Posted in Oneshot

Never Regret

image

In the end, we only regret the chances we didn’t take.

Mungkin bagi sebagian orang harta adalah nomor satu. Namun, seperempat orang berpikir bahwa keluarga prioritas utama. Orang kaya berandai bagaimana jika dia hidup penuh kesederhanaan yang bahagia? Dibelahan sudut lainnya, orang miskin bermimpi untuk menjadi kaya, bisa membeli segalanya. Disini tidak menceritakan si kaya dan si miskin. Melainkan, suatu persahabatan yang tanpa akhir. Bagaimana kuatnya sebuah tali persahabatan yang berubah menjadi tali persaudaraan.

Kim Han Bin(B.I), Jung Chan Woo, Song Yoon Hyeong, Kim Jiwon(Bobby), Kim Jinhwan, Kim Donghyuk, Koo Junhoe.

Ini kisah mereka, kisah tentang siapa dan bagaimana. Kisah yang berawal dari kedatangan seorang gadis pindahan dari Inggris bernama Jeanny Park, yang memiliki nama asli, Park Jiyeon. Hanya segelintir kisah kasih anak muda yang berlarut-larut. Tidak mudah menjalani kisah cinta segi —banyak? Bukan cinta pandangan pertama, tapi cinta pandangan ketiga.

Pertama, tertarik akan parasnya.

Kedua, suka dengan sifatnya.

Ketiga, cinta akan segala hal yang berada pada dirinya.

Segala aspek kehidupan, dimana Park Jiyeon lah sang tokoh utama.

.
.

Never Regret
OneShot

.

Story by @siskameliaaa

Park Jiyeon with iKON

Angst, friendly, little romance

.

.

.

“Sahabat kecil mu yang tinggal di Inggris itu?” Tanya Junhoe penuh minat. Gerakan matanya terus mengikuti gerakan Chanwoo yang bersiap untuk duduk dan mengambil selembar koran di atas meja. “Ya. Hari ini dia datang. Tapi tidak ingin di jemput, aku sudah memberikan alamat ini padanya.” sahutnya.

Yunhyeong mendengus sebal di samping Chanwoo, “dia tidak memberitahu ku. Selalu kau yang pertama tahu.” Chanwoo tersenyum bengkok, ditatapnya sahabat kecilnya itu cukup lama, “itu artinya aku lebih penting dari pada kau.” Godanya. Yunhyeong kembali mendengus, kali ini lebih besar dan itu membuat Chanwoo menggeleng tidak perduli.

Chanwoo dan Yunhyeong. Mereka sudah akrab sejak kecil dan memiliki satu sahabat kecil lagi yang memilih tinggal di belahan negara lain. Seorang gadis yang kehadirannya tidak bisa di abaikan. Inner beauty yang terlalu mengkilau. Kekanakan, namun bisa menjadi dewasa dalam beberapa hal. Dia seorang teman, adik, kakak, ibu, saudara serta –gadis yang dicintai mereka berdua. Posisinya tidak akan pernah bisa tergantikan oleh siapun walau sudah sepuluh tahun berpisah.

“Apa yang kalian bicarakan?” Tanya Jinhwan seraya menaruh anduk kecil putih di atas nakas. Baju nya lusuh dan badannya berkeringat. Namun, ketampanannya dapat memikat sebagian umat.

“Sahabat kecil Chanwoo dan Yunhyeong akan datang.” Jawab B.I acuh, dia menjadi yang paling tampan disini. Namun tidak bisa di pungkiri bahwa dia sosok yang paling keras. Berlatar belakang keluarga kaya tidak membuatnya berbesar kepala, buktinya dia lebih milih meninggalkan harta yang berlimpah dan membangun rumah serta tinggal bersama teman-temannya.

Ya, rumah mereka. Rumah hasil kerja keras mereka sendiri. Tujuh orang pria berlatar belakang berbeda-beda. Seperti B.I yang berlatar belakang keluarga kaya, pergi dari rumah karena sudah muak yang namanya topeng sandiwara. Chanwoo seorang yatim piatu yang dibesarkan keluarga kaya, ketika tumbuh dewasa dia memutuskan untuk pergi dari rumah yang memuakkan, menjadi robot yang menuruti perintah Ayah angkatnya.

Yunhyeong, terlalu bosan dan muak dengan yang namanya kekejaman politik. Ayah nya seorang menteri, Ibu nya istri menteri. Mereka berdua sama-sama terobsesi untuk menjadi yang pertama. Jinhwan, hanyalah seorang batang kara yang tidak jelas pekerjaannya dan dimana tinggalnya. Hingga ia bertemu B.I dan ikut tinggal bersama teman yang lainnya. Memulai sesuatu yang baru dengan bekerja menjadi pemilik restoran Italia bersama keenam temannya.

Bobby dan Donghyuk, korban kenistaan orang tua mereka. Kakak beradik yang sama-sama dijual dengan dalih pembayaran hutang. Namun sekali lagi, B.I yang datang bagai super hero untuk membebaskan mereka.

Terakhir Junhoe, tidak punya masalah apapun. Tapi dia memiliki pikiran luas yang ingin hidup mandiri tanpa bantuan nama keluarga.

“Dia baru mendapat gelar sarjana dan berniat untuk pindah ke Seoul.” Kata Yunhyeong. Jinhwan mengangguk paham kemudian pamit untuk membersihkan diri. Dia memiliki kelakuan aneh. Walaupun sudah menjadi salah satu pemilik restoran yang sedang di gandrungi anak muda, kesederhanaan tidak pernah pudar.

Drrttt

Drrttt

Drrttt

Getaran handphone diatas meja membuat yang ada disana mengernyit mencari tahu handphone siapa yang bergetar. Begitu melihat nama seorang gadis tertera di layar, Chanwoo buru-buru menggeser layar touch screen dan berjalan keluar.

“Hey nona Park, kau sudah di depan?”

“Hey bro! Ya aku di depan. Bisa kau bukakan pintu untuk tamu jauh ini?”

“Sure, sweetie.”

Ketika sambungan telepon terputus, Chanwoo langsung membukakan pintu dan ada senyum mengembang di bibirnya saat seorang gadis bersurai dark coklat panjang menggelombang berdiri angkuh dengan kacamata gaya berwarna hitam pekat, disisi kanan dan kirinya terdapat koper besar dan tampilannya begitu stylish yang menggambarkan budaya barat sudah melekat pada dirinya.

“You miss me?” Tanyanya sambil membuka kaca mata hitam hingga iris karamel itu terlihat berkilat nakal namun menggoda, “no. You leave me alone. But, yeah i miss you so so much.” Gadis itu terkekeh saat Chanwoo langsung memeluknya melampiaskan rasa rindu yang begitu melekat.

“Ingat, kau di Korea. Jangan membawa budaya barat kesini.” Peringat Chanwoo membuat gadis itu tertawa aneh.

“PARK JIYEON!”

“OH YUNHYEONG-AH!”

