Posted in Uncategorized

6. Jiyeon’s Diary: Jealousy

image

1 Januari 2016

Diary, kau tahu? Hari ini kondisi tubuhku sedang kurang baik. Tapi aku ingin berbagi cerita. Dini hari tadi, aku merasakan tahun baru yang luar biasa. Aku sepakat untuk menghabiskan tahun baru kali ini di tengah-tengah keluarga besar Minho, karena Minho menghabiskan malam natal bersama keluarga besar ku. Aku tahu dari mana sifat ajaib Minho menurun, aku bertemu kakeknya semalam, dan dia tidak pernah berhenti melontarkan guyonan. Sepupu Minho juga menyambut baik diriku, Ahjumma.. ah maksudku Ibu Minho, dia memperkenalkan ku kepada keluarga besarnya dengan mata berbinar. Aku merasa berharga.

Minho juga tidak pernah membiarkan ku menjadi bahan jahilan keluarganya, justru Minho yang terlalu berambisi untuk menjahili mereka, aku tertawa tidak pernah berhenti. Itu sebabnya aku merasa kurang sehat, aku kelelahan sepanjang malam. Tapi aku berani bersumpah, itu adalah tahun baru paling mengagumkan.

30 Juni 2016

Aku sudah naik ke tingkat tiga. Saat aku membereskan buku pelajaran tingkat dua, aku melihat diary ini tersusun rapih di tumpukan paling bawah. Jadi aku menyempatkan diri untuk kembali bercerita. Hampir satu tahun aku dan Minho saling mengikat, ada banyak kejadian yang membuat kami kadang memerlukan jarak. Tapi aku beruntung, Minho adalah pria yang bertanggung jawab. Dia membuat ku mengerti apa itu sebuah hubungan yang sehat, aku merasa bodoh karena selalu menjadi pihak yang menuntut ini itu. Aku selalu menjadi pihak yang menyulut api, sedangkan Minho menjadi pihak yang memadamkan api.

Yoseop selalu mencibir jika para perempuan selalu merasa dirinya paling benar, aku membantah dan mengatakan jika perempuan memang selalu benar. Tapi aku salah, perempuan tidak selalu benar. Perempuan hanya tidak ingin disalahkan, jadi mereka hanya berusaha jika mereka bukanlah pihak yang bersalah. Kini aku belajar, bahwa ada kalanya para perempuan harus mempertanggung jawabkan suatu hal. Mengaku salah jika dia salah, dan para pria pun tidak selalu salah. Tapi mereka harus minta maaf jika bersalah.

Aku ingat saat aku dan Minho berada di titik dimana kami hampir saja terancam berpisah. Sebuah kecumburuan tidak berdasar.

Saat itu, saat aku dan teman-teman ku sedang berlarian di koridor karena suatu hal, aku mendadak menghentikan langkah. Kepalaku terpusat pada satu titik di depan dan aku merasakan jantungku terisi penuh balon gas dan bersiap meledak kapan pun dia mau. Teman-teman ku ikut berhenti dan memperhatikan ku dengan ekspresi bingung. “Apa yang kau lihat?” Tanya IU. Aku masih tidak bereaksi, aku masih berada di posisi dimana aku berada di tengah-tengah orang yang sedang menodongkan pisau ke jantungku, menunggu mereka untuk segera menembus jantungku dan aku akan berterimakasih karena tidak akan sadarkan diri setelahnya.

Itu hanya berada di bayangan semu, nyatanya aku justru berbalik berusaha menjernihkan pikiran dan bergumam bahwa semua baik-baik saja. Minho tidak mungkin sejahat itu, dia mencintaiku. Ya, Minho mencintaiku. Sampai akhirnya pikiran negatip masuk dan meracuni seperempat otakku, aku berpikir.. mungkin Minho bosan denganku, mungkin Minho sudah menemukan cinta yang baru. Aku mengutuk diriku yang sudah termakan drama orang ketiga.

Pada akhirnya, aku tidak bisa mengabaikan apa yang aku lihat. Aku butuh penjelasan.

.
.
.
.
.
.
.
.
.
.

