Posted in Uncategorized

5. Jiyeon’s Diary: Afraid

image

                         Jiyeon’s Diary

17 Oktober 2015

I can’t believe that i’m your man.

Minho ya Minho, Minho berbeda dari pria kebanyakan. Sampai saat ini, Minho selalu tau apa yang membuat ku merasa nyaman dan tidak. Aku bilang padanya; i’m gonna saint your mother just for giving you birth. Aku senang setelahnya dia langsung tersenyum.

Kami sedang berada di ruang tamu rumah ku. Eomma ku pergi yang beralibi ada acara arisan bersama teman-temannya, Appa bilang dia ingin keluar bermain golf, Hyojoon ingin kencan dengan incaran barunya. Dia itu player menjijikan. Tidak juga, dia memanfaatkan wajah tampannya untuk itu. Beruntung Minho ku tidak seperti itu.

“I want nobody but you.” Katanya acuh sambil menyeruput lemon tea di atas meja saat aku mengatakan; untung kau tidak sepertinya(Hyojoon). Kelakuannya yang kelewat santai kadang membuat ku bertanya-tanya apa dia sungguh mencintai ku? Tapi setelahnya aku langsung bungkam saat dia bilang; hanya Tuhan yang tau betapa berharganya kau untukku. Oh god, cover itu memang tidak bisa menggambarkan isinya.

Jelas, dulu aku selalu bilang kalau Minho itu kekanakan dan tidak dewasa. Tapi ternyata Minho sosok yang sangat dewasa.

“Celah di antara jari-jari ini sangat pas dengan jari-jarimu.” Katanya saat jari-jari nya mengisi kekosongan di celah jari-jari ku. Bergaul dengan Minho membuat ku sedikitnya berubah menjadi sosok dewasa.

Aku mengerling jenaka sambil menyenderkan kepalaku di perpotongan lehernya, kepalaku mendongak dan dia langsung menghadiahi ku sebuah ciuman. Sumpah! Aku merasakan sebuah euforia baru yang sialnya sangat menyenangkan. “Itu karena kita jodoh.” Godaku. YAAMPUN! Sejak kapan aku pandai menggombal? Joon akan mengejek ku hingga kiamat jika dia mendengar apa yang aku katakan barusan.

“Tentu, bukankah sudah ada peramal yang mengatakan jika jodoh mu itu bernama Choi Minho?”

Aku meninju bahunya main-main, “jangan mulai. Aku tau itu kau.” Sahutku. Dia kemudian langsung mendorong tengkorak belakang kepalaku kedepan, kemudian dia menciumku di kening. “Aku itu perantara dari Tuhan untuk menyampaikan pesannya.” Jawabnya. Duh..duh..DUH! Aku bahkan tidak sanggup menceritakan kejadian selanjutnya. Jantung ku sudah meloncat-loncat kegirangan. Yang jelas, kejadian-kejadian selanjutnya membuat otakku teracuni hal-hal abstrak.

Sejak kapan aku seserius ini saat menulis diary? Minho kau menjungkir balikkan dunia ku.

.
.
.
.
.
.
.

20 Oktober 2015

Klub teater sepakat ingin mengadakan kemah ke daerah Nami, Minho sangat menyesal tidak bisa ikut. Memang, dia gabung ke klub teater hanya karena ingin mengambil peran di pentas Snow White. Setelah itu dia tidak ingin berurusan dengan klub. Saat aku bilang klub teater akan mengadakan kemah, dia berminat sekali. Masuk sesuka hati, keluar sesuka hati. Itulah Minho ku. Tapi, hari itu bertepatan dengan turnamen sepak bola. Dan aku kesal membayangkan liburan tanpa Minho. Biarlah, menjadi atlet bola.. adalah cita-cita Minho.

1 November 2015

Huwahhh ujian membuat ku gila. Emm, aku mau cerita apa ya? Aku hanya ingin bilang. AKHIRNYA UJIAN SELESAI! Yeay. Setelah pengambilan rapot, klub teater sepakat langsung pergi ke Nami. Itu artinya seminggu lagi. Hubungan ku dengan Minho masih harmonis walaupun terhitung tidak wajar. Setidaknya bukankah awal sebuah hubungan memang sedang manis-manisnya? Aku khawatir akan hubungan kami kedepannya. Luna bilang; jika kau siap jatuh cinta, maka kau harus siap patah hati. Krystal bilang; hubungan itu tidak akan lengkap jika tidak ada sebuah pertengkaran. Dan aku harap aku dan Minho dapat melewati fase tersebut.