Chanwoo masih terdiam di depan pintu saat Jiyeon melepas pelukannya dan langsung berlari untuk memeluk Yunhyeong. Dia menggeleng maklum, tidak pernah berubah. Mereka selalu terlihat heboh dalam segala hal dan berbagai situasi. Saat Jiyeon dan Yunhyeong mulai terlibat adu mulut, Chanwoo lebih memilih membawa dua koper besar milik Jiyeon untuk di taruh di kamar tamu yang sudah disiapkan.

“Kau jahat! Pergi sesuka hati dan kembali tanpa memberi kabar.” Protes Yunhyeong. Jiyeon merotasikan matanya tanda dia merasa bosan dengan pertanyaan tersebut. “Tapi aku selalu mengirim email, ‘kan? Lagipula ini kejutan untuk mu. Chanwoo saja yang tidak bisa menutup mulut. Dia ‘kan wanita berwujud pria.” Kemudian Jiyeon merasakan jitakan yang mendarat di kepala nya. Membuatnya meringis dan menatap galak sang pelaku. “Bagaimana jika aku hilang ingatan? Ish, aku bersumpah kau orang pertama yang tidak ingin aku ingat.” Ketusnya sambil mengelus bagian kepala yang tadi terkena jitak.

Chanwoo berdiri angkuh walau ada senyum kecil yang berusaha dia tutupi, “tidak akan hilang ingatan. Paling kau hanya akan tambah bodoh.”

Duak,

“Rasakan! Kau selalu meremehkan ku yang lemah. Sekarang, aku sudah tumbuh menjadi gadis kuat. Wle!” Jiyeon tertawa senang melihat ekspresi kesakitan Chanwoo saat ia menendang tumit pria itu. Setelahnya, Jiyeon dan Yunhyeong tertawa keras sambil berlari menghindar.

“Ow, hai.” Kini, semua mata tertuju ke Jiyeon. Sejak tadi, ke lima pria lainnya mencuri dengar keributan yang terjadi di depan. Bahkan, Jinhwan mengurungkan niatnya untuk mandi. Dan saat Jiyeon dan Yunhyeong berlari ke arah ruang santai, ruang dimana tempat mereka semua sedang berkumpul. Gadis itu berhenti berlari tapi belum berhenti tertawa. Dia melambai enerjik pada ke lima pria yang ada, tersenyum lebar hingga memperlihatkan gigi susu nya yang rapih dan putih. Pipi nya merona merah akibat kelelahan tertawa dan rambut nya berkibar acak-acakan. Cantik.

First sight, tertarik akan parasnya.

.
.
.
.
.
.
.

“Hey! Apa aku tinggal di rumah hantu?!” Kesal Jiyeon. Sejak dirinya datang tidak pernah ada sambutan hangat atau apapun itu. Semua orang memilih sibuk sendiri. Entah bermain gitar, membaca buku, bermain video game, ataupun membuat suatu kerajinan tangan.

Gadis itu menyilangkan dada sambil cemberut, lalu Jiyeon memilih membanting tubuhnya di atas sofa tanpa niat melemaskan otot bibirnya yang setia mengerucut, “jika kalian tidak suka ada aku disini, bilang saja. Aku juga sudah mencari apartemen kok.” Acuhnya.

“Kau disini saja. Kau ‘kan sudah lama tidak ke Seoul. Aku khawatir tau.” Rengek Yunhyeong, tangannya menarik-narik t-shirt pink Jiyeon, Chanwoo meliriknya di sela kegiatannya membaca koran. B.I, Bobby, Jinhwan, Donghyuk serta Junhoe juga ikut memperhatikan sang gadis yang tampak acuh sambil berkutat dengan handphone nya. Mengabaikan rengekan Yunhyeong dan berdecak kesal seorang diri.

“Kau bisa tinggal disini sesuka hati mu.” Kata B.I.

Jiyeon tersenyum lebar, “wuahh benarkah? Em, siapa nama mu?” Perubahan suasan hati Jiyeon sedikit banyaknya membuat kelima pria yang baru mengenal nya hari ini terheran-heran canggung. Sementara Chanwoo terkekeh ringan dan kembali membaca koran, bersahabat sejak kecil dengan Jiyeon membuatnya tahu bagaimana karakter gadis tersebut. Yunhyeong sendiri memilih mendengus karena perubahan hati Jiyeon.

“B.I.”

“Bee? Lebah? Wuah, nama mu unik.” Chanwoo tertawa di balik koran, Yunhyeong bahkan sudah tertawa keras. Jinhwan mendengus samar, Bobby dan Junhoe menahan tawa, Donghyuk tersenyum tipis. Sementara B.I sendiri merasa sesuatu berkedut di bibirnya.

“Panggil saja Hanbin.” Kata Chanwoo.

“Baiklah, aku rasa nama Hanbin lebih bagus.” Sekali lagi mereka tertawa mendengar perkataan Jiyeon, gadis itu berpose berpikir sambil mengangguk-ngangguk paham. “Baiklah, Hanbin-ah! Panggil aku Jiyeon.” Heboh Jiyeon.

Tatapannya beralih dan meneliti wajah ke empat pria yang belum di kenalnya.

“Kalian berempat! Siapa nama kalian? Oh Tuhan, apa harus aku dulu yang memperkenalkan diri? Aku rasa satu Chanwoo saja sudah membuat repot, apalagi enam Chanwoo.” Canda Jiyeon, tapi setelahnya dia bisa merasakan bagaimana pukulan koran yang terlipat mendarat di kepalanya, Jiyeon manatap galak sang pelaku, bibirnya mengerucut sebal dan kedua tangannya bertolak pinggang. “Kau sudah memukul kepalaku dua kali dalam sehari! Aku benar-benar akan hilang ingatan dan tidak mau mengingat mu lagi!” Makinya.

Jiyeon menoleh ke Yunhyeong, “aku rasa cuma kita berdua yang normal disini!” Ketusnya. Dan kembali Jiyeon mendapat jitakan, kali ini bertubi-tubi dan pelakunya tidak hanya satu. Melainkan enam. Ya, setidaknya Jiyeon bisa membuat suasana dirumah ini menjadi lebih hidup. Keenam pria yang menjitaknya plus Yunhyeong tertawa melihat ekspresi menyedihkan Jiyeon. Bahkan Hanbin yang Jiyeon kira makhluk dari kutub es pun tertawa dibuatnya.

“Oh tidak, aku bisa mengalami pendarahan otak!” Jiyeon mengeluh, lalu gadis itu berdiri menatap pria-pria tampan di hadapannya satu persatu, tatapannya tajam dan menusuk. “Aku lapaarrrr!” Dan tatapan tajam itu berubah menjadi rengekan manja yang membuatnya terlihat imut melebihi hewan Panda sekalipun.

“Aku ingin memasak. Tunjukan dapurnya.” Perintahnya cuek, masih setia meneliti wajah pria-pria tampan yang akan tinggal serumah dengannya entah untuk beberapa lama.

“Lurus, lalu belok kiri.” Jawab Bobby.

