Posted in Destiny

Destiny [VI]

image


28 Maret.
Bukan hari ulang tahun, bukan juga hari anniversary. 28 Maret adalah tanggal sakral bagi Yunhyeong, tanggal dimana tragedi itu terjadi, peristiwa yang selalu disebut Yunhyeong sebagai Bloody Holiday. Ini terhitung 12 tahun sudah Yunhyeong hidup sebatang kara, berawal saat usianya 10 tahun hingga saat ini 22 tahun. Kejadian yang terjadi saat perayaan tahun baru, dimana keluarga Song berkumpul di villa yang berada di Jeju. Villa yang berada ditepi pantai dengan pemandangan menakjubkan serta lampu berkerlap-kerlip indah. Saat itu Yunhyeong tampak asik menikmati kembang api dan tiba-tiba saja lampu villa menjadi padam hingga gelap gulita.

Tapi Yunhyeong menanggapi biasa saja, dia terus asik bermain kembang api seorang diri ditepi pantai hingga suara-suara teriakan kesakitan membuat perhatian Yunhyeong teralihkan. Kakinya menapak dan mendekat hati-hati ke villa yang tampak gelap dan seram, Yunhyeong kecilpun meraba dinding sambil terus meneriaki nama orang tuanya, namun dirinya justru menginjak benda aneh seperti kepala, Yunhyeong pun berjongkok dan meraba. Namun, cairan kental berbau amis yang disentuhnya berhasil membuat bulu kuduk merinding.

Yunhyeong ingat, ada tempat lilin di laci bawah tangga dan dia pun bergegas mencarinya. Ketika lilin sudah ketemu, Yunhyeong segera menyalahkan lilin menggunakan korek yang terletak disamping lilin. Hingga matanya membulat panik, Yunhyeong tidak bisa berbuat banyak selain memutar lilin untuk melihat sekitar, dan yang didapatinya justru mayat-mayat keluarganya yang bercecer termasuk kedua orang tuanya. Hal yang dilakukan berikutnya hanya bisa berteriak dan berlari tak tentu arah, sampai dia menabrak Bobby dan Hanbin yang saat itu sedang dalam misi pengamatan.

“Malam sakral?” Tanya Jiyeon pada Chanwoo yang saat ini tengah berbaring diatas kasur Jiyeon, sementara gadis itu sendiri sedang berdiri disisi jendela dengan tongkat dalam pegangannya.

Chanwoo mengangguk, badannya kemudian berubah posisi menjadi miring hingga bisa menghadap Jiyeon, “hu’um. 28 Maret merupakan tanggal dan bulan saat seluruh keluarga Yunhyeong hyung mengalami tragedi berdarah. Setiap tanggal itupula dia akan mengurung diri dikamar dan menangis seorang diri dikamar. Aku pernah berusaha mengganggunya, tapi hasilnya aku patah tulang.” Chanwoo meringis jika mengingat betapa ganasnya Yunhyeong waktu itu, mungkin jika bukan karena Hanbin dan Bobby yang menolongnya, Chanwoo tidak mungkin bisa bernapas lagi.

“Antarkan aku ke kamar si manja itu.” Perintah Jiyeon, lantas Chanwoo langsung tersentak duduk dan menatap Jiyeon takjub, “jika aku jadi kau, aku tidak akan melakukan itu.” Peringatnya.

“Sayangnya aku bukan kau. Aku Park Jiyeon, dan aku akan tetap kekamar Yunhyeong dengan atau tanpa bantuanmu.”

Chanwoo mulai tampak frustasi saat melihat Jiyeon mulai melangkah dengan bantuan sebuah tongkat, pria berumur 19 tahun mulai menjambak rambutnya dan merasa kebingungan, lalu Chanwoo memilih berdiri dan menghalangi jalan Jiyeon, membuat gadis beriris hazel itu menabrak tubuh tegapnya, “nuna, jangan nakal jika dikasih tahu. Dengar ya, saat ini Hanbin hyung, Junhoe hyung dan Jinhwan hyung sedang dalam misi penting, Bobby hyung dan Donghyuk hyung diruang pengintaian. Aku yakin kau akan berakhir babak belur.” Ancam Chanwoo.

