Posted in Oneshot

Punish

image

Angin bertiup menerbangkan dandelion, hamparan rumput hijau saling menari mengikuti arah angin. Hanya kicauan burung yang terdengar bagai senandung di sore hari yang senja. Seorang gadis tengah terduduk di hamparan rumput hijau, mata sekelam malam nya menyiratkan berbagai emosi tidak berararti. Tangan mungil nya meraba sebuah gundukan disertai kata-kata mutiara.

Terkadang, manusia hanya bisa merencanakan. Tapi takdir lah yang berbicara. Pernah mendengar jodoh di tangan Tuhan? Itu berarti jika jodoh setiap manusia sudah di tentukan jauh sebelum mereka lahir. Mungkin sebagian orang berusaha untuk mengubah takdir dan menentukan jodoh nya sendiri. Memang, tidak ada yang tidak mungkin jika kita berusaha. Tapi lain cerita jika itu menyangkut dosa. Sampai kapan pun dan sekeras apapun mereka berusaha.. tetap takdir yang akan menang. Sekeras apapun manusia menentang garis nya, maka dia harus bersiap menanggung akibatnya.

.

Every Second With You Sequel

.

Choi Siwon and Park Jiyeon

@siskameliaaa present..

.
.
.
.
.
.
.
.

Siwon Pov.

Aku terus menciumi wajah Jiyeon begitu kami sampai di apartemen ku. Dia begitu manis dengan dress berwarna biru laut selutut, sejak acara perjodohan di deklarasikan aku merasa suhu tubuh ku meningkat. Jiyeon mengalungkan kedua tangannya di leherku saat kami mulai terjebak ciuman panas, aku tau dia begitu emosi dan kecewa. Punggung nya membentur dinding saat ciuman kami mulai tidak terkendali, pipi ku merasakan sesuatu yang basah sehingga menyebabkan sensasi lain. Aku menatap nya sendu begitu bibirnya mengisak kecil, “jangan khawatir, aku akan segera membawa mu pergi dari sini.” Dia hanya terus menatap ku sambil memohon dan aku langsung membawanya kepelukan ku.

Sampai kapan pun, aku tidak mungkin melepaskan Jiyeon.

                                     Punish

“Sayang, malam ini keluarga Kim akan datang.”

Mata Jiyeon segera berotasi untuk menatap ku, aku jelas tau arti tatapan itu. Maka sekuat tenaga aku memberikan seulas senyuman untuk membuatnya tenang sesaat, sudah cukup melihat Jiyeon selama dua hari ini mengurung diri di apartemen ku dan menolak untuk bertemu orang-orang, aku tidak pernah bisa melihat Jiyeon yang selalu ceria mendadak menjadi gadis pendiam bagai pantonim. Eomma masih terus mengembangkan senyumnya tanpa perduli bagaimana mimik wajah Jiyeon, “Eomma berani bertaruh kau akan menyukainya, dia sangat tampan.” Kata Eomma lagi, Jiyeon mendengus sesaat kemudian dia pergi tanpa sepatah kata.

“Eomma pikirkanlah perasaan Jiyeon,” Eomma cemberut dan untuk pertama kali nya aku merasa tidak perduli, “Eomma hanya ingin yang terbaik untuk Jiyeon.” Aku hanya bisa diam mendengar kekeras kepalaan Eomma, biarkan saja dia bahagia untuk sesaat sebelum aku benar-benar membawa Jiyeon pergi dari sini. Saat itu terjadi, semua akan berputar terbalik. Dimana Jiyeon yang tersenyum bahagia, dan mereka yang terdiam sedih. Saat Eomma mulai membuka mulutnya kembali aku memutuskan untuk pergi dan menemui Jiyeon,

“dasar tidak sopan.”

Menjadi seorang konglomerat tidak lah seenak yang terlihat, kau harus selalu terlihat menawan dan mencapai titik kesempurnaan, Jiyeon salah satu nya. Eomma selalu ingin yang terbaik untuk nya hingga memutuskan mencari calon yang menurutnya baik. Tidak perduli sekeras apapun Jiyeon menolak, pada akhirnya tetap Eomma dan Appa yang memutuskan.

