Posted in Oneshot

Rainbow After Rain

image

“Pagi tuan putriiii!”

“Morning sweetie!”

“Hey kesayangan.”

.
Punish Sequel
.

.

Choi Minho&Park Jiyeon

By @siskameliaaa
.
.
.
.
.
.

Jiyeon tersenyum tipis saat para sepupu nya berkumpul dan berteriak heboh menyapanya, gadis itu berjalan dibantu Eomma nya karena kondisi nya yang kurang sehat, “duduklah, Eomma akan menyiapkan coklat hangat untuk mu.” Kata Eommanya disertai ciuman sayang di kening.

“Aku juga mau Eommonim.”

“Aku yang paling spesial!”

“Aku lebih suka teh hangat.”

“Siapa yang mau memberikan mu teh hangat?”

Nyonya Choi terkekeh melihat reaksi keponakannya, tapi tatapannya berubah sendu begitu melihat Jiyeon yang hanya tersenyum tipis dan tatapannya kembali kosong, andai semuanya bisa di ulang. Maka dia akan menggunakan cara apapun untuk bisa membuat putri kesayangannya selalu diliputi kebahagiaan, dan dia juga ingin membuat putra kebanggaannya tetap berkumpul bersama sambil bercanda seru, nyonya Choi mengangguk tersenyum sebagai jawaban.

“Yaampun putri hujan kita sakit, kau harus jaga kesehatan cantik.” Luna, salah satu dari sepupu nya menempelkan punggung tangan ke dahi Jiyeon, tapi gadis itu langsung menoleh menghindar membuat Luna menangkupkan kedua tangannya di wajah Jiyeon dan memaksanya untuk bertemu muka.

“Kau itu, aku khawatir tau!” Protesnya.

Jaebum melepas paksa tangan Luna membuat gadis itu cemberut disertai pelototan tajam, “kau kenapa sih?” Tanya Luna, Jaebum menggidik bahu acuh dan kemudian mencium pipi Jiyeon, “kau melukai pipi nya.”

Luna sweatdrop, Jinwoon memprotes keras, “kalau begitu aku juga ingin memberikam ciuman agar pipi nya tidak sakit lagi.” Kali ini Luna sudah menjitak kepalanya kencang.

Dulu, Jiyeon yang akan memicu perdebatan hingga semua menyerah dan kapok berdebat dengannya, Jiyeon juga yang sering menjitak kepala Jaebum atau Jinwoon jika sudah bermanja-manja dengannya. Kemudian Luna ikut-ikutan hingga tertular virus Jiyeon yang suka menjitak kepala mereka, persaudaraan mereka begitu erat seperti sahabat, ada juga Amber dan Onew sepupu dari Eommanya, jika sudah kumpul.. jangan harap hidup menjadi tentram.

Luna, Jaebum dan Jinwoon berhenti berdebat karena suara Jiyeon tidak juga terdengar, gadis itu memilih bersender di pinggir sofa sambil menutup mata. Kejadian satu tahun empat bulan itu tentu menjadi perbincangan hangat keluarga besar mereka, bagaimana depresi nya mereka saat melihat jasad Siwon dan kondisi Jiyeon yang nyaris tidak bernyawa, itu juga yang menyebabkan rumah Choi Kiho selalu ramai di kunjungi. Selain ingin menghibur Jiyeon, mereka juga tidak bisa melepas bayangan Siwon.

Luna yang duduk disebelah kiri Jiyeon memeluk pinggul gadis itu sambil menopang dagu di pundak Jiyeon, “kau kuat Ji,” lirihnya berkata.

I don’t wanna run away but I can’t take it, I don’t understand
If I’m not made for you, then why does my heart tell me that I am?
Is there any way that I can stay in your arms?

Jiyeon membuka mata sambil tersenyum bengkok, “aku selalu berusaha kuat,” tapi tidak pernah bisa.

“Ah sudah-sudah, aku tidak suka suasana mellow seperti ini.”

“Hu’um. AHJUMMA KENAPA COKLAT HANGATNYA LAMA SEKALI?”

Bletak

Jaebum sang pelaku pelemparan bantal bersidekap dada, mengacuhkan Jinwoon yang menatapnya garang, “sopan sedikit bodoh!”

                      Rainbow After Rain

Minho Pov.

