Posted in Uncategorized

4. Jiyeon’s Diary: Declaration

image

                          Jiyeon’s Diary

1 Oktober 2015

Mungkin kesialan yang tidak pernah aku lupakan seumur hidup adalah, saat aku dan Minho di panggil ke ruang kepala sekolah akibat ‘kelakuan’ kami yang tertangkap cctv. Well, aku sudah menduga ini akan terjadi. Kami bukan pemain sebuah drama yang alurnya sudah di atur hingga kami tidak perlu repot-repot menjalani hukuman. Beruntung kami tidak langsung di keluarkan, mengingat sekolah ini milik keluarga besar Minho, lebih tepatnya milik kakeknya. Dan orang tua ku penyumbang dana terbesar disini. Jadi, kami hanya di skorsing selama dua hari.

Masalah clear, aku hanya tinggal bilang jika sekolahku sedang di liburkan karena para guru sedang ada kunjungan ke sekolah lain.

Minho mencoba memberiku pesan singkat serta menelpon ku berkali-kali. Tapi aku merasa belum siap dan berakhir sebuah pengabaian. Aku hanya butuh waktu.

3 Oktober 2015

Ugh, ini menggelikan sekaligus memalukan. Kemarin masa hukuman ku selesai, dan hari-hari ku berubah seribu derajat terhitung hari kemarin. Mungkin deskripsi orang yang mengatakan jika cinta itu gila, cinta itu buta adalah kejadian yang sesungguhnya. Aku sudah lelah bersikap munafik, dan kemarin… Minho membuat ku berhenti bersikap minafik.

Aku masih dengan kekeras kepalaan ku yang berusaha menghindari Minho. Aku selalu menolak hal itu, tapi berbeda dengan tindakanku yang justru berlainan dengan pikiran ku. Manusia memang terkadang bodoh, selalu di kalahkan hawa napsu. Aku hanya merasa masih cemburu jika mengingat kedekatan Minho bersama gadis lain. Menjengkelkan dan membuat aku frustasi secara bersamaan.

Saat itu aku sedang duduk sendiri di bangku taman, menolak bertemu semua orang. Beruntung kabar skorsing tidak gempar seperti kasus Joon dan Ahjumma kantin, atau Snow White dan Prince Seoul (aku dan Minho). Tiba-tiba aku merasa ada seseorang yang ikut duduk di sampingku. Kali ini aku menoleh penuh dengan kewaspadaan, dan mata sekelam malam lah yang aku temukan. “Kau mengabaikan ku?” Aku mendadak merasa sebagian jiwa ku melayang hingga tidak mampu berkutik.

“Tidak.”

“Ya. Kau mengabaikan ku. Apa yang terjadi?” Tanyanya menuntut. Aku berusaha mengalihkan wajah dan berniat mengumpulkan oksigen sebanyak mungkin. Tapi kemudian kedua tangan besar yang menarik wajah ku untuk menatapnya membuat ku menahan napas. Jika terus dibiarkan, dia bisa membunuhku secara perlahan.

“Jangan pernah menghindar lagi.” Katanya lagi. Aku bisa melihat kilatan emosi dan pancaran frustasi. Satu hal yang aku tau, dia memiliki perasaan seperti ku. Mungkin ini saatnya, saat dimana aku harus berhenti bersikap childish dan berevolusi menuju proses pendewasaan. Aku melepas kedua tangannya tanpa melepas tatapan kami.

“Aku hanya merasa..cemburu.” lirihku, sebisa mungkin aku menjaga suaraku untuk sekecil mungkin. Semua itu sia-sia karena ternyata Minho langsung merespon yang artinya dia mendengar. Aku tidak pernah berharap dia mendengar kalimat itu. Memalukan.

“Cemburu?” Tanyanya tidak yakin.

“Ya. Mungkin ini aneh. Tapi aku tidak suka melihat kau bersama teman sekelasmu itu.” Kataku memberanikan diri untuk menatapnya.

