Posted in Oneshot

The Love Seeker [Oneshot]

image

Kenapa kaki itu terus melangkah sedangkan yang terbaik ada di depan mata? Apa rencana kedua bola mata itu hingga mampu mengkhianati sang tuan? Saat kaki itu melangkah, saat mata itu mencari, sosoknya sudah menghilang. Bagaikan tulisan dipinggir pantai yang tersapu ombak, terombang-ambing diterjang badai, bertebaran ditiup angin. Saat itu sang surya tersadar, bahwa kesempatan sudah hilang.

A girl in the shore of the sea (beach)

.
.
The Love Seeker
Choi Minho&Park Jiyeon

.

OneShot
by@siskameliaaa

.

.
.

Pagi itu mentari menunjukkan sinarnya yang berkilau, begitu indah dan menakjubkan. Sosoknya begitu elok dengan warna oranye cerah. Walau bulan terlihat rakus menguasai langit dengan ditemukannya sesosok bayangan putih berbentuk bulat di langit putih tersebut, sang mentari tampak tidak perduli dan tetap memancarkan sinar keemasannya. Bulan yang egois, menguasai malam.. dan ingin mengambil siang. Nyatanya, sang mentari selalu menjadi bintang utama.

faradigma menari-nari menyambut hari, membentuk lukisan elok bertabur harapan. Tetesan embun di dedaunan dapat menyentuh hati yang gundah gulana, menemukan suatu kedamaian tanpa sebab. It’s wonderful.

Suara deburan ombak seakan ikut menyambut indahnya hari baru, menari-nari bersama ratusan penghuni lautan, “indah.” Suara itu keluar dari bibir mungil seorang gadis bersurai dark coklat lurus sepinggul.

“Apa kabar, Donghae Oppa?” Suara sang gadis berubah menjadi bisikan halus yang menyatu dengan alam. Setangkai bunga tulip kuning ia genggang begitu kuat, menahan getaran tektonik yang berasal dari tubuh sang gadis. Parasnya begitu ayu, dengan mata bulat beriris hijau zambrut, bibir tipis, hidung mancung namun terlihat mungil, wajahnya berbentuk oval. Bentuk badannya pun tampak indah walau kini ia hanya menggunakan kemeja putih di padukan hotpants, tapi dilihat dari segi kuadrat manapun, tubuhnya bagaikan seorang model kelas tinggi. Begitu proposional.

Hello, let me know if you hear me.”

Hening, gadis blasteran Korea-Inggris itu tampak tenang menikmati semilir angin pagi. Iris zambrut nya perlahan menutup digantikan bulu mata yang lentik, wajahnya yang diterpa sinar mentari pagi bagaikan pahatan Dewi Athena. Putih mulus seperti porselin.

Saat angin meniup wajahnya, gadis itu tersenyum. Tersenyum dengan mata terpejam, “I can’t live without you,” mata nya terbuka kembali menampakan iris zambrut yang menakjubkan, “I wish you were here.

“Karena kau selalu bersama ku, Oppa.” Setelah mengucapkan kalimat itu, sang dewi menaruh setangkai tulip kuning tadi di atas pasir putih, menatap laut dengan pancaran ke-indahan disertai senyum ambigu. Namun, tiba-tiba senyumnya menghilang.. tergantikan dengan tatapan kosong tanpa jiwa, “I will give you my heart untuil the end of time.”

“Park Jiyeon!” Walau teriakan sekencang halilintar sekalipun, gadis itu masih setia memandang lautan lepas. Hingga tarikan sang peneriak membuat gadis itu tersentak, terlalu terkejut hingga dia tidak menyadari sudah berada di dalam pelukan pria berbadan kekar.

“Kau selalu membuat ku khawatir. Ayo kembali ke Villa.”

Maka, saat tangan itu ditarik menjauh, meninggalkan tapak demi tapak diatas pasir putih.. kekosongan kembali melanda hatinya. Karena, jiwa nya melayang ke ufuk barat, mencari dimanakah sang pecinta?

     The Love Seeker

“Oh lihat, sang casanova sudah lelah mencari cinta.” Ledek seorang pria blonde kepada temannya, kemudian pria blonde itu mulai menujukkan raut serius begitu sang casanova hanya diam memperhatikan tuts-tuts piano tanpa berniat memainkannya.

