Posted in Destiny

Destiny [III]

image

                  Rated M for crime

Ruang tertutup kedap suara yang biasa digunakan The Seven God Of Death diisi ketegangan saat Bobby mengatakan tujuannya pada Kim Donghyuk dan Kim Jinhwan. Menyuruh si kembar untuk melakukan misi kelas S, misi yang mungkin ada hubungannya dengan kematian kedua orang tua mereka. Saat Bobby mendapat read mail beserta identitas sang target, Bobby tahu jika Donghyuk dan Jinhwan lah yang berhak atas misi tersebut.

“Jadi orang ini yang sudah membantai seluruh keluargaku?” Tanya Donghyuk kalem. Namun dibalik ketenangannya, justru tersimpan banyak emosi dan sebuah ambisi untuk membalaskan dendam keluarganya. Disampingnya Jinhwan juga hanya menunjukkan ekspresi datar, namun tidak ada emosi apapun yang terdeteksi. Pria Hades tersebut hanya menampakkan ekspresi kosong tanpa makna.

“Ya. Aku sudah menyelidiki sejak lama, dan orang ini adalah orang yang sama yang membunuh seluruh keluargamu. Dia, lawan politikus Ayah kalian. Jung Taewon.” Jelas Bobby sambil memperhatikan mimik Donghyuk dan Jinhwan secara berkala.

Jinhwan menyeringai keji begitupun dengan Donghyuk, “dengan senang hati kami menerima tugas ini, Zeus.”

                               Destiny

Chanwoo sudah berhasil membobol keamanan rumah milik Jung Taewon, menghacker seluruh akses komunikasi beserta cctv. Itu sebabnya Donghyuk dan Jinhwan dapat dengan mudah masuk kerumah tersebut tanpa diketahui pengawal yang berjaga didepan, mereka masuk melalui jendela kaca dilantai dua, yang langsung terhubung dengan kamar target. Mereka berdua mengenakan jubah hitam bertudung disertai topeng Guy Fawkes, topeng yang menggambarkan ciri khas The Seven God Of Death. Topeng kebanggaan Zeus karena kecintaannya pada David Lloyd.

Jinhwan mengangguk saat suara Hanbin terdengar memberikan petunjuk melalui earphone kecil yang terpasang ditelinganya. “Kau yakin tidak ingin langsung membunuhnya seperti target kita yang lain?” Donghyuk yang juga mendengar penuturan Hanbin melalui earphonenya tersenyum sinis, “ini beda, Ares. Target yang ini spesial. Kami ingin bersenang-senang dengannya.” Tutur Donghyuk sembari merogoh CornerShot dibalik jubahnya, sementara itu Jinhwan juga sedang mengisi peluru pada Tracking Point miliknya.

“Baiklah, aku tahu apa yang kalian pikirkan. Jung Taewon sedang terlelap dikamar bersama istrinya. Ada kedua anaknya di lantai tiga, dan aku harap kalian melakukan misi dengan rapih.”

“Diterima, Ares.”

“Hati-hati, Dionisos, Hades.”

Dionisos dan Hades berjalan santai tanpa ketegangan apapun saat memasuki kamar utama. Tujuan mereka kali ini hanya untuk bersenang-senang, tidak perduli dengan bayaran kali ini. Bayarannya hanya hotel megah yang berada di Seogwipo. Tidak sebanding dengan apa yang mereka peroleh selama ini. Contohnya saja pulau Honshu, pulau terbesar yang ada di Jepang. Hadiah yang mereka dapat karena membunuh perdana menteri Korea Selatan.

Ctak.

Jinhwan mengunci kedua tangan istri Taewon menggunakan borgol, mulut wanita berumur itu disumpal kain menyebabkan suaranya teredam walau samar. Kakinya bergerak gelisah berusaha membangunkan Taewon yang berada disampingnya, sementara itu Jinhwan hanya diam menyaksikan pemberontakan si wanita paruh baya. Saat Taewon merasa terganggu karena serangan brutal kaki istrinya, barulah Jinhwan dan Donghyuk menyeringai dibalik topeng.

