Posted in Destiny

Destiny [V]

image


“Fokus, Jiyeon!” Hanbin menaikkan nada suaranya begitu Jiyeon selalu salah saat menyerang menggunakan tongkat kayu pada dirinya, “tidak ada istirahat sebelum kau berhasil memukulku.” Lanjutnya lagi.

Jiyeon mendengus kesal, namun gadis itu lebih memilih diam dan berusaha fokus pada pukulan berikutnya, setelah mencoba pukulan kesekian kalinya dan kembali gagal gadis Aphrodite itu lalu menggeram marah.

“Hayolah! Ini sudah tiga jam dan kau tidak ada kemajuan? Kau itu lemah!” Bentak Hanbin, bentakan itu berhasil membuat Jiyeon membanting tongkat kayunya dan meraba menjacari tongkat jalan, setelah ketemu Jiyeon lalu berbalik arah pergi tanpa sepatah kata.

“Jiyeon!” Teriak Hanbin, namun Jiyeon justru terus berjalan tanpa niat berhenti ataupun berbalik, “segitu saja, eoh? Kau menyerah? Baiklah pergi saja seperti pengecut! Kau memang tidak pantas bergabung bersama kami. Lemah!”

Ini pertama kali Hanbin membentaknya, pertama kali juga Jiyeon mengetahui sisi sebenarnya seorang Hanbin, seorang tempramental yang bahkan lebih parah dari Yunhyeong. Sejak awal latihan pula Hanbin selalu berkata dengan nada tinggi, hingga Jiyeon tidak bisa fokus karena suara keras Hanbin yang selalu membuat telinganya berdengung. Gadis bermata hazel tersebut berusaha menahan tangisannya dan menutupi kekecewaan sekuat mungkin dengan menggigit bibir bawahnya, barulah setelah merasa tenang Jiyeon membalikkan badannya kebelakang, “aku memang lemah, dan aku tahu aku tidak pantas bersama kalian…” Jiyeon diam untuk mengambil napas berat, “memangnya siapa aku? Hanya gadis buta yang beruntung kalian selamatkan. Kalau begitu kenapa kalian tidak bunuh aku saja sekalian?”

“Jiyeon.. maksudku tidak seperti itu, aku –”

“Cukup.”

Hanbin berjalan menghampiri Jiyeon, menyentuh tangan gadis itu namun ditepisnya, “aku ingin sendiri.” Kata Jiyeon, tapi Hanbin bersikeras untuk menahannya dan berusaha menjelaskan maksud perkataannya tadi.

“Jiyeon! Dengarkan aku!” Bentak Hanbin sambil mencengkram bahu Jiyeon, apa yang dilakukan Hanbin justru membuat Jiyeon semakin memberikan nilai minus pada dirinya dan Jiyeon juga dengan kasar melepaskan tangan Hanbin, “aku bilang aku ingin sendiri!” Jerit Jiyeon.

“Ji–”

“Hanbin-ah!” Ancam Bobby yang tiba-tiba saja sudah berdiri dibelakang Jiyeon, menarik gadis itu kebelakang dirinya dan menatap Hanbin penuh ancaman. “Cukup! Aku akan bicara dengan Jiyeon, dan aku juga ingin bicara dengan mu nanti.”

“Hyung, ini masalahku! Untuk kali ini jangan ikut campur!”

“Tidak selama kau masih bersikap seperti ini.”

“Seperti ini apa maksudmu? Oh ayolah jangan hanya karena kau yang paling tua aku jadi takut. Demi Tuhan, ini masalah aku dan Jiyeon.”

“Percaya padaku, untuk saat ini bukan waktu yang tepat.”

Hanbin mengeraskan rahangnya dan mengacak rambutnya frustasi, “terserah.” Ketusnya sambil berbalik dan berjalan menuju gazebo taman. Setelah Hanbin pergi, Bobby langsung menatap Jiyeon penuh arti kemudian mendesah lelah, “Jiyeon, mau bicara denganku?” Tanya Bobby dan dibalas anggukan singkat Jiyeon.

Jiyeon duduk disalah satu sofa panjang yang berada diruangan tempat biasa Bobby berkumpul dengan para anggota The Seven God Of Death, sementara itu Bobby memilih duduk di sofa depan Jiyeon yang hanya dihalangi sebuah meja bundar, diruangan itu terdapat kaca besar yang biasa digunakan Bobby untuk memantau latihan Jiyeon. Kaca besar yang kini dilapisi gorden putih tipis hingga cahaya oranye langit sore tampak jelas terlihat, begitupula dengan suara cicitan burung yang merdu terdengar dari balik pohon mangga yang ada diluar.