“Masih memikirkan putri hujan mu?” Jonghyun bertanya, dia berdiri disampingku mengikuti arah pandang ke luar yang tengah di guyur hujan, “sudah dua hari dia tidak disana.”

Dua hari juga aku pulang dalam kehampaan.

Dia.. yang aku tidak tau namanya, tapi wajahnya selalu terbayang setiap waktunya.

Dia.. yang selalu berdiri di pinggir jalan Gangnam setiap jam lima sore dengan payung bening melindungi tubuh.

Menggunakan dress putih, sepatu perak.

Wajah innocent.

Tatapan mata penuh kerinduan.

Dia yang selalu membuat ku ingin mendekap tubuh mungilnya di tengah dinginnya hujan.

“Mungkin dia sakit, dia ‘kan selalu bermain dengan hujan sebulan ini.” Aku menoleh cepat. Sakit ya? Dan betapa bodohnya aku yang terus berbicara dalam hati; apa dia sudah minum obat? Apa istirahatnya cukup? Apa dia merasa kedinginan?

“Aku selalu membayangkan seperti apa putri hujan mu, kenapa kau sangat menggilainya? Bahkan kalian tidak saling kenal. Kau juga selalu memasang tameng saat para gadis mulai mengerubuni mu.” Aku juga tidak tau kenapa.

Yang jelas, Losing you is painful to me. Aku sangat takut kehilangan dirinya. Hati ku selalu berharap jika selama ini dia tidak menunggu seorang pria yang dicintai. Jika pun begitu, aku ingin merebutnya dari pria beruntung itu.

Izinkan aku egois.

“Besok ikut aku, aku harap kau beruntung.”

Semoga dia datang.

Tell me her name
I want to know

.
.
.
.
.
.
.

“Kau gila? Kau tidak tau dia siapa?” Jonghyun menjerit gemas, kami sedang berada di halte pinggir jalan sambil memperhatikan putri hujan ku, masih dengan dress putih gading dan sepatu perak, serta payung bening yang tidak pernah berganti.

“Kau tau dia siapa?” Aku mulai bertanya tanpa berpaling dari sosoknya, secercah harapan muncul dan aku berharap bisa tau siapa dia sebenarnya.

Jonghyun tampak mendesah frustasi,” makanya jangan terlalu kuper, kau keterlaluan jika tidak mengenalnya.”

“Siapa dia?”

“Choi Jiyeon, putri Choi Kiho. CEO Boryung Medience. Satu tahun yang lalu mengalami kecelakaan bersama Choi Siwon saat melakukan pelarian di hari pertunangannya. Dan dia sempat koma selama satu tahun, baru sadar sekitar empat bulan yang lalu.” Aku menoleh cepat, terlalu terkejut dan banyak pertanyaan.

“Bagaimana kau bisa tau?”

“Bagaimana aku bisa tau? Bagaimana kau bisa tidak tau bodoh! Oh tidak Choi Minho, saat itu media begitu ramai memperbincangkan. Kau tau sendiri, keluarga konglomerat tidak pernah bisa lepas dari mata dunia.”

“Apa lagi yang kau tau?”

Jonghyun diam sambil menjambak ujung rambutnya, matanya menatap ku takut-takut, “gosip nya, Siwon dan Jiyeon terlibat cinta terlarang dan berusaha kabur bersama. Tapi mobil mereka justru menabrak truk besar hingga Choi Siwon meninggal.” Aku terkejut, sungguh! Kisah seperti itu bukan hanya terjadi di novel picisan atau drama romantika. Aku menoleh kembali ke sosoknya, tapi dia sudah menghilang di gelapnya malam dan kencangnya angin.

“Dan… disinilah mereka mengalami kecelakaan.”

Aku tau kenapa kau selalu berdiri di ujung jalan.

“Tapi pihak keluarga selalu bungkam hingga gosip itu hilang begitu saja. Kau tau sendiri ‘kan bagaimana para konglomerat? Mereka tidak ingin memiliki citra jelek.”

“Bagaimana dengan tunangannya itu?”

“Namanya Kim Woobin, sama-sama kalangan konglomerat. Tapi pihak keluarga setuju membatalkannya demi kebahagiaan Jiyeon, walaupun semua orang tau bagaimana kerasnya perjuangan Woobin untuk mendapatkan gadis itu. Tetap saja Jiyeon selalu acuh, hingga Woobin mundur walau dia selalu terlihat susah moveon.”