“Hey,” aku langsung mengunci Jiyeon didalam pelukan ku saat melihatnya sedang berdiri menghadap jendela besar, “apa yang kau lakukan?” Dia hanya diam memperhatikan tetesan air hujan sehingga membuat kaca itu berembun buram, Jiyeon membalik tubuhnya dan langsung memeluk pinggul ku sambil membenamkan wajah nya di dada ku yang bidang. Untuk sesaat suasana terasa sunyi dan hanya suara hujan serta petir yang terdengar, “oppa tidak akan menyerah ‘kan? Oppa sudah berjanji untuk membawa ku pergi dari sini.” Rajuknya.

“Memangnya aku sudah gila dengan merelakan mu untuk si Kim bodoh itu?”

Jiyeon mendongak dan aku langsung mencium pelipisnya, “aku hanya takut hidup tanpa mu.” Aku juga takut hidup tanpa mu.

Jika ada sebuah benda ajaib yang dapat mengabulkan satu permintaan, maka sampai ke gurun sahara dan melewati segitiga bermuda pun aku rela. Asalkan aku bisa merubah status kami, bukan saudara kandung. “Kau tau aku lebih baik mati jika tidak bisa hidup bersama mu.” Kembali aku mencium pelipis nya dan turun ke pangkal hidung, setelahnya bibir ku mulai bermain dengan bibir kenyal milik Jiyeon, “kalau kau mati, aku siap memotong denyut nadi ku. Karena bagi ku, kau lah alasan kenapa denyut nadi ku tetap terhubung.” Aku tidak mungkin tidak terharu mendengar perkataannya, setiap kata yang terucap dari bibir nya merupakan mantra sihir yang selalu membuat udara di sekitar tubuh ku meluap hingga menciptakan rona kemerahan di kedua pipi ku, hangat.

“Aku tidak tau kau pandai berpuitis.” Aku terkekeh dan dia cemberut, aku senang melihat nya mulai menunjukkan ekspresi selain datar, dia jauh terlihat lebih hidup. “Kan aku tertular Oppa.. hehe.” Cengirnya, aku kemudian menggelitik tubuhnya hingga oleng dan menciptakan lantunan suara merdu yang keluar dari mulut mungil gadis yang ku cintai, Jiyeon terus tertawa hingga aku ikut tertawa dan kami jatuh bersama di atas kasur queen size ber-bedcover bunga sakura yang sedang bermekaran.

“Haahh Oppa aku lelah.” Dia masih tersenyum, tangannya menyatu dengan tangan ku dan dia mengangkatnya tinggi menjutai ke langit-langit kamar membuat ku tersenyum samar, sampai kapan pun aku tidak akan bisa melupakan setiap moment yang kami ciptakan, karena menurut ku melupakan setiap moment ini adalah sebuah kiamat kecil. “Ayo kita berjanji,” katanya saat tangan kami sudah turun, “berjanji bahwa kita akan terus bersama sampai maut yang memisahkan.” Jiyeon menjulurkan jari kelingkingnya kedepan wajah ku, untuk sesaat aku hanya bisa tersenyum melihat kelakuannya. Tapi pada akhirnya justru aku tidak bisa menolaknya, kelingking ku ikut terjulur hingga jari kami saling mengikat, “janji.”

                                   Punish

Sisa hujan tadi siang membuat malam ini begitu dingin, aku tidak tau kenapa akhir-akhir ini menjadi pria yang begitu puitis. Jiyeon sudah menularkan nya pada ku. Tapi aku sungguh jujur jika cuaca malam ini sama seperti hati ku yang dingin dan sunyi. Melihat bagaimana tatapan pria itu saat melihat Jiyeon, aku dapat memastikan jika dia mencintai adik ku. Kemudian aku melihat Eomma dan Appa sudah terlarut dalam perbincangan dan Jiwon sedang berusaha akrab dengan pria itu. Hanya aku dan Jiyeon yang bertahan untuk tutup suara, suasana terasa membosankan.

Jiyeon memanglah Jiyeon, dia selalu punya cara sendiri untuk menarik perhatian kami. Gadis itu berkali-kali menguap sambil berusaha membesarkan matanya agar tidak tertidur, kemudian begitu aku mengalihkan perhatian sebentar dan kembali melihat Jiyeon.. gadis itu sudah tertidur di senderan sofa, melihat hal itu Eomma dan Appa hanya bisa menggeleng. Jiwon sudah menutup mulutnya menahan tawa, dan pria itu beserta kedua orang tua nya justru merasa lebih tertarik. Sial! Harus nya mereka ilfeel karena kelakuan Jiyeon, dan harus nya juga mereka merasa jika attitude Jiyeon sangat buruk.