“Latihanmu kali ini tidak maksimal, tidak seperti kemarin. Apa kau tidak serius?” Tanya Bobby langsung pada inti.

“Hanbin yang membuatku kehilangan fokus.” Bela Jiyeon, lantas Bobby hanya bisa menghela nafas untuk kesekian kalinya tanpa memalingkan tatapannya dari Jiyeon walau sesenti.

“Kenapa seperti itu?”

“Sejak awal Hanbin terus memarahiku, selalu menyalahkan apa saja yang aku lakukan. Aku kesal Oppa! Memangnya apa salahku? Hanbin terlihat lebih menyeramkan dari Yunhyeong jika seperti itu.” Adu Jiyeon, gadis itu memainkan mimik wajah dengan baik hingga terlihat menggemaskan ditambah bibirnya yang mengerucut karena cemberut sebagai pertanda dia memang kesal. Hal itu pula yang membuat Bobby langsung memalingkan wajah dengan semburat merah muda yang terlihat samar di pipinya.

“Tapi Oppa,” Bobby kembali memperhatikan Jiyeon, “aku sangat kesal karena Hanbin bahkan mengataiku lemah dan mengatakan aku tidak pantas bersama kalian. Tapi aku tidak bisa marah karena selama ini Hanbin yang selalu membantuku. Aku hanya kesal.”

Em, apa Hanbin sedang ada masalah? Aku khawatir.” Lanjutnya.

Bobby tersenyum tipis, walau tadi mereka sempat berdebat sengit namun Jiyeon justru diam-diam mengkhawatirkan Hanbin. Gadis itu terlalu polos bahkan untuk membenci orang yang sudah menghina dan membunuh kedua orang tuanya saja tidak bisa, kecuali membenci Yunhyeong, –mungkin. Tapi Bobby justru khawatir saat Jiyeon mengetahui rahasia dibalik rahasia, apa Jiyeon tetap akan memaafkan apa yang sudah terjadi pada dirinya? Menjadi Jiyeon yang lugu dan pemaaf? Bobby harap tidak ada yang bisa mengubah Aphroditenya.

“Tidak ada. Dia hanya kelelahan, kau tahu sendiri dia semalam habis menjalankan misi.” Yakin Bobby.

Em, Oppa apa aku boleh mengganti pelatih?”

Bobby mengernyit bingung, “kenapa?” Tanyanya kemudian.

“Aku tidak ingin berlatih dengan Hanbin untuk saat ini. Bagaimana dengan Donghyuk atau Jinhwan?”

“Sayangnya Hanbin yang paling ahli disini, jadi kau harus berlatih dengannya jika ingin menjadi kuat.”

“Bagaimana denganmu? Kau pasti lebih hebat dari Hanbin.”

“Siapa yang bilang? Justru Hanbin yang melatihku.”

Jiyeon membuka mulutnya tidak percaya, “kau bohong! Kau kan pemimpin mereka, mana mungkin Hanbin bisa lebih kuat darimu.” Katanya kemudian.

“Siapa yang bilang Hanbin lebih kuat dariku?”

“Oppa!” Jiyeon merengek, namun Bobby justru tertawa. Pria bergelar Zeus itu bediri dari duduknya dan berjalan kearah Jiyeon, disentilnya dahi Jiyeon membuat gadis itu semakin cemberut, “kau itu terlalu sok tahu.” Kekehnya, tangannya lalu dimasukkan kedalam saku celana dan Bobby memilih mundur berdiri menyender dipinggir meja besar yang berada disamping sofa sambil terus mengamati wajah Jiyeon.

“Kau bilang tadi Hanbin yang mengajarimu.”

“Tapi aku tidak bilang Hanbin lebih kuat dariku.”

“Ayolah, mana ada murid lebih kuat dari guru.”

“Kenapa tidak ada?”

“Karena… ah! Oppa kau membuatku kesal. Jinjja!”

Bobby kembali tertawa, baginya melihat berbagai ekspresi yang ditunjukkan Jiyeon merupakan kesenangan sendiri baginya, mata Bobby yang sudah sipitpun semakin menyipit karena tawanya.