Jiyeon mengangguk paham, gadis itu kemudian melenggang menjauh. Mengabaikan berbagai tatapan yang serasa menusuk punggung. Jiyeon, mungkin satu berbanding seribu gadis yang mampu menarik perhatian ke tujuh pria tampan dirumah ini. Para lelaki yang terlalu fokus ke satu titik, mengabaikan berjuta-juta hal menarik yang terlewat. Seperti malam yang mendambakan bulan, sejatinya.. bintang lah yang membuat malam yang gelap menjadi berkilau.

Saat para pria mulai kembali berkutik dengan kegiatan awal, lagi-lagi Jiyeon menciptakan suasana gaduh yang memekakan telinga. Gadis itu berlari dan melempar belasan cup ramen.

“Kalian mau meracuniku? Aku tidak percaya jika kalian pemilik restoran Italia. Apa ini yang selama ini kalian makan? Cepat antar aku ke supermarket! Aku akan menyumpal mulut kalian dengan berbagai macam sayuran.”

Second, suka dengan sifatnya.

                         Never Regret

Third, cinta akan segala hal yang berada pada dirinya.

Love at third sight, bukan love at first sight.

Sebulan tinggal bersama membuat mereka merasakan apa itu keluarga. Dengan Jiyeon yang berada di dalamnya tentu saja. Menjadi satu-satunya gadis di tengah tujuh pria, wajar jika Jiyeon menjadi yang paling cerewet. Jiyeon layaknya seorang single parent yang membesarkan tujuh orang anak. Tidak pernah berhenti untuk mengontrol kesehatan mereka. Jiyeon juga menjadi salah satu orang yang bertanggung jawab di restoran Italia milik Hanbin dan yang lain. Tidak sedikit juga yang merasa iri akan kedekatannya pada ketujuh pria pemilik restoran. Terlebih parasnya yang cantik serta tubuh proposional menyebabkan ke irian hati makin menjadi.

“Demam mu sudah mulai turun, Donghyuk-ah. Lain kali, makan sayuran mu. Aku tau kau selalu membuangnya diam-diam. Kesehatan itu penting.” Cerewet Jiyeon. Tangannya cekatan dalam merawat Donghyuk, ini bukan pertama kali dia merawat orang sakit. Sebelumnya ada Hanbin, Yunhyeong serta Junhoe. Saat Jiyeon berniat bangun, tangannya di tahan Donghyuk.

“Ada apa?” Jiyeon bertanya selembut mungkin, tidak tega melihat wajah pucat pria itu. “Temani aku disini.” Jawab Donghyuk, Jiyeon tersenyum tipis. Tangannya yang semula membawa se baskom air hangat untuk mengompres Donghyuk di turunkan, ditaruh lagi baskom itu di atas meja. Tangan halusnya mengusap lembut rambut Donghyuk hingga pria itu memejamkan mata, merasakan getaran listrik yang terasa menghangatkan tubuh. “Istirahatlah..”

“..aku disini.”

Hingga Donghyuk terlelap Jiyeon masih setia membelai anak rambut pria itu. Mengabaikan satu pasang mata yang menatapnya tajam di balik pintu yang tidak tertutup, mendengus tidak suka akan kelakuan sang gadis.

.
.
.
.
.
.

“Oh Tuhan, Bobby! Kenapa wajah mu memar?” Jiyeon berlari menuruni anak tangga, menghampiri Bobby yang masih setia berdiri ditempat, dimana Jiyeon akan menghampirinya dan bersiap mendengar omelan sang gadis. Bobby meringis saat Jiyeon berusaha menyentuh wajahnya yang meng-ungu.

“Tunggu disini, aku akan mengambil obat.”

Bobby memilih duduk sambil menunggu. Tatapannya terus mengikuti pergerakan sang gadis. Dimana Jiyeon yang panik dan berlari mencari kotak obat sampai akhirnya gadis itu jongkok di bawahnya yang sedang duduk di sofa. Mengoleskan alkohol untuk menghilangkan bakteri. Mengabaikan rasa sakit, Bobby lebih memilih mengamati wajah ayu Jiyeon, wajah yang mulus bersih tanpa satu titik noda hitam.

“Kau itu, aku tau kau jagoan. Tapi berhentilah membuat aku khawatir.”

Tap

Bobby memegang pergelangan tangan Jiyeon yang masih berusaha mengobati luka memar di pipinya. Di tatapnya intens sang gadis hingga rasanya lupa untuk berkedip, “kau khawatir pada ku?” Tanya Bobby. Jiyeon melemaskan tubuhnya, tersenyum tulus yang menambah kecantikan seorang Park Jiyeon. Tangan kiri nya yang bebas berfungsi untuk mengusap wajah Bobby, membuat pria itu terpejam sesaat.

“Tentu saja bodoh, aku khawatir padamu. Aku khawatir pada kalian. Kalian itu sudah seperti saudara kandung ku sendiri.”

Mata itu terbuka, kecewa. Kecewa akan jawaban yang Jiyeon berikan. Kecewa bahwa selama ini dia hanya di anggap saudara. Jiyeon masih setia dengan senyumnya. Tanpa tau bahwa dia sudah salah berkata. Bobby melepas tangan Jiyeon, mengabaikan segala eksistensi yang ada. Dia memilih berdiri, menahan sesuatu yang menusuk hingga dia bisa merasakan sendiri kelemahan seorang lelaki. Cinta.

“Kau mau kemana?” Tanya Jiyeon, gadis itu bersiap menyusul jika saja Bobby tidak mengangkat satu tangannya, tanpa membalikkan tubuh. Tidak ingin menatap Jiyeon lebih lama, “aku ingin istirahat. Jangan khawatir.” Lirihnya. Jiyeon hanya bisa menunduk sedih. Sudah beberapa hari ini atmosfir dirumah ini sedikit berbeda. Yang biasanya diisi kehangatan dan canda tawa kembali seperti rumah hantu.

Jiyeon tidak mengerti, kenapa ketujuh pria yang tinggal dirumah ini tampak asik dengan dunia sendiri-sendiri. Jiyeon bahkan beberapa kali dapat menangkap tatapan permusuhan dari masing-masing orang.

“Hey, kau baru pulang?” Sapa Jiyeon seceria mungkin saat melihat Chanwoo, tapi keceriaan itu meluap begitu saja saat Chanwoo hanya tersenyum tipis. Sangat tipis, lalu berlalu menaiki tangga. Tanpa satu patah kata, tanpa menoleh. Atau tanpa sapaan hangat seperti biasa.

Dibalik itu, ada satu pasang mata yang menatapnya sedih.

                          Never Regret

“Kau sudah sehat?” Tanya Jiyeon saat melihat Donghyuk menarik kursi meja makan, punggung tangannya menyentuh dahi Donghyuk, “sudah tidak panas.” Gumamnya.

“Aku sudah sehat.” Sahut Donghyuk, Jiyeon bernapas lega setelahnya, mengabsen satu persatu sosok yang sudah duduk di kursi masing-masing.

“Dimana Jinhwan?” Tanya Jiyeon.