Sekarang apa yang harus aku lakukan setelah mengetahui semuanya? Bukan hanya nama, tapi bagaimana kehidupannya. Yang jelas, aku tidak mungkin terus diam. Aku harus mengambil langkah agar putri hujan ku benar-benar menjadi putri hujan ku.

You deserve the chance at the kind of love

                      Rainbow After Rain

“Hey,” aku menyapanya. Tidak pernah terbayang bisa bertemunya di kampus. Satu informasi lagi dari Jonghyun, Jiyeon kuliah di Inha University. Kampus ku juga, bedanya dia jurusan psikologi, dan aku jurusan manajement bisnis. Dia telat wisuda karena koma selama satu tahun, karena aku mengambil gelar master sementara dia hanya S1, aku beruntung bisa bertemu dengannya. Kami memang beda gedung yang jaraknya lumayan jauh. Aku sendiri heran melihatnya berada di gedung A –manajement bisnis, ada keperluan apa dia disini?

“Ingat aku? Sapu tangan?” Sebisa mungkin aku memberikan senyum terbaik, awalnya aku bisa melihat keterkejutan dimatanya saat aku menyapa. Aku pikir, dia memang mengingat ku.

Dia melengos, buru-buru pergi tanpa menoleh kembali. Apa ada yang salah dengan ku? Aku tidak lupa memakai parfum yang biasa, yang biasa membuat para kaum hawa lengket seperti magnet. Pakaian ku juga rapih, tidak seperti badut di Lotte World. Bau mulut ku harum seperti mint, lalu apa yang membuatnya pergi terburu-buru seakan melihat hantu? Aku tampan, tidak buruk rupa seperti hantu.

Aku masih terus memandangi punggungnya yang menghilang di balik lorong, wanita itu aneh.

.
.
.
.
.
.
.

Berdiri di pinggir jalan setiap sorenya memanglah kebiasaan yang tidak bisa Jiyeon lewatkan, kecuali jika dia sakit terserang demam. Pihak keluarga tidak pernah mempermasalahkan selama mereka mengirimkan beberapa orang untuk terus mengawasinya.

On the corner of the street
So I’m not moving
I’m not moving
Policeman says, “you can’t stay here”
I said, “There’s someone I’m
waiting for”
if it’s a day, a month, a year!
Gotta stand my ground even if it rains or snows

Sore ini berbeda dari biasanya, hanya rintik-rintik kecil yang membasahi payung bening itu, tidak pernah ada kata terucap. Hanya ada harapan yang terbayang.

Bagaimana Siwon datang, memberikan senyum bahagia berlesung pipit, merentangkan tangan dan memeluknya hangat sambil membisikkan kata, “saranghae.” Sederhana, tapi mustahil untuk di wujudkan. Harapannya bagaikan angin lalu yang terbang bersama hujan.

I hate to turn up out of the blue
Uninvited
But I couldn’t stay away
I couldn’t fight it
I’d hoped you’d see my face
And that you’d be reminded
That for me
It isn’t over

I remember you said
Sometimes it lasts in love
But sometimes it hurts instead

Tiba-tiba kesadarannya diambil alih oleh sosok asing yang selalu berusaha di hindarinya. Sosok yang selalu hadir mengganggu, membuatnya makin susah melupakan sosok satu lagi yang rupanya sangat persis. Tapi sosok itu tidak memiliki lesung pipit, melainkan senyum lebar yang amat manis dan sayang untuk dilewatkan.

“Aku selalu memperhatikan mu dari ujung jalan.”

Jiyeon mencoba tuli, menetralkan detak jantungnya yang bertalu. Oxygen seperti menghilang berpindah planet, dia merasa berada di luar angkasa, “namaku Choi Minho.” Pria itu mengulurkan tangan kanan, sementara tangan kirinya berpegang erat pada payung biru dongker miliknya.

Choi?

Bahkan marga mereka pun sama. Betapa takdir senang mempermainkannya.

Tangan Minho perlahan turun begitu tidak mendapat sambutan hangat, Jiyeon masih setia dengan kebisuan dan Minho tidak pernah berhenti menunjukkan senyum. “Jika kau punya masalah, kau bisa bercerita pada ku.”

