Posted in Oneshot

Sadden [OneShot]

image

But when I close my eyes I want only to stay
Where the farthest you are is a heartbeat away

Bring Me The Night – Sam Tsui feat Kina Grannis

.

.

Sadden – OneShot
Choi Minho&Park Jiyeon

.

By @siskameliaaa

.

Summer, hari pertama kau dan aku bertemu. Di pesisir pantai berpasir putih aku melihat mu sedang berlari bersama teman-teman mu dengan kaki telanjang. Senyum mu begitu lebar dan mata mu menyipit karena silau matahari. Saat itu, mata kita bertemu. Kau tersenyum dan aku ikut tersenyum, walau segaris dan ku yakin kau tidak bisa melihat senyum ku. Kemudian, kau kembali bermain kejar-kejaran dengan teman mu. Sementara aku masih setia melihat mu dari atas batu karang sambil menghisap rokok. Bikini tosca yang kau kenakan berhasil membuat pikiran kotor ku menari-nari. Aku tahu, aku memang seorang pria brengsek.
 
Autumn, aku pikir kita tidak akan pernah bertemu kembali. Tapi kini aku kembali di pertemukan oleh mu di tempat yang tidak pernah terduga, Jepang. Aku melihat kau duduk di bawah pohon sakura. Kau sangat cantik walau hanya menggunakan jeans hitam, kaos putih, dan sepatu boot maroon. Dalam diam aku menyeringai ketika melihat kau yang begitu fokus menggambar sambil mendengarkan sebuah lagu lewat earphone yang menempel di kedua telinga mu. Kau mendongak dan tertawa geli saat kelopak bunga sakura turun di wajah mu.

“Hey,” sapaku pada akhirnya. Kau kembali mendongak dan mata mu berkilau.

“Ah! Aku ingat, pria pantai?” Kau tersenyum lebar seakan menemukan mainan baru, kau buru-buru merapihkan alat gambar mu dan berdiri sambil menepuk-nepuk bokong yang penuh dedaunan kering. Kemudian, tangan mu terjulur tanpa melunturkan senyum ramah yang kau miliki, “namaku Park Jiyeon. Kau siapa?”

Ah, Jiyeon. Disitulah aku tahu siapa nama mu.

“Minho.”

Alismu berkerut seolah menunggu kelanjutan dari apa yang ku ucapkan.

“Hanya Minho, tanpa marga.”

Dan aku jelas melihat raut kekecewaan mu, tapi kau buru-buru menunjukkan senyum lebar. Saat itu tangan kita masih saling berjabat, dibawah pohon sakura yang berguguran dan angin sejuk yang dengan nakal membuat rambut dark coklat panjang mu berkibar horizontal.

Spring, saat itu kau dan aku belum terikat hubungan apapun. Tapi kita sudah seperti sebuah pasangan. Friendzone, begitu kau menyebutnya. Kau mengenalkan ku dengan teman-teman dan keluarga mu. Tapi aku tidak pernah mengenalkan mu dengan keluarga dan teman-teman ku, aku tahu kau gadis yang pengertian. Ketika malam sudah semakin larut, aku memaksamu menginap di apartemenku. Dan saat itu pula aku mengambil kegadisan mu. Paginya, kau tersenyum seolah kita adalah pasangan yang paling bahagia. Tapi hati ku beku, aku hanya melihat mu dalam diam. Dan kau tahu itu sifat ku, dingin dan tidak banyak bicara.

Winter, kita bertengkar. Kau marah karena ketidak jelasan hubungan antara kau dan aku. Disaat kau marah-marah, aku justru duduk santai di sofa sambil menghisap sebatang rokok.

“Minho! Kau bahkan tidak mendengar apa yang aku katakan!” Jerit mu, harusnya aku berdiri dan menenangkan mu. Harusnya, aku menghapus air mata mu. Tapi, saat itu aku adalah seorang pria brengsek.

Kau kemudian membuang rokok ku dan menginjaknya. Kau memancing amarah ku walau aku berusaha menahannya. “Bajingan! Apa kau hanya menginginkan tubuh ku? JAWAB!” Kau semakin menjerit dan terlihat sangat menyedihkan. Aku ingin memeluk mu, tapi kemudian setan dalam diriku berbisik hingga aku mengurungkan niat tersebut.

Plak!

“Kau tahu aku mencintaimu! Tapi kau tidak pernah mengatakan kau mencintaiku!” Kau memukul-mukul dadaku kemudian meremas kaos ku. Aku masih diam seolah ini tontonan yang menarik.