“Teman sekelas ku? Siapa?”

Jangan pura-pura tidak tau, sialan.

Aku berusaha untuk tidak merotasikan mataku, tapi aku justru merotasikannya. “Gadis yang berduaan dengan mu di lapangan dan gadis yang aku lihat saat di kelas mu. Gadis yang sama yang membuatku kesal berhari-hari. Aku sungguh tidak suka itu.” Tanpa sadar aku merengek yang membuatku ingin lari saat ini juga. Minho justru tersenyum membuat sesuatu di tubuhku terasa menggelitik.

“Yes!”

“Yes?”

“Ya. Itu artinya kau cemburu. Dan cemburu itu tanda cinta. Jadi, yes.”

Oh Tuhan…. kenapa aku merasa pipi ku memanas?

“Informasi untuk mu, aku dan dia hanya sebatas teman sekelas. Ya, walaupun dia pernah mengaku bahwa dia menyukai ku. Namanya Hara, Go Hara.” Katanya sesantai mungkin. Padahal, mata ku sudah membelo dan ekspresi ku sudah cukup membuktikan bahwa aku tidak suka mendengarnya.

“Lalu apa jawaban mu?” Tanyaku waspada.

“Tidak.”

“Tidak?”

“Ya. Karena aku hanya suka, sayang dan cinta dengan seseorang bernama Park Jiyeon.”

KYAAAAAAA aku menjerit girang dalam hati dan berusaha sekeras mungkin untuk tidak histeris di tempat. Bahkan dia mengatakan itu sangat gentle tanpa beban, atau tanpa apapun yang memberatkannya. Berbeda dengan ku yang harus berperang dengan batin terlebih dahulu.

“Lalu.. bagaimana dengan mu? Aku tidak suka dengan Ahjussi tua itu.” Aku tau siapa yang dia maksud.

“Emm, aku dan Zhou Mi tidak ada hubungan apapun. Maksudku, awalnya aku merasa jika aku menyukainya. Tapi aku salah, itu hanya sekedar kagum.” Dia terlihat tidak suka dan aku merasa senang mengetahuinya. Itu tandanya dia cemburukan? Cemburu tanda cinta? Aku merasa geli sendiri saat mengulangi ucapannya.

“Lalu?”

“Kemudian, aku melupakannya saat seorang pria mampu membuat ku depresi karena kedekatannya dengan gadis lain selain aku. Aku tidak suka dan, yah.. cemburu. Dan saat itu aku sadar, bahwa aku menyukainya.”

“Sayang?”

“Ya. Aku mungkin menyayanginya.”

“Dan cinta?”

Ini seperti sesi tanya jawab dalam sebuah acara talkshow, “aku mencintainya.” Aku berkata yakin. Kemudian aku merasakan sesuatu membungkus tanganku hingga menghangat. Tangan besar Minho sedang membungkus tangan mungil ku. Saat aku menatapnya, dia sedang tersenyum. God, aku baru mengakui ketampanannya dengan jarak sedekat ini.

“Aku juga mencintaimu.” Aku ingin meleleh.

“Aku tidak meminta, tapi ini perintah. Mulai sekarang, kau adalah milikku. Kekasihku, calon tunanganku, calon istriku, dan calon Ibu dari anak-anakku. Ini perintah. Aku menyuruh mu untuk melahirkan anak-anak ku nanti.” Lanjutnya.

OH TUHAN KENAPA DIA BEGITU MANIS? Tidak pernah aku menemukan seorang pria yang menyatakan cinta seperti ini. Maksudku, kebanyakan dari mereka justru meminta; ‘kau mau menjadi kekasih ku?’ Tidak ada yang pernah menyatakan cinta macam Minho yang seenaknya saja mengklaim bahwa aku miliknya. Tapi aku justru merasa menjadi satu-satunya gadis yang beruntung karena perilakunya. Aku ingin menyombong pada gadis yang bernama Hara itu (aku bahkan bisa mengingat namanya) bahwa Minho milikku sekarang. Atau aku yang milik Minho sekarang.