“Kau tahu? Aku rasa ini sudah saat nya bagiku untuk serius pada satu gadis.” Si pria blonde tampak mengernyitkan alisnya dan bersiap melontarkan sebuah pertanyaan jika saja si pria yang di panggil casanova tersebut tidak melanjutkan kalimatnya, “aku pikir aku terlalu jahat pada mereka. Aku mulai memikirkan karma.”

Si pria blonde tertawa sambil memegangi perutnya, sementara sang casanova hanya melirik sinis, “oh ayolah kawan, kau bercanda? Choi Minho sang casanova mau setia dengan satu wanita? Damn, that’s crazy man!” Histeris si pria blonde.

Minho, menekan tuts piano nya begitu kencang hingga si pria blonde langsung menatapnya disertai tawa meledek, “aku hanya mulai memikirkan kata-kata Hyukjae saem, Taemin-ah.” Kata Minho yang dibalas anggukan berkali-kali pria blonde bernama Taemin itu.

“Kau yakin?” Tanya Taemin.

Minho diam sesaat sebelum akhirnya iris onyx nya berkilat jenaka, “i think so.”

“Jadi, dimulai dari mana pencarian sang casanova ini?”

“Hmm, Jeju Island. Aku dengar, banyak gadis cantik disana.”

Taemin tersenyum jenaka, “oh tentu, seleramu terlalu tinggi, tuan tampan.”

“Ya, tentu.” Minho tersenyum angkuh dibalik wajah adonisnya, lalu jari-jemari lentik nya mulai menari-nari mengeluarkan simfoni. Taemin ikut tersenyum dalam diam, menikmati Moonlight Sonata yang Minho mainkan, bahkan pria blonde itu berani bertaruh bahwa simfoni yang indah itu dapat menjadikan Minho seorang pianis kelas dunia.

.
.
.
.
.
.
.

Suatu hari, Plato bertanya pada gurunya, “Apa itu cinta? Bagaimana saya bisa menemukannya?”

Gurunya menjawab, “Ada taman yang indah dan luas didepan sana. Berjalanlah dan kau tidak boleh mundur kembali. Kemudian ambillah satu saja Bunga yang kau anggap paling indah dan menakjubkan.”

Sang casanova, memulai mencari cintanya.

“Wuahh lihat, Jeju memang pulau bidadari. Banyak sekali gadis cantik disini.” Celoteh Taemin.

Tapi pria blonde itu mendengus samar begitu tatapan para gadis justru mengarah pada Minho, what the fuck! Taemin dapat merasakan tarikan gravitasi ke bawah saat salah satu gadis incarannya justru menatap Minho penuh puja. Ibarat ikan remora dan hiu, ikan remora yang kecil tertutup hiu yang besar.

Ikan remora dan hiu salah satu contoh simbiosis komensialisme. Di mana salah satu organisme diuntungkan, sementara yang lain dirugikan. Jadi disini Taemin menjadi pihak yang dirugikan, tentu saja.

“Hn, mereka semua bukan tipe ku.” Disitu Taemin cengo, hanya geleng-geleng melihat kelakuan sahabat karibnya itu.

“Dasar, high class.” Cibir Taemin.

                  The Love Seeker

God, she’s fucking beautiful!” Puji Taemin.

Dalam hati, Minho mengamini apa yang dikatakan Taemin. Sang casanova itu dalam diam meraba sesuatu yang bersarang di dada nya, merasakan getaran aneh yang menggelikan namun menciptakan rasa menakjubkan. Menyaksikan indahnya ciptaan Tuhan, seorang gadis beriris zambrut menatap tajam lautan. Ia mengenakan gaun tosca tanpa lengan, kulitnya putih bagai porselin. Suatu pahatan yang mendekati sempurna.

“Hn, masih ada yang lebih cantik dari dia. Ayo cari lagi.”

Mengabaikan atmosfir yang terasa menyesakkan disekitarnya, Minho berjalan terus kedepan, –mencari bunga yang lebih menakjubkan.

Sementara Taemin hanya bisa jawdrop di tempat. Merutuki ke-angkuhan sang casanova, dan menyumpah nyerapahi sifat arogan sang tuan.

Plato pun berjalan, dan setelah beberapa lama, dia kembali dengan tangan kosong, tanpa membawa apapun. Gurunya bertanya, “Mengapa kau tidak membawa satupun bunga?”