“Hn, pergilah.” Dingin ku berkata, kau mendongak. Wajah mu memerah karena tangis mu, rambut mu kusut berantakan, dan mata hitam mu yang biasanya terlihat cerah kini meredup seperti kelamnya malam. Aku nyaris tersedak, tiba-tiba seperti ada yang meremas jantungku hingga merambat ke tenggorokan.

“Pe-pergi? KAU BILANG PERGI?!”

Plak!

Dan saat itu kau benar-benar memancing amarahku. Aku balik menampar mu, sangat kencang hingga kau terhempas di atas sofa. Rahangku mengeras dan tanganku terkepal,
kau hanya diam terkaku, tangan mu memegang pipi mu yang aku tampar. Aku mendecih, melihat kau yang sama sekali tidak bergerak. Wajah mu tertutupi rambut hingga aku tidak bisa melihat seperti apa ekspresi mu.

“Dasar bodoh.”

Kau masih diam.

“Kau pikir aku menyukai mu? Jangan bermimpi.”

Tubuhmu mulai menegang.

“Kau hanya pelacurku. Kau saja yang terlalu mudah di bodohi, Jalang.”

Setelah itu aku mulai mendengar isakan tangis mu. Dan aku berusaha tuli, tapi suara isakan itu semakin kencang hingga tubuh mu bergetar begitu hebat. Aku kembali merasakan jantung ku seperti diremas, akhirnya aku melampiaskannya lewat amarah dan memaksa mu berdiri.

“Pergi dari sini!” Bentakku.

Kau mendongak, tersenyum sinis dan senyuman itu berhasil membuat jantungku mati rasa.

“Choi Minho, presdir Choi enterpreneur. Bajingan ulung sang penakluk wanita. Sudah banyak wanita yang kau bodohi demi kepuasan semata. Dan aku salah satu korban mu.”

Aku menegang saat kau tahu identitas asliku, selama ini aku berusaha menutupinya demi sebuah nama baik. Aku dikenal sebagai presdir yang baik dan bertanggung jawab. Berusaha menutupi sisi kelam ku dari publik.

“Terkejut?” Kau tertawa menyeramkan ketika air mata kembali menetes membasahi pipi merah mu. “Bagaimana jika para kolega mu tahu? Keluarga mu? Aku pikir mereka harus tahu siapa kau sebenarnya.”

Aku panik, kau begitu berbahaya. Aku tidak pernah tahu jika kau adalah wanita cerdik yang berani menyelidiki ku lebih dalam. Bisikan setan sudah memenuhi pikiranku, dan aku berlari. Ke kamar ku, mengambil sebuah pistol dan menembakan ke arah mu. Kau terkejut dengan mata melotot, kemudian aku melihatnya sendiri. Kau tumbang di kobangan darah, gaun putih mu ternoda merah dibagian perut. Dan aku semakin panik, ketika aku memastikan kondisi mu.. kau tersenyum, tersenyum pada orang yang telah membunuh mu.

“Sarang..hae.” kalimat terakhir yang kau ucapkan disertai tetesan air mata terakhir. Disitu, sisiku yang lain muncul. Aku sudah tidak bisa tenang, aku gegabah. Dan aku segera membawa mu pergi keluar dari villa, seketika udara dingin menerpa wajah ku saat aku membuka pintu. Aku membawa mu pergi menjauh dan membuang mu di pinggiran kota.

Sejak saat itu, aku berusaha menghilangkan pikiran tentang mu dengan mencari kesenangan dunia. Tapi, suara tawa mu dan senyum di bibir mu selalu mengusikku dan menghantui ku setiap malam. Jiyeon, wanitaku.. kini aku sadar setelah kehilangan.

                               Sadden

Hide all your photographs,
But I can feel you watching me
How long does your memory last?
It’s time I ought to be
Moving on and getting over you
I bet it looks like I’m not even trying to

Shadow – Sam Tsui

Jiyeon, wanitaku, duniaku, obatku. Kau dimana? Saat itu aku kembali ke tempat dimana aku membuang mu. Kosong, kau tidak ada. Aku berteriak seperti orang gila memanggil namamu, hanya kegelapan yang aku temukan. Aku pikir, seseorang telah menemukan mu. Dan aku mencari berita terbaru di internet, tapi nihil. Tidak ada satu beritapun yang mengatakan telah menemukan mayat di pinggir jalan. Minggu pertama kehilangan mu, semua orang mencariku untuk menanyai keberadaan mu. Aku bilang aku tidak tahu, aku tidak bertemu dengan mu ketika hari kau hilang. Tapi minggu-minggu berikutnya, mereka seolah melupakan mu. Seolah tidak perduli kau hilang, dan aku sangat marah.