“Kan ada kau.”

Chanwoo semakin panik, “aku bisa apa?!” Histerisnya, hal itu justru mengundang tawa Jiyeon. Gadis itu menepuk dada tegap Chanwoo yang berada didepan mukanya dan menunjukkan mimik serius, “kau bisa jadi tamengku. Jika Yunhyeong mengamuk, kan aku bisa menumbalkan dirimu.” Kata Jiyeon yang membuat wajah Chanwoo memucat, “aku bercanda. Sudah kau percaya saja padaku.”

Walau terpaksa, pada akhirnya Chanwoo menuruti Jiyeon untuk mengantarnya ke kamar Yunhyeong, ketika sampai didepan pintu Yunhyeong, Chanwoo nampak gugup dan berkali-kali menelan air liur. Kemudian Chanwoo beralih menatap Jiyeon tampak tidak yakin, “nuna, kau serius?” Tanyanya untuk kesekian kalinya.

“Ne.”

“Baiklah, jika ada apa-apa kau teriak saja. Aku jamin aku tidak akan menolongmu.”

Chanwoo meringis begitu Jiyeon memukulnya sadis menggunakan tongkat, “bercanda, nuna..” rengek Chanwoo, tapi Jiyeon lebih memilih mengabaikan dan membuka pelan-pelan pintu kamar Yunhyeong yang tidak terkunci. Bagi Chanwoo, saat suara kriet pada pintu yang terbuka adalah suara terseram yang mengandung sejuta teror. Bedahalnya dengan Jiyeon yang tampak percaya diri, walau dia tidak tahu bagaimana kondisi kamar itu sebenarnya. Chanwoo sendiri memilih menunggu didepan pintu dan membiarkan Jiyeon masuk seorang diri.

Keadaan kamar yang gelap gulita tidak menjadi penghalang bagi Jiyeon untuk terus melangkah, karena baginya setiap waktu dirinya selalu merasa gelap. Untungnya, Jiyeon tidak bisa melihat karena jika dia bisa melihat maka dia akan langsung merasakan bulu kuduknya berdiri. Kondisi kamar yang gelap gulita, namun banyak lilin yang menyala dikamar itu, pancaran bulan purnama pada kaca yang terlapisi gorden putih tipis yang berkibar tertiup angin seakan membawa pada dunia mistis. Dipojok ruangan, terdapat Yunhyeong tengah memperhatikan Jiyeon dengan mata kelamnya. Pria itu tidak bergerak maupun bersuara, hanya diam. Diam memperhatikan Jiyeon yang kesulitan berjalan dan sesekali menabrak lilin yang ada, mengaduh kepanasan karena api yang mengenai kulitnya.

“Yunhyeong-ah?” Panggil Jiyeon.

“Aku tahu kau disini, bisa jawab aku?”

Hanya suara desauan angin yang menjawab panggilan Jiyeon.

“Kau tuli? Dasar bodoh, manja, cengeng, lemah, senti–”

“Diam!”

Chanwoo memekik kaget dari balik pintu yang tertutup saat mendengar teriakan Yunhyeong, sementara Jiyeon mulai merasa takut karena suara itu begitu menyeramkan. Suara langkah kaki besar yang menghentak kasar semakin membuat Jiyeon merasa deg-degan. Kemudian Jiyeon merasakan tubuhnya terdorong hingga membentur lantai dan menciptakan suara hantaman yang kencang.

“Apa yang kau lakukan disini? Mau mengguruiku? Kau pikir kau siapa? Jangan sok perduli!” Amuk Yunhyeong, awalnya gadis itu memang merasa takut, namun perasaan lain muncul yang menyebabkannya merasa tak gentar. Gadis itu berdiri susah payah namun Yunhyeong kembali menghempaskannya lagi, “berdiri jika kau bisa! Teriaklah agar penolongmu datang.” Dingin Yunhyeong.

“Kau salah karena memilih masuk kesarang iblis. Pilihanmu, mati karena bunuh diri atau mati ditanganku.”

Jiyeon terdiam, rasa sakit pada punggungnya karena dua kali membentur lantai membuatnya meringis pilu namun berusaha menahan tangis, “bunuh saja aku. Bukankah sejak dulu kau ingin membunuhku? Ayo lakukan. Aku memberimu kesempatan.” Kata Jiyeon pongah.