Plato menjawab, “Aku hanya boleh membawa satu saja, dan saat berjalan aku tidak boleh mundur kembali. Sebenarnya aku telah menemukan yang paling indah dan cantik, tapi aku yakin bahwa ada bunga yang lebih Indah lagi di depan sana, jadi tak kuambil bunga tersebut. Saat aku berjalan lebih jauh lagi, aku menemukan bunga yang lebih indah – tapi seperti yang tadi – aku tetap berpikir bahwa aku akan menemukan bunga yang lebih indah di depan sana. Hingga akhirnya aku bingung dan baru kusadari bahwa bunga-bunga yang kutemukan tak seindah bunga yang tadi, jadi akhirnya tak satupun bunga yang aku ambil.”

Gurunya kemudian menjawab “Jadi ya, itulah cinta”

.
.
.
.
.
.
.

And then, kau kembali ke si gadis pantai.” Taemin menyeringai begitu Minho mendelik tajam.

“Aku hanya berpikir, cuma dia yang paling mempesona diantara gadis yang lain.”

“Ow, tunggu.. aku pikir sang casanova sudah menemukan cintanya.”

Kedua kaki itu melangkah seirama dalam keheningan hingga menciptakan alunan melodi berirama tap tap tap. Ketika sepasang kaki berhenti, sepasangnya lagi menuruti.

Minho menoleh ke sisi kiri, raut wajahnya mengandung kata ambigu hingga membuat Taemin termangu.

“Aku tidak mungkin jatuh cinta.” Kata Minho sambil menatap mata Taemin.

“So?”

“Hanya ingin memastikan apa benar dia yang terbaik? Jika tidak, bersiaplah ke tempat berikutnya.”

Oh tentu, sang casanova tidak pernah ingin jatuh cinta.

    The Love Seeker

Sore itu sunset sedang memancarkan ke-indahannya, Minho merasa sensasi jutaan volt mengalir di rongga dada. Bermacam spekulasi bersarang hingga tidak mampu menemui titik terang, matanya berkilat penuh minat, menyaksikan seorang dewi yang menari di pesisir pantai, cantik. Tutu putih nya mengembang seiring gerakan memutar sang dewi pantai.

teknik virtuosonya begitu mengagumkan dan sukses menarik perhatian orang-orang sekitar. Tapi gadis itu tidak perduli, dia tetap bergerak kesana kemarin menciptakan pointe work yang menakjubkan. Iris zambrutnya berkilau dalam temaram, membuat yang melihat langsung jatuh hati.

“Itu si gadis pantai! Astaga, jika kau tidak mau dengannya, biarkan dia untukku.” Kata Taemin disertai semburat merah jambu di pipi pucat nya.

Minho menoleh, memberikan tatapan tajam yang bahkan tidak disadari si pria blonde, terlalu terpukau dengan gadis balerina di depannya, “kau ingin mati?” Tekan Minho hingga si pria blonde merasa dunia menghitam, begitu suram dan mengerikan. Akhirnya Taemin hanya bisa memberikan cengirannya dan menepuk bahu Minho pelan, “untukmu, aku rela kok.” Bersamaan tawa yang di paksakan Taemin pergi menjauh, membiarkan sang casanova mendekati si gadis balerina, gadis pantai, dewi Athena. Huh, terlalu banyak sebutan untuk si gadis yang nyaris sempurna tersebut.

Kaki si casanova melangkah perlahan mendekati sang balerina, saat gadis balerina itu mengangkat satu kaki nya setinggi kepala disertai gerakan memutar, langkah Minho makin mendekat. Mata si pria tampan itu tidak berkedip seiring langkahnya yang kian pasti.

Begitu gadis beriris zambrut itu bersiap mengangkat kedua kaki nya di udara, Minho menahan napas. Dan saat tubuh itu mengudara..

Hap!

Kedua tangan besar Minho menangkap pinggul gadis ballerina, membuat sang gadis mengambang di udara menciptakan angel yang luar biasa. Onyx dan zambrut saling menatap seakan saling terikat satu sama lain. Seperti para pemain pantonim, tanpa bicara mereka dapat membuat suatu cerita best seller.

Ketika mentari mulai tenggelam, bergantilah tugas sang malam. Membentuk suatu background berwarna hitam kelabu di temani cahaya kerlap kerlip bintang berbentuk A yang di buat vertikal dan horizontal. Saat itu, mata si balerina berkedip lucu hingga sang casanova ikut tersadar dan menuruni si balerina secara pelan.

“Maaf.” Kata Minho beserta ke angkuhannya.

“Siapa nama mu, nona?”

Ekspresi gadis itu berubah menjadi stoic membuat Minho bertanya-tanya dalam hati, ada apa dengan gadis ini?

“Maaf, aku tidak bicara dengan orang asing.” Kata gadis balerina, suaranya lembut bagaikan syair syahdu.