Aku masih memejamkan mata dan lengan kiri ku aku gunakan untuk menutup mata. Aku bisa merasakan lelehan hangat mengalir lembut dari mata hingga sisi telingaku. Lagi, aku menangis setiap mengingat hari-hari yang ku lalui. Aku pikir, kau seperti wanita-wanita lainnya. Tapi kau berbeda, kau spesial. Sudah empat musim terlewat, itu artinya sudah satu tahun aku menjalani hidup tanpa mu.

“Oppa… sini, ayo senyum.”

“Aku tidak suka di rekam, Jiyeon.”

“Ish, kali ini saja.”

“Tidak.”

“Sayang~”

“Hn.”

“Bagaimana dengan satu kecupan? Aku akan memberikan mu satu kecupan jika kau mau aku rekam.”

“Aku mau satu malam penuh bersama mu.”

“Ish, nakal!”

“Sayang?”

“Arra, satu malam.”

Saat itu kau begitu bahagia. Aku duduk menyila di kasurku, memutar-mutar ulang hasil rekaman mu. Dan aku kembali mengingat hari dimana aku membuat mu amat terluka.

Jiyeon, saranghae.

Itu kah yang ingin kau dengar dari mulutku? Maka, datanglah. Peluklah aku, dan aku akan membalas pelukan mu dan membisikkan kata sarang.

.
.
.
.
.
.
.

Saat ini sedang musim dingin, musim dimana aku membuat wanita yang aku cintai menghilang. Rasanya aku mati rasa, dinginnya dari tumpukan salju tidak membuatku merasakan apa itu dingin lagi. Aku bahkan keluar hanya dengan menggunakan sandal biasa, serta baju piyama. Semua orang menatapku dan aku tidak pernah perduli.

Andai ada Jiyeon, hidupku akan jauh lebih berbeda. Tidak hitam, tapi abu-abu yang akan berubah menjadi pelangi.

Kaki ku melangkah memasuki sebuah mini market, kemudian seseorang menabrakku hingga belanjaannya jatuh berantakan. Dia berdecak dan mengomel sendiri, aku jadi rindu omelan wanita ku. Dan teringat akan nasihatnya.

“Minta maaf lah jika kau salah.”

“Mianhae.” Tuturku sambil membantu seseorang itu merapikan belanjaan. Saat kami sama-sama berdiri, kepala kami saling terbentur dan dia meringis kesakitan.

“Menyebalkan.”

Tuhan.. tolong hentikan waktu.

Jiyeonku… kembali? Aku masih dalam posisi diam tanpa berkedip. Jantung ku menari-nari dan tenggorokanku terasa sakit. Aku tidak pernah menyangka jika sebuah halusinasi bisa begitu nyata.

Ketika wanita itu selesai menggerutu, dia mendongak bersiap memarahi ku namun tidak jadi, wajahnya bergetar ketakutan dan belanjaannya kembali terjatuh. Aku sadar, ini bukan halusinasi.

“Jiyeon?” Ini aneh, dia semakin bergetar dan berteriak ketakutan.

“Pembunuh!”

Ada apa?! Kenapa begini?

“Kau membunuh anakku!”

A-anak?

Sebelum aku bertanya lebih lanjut, Jiyeon sudah berlari. Larinya cukup kencang hingga aku tidak mampu mengejarnya, apa ini yang namanya patah hati? Aku merasa tidak diinginkan.

                              Sadden

Kini aku mengerti kenapa orang-orang terdekat Jiyeon tidak menanyakan kabar nya lagi. Mereka sudah menemukan nya, orang suruhan ku bilang jika Jiyeon tidak memberitahukan siapa yang melakukan hal itu padanya. Artinya, dia masih perduli pada ku. Saat itu, ternyata Jiyeon ku masih hidup, dan dia berusaha berjalan di gelapnya malam, dan dinginnya salju. Kemudian, salah satu saudaranya melihatnya ketika melintas di jalan dan segera memberikan pertolongan. Terimakasih, Tuhan.

“Tapi sayang, bayi yang wanita itu kandung tidak bisa di selamatkan.”

Aku mengernyit bingung, “bayi apa?”

“Saat wanita itu ditemukan dan dibawa kerumah sakit, wanita itu telah mengandung yang usianya baru tiga minggu. Bayi itu tidak bisa diselamatkan akibat peluru yang mengenai perutnya.”