“Siapa kalian?” Panik Taewon berusaha memencet tombol darurat yang berada di sisi nakas, wajahnya mengeras begitu tombol tersebut tidak berfungsi. Donghyuk masih setia memperhatikan dari sofa besar yang ada dikamar itu. Tatapannya begitu mematikan, sarat akan nafsu untuk membunuh. “Tenanglah, kami hanya ingin bermain sebentar.” Tutur Jinhwan.

“Apa mau kalian? Tolong jangan sakiti keluargaku.” Taewon merengek seperti anak kecil begitu Jinhwan mengarahkan Tracking Pointnya ke mata sang istri, kemudian mata Taewon mendelik marah saat salah satu mata istrinya mengeluarkan darah, darah akibat tembakan Jinhwan. “Berani berteriak, aku akan melubangkan lehermu.” Bisik Donghyuk kemudian dengan CornerShot yang mengarah pasa leher jenjang Taewon. Jakun pria itu naik turun, kegugupan melandanya kini. Apalagi melihat istrinya yang bergerak liar menahan kesakitan dan suara jeritannya yang teredam begitu memilukan, sekali lagi Jinhwan menembak mata wanita itu hingga msenambah jeritan kepedihan.

Wanita itu seolah berteriak jika dia ingin langsung dibunuh saja dari pada disiksa seperti itu, “well, sepertinya tidak adil jika istrimu saja yang merasa kesakitan.” Bisik Donghyuk, bisikannya bagaikan malaikat maut yang mengerikan. Pria berumur itu memekik sakit saat rambutnya dijambak Donghyuk kemudian dibenturkan amat keras kedinding hingga noda darah menetes dimana-mana. “Hades, tembak mulut wanita itu.” Perintah Donghyuk.

“Ti..dak.” Taewon berkata lirih, matanya sudah berkunang pusing. Tapi Donghyuk tidak akan membiarkan Taewon meninggal semudah itu, pria bertittle Dionisos tersebut kembali menjambak rambut Taewon, mendongakannya dan mengarahkan kepala pria itu kehadapan sang istri. Sementara itu Tracking Point milik Jinhwan sudah masuk kedalam mulut sang istri. Batinnya menjerit, melihat bagaimana keadaan istrinya sekarang, kedua matanya yang berdarah dan sang istri seolah pasrah menunggu ajal kematian.

“Biadab!” Jerit Taewon.

“Diam!”

Donghyuk menembak telingan Taewon setelah membentaknya, dan kembali menjambak rambut itu hingga kulit kepalanya berdarah. “Hades, tembak!” Perintah Donghyuk lantas membuat Jinhwan segera menarik pelatuknya. Tubuh wanita itu jatuh terjungkal kebelakang disertai hancurnya permukaan mulut sang wanita. Wajahnya sudah tidak berbentuk apapun, hanya tubuhnya yang masih utuh, walau borgol masih menghiasi kedua tangan wanita tersebut.

“Si..apa kalian?” Tanya Taewon dengan sisa tenaganya. Jinhwan maju mendekat, menepuk kasar pipi Taewon, “siapa kami tidaklah penting. Kami hanya disuruh untuk membunuhmu, Ahjussi.” Taewon membelalak sementara Donghyuk menyeringai. “Mati kau pak tua!” Marah Jinhwan sambil mematahkan tangan kanan Taewon hingga terdengar suara krak yang berasal dari tulang. Pria itu menjerit memohon ampun, “tidak ada yang bisa mendengarmu, semua sedang berjaga diluar.” Kali ini Donghyuk mencongkel mata kiri Taewon menggunakan tangannya tanpa rasa jijik.

Taewon kembali menjerit, kali ini suara jeritannya seperti suara hewan terjepit, kecil dan serak. “Kau sahabat yang sangat dipercayai Ayahku! Ini balasannya karena telah membunuh seluruh keluargaku termasuk Kakek dan Nenekku.” Geram Jinhwan sambil tangannya menekan telinga Taewon yang terluka. “Kau terlalu meremehkan bocah seperti kami.” Tambah Donghyuk.