Neither one of us is getting out of here alive
Both of us are stranded and we won’t make it back inside
The whole world is blowing away
We just watch it pass us by
It swept up both our
Feet when we meet in the northern sky

“Jangan ganggu aku.” Suaranya renyah, membuat telinga Minho memerah akibat aliran langsung dari jantungnya yang merayap hingga keseluruh tubuh, tatapannya tajam dan bersungguh-sungguh, “pergi.”

“Atau aku yang pergi.”

Seperti mengucap mantra sihir, tiba-tiba saja sudah ada mobil jaguar silver berhenti di depan mereka, menjemput sang gadis yang tanpa perasaan meninggalkannya sendiri. Merobek secarik kertas putih berjuta harapan yang ingin ia toreh, tapi Minho sudah siap sejak awal. Dia tau, tidaklah muda membuat gadis itu cepat berpaling. Dia tersenyum, seperti manusia tidak waras.

“Jiyeon..” suaranya mendayu, senyumnya berganti menjadi datar. Tatapannya berkilat sungguh-sungguh, “aku akan terus mengganggu mu, sampai kau bosan. Sampai akhirnya kau menyerah dan melihat ku sebagai sosok yang mencinta.”

                      Rainbow After Rain

Minho tidak pernah bermain-main dengan ucapannya, setiap hari dia selalu menyapa Jiyeon, dibalik payung mereka masing-masing. Walaupun selalu berakhir dramatis, dimana Jiyeon yang pergi dan Minho yang tersenyum masam.

Minho juga selalu berusaha dengan sejuta cara untuk melakukan pendekatan, contoh singkatnya pura-pura menemui temannya di gedung psikologi, lalu berbicara panjang lebar di depan Jiyeon. Kekecewaan selalu menjadi akhir perjuangan seumur jagungnya, Jiyeon selalu pergi tanpa mau berlama-lama.

Malam ini, Minho masih belum menyerah untuk mendapatkan putri hujannya. Sudah hampir di penghujung tahun, dan setitik hujan akan berganti menjadi setumpuk salju. Itu artinya, putri hujan akan berubah menjadi putri salju.

“Aku punya cerita lucu, hari ini Jonghyun berusaha menyatakan perasaannya ke seorang gadis. Tapi, sebelum itu terjadi.. gadis itu sudah lebih dulu memperkenalkan seorang pria sebagai tunangannya. Sepanjang hari pria itu terus menangis, kau tau ‘kan dia itu pecinta drama romantis.”

Jiyeon diam. Selalu seperti itu, Minho bercerita panjang tentang kehidupan sehari-hari untuk menarik rasa simpatik. Hampir semua tentang Minho telah dia dengar, dan pria itu tidak pernah lelah berbicara. Menjadi seorang yang aktif sendiri, padahal sesungguhnya.. Minho adalah orang yang tidak suka bicara panjang lebar, dia selalu menggunakan satu suku kata jika ditanya. Dan satu kalimat jika bertanya.

“Kau membosankan.” Datar Jiyeon. Gadis itu untuk pertama kalinya menghadapkan tubuh ke arah Minho, membuat Minho menahan napas untuk sesaat,” berhenti bicara, kau seperti orang dungu. Aku tau kau menyukai ku, jangan pernah berharap lebih. Tuan!” Kini, Minho lupa bagaimana caranya bernapas.

Like thunder and lightning go in the one
Together we make a perfect storm
You’re like the wind I’m like the rain
Together we both make hurricanes

“Jangan pernah menemuiku lagi, aku sangat membenci sosok mu. Kau membuat ku muak dan ingin menendang mu jauh ke planet pluto.”

Minho tidak mengerti apa yang membuat Jiyeon begitu membencinya, bukan ini yang dia mau. Melihat bagaimana Jiyeon bertutur kata disertai tatapan penuh intimidasi, Minho tau.. dia sudah kalah.

Setidaknya, dia sudah mencoba berperang.

“Aku hanya berusaha, tapi sepertinya usaha ku sia-sia.”

“Ya. Jadi menjauhlah.”

Bersamaan dengan kata itu, hujan makin deras disertai petir. Sosok Jiyeon kembali hilang bersama mobil yang membawanya pulang. Dinginnya malam yang menusuk tulang, tidak membuat Minho beranjak pergi. Jiwa nya kosong, harapannya terbuang sia-sia.