                            Jiyeon’s Diary

5 November 2015

Hey, love
When you ask what I feel, I say love
When you ask how I know
I say trust
(Every Little Thing You Do – Westlife )

Kenapa aku tulis itu? Ah ya, karena saat aku ingin menulis diary…tiba-tiba saja every little thing you do tersetel di playlist handphone ku. Penggalan liriknya sedikit banyak mengingatkan ku akan sosok Minho. Seperti; It’s every little thing you do, that makes me fall in love with you. Semua yang Minho lakukan, itu yang membuat aku jatuh cinta padanya.

Mengingat Minho, aku jadi kembali tersipu. Kemarin, aku dan Minho menghabiskan waktu bersama sebelum aku harus bersiap untuk kemah. Minho tidak mengajakku ke bioskop, dinner, ke taman hiburan atau semacamnya yang biasa dilakukan pasangan muda.

Kau tau apa? Minho mengajakku memancing di tepi danau. Well, dia memang tidak pernah bisa di tebak. Menurut ku itu romantis.

“Sudah berapa jam? Kau itu bisa memancing tidak sih?” Protesku. Sudah satu jam lebih kami memancing, tapi tidak ada seekor ikan pun yang nyangkut. Bahkan bayi kecebong pun tidak terlihat.

“Mungkin sebentar lagi.” Acuhnya.

Aku menyerah, bosan juga lama-lama duduk seperti ini. Kemudian aku memilih menyenderkan kepalaku di bahu Minho, dan dia langsung menghadiahi kecupan di rambutku. Tangan kanannya mengacak tambutku, “kau bosan?” Tanyanya.

Aku mengangguk singkat, “tentu saja. Aku jadi berpikir jika di danau ini tidak ada ikannya.”

“Memang tidak ada.”

Aku menoleh terkejut, bola mataku sudah bersiap meloncat jika saja ini disebuah anime. Oh Tuhan….. apa maksudnya? Tidak ada ikan? Lalu kenapa dia memancing disini?

“Apa maksudmu?” Maki ku, aku emosi. Sungguh!

“Ini danau buatan. Jadi tidak ada ikannya.” GOD! Aku makin percaya bahwa Minho sesosok alien. Aku harap, hanya ada satu alien di bumi ini. Karena…. aku tidak rela jika membagi alien ke gadis lain.

Aku meringis, sebal sekaligus tidak percaya. “Lalu kenapa kau mengajakku memancing disini?” Amukku, dan dia hanya memberikan senyuman yang sialnya membuat ku luluh dan tidak tega untuk menghakiminya. Aku kalah lagi.

“Hanya ingin berdua denganmu.”

Tahan Park Jiyeon. Jawabannya masih terkesan ambigu.

“Maksud mu?”

“Aku tidak suka ke mall, banyak orang, bikin pusing. Tidak suka dinner, sudah biasa dan tidak kreatif. Tidak suka nonton film romantis, karena aku lebih suka mempraktekannya bersama mu. Dan soal memancing, aku hanya ingin menikmati duduk dipinggir danau bersama mu.”

Dan DUAR! Siapa yang menyalakan kembang api di jantungku? Ah wajahku pasti merah. Panasnya matahari mampu melelehkan ku lagi untuk kesekian kalinya. Tapi aku berusaha keras untuk mempertahankan akal sehat agar tidak pingsan dan membuat malu.

“Kenapa tidak bilang dari awal? Kau membuatku mati bosan, Minho.” Keluhku.

“Hanya ingin membuatmu kesal. Kau tau hal apa saja yang membuat seorang pria semakin mencintai perempuannya?”

“Apa?”

“Pertama, pria suka saat melihat perempuannya kesal. Itu menggemaskan.” Aku tersipu dan dia langsung mencubit pipi ku, “kedua, saat baru tertidur, terlihat seperti manusia tidak berdosa. Ketiga, saat dia bangun tidur. Karena wajahnya terlihat cantik alami.” Kali ini Minho mengusap pipi ku tanpa niat memalingkan pandangan.

“Lalu apalagi?” Tanyaku.

“Keempat, saat dia bilang sarang.”

“Saranghae.” Kataku malu-malu. Tapi dia malah mengacuhkan ku dan kembali sibuk dengan alat pancingnya. Aku jadi berniat ingin mendorongnya masuk kedalam danau. Gezzz, aku sedang berusaha menciptakan suasana romantis tau! Tapi dengan seenak udelnya dia mengacuhkan ku. Dasar tidak berperasaan! Aku cemberut setengah meringis.