Mata Taewon sudah hampir menutup tanda bahwa pria tersebut sudah tidak kuat untuk bertahan lagi, melihat hal tersebut lantas Donghyuk segera menembak jantung pria tersebut hingga Taewon benar-benar tidak sadarkan diri. Jinhwan menatap Donghyuk, “lantai tiga.” Katanya membuat Donghyuk mengangguk paham.

..

Donghyuk dan Jinhwan terjun dari salah satu kamar yang berada dilantai tiga, menyisahkan dua remaja berjenis kelamin perempuan yang tergeletak penuh darah serta kedua kepala mereka yang tergantung. Di sprai berwarna putih, terdapat angka tujuh terbalik dalam lingkaran. The Seven God Of Death here!

Donghyuk memencet tombol kecil ditelinganya, “Quelli Che il Calcio.” Katanya sambil menyeringai dan menghilang digelapnya malam bersama Jinhwan yang mengekor dibelakang. Sebelum mereka benar-benar pergi dari rumah itu, tidak lupa Donghyuk menyiram keempat jenazah tersebut dengan champagne. Ya, Dionisos si dewa anggur telah meninggalkan jejak.

 
                              Destiny

Alunan nada Nocturne, Op 9 memenuhi ruang tengah. Jiyeon dengan anggunnya bermain piano sementara Junhoe terlalu hanyut hanya untuk memandangi paras ayu disampingnya, “aku selalu kena marah Oppa karena tidur pagi.” Kata Jiyeon tanpa menghentikan permainannya, “itu karena Hyung khawatir. Sudah tiga hari ini kau selalu menemaniku bermain piano.” Sahut Junhoe, tangan pria itu kemudian ikut bermain menekan tuts.

“Memang tidak boleh?”

“Siapa yang bilang tidak? Aku senang.”

Jiyeon tertawa kecil membuat Junhoe ikut tertawa, tangannya dan tangan Jiyeon masih sama-sama menekan tuts seperti dua nada yang dijadikan satu namun berpadu merdu. Kemudian tangan besar Junhoe tanpa sengaja menyentuh tangan mungil Jiyeon hingga pria itu kembali merasakan percikan aneh yang membuat jantungnya terasa sesak gugup. Junhoe meremas tangan Jiyeon tanpa memalingkan wajahnya yang terus menatap wajah Jiyeon penuh damba, sementara itu Jiyeon juga meremas tangan besar Junhoe yang terasa hangat ditangannya, gadis beriris hazel itu memiringkan kepalanya seolah bertanya ada apa, namun yang terjadi justru Junhoe ikut memiringkan wajahnya dan mendekatkan wajahnya kewajah Jiyeon.

Mata Junhoe terpejam, namun kembali terbuka saat suara batuk mengganggunya. “Mian, aku alergi.” Sindir Yunhyeong yang berdiri dianak tangga membuat Junhoe menjauhkan wajahnya dari wajah Jiyeon. Kemudian Jiyeon juga menarik tangannya dan lebih memilih melanjutkan permainan pianonya.

“Kau tidak ingin tahu aku alergi apa?” Pertanyaan Yunhyeong lantas membuat Junhoe menaikkan alisnya bingung, “bukankah kau tidak punya alergi?” Sahut Junhoe.

“Sekarang ada! Aku alergi wanita penggoda!” Sengit Yunhyeong sambil menatap tajam punggung Jiyeon, Junhoe juga ikut melirik Jiyeon menunggu reaksi sang gadis. Namun yang terjadi justru Jiyeon tetap terlarut dalam permainan pianonya, seolah tidak terganggu dengan hal apapun. Bagi Jiyeon mengabaikan Yunhyeong adalah yang terbaik, tapi bagi Yunhyeong mendapat pengabaian dari Jiyeon merupakan suatu hal yang menyebalkan. Pria Dionisos itu sudah terbiasa dengan perdebatan yang mereka lakukan, sehari tidak mengganggu Jiyeon dan berdebat dengan gadis itu rasanya benar-benar kosong.

“Oh gadis buta berubah menjadi gadis tuli.” Sindir Yunhyeong sambil berjalan turun, “apa kau tidak ada kerjaan?” Tanya Junhoe, pria itu lama-lama jengah melihat kelakuan Yunhyeong seolah Jiyeon adalah musuh abadinya.