Hening, tidak ada yang menjawab. Seolah hal itu tidaklah penting, Jiyeon menggigit bibirnya. Diabaikan itu tidak enak, terlebih dianggap tidak ada. Sampai kapan semua akan kembali normal? Jiyeon bahkan harus menjawab sendiri pertanyaan yang dia tanyakan. Posisinya tidaklah nyaman. Jiyeon berusaha melirikkan matanya ke atas, menahan sesuatu yang terasa mengganggu kornea matanya.

“Dia pergi pagi-pagi sekali, mungkin ada urusan di luar.” Jawab Yunhyeong. Mungkin merasa kasihan. Tapi Jiyeon tidak bereaksi, gadis itu masih setia berdiri, sementara keenam pria lainnya asik makan tanpa merasa terganggu. Yunhyeong yang biasanya menyulut debat pun menjadi pribadi yang kalem. Dia memang menjawab pertanyaan Jiyeon, tapi matanya tidak melirik sama sekali.

Jiyeon mendesah keras, berusaha menghilangkan rasa sesak yang mengganggu, “how others see you, is not important. How you see yourself means everything.” Katanya sebelum pergi dari meja makan. Membuat keenam pria yang mendengarnya mendadak diam dan tidak bernapsu makan kembali.

.
.
.
.
.
.
.
.

“Kau marah?” Suara serak pria yang menusuk telinga tidak membuat Jiyeon terganggu. Gadis itu lebih memilih menarik selimut hingga batas leher, tatapannya lurus dan kosong memandang cahaya di luar jendela. Mendengarkan cicitan burung yang mewarnai indahnya pagi hari, “aku bawakan sarapan untuk mu. Kau tadi tidak sempat makan.” Lanjutnya lagi.

Kali ini pria itu menaruh nampan berisi makanan dan minum di atas meja samping tempat tidur. Berjongkok di depan wajah sang gadis sambil menghusap jejak-jejak air mata, rasanya sesak melihat gadis yang dicintai tampak tidak berdaya. Biasanya dialah yang memberikan semangat ini itu agar rumah yang sepi terasa hidup.

Pria itu mengecup jidat Jiyeon, “mereka tahu apa yang terjadi antara kita. Kau gadis cerdas, kau pasti tahu bagaimana mereka semua yang juga mencintaimu.”

“Kau juga menghindariku.” Lirih Jiyeon.

“Ya. Maafkan aku, aku hanya tidak suka melihat kau memperlakukan mereka sama seperti kau memperlakukan ku. Lalu, apa gunanya sebuah ikatan?”

Jiyeon diam, tapi pria itu tersenyum dan mencium bibir merah Jiyeon. Pria itu lalu menghusap kepala Jiyeon, “makanlah, aku akan berusaha bicara dengan mereka.”

Tapi Jiyeon justru menahan pergelangan tangannya, “apa aku salah? Katakan.. apa aku salah mencintaimu? Aku berusaha menutup mata, pura-pura mengabaikan perasaan mereka. Katakan! Apa aku salah mencintaimu, Hanbin-ah?” Isak Jiyeon. Menyedihkan, dirinya bisa diibaratkan sebuah bintang yang mencintai matahari. Terhalang oleh siang, dan di tutup oleh malam.

Hanbin menggenggam tangan Jiyeon, berusaha menyalurkan kekuatan dan mengatakan bahwa ada dia disini. “Aku yang akan menyelesaikannya, kau tunggu disini.” Kata Hanbin sambil mengusap sayang rambut Jiyeon, melepaskan tangannya dan pergi keluar. Menghadapi masalah sepele yang berlarut-larut.

                         Never Regret

Malam itu, kembali Jiyeon merasakan kehampaan. Di Inggris, orang tua nya terlalu mementingkan perusahaan. Saat Jiyeon sakit, gadis itu merawat dirinya sendiri, saat terluka, dia mengobati sendiri, saat terjatuh, dia bangun dan berdiri sendiri, bahkan saat sedih, dia harus menghapus air matanya sendiri. Saat dia memutuskan untuk tinggal di Seoul, mereka acuh seolah apapun yang dilakukannya tidaklah penting. Hingga dia sampai di Seoul, melihat bagaimana tujuh pria yang memiliki nasib sama sepertinya, diabaikan dan di buang. Dia bertekat, bahwa dia yang akan merawat mereka saat sakit, dia juga yang akan membantu mereka untuk berdiri saat jatuh, dan dia juga yang akan menghapus air mata mereka saat sedih. Sebulan Jiyeon melakukan itu, sebulan Jiyeon merasakan apa itu sebuah keluarga.

Hingga kini, dia kembali diabaikan. Kembali menjadi seonggok daging yang tidak di harapkan. Menjadi setitik bintang yang tidak terlihat.

Tekatnya sudah bulat, dia sudah memasukkan barang-barangnya kembali kedalam dua koper besar miliknya. Mendesah sesaat sebelum membuka pintu, menarik dua koper dan kembali kekehidupannya yang monoton.

Jam menunjukkan pukul 02.00 AM, hawa dingin mulai menusuk tulang. Sejak pagi dia sengaja mengunci diri, mengabaikan panggilan dan suara ketukan. Tidak makan dari pagi, itulah yang menyebabkannya sedikit lemas. Terlebih banyak hal yang mengganggu pikiran hingga menyebabkannya depress.

Langkah kakinya sudah mencapai ujung pintu, dan pada saat itu… ruangan yang gelap berubah menjadi terang. Menamapakkan tujuh sosok pria yang tersenyum lebar kearahnya.

“Kau mau lari kemana, jelek?” Ledek Yunhyeong. Matanya menyipit saat ia tersenyum amat lebar.

“Kau meragukan kejeniusan kami? Kami sudah menebak ini akan terjadi.” Kali ini junhoe ikut menimpali. Dia juga tersenyum, tersenyum geli melihat reaksi Jiyeon yang bagaikan patung lilin.

Chanwoo maju selangkah, “kau bilang ingin tinggal disini sampai tua. Dasar pembual.” Katanya.

“Maafkan kami, kami yang salah.” Donghyuk ikut bersuara.

“Kau bilang kita saudara.” Tambah Yunhwan. Bobby bahkan sudah menarik paksa tangan Jiyeon, mendekat ke yang lain. Kedua tangannya berada di pundak gadis yang masih setia dengan kebisuannya, kemudian dia membuat arah pandang Jiyeon ke arah Hanbin, mendekatkan bibirnya ke telinga Jiyeon, “kau tega meninggalkan Hanbin seorang diri?” Katanya.

“Aku sudah bilang, aku akan menyelesaikan semuanya.” Kata Hanbin, dia berjalan perlahan. Menghapus setitik air mata yang jatuh di pipi Jiyeon. “Kenapa menangis? Semuanya sudah kembali normal.”

“KALIAN JAHAT!!!!” Akhirnya, Jiyeon menjerit brutal. Anehnya, semua justru tertawa. Hanya Hanbin yang menenangkan amukan Jiyeon. Tapi pria itu juga ikut tertawa saat Jiyeon menelontarkan sumpah serapahnya.