“Jadi apa boleh aku mengganti pelatih?” Kesal Jiyeon karena mendengar suara tawa Bobby yang seolah mengejek dirinya.

“Baiklah.” Jiyeon menyengir lebar, “tapi dengan Yunhyeong.” Dan cengiran Jiyeon langsung pudar digantikan bibirnya yang mengerucut, “Oppa…” rengeknya lagi.

“Memangnya kenapa dengan Yunhyeong?”

“Keseimbangan dunia bisa hancur jika dia menjadi pelatih.” Ketus Jiyeon, perkataannya kali ini bahkan membuat Bobby semakin merasa gemas akan dirinya.

“Ayolah, aku hanya ingin membuktikan pada Hanbin jika aku itu tidak lemah. Aku akan menantangnya saat aku sudah kuat nanti.” Mohon Jiyeon, Bobby diam seolah menimbang sesuatu dan tampak geli sendiri dengan tingkahnya yang tidak bisa menolak permohonan Jiyeon.

“Donghyuk, dan tidak ada penawaran apapun.” Putusnya final.

“Yes! Deal.”

Setelah bernegosiasi, Bobby berjalan menghampiri Jiyeon dan menyentuh kepala Jiyeon dengan telapak tangan besarnya, “kau disini saja dulu, aku akan keluar sebentar. Buat dirimu nyaman.” Kata Bobby. Setelah mendapat anggukan persetujuan Jiyeon, Bobby melangkahkan kakinya keluar ruangan meninggalkan Jiyeon seorang diri untuk memberikan waktu sendiri untuk gadis itu.

                                Destiny

Hanbin berdiri merenung dipinggir kolam renang, tangannya dimasukkan kedalam saku jeans dan matanya menatap hampa langit yang mengoranye hingga tepukan halus di bahunya membuatnya menoleh, menampakkan sosok Bobby yang ikut berdiri disampingnya dan kedua tangannya juga dimasukkan kedalam saku jeans. Hanbin justru langsung memalingkan wajah, merasa enggan menatap Bobby.

“Kau tidak harus melampiaskan rasa cemburumu pada Jiyeon, Hanbin-ah. Dia tidak tahu apa-apa.” Suara serak Bobby mulai memecahkan keheningan yang ada, tapi Hanbin tetap enggan menatap Bobby. “Kau harusnya memperlakukannya dengan baik, dia gadis yang tidak biasa dikasari.” Lanjut Bobby.

“Kau tahu bukan itu masalahnya.” Jelas Hanbin, matanya menatap tajam Bobby kini, “aku hanya ingin Jiyeon berhenti menjadi gadis lemah, aku memarahinya seperti itu supaya mentalnya terlatih.”

“Tapi Jiyeon tidak merasa seperti itu.”

“Itu karena mentalnya tidak terlatih, hyung. Aku ingin Jiyeon mengerti bahwa hidup itu keras dan tidak semua orang yang dia anggap baik adalah orang baik. Manusia itu munafik.”

“Sebenarnya apa yang terjadi? Apa yang terjadi semalam?” Tanya Bobby, pria itu yakin ada sesuatu yang ditutupi Hanbin sehingga membuat pria itu sangat marah dan hal itu terlihat dari mata Hanbin yang menajam, “kau memang jenius, hyung.” Bobby semakin tidak mengerti, Hanbin kembali menatap langit dan wajahnya terlihat amat lelah.

“Aku semalam bertemu dengan orang itu.” Kata Hanbin, kepalanya kini menoleh kesamping hanya untuk melihat reaksi yang ditunjukkan Bobby, pria Zeus itu menunjukkan reaksi yang sudah Hanbin prediksi sebelumnya, terkejut dan tidak percaya.

“Bukankah dia sudah meninggal karena ledakan yang Junhoe lakukan?” Tanya Bobby mulai serius pada pembicaraan.

“Akupun awalnya tidak percaya, tapi aku mengerti saat menyelidikinya lebih lanjut.”

“Apa yang kau ketahui?”

Orang itu diselamatkan Park Sejun, kakak yang Jiyeon anggap sudah meninggal akibat kecelakaan pesawat.”

“Oh tidak! Maksudmu Park Sejun ada hubungannya dengan orang itu? Rencana pembunuhan, pengalihan saham?”