Tidak ada balasan kata ataupun tindakan, hanya keheningan yang terjadi.

“Kau tidak berani? Atau kau tidak bisa membunuhku? Kau lemah!” Maki Jiyeon. Perkataannya itu sukses menyulut kemarahan Yunhyeong hingga pria itu langsung gelap mata dan mencekik Jiyeon. Jiyeon sendiri merasakan cengkraman pada lehernya begitu kencang hingga air mata keluar dari matanya. Tapi Jiyeon tidak memberontak, yang dilakukannya justru mengusap lengan Yunhyeong penuh kelembutan tanpa perduli jika lehernya merasakan sakit yang amat menyiksa.

Tidak ada yang bisa Jiyeon lakukan selain pasrah, “u-l-ji-ma..” suara Jiyeon begitu serat seperti kucing yang terjepit, hingga dirasanya sudah tidak kuat dan tangan yang sejak tadi mengelus lengan Yunhyeong melemah. Saat itu Yunhyeong langsung menyadari apa yang dia lakukan dan segera melepaskan tangannya dari leher Jiyeon, tapi yang terjadi Jiyeon langsung terkulai jatuh tidak sadarkan diri.

                                 Destiny

Brak

Ini ketiga kalinya Yunhyeong menerima pukulan dari Hanbin hingga membentur lemari kayu yang berada dikamar Jiyeon, pria Poseidon itu diam tanpa ingin melawan, tidak seperti dirinya yang biasa akan membalas walau berbuat salah sekalipun. Wajahnyapun penuh dengan memar serius, begitu juga tangan Hanbin yang berdarah karena noda pada wajah Yunhyeong. Kemeja hitam yang Hanbin kenakan tampak kusut dan ketiga kancing teratasnya terbuka akibat amukannya yang menggila. Para anggota The Seven God Of Death yang lain tidak ada yang berniat membantu. Begitupula dengan Bobby yang selalu memisahkan anggotanya jika ada yang berkelahi. Kali ini Bobby memilih diam, mengelus rambut Jiyeon yang terbaring lemah diatas kasur dan menatap sedih leher putih gadis itu yang sedikit membiru.

Hanbin menjambak rambut Yunhyeong, “kau lihat apa yang kau lakukan? Kau hampir membunuh Jiyeon!” Teriak Hanbin tepat didepan wajah Yunhyeong, mata Yunhyeong langsung melirik Jiyeon yang terbaring dengan pandangan sedih, mengingat bagaimana kejamnya dia semalam dan mengingat saat Jiyeon justru mengelus lengannya penuh kelembutan, serta bisikan halus yang menyuruhnya tidak menangis.

Kali ini, Yunhyeong yang menangis.

Menangisi perbuatannya yang keterlaluan, menangisi gadis yang disiksanya, menangisi gadis yang selama ini mengusik ketenangannya, dan menangisi seorang gadis untuk pertama kalinya karena perbuatannya sendiri.

Yunhyeong menyesal sekaligus bersyukur. Menyesal karena selama ini selalu bersikap buruk pada gadis yang ternyata perduli padanya, bersyukur karena gadis itu masih memiliki kesempatan untuk hidup.

Brak

Kesadaran Yunhyeong menipis seiring dengan badannya yang merosot setelah dibanting ke dinding oleh Hanbin. Pria bertittle Ares itu langsung melirik Chanwoo, “obati dia.” Dinginnya.

Setidaknya, Hanbin masih memiliki hati dan selalu memegang prinsip untuk tidak memakan saudaranya sendiri. Walau sekeras apapun dia pada Yunhyeong, Hanbin hanya ingin memberi pria itu pelajaran agar kelak kejadian ini tidak akan pernah terulang kembali. Chanwoo sendiri langsung membopong Yunhyeong keluar dengan badannya yang besar.