Mungkin teori yang mengatakan cinta tidak harus memiliki tidaklah sepenuhnya salah, tapi bagi mereka… cinta itu harus memiliki, walau dalam artian berbeda. Ikatan persaudaraan misalnya.

“Kalian harus tanggung jawab! Aku lapaarrrr dan aku ingin kalian membuatkan aku pasta sekarang juga!” Rengek Jiyeon di balik pelukan Hanbin. Chanwoo, Yunhyeong, Bobby, Jinhwan, Donghyuk dan Jinhoe segera memberi hormat, “SIAP PERMAISURI.”

                        Never Regret

Summer, dimana matahari tengah berjaya di puncaknya. Membuat sebagian orang memilih berwisata air. Sebagai contoh, delapan anak muda yang mengaku kembaran sejak lahir. Mereka sepakat menutup restoran untuk beberapa waktu. Mereka ingin merasakan indahnya pulau Jeju dengan menaiki kapal yang sudah di sewa.

Masing-masing mengenakan boxer dan t-shirt tipis. Seperti Hanbin yang mengenakan t-shirt putih tipis dan boxer berwarna merah cerah. Semua melambai gembira melihat kapal mereka, kecuali Jiyeon. Satu-satunya gadis di antara tujuh pria tampan. Dan satu-satunya yang memasang wajah cemberut disaat yang lain tertawa gembira.

“Sayang, ayolah kau harus mengerti kenapa aku melarangmu memakai bikini.” Kata Hanbin, dia berusaha membujuk Jiyeon sambil memeluk tubuh nya dan menciumi sisi kepala Jiyeon berkali-kali. Tadi, Jiyeon sudah siap dengan bikini hijau tosca nya, membuat lekukan tubuhnya jelas terlihat menggoda. Dan saat dia keluar kamar, Hanbin langsung menariknya kembali masuk. Terlihat frustasi dan menyuruh Jiyeon mengenakan kaos. Jiyeon cemburut, tapi tidak bisa menolak. Akhirnya, dia hanya mengenakan hotpants serta t-shirt putih.

“Harusnya kau membiarkan dia memakai bikini saja, Hanbin-ah!” Teriak Junhoe dari atas kapal, dan itu mendapat dukungan penuh dari yang lainnya. Hanbin langsung melotot mengancam membuat mereka seketika bungkam. Kini Hanbin kembali membujuk Jiyeon.

“Lain kali kau boleh memakai bikini.” Kata Hanbin, Jiyeon mendongak. Menatapnya berbinar, “jeongmal?”

“Ne, tapi saat kita hanya liburan berdua.”

“YAA! KALIAN MAU KAMI TINGGAL?!” Jeritan Yunhyeong membuat pasangan itu menoleh. Lalu Jiyeon kembali menatap Hanbin, disertai rona merah. “Baiklah.” Katanya malu-malu, menambah kesan imut dan Hanbin ingin sekali menciumnya. Jiyeon kemudian memilih lari ke atas kapal, meninggalkan Hanbin yang tertawa geli dibelakangnya.

Di dek kapal, Jiyeon dan Hanbin saling pelukan. Bukan seperti potongan adegan di titanic, Jiyeon memeluk leher Hanbin hingga matanya bisa melihat bagaimana keenam pria lainnya sedang bercanda meributkan satu hal. Sedangkan Hanbin melihat pemandangan laut lepas, kibaran angin membuat udara terasa sejuk. Jiyeon mencepol rambutnya hingga Hanbin bisa menyesap dalam-dalam leher Jiyeon yang putih bersih.

“Aku senang,” bisik Jiyeon. Hanbin kembali membenamkan kepalanya di lekukan leher Jiyeon, kemudian dia mencium pipi gadis itu, “i live only for your happiness.” Jawab Hanbin, membuat Jiyeon kembali merona dibuatnya.

“You’re the apple of my eye.” Balas Jiyeon.

“You too, darling.”

Jiyeon tersenyum samar, tatapannya kini bertubrukan dengan mata Chanwoo yang juga sedang menatapnya. Pria itu tersenyum dan Jiyeon membalas tersenyum. Mungkin, Chanwoo tidak tahu bahwa Jiyeon seorang pengamat yang baik. Gadis itu dapat melihat dengan jelas bagaimana ada ekspresi kesedihan di balik senyumnya.

Dulu, saat kecil. Chanwoo adalah satu-satu nya orang yang ingin Jiyeon nikahi. Tapi seiring bertumbuhnya usia dan mengenal lingkungan baru, Jiyeon justru bermimpi jika Chanwoo adalah kakak kandungnya. Baginya, suami bisa bercerai kapan saja walau dia berusaha menghindari perceraian itu. Tapi ikatan persaudaraan akan terus berjalan walau kau berbuat kesalahan fatal sekalipun.

Dan saat dia bertemu Hanbin, perasaan asing datang. Perasaan yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya. Sensasi menaiki roller coaster saat tangannya menjabat tangan Hanbin. Dan ada satu hal yang dia tidak mengerti, kenapa kepala nya mengangguk dan hatinya bergetar saat Hanbin menyatakan cinta. Hingga dia tau, bahwa dia sedang jatuh cinta.

Jiyeon tersenyum kearah Chanwoo, meyakinkan diri bahwa inilah yang terbaik.

.
.
.
.
.
.
.
.

Ketika sampai di Jeju semua langsung memilih tidur di resort dekat pantai, dan Hanbin memaksa untuk sekamar dengan Jiyeon. Walau ada sedikit perdebatan kecil, akhirnya Jiyeon dan Hanbin sekamar. Setidaknya dalam pengawasan yang lain. Mereka masih belum rela Jiyeon memilih Hanbin, dan berulang kali mengancam akan merebut Jiyeon darinya.

“I can’t believe that i’m your man.” Bisik Hanbin ditelinga Jiyeon. Jiyeon hanya menjawabnya berupa gumaman, matanya sudah tidak kuat untuk terbuka. Hanbin melirik samar, mencium gemas pipi Jiyeon. Posisinya yang memeluk Jiyeon seperti guling, dan wajah Jiyeon yang menempel di dada nya mempermudah dirinya untuk terus menciumi sang gadis.

“Sleep well, Jiyeon.”

                        Never Regret

“Hanbin aneh.” Kata Jiyeon ketika duduk di samping Bobby.

“Aneh bagaimana?”

“Semenjak pulang dari Jeju dia jadi sering keluar, aku bahkan tidak boleh ikut.”

“Mungkin dia ada urusan.”

“Tapi dia sering menerima telepon malam-malam. Aku jadi curiga.”

Bobby menarik kepala Jiyeon agar bersandar di pundaknya, “hey, jika Hanbin berani mengkhianatimu.. dia tahu sudah ada enam pria yang bersiap untuk memukulnya.” Kata Bobby.

“Mau membeli es krim?”

“Mau mentraktir?”

“Tentu saja, ayo kita beli!”

Dan Jiyeon dengan mudahnya melupakan masalah hanya dengan sebuah es krim.

.
.
.
.
.
.
.
.

“Jiyeon ini es –kau menangis?”