Putri hujannya pergi bersama harapan yang ikut menghilang. Menyerah tidak pernah berada di kamus besarnya, kata menyerah hanya di peruntukan untuk pecundang. Baginya, apapun yang dia mau.. harus di dapatkan. Tapi Jiyeon berhasil meruntuhkan pertahanan Minho, membuat Minho menjadi seonggok pecundang jalanan, pengemis cinta putri raja.

Tangannya mengepal, rasa sakit menyusup ke tulang rusuk. Selesai, benarkah?

Listen to the rhythm of the falling rain
Telling me just what a fool I’ve been
I wish that it would go and let me cry in vain
And let me be alone again
The only girl I care about has gone away
Looking for a brand new start
But little does she know
That when she left that day
Along with her she took my heart
Rain please tell me now does that seem fair
For her to steal my heart away when she don’t care
I can’t love another when my hearts somewhere far away
The only girl I care about has gone away

.
.
.
.
.
.
.

“Dia teman mu?” Tuan Choi bertanya setelah Jiyeon masuk kedalam mobil, Jiyeon masih setia dengan kebisuannya. Memandang tetesan air yang memenuhi kaca jendela, “aku selalu melihatnya bersama mu akhir-akhir ini.”

“Bukan.”

Kali ini tuan Choi mengelus lembut kepala putrinya, pandangannya menerawang ke masa lalu. Dimana keluarga mereka yang masih lengkap dan selalu berisi canda tawa. Semua berubah, berkat yang namanya pencitraan. Tapi dia tidak pernah menyesal, sungguh. Dia berpikir positip, baginya itu adalah takdir yang memang sudah di gariskan. Lebih baik seperti itu, dari pada kedua anaknya terus terperangkap dalam lubang dosa.

“Buka hati mu, nak. Sampai kapan kau terus seperti ini?”

Sampai kapan? Jiyeon tidak pernah tau jawabannya. Sejujurnya dia lelah, lelah dengan semua kesemuan tidak berarti. Dia sedih, sedih melihat orang-orang terkasihnya ikut sedih. Dia ingin tersenyum, menunjukkan pada dunia bahwa dia baik-baik saja. Dia kuat dan mampu, tangannya ingin terulur menghapus kesedihan di mata orang terkasih. Nyatanya, untuk menghapus air matanya sendiri saja terasa sulit.

“Aku… tidak tau.”

Akhirnya hanya kata ambigu yang terucap.

                    Rainbow After Rain

Sudah seminggu lebih Jiyeon absen dari kegiatan rutinnya. Tapi hatinya tidak tenang, dia tipikal gadis yang tidak bisa melukai perasaan orang lain. Kemarin, hanya karena emosi sesaat dirinya meluapkan apa yang seharusnya tidak dia luapkan. Hanya karena wajah itu mirip dengan Siwon, Jiyeon tidak suka itu. Tidak suka saat secercah harapan muncul akibat rupa yang sama-sama rupawan.

Dia tidak ingin menyesal, tidak ingin mempermainkan hati orang lain dengan menganggap dirinya sebagai sosok Siwon.

Hanya pengganti.

Jiyeon tidak pernah ingin seperti itu.

Tapi, kenyataan berkata lain. Dia tetap mempermainkan bahkan melukai hati orang lain, lewat perkataannya. Itu yang membuat pikirannya terus terusik dan merasa terbebani.

“Kau jadi kesana? Kua sangat pucat, lain kali saja ya?” Jiwon berkata sambil membetulkan letak syal merah jambu di leher Jiyeon. Kontras dengan dress putih kebanggaan gadis itu, tapi dia masih terlihat cantik, “aku ingin meminta maaf.” Jiyeon tersenyum tulus. Merasa dirinya harus mulai berubah, dimulai dengan permintaan maaf pada Minho.

Nyonya Choi tiba-tiba menyela sambil memeluk erat putrinya, “lakukan apa yang menurut mu baik. Eomma senang kau mulai mau membuka diri.”

Jiyeon memberikan senyum terbaik sebelum akhirnya pergi, meninggalkan Nyonya Choi dan Jiwon yang terus memandangi punggungnya.

“Semoga Minho bisa membuat Jiyeon kita kembali.”