Untuk pertama kalinya pula Minho merasa terhina, dia tidak pernah ditolak. Sang casanova tidak pernah ditolak.

“Begitu?”

Gadis balerina itu diam sambil meneliti wajah sang casanova, memperhatikan mimik si tampan untuk mencari tahu, apa gerangan yang sedang dia pikirkan?

“Dasar sombong, aku juga tidak begitu tertarik. Masih banyak gadis di luar sana yang jauh lebih cantik dari mu.”

“Maaf?” Si gadis tampak terluka, namun ia sembunyikan baik-baik.

“Tsk, sudahlah bukankah kau tidak mau bicara dengan orang asing? Sana pergi.” Ketus Minho.

Saat pria itu berbalik, sang gadis menatap sedih punggung si pria. Kesedihan yang begitu mendalam, luka yang amat perih hingga perlahan si gadis mulai meneteskan sedikit air mata suci.

“Jadi.. seperti ini rasanya ditolak?” Lirihnya, kemudian kepalanya yang tadi tertunduk mendongak kembali memperhatikan punggung Minho yang belum jauh dari dirinya. “Mian..Donghae Oppa, mianhae.”

“PARK JIYEON!” Teriak suara baritone dari arah timur.

Langkah Minho berenti, kepalanya tertarik suatu dorongan gravitasi hingga menengok kebelakang. Dilihatnya san g gadis ballerina yang sudah berbalik berjalan bersama seorang pria tinggi tegap yang merangkul bahu telanjang si gadis. Minho tertawa sinis, “Park Jiyeon, huh?” Gumamnya, lalu berbalik sambil menyentuh dada nya.

“Perasaan apa ini?”

“Cemburu?”

Minho menggeleng keras, “tidak mungkin.”

Lalu apa kisah sang casanova dengan gadis balerina hanya sebuah tragedi? Tragedi yang bahkan tidak pernah ada awal namun harus berujung tajam. Ketika langit berbintang, ketika siang bersinar, saat itulah cinta datang. Datang, kemudian pergi. Jadi kenapa manusia harus jatuh cinta jika jatuh rasanya seperih belati? Namun, bolehkah dia berharap? Berharap untuk mencinta tanpa terluka? Atau berharap menuntut cinta?

    The Love Seeker

“Ada apa? Masih memikirkannya?” Tanya seorang kakak pada adik nya.

Si kakak yang melihat adik nya diam termangu sambil memegang sebuah seruling bambu ditangan kini melangkah mendekat, mengambil jarak seintim mungkin untuk duduk di atas kasur queen size adiknya, “itu bukan salah mu, Jiyeon. Itu sebuah kecelakaan.” Kata kakak dari adik bernama Jiyeon itu.

Ingin Jiyeon menjerit, bukan itu yang sedang dia pikirkan. Bukan kecelakaan berujung kematian dimana Jiyeon lah sang tokoh antagonis. Melainkan seorang pria berbadan kekar yang memiliki mata onyx menawan. Jiyeon tidak mengerti, kenapa kata-kata laki-laki itu begitu menyakiti hatinya, memecah kepingan keputusasaan. Ada sesuatu yang mengganjal hingga dirinya seperti manusia tak berakal.

“Donghae pasti sedih melihat mu seperti ini.” Sang kakak mengelus kepala Jiyeon, berusaha memberikan suatu dorongan energi berakhir sia-sia.

“Bukan itu. Aku hanya –”

Jiyeon diam sesaat, begitu pula kakak nya yang terdiam menunggu kelanjutan kalimat tersebut.

“Patah hati?” Ragu Jiyeon.

Kakak nya menghentikan gerakan tangan yang sedang mengelus kepala Jiyeon, menyelamai lautan zambrut yang terlihat redup, “ha ha ha, lucu. Bagaimana mungkin aku bisa mengkhianti Donghae Oppa? Padahal aku sudah berjanji untuk memberikan seluruh hatiku padanya.” Jiyeon tertawa paksa sementara kakak nya terus menatap sang adik tanpa ekspresi berarti.

Jiyeon berdiri, tampak frustasi saat dia mengacak-acak rambutnya brutal. Kemudian dia menoleh, menatap kakak nya yang masih duduk memperhatikan. Tatapan gadis itu begitu pilu, lalu Jiyeon kembali tertawa aneh sambil terus menjambak rambutnya membuat kakak nya segera berdiri untuk menghentikan, tapi Jiyeon semakin menjadi-jadi, gadis itu semakin teriak histeris.