Semua tidak sesuai rencana. Saat Minho sudah berada di hadapanku aku tidak berani mengatakan apapun. Aku takut dengan apa yang aku takuti. Aku takut jika Minho benar menemukan cinta yang baru, aku takut Minho pergi dari sisi ku. Aku takut Minho tidak bisa lagi mengisi hari-hari ku yang kosong. Rasa takut membuat ku menjadi orang bodoh.

Aku duduk terdiam dengan pikiran mengambang. Minho sedang berganti baju di kamarnya. Dirumah ini hanya ada aku, Minho, dan beberapa asisten rumah tangga. Ahjumma sedang di butik nya, Ahjussi sedang keluar kota. Dan Minho adalah anak tunggal.

“Hey, ada apa?” Aku merasakan tangan Minho melingkar di pinggangku. Aku terlalu asik melamun hingga tidak menyadari sejak kapan dia sudah duduk disampingku. Dia menatap ku dalam dengan bola mata besarnya, itu semakin membuat ku berada di ambang keputusasaan.

“Tidak ada.” Jawabku cepat.

Minho kemudian memaksa ku untuk menatap matanya saat aku berusaha mengalihkan pandangan, “aku tahu kau berbohong. Ada apa?” Tanyanya lagi, berusaha menekanku agar aku mengatakan yang sesungguhnya. Aku lebih memilih melepaskan tangannya dari segala kontak fisik dengan tubuhku dan merebahkan tubuhku di sandaran sofa.

Aku memijat pangkal mataku, “aku hanya lelah.” Bohongku. Aku bohong, dan aku harap dia tahu. Aku ingin dia menyadari kesalahannya sendiri dan bersujud sambil memohon untuk dimaafkan. Aku sadar, itu tidak akan terjadi jika aku sendiri tidak mengatakan apa yang sebenarnya terjadi.

“Kau bisa bercerita dengan ku, kau tahu? Aku tidak suka jika ada rahasia diantara kita.” Tapi justru kau yang tidak jujur.

Aku menyerah dan mencoba memancingnya, “bagaimana Hara menurut mu?” Tanyaku. Minho mengkerutkan dahinya, kemudian dia tertawa kecil dan meminum segelas jus jeruk yang ada di meja. “Dia baik.” Aku merasa marah sekarang.

“Bagaimana jika aku katakan jika aku tidak menyukainya?”

“Jika kau menyukainya, itu tandanya kau tidak normal.” Minho menyeringai sambil mengusap kepalaku, dan aku langsung melepas paksa tangan besarnya. Dia terlihat tidak suka dan aku pun merasa tidak perduli.

“Baiklah. Dalam hal apa? Maksudku, Hara orang yang baik. Rasanya aneh jika ada orang yang tidak menyukainya.” Katanya saat menyadari keseriusan di wajahku. Wajah ku semakin mengeras saat mendengar jawabannya, rasa sesak tiba-tiba merambat dari perut hingga ke jantung.

“Itu tandanya kau menyukainya?” Nafasku tercekat, disini Minho masih terlihat acuh dan aku merasa tidak penting.

“Tentu saja, aku bilang dia baik. Kena –hey kau menangis?” Aku menangkis tangan Minho yang berusaha menyentuh pipi ku. “Apa yang mengganggu pikiran mu?” Minho terlihat frustasi saat aku lagi-lagi menghindari kontak fisik dengannya.

“Jiyeon, katakan padaku. Apa aku membuat salah?”

“Ya. Dan aku benci melihat mu bersama Hara. Aku tahu dia menyukaimu, dan kau juga menyambut baik dirinya. Kau dan Hara bermesraan di koridor, kau menggendongnya dan mengabaikanku yang posisinya bahkan tidak kau lihat.” Jeritku. Aku berdiri saat Minho meraih tanganku. Aku berusaha keras untuk melepas tangannya, tapi tangan itu begitu kuat hingga aku merasakan sakit di pergelangan tangan.

“Dinginkan kepala mu.”

“KAU BERUSAHA MENGALIHKAN PEMBICARAAN!!” Jeritanku semakin kencang, aku bahkan tidak perduli ini dirumah orang. Air mata ku juga turun semakin banyak. Minho menarik tubuhku, dan aku terkunci di pelukannya. Dia menciumi kepalaku saat aku memberontak untuk dilepas.