“Dan terakhir, saat melihat perempuannya tersipu.”

OH TUHAN. MINHO MENCIUMKU!  Dan aku benar-benar tersipu. Untung saja danau ini memang tidak banyak di kunjungi orang. Aku jadi tidak khawatir menanggung malu saat dilihat orang bagaimana cara Minho mencium kemudian menghisap bibirku sensual. Setelahnya dia menarik tubuhku untuk di peluk, “aku ‘kan sudah bilang, pria akan suka melihat perempuannya kesal. Tapi, tidak suka melihat perempuannya menangis. Khususnya dirimu, aku akan membuat perhitungan pada siapapun yang membuat mu menangis. Termasuk aku.”

SO SWEET! Aku tidak tau lagi harus mengatakan apa dan bagaimana. Jika kau ingin tau mengapa aku tak bisa melepasmu, biar ku jelaskan padamu. That every little dream comes true with every little thing you do.

“Sejujurnya aku tidak ingin membiarkan mu pergi seorang diri. Aku takut, dan aku ingin menjagamu.” Oh manis sekali.

“Tidak masalah, aku tau turnamen itu penting untuk mu. Aku bisa menjaga diri. Sungguh. Lagipula banyak teman-teman ku disana.” Kataku meyakinkan.

“Aku tau menjadi atlet bola adalah impianmu. Aku tidak mungkin ‘kan menghalanginya? Aku mendukung mu penuh.” Yaampun, aku bahkan terkejut dengan apa yang aku katakan. Aku mencontek dimana sih kalimat itu? Walaupun sederhana, tapi itu cukup bijak. Dan aku tidak pernah tau bahwa orang seperti ku bisa menjadi bijak.

Minho menciumku lagi dan langsung menarikku hingga hidungku membentur dada bidangnya, “aku memang tidak pernah salah mencintaimu.” Aku juga tidak pernah salah memilihmu.

“Mungkin menjadi atlet bola tidak bisa menjamin masa depan kita, oleh karena itu. Bola hanya aku jadikan hobi, dan aku akan mengambil alih perusahaan Appa untuk masa depan mu. Masa depan kita.”
Aku tidak bisa berkata apa-apa selain memeluknya semakin erat dan dia membalasnya sama eratnya. Bahkan Minho sudah membicarakan masa depan, tapi aku justru merasa takut. Takut jika terlalu dibawa serius hasilnya tidak akan bisa seperti yang diharapkan. Aku mendongak, berusaha menatap matanya. “Minho.. kau tidak keberatan jika kita tidak seserius ini? Maksudku, kita jalani saja dulu. Nikmati masa muda.” Aku berusaha bercanda, sialnya Minho justru terlihat serius tanpa mau menanggapi candaanku.

Tapi aku salah, dia justru tersenyum geli. “Tentu saja, tapi tidak ada salahnya ‘kan untuk mempersiapkan masa depan?”

Aku tersenyum dan kembali membenamkan kepalaku di dadanya, “tentu saja.”

.
.
.
.
.
.
.
.
.

13 Oktober 2015

TERSESAT. Bukan tersesat dijalan bernama kehidupan seperti Jung saem. Tapi kali ini aku benar-benar tersesat akibat Jinwoon yang sok berani menjerumuskan kami mengikuti ide gilanya. Hanya aku, Jinwoon, Suzy, Luna, Amber, Yoseop, Jr dan Jb. Karena Krystal, IU dan Joon memang bukan anggota klub teater. Ah, beruntungnya mereka.

Semua bermula saat kami sedang menikmati indahnya pulau Nami. Malam hari, dan saat itu cuaca sangat dingin. Tiba-tiba Jinwoon membisiki kami satu persatu mengenai ide gilanya.

“Tidak akan asik jika sudah di Nami kita tidak berkeliling. Ayolah, ini menyenangkan.” Bisiknya itu. Bodohnya, kami justru setuju dan mengendap-endap untuk pergi. Dan kami melupakan satu hal, jika tempat kemah kami berada di tengah-tengah pohon besar dan jauh dari keramaian.

“Tenang. Setidaknya disini tidak ada hewan buas.” Kata Yoseop.

“Tapi bagaimana dengan hantu?” Kini Luna membuat bulu kuduk kami seketika berdiri dan mereka semua melirikku takut-takut. Baiklah, aku memang bisa melihat roh halus. Tapi sungguh, itu tidak terlalu jelas karena aku memang tidak suka. “Aku tidak melihat apapun.” Protesku. Mereka mendesah lega kemudian.