“Tidak bisa!! Aku tidak bisa memaksakan hatiku! Sampai kapan pun aku memang tidak bisa memberikan hatiku untuk nya!!” Jerit Jiyeon.

“Astaga! Changmin-ah, ada apa dengan Jiyeon?”

Begitu langkah kaki lain ikut menghampiri, saat itu pula Jiyeon makin tidak terkendali. Hingga sebuah suntikan penenang diberikan, gadis itu mulai melemah perlahan. Terlarut dalam tidur panjang hingga mimpi yang ia hindari menghampiri, saat dimana dirinya masih menjadi sosok periang, berfikir jika banyak hal yang ingin ia lakukan. Ia ingin bertemu pria yang membuat jantungnya berdebar, jatuh cinta, kemudian merajut sebuah takdir bersama.

Dalam tidurnya Jiyeon merasakan perasaan gelisah hingga Changmin dengan setia menggenggam tangan gadis itu, namun gadis itu terus mengeluarkan keringat sebesar biji jagung. Didalam mimpinya, Jiyeon sepertu melihat kilasan masa lalu. Dia melihat dirinya sendiri, sedang bertengkat dengan seorang pria matang dengan setelan jas abu-abu. Didalam mimpinya Jiyeon masih mengenakan tutu dan berdiri di sebuah parkiran, sedangkan pria yang ada didepannya tengah memegangi setangkai bunga tulip dan kotak kecil berwarna merah. Jiyeon bisa mendengar suaranya yang melengking saat itu.

“Aniya! Aku sudah bilang jika aku hanya menganggap mu kakakku! Aku tidak bisa mencintaimu, Oppa!” Jeritnya.

Pria itu mencengkram bahu Jiyeon, “tatap aku! Kau yakin tidak ada cinta untukku sedikit pun?!”

“Aniya! Donghae Oppa, sampai kapanpun kau adalah kakakku!”

“Aku bukan kakak mu!” Bentak Donghae hingga Jiyeon melotot takut. Pria yang selama ini selalu lembut padanya berubah menjadi monster yang mengerikan. Belum selesai keterkejutannya, Donghae mencengkram tengkuk Jiyeon dan mencium paksa dirinya. Jiyeon memberontak, tapi tenaga Donghae jauh lebih besar darinya. Kemudian Jiyeon berusaha mencari celah, gadis itu menendang perut bawah Donghae hingga pria itu melepaskan cengkramannya, dan Jiyeon menampar pipi keras Donghae disertai genangan liquid dikedua bola mata zambrut itu. “Aku benci padamu!” Teriaknya sambil berlari menjauh.

Donghae pun tidak tinggal diam, pria itu berlari mengejar Jiyeon hingga sebuah mobil sedan melanju dalam kecepatan diatas rata-rata dan menghantam tubuh pria malang itu hingga terlempar ratusan meter.

Saat itu, Jiyeon benar-benar benci yang namanya penyesalan. Jiyeon menyesal, harusnya dia tidak berlari, harusnya Donghae tidak mengejarnya. Langkah kaki Jiyeon kemudian berlari menyusul tubuh Donghae yang sudah dikelilingi kerumunan orang. Rasanya semua terasa simpang siur, suara berisik orang bagaikan suara kaset rusak. Gadis itu begitu panik hingga ia melihat tubuh Donghae berlumur darah, namun pria itu masih bernapas. Oxygen disekitarnya terasa pengap, “Oppa!” Jeritnya histeris sambil mendorong orang-orang yang menghalangi jalannya. Diambilnya kepala Donghae dan diletakkan dipangkuannya, mengabaikan noda darah yang ikut mengotori baju baletnya. “Panggil ambulan!” Jeritnya lagi.

Perhatian gadis itu terusik saat tangan dingin Donghae menyentuh tangannya, gadis itu membalas genggaman tangan tersebut sambil terisak histeris, “mian.” Lirih Donghae membuat Jiyeon semakin histeris disertai gelengan kepala berkali-kali. “Sarang…hae.” Bersamaan dengan itu tangan Donghae jatuh lunglai menandakan ia tidak sadarkan diri. Jiyeon semakin terisak dan memeluk kepala Donghae, gadis itu terus menggumamkan kata maaf hingga tanpa sadar ia mengucapkan kalimat yang membuatnya terbebani hingga saat ini.

“Oppa bangun! Aku akan memberikan hatiku untukmu, aku janji.”