“Oh Tuhan, maafkan aku sayang. Aku tidak tahu kapan kejadian itu, yang aku ingat saat aku menggendong Hara karena kepalanya terkena bola yang aku tendang. Dia hampir pingsan, jadi aku membawanya ke UKS, aku merasa bertanggung jawab. Aku tidak melihat mu dimana-mana, maafkan aku.”

Aku terisak di pelukannya, tapi Minho terus memelukku. “Kau lupa? Bahkan itu baru terjadi tadi siang! Itu artinya kau sering menggendong Hara. Kau bajingan!” Aku mengamuk di pelukannya. Dia tidak pernah menyerah untuk menenangkanku, bahkan dia diam saja saat aku memukuli punggungnya. Minho justru mengusap punggungku.

“Bukan itu maksudku. Maksudku, aku tidak pernah ingat kejadian yang menurutku tidak penting di ingat. Aku hanya bisa mengingat saat aku bersama mu.” Paniknya sambil terus menciumi rambutku. Tanganku mengendur dan suara isakanku bisa aku dengar sendiri. Menyedihkan.

“Oh sayang…. maafkan aku, aku dan Hara tidak ada hubungan apapun.”

“Kau bilang kau menyukainya!”

“Hanya sebatas teman. Menyukai belum tentu mencintai. Aku menyukai Hara seperti aku menyukai Jonghyun, Onew, Key, Taemin dan teman-teman ku yang lain. Aku tidak mencintainya seperti aku mencintai mu.” Kata Minho. Dia kemudian menangkup kedua pipiku hingga pipiku terasa terjepit dan bibirku menjadi maju. Aku yakin wajah ku sangat jelek. Aku bisa merasakan kantuk menyerang mata, hidungku yang melebar, dan bibir ku yang membengkak.

Dia kemudian mengecup bibirku, “aku merasa gagal menjadi pria yang selalu membuat mu bahagia. Maafkan aku Jiyeon, aku membuat mu menangis. ” sesalnya. Aku masih sesegukan dan mataku berair. Minho mengusap jejak-jejak air mata di pipi ku menggunakan kedua ibu jarinya, sementara kedua tangannya masih menangkup wajahku.

“Aku tidak suka. Aku tidak suka melihat kau memperhatikan gadis lain.” Rengekku seperti anak kecil. Aku pikir, setiap masalah memang harus diselesaikan dengan suatu kejujuran. Masalah tidak akan pernah selesai jika kita hanya menunggu suatu kejelasan. Dua belah pihak punya pekerjaan masing-masing. Yang satu bertanya, dan satu lagi menjelaskan. Bukannya yang satu hanya diam menunggu kejelasan. Karena sampai kapanpun dia tidak akan mendapat penjelasan, karena pihak satu nya lagi tidak pernah tahu kesalannya tanpa diberi tahu.

“Aku mengerti, kau mau hanya kau yang aku perhatikan?” Aku mengangguk layaknya anak kecil yang setuju diajak ke taman bermain. Minho tersenyum dan menghadiahi kecupan yang banyak di wajah ku. “Itu hadiah karena kau sudah jujur. Lain kali, kau harus bilang pada ku apa yang kau mau dan apa yang kau tidak suka.” Katanya. Kemudian dia memelukku lagi setelah aku mengangguk. Aku mungkin merasa lega dengan jawabannya, tapi aku merasa ada yang menjanggal. Aku masih belum puas jika gadis bernama Hara itu belum menjauh dari kehidupan Minho. Dia menyukai kekasihku, itu artinya dia akan selalu mencari perhatian Minho. Aku membencinya.

Sampai kapanpun, dia akan menjadi orang yang aku benci.

                           Jiyeon’s Diary

Aku kembali merasakan gejolak aneh. Emosi ku masih belum setabil semenjak kejadian empat hari yang lalu. Aku masih merasa sensitif dengan semua hal berbau Hara dan Minho. Aku membenci jika nama itu yang bersejajar. Aku ingin menghapus nama Hara dari negara ini. Bahkan dari dunia ini. Nama Hara membuat ku sensitip dan mudah meledak-ledak.