Kondisi kamar Jiyeon menjadi hening, Hanbin hanya berdiri mematung memperhatikan Jiyeon, Bobby masih setia duduk disamping Jiyeon sambil mengelus kepalanya, sementara Junhoe duduk diatas sofa sambil menunduk sedih. Jinhwan memilih memandang langit dari balik jendela kaca sambil memohon pada Tuhan untuk kesembuhan Jiyeon, dan Donghyuk sebagai satu-satunya orang yang memiliki keahlian dibidang medis terus mengecek keadaan Jiyeon setiap saat.

Masih teringat jelas bagaimana Chanwoo tiba-tiba datang dan mengatakan Jiyeon nekat masuk ke kamar Yunhyeong, saat itu Donghyuk dan Bobby langsung berlari ke kamar Yunhyeong dan mendapati Jiyeon sudah tidak sadarkan diri. Mereka langsung membawa Jiyeon ke kamarnya dan Yunhyeong langsung mengambil alat medisnya. Menjadi seorang mafia tidaklah mudah, mereka tidak boleh berhubungan dengan dunia luar walaupun dokter sekalipun. Jadi, Donghyuk sejak awal memang serius mempelajari ilmu kedokteran demi menolong teman-temannya jika terluka. Dirumah besar itu juga tersedia ruang operasi sekiranya dibutuhkan.

“Jiyeon sadar!” Seru Donghyuk mampu menyita perhatian yang lain. Junhoe dan Jinhwan langsung bergegas berjalan mendekat, sementara Hanbin langsung duduk sambil menggenggam tangan kanan Jiyeon. Kelopak mata gadis itu mulai terbuka pelan-pelan. Pusing langsung melandanya, “a-ir..” pintanya dengan suara tercekat, Jinhwan langsung berdiri dan berlari mengambil air.

Sementara itu yang lain berusaha mengajak Jiyeon berbicara untuk mempertahankan kesadaran Jiyeon, namun yang terjadi Jiyeon justru terlihat linglung dan tidak mengerti, sampai Jinhwan datang dan langsung memberikannya minum, Jiyeon perlahan mulai sadar, “aku tidak apa-apa.” Katanya dengan suara yang perlahan berangsur baik.

.
.
.
.
.
.
.

“Jiyeon ingin bicara denganmu.” Kata Junhoe pada Yunhyeong yang kini sedang melamun diruang tengah. Yunhyeong tampak terkejut dan tidak percaya, “Bobby hyung yang mengijinkannya.” Lanjut Junhoe seolah mengerti jalan pikiran Yunhyeong. Pria Poseidon itu mengangguk paham kemudian melangkahkan kakinya pelan-pelan ke kamar Jiyeon.

Ini tepatnya sudah tiga hari semenjak Jiyeon sadar, Yunhyeong tidak pernah melihatnya karena gadis itu memang tidak pernah diizinkan keluar kamar dengan alasan kondisinya yang masih lemah. Lagipula, dia merasa malu dan tidak pantas jika harus bertemu dengan Jiyeon. Itupula yang menjadi penyebab kenapa dia tiba-tiba merasa gugup saat sudah sampai didepan pintu kamar Jiyeon.

Yunhyeong hanya diam tanpa reaksi, diam dan menimbang apa yang harus dia lakukan sampai pintu terbuka menunjukkan Jinhwan dengan mimik datarnya, “apa yang kau lakukan? Jiyeon sudah menunggu sejak tadi.” Kata Jinhwan sambil menarik Yunhyeong masuk. Wajah babak belurnya yang lumayan parah sedikit membuat Hanbin yang melihatnya merasa bersalah, namun sebagiannya mengatakan jika Yunhyeong memang pantas mendapatkannya.

Saat Yunhyeong mulai mendekati Jiyeon, Bobby mengelus pipi Jiyeon, “Yunhyeong sudah disini, kami akan pergi meninggalkan kalian berdua.” Katanya yang langsung dibalas anggukan singkat Jiyeon. Hanbin sendiri merasa tidak rela jika harus meninggalkan mereka berdua, tapi Bobby dan Jinhwan langsung menariknya keluar.

Begitu suara pintu tertutup, menyisahkan Jiyeon dan Yunhyeong, rasa gugup semakin Yunhyeong rasakan, kaku dan tidak tahu mau berbicara apa.

“Hei. Kau tidak ingin meminta maaf padaku?” Ungkap Jiyeon memecahkan keheningan.