Hanbin lagi-lagi mengeraskan rahangnya menahan amarah, “ya. Yang aku tahu Park Sejun adalah anak angkat keluarga Park, dan orang itu lah yang sudah merencanakan sejak awal.”

Bobby ikut merasa marah kini, belum selesai dengan kenyataan yang pertama, kini muncul kenyataan yang tidak kalah mengejutkan, “kumpulkan yang lain keruang bawah tanah.” Geramnya.

“Ada apa dengan ruangan biasa?”

Bobby melirik Hanbin sekilas, “ada Jiyeon disana.”

Bobby kembali memasuki ruangan tempatnya meninggalkan Jiyeon tadi selesai berdiskusi dengan para anggota The Seven God Of Death, namun yang didapatinya justru pemandangan gadis itu yang sedang terlelap diatas sofa, bibirnya sedikit terbuka tanda jika dia tertidur dalam keadaan lelah. Bobby berjongkok, merapihkan rambut yang menghalangi sebagian wajah Jiyeon dan memperhatikannya dalam diam. Kemudian Bobby mencium kening Jiyeon sambil memejamkan matanya, cukup lama Bobby menempelkan bibirnya di kening gadis yang sedang terlelap tersebut hingga suara pintu terbuka membuatnya harus tersadar dan buru-buru menjauh.

“Hyung, kau kenapa jongkok disitu?” Tanya Hanbin, sosok yang membuka pintu tadi kini menatap aneh dirinya.

“Aku berniat membangunkan Jiyeon.” Jawabnya kalem. Hanbin lantas mengalihkan pandangannya pada sosok yang tidur disofa, sudut bibirnya terangkat sedikit, “dia cantik saat tidur.” Gumamnya.

“Tidak usah dibangunkan, biar aku pindahkan kekamarnya.” Kata Hanbin.

Bobby melangkah mundur begitu Hanbin bergerak untuk menggendong Jiyeon seperti posisi bridal style. Bobby terus memperhatikan cara Hanbin yang mengangkat tubuh Jiyeon penuh kelembutan dan hati-hati hingga Hanbin sudah bersiap untuk melangkah keluar, tapi sebelum keluar Hanbin menyempatkan diri untuk melirik Bobby, “aku rasa kita perlu persediaan sayur yang banyak mulai besok. Gadis ini perlu banyak nutrisi.” Tukas Hanbin yang langsung membuat Bobby terkekeh maklum. Setelahnya Hanbin kembali berjalan dan membuka pintu menggunakan kaki, begitu pintu ditutup kembali, Bobby hanya bisa melihat keluar kaca yang menunjukkan langit mulai kelabu.

“Kita mempunyai nasib yang sama.” Lirihnya sambil mengingat masa kelam. Saat dirinya pulang sekolah dan mendapati keadaan rumahnya yang berantakan serta ceceran darah dimana-mana. Bobby langsung menjerit histeris melihat keadaan tubuh orang tuanya yang terpisah-pisah, rumahnya pun sangat berantakan dengan pecahan guci serta bingkai-bingkai foto. Saat itu usia Bobby masih sembilan tahun dan harus mengalami gangguan psikologis. Setelah menelpon polisi dan bercerita tanpa berhenti menangis, Bobby jatuh pingsan.

Bobby terbangun dan langsung ditangani para ahli psikologis anak, namun Bobby terus diam dan tidak ingin bicara dengan siapapun. Setelah mengetahui Bobby tidak memiliki saudara dan kini menjadi sebatang kara, Bobby dikirim kepanti asuhan. Disana, Bobby menyendiri dan tidak ingin bermain dengan siapapun, hingga menginjak tiga bulan kedatangannya, datanglah Hanbin yang juga bernasip sama sepertinya.

Mereka menjadi teman dekat karena kesamaan atas apa yang mereka alami di usia dini, mereka juga memutuskan lari dari panti asuhan dan bertekat mencari siapa dalang dari semua ini. Memang ironis, keadaan yang menuntut mereka untuk bertindak layaknya orang dewasa serta pemikiran yang mengandung hal berbau kriminal. Hanya satu tujuan mereka, pembalasan dendam. Pembalasan itupun terwujud saat usia Bobby menginjak 19 tahun, dan dalang dari apa yang terjadi pada kedua orang tuanya adalah ulah kakaknya sendiri yang Bobby bahkan tidak tahu bahwa dia memiliki seorang kakak karena saat kakaknya pergi meninggalkan rumah, Bobby berusia dua tahun.