Jiwon mengangguk setuju.

.
.
.
.
.
.

Hujan masih setia mengguyur kota Seoul, membuat sebagian orang memilih bermalas-malasan di balik selimut tebal. Tapi gadis ini, gadis yang sudah di hafal penunggu jalan Gangnam masih berdiri tegak walau langit menghitam seram, dia masih setia. Menanti sosok itu datang.

Harapan tinggal harapan. Jiyeon merasakan hatinya tertusuk ribuah jarum mistis. Jika di pikir, Minho tidak lah mirip dengan Siwon. Minho memiliki mata yang lebih besar, hidungnya besar dan mancung. Wajahnya sedikit bulat dan bibirnya tebal. Sifatnya juga jauh berbeda, sejak kapan Jiyeon bisa mendiskripsikan orang seditail itu? Kapalanya menggeleng, mengusir halus pikirannya yang melayang antah berantah.

Tapi kekecewaan makin menjadi, sosok Minho benar-benar tidak hadir.

I can’t forget you when you’re gone
You’re like a song
That goes around in my head
And how I regret
It’s been so long
Oh what went wrong
Could it be something I said?
Time, make it go faster
Or just rewind
To back when I’m wrapped in your arms

“Maaf,” terbang bersama desau angin malam.

Malam itu, Jiyeon sekali lagi merasakan apa itu patah hati.

Di ujung jalan, pria jangkung memakai jeans belel dan kaos hitam di lapisi jaket jeans terus memandang fokus kesatu arah. Ke seorang gadis yang tidak bisa di temui seminggu lebih. Menghindar, dan itu karenanya. Maka biarlah dia kembali menjadi pengecut yang hanya bisa memandang dari jauh, bermimpi bisa dekat.

Rain won’t you tell her that I love her so?
Please ask the sun to set her heart aglow

Matanya kemudian terbeliak saat sosok itu menangkap pantulan dirinya, Minho sudah bersiap pergi menghindar. Tapi sosok itu dengan cepat berteriak memanggil namanya. Dadanya kembali berdesir, Jiyeon selalu bisa membuat jantungnya berhenti mendadak. Dia bisa mati jika terus seperti ini, “aku menunggu mu.” Kata Jiyeon sambil tersenyum tulus, suaranya yang renyah membuat Minho ingin menghentikan waktu.

Kesadarannya kembali muncul, “apa maksud mu?”

Jiyeon tersenyum sambil mengulurkan tangannya, “nama ku Choi Jiyeon, maafkan aku. Dan ayo kita mulai dari awal.” Nadanya ceria, tidak seperti biasa. Minho bersumpah wajah nya terlihat absurd disertai ekspresi bodoh yang justru membuat kadar ketampanannya bertambah.

“Hey, kau tidak mau berteman dengan ku?” Tanya Jiyeon, bibirnya mengerucut lucu dan tangannya langsung di turunkan. Melihat itu Minho segera meraih tangan Jiyeon dengan kedua tangannya, mengayunkan semangat membuat Jiyeon tertawa senang, “bahkan lebih dari teman pun aku mau.” Gadis itu tertawa lagi, tapi kini lebih terlihat malu-malu.

“Kau mau memaafkan ku? Karena perkataan ku waktu itu.”

“Aku tidak pernah marah, sungguh.”

Senyum Jiyeon menjadi candu untuknya mulai saat ini. Senyumnya mampu membuat bulu kuduknya sedikit berdiri, dia merasa bodoh. Ya, mengingat Jiyeon adalah cinta pertamanya.

Minho ingin memecahkan teori yang mengatakan; cinta pertama selalu gagal. Karena, Minho percaya takdir. Takdir yang membawanya bertemu dengan Jiyeon, dan takdir juga yang membawa Jiyeon menghampirinya.

Mereka berdua menengadah saat merasakan sesuatu yang dingin menyentuh kulit tangan mereka yang masih bertaut, “salju?” Keduanya tertawa canggung bersama.

“Ini salju pertama kita ‘kan?” Tanya Minho dan dibalas senyuman Jiyeon disertai anggukan samar.

Tiiinn

Bunyi suara klakson mobil membuat mereka melepas tangan terkejut. Itu mobil jemputan Jiyeon, gadis itu sekali lagi memberikan senyuman terbaik dan pamit undur diri, “aku pulang ya.”