“Maaf.”

Jiyeon tertawa, Yunhyeong membuang muka.

“Apa itu cara minta maaf? Seperti tidak iklas. Ulangi yang benar.” Ambek Jiyeon, hal yang diyakini Yunhyeong bahwa gadis itu memang tidak pernah menaruh perasaan dendam padanya dan membuatnya merasa lega.

“M-a-a-f.”

“Ih yang benar. Jiyeon-ah, maafkan aku. Seperti itu.”

Yunhyeong mulai merasa sebal, “Jiyeon-ah maafkan aku.” Katanya kemudian bernada malas-malasan membuat Jiyeon kembali cemberut, “dasar iblis. Meminta maaf saja susah.”

“Yaa!”

“Mwoya? Jangan berteriak iblis.”

“Aku bukan iblis!”

“Iblis…iblis…iblis…iblis.”

Bendera perang mulai berkibar, Yunhyeong sendiri mulai tersulut emosi namun ada perasaan asing lain yang membuat jantungnya merasa hangat, “Jiyeon-ah… maafkan aku.” Ungkapnya kemudian tanpa sadar bernada tulus. Suasana menjadi canggung, tapi Yunhyeong bisa melihat bagaimana senyum Jiyeon yang baru bertama kali ia lihat untuk dirinya.

“Kau bisa ceritakan padaku jika punya masalah. Emosi tidak akan bisa membuatmu lebih baik, masa lalu mu yang kelam biarlah terhempas tertiup badai, karena akan ada masa depan yang secerah pelangi. Kau punya aku dan seluruh saudaramu yang ada disini, ini takdirmu, Yunhyeong-ah.” Tutur Jiyeon membuat Yunhyeong bungkam, lalu Yunhyeong memilih untuk berlutut disisi ranjang dan memegang tangan Jiyeon yang sedang duduk diatas ranjang, “terimakasih.” Ujarnya tulus membuat Jiyeon tersenyum dan menyentuh tangan Yunhyeong yang menyentuh tangannya, “because we are family.” Katanya.

Be brave. I’m, coming to hold you now when all your strength has gone, and you feel wrong like your life has slipped away. Follow me, you can follow me and I, I will not desert you now.” Lanjut Jiyeon mengutip kata-kata pada lagu kesukaannya, Muse – Follow Me. Lagu yang selalu dinyanyikan Ayahnya saat dirinya merasa terpuruk karena kondisi matanya yang buta.

“Dasar pencuri lirik.” Ketus Yunhyeong kembali menunjukkan sifat aslinya, Jiyeon pun langsung menghempaskan tangannya membuat Yunhyeong tertawa.

“Itu mengutip tahu! Ayahku sering menyanyikan itu kalau aku merasa sedih dengan kondisiku yang seperti ini.” Bela Jiyeon.

Yunhyeong langsung terdiam, menatap Jiyeon yang tengah cemberut dengan tatapan tanpa arti, “kau merindukan Ayahmu?” Tanyanya kemudian membuat perubahan ekspresi Jiyeon menjadi murung.

“Ya. Aku merindukan Ayah dan Ibuku.”

“Kau anak tunggal?”

Jiyeon terdiam, sementara Yunhyeong terus memperhatikan perubahan pada wajah Jiyeon seperti pakar mikro ekspresi. “Dulu aku punya kakak, Jinhwan dan Donghyuk tahu karena mereka pernah melihat kakakku sekali. Tapi dia meninggal karena kecelakaan pesawat saat berlibur ke Belanda bersama Nenek dan Kakekku.” Akunya, “kau menyayangi kakakmu?” Kali ini nada suara Yunhyeong berubah dingin sarat akan ketidak sukaan, “tentu saja, dia kakakku yang paling baik.”

Melihat wajah Jiyeon yang berubah cerah, membuat Yunhyeong tidak tahu harus berbuat apa jika gadis itu tahu jika kakaknya tidaklah sebaik yang dia bayangkan, melainkan monster yang sudah membuat hidupnya hancur berantakan. Yunhyeong sendiri lebih memilih mengganti topik.

“Jika diberi satu permintaan, apa yang kau inginkan?”