“Hey, kenapa?” Panik Bobby, dia membuang asal dua es krim di tangannya dan buru-buru menghapus air mata Jiyeon. Tapi gadis itu tidak bereaksi, kaku, pucat dan terlihat menyedihkan. Pandangannya lurus kedepan hingga Bobby mengikuti arah pandang tersebut.

“Brengsek!” Tangannya mengepal. Giginya saling menekan emosi hingga urat wajahnya jelas terlihat. Bagaimana Hanbin bisa sebodoh itu? Jelas-jelas dia tahu konsekuensi jika berani menyakiti Jiyeon, dia tau akan ada enam pria yang berani menghajarnya kapan pun itu. Menyianyiakan Jiyeon? Berselingkuh? Bercanda bersama seorang gadis di pinggir jalan? Apapun itu, Bobby sudah muak. Muak dengan apa yang dia lihat. Matanya semakin melotot tajam saat gadis itu mencium pipi Hanbin. Kemudian dia segera menatap Jiyeon panik. Gadis itu sudah sesegukan dan Bobby semakin merasa marah.

Cukup! Hanbin sudah keterlaluan, dia sudah berniat untuk menghampiri Hanbin dan memberinya pelajaran. Tapi matanya melotot ngeri, nafasnya naik turun begitu tiba-tiba melihat Jiyeon berlari. Berlari menyebrang jalan dan tubuhnya terpental beberapa meter akibat hantaman keras truk pengangkut barang. Jiwanya lepas dan jantungnya terasa penuh dengan udara.

“PARK JIYEON!!!!!”

                        Never Regret

“Brengsek!”

Bruk!

“AKU ‘KAN SUDAH BILANG JANGAN PERNAH MENYAKITINYA!!”

“Tahan Chanwoo-ah,” kata Bobby sambil menahan tubuh Chanwoo. Tapi kali ini Hanbin kembali menerima pukulan lain dari Yunhyeong dan Donghyuk. Tubuhnya oleng dan di tangkap gadis yang tadi bersamanya. Menangis melihat keadaan Hanbin yang hanya bisa pasrah dengan wajah babak belur.

“Kalian dengarkan aku!” Marah Bobby, tapi kilatan amarah dari kelima pria yang baru datang membuat Bobby tau bahwa Hanbin bisa saja tidak akan selamat. Tatapan mereka penuh dengan obsesi untuk membunuh. Ini salahnya, salahnya yang juga tersulut emosi dan membeberkan apa yang dilakukan Hanbin hingga akhirnya Jiyeon berakhir seperti ini.

“Ini hanya sebuah kesalah pahaman.” Jelas Bobby. Jinhwan menatapnya marah, “apa maksud mu?”

“Gadis itu ternyata adik Hanbin, bukan selingkuhannya. Mereka bertemu di Jeju, dan berencana mengenalkan pada kita disaat waktunya tepat. Tapi Jiyeon lebih dulu melihat mereka bersama, salah paham dan terjadilah kecelakaan itu.”

“TAPI HARUSNYA DIA TIDAK MERHASIAKAN INI DARI JIYEON!” Amuk Chanwoo yang langsung di pukul Bobby. “Ini rumah sakit, jaga suaramu bodoh!” Marah Bobby. Chanwoo memilih bungkam setelahnya. Suasana kembali hening, Hanbin sendiri hanya bisa menangis dalam diam. Berdoa yang terbaik dan berjanji tidak akan menutupi hal apapun yang berujung kesalah pahaman.

Pintu IGD terbuka, menampilkan dokter berumur yang bercucur keringat. Melepas masker dan menepuk pelan bahu Bobby. “Maafkan aku. Jantungnya hancur, dan saat ini hanya bisa hidup lewat bantuan alat. Kami akan segera melepasnya, setelah itu…maafkan kami.”

Hancur, bagai bumi yang ditimpa meteor. Saat dokter itu pergi, Bobby meninju dinding rumah sakit. Hanbin menangis sambil bersujud memanggil nama Jiyeon. Chanwoo dan Yunhyeong mematung seakan dunia membeku. Donghyuk meremas rambutnya kasar sambil menangis histeris. Jinhwan dan Junhoe hanya bisa menangis dalam diam. Semuanya sudah tidak ada arti, tanpa Jiyeon, bagaimana mereka nanti? Jiyeon sudah seperti jantung bagi mereka. Salah satu organ tubuh yang begitu berarti. Jika jantung mereka hilang, sama saja membunuh mereka secara perlahan.

Tiba-tiba Chanwoo berlari pergi, mengabaikan teriakan Bobby yang menyuruhnya kembali.

“Aku akan menelpon orang tua Jiyeon.” Kata Yunhyeong, tangannya bahkan gemetar saat mencarai kontak Ayah Jiyeon.

“Yeoboseyo..”

“Ahjussi, ini aku Yunhyeong.”

“Oh, Yunhyeong-ah.. ada apa?”

Yunhyeong mengambil napas sesaat, “Ahjussi… Jiyeon, dia..”

“Ah Jiyeon sedang di Seoul. Jika tidak ada yang penting lebih baik jangan menelepon ku. Aku sedang menghadiri pesta salah satu kolega ku.”

BRAK

Handphone itu hancur berkeping-keping bersamaan dengan jatuhnya air mata penuh kekecewaan. Orang kaya brengsek! Dimana hati mereka? Bahkan saat nyawa putri nya tidak bisa tertolong mereka justru sedang asik berpesta. Berpesta? Ha ha ha biarkan Yunhyeong tertawa, pesta ya? Itu seperti mereka sedang merayakan kematian Jiyeon. Oh tidak, Jiyeon belum meninggal. Yunhyeong percaya akan suatu keajaiban.

“Jiyeon-ah..mian, Jiyeon-ah saranghae..eungghh, Jiyeon! Kajima…eunngghhh.” Hanbin menjadi satu-satunya yang terus menangis histeris. Merasakan bagaimana dunianya hancur dalam satu remasan takdir. Memory-memory yang mereka ciptakan mendadak lebur tersapu ombak. Menyisahkan dirinya yang berharap ikut tersapu ombak.

“Ada apa ini?!” Panik Junhoe saat para perawat membawa tubuh Jiyeon keluar dan bergesa-gesa membawanya ke suatu ruangan. Ketika pengabaian yang di dapat, Donghyuk merasa marah dan membentak salah satu perawat yang ada.

“Maaf tuan, kami buru-buru. Kami baru saja mendapat donor jantung dan harus segera melakukan operasi.”

“Donor jantung ?”

Keajaiban itu ada, dan mereka mulai bisa bernapas lega.

.
.
.
.
.
.
.
.

“Chanwoo-ya?!”

“Hey, cantik.”

“Apa yang kau lakukan disini?”

Chanwoo tersenyum bagaikan malaikat, mengusap lembut kepala Jiyeon yang sedang memandang bingung dirinya, “membangunkan mu dari tidur panjang. Semua orang sudah menunggu.”

“Bangun?”

“Jiyeon… kau tau bagian mana dari tubuh mu yang sangat berharga? Dimana disitu sumber kehidupan, dan menjadi satu-satu nya yang berirama ketika sedang jatuh cinta?”