Kini, aku semakin merasa seperti monster. Aku, membunuh bayi ku sendiri. Dan aku telah membuat Jiyeon ku trauma pada ku.

Brak!

“Pergi, tinggalkan aku sendiri!” Bentakku, setelah orang suruhanku pergi, aku langsung menjambak rambutku sekencang mungkin, semua ini membuatku dilanda penyesalan yang semakin menjadi. Fuck yeah!

.
.
.
.
.
.
.

I know you’re somewhere out there
Somewhere far away
I want you back
I want you back
My neighbors think I’m crazy
but they don’t understand
You’re all I have
You’re all I have

Talking to The Moon – Bruno Mars

Ini seperti mimpi, aku bisa melihat mu lagi. Walau hanya dari kejauhan. Sosok mu tidak pernah berubah, kau selalu terlihat indah di pandang. Jiyeonku, kau berhasil membuatku berpikir bahwa kaulah satu-satunya wanita yang patut aku cintai.

Aku sedih melihat mu sedih, aku tahu kau begitu amat terluka. Dan aku benci mengakui ini, bahwa akulah penyebab dari luka mu.

Aku ingin berlari memelukmu, tapi aku tahu itu hanya akan membuatmu takut.

Maka diam adalah pilihan yang paling tepat, aku tidak tahu kenapa kau terdiam begitu lama di bangku taman jalan Gwanghamun. Aku terus memperhatikan mu hingga tanpa sadar kaki ku melangkah membawaku ke hadapan mu.

Lagi-lagi kau tersentak membuat ku merasa terhina. Kau seakan jijik melihat ku, akupun jijik dengan diriku sendiri.

Kali ini aku tidak akan membiarkan mu lepas. Tidak akan!

“Jiyeon.” Lirihku sambil memeluk erat dirimu. Kau memberontak meminta lepas. Lagi-lagi kau membuatku merasa terhina. Kali ini, aku mengabaikan perasaan itu. Memilikimu kembali, adalah prioritas utama ku.

“Jangan pergi.”

“Pembunuh.” Desis mu, dan aku semakin mengeratkan pelukan ini. Menenggelamkan wajahku di lekukan leher mu. Menghirup aroma cherry yang ku rindukan. Aku jatuh cinta untuk yang kedua kalinya.

“I do swear that I’ll always be there.
I’d give anything and everything and I will always care.
Through weakness and strength, happiness and sorrow,
for better, for worse, I will love you with every beat of my heart.
From this moment life has begun
From this moment you are the one
Right beside you is where I belong
From this moment on
From this moment I have been blessed”

Aku bernyanyi dengan suara bergetar, meyakinkan gambaran isi hatiku lewat lagu favorit mu. Dulu, kau bilang ingin memakai lagu ini sebagai soundtrack pernikahan kita.

Kau diam, kemudian membalas pelukanku. Begitu erat, hingga aku takut kau merasa sesak.

“I live only for your happiness
And for your love I’d give my last breath
From this moment on
I give my hand to you with all my heart”

Aku melanjutkan dan kau meremas jaket belakangku.

“Berhenti.” Suaramu sangat halus terdengar namun menyakitkan disaat bersamaan.

“Kau hanya membuatku semakin sulit melupakan mu, Minho.”

Aku menciumi harum tubuh mu lebih dalam, “jadi jangan pernah melupakan ku.” Aku tersentak, kau mendorongku begitu kuat hingga tubuhku sedikit terhuyung kebelakang.

“Dan membiarkan mu menyakiti ku lagi, membunuhku? MEMBUNUH ANAKKU?!”

“Jiyeon…”

Aku berusaha meraihmu, tapi kau justru mundur kebelakang. Kau didepan ku, namun sangat sulit ku raih.

“Jangan ganggu aku.”

Begitu kau berbalik aku segera memelukku dari belakang, memeluk leher mu dan perut mu bersamaan. Aku sudah berjanji bahwa aku tidak akan pernah melepaskan mu lagi.

“Saranghae..”

Kau menangis, lagi. Dan itu karena aku.

“Aku bodoh, aku bodoh karena terlalu mencintai pria brengsek seperti mu.” Maki mu sambil terisak, aku langsung memutar tubuh mu dan kembali mengurung mu didalam pelukan ku. “Aku bodoh!” Racau mu.

“Kau tidak bodoh. Aku yang bodoh karena menyia-nyiakan mu. Izinkan aku Jiyeon, izinkan aku untuk membuat mu bahagia.”