“Ada.”

“Kerjakan, jangan mengganggu Jiyeon.”

Yunhyeong menyender disisi piano disamping Jiyeon, melipat kedua tangannya didepan dada sambil menatap Jiyeon, “aku sudah mengerjakannya. Pekerjaanku saat ini mengganggu gadis lemah ini.” Katanya kemudian. Tapi melihat Jiyeon yang masih setia dengan kebisuannya membuat Junhoe menghela napas berat, lain halnya dengan Yunhyeong yang mulai merasa kesal dan geregetan. “Gadis lemah yang hanya bisa bermain piano, tidur, dan makan. Well, merasa tuan putri, heh? Menyusahkan.”

“Yunhyeong-ah!” Geram Junhoe, pria itu bangun dari duduknya bersiap memberi pelajaran pada mulut pedas Yunhyeong, namun Jiyeon terlebih dahulu menarik sisi kemeja putih yang dikenakan Junhoe, “jam berapa sekarang? Aku rasa ini waktunya para iblis berkeliaran.” Kata Jiyeon kalem, gadis itu meraba-raba sekitar untuk mencari tongkatnya, “lebih baik aku tidur saja, disini panas sekali. Mungkin karena ada iblis yang kabur dari neraka.” Tambahnya seraya bangun setelah menemukan tongkat.

Junhoe tersenyum miring, sementara Yunhyeong mulai terpancing emosi, “kata-kata mu tajam sekali nona. Apa orang tuamu tidak mengajarkan sopan santun?”

Jiyeon memukul keras tongkatnya kearah Yunhyeong hingga mengenai lengan pria itu, “sakit bodoh!” Maki Yunhyeong, namun Jiyeon tidak gentar, ada emosi dibalik mata coklat hazelnya yang membuat Junhoe segera menarik Jiyeon mundur.

“Lepas! Aku ingin memberikan pelajaran pada anak itu! Dia pikir dia siapa?! Tahu apa tentang orang tuaku?” Marah Jiyeon membuat Junhoe kesusahan menenangkannya. Kini Junhoe tahu kenapa saat itu perlu dua tenaga untuk menenangkan Jiyeon, walaupun badannya kecil tapi tenaganya seperti raksasa. “Orang tuamu pastilah orang yang jahat sehingga mempunyai musuh yang membayar kami untuk membunuh mereka!”

“Yunhyeong!” Marah Hanbin yang sudah berada dibelakangnya bersama Chanwoo dan Bobby, kemudian menyusul Donghyuk dan Jinhwan yang terlihat berantakan.

“Dasar iblis! Itu artinya orang tuamu juga orang yang jahat! Mereka pasti meninggal karena dibunuh jugakan? Aku tidak heran karena kelakuanmu pasti menurun dari mereka!” Amuk Jiyeon berusaha menahan rasa sesaknya, perasaannya terlalu sensitif jika membahas kedua orang tuanya, terlebih Yunhyeong sudah menjelekkan orang tua Jiyeon, batin anak mana yang tidak terluka saat orang tuanya di jelek-jelekkan? Jiyeon kembali menyerang Yunhyeong dengan tongkat, begitupun dengan Yunhyeong yang merasa kesal orang tuanya dibawa-bawa. Pria itu menangkap tongkat Jiyeon, menariknya dan melemparnya jauh. “Kau tidak tahu apa-apa tentang mereka!” Marah Yunhyeong.

“Kau juga tidak tahu apa-apa tentang orang tuaku!” Jeritan Jiyeon disertai isakannya membuat Hanbin segera menarik tangan Jiyeon dan mendekapnya protektif, “berhentilah kekanakan!” Kali ini Bobby sudah tidak bisa diam, kelakuan Yunhyeong sudah tidak bisa ditolerin lagi.