“Jantung.”

Chanwoo tersenyum, jari telunjuknya kemudian menunjuk tepat di jantung Jiyeon, “disini.. aku akan selalu bersama mu. Disini.. jiwa kita menyatu. Disini.. akulah bagian dari dirimu. Aku bahagia, ketika kau bahagia, aku bersedih ketika kau bersedih. Bangunlah, sampai kapanpun.. aku akan berada di dekat mu. Jiyeon, saranghae.”

…..

“Hey, Jiyeon bangun!” Jinhwan menjerit tertahan. Tidak bisa menggambarkan bagaimana perasaannya saat ini. Ketika tangan itu bergerak, dan ketika mata itu terbuka.

Hanbin, mengambil posisi di samping gadis itu, tangannya berniat untuk mengusap kepala gadis yang di cintainya, tapi gadis itu langsung menoleh kesamping, berusaha menghindar hingga tangan itu hanya mengambang di udara.

“C..han..woo.”

Satu nama yang terucap, satu nama yang disebut samar namun terdengar jelas. Satu nama yang terucap hingga membuat tutup oksigen yang menjadi alat bantu napasnya beruap.

“Dimana..Chan..woo?” Tanyanya. Matanya melirik sana sini berharap menemukan satu sosok yang dicarinya.

“Dia sedang ada urusan, kau harus sehat dulu jika ingin bertemu dengannya.” Jawab Yunhyeong.

Jiyeon memejamkan matanya lama lalu kembali membukanya perlahan. Senyum dia hadiahkan pada semua yang menatapnya khawatir.

“Aku bangun?”

                        Never Regret

Disini dia berada sekarang, diatas kursi roda dan padang berumput hijau. Semuanya sudah bersiap dengan segala resiko yang ada. Siap menghadapi bagaimana nanti Jiyeon akan bersikap. Tapi, yang terjadi adalah…. gadis itu menatap kosong sebuah gundukan berframe photo wajah Chanwoo.

“Jadi benar, jantung ini… jantung Chanwoo.” Lirih Jiyeon. Perkataannya barusan membuat keenam pria yang menemaninya terkejut dan menatapnya serempak. Hanbin sudah berada disisi Jiyeon, bersiap untuk menjadi sandarannya kapan saja. Harusnya, Jiyeon sudah tidak marah karena saat dirumah sakit dia sudah menjelaskan kejadian yang sebenarnya, bahkan sang adik sendiri yang meyakinkan Jiyeon bahwa mereka hanya sebatas kakak adik. Tapi, Jiyeon masih tidak mau bicara dengannya. Mungkin dia memang tidak menghindar seperti sebelum nya, tapi Jiyeon tetap enggan menatap Hanbin.

“Kau tahu?” Tanya Hanbin, Jiyeon tersenyum sinis, “ya. Chanwoo yang memberitahuku. Dia datang di mimpiku, dan menyuruhku untuk bangun.” Jeda sejenak, kali ini Jiyeon menatap hampa pigura Chanwoo, yang lain masih setia menunggu.

“Awalnya aku tidak mengerti apa yang dia bicarakan. Mengenai jantung, mengatakan jika dirinya sudah menyatu bersama jiwa ku. Aku tidak mengerti. Kemudian, kalian bilang jika jantung ku sempat hancur dan bisa selamat karena ada yang mendonorkan. Aku tidak bodoh, dan aku mulai mengerti apa yang Chanwoo katakan. Chanwoo, mendonorkan jantungnya untukku.”

“Kenapa kalian biarkan? KENAPA KALIAN BIARKAN CHANWOO MELAKUKAN ITU, HAH?! HARUSNYA AKU YANG BERADA DISANA! BUKAN CHANWOO!!!” Jerit Jiyeon, napasnya tersengal-sengal disertai tangisan histeris. Hanbin hanya bisa memeluknya dalam tangis, gadis itu terus berontak hingga merasa lelah, “…harusnya aku eeungghh yang disana. Kenapa harus Chanwoo? WAE?!!!”

“Jiyeon..” Hanbin berusaha menenangkan Jiyeon. Memaksa Jiyeon untuk menatap dirinya, “dengarkan aku.. Chanwoo melakukan ini karena dia menyayangi mu. Dia ingin melihat mu hidup, dia ingin melihat mu bahagia. Jika melihat mu seperti ini.. dia akan merasa pengorbanannya sia-sia. Kau mau melihat Chanwoo sedih?” Jiyeon menggeleng lemah, dan Hanbin mengusap air mata Jiyeon, “karena itu.. kau harus kuat. Kau harus bisa menerima semua ini.”

Tiba-tiba Yunhyeong menepuk bahu Jiyeon, “kau tau si bodoh itu memang makhluk luar biasa. Sejak kecil, aku sudah mengaguminya. Dan sekarang, aku semakin mengidolakannya.” Kata Yunhyeong seraya memaksakan seulas senyum. Kemudian Yunhwan ikut berdiri disamping Jiyeon, menatap wajah Chanwoo yang tengah tersenyum indah. “Dokter bilang saat itu Chanwoo datang ke ruangannya dan meminta untuk melakukan operasi jantung. Dia ingin mendonorkan jantungnya, tapi dokter itu menolak dengan alasan dia tidak bisa mengorbankan nyawa orang demi menyelamatkan nyawa yang lain.”

“Setelah itu, Chanwoo pergi dan tiba-tiba dokter itu mendapat kabar ada pasien yang tertabrak mobil. Dan itu adalah Chanwoo.” Lanjut Donghyuk, Jiyeon makin terisak dan Hanbin masih setia menghapus air mata Jiyeon. Baginya, satu tetes air mata Jiyeon, adalah bagian dari kesakitannya.

Kali ini Junhoe tersenyum sambil mengusap kepala Jiyeon, “saat itu Chanwoo masih sadar walau tubuhnya penuh luka. Dia memohon agar jantungnya diberikan padamu.” Lanjut Junhoe.

“Maafkan kami, kami tidak tahu jika orang yang mendonorkan jantung itu adalah Chanwoo. Jika tahu itu Chanwoo, aku rela berada di posisinya. Mendonorkan jantung ku untuk mu.” Kata Bobby.

“Kau dengar itu? Jangan pernah menyesali apa yang sudah terjadi. Hadapi itu dan lawan. Kami selalu berdiri di depan, belakang atau di samping mu.” Hanbin mencium lama kening Jiyeon. Walau gadis itu masih tidak bisa berhenti menangis. Tapi Hanbin bisa merasakan bagaimana Jiyeon berusaha keras untuk menghentikan tangisnya.

“Aku..eungg.. aku akan hidup eungg, eunngg.. dengan baik. Terimakasih.” Jiyeon tersenyum, semua tersenyum.