Minho mengangguk canggung sambil menggaruk tengkuk yang tidak gatal, dia mengangguk membuat Jiyeon langsung berpaling menuju mobil, saat tangan mungil Jiyeon hampir membuka pintu, Minho buka suara, “Jiyeon..”

“Ya?”

“Kita.. bisa bertemu lagi?”

Kembali tersenyum dan Minho kembali di buat merona, “tentu, kapan pun kau mau.”

Jackpot.

Terimakasih Tuhan, atas semua makhluk ciptaan mu yang paling indah.

“Dah..”

“Dah.”

Never imagined we’d end like this
Your name, forever the name on my lips

                     Rainbow After Rain

Semua terjadi begitu cepat, saat-saat pendekatan yang membuat Jiyeon merasakan perasaan baru. Perasaannya yang terasa lebih normal. Dia ingat betapa paniknya saat dirinya memperkenalkan Minho sebagai teman, kemudian Appa nya berceletuk, “hanya teman? Aku pikir kalian sudah berkencan.” Tidak terbayang seberapa malunya dirinya, ditambah ke isengan para sepupu nya yang terus menggoda ini itu,

“Kalian cocok,”

“Kau pungut dimana manusia setampan ini? Aku mau satu.”

“Lihat, akhirnya putri hujan menemukan pelanginya.”

“Aku siap menendang bokongnya jika dia berani menyakiti mu.”

“Sempurna!”

Dan bagaimana Madam Choi untuk pertama kalinya memberikan senyum hangat untuk orang asing, Jiwon terus memberikan petuah hingga bosan mendengarnya. Dan Nyonya Choi yang bersemangat bertemu dengan kedua orang tua Minho, terus seperti itu hingga pertemuan keluarga terjadi.

Saat itu, status mereka masih sebatas teman, –teman dekat.

Disini Jiyeon berada, bukan di pinggir jalan dengan dress putih gading, sepatu perak serta payung bening ber-background hujan.

Dia cantik dengan pakaian hangat khas musim dingin, duduk di tengah taman yang tertutup salju. Bersama Minho di sampingnya. “Apa jawaban mu?” Tanyanya setelah panjang lebar mengungkapkan apa yang dia rasakan, menanyakan apa yang Jiyeon juga rasakan. Hingga sebuah pertanyaan terlontar yang membuat jantungnya kembali menari-nari.

“Ya.”

Satu kata sederhana, tapi memiliki banyak arti kata. Minho berbinar senang dan langsung menarik Jiyeon untuk segera dia peluk, gadis itu awalnya terkejut namun berganti menjadi tawa bahagia begitu mendengar Minho yang terus berkata betapa senangnya dia, betapa dia sangat mencintai Jiyeon.

Minho melepaskan pelukannya walau enggan, mencoba menarik mata mereka untuk bertatap. “Aku mencintai mu,” kata Minho.

“Aku juga mencintaimu.”

“Boleh aku, emmm… mencium mu?”

Hening, suasana terasa awkward. Tapi semua berubah saat Jiyeon mengangguk malu-malu. Mata mereka terpejam dan jarak semakin tipis, hingga bibir mereka menempel. Merasakan ada sesuatu yang menjalar keseluruh tubuh dan menumpuk di rongga dada. Bibir mereka yang awalnya terasa dingin perlahan berubah suhu menjadi hangat.

Oppa, aku bahagia kini. Aku harap, kau bahagia disana.

He kissed my lips
I taste your mouth
He pulled me in
And, I happy tonight

“Aku benar-benar mencintai mu, Choi Jiyeon.”

But yesterday’s gone
We gotta keep moving on
I’m so thankful for the moments
So glad I got to know ya
The times that we had
I’ll keep like a photograph
And hold you in my heart forever
I’ll always remember you

Fin.