   The Love Seeker

“Kau yakin mau kembali ke Seoul? Comeon brother, jangan hanya karena kau ditolak satu gadis kau jadi menyerah seperti ini.” Kata Taemin sambil berusaha menyeimbangi langkah kaki Minho yang begitu cepat, sesekali pria itu membenarkan letak tas punggungnya karena kesusahan mengejar Minho.

“Hn.”

Taemin mengumpat kesal atas jawaban yang didapat. Tapi si blonde itu akhirnya memilih diam tanpa ingin ikut campur terlalu dalam. Ini pertama kalinya Taemin melihat ekspresi Minho yang sedingin ini. Taemin tau jika Minho sedang patah hati walau si pria angkuh itu enggang mengakui. Dan Taemin hanya bisa pasrah jika Minho kembali menjadi penjahat wanita.

.
.
.
.
.
.

“Jadi kau menyerah?” Cibir Hyukjae sembari menikmati vodka dan menikmati iringan musik dj, matanya mengamati Minho dalam diam. Pria beriris onyx itu tanpa sadar telah berubah membuat Hyukjae tersenyum samar. Tidak biasanya Minho menolak wanita-wanita yang mendekatinya. Minho selalu mengusir wanita-wanita itu dengan dingin.

“Taemin sudah cerita, jadi kau ditolak?”

Hyukjae tertawa melihat ekspresi dingin Minho yang menatapnya tajam, “aku tidak. Gadis itu saja yang terlalu jual mahal.” Akunya.

“Jadi kau suka gadis yang terlihat murahan? Well, disini banyak bitchy. Tinggal pilih.”

“Kau tidak mengerti, saem.”

Hyukjae mendesah melihat murid les pianonya tampak kehilangan arah, “mau mendengar sesuatu?” Tanyanya kemudian. Kali ini Minho menatapnya walau dalam mode malas-malasan, tapi isyarat tubuh Minho seolah mengatakan jika dia akan mendengarkan.

“Aku punya dua orang sahabat, si A dan si B. Si A mempunyai adik perempuan yang cantik dan energik. Suatu hari si A memperkenalkan adiknya dengan si B, jadilah si B jatuh cinta pada pandangan pertama. Awalanya si B berfikir jika adik si A juga menyukainya karena perilaku gadis itu yang selalu menempel padanya. Tapi si B salah, gadis itu hanya menganggapnya kakak. Si B marah dan terjadilah perselisihan hingga menyebabkan si gadis berlari dan dikejar si B. Kecelakaan pun terjadi, si B tewas dan si gadis mengalami desperate karena merasa bersalah. Selesai.”

“Tragis sekali.” Komen Minho tanpa minat. Hyukjae rasanya ingin sekali menjedotkan sikepala batu ini ke dinding, niat Hyukjae menceritakan itu supaya Minho bisa menangkap apa yang dia maksud, tapi pria itu seolah bertingkah masa bodo. “Apa yang kau tangkap dari cerita tadi?” Tanya Hyukjae dengan sisa kesabarannya.

“Pria yang bodoh karena mengejar gadis yang tidak mencintainya. Pada akhirnya dia meninggal dan tidak dapat apa-apa.” Tukasnya.

“Setidaknya dia berusaha Minho. Dan yeah, kini hati gadis itu sudah terkunci padanya.”

“Gadis bodoh. Kenapa baru mencintai setelah kehilangan? Mereka sama-sama bodoh.”

“Jadi?”

Minho mengernyit alis bingung hingga ia bisa merasakan tempelengan pada kepalanya akibat Hyukjae.

“Hyung!” Protesnya.

“Maksudku, kau harus bisa memperjuangkan gadis itu sebaik mungkin. Jangan sampai kau kehilangannya dan boom! Kau menyesal.”

Minho tertegun setelah mendengar penjelasan Hyukjae, seolah dirinya baru saja disadarkan setelah melakukan tindak kejahatan. Dan Minho pun baru menyadari apa itu suatu perjuangan dan apa itu cinta. Minho sadar, setelah bertemu gadis pantai itu hidupnya menjadi tidak normal. Dan kini perhatian Minho hanya tertuju pada gadis itu, membuatnya tidak tertarik melirik wanita manapun.

Pria bermata onyx itu bangkit menciptakan lekungan tipis dibibir Hyukjae, merasa bangga karena bisa menyadarkan si kepala batu, “aku pergi hyung.” Pamit Minho. Dan malam itu juga, Minho langsung terbang ke pulau Jeju.