“Hanbin-ah, mian. Maaf sudah mengabaikan mu selama eungg, ini. Aku.. aku hanya merasa kesal dengan eungg.. diriku sendiri.. eungg, eungghh..” Hanbin langsung memeluk Jiyeon dan mencium keningnga berkali-kali. Pengakuan Jiyeon mampu membuat musim kemarau menjadi musim semi. Dia beruntung, Jiyeon adalah alasan kenapa dia bisa tersenyum saat ini. “Aku mengerti, maafkan aku. Harusnya aku jujur, aku sungguh-sungguh mencintaimu. Bagiku, kau adalah segalanya.”

“Ah sudahlah! Chanwoo pasti tidak suka suasana cengeng seperti ini. Bagaimana jika kita merayakan kepulangan Jiyeon? TIME TO PARTY!!!”

Bletak,

Yunhyeong meringis sakit, “sakit bodoh!!” Rengeknya. Sementara Bobby hanya tertawa sinis menanggapi, “ini di makam. Kau mau berpesta bersama hantu?” Sindir Bobby. Gelak tawa kemudian menjadi pengiring kepergian mereka. Jiyeon menoleh kembali ke belakang, kearah makam Chanwoo. Sementara Hanbin sesekali menyahuti candaan Yunhyeong sambil mendorong kursi rodanya.

Jiyeon tersenyum samar, mungkin inilah yang bernama kehidupan. Ada kalanya manusia diberi sebuah teguran. Dan saat teguran itu datang, manusia itu harus belajar menjadi lebih baik. Menjadi pribadi yang lebih berguna.

“Terimakasih, Chanwoo-ya.”

I wish you were here with us.

End.

A/n: ini gajenes banget XD. Awalnya ini hayalan gue sebelum tidur. Paginya gue mikir, kayanya keren kalo dijadiin ff. Dan jadilah ini walau alurnya gajelas banget bo! Hahaha. Bododeh, yang penting gue puas bikin ini dalam sehari. Yahhhhh my hubby chanwoo die😂 akhirnya suami-suami gue debut juga SELAMAT DEBUT AYANG! walaupun telat banget gpp ah. Ini hadiah debut kalian dari gue.🎉✌💋💕🎁🎊🎂

Advertisements

Author:

If you Jiyeon fans, you must stay here. but, if you hate my fav idol..you must go on without drama. thx

26 thoughts on “Never Regret

  1. Ueahhh ikon 😀 😀 jiyeon dipairing sama cowok2 keren
    chan woo kau bahagia disana
    apalagi melihat orang yg dicintai bahagia 🙂
    nangis chingu pagi2 baca + sambil dengrin fly to the sky meresap chingu

  2. jiyeon trnyata pacaran sma slah satu dari mreka..
    awalnya q kira yg mmperhatikan jiyeon dlam keadaan mrah itu emg hanbin tpi pda wktu mmperhatikan dalam keadaan sedih itu chanwoo dan pling gak msuk akal itu q kra jiyeon pcran sma jihwan huhuhu
    tpi endingnya knpa chanwoo hrus mti, aq pling ska sma karakter dia dsini..

  3. seneengg liat jiyeon di rebutin cogan cogan gini.. dan jiyeon milih hanbin woohoo, padahal berharap awalnya milih jinhwan tapi gapapa deh hanbin juga bias hweheheh, tapi kasian chanwoonya meninggal :(( sedih gabisa ngumpul ber 8

  4. huaaa sedihhh nyampe nangis bacanya.
    salutt bgt sama chanwoo dia rela ngedonorin jantung nya buat jiyi 🙂
    orang tua jiyi tega amat ya. gak peduli bgt sama anknya, malah lebih mentingin pesta kolega bisnisnya. ckxkxkc
    beruntung jiyi dikelilingin sama cowok2 keren, baik, perhatian, lucu, pokoknya semua deh

  5. Banjir banjiiirrr TT^TT gakuat.. Udah sedih dari pas jiyeon jadi dicuekin sama anak2, etaunya gara2 dia pacaran sama hanbin….. Wawawa degdegan(?) terus soswitsoswit2an di kapal… Tidur sekamar.. Wah.g sedih banget chanwoo… Udah yang paling deket dari kecil, eh malah gabisa mendapatkan jiyeon… Emang uri jiyi terlalu berharga jadi pantas direbutkan.apa(?) wkwk sedih bangeettt sedihhhhh dari yang hanbinnya ketangkep lagi sama cewe lain walaupun ternyata itu adenya. Gakebayang gimana perasaan si hanbin pas tau cewenya hampirrrrr mati gara2 salah paham :”(( nangis lah pas baca yang bagian terakhir… Dari yang chanwoo ngedonorin jantungnya blaabla sampe end :”))) sedih banget banjir wkwk… Bikin sequel dong thorrr wkwk XD

  6. Oh tidak tadi sempat ngirain kalau tu para namja jadi saudara semua,dan treng treng tiba-tiba ada monho yg jadi namja jiyeon wkwkw..
    gak tahunya hanbin pemenangnya.
    hiks hiks ada yg mati chanwoo lagi yg emang dari pertama udah cinta jiyeon.mewek bacanya sambil dengerin lagu dari leo vixx..

  7. awalnya bikin kocak karena tingkah mrk,diem2an krn ada satu hubungn dan bahgia karena mrka kembali barengan…

    tpi syg ada stu org yg hrus tinggal. huft tpi jiyeon sangat beruntung disyg n dicintai ma cwo2 itu dgn tlus, bgtu jg sebaliknya. dan buat hanbin y dy dpt bonus lebih karna cintanya dapt porsi lbh gd dri jiyeon..

  8. Huaaa mewek bacax.. knp chanwoo hrs meninggal? Knp ga ktmu pasien lain aja yg meninggal trs donor jantungx.. miris banget pasalx chanwoo kan syg bngt sm jiyi.. huhuhu.. ada ff jiyi lg yg lain? Kirain hanbin bnr slgkih untung lah itu ga trjdi

  9. Sumpah ni FF pertama yang bikin aku Mewekk 😥
    Sukaa bgtt ama cerita nya .. Rupanya jiyi Eonni salah faham toh .. Chanwoo Oppa moga tenang ya disana :* 😥

  10. Sumpah eonni sampe nangis bacanya, gak tau kenapaa..
    Eonni udah dari awal berharap jiyeon ama chanwoo sih, tapi gak apa deh sama siapa ajaa..
    Sedih banget bacanya, kagum liat pengorbanan chanwoo..
    Huaaa, opppppaaaa 😭 😭
    Tetap semangat yaa ^^

  11. Sempurna bener” pas ngak ada yg berlebihan atau kekurangan dan bikin Q sempet bingung dan mikir kalo Jiyi suka’a ke Chanchan ternyata ke Binan

  12. Soswit bat ceritanya mulai dari jiyeon dateng, ketemu hanbin, ngurusin donghyuk dan yang lainnya. Apalagi pas pelukan sama hanbin, malah ngebayangin itu saya yawla : ( jiyeon beruntung banget disini

  13. Hiksss 😭😭😭
    Menyentuh bgt, pengorbanan chanwoo bener2 bikin mewekkk
    Disukai 7 namja tampan dan mutusin memilih Hanbin
    tp malah terjadi kesalahpahaman yg berakibat fatal bgt

    Cerita kerennnn aku sukaaa bgt ><

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s