di mimpi sang zeus… Hmm tinggal junhoe nih apa kabar, gimana perkembangan perasaanmu nak june wkwkwk. Donghyuk jinan mah udah cocok jadi sahabat, kasih sayangnya antar sahabat aja.. Kalo lebih ntar hanbin bisa stres hahahaha. Next next nexttttt baru mau masuk konflik sebenarnya nih(?)

  7. hahahah jiyi ampun dehh malah ngira dia udah mati wkwkwk.
    hadehhhh hanbin bakal tambah cemburu nih agaknya setelah jiyi bisa lihat lagi.
    ooowwww jadi jiyi udah denger semua nya?
    itu jiyi kabur apa diculik??

  8. Keren ffny..
    Pa lg wktu jiyeon bru sdar dan mw ngehantui chanwo lucu bgt klo d bayangin..
    Ff ni selalu bkn pnsran..
    Smg cpt update lg ya eonni..
    Oiya slm knl jg..
    Maaf aku udh bc dari destiny 1 smpai skrg tp blm prnh komen maqf ya..
    Oiya klo bsa agk d pnjgin ya eon terima kasih

  9. udh tiba dikonflik yg sebenarnya.jiyeon kabur atau diculik.jangan sampai jiyeon kenapa”.
    padahal baru aja mereka bahagian tapi mlh dilanda maslah yg berat.next

  10. Nicee
    Semoga next chapternya lebih cepet di publish nya ya thor, ga sabar nunggu episode selanjutnya wkwk 😄

  11. hmp smuanya senang jiyeon udah bisa ngeliat lagi,, tpi bkalan ada konflik besar apalgi jiyeon ilang.
    masi penuh teka teki, dan ga bisa endingnya ma siapa..
    tapi aku suka yunhyeong,, heheh walau kyk musuh tapi saling peduli

  12. nahh Lohhh Jiyeon kok g ada??
    dia kemana kabur kahh?
    si sejun + hyungsik licik bnget ihh semoga aja Jiyeon g kenapa2,,
    ciee Yunhyeong perhatan sma jiyeon,,
    suka bnget pas Yunhyeong ngelindungi Jiyeon dari hujan kyanya so sweet bnget tuhh,,
    ditunggu part selnjutnya,,

  13. kyaaaa … jiyeon.a di culikk kyak.a mahh nii tteh … ayo oppa2 selamatkan urii jiyeonnii … hyunyeong lindungi jiyeon … hahahha

  14. hahaha lawak ni jiyeon,orang pada khawatir dia malah bingung sudah mati atau belum..tapi yg bikin lucu. aku akan menghantui chanwoo,kkwkwkkw..
    intinya dg sapa pun jiyeon q terima deh bila perlu sama semuanya,muachhhhaaaaa

  15. Yeay akhirnya Jiyi bisa lihat 😱😱😱😘😘😘 cie Yoyo udah mulai ekhem. Jiyi kabur kemana plisss😵😵😵 cepetan post next partnya eonnie👌👌👌

  16. Omo……ternyata ini semua sudah direncanakan sejun dan hyunsik
    Jiyeon dalam bahaya besar,,,semoga mereka bisa menemukan jiyeon secepatnya….kasian jiyeon dan keluarganya ditipu mentah2.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s