Kemudian aku merasakan punggung tangan Minho menyentuh dahi ku. “Kau sudah lebih baik? Aku sangat cemas saat tau kau demam. Tapi aku tidak ingin mengganggumu.”

“Aku jauh lebih baik. Dan sejujurnya, aku menunggu mu untuk menanyai keadaan ku waktu itu.” Jujur ku, dia tampak menyesal dan mengusap pipi ku. Jika aku sebuah lilin, maka aku sudah meleleh hingga habis dalam waktu beberapa detik.

“Maafkan aku, harusnya aku tidak menyerah seperti pecundang.”

“Apa maksud mu?” Tanyaku tidak mengerti. Aku memang tidak mengerti, apa maksudnya menyerah seperti pecundang? Karena yang aku tau justru dia itu seorang gentlemen. Dia kembali membungkus tanganku dengan tangannya, “saat aku kerumah mu, saat itu aku berusaha mengabaikan Ahjussi tua itu dan perasaan tidak suka ku. Aku ingin berjuang lebih untuk mendapatkan mu. Tapi Hyojoon bilang, kau justru berpura-pura tidur sambil berteriak marah bahwa kau tidak ingin bertemu dengan ku. Kau bahkan menangis karena kedatangan ku. Mian.”

Hyojoon brengsek! Aku ingin mencekiknya sekarang juga. Aku jadi panik dan merasa bersalah, kali ini aku yang berusaha membungkus tangannya dengan kedua tanganku sembari menatap penuh sesal, “oh Tuhan, bukan seperti itu kejadiannya. Saat itu aku hanya tidak siap bertemu dengan mu karena aku tidak ingin mengingat kebersamaan mu dengan gadis itu. Dan aku menangis karena….ugh, aku terbawa emosi saking tidak sukanya.”

Minho tidak bereaksi, mungkin dia terkejut dengan kejujuranku. Sejujurnya, akupun merasa terkejut saat aku mengatakan yang sesungguhnya. Aku hanya tidak ingin membuatnya salah paham, aku tidak ingin dia merasa bahwa aku sangat membencinya. Dulu, aku tanpa pikir panjang akan jawab; ya, aku sangat membencinya. Tapi sekarang; tidak. Aku sangat mencintainya. Tiba-tiba aku merasa gerakan gravitasi yang menarikku kedepan, dalam sekejap wajahku sudah membentur dada bidangnya, tangannya membungkus tubuhku sambil mengusap punggungku. “Oh sayang, maafkan aku. Aku tidak tau jika kebaikan ku pada semua orang bisa membuat mu bersedih seperti itu. Aku sungguh hanya berteman dengannya. Aku janji mulai sekarang, aku tidak akan membuat mu menangis. Kau itu milik Choi Minho.” Kau gadis beruntung, Park Jiyeon. Atau Choi Jiyeon? Aku geli sendiri melihat kelakuanku. Disaat suasana romantis ditambah daun-daun kering yang berguguran membuatku ingin jauh lebih lama bersama dengannya. Tapi, suara bel masuk tanda istirahat usai membuat kami dengan berat hati saling melepas diri.

Dia tersenyum sambil mengusap rambutku pelan, tangannya merogoh sesuatu di saku blazer nya. “Untuk mu, aku tau kau pasti lapar.” Katanya sambil menyerahkan sebungkus roti kacang. “Maaf membuat waktu istirahat mu terbuang sia-sia.” Lanjutnya kemudian. Aku cemberut, “kau pikir ini sia-sia? Aku justru merasa ini adalah istirahat terindah sepanjang hidup ku.” Aku sedikit mengerti, dia seperti sudah merencanakan semuanya dan mempersiapkan sebungkus roti untukku karena tau mungkin ini akan memakan waktu cukup lama. “Tentu saja, aku hanya merasa.. ah sudahlah. Ayo kita kekelas.” Aku tertawa melihatnya.