“Hah, apa tidak ada malam tenang untukku?” Dibelakang Chanwoo menggerutu malas, membuat Donghyuk menyeringai, “katakan selamat tinggal pada malam tenangmu, baby Chanchan.” goda Donghyuk membuat wajah Chanwoo semakin muram. Mereka kemudian kembali melihat kedepan, memperhatikan pertengkaran sengit Jiyeon dan Yunhyeong yang masih berlanjut. Jiyeon ditahan oleh Hanbin, sementara Yunhyeong sudah diseret menjauh oleh Junhoe dan Bobby.

“Ayo kita ke kamar.” Bisik Hanbin sambil mengelus rambut Jiyeon, hal itu sudah menjadi kegiatan rutin setiap malamnya. Setiap Jiyeon dan Yunhyeong bertengkar, Hanbin selalu menenangkan Jiyeon dan membawa gadis itu ke kamarnya, memperlakukan gadis itu selembut mungkin meski itu pertama kalinya bagi Hanbin. Selama ini, Hanbin adalah sosok serius, sosok yang sama berwibawanya seperti Bobby. Bedanya, Bobby masih memiliki sisi humoris, sementara Hanbin selalu terlihat serius. “Ajarkan aku cara berkelahi, Hanbin-ah.” Cicit Jiyeon, membuat Hanbin menoleh ke Jiyeon disela jalan mereka menuju lantai dua.

“Aku bukan gadis lemah. Akan aku buktikan itu.” Lanjutnya membuat Hanbin tersenyum, “aku akan bicarakan ini dengan Hyung.”

                               Destiny

Jinhwan merasa malam ini malam terpanjang baginya, saat bertemu dengan Taewon tadi seolah membuka kembali luka lama. Dulu Ayahnya bersahabat dengan Taewon sejak High School, masih ingat dengan jelas bagaimana bangganya Ayahnya itu memiliki sahabat seperti Taewon. Jinhwan merasa jika dia adalah anak paling bahagia didunia, terlebih ada Donghyuk yang selalu menjadi figur kakak yang baik. Kemudian semua kebahagiaan itu tergantikan dengan jeritan kesakitan seluruh keluarganya yang tengah merayakan kemenangan sang Ayah sebagai wakil rakyat. Jinhwan dan Donghyuk hanya bisa mengumpat di bawah tempat tidur saat keluarga mereka dibantai habis, berpelukan dibawah sana sambil terisak bersama.

Bocah umur tujuh tahun yang belum mengerti apapun, namun harus merasakan apa itu kekejaman dunia. Begitu momori yang ia kunci rapat terbuka, Jinhwan tidak bisa lagi membendung kesedihannya, tangisnya pecah pada malan itu. Memanggil Ayah dan Ibu nya penuh kesakitan, berharap mereka dapat kumpul kembali.

“Kau menangis?”

Hingga sebuah suara lembut seorang gadis membuat Jinhwan bangun dari kegiatan meringkuknya, namun suara tangis itu tidak bisa teredam. Jinhwan masih terus menangis sementara Jiyeon mulai melangkah, menajamkan pendengarannya untuk mencari titik keberadaan Jinhwan. “Kenapa? Ada yang menyakitimu?” Tanya Jiyeon sambil meraba ujung ranjang, gadis itu kemudian mengambil tempat disamping Jinhwan, tangannya meraba wajah Jinhwan yang sudah penuh air mata. “Hey, kau bisa cerita padaku. Ada apa?”

Tangis Jinhwan semakin pecah hingga membuat pria itu terbatuk, perilaku lembut Jiyeon mengingatkannya pada sosok sang Ibu yang telah tiada. Dulu saat Jinhwan menangis, Ibu selalu menghapus air matanya, kini ada gadis lain yang lancang masuk kekamarnya dan menghapus air mata Jinhwan. “Jika menangis membuatmu merasa lega maka menangislah, keluarkan semuanya.” Perintah Jiyeon seperti mantra sihir yang membuat Jinhwan menumpahkan semua kesedihannya. Pria itu meraih pundak Jiyeon, memeluknya erat sambil terus menangis pilu.

“Kenapa kau ikut menangis?” Tanya Jinhwan saat merasakan punggung Jiyeon bergetar. “Aku tidak tahu, perasaanku juga sedang sensitif.” Rengek Jiyeon. “Jangan menangis bodoh!” Kata Jinhwan tanpa bisa menghentikan tangisannya, dalam posisi saling memeluk mereka sama-sama menangis.