Hal itu lantaran dendam kakaknya karena mereka lebih menyayangi Bobby ketimbang dirinya.

                               Destiny

Um, wanginya harum sekali.. pasti lezat.” Ungkap Jiyeon sambil melangkahkan kakinya kedapur sambil terus menciumi wangi masakan.

“Pemalas, gadis macam apa sudah siang seperti ini baru bangun.”

Langkah kaki Jiyeon terhenti, dan gadis itu memutar balik tubuhnya, “bau hangus. Pasti masakannya tidak enak, uwek.” Ketusnya saat mengetahui bahwa Yunhyeong lah chef dihari ini begitu suara yang sangat dibencinya menguar keudara.

“Ya! Dasar tidak tahu diri, kau tidak akan aku beri makan hari ini.” Amuk Yunhyeong, namun Jiyeon terlihat masa bodo dan terus mengarahkan tongkatnya kedepan sambil meneruskan jalan. “Jika kau memakannya aku pastikan kau akan sakit perut.” Lanjutnya lagi, yang sialnya justru Jiyeon sudah menghilang dari dapur.

“Gadis itu. Lihat saja dia pikir aku bercanda.”

“Jiyeon! Sini, kearah piano.” Panggil Jinhwan yang sedang menyender dipinggir piano, sementara Donghyuk dan Junhoe duduk bersiap kolaborasi untuk memainkan lagu klasik.

Jiyeon yang tadinya tidak bersemangat seketika menujukkan cengiran lebarnya dan melangkahkan kaki kearah piano yang sudah dihapal, kakinya terus melangkah mantap dan menunjukkan raut antusias, ketika sudah hampir dekat Jinhwan langsung menarik tangan Jiyeon dan memposisikan gadis itu berdiri disampingnya, “Junhoe dan Donghyuk akan berduet memainkan piano, kau pasti suka.” Kata Jinhwan membuat raut wajah Jiyeon semakin cerah, gadis itu mengangguk bahagia membuat Donghyuk membuka mulut tipisnya untuk tertawa, sedangkan Junhoe hanya bisa terkekeh geli.

“Ayo mainkan! Aku tidak sabar.” Perintah Jiyeon.

“Kau tahu The Marriage of Figaro Overture?” Tanya Junhoe dengan suara bass nya pada Jiyeon, gadis itu mengangguk sekali lagi yang membuat Jinhwan langsung menunduk sambil menggeleng dan tertawa pelan, “Mozart?” Jawab Jiyeon.

“Seratus untukmu, fairy.” Kata Donghyuk, “nikmati ini.” Lanjutnya. Kemudian irama klasik The Marriage of Figaro Overture yang diciptakan W.A.Mozart berlantun merdu. Jiyeon menyenderkan kepalanya dibahu Jinhwan sambil mulutnya ikut bersenandung seirama, diam-diam juga Jinhwan meraih celah-celah jemari Jiyeon untuk diisi celah-celah jemarinya. Saat Jiyeon membalas genggaman tangannya, Jinhwan tersenyum dan ikut menikmati musik klasik tersebut.

Ditengah-tengah permainan musik klasik, Hanbin datang dan berdiri disamping Jiyeon, “bisa bicara berdua?” Tanyanya membuat tubuh Jiyeon tersentak kaget, kepala gadis itu langsung bangun dari bahu Jinhwan dan tangannya terlepas dari tangan Jinhwan. “Hanbin?” Tanya Jiyeon bernada pelan.

“Hn.”

“Maaf aku sibuk.” Tungkas Jiyeon yang memilih untuk menghindar dan hal itu menjadi sorot perhatian Jinhwan, Donghyuk dan Junhoe yang sudah berhenti bermain piano. Hanbin berniat mengejar Jiyeon namun terhalang tangan Donghyuk yang memegang lengannya, “apa yang terjadi?” Tanya Donghyuk.

“Aku jelaskan nanti.” Jawab Hanbin sambil melepas tangan Donghyuk, Hanbin langsung menarik tangan Jiyeon dan membawanya naik keatas tangga lalu masuk kekamarnya yang memang bisa terlihat dari lantai bawah. Setelah pintu tertutup, Yunhyeong yang sejak tadi hanya menonton dan menyender didinding mulai angkat suara, “waw, tidak bisa dipercaya Hanbin membawa Jiyeon masuk kekamarnya.” Perkataannya itu lantas menarik perhatian Jinhwan, Donghyuk dan Junhoe untuk sekedar meliriknya. “Apa? Benarkan? Selama ini bahkan Hanbin tidak pernah mengizinkan siapapun untuk masuk kekamarnya. Tapi gadis itu… tidak bisa dipercaya.” Belanya.