Berapa lembar aku menulis ini? Tidak masalah. Setidaknya, aku memang tidak bisa merekam moment langka saat dimana aku dan Minho meresmikan hubungan kami. Tapi, lewat tulisan ini… aku jadi bisa mengingat betapa bahagianya aku saat ini.

                          Jiyeon’s Diary

5 Oktober 2015

Kabar hubunganku dengan Minho sudah menyebar luas layaknya kami adalah pasangan selebriti yang dikejar infotaiment. Semua orang seperti manusia kurang kerjaan yang ingin tau ini itu. Sisi egois ku merasa bangga dan ingin menyombong pada gadis bernama Hara, atau gadis-gadis lainnya yang menyukai Minho. Teman-teman ku bahkan langsung menyerbu ku dengan seribu pertanyaan dan berakhir di restaurant. Untungnya, Minho datang bagai ksatria. Dia yang membayar semua makanan teman-teman ku yang menuntut sebuah traktiran. Tentu, aku yang harus membayar padanya setelahnya. Bukan berupa materi, tapi dia memintaku menemaninya seharian.

Dia mengenalkan ku dengan keluarganya, mereka menyambut baik. Dan tiba-tiba topik menjurus kepernikahan. Aku ingin membenturkan kepala kedinding saat itu juga. Tapi Minho menjadi tokoh yang paling bersemangat. Ah, aku lupa apa yang terjadi setelahnya. Yang jelas, aku sangat menikmati hari ini.

.
.
.
.
.
.
.
.
.
.

12 Oktober 2015

Memalukan. Harusnya Minho tidak melihat ku saat sedang bertingkah bersama teman-teman gila ku. Tapi Minho adalah Minho, aku harusnya tidak heran melihat dia yang sengaja melewati kelas ku demi melihat ku.

“Parampampampampam.”

“Lalalalalalalalal.”

“Dugjedagjedugjedagjedug.”

Suara musik buatan terus di lontarkan kami sebagai pesta kesenangan saat guru yang mengajar absen sakit. Sambil memukul-mukul meja dan menari-nari tidak jelas. Saat itu aku dan Suzy sedang di depan papan tulis sambil menari hula-hula dengan hebohnya, dan ketika teman-teman ku menyuarakan lagu Go Crazy milik 2PM, aku dan Suzy diikuti teman-teman gila ku langsung menari seperti orang gila. Disaat bagian dimana aku memutar tubuh sambil kedua tangan ku bergerak atas bawah, saat aku berenti dan melihat keluar kelas, ooww tidak… sejak kapan Minho berada di depan kelas ku? Dia tersenyum geli membuat ku mundur dan mengumpat di balik Suzy. Dan aku sedikit mengintip, disitu Minho langsung memberikan wink tanpa menghentikan senyum gelinya. Kemudian dia pergi, dan aku merasa gila sungguhan.

13 Oktober 2015

Panas.. wajah ku panas. Sejak tadi aku tidak bisa berhenti tersenyum. Minho selalu membuat mood ku meningkat baik. Malamnya, aku dan Minho telponan dan aku berkeluh kesah tentang Hyojoon yang menyebalkan. Mood ku hancur dan Minho terus menghibur ku hingga aku tertidur.

Paginya di kelas, mood ku semakin hancur saat pelajaran Kim saem. Aku tidak suka melihat wajah jeleknya. Tiba-tiba pintu terketuk dan munculah Minho membuatku mengkerut alis.

“Permisi saem, aku ingin memanggil Park Jiyeon.” Katanya.

Kim saem melirikku sekilas, “siapa yang menyuruhmu?” Tanyanya garang. Ish, saem kau semakin menyebalkan di mata ku. Minho sih acuh saja, dia itu terlalu santai menghadapi sesuatu hingga kadang-kadang aku ingin menjambak poninya.