“Mulutmu tajam seperti Yunhyeong.” Isak Jiyeon, “maafkan aku. Aku hanya tidak tahu cara membuatmu berhenti menangis.”

“Tapi kau juga tidak bisa berhenti menangis.”

“Aku tidak bisa.”

“Aku juga tidak bisa. Aku tidak tahu kenapa ingin menangis, aku sedih mendengar suara tangismu. Aku jadi teringat kedua orang tuaku.”

Tangis Jinhwan semakin pecah, begitupun dengan Jiyeon. Kata orang tua seolah hal sensitif yang tidak boleh disebut, kedua manusia berbeda gender itu semakin saling memeluk erat dan mencengkram baju masing-masing. Jiyeon sudah mulai sesegukan disertai batuk begitupun dengan Jinhwan yang terus menenggelamkan kepalanya dilekukan leher Jiyeon. “Rasanya sesak.” Rengek Jiyeon.

“Oh astaga! Kalian kenapa?!” Panik Donghyuk, pria itu berjalan cepat dan melepas paksa pelukan Jiyeon dan Jinhwan, “aku tidak tahu, dia menangis karena aku menangis.” Jawab Jinhwan. Donghyuk melirik Jiyeon yang masih sesegukan, “kenapa kau menangis, Jiyeon?” Tanya Donghyuk, pria itu mengambil tempat disisi kanan Jiyeon sementara ada Jinhwan disisi kiri gadis itu.

“Aku bilang tidak tahu! Aku hanya ingin menangis karena suara tangis Jinhwan sangat menyedihkan.” Kesal Jiyeon, Donghyuk mendesah bingung. Melihat Jiyeon dan Jinhwan yang menangis seperti itu membuat Donghyuk tergugah untuk menenangkan, “sstt, sudahlah katanya kau tidak ingin dibilang lemah? Jadi jangan menangis.” Donghyuk menepuk kepala Jiyeon, Jinhwan yang melihat tingkah kembarannya itu seolah merasa terusik, pria Hades itu berusaha menghentikan tangisnya dan menggenggam tangan Jiyeon, “aku sudah tidak apa-apa. Berhenti menangis.” Suara serak Jinhwan membuat Jiyeon perlahan mengangguk sambil melipat bibirnya, berusaha menghentikan tangisnya namun terlihat sangat imut.

“Mataku berat, aku mengantuk.” Rengek Jiyeon, tanpa sadar membuat si kembar Kim sama-sama tersenyum tipis. “Tidur disini saja.” Kata Jinhwan, pria mungil itu belum melepaskan tangannya yang menggenggam tangan Jiyeon, “mataku juga berat, aku lelah.” Lanjutnya disertai mata sayu. Jiyeon merebahkan tubuhnya dengan kaki menjuntai, begitupun dengan Jinhwan. Mata mereka langsung terpejam saat kepala itu menempel diatas kasur, begitu lelah terlebih untuk Jinhwan yang belum beristirahat setelah melakukan misi.

Donghyuk sebagai satu-satunya yang masih terjaga memperhatikan baik-baik wajah Jiyeon dan Jinhwan yang sudah terlelap, matanya kemudian beralih ke tangan Jiyeon dan Jinhwan yang saling bertaut. Pria itu kemudian menatap kosong kearah jendela, kemudian ikut merebahkan dirinya dengan kaki menjuntai dilantai, sama seperti Jiyeon dan Donghyuk, pria itu juga sangat lelah. Tapi Donghyuk tidak langsung memejamkan mata, pria itu memandang langit-langit kamar, kemudian menoleh kesamping dan kembali menatap langit-langit, “apa ini tidak terlalu cepat?” Bisiknya sebelum memejamkan mata dan ikut terlelap.

Tepat jam 04.00 pagi, mereka mungkin akan merasakan pegal-pegal saat bangun nanti.

tbc.