Donghyuk menggeleng maklum, “dimana Chanwoo dan Bobby hyung?” Tanyanya kemudian berusaha untuk mengalihkan topik.

“Istirahat. Kau tahu sendiri semalam mereka pulang jam empat pagi.” Jawab Yunhyeong acuh dan memilih untuk kembali ke dapur.

…..

“Kau masih marah?” Tanya Hanbin sambil menghimpit tubuh Jiyeon didinding karena gadis itu terus memberontak, “tidak.” Jawab Jiyeon, Hanbin semakin mendekatkan wajahnya hingga dahinya bersentuhan dengan dahi Jiyeon, tapi Jiyeon memilih menghindarinya membuat Hanbin merasa frustasi, “aku minta maaf. Aku salah, tapi kau harus tahu jika itu semua demi kebaikanmu.”

“Jiyeon..” kali ini Hanbin menyentuh kedua pipi Jiyeon, walau tatapan kosong yang diterimanya karena jelas Jiyeon tidak bisa melihat, tapi setidaknya dia bisa melihat wajah Jiyeon yang sejak tadi terus saja berpaling kesana dan kesini. “Maaf. Oke?”

“Aku tidak marah.” Dengus Jiyeon.

“Kalau tidak marah kenapa kau menghindariku?”

“Aku hanya kesal. Kata-katamu terlalu tajam tau!”

Hanbin melepaskan kedua tangannya dari pipi Jiyeon dan terkekeh geli membuat Jiyeon justru menjadi cemberut, “kenapa kau tertawa? Memangnya lucu?” Rengeknya yang dibalas Hanbin berupa cubitan dihidung mancung Jiyeon.

“Wajahmu yang lucu.”

Jiyeon semakin cemberut, Hanbin justru semakin senang bisa melihat ekspresi seperti itu lagi. “Gomawo.” Tulus Hanbin berkata, Jiyeon terdiam bingung dan dahinya tampak mengkerut, “untuk apa?” Tanyanya.

“Untuk tidak marah padaku.”

Jiyeon tersenyum, “aku tidak bisa marah pada kalian semua.” Jiyeon menjeda sejenak, “kecuali Yunhyeong. Aku ingin mendengar permintaan maaf dari si bodoh itu.” Lanjutnya.

Hanbin hanya bisa tersenyum tipis, biar bagaimanapun Hanbin tahu jika Jiyeon tidaklah benar-benar membenci Yunhyeong, Hanbin juga tahu jika Yunhyeong tidaklah membenci Jiyeon.

Tbc.

A/n: next part bakal ada yunyeon horayy🎉🎉 walaupun gue garela karena baby yoyo itu suami gue! Aduh suami, biarin deh gue ikhlas kalo dia selingkuh sama jiyeon, asal jangan sama yang lain aja XD. Btw, sepertinya setelah Destiny sama JD tamat gue mau hiatus ya, mau fokus kuliah dulu abis udah kena omel sana sini😂😂 ya paling kalo khilaf adalah oneshot mah hahaha.

Advertisements

Author:

If you Jiyeon fans, you must stay here. but, if you hate my fav idol..you must go on without drama. thx

24 thoughts on “Destiny [V]

  1. yahhh di part ini g ada perusuh yg bkin yunhyeong sbel,, chanwoonya g ada nihh,,
    wahhh hanbin klo lagi cemburu serem jga yaa Jiyeon smpai g mau dilatih lagi sma dia,,
    g sbar pngen liat gmna moment yunyeon yg biasanya berantem semoga aja di part selanjutnya mereka akur 😀
    hiatusnya jngan lama2 yaa semoga aja sering khilaf supaya sering bkin oneshoot 😀
    hehe becanda sis 🙂

  2. astagaa hanbin galak bgt wkwkw, jiyi nyampe kesel gitu. tapi tetep aja jiyi gak bakal bisa marah sama mereka semua.
    huaaa masa lalu hanbin sama bobby tragis juga yaa. penasaran sama “dia” yg disebutin sama hanbin yg jadi alasan hanbin marah2 trus pas lagi ngajar jiyi beladiri. apa jgn2 appa nya jiyi?