“Suara hati ku yang menyuruh. Katanya, Jiyeon sedang sedih, jadi aku harus menghiburnya.”

Jedar!

Aku ingin tertawa sekarang. Lihat? Betapa manisnya Minho ku? Aku bahkan berusaha keras menggigit bibir bawahku untuk menahan senyum walau itu percuma saja. Kelas langsung heboh, bahkan Joon langsung bersiul sambil melontarkan kata godaan. Yoseop langsung menimpuki ku kertas, dan Jr serta Jb sedang menari balet di depan. Minho masih tetap malem.

“Jangan bercanda! KELUAR!” Bentak Kim saem membuat suasana hening sejenak. Jr dan Jb sudah berlari dan duduk di tempatnya kembali. Aku menatap Minho khawatir, dia yang di bentak tapi aku yang panik. Sungguh, aku semakin membenci guru botak ini. Dan parahnya… Minho hanya mengangkat bahunya acuh.

CHOI MINHO! DEMI TUHAN, ADA APA DENGAN MU?

“Jadi aku tidak boleh memanggil Jiyeon?”

“Tidak! Cepat pergi!”

“Baiklah…” Minho menatap ku sejenak, aku berusaha keras menunjukan gestur tubuh yang menyuruhnya pergi disertai senyum. Aku tidak ingin membuatnya khawatir, perasaanku sudah membaik. Jauh dari kata baik. “Aku rasa Jiyeon sudah memiliki mood baik. Annyeong saem, semoga hari mu menyenangkan. Dan tolong, jaga Jiyeon ku.” Katanya sebelum berlalu pergi.

Sumpah demi Tuhan yang menciptakan bumi beserta isinya, aku benar-benar blushing. Yaampun, Minho itu datang dari planet mana? Dia alien tampan yang mengagumkan. Jika kejadiannya akan semenyenangkan ini, aku sudah dari dulu mengakui perasaanku. Oh Minho ku, kau–,” Park Jiyeon! Jangan melamun.” Sial, Kim saem benar-benar ingin merasakan yang namanya sup sepatu. Aku berniat memberikannya nanti dan aku akan –, “perhatikan pelajaran, Park Jiyeon!” –membunuhnya dengan keji.

“Ne saem.”

Tbc.

A/n: waktu itu ada yg sms gue minta dibikinin ff minji yg married life ya? Gue lupa wakakak. Maaf ga dibales ya de, gue emang pelit pulsa😂 gue udah ada rencana tuh buat bikin, pengen si abang selingkuh dan genrenya hurt abis. Tapi malah gue yg baper. Gue ga tega kalo si abang harus ngehianatin neng jiyeon. Jadi munkin di JD ini nanti bakal ada married life nya, gue usahain. Buat TT gue pundung sendiri, ngerasa bersalah. Dan pengen lanjutin sampe tamat tapi gue lupa alurnya:'( rencananya, TT sama just you mau gue lanjutin. Tergantung mood kedepan. Jadwal kuliah udah ketauan padatnya. Bikin sensi sendiri.

Mohon maaf juga kalo chapt ini agak kurang mendukung. JD itu kan curahan hati jiyeon, jadi nikmatin aja ya alurnya. Gue juga gaada target khusus ini tamat di chapt berapa. Suka-suka aja haha. Oke sampe sini aja deh ya cuap cuapnya💋

Advertisements

Author:

If you Jiyeon fans, you must stay here. but, if you hate my fav idol..you must go on without drama. thx

32 thoughts on “4. Jiyeon’s Diary: Declaration

  1. Yeiiiiii udah updateee!!!kyaaaaaaaa minpaaaaaaa so sweet amat sihh,,,guaaaa envyyyyy TT_TT seandainya it beneran minji couple jadian..gua relaaaa serelaaaanya..,,abissss mreka cocok bgt sih..tu cntik abis,yg 1 gnteng abisss…dijejerin passsss bgt diliat…