Aku melihatnya, melihat saat Minho dan teman-temanya sedang duduk di meja kantin. Tiba-tiba saja Hara datang, meminta izin untuk bergabung. Semua mengangguk kecuali Minho, Minho lebih memilih menikmati makanannya. Aku merasa senang dan marah secara bersamaan. Senang karena Minho mengabaikan Hara, dan Marah karena Hara duduk disamping Minho. Bahkan bahu mereka bersentuhan. Aku sudah bilang jika aku masih sensitip, jadi tidak heran jika aku kembali merasa marah pada Minho. Harusnya dia bangun dan pergi meninggalkan Hara. Harusnya Minho marah karena Hara mendekatinya, harusnya Minho mengusirnya.

Aku berusaha untuk tidak menoleh kearah mereka saat aku dan teman-teman ku melewati meja Minho dan yang lain. Batinku terus bertengkar antara menoleh dan tidak. Dan ego ku yang menang, aku tidak menoleh dan menyapa Minho.

“Jiyeon-ah!” Aku terus berjalan. Kali ini lebih cepat, aku panik saat Minho memanggil nama ku. “Oh, sial!” Dia mengumpat. Aku tidak tahu apa yang membuatnya mengumpat. Tapi aku berharap jika alasannya karena dia menyadari ketidaksukaan ku dengan Hara.

“Park Jiyeon!” Panggilnya saat tangannya berhasil menangkap pergelengan tanganku. Aku tidak suka situasi ini. Situasi dimana kami menjadi tontonan semua murid. Seakan aku dan Minho sedang beradu peran drama Romeo dan Juliet. Aku berusaha keras melepaskan pergelangan tanganku dari tangan Minho tanpa menoleh sedikit pun. Ini efek PMS, dan aku benci PMS disaat seperti ini. Emosi ku menjadi semakin tidak terkontrol.

“Ikut aku.” Kata Minho, tangannya menarikku pergi dari para orang-orang yang menonton kami. Aku tahu dia juga merasa tidak nyaman.

Begitu sampai di atap, aku langsung memberontak minta lepas. Aku tidak ingin menatap wajahnya. Aku bingung dengan diriku sendiri. Satu sisi, aku tahu aku egois, satu sisi lagi aku merasakan kekecewaan mendalam. Minho memegang kedua bahuku, dia memaksaku untuk menghadapnya.

“Kau marah?” Aku diam dan dia menjambak rambutnya frustasi. Aku bisa melihat jelas guratan-guratan abstrak di wajahnya. Tapi setelah itu dia langsung menarik tubuh ku untuk di peluk. Minho menyelipkan kepanya di lekukan leher ku, sungguh.. aku kini merasa bahwa aku yang salah. Aku kembali mengingat kejadian empat hari yang lalu. Aku ingat bagaimana frustasinya Minho saat aku salah paham. Sekarang, Minho kembali terlihat frustasi. Lebih frustasi dari sebelumnya.

“Aku gagal Jiyeon… aku gagal membuat mu bahagia.” Lirihnya. Sesuatu terasa basah di leherku. Oh tidak… aku tahu apa itu. Aku tahu Minho sedang memangis. Atau mungkin itu hanya keringat? “Aku selalu membuat mu sedih.” Tapi mendengar suara seraknya aku tahu dia menangis, aku tahu dia merasa bersalah. Harusnya aku tidak seperti ini, harusnya aku bisa mengerti dirinya, harusnya aku bisa percaya. Entah ada berapa kata harus lagi yang harus aku katakan. Aku egois, aku kekanakan, aku tempramental. Minho penyabar, Minho dewasa, dan Minho yang membuat ku tenang.

Aku tidak bisa seperti ini terus. Harusnya ini tidak terjadi jika aku bisa sedikit saja mengerti bagaimana dia.