                       The Love Seeker

Di hari yang lain, Plato bertanya lagi pada gurunya, “Apa itu perkawinan? Bagaimana aku bisa menemukannya?” Gurunya pun menjawab, “Ada hutan yang subur didepan sana. Berjalanlah. Kemudian jika kamu menemukan pohon yang cukup tinggi dan kokoh, maka tebanglah pohon tersebut. Peraturannya sama, kamu tidak boleh mundur kembali.
Plato pun berjalan, dan tidak seberapa lama, dia kembali dengan membawa pohon. Pohon tersebut bukanlah pohon yang terlalu subur, dan tidak juga terlalu tinggi –tapi terlihat cukup kokoh. Pohon tersebut terlihat biasa-biasa saja.

Gurunya bertanya, “Mengapa kau memotong pohon ini?” Plato pun menjawab, “Sebab berdasarkan pengalamanku sebelumnya, setelah menjelajah hampir setengah hutan, ternyata aku kembali dengan tangan kosong. Jadi tadi, Saat aku berjalan dan melihat pohon ini –kurasa pohon ini cukup bagus dan kokoh, jadi kuputuskan untuk menebangnya dan membawanya kesini. Aku tidak mau kehilangan kesempatan untuk mendapatkannya.”

Gurunya pun kemudian menjawab, “Dan ya, itulah perkawinan.”

.
.
.
.

“Dia tidak ada dimana-mana, hyung.” Lesu Minho. “Kau benar, aku menyesal setelah kehilangan. Aku bodoh, hyung.”

Hyukjae menghentikan permainan fur elise nya dan melangkah mendekati Minho yang tengah terduduk lesu di sofa apartemen pria itu. Tangannya kemudian menepuk kepala Minho pelan, “lebih baik kau ikut aku. Temanku itu sudah kembali ke Seoul. Aku ingin melihat keadaan gadis kecilku.” Kata Hyukjae dan dibalas anggukan pelan Minho.

Hyukjae lalu memasuki kamarnya untuk berganti pakaian sementara Minho masih setia dengan pikiran kosongnya. Berandai-andai jika saja waktu itu dia tidak terbawa emosi dan tidak menyerah untuk mendekati si gadis pesisir pantai.

Hingga tepukan halus kembali menyadarkannya, “ayo.” Ajak Hyukjae. Minho pun meraih kunci mobilnya diatas meja dan mengekor dibelakang Taemin.

                     The Love Seeker

Bagaikan siang dan malam, bumi dan langit, bulan dan bintang. Mereka pasangan yang tidak akan terpisahkan. Begitulah pemikiran Minho saat melihat sesosok gadis tengah menari balet di halaman rumah. Awalnya ketika melihat sosok Changmin, Minho seperti pernah melihatnya. Namun Minho mengabaikan pemikiran itu, dan ketika Minho melihat foto-foto keluarga pemilik rumah diruang tamu, Minho ingat jika Changmin adalah pria yang waktu itu dia lihat bersama gadis pantainya. Kemudian cerita Hyukjae saat di klub menyadarkan Minho alasan kenapa gadis itu bersikap demikian. Hati gadis itu sudah terkunci pada jiwa yang telah mati.

Minho duduk gelisah diatas sofa, dia ingin cepat-cepat bertemu dengan Jiyeon. Menurutnya penjelasan Changmin tentang keadaan Jiyeon tidaklah sepenting keinginannya untuk bertemu gadis itu.

“Ternyata dia jatuh cinta pada pria yang bertemu dengannya dipantai.”

“Ne?” Pekik Minho tanpa sadar. Batinnya gusar, dia tidak tahu jika gerakan refleksnya itu membuat Hyukjae dan Changmin menatap dirinya aneh. Saat sadar akan kebodohannya, pria itu berdehem kecil, “adikmu jatuh cinta pada pria yang bertemu dengannya di pantai?” Ulang Minho.

“Ya, saat sadar setelah disuntik obat penenang. Dia menceritakan semuanya, semua yang dia rasakan. Dia tidak bisa memberikan cintanya pada Donghae, sejak awal Donghae hanya kakak baginya. Dan Jiyeon memutuskan untuk kembali hidup normal. Berkat pria yang dia temui dipantai.”

Minho tidak tahu jika rasanya akan sebahagia ini saat cintanya bersambut, dia tersenyum seperti idiot membuat Hyukjae yang duduk disampingnya tersenyum geli. Sifatnya terlalu transparan hingga Hyukjae bisa menebak jika Jiyeon lah gadis yang dia cari.