A/n: buat yang nyadar, a/n nya baru gue masukin /o\ cuma mau cerita aja sih, jadi gue kan kena wb ya, sumpah tulisan gue ancur banget pokoknya. Akhirnya gue ngubek-ngubek novel tuh, dan TARAAAA semoga feel nya nyampe ya. Dan pas gue lagi asik-asik ngetik, tbtb temen gue dateng ngajak tahlilan (doain ya semoga mama temen gue tenang disana. Aamiin.) Daaannn seketika ide gue buyar, tapi untungnya pas pulang walaupun malem banget, gue bisa nyelesain ini! Yeay👏 gue juga udah nyiapin mc nih, minji. Sumpah gaada galau-galauan lagi, gue juga ikut baper soalnya😂. Temanya sih anak remaja gitu, spoilernya hmmmm, rahasia. Hahaha

Advertisements

Author:

If you Jiyeon fans, you must stay here. but, if you hate my fav idol..you must go on without drama. thx

35 thoughts on “Rainbow After Rain

  1. Yeeeaaah ada lanjutan nya,, siwon nya meninggal ?bagus lah :v walaupun jiyeon nya terpuruk setidak nya dia bertemu minho yng ga nyerah buat dapetin nya,,kluarga nya tau tpi mereka diam ,karna melihat kondisi jiyeon yang shock.benar” kluarga yang pengertian ,,

  2. Akhirnya jiyeon bisa membuka hatinya 🙂 🙂
    ini minho juga dia membangkitkan jiyeon dari keterpurukan’y selama ini 🙂

  3. ya ampun saeng,padahal q sempat berpikir buat lanjuti sequellnya langsung dg minho,hampir mirip maksudnya jiyeon jadi normal,buat namja kedua yaitu minho..tapi yg q tulis kemarin kalau siwon dan jiyeon bukan saudara kandung..tapi lebih suka ini..
    kyaa walau jiyeon dipairing dg namja lain minho tetap jadi pemenangnya..hahaha kereeen..
    oh saeng kamu ikuti ff nya nillaaghasi gak?sekarang udah aktif lagi lho?

  4. si jiyeon dingn bgt ya… tp minho ttp ngjar2 walau harus pth hti. ah dan happy ending, seneng mrk brg krn ini hub yg sehat dan semua org jg bahagia kn.

  5. keluarganya jiyeon meriah bgt…
    sprti yg tuan choi blang mmg ini jln trbaik agar mreka tdk trjerumus lbh dlam di jln dosa..

  6. Hahaha minho Kuat!!
    Gak berhenti sebelum mendapatkan jiyeon:)
    Akhirnya jiyeon bisa lepas
    Juga dari bayang bayang siwon:)
    Pokoknya ditunggu ya tulisan” kamu apalagi yang Minji:3
    Fighting&Hwaiting!!

  7. kerennn thorr lanjutannya. mian baru bisa comment di part yg ini.. heheheh
    akhirnya jiyi bisa move on dari siwon. gak sia2 perjuangannya minho untuk narik perhatiannya jiyi. 🙂

  8. happy… ah minho karakternya jarang bnget yg kayak gitu ke yeoja… suka deh sama karakter nya disini…. ditunggu ff minji lagi thor..

  9. Test test test 📢📢
    Mdh2an comment kali ini masuk ya

    Yeayyyyy jiyeon bisa move on
    Dan perjuangan minho ga sia2 deh
    Setelah sebelum nya bersedih2 dan bergalau ria sekarang bisa senyum2 deh

  10. Saeng smp ngs bcx.. miris bngt bayangin hdp jiyi yg hampa kyk gt.. hny dy yg tau gmn sktx.. huhu.m untung aja choi keroro brthn trs.. kekeek jjong smp frustasi liat minho ga knal jiyi kwwkwkwk.. akhrx happy end.. syng yah siwonx ga ada.. hikzz.. kasian..

  11. Ini ff lanjutan nya jiyeon siwon ya?? Tpi akhirnya end nya jiyeon ma minho dan jjur gw terharu pas baca yg trakhir :-” nyampe nangis, tpi nangis bahagia 🙂

  12. Akhir’a happy buat Jiyi walau tidak bersama Tuan Simba tapi bersama Tuan Kodok Tiang tapi tak pe lah kan si Menong titisan dari Tuan Simba

    Bener” salut sama perjuangan Menong buat deket sama Jiyi dan pling kocak saat si Jamong sampe gila sendiri karna si Menong hanya tau wajah’a tapi ngak tau nama Jiyi kocakkk

  13. woahh seneng bgt ending nya , ngeliat keluarga mereka akrab bgt ya saling pengertian gitu ..
    minho emg bner2 cocok buat jiyeon ..
    jiyeon akhirnya bisa relain siwon ..
    kerenn chingu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s