“Aku ingin sekali bisa melihat. Aku ingin bisa melihat wajah kalian semua.”

“Apa kau akan senang jika bisa melihat?”

“Yaa! Kau seperti wartawan saja, apa kau menyukaiku? Hayo katakan!” Centil Jiyeon, sementara itu Yunhyeong langsung menatap Jiyeon datar seolah mengatakan jika itu hal mustahil yang tidak akan pernah terjadi, “menyukaimu adalah suatu musibah.” Dengus Yunhyeong yang langsung mendapatkan protes keras dari Jiyeon.

“Ish, lihat saja kau pasti akan jatuh cinta padaku, Poseidon.”

“Ti-dak-akan, Aphrodite.”

                                Destiny

Malam ini The Seven God Of Death kembali terlibat perbincangan serius setelah sekian lama tidak terlibat misi kelas S. Misi kali ini Zeus menunjuk Ares, Poseidon dan Hades untuk bergerak. Penggabungan dewa-dewa yang kuat untuk mengalahkan agen FBI yang diutus pemerintah langsung dari Departemen Keadilan Amerika Serikat (DOJ) untuk menangkap mereka. Mereka bukan merasa takut atau terancam, namun merasa jika ini saatnya bersenang-senang karena akhir-akhir ini mereka selalu mendapat tugas membunuh pembunuh kelas rendahan.

Helios, stanby monitor. Apollo, hacker data mereka. Dionisos siapkan alat penyadap.” Perintah Zeus yang langsung dituruti semuanya.

Zeus, aku ada satu permintaan.” Kata Poseidon sebelum dirinya bergerak bertugas, “aku harap ini bukan lelucon.” Peringat Zeus, Poseidon hanya tersenyum miring namun sadis seperti senyum seorang psikopat, “aku ingin mata salah satu dari mereka.” Ungkapnya berhasil membuat yang lain terkejut. Tapi hanya sebentar keterkejutan itu, setelahnya yang lain langsung menyeringai begitupun dengan Ares dan Zeus, “bawa itu untuk kami juga.” Seringai Zeus sebagai tanda persetujuan membuat Poseidon tersenyum angkuh.

Ares langsung memakai jubah hitam dan memasang topeng Guy Fawkes, ditepuknya bahu Poseidon dan menyeringai dibalik topeng tersebut, “bahkan kita bisa membawa mata yang lebih banyak.” Tuturnya sadis.

tbc.

A/n: gatau mau ngomong apalagi. Semoga kalian suka aja XD btw, next part mungkin bakal masuk crime lagi. Yang gakuat bisa langsung scrol kebawah hahahaha. Target gue sih destiny harus tamat di bulan ini, tapi tergantung kemampuan mood gue juga hohoho

Advertisements

Author:

If you Jiyeon fans, you must stay here. but, if you hate my fav idol..you must go on without drama. thx

22 thoughts on “Destiny [VI]

  1. Uwooo cie yunhyeong cieee wkwk mau ngebawain mata buat jiyeon cie… romance versi psycho nih, beneran dibawain mata orang wkwk XD cia yang bilang tidak akan jatuh cinta… Liat aja bertahan berapa lama tuh tidak akannya hohoho. Serem banget hanbin kalo ngamuk ya… Tapi ngga heran sih, udah mah dia emang dasarnya keras terus liat cewe yg disayang hampir mati gimana ngga ngamuk XD kalo bukan sesama anggota mesti udah dibunuh sama hanbin wkwk(?) bobby kuuu… Kusuka baca part bobby soalnya dia keren berwibawa bangeud zeus-nim… Gatau lagi mau akhirnya sama siapa gatau gatauu…….. Chanumon unyu amat wkwkwk XD next lagiiii

  2. astagaaa untung aja jiyi masih selamat, yunhyeong kasian juga sih sebenernya babak belur di hajar sama hanbin.
    cieeee agaknya ada yg udh mulai bisa nerima jiyi nihh wkwkwk.
    wuahhhh permintaannya yunhyeong boleh juga tuhh mau mata dari target mereka. itu mata pasti buat jiyi. next chap ditunggu ya thor hehehhe 🙂 😀