A/n: “Quelli Che il Calcio” . Mirip
dukungan untuk tim bola, namun sejatinya sebuah pemberitahuan: “Bos, semua baik-baik saja.” Itu diambil dari bahasa mafia yang ada di italia. Oiya, maaf mungkin part ini agak bosenin, soalnya gue mau ngungkap masalalu mereka satu persatu, dan disini masalalu si kembar Kim udah ketahuan. Btw, gemez sama baby yoyo disini, minta dicium banget😂

JD nyusul ya, belom dapet ide. Kalo Destinykan alurnya emang udah mateng. Dan kayanya setelah ini bakal kembali ngaret update. Mau fokus UAS dulu, abis UAS juga ada acara jurusan. Semoga part ini engga mengecewakan banget ya😘😘

Advertisements

Author:

If you Jiyeon fans, you must stay here. but, if you hate my fav idol..you must go on without drama. thx

31 thoughts on “Destiny [III]

  1. Walau pembunuh yg sadis mereka tetap cengeng kalau mengingat masa lalu

    sepertinya bakal banyak cinta bercabang nih antara jiyeon dengan para The Seven God Of Death

  2. Walaupun mereka sadis tapi hatubya hello kitty ya 😂😂 dan yunhyeong bilang aja alesan cari masalah sama jiyeon biar bisa deket sama jiyeon ..Ditunggu next partnya

  3. kasian yg dicuekin,hahaha saya suka saya suka..dari pada ngeladenin bikin sakit tenggorokan jerit2.kan masih banyak yg lain..ciyee yg menang banyak..enakan hanbin nenangin jiyeon bisa peluk2 dari pada yg kena pukulan 5ongkat,wkwkqkk

  4. Q nangis karena Story Kim Twins dan Jiyi malah ikut”an kejer nangis’a huhuhu

    Dan kenapa target’a mereka bernama JUNG TAE WOM untung bukan JUNG TAEK WOON (LEO VIXX) dan ngeri banget saat mereka membantai keluarga tersebut, emang bener kata orang rasa sayang dan cinta bisa menimbulkan dendam jika orang yg kita sayangi disakiti bahkan dibunuh

    Yunhyeong mulut’a tajem banget macem silet dan kenapa hobby banget ganggu Jiyi kalo benci ya diem aje dasar Yuni/? Dan OMG Junet mau nyium Jiyi jieeeee yg bener” sudah jatuh hati sama Jiyi, dan sekarang Binan juga “kaya’a” mulai ada rasa dan disusul oleh Jinan OMG semua aja kalo gitu mah

    Kurang panjang jadi ngk berasa baca’a karena tiba” TE BE CE hehehe

  5. Ngeri juga dg aksi pembunuhan namja namja kecee ini ^^ tapi pas moment dimana ada jiyeon pasti semuanya berubah menjadi lucu dan lebih hangat ^^

  6. ngk mengecewakan sama sekali thor justru suka bgt sama ff ini.tapi serem juga pas mereka ngelakuin misi mereka,sadis bgt euy.kayaknya junhyeong suka deh ma jiyeon,suka bgt ngegangguin jiyeon.
    thor part selanjutnya panjangin lagi ya dan jangan lama” updatenya.

  7. paling lucu kalo jiyeon udah berantem sama yun,, dua2nya kyk langsung keluar tanduk devilnya. dan y dibalik smua profesi mrk, psti ltr belakg mrk jg salah stu penyebbnya…

  8. ini kayalnya bakal banyak cinta segi ….. nya xD wkwkwk iya ih yunhyeong mulutnya makin tajem banget, pantes lah jiyeon marah sama dia dia emang ga ada kerjaan jadiya gitu wkwkwk lucu kelakuan jiyeon jinhwan nya hahah ha 😀

  9. Wajar ja mrk jd bringas gt, kluarga na ϑi bantai scara sadis,
    Hahhahahaa aduuh liat mrk brntm mulu justru makin imut dech, gemes bgt dg mrk,
    Lw G̲̮̲̅͡å brntm rasa na G̲̮̲̅͡å rame,
    Hahahahhahahahhaaaa jiyi …. Qm ikut nangis Ĵΰƍa krn dy nangis Ĵΰƍa ?? Cute~