“Dimana Jiyeon sekarang?” Tanya Hyukjae mencoba membantu Minho akan kelambatan cara berpikir pria itu. Changmin menyesap jus tomat didepannya, setelahnya dia melirik Hyukjae, “di halaman, sedang menar –eh, dia mau kemana?” Kaget Changmin saat melihat Minho tiba-tiba berdiri dan berlalu.

Kali ini Hyukjae mencomot satu cup cake diatas meja, matanya berkeling jenaka, “anak muda jaman sekarang suka tidak sabaran.” Katanya.

Ya, gadis yang sedang menari balet di halaman itu adalah gadis pantainya, Jiyeon. Walau saat ini dia tidak mengenakan baju balet, Jiyeon masih terlihat anggun dengan dress putih selutut. Ditambah sinar matahari jingga yang mempercantik gadisnya, membuat gerakan itu kian menawan. Minho sudah bertekat jika dia tidak akan melepas gadis itu lagi, jika perlu Minho akan langsung menariknya ke gereja dan mengucapkan janji pernikahan. Minho tidak ingin kehilangan –lagi.

Saat tangan kiri gadis itu terulur panjang, Minho menariknya hingga Jiyeon terkejut dan menyebabkan gerakan berputar. Iris zambrutnya semakin melebar saat bertatap mata dengan Minho, posisinya yang dalam dekapan Minho membuat kedua jantung itu saling beradu seirama, ditambah suara nafas Jiyeon yang terdengar buru-buru akibat kelelahan menari. Minho tersenyum miring, membuat Jiyeon ikut tersenyum tanpa sadar. “Hai.” Sapa Minho, “kita bertemu lagi. Aku tidak akan melepasmu kali ini.” Lanjutnya sambil mencuri ciuman Jiyeon, membuat Minho merasa tergelitik karena sensasinya yang meledak-ledak.

Betapa Minho sangat menyukai gadis ini, dan merasa candu akan setiap yang dimiliki sang gadis, terutama bibir tipisnya yang merona. Dapat dipastikan, bahwa Minho tidak akan pernah melepaskan Jiyeon sampai kapanpun.

End.

A/n: absurd abis! Hahahaha. Akhir-akhir ini lagi gaada kerjaan jadi nuangin di fanfict aja. Nasib ldr gini, sibuk sendiri😂 tapi kayanya makin kesini kok makin sepi ya? Apa udah pada bosen baca fanfict atau gimana? Oiya yang mau bikin sequel diatas silakan, atau yang mau ngehayal lanjutinnya sendiri juga monggo wkwkwk. OS ini boleh di copy kok, tapi gaboleh di paste XD oke thankies buat kalian yang masih setia sama gue sampe sekarang, selamat natal!🎄

Advertisements

Author:

If you Jiyeon fans, you must stay here. but, if you hate my fav idol..you must go on without drama. thx

20 thoughts on “The Love Seeker [Oneshot]

  1. Jodoh mah emang ga kemana. Sequel nya dong , apa jiyeon nerima minho,*yah walau tau jiyeon juga suka * pengen liat pacaran nya ,,

  2. ciee akhir.a cinta minho gk bertepuk sebelah tangan, ending.a kurang romantis, sequel dong thor klo bisa, ditunggu ya fighting^^

  3. Kasian si jiyeon, kmatian donghae sbnarnya bkn slah dia kan jiyeon hanya menganggap donghae sperti kakaknya huft. untung dia jatuh cinta dgn minho.

  4. Kasian si jiyeon, kmatian donghae sbnarnya bkn slah dia kan jiyeon hanya menganggap donghae sperti kakaknya huft. untung dia jatuh cinta dgn minho.

  5. Arghhhhhhhhhhhh gilaaaa ini bener” manis dan ada pesan”a yg bener” wowwww dari peetanyaan sang murid ke guru dan cara guru memberi tahu gimana cara menjawab dan sang murid yg menemukan jawaban’a sendiri itu bener” nge feel banget Menong si Kodok sang Cassonova akhir’a menemukan bunga terindah’a yaitu sang Ballerina Jiyi arghhhh daebak

    Pas Hyuk oppa nyeritain tentang A dan B Q langsung ngeh kalo itu adalah Jiyi dan BOMMMMMM akhir’a MinJi bersatu

  6. Dan minji pun mengalami love at first sight nih
    Aku suka cerita nya walaupun terkesan alur nya cepat tp aku ttp suka

    Anyway… aku juga suka sama selipan cerita plato dan gurunya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s