“Hujan!” Ah ini semakin membuatku gila. Hujan malam membuat dinginnya menusuk ke tulang. Terlebih kami semua tidak mengenakan baju hangat. “Padahal aku sudah meninggalkan jejak ranting agar kita tidak tersesat.” Kata Jinwoon.

“Ya. Dan ranting itu hanya sebesar puntul korek.” Ketus Amber, aku sudah tidak perduli dengan apapun. Aku hanya ingin mencari kehangatan di tengah dinginnya hujan ini. Andai ada Minho.

Kami semua memutuskan untuk berdiri melingkar dibawah pohon. Saling memeluk satu sama lain berniat membuat diri menjadi hangat. Tapi ternyata dingin masih saja tersisa. Dan satu lagi, aku mudah terserang demam jika terkena hujan terlalu lama.

“Astaga Jiyeon, kau pucat sekali.” Panik Jb, setelahnya aku merasakan tubuhku di peluknya. Dia memang sahabat yang baik. Aku juga melihat samar-samar Amber, Luna dan Suzy ikut memeluk tubuhku dan lanjut Yoseop, Jinwoon serta Jr. Posisi kami saling peluk dengan aku yang berada di tengah. Bibirku bergetar dan aku bisa merasakan tanda-tanda hiportemia. Setelahnya aku tidak bisa mengingat apapun.

Ketika aku bangun aku sudah berada di ranjang rumah sakit yang hangat, selang infus di tangan kanan dan oksigen yang menempel di antara hidung dan mulutku.

.
.
.
.
.
.
.

“Harusnya aku ikut. Aku benar-benar khawatir, Jiyeon.” Kata Minho sambil terus menciumi rambutku. Hahhh liburan yang buruk. Padahal baru satu hari disana dan aku harus kembali ke Seoul dan berakhir di rumah sakit yang membosankan. Tidak jika ada Minho disini.

“Maaf membuat mu khawatir.” Sesalku. suara ku serak dan aku tau kenapa suaraku seperti itu. Minho mengusap wajahku lembut dan matanya terlihat teduh. Aku juga baru sadar jika dia masih mengenakan baju bola. “Bukan hanya aku. Keluarga dan teman-teman mu juga khawatir. Bahkan Eomma dan Appa ku terus menanyai keadaan mu.” Aku tersenyum lemah. Kepalaku masih terasa pusing dan mata ku sedikit berkunang-kunang. “Maaf karena aku tidak bisa menjagamu.” Tidak seperti itu, Minho. Lagipula aku bingung kenapa harus Minho yang minta maaf?

“Tidak. Kenapa kau minta maaf? Aku tidak apa-apa. Sungguh. Emmm, bagaimana turnamennya?” Tanyaku berusaha mengalihkan. Minho tersenyum, seakan dia tau maksud pertanyaanku. Sebelum menjawab dia memberikan ciuman di kedua mataku.

“Sekolah kita menang, nanti kita rayakan ya? Tapi kau harus sehat dulu.”

“PARK JIYEON!” Oh astaga, mereka memang tidak pernah bisa membaca situasi. Minho tersenyum geli melihat bagaimana mereka langsung menyerbuku dengan pertanyaan yang sama; kau sehat? Dan Joon mencibir; untung kau tidak mati. Astaga manusia itu benar-benar! Minho langsung menjitak kepala Joon membuat pria itu menyengir sambil memberikan tanda peace.

Aku beruntung Minho bisa menerima mereka walau dengan kegilaan yang mereka miliki. Minho tidak pernah membatasi ku untuk berteman dengan siapapun. Menurutnya, apapun yang membuat ku nyaman itu yang terpenting.

“Kami benar-benar khawatir. Kau seperti mayat yang bernapas saat pingsan.” Kata Suzy, “ne. Badan mu dingin dan beku seperti es.” Lanjut Luna yang langsung menerima jitakan dari Amber, “berlebihan.” Katanya.

“Aku lapaaarrr. Ayo kita ke kantin rumah sakit.” Kata Krystal yang langsung di setujui yang lain. Setelahnya Krystal langsung memberikan tatapan yang mengatakan; kau harus berterimakasih nanti.

Setelah mereka pergi, aku melirik Minho yang tampak kelelahan. Mungkin setelah acara final selesai, dia langsung kesini tanpa istirahat terlebih dahulu.

“Kau pasti belum istirahat ‘kan?” Tanya ku akhirnya.

“Bagaimana aku bisa istirahat saat tau kau masuk rumah sakit? Terlebih orang tua mu sedang di Jepang dan Hyojoon sedang wajib militer.” Aku semakin mencintainya.