Kau mengangguk, membuatku merasakan apa itu perasaan hangat setelah sekian lama membeku.

All we need is just the two of us
My dreams came true because of you From this moment as long as I live I will love you, I promise you this
There is nothing I wouldn’t give
From this moment I will love you as long as I live From this moment on

From This Moment – Shania Twain

Fin.

Epilog.

“Aku tidak pernah tahu kau adalah orang yang sangat puitis, yeobo.” Jiyeon menghapus setitik air mata yang keluar saat dia selesai membaca sederetan kisah yang ditulis Minho di sebuah situs internet.

“Hn, aku hanya ingin menuangkan apa yang aku rasakan saat itu.” Katanya, tangannya kemudian mengambil alih laptop yang berada di pangkuan Jiyeon dan menutupnya, lalu laptop itu di letakan diatas meja yang berada di samping ranjang king size miliknya. Kini tatapannya beralih ke Jiyeon yang masih setia duduk menyandar di sisi ranjang, pria yang sudah menyandang status sebagai suami sah Park–Choi Jiyeon ini memberikan senyuman nakal yang membuat sang istri bergidik ngeri.

“Aku lelah, yeobo.” Malas Jiyeon, dirinya kemudian menarik selimut dan menutupnya hingga atas kepala, menutupi rasa gugup yang masih terasa walau sudah menikah selama tujuh tahun.

Minho menarik selimutnya, “kau tidak menginginkan ku, hmm?” Godanya dan segera mencium penuh perasaan bibir Jiyeon, wanita yang menyandang status sah istri Choi Minho itu kemudian melingkarkan kedua tangannya di leher Minho, memperdalam ciuman mereka dan membuat Minho tersenyum disela-sela ciumannya.

“Tadi Yoogeun bilang, dia ingin mempunyai adik kembar.” Kata Jiyeon begitu ciuman mereka terlepas.

Minho kembali memberikan ciumannya di bibir Jiyeon, “Sure, honey.”

….

Haiiiiiii, gue tau ini udah lama banget ga update-_- abis gimana RL bener2 bikin gue lupa fanfict😂 buat Jiyeon Diary nya gue lagi berusaha ngumpulin mood. Ini juga tbtb pengen nulis lagi grgr denger lagu apology nya ikon pas hujan. Gzzzz greget sama abang2 gua yg super ganteng itu😍 oke deh, semoga tulisan gue ini ga ancur ya. Walaupun setelah gue baca ulang ekspresi gue langsung nanonano *apaaninigazelazepepnya*

Advertisements

Author:

If you Jiyeon fans, you must stay here. but, if you hate my fav idol..you must go on without drama. thx

23 thoughts on “Sadden [OneShot]

  1. Minho punya 2 keperibadian?

    Sadar juga loe bang,kehilangan sosok yg di cintai emang bikin gila hehe

    akhirnya chingu comeback,, ditunggu juga ff minji lainnya dan diary tunggu lanjutannya

  2. Hiks..hiks..hiks..kesel sama minhoo knapa bisa jahat gitu sama jiyeon..untung kamu sadar.. jiyeon jga baik banget bsa maafin minho….
    Kirain aku bkal sad ending…
    Jangan ulangi lg ksalahan km minho…

  3. Tadi na mau nyumpahin minho jad gila,,, heheee .abis dia kejam banget ma jiyeon,selama ini jiyeon cuma dijadiin simpanan nya saja,,kesel aku apalagi dia juga ngebunuh jiyeon,dan bayi nya untung jiyeon masih hidup,benar” sadis,tpi baca menyesalan nya, jadi luruh juga,merasa kehilangan setelah orang nya ga ada, takdir yang membuat mereka bertemulagi,,,

  4. , walawpun di awal2 kesel ama minho yg tdk brtnggung jawab, tp gak papa udah happy ending ..
    knpa bru publik lg? dtnggu ff laen nya.

  5. kirain bakaln sad ending,,,
    hadeh si minho beruntung tuh jiyeon masi mau ama dy. ckckck kalouda kehilangn bru terasa kan berharganya..

  6. huaa minho kok gni sih.. smp ngs bcx.. miris bngt nasib uri jiyi.. minho jht bngt sm jiyi.. tp syukurlah mrk bs mmliki ending yg bhgia wlpn pny byk rintangan n msa lalu kelan.. next dong.. udh lm ga update hikzz

  7. Nyesel emang selalu dtg belakangan.. untung jiyeon masih punya hati buat maafin semua perbuatan minho
    Dan untung minho sadar dan akhir nya mereka bahagia deh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s