“Aku berusaha menghindarinya untuk menjaga perasaanmu. Bahkan menghindari semua makhluk berjenis kelamin wanita. Kecuali keluarga ku dan dirimu. Tapi aku gagal, aku tetap menyakitimu. Dia yang terus mendekati ku. Aku bersumpah jika aku sudah menyuruhnya menjauh, Jiyeon… aku takut kau pergi dari ku.”

Aku mengangkat kedua tangan ku yang hanya diam sejak tadi. Aku memeluknya erat, dan Minho semakin erat memelukku. Seperti dejavu. Kami sama-sama saling memeluk erat. Aku berusaha menguatkannya, dan dia menguatkan dirinya sendiri. Kali ini, aku yang mengusap punggung lebarnya. “Maafkan aku, harusnya aku tidak seegois ini. Harusnya aku percaya padamu. Aku hanya takut bahwa suatu hari kau akan meninggalkan ku. Aku yang takut jika kau pergi suatu saat nanti.”

Minho mengangkat wajahnya dari leherku, setelahnya udara dingin langsung terasa. Campuran antara air dan angin. Kami saling tatap, mata Minho merah dan berkaca-kaca. Minho tidak pernah selemah ini, aku tidak pernah melihatnya menangis. Kemudian aku merasakan kembali bagaimana kedua ibu jari Minho menghapus air mata ku. Dan kali ini aku ikut menghapus air mata Minho menggunakan kedua ibu jari ku. Aku berjinjit, mengecup bibir Minho dan mengalungkan kedua tangan ku dilehernya.

“Aku mencintaimu.” Bisiknya.

“Ya aku tahu. Dan aku juga mencintaimu. Maafkan aku Minho, maaf karena keegoisan ku. Aku janji, apapun itu. Aku akan selalu percaya padamu.”

Ini jauh dari apa adanya diriku. Jauh dari sifat kegilaan dan suka bermain-main. Diriku yang ini, adalah kebalikan dari diriku yang sesungguhnya.

“Ini proses Jiyeon, proses suatu hubungan. Aku juga berjanji, tidak akan membuat mu meninggalkan ku lagi.” Kemudian kami kembali saling berpelukan. Mengabaikan bel masuk, dan membolos hingga jam pelajaran usai. Menikmati tiupan angin sambil mengobrol hal-hal yang sesekali membuat kami tertawa. Kami juga sesekali berciuman di sela obrolan hingga handphone ku bergetar dan terdapat pesan dari Krystal jika ini sudah waktunya pulang. Aku dan Minho kembali berciuman sebelum benar-benar pergi meninggalkan atap dan kembali kerumah.

Sampai sekarang.. aku dan Minho hanya sesekali berdebat, kemudian kami akan kembali mesra lagi. Hingga kami sama-sama belajar apa itu suatu kepercayaan. Apa itu suatu hubungan.

You’re the line i the sand when i go too far.

Tbc.

A: ini gaada konfliknya ya?

B: ada kok, tapi ya konflik macemnyaa abege jaman sekarang aja. Engga ribet dan engga berbelit-belit. Gue bakal sibuk kedepannya, jadi sengaja bikin yang engga terlalu berat. Macemnya cerita oneshoot yang berseri aja. Dan setiap chapter bakal ada masalah tertentu, tapi langsung selesai. Kaya gini lah.

Advertisements

Author:

If you Jiyeon fans, you must stay here. but, if you hate my fav idol..you must go on without drama. thx

25 thoughts on “6. Jiyeon’s Diary: Jealousy

  1. Ya ampun jii..cemburu buta itu namanya,,tapi yaaa ..namanya sama orang yang kita sayang,dia berubah dikit aja langsung curiga,apalagi main gendong cewe di depan kita rasa nya ,,huuftt.,,tapi untung jiyeon nya sadar,dan ya ampun minho,,ohh kau sesuatu banget .langka x cowo seperti minho di dunia ini ,,,

  2. Minho sma Jiyeon saling melengkapi,,
    Jiyeon yg kekanak2an + Minhonya yg dewasa,,
    semoga aja Jiyeon bisa menanggapi masalah sedewasa minho,,
    g nyangka minho bisa nangis jga 😀
    makin ngiri aja sma mreka berdua 😀
    si haranya aja yg kecentilan tau minho udah punya pacar masih aja berani dket2 sma minho ,,
    trus minho nya jga udah bilang buat ngejauhin dia tpi emang si haranya g punya maluu kali yaa masih ngedeketin minho trus,, jdi aja bkin Jiyeon cemburu trus,,
    ditunggu next partnya 😀