  2. Hahahahah demi apa.. minji swert bngt.. omo minho bnr2 sinting.. dia rela buat apa aja demi jiyi.. omo jgn bkn msrried life yg sedih utk jiyi tp happy end ya.. byk2 ff minji dong kekeek plak

  3. Lawakk minho soswit bangettt… Jiyonnya udah mengakui perasaan dia jadi minho makin bahagia wkwk.. Ngakak banget lah ya yang di kelas wkwk… Panggilan hati :”))) terserah minho aja wkwk nextt~

  4. selalu bisa bikin reader sepertiku senyum2 ga jelas deh… itu mereka murid SMA apa pelawak sih ? bisa2nya… klo pas g ada guru wajar udh biasa, tp pas yg ngerjain guru itu lho g berani dh aku sama tmen2

  5. 😀 😀 😀 bisa aja tuh sing abang panggilan suara hati , cieee kurasa jiyeon sama minho sama2 somvlak kelakuannya 😀 😀 😀

  6. yeayyy akhirnya update juga thor 🙂
    hahhaah akhirnya minji jadian juga, minho sweet bangettt. aduhh kalo jadi jiyi bisa2 meleleh mulu tiap saat kalo punya pasangan kyk minho

  7. Sweeet sweeeet..dah minji,baca nya ampe senyum ” sendiri,jiyeon hari ” nya bakal love” terus dah.semoga sampai pernikahan ya ,oh ya thor ni ada persi diary minho ga,pasti lucu juga y,liat curhatan minho .

  8. minho emang alien,
    ya ampun dia berani bnget yaa sma kim saem 😀
    ahh minji emang sosweet bnget lahh g nyangka jga jiyeon bakal ngungkapin isi hatinya 😀
    setuju2 smpai married + iyaa dong jngan smpai si minho selingkuhh,,
    aku g rela sumpah klo ada selingkuh2an biarkan minji hidup bahagia 😀
    dan jngan smpai ada orang ketiga 😀

  9. Hahaha sumpah ini minho so sweet banget 😹😸😸😸 gmn jiyeon ngga klepek” 😁😁😁😁 😻
    Ini mau dlnjutin smpe marriage life ya ? Lnjut thor 💪akuu dukuuung 🙌

  10. Akhir nya update juga. . Itu yg request ff married life aku eonni . .
    Minji jadian? Ye akhr.a jdian jga . . Next di tngu married life nya.

  11. Aigoo akhirnya mereka jadian:*
    Oh mai god minho perlakuan mu manis sekali:D
    Astaga mino mantap sekaliii gayamu aku suka:*
    Cewek mana yang gak klepek klepek dengan perlakuan minho;3
    Jiyeon yeoja yang beruntun!!
    Ditunggu moment mereka yang manis” lagi;)
    Pokoknya next Chapter fighting&Hwaiting!!

  12. Ciye jadian , mana PJnya wkwk XD . Minho manis banget asli sampe diabet ini , tapi nggak tau kenapa kok baper ya baca part ini :3
    Yang Married Life boleh banget author:3 tapi jangan pake selingkuh selingkuhan ._.

  13. sukaa bgt sama ff ini… easy bgt.. ga maksa harus end dgn bla bla bla… jd kalo authornya lg subuk dan ga bikin, yg baca jg ga mati penasan gmn kelanjutannya.
    well bukan berarti ak ga mau ff ini berhenti gitu aja… but ini tuh asik bgt,, jd hiburan disaat stress kuliah-praktikum-rapat

  14. euy… mrk.pacran jg setelah sesi saling jujurnya. dua2ny saling cemburu g jls tp mlh cute..
    lah si minho mkin mnis aja slalu bisa bikin mood jiyeon naik lg.

  15. Oh my… Minji seriusan Sooooo ssssssswwwwwweeeeeeeeetttttt banget… Dan juga minho #bhakksss dia dateng ke kelas jiyeon gara-gara mood nya jiyeon lagi jelek… Terus kata-katanya minho itu loh…. Ditunggu next partnya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s