  10. Tauga taugaa aku merinding baca yang part misi nya wkwk sadis juga ya si kembar… Tapi segitu aja sadis gimana si ares yang katanya paling sadis?? Aihh gakuat gakuat…… Yunhyeong ngga abis2 sebelnya sama jiyeon wkwk bilang aja jeles pas junhoe mau nyium iya kan iya kan….? Wkwk aku menanti part diungkapnya kisah double b XD hanbinnya soswit ya… Oh ya di mitologinya aphrodite sama ares ya?? Oalah oalahh apakah cerita ini akan mengikuti alur mitologi ataukah aphrodite bakal sama yang lain?? Poseidon? Apollo? Zeussss??? wkwk ayo next nextt penasaran niiihhh XD

  11. huaaaa sadis juga cara mereka ngebunuh. pasti si kembar kim bner2 dendam bgt sama jung taewon. aigooo yunhyeong kerjaannya nyari masalah mulu sama jiyi. padahal udah di diemin sama jiyi ehh malah makin jadi. bilang aja mau cari perhatiannya jiyi. wkwkwk.
    kayak nya ntar semua anggota the seven god of death bakal jatih cinta sama jiyi. ini aja kyknya si jinhwan sama donghyuk udah mulai suka sama jiyi.
    next part di tunggu thor 🙂

  12. cara mereka ngebunuh serem banget SUMPAH ..
    Nyesekk ..
    Kesel banget gue dengan Yunheong..
    Ya udah, ditunggu thor next part nya~
    Fighting!!

  13. si Yunhyeong makin bertingkah aja,,
    didiemin malah makin nyolot aja sma Jiyeon,,
    ciee Jinhwan sma Jiyeon so sweet dehh tidurnya sambil pegangan tangan lagii,,
    klo si Yunhyeong liat dia pasti bkal mnggila lgi ngusilin Jiyeon,,

  14. yunhyeong itu apa2an sih kejam amat mltx sm jiyi.. ckckc.. ntah knp ttp dkng hanbin jiyi feelx lbh kena kykx.. sosok srius yg jth cinta n bnr2 bs jg jiyi.. wkwkwk

  15. ahhh .. sebell ma TBC nya eonni … ge rame jga … hehehheee … yunhyeong jgan2 dia jga suka jiyi tp gengsii … hahahhaaa … pengen deh ada moment mereka b2 tp ga pke brantemmm …. jehhehehee
    cepett di lanjut eahh …

  16. uwwii makin banyak nih yang jatuh hati sama jiyeon >< #plak eh skrg bobo sama jinan&donghyuk hehehe asik banget jiyeon sama cogan cogan :3 lanjuutt asaaapp

  17. Pembunuhan nyr sadis euyyy
    Tp ttp ya cowo2 ini sadis klo lagi ngejalanin misi tp klo udh di rumah trus ketemu jiyeon langsung berubah jd manis deh
    Hampir semua pada nyaman sama jiyeon cuma si yunhyeong yg keliatannya masih gengsi nih kkk
    Cieeeee hanbin intim dah cd
    Aku malah jd penasaran sama kisah masa lalu nya yunhyeong

  18. Twins kim ngeri banget waktu pembantaian nya bener” sadis.

    Jiyeon bener” membawa perubahan terhadap 7 cowok” ganteng itu, semoga endinya sama Hanbin ya hehehee

  19. Gila! Sadis banget cara mereka ngebunuh. Dan mereka ngelakuinnya apik banget lagi. Keren qaqa!!! Tapi walaupun mereka sadis masih tetep ganteng kok😁 kkkkk
    Doh beb yun, gitu ya modus nya ya. Sok sok an benci sama jiyeon. Tapi akhirnya kangen juga kan kalo sehari aja kaga gangguin jiyeon😑 hhhhh kamu bikin aku cemburu mas yuyun😢

  20. Kalau udah mengenai kerjaan pr dewa ini sadis banget ma korbannya. Kirain td cuma suami istri tersebut aja ternyata satu keluarga dihabisi semua….ckckckck
    Makin seru….lanjuuuuttttt

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s