  3. OMG OMG so sweet bgt…. aku iri aku iri Thor …. smoga MinJi couple bersatu selamanya deh ,saling melengkapi… tp part ini g ada adegan konyol jiyeon ama temen2 gilanya deh

  4. Bagus kok konflik nyata
    Ini benar banget ceritanyaa
    Konflik anak jaman sekarang banget-_-
    Jiyeon aku suaka sikap mau yang manja:D
    Aduh minho wah dimana bisa dapat cowok kayak minho yah:(
    Perfect banget:3 kalian pasangan tersosweet:*
    Pokoknya ditunggu next Chapter fighting&Hwaiting!!

  5. Ya ampun lucu bgt cemburunya…minpa sayang bgt ma jiyi unnie,,,mereka dua tuh sling melengkapi..,,sempurna deehhh…:Dupdate soon thor..q suka ff ini..konfliknya g’ bkin esmosi tingkat dewa…bkin senyum” malahan…

  6. Sumpah lu bang minho ada stok banyak nggak cowok ky kamu 😀 :-D:-D

    q suka cerita yg nggak terbelit-belit chingu macam gini setiap permasalahan nggak lama ketemu jalan keluarnya ky katamu seperti oneshot 😀 😀

  7. ihhhh minho oppa dewasa banget sih…
    cowok idaman banget…
    jiyi eonni juga udah nyoba untuk dewasa, keren banget…
    next part…

  8. huft,akhirnya ada juga ff baru jiyeon yang bisa di baca.
    jiyeon sekarang sering cemburu ya,untung minho nya sabar.jangan terlalu lama kelanjutanna thor

  9. suka bgt cara minho nenangin dri jiyeon.. dy g pernah marah n selalu mengalh, euy ampe mewek jg krn ngrasa gagal bikin jiyeon bahagia.
    tpi bnr si, ini proses dr suatu hubungan, dan cr trbaik dlm menghdpi msalah saling jujur dan terbuka.

  10. Aigoo aigoo Jiyeon cemburu berat nih ye :p Minho sabar banget :3 iya author mending gini aja konfliknya jangan yang berat berat ntar jebol soalnya nggak muat/?

  11. Huhhh apa2an si hara.. ganjen bngt deketin minho trs.. minho lain x gampar aja si hara klo dkt2 aplg sentuh km.. kwkwwkk #plak..
    Mdh2an minho slalu syng sm jiyi ya ga pernh nyerah n slalu jth cinta berkali2 sm jiyi kekekke

  12. pasangan yg serasi saling melengkapi deh,minho yg pengertian .tadi sempat duga pas minho memanggil jiyeon kira in jiyeon tembus hahaha mana dia bilang lagi pms lagi,kwkwk..
    ternyata minho sadar jiyeon marah,cemburu buta..

  13. Aiggo.. Sifat cemburunya jiyeon buat minho frustasi.. Gara-gara ga bisa bikin jiyeon bahagia, padahal minho tuh udh berusaha buat jiyeon bahagia, tapi gara-gara Hara, Jiyeon selalu aja sedih.. Tapi sumpah mereka bener-bener saling melengkapi… Ditunggu next partnya

  14. Jiyeon udh kelas 3 ajha.. Bntr lgi lulus dong yah dan langsung nikah sama minppa 😍😍😁😁😁💑👏👏👏👏
    Semangat buat minji couple 💪harus bisa hadapin semua masalah yg datg silih berganti 💪💪✊hahahahaaaaa

  15. jiyi udh cinta bgt kyknya sama minho. sampe cemburu segitunya 😀
    minhooo keren bgt, beruntung jiyi disukain sama minho 🙂

  16. Ga nyangka seorang minho bisa smp segitu rapuh nya saat dy bikin jiyeon sedih
    Duhhh aku makin sukaaa nih sama ff ini
    Moment minji selalu bikin aku melelehhh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s