  3. Huaaaaa suka banget suka sukaa…. Pas hanbinnya bikin jiyeon marah terus dia nyesel… Terus momment yang aku tunggu2(?) momment bobby jiyeon huaaa XD tapi sekarang aku gatau mau jiyeon akhirnya sama siapa :”) sama hanbin juga ucul, sama yunhyeong juga, sama junhoe juga.. Apalagi june cool parah(?). sama si kembar juga.. Tapi belom ada momen sama chanumon ya wkwk. Wayoloh untung hanbin gatau waktu itu bobby nyium keningnya jiyeon hohoho. Kalo tau jangan2 hanbin malah makin ngamuk2 ntar wkwk. Aiiihhh aku suka semua moment terutama jiyeon sama double b XD penasaran juga ‘orang itu’ itu siapa wkwk.. ayo lanjut lanjuutt semangaattt ‘-‘)9

  4. hmp.. Disini partnya hanbin. Kalo gni crnya jd bingung jiyeon jdny sama siapa, bobby yg kalem aja ampe suka kan. Tpi pengen liat moment mahluk dua yg ga rapi, pasti bkin greget.

  5. ini ni,ada rahasia dibalik rahasia,jadi berapa lapis?Ratusan..
    kyaa janganlah ya sampai ratusan ntar enggak kelar-kelar..

    selama ini belum ada yg boleh masuk ke kamar hanbin.berarti pada tahu kan semuanya kalau jiyeon itu disukai hanbin..
    padahal semuanya pada suka,tapi terserah deh jiyeon sama sapa..rh disini pada rebutan yang ada ntar malah jiyeon sama minho..kwkwkw..
    tetap minji di hati

  6. Omg gimana kalau jiyeon bisa ngeliat gugup gak ya sedeket itu sama hanbin
    Yeee nanti bakal ada moment yunyeon gak sabar ditunggu next chapter nya

  7. Hmmmmm
    Hanbin. . Emosi na jgn ϑilampiaskan k jiyi g y..
    Kshn .. Mental na jiyi G̲̮̲̅͡å bs ϑikasarin,
    Skedar tegas blh, tp jgn menyinggung prasaan jiyi,
    Hmmm dg cpa y ntk na jiyi jth cinta?? ^^

  8. aigoo.. yg ama jiyi nnti.y sypa yah?? moga aja ama chanwoo, atau junhoe, atau yunyeong.. tpi, firasat ku mngatakan nnti.y sma hanbin. yahh tak apalah.. alur.y bagus baget. next thor, fighting!!^^♥♡

  9. yunyeon momentnya kurang banyak padahal kangen dengar mereka berantem.
    rahasia dibalik rahasia ?.ah chinja makin penasaran bgt ma ceritanya.nextnya jangan lama.kalau gitu sering” aja khilafnya :v

  10. aduh hanbin getol bngt bwahaha
    lanjut eonni update kilat yoo
    gk sbr pingin liat adu mulut jiyeon yunhyeong wkwkwk
    oh ya kalu gitu sering sering khilaf aja un xD

  11. Part ini adem ayem 😀 😀 yunhyeong dikit sih nongolnya jadi jiyeon juga gak keluarin tenaga banyak-banyak buat ngelawan dia 😀 😀 😀

  12. Aduhhh demi apa si jiyeon enak bgt
    Dtggu bgt moment yunyeon nya
    Hanbin cnta ama jiyeon
    Ngg cma hanbin sih tpi yg lainnya jga
    Tpi krna td bnyk momen hanbin ama jiyeon nya
    Si bobby cium jiyeon diam2 hehehe
    Haaaaa gue mau jd jiyeon

  13. Rahasia dibalik rahasia???
    Hmmmm bikin penasaran aja deh
    Trus ‘dia’ yg di bicarain bobby sama hanbin siapa?
    DI tunggu next nya

  14. sayangnya yoyo udah selingkuh sama aku juga😋 kkkkkk
    jadi penasaran nih gimana partnya yunyeon 😀 pasti cute deh bikin oe cemburu😢

  15. Ternyata banyak rahasia dibalik rahasia. Gak nyangka ternyata jiyeon punya kakak yg malsuin kematiannya….kasian jiyeon

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s