“Jangan pernah melakukan sesuatu yang bahaya lagi. Aku benar-benar takut dan mengkhawatirkan mu. Saranghae.”

“Mian. Aku juga mencintaimu.” Setelahnya Minho langsung mencium bibir ku lama.

Dengan melihatnya khawatir seperti itu. Aku semakin yakin, bahwa dia tidak pernah bermain-main dalam suatu hubungan.

It’s everything, everything you do
That makes me fall in love with you
It’s everything, everything you say
That makes me feel this way

Tbc

A/n: *pundung* maaf kalo chapt ini ga nyambung hahahah. Sumpah gue bikin ini doang berhari2. Putus2 gitu. Entah lagi dijalan, mau tidur, bosen pas seminar. Sampe selesai dalam waktu empat hari. Edaannn lama banget padahal sedikit banget HAHA. Semoga puas ya. Next chapt mungkin bakal ngarettttt banget. Mau fokus ke masa depan😂 bye💋 OIYA! MBK FAMILY ZZANG!! Gue lagi suka sama mbk gatau kenapa haha 👫👬👭👫👬👭💪👏✊

Advertisements

Author:

If you Jiyeon fans, you must stay here. but, if you hate my fav idol..you must go on without drama. thx

24 thoughts on “5. Jiyeon’s Diary: Afraid

  1. aduhhh si minho emang alien yg jago ngobrak abrik hati jiyeon,,
    daebak dia ngajak ke danau buat mancing yg g ada ikannya,,
    yg bkin jiyeon kesel tpi stelah ngasih tau jawabannya malah bkin jiyeon melayang,,
    udah ngomongin masa depan lagii,,
    ahhh semoga masa depan minji bakal terang benderang g ada halangan yg berarti buat mreka bersatu dan bahagia 😀

  2. Hahhaha aduh minho
    Tambah So sweet:*
    Pengen dibungkus ni orang:3
    Aigoo minho kenapa kau begitu manis:3
    Pokoknya minho jjang!’
    Jiyeon lu harus bersyukur:D
    Pokoknya selalu ditunggu next Chapter fighting&Hwaiting!!

  3. Ciiiaaaa akhirnya update jg thor…ya ampun knp minpa romantis amat siihhh..,,jinja jd envii bgt..coba punya pacar kya’ minpa gt…sempurna bgt kali ya wkwkwk…update soon thor..

  4. Author salah sasaran ni malah yg melting jdnya aku … Minho smoga serius tuh sm hubungannya…. kurang panjang part ini Thor… ayo next part yg lbih panjang lg n jgn lama2 publishnya… fighting y Thor !!! *-*

  5. q tidak suka menonton film romantis,tapi lebih suka mempraktekkan langsung, kwkw. itu cara yg jitu buat jiyeon gak bisa minta nonton bareng ntar malah dipraktekkan semua ama minho..

  6. Aaa minho ini emang pacar idaman banget, dia terbuat dari gula atau gimana sih:3
    Kok pendek ya thor? Tapi gapapa dah yang penting update . Ditunggu lanjutannya! 🙂

  7. aihhh perlakuan minho ke jiyi bikin envy tingkat akut 😀
    mau juga dong dioerhatiin sama minho wkwkwk
    jiyi beruntung bgt punya minho sama temen2 nya yg care sama dia. salut sama persahabatan mereka 🙂

  8. oh minho manisny g ketulungn apalg mancing ikn cuma pgn berduaan brg jiyeon. uda mkrin masa dpn pula, heol pasti si jiyeon dibkin jungkr blik dah…

  9. Ga tau mesti komen apa..semuanya daebak “. Teman” jiyeon ..luna jb,amber,susi dll.yang benar” setia kawanbanget,minho yang begitu perhatian.cinta banget,,pengen deh dalam real nemu cowo kaya minho,*ngayal.oke thor ga apa” ngaret juga.lebih penting real life dulu di selesaikan,yang penting jangan di potong tengah jalan aja,ff nya ..

  10. Ah~ romantisnya minhoo,,,,
    Donghae oppa, kapan kau akan bersikap seperti itu padaku ??
    Makin daebak saeng, sampe senyum senyum sendiri bacanyaa..
    Tetap semangat yaa ^^

  11. Jd ketagihan baca ff ini
    Abis minho nya bener2 sweet bgt sih
    Dr awal sampe akhir bikin envy mulu
    Jiyeon bener2 beruntung jd kepunyaannya minho

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s