  3. chanwo emang happy virus klo ada dia pasti ngakak teruss ,,
    semoga aja keinginan Jiyeon untk bisa melihat lagi bisa terlaksana ,,
    Jiyeon sma yunhyeong udah baikan ,, yunhyeong jga kayanya udah mulai suka sma Jiyeon,,
    g sbar pengen ngeliat moment hyunyeong Jiyeon yg akur klo bisa ada sosweet gtu 😀 ,,
    ditunggu part selanjutnya 🙂

  4. akhirnyaaaaa yunhyeong sama jiyeon baikan juga
    Ya walaupun harus dibayar dengan pengorbanan jiyeon yg rela dianiaya kyk gt

    Makin kesini makin demen sama cerita jikon ini, soalnya seneng namja nya cute2 semua
    Dan makin envy sama jiyeon karena dikelilingi namja2 tampan

  5. jiyeon sih cari penyakit,padahal sudah dengar cerita chanwoo jgn diganggu padahal kan hanya satu hari malam sakral,berarti besok pasti adu mulut lagi..

  6. Suuukaaaaa bangeeeett
    Smga aja jiyeon bsa mlihat lagi
    Ya mskipun cara mndapatkan matanya bner2 mngerikan
    Tpi tak apa lah
    Cieee si yunhyeong udh mlai dket ama aprhodite
    Blang tidak akan
    Awas aja klau nanti akan ya? #apasih
    Dtggu nextnya
    Smga bsa cpet2 d update hehehe
    Soalnya ska bgt

  7. akhirnya update huhu
    *jingkrak jingkrak
    wkwkwk aduh kenapa disini gue malah Salpok ama Abang bobby ya duhh… dia lembut banget sih ma jiyeon …

    aaa… Pingin teriak rasanya
    author selalu sukses bikin gigit jari gra” gregetan … :3
    tadi rasanya udah seneng banget sampai senyam senyum sendirii
    e… malah tbc –‘
    plis apdet kilat dong thor
    terus klau bisa word nya ditambah huhuhu
    saya selalu sedih kalau baca tulisan tbc dibawah
    *alaymodeon

  8. ceritanya makin seru waaah yunhyeong serem bgt klo lg hari sakral c’jiyeon sampe d’cekek g2, , aah masa sih nggak akan suka paling jg bntar lg nggak akan suka bakal tergantikan dgn kata bakal suka hehe, , kapan nih kakaknya jiyeon perannya d’mulai thor ?? nex chapter thor jgn lama2 😀

  9. iihh . kirainn mereka baikkan.a pke pelukann ternyata cuma pegangann tangann ajja . greget iihh … jdi pengen cepet lanjutt baca.a. … hehehehe

  10. Maaf ngk coment di 2 part sebelum’a karna kejar tayang

    Aw aw aw Yuno mulai ada sedikit perasaan nih terbukti saat Jiyi bilang ULJIMA saat dia mencekik Jiyi dia langsung sadar akan perbuatan’a dan dia mulai sedikit luluh sama ketulusan Jiyi bahkan dia bahkan menyuruh anggota lain buat mengambil mata salah satu korban demi Jiyi karna impian Jiyi supaya dia bisa melihat lagi dan Yuno langsung menyanggupi’a daebakkkk

    Binan kalo ngamuk gilaaaaa serem pake bangettt Yuno sampe babak belur gara” pukulan Binan karna Yuno buat Jiyi hampir meninggal

    Apakah tantangan Jiyi ke Yuno yg bilang dia pasti bakal jatuh cinta ke Jiyi akan segera terwujud dan hampir semua juga sudah jatuh cinta sama si Dewi Cinta satu ini

  11. omaigat ternyata moment nya ga se cute yg gue bayangin -_- bebyun why? kenapa? aku tau kamu frustasi akut sama kejadian itu. tapi jan sampe ngebunuh kembaran aku juga dong😢 untung aja my twin masih bisa selamat
    jadi kepo deh sama kakak angkatnya jiyeon park sejun. motivasi dia idup itu apa sebenernya? dan apakah dia punya dendam juga sama jiyeon atau keluarganya?
    anyway ciyeee aja deh buat yunhyeong yg udah bikin aku cemburu😋

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s