“Kau benar Kiho, dia sangat menggemaskan.” Tua bangka menjijikan.

“Biarkan aku yang membawanya ke kamar, Ahjumma,” aku melotot ngeri, tidak akan aku biarkan pria itu menyentuh gadis ku. “Tidak usah, biar aku saja.” Sela ku sambil buru-buru bangkit untuk memindahkan Jiyeon.

“Biar Woobin saja, Siwon.” Tekan Eomma, aku hanya melirik lewat bahu tanpa niat menurut, aku sudah menyelipkan tangan ku di bahu dan bawah lutut nya saat Appa mulai angkat bicara, “Choi Siwon.”

“Appa, Jiyeon tidak suka disentuh pria asing.” Kata ku sambil membawa Jiyeon pergi, aku masih bisa mendengar sedikit kata-kata yang mereka debatkan dan aku lebih memilih untuk menulikan telinga, sampai ada suatu kalimat yang membuat telinga ku memanjang seperti kelinci, “itu justru semakin membuat ku menyukai nya, Ahjussi.”

Potong lidah ku, se-ka-rang.

.
.
.
.
.
.
.
.

“Bagaimana semalam? Dia tampan ‘kan?” Tanya Eomma, dia menjadi satu-satu nya orang yang ingin aku jauhkan dari Jiyeon, setiap kali kami berkumpul dia terus membahas pria itu, ini masih pagi dan kami sedang sarapan, tapi Eomma membuat pagi ku terasa sangat menyebalkam saat membahas topik tersebut, “Oppa jauh lebih tampan,” cuek nya sambil menggigit roti gandum, aku mencintai mu Jiyeon.

“Mungkin dalam kasus ini, ya. Aku mengaku jika Siwon jauh lebih tampan.” Tambah Jiwon, dan sekarang aku menyayangi adik ku itu, aku bisa tersenyum bangga gini, “oh tentu, aku jauh lebih tampan.”

“Tapi Jiyeon tidak mungkin menikah dengan si tampan ini, Woobin juga tidak kalah tampan menurut ku.” Dan sekarang aku merasa Jiwon lah musuh terbesar ku. Eomma dan Appa tertawa, sementara aku dan Jiyeon langsung melirik dan kami memiliki sebuah arti tatapan yang sama.

“Kalau begitu, Eonni saja yang menikah dengan Woobin.” Jiwon tersedak dan aku tertawa girang dalam hati, Jiyeon memang yang paling luar biasa.

“Aku ‘kan sudah punya Seunggi Oppa jika kau lupa.”

“Putus saja, aku bisa membantu mu putus. Eonni..” Jiwon terlihat kesal, tapi aku tau Jiwon tidak benar-benar kesal. Dia hanya merasa tidak percaya dengan perkataan Jiyeon, begitu pun dengan Eomma dan Appa yang langsung terdiam. Tapi yang terjadi selanjutnya justru Jiyeon malah menunjukkan cengirannya, “aku bercanda.” Dan mereka kembali tertawa seolah hal tadi benar-benar lelucon.

Tidak seharusnya aku begini, disaat rapat para direksi diadakan aku justru larut dalam pikiran abstrak. Otak ku berpikir sesuatu tapi khayalan ku menjalar kemana-mana. Alasannya simple, hari ini Eomma memaksa Jiyeon untuk berkencan dengan Woobin, hal itu bisa membuat Woobin mencuri kesempatan. Otakku berpikir bagaimana cara merusak kencan mereka, mengingat Appa selalu membuntuti ku untuk terus ikut dalam pertemuan bersama klien yang justru membuat ku semakin depresi.

Aku mungkin harus percaya pada Jiyeon, andai saja dia memberi kabar. Aku terus berpikir apa yang sedang mereka lakukan, apa Jiyeon akan melakukan hal yang sama pada saat berkencan dengan ku? Kepala ku menggeleng singkat. Jiyeon bukan tipe gadis seperti itu, mengingat Jiyeon yang sama sekali tidak memberi kabar justru semakin membuat ku dilanda kewaspadaan. Aku hampir saja mencuri kesempatan untuk mengirim pesan singkat padanya, tapi tatapan Appa yang memperingati membuat ku terpaksa memasukkan kembali handphone kedalam saku.

Sabar, Choi Siwon.

Berkali-kali aku berusaha menguatkan diri, nyatanya pikiran itu tidak bisa hilang dengan mudah. Aku tidak pernah siap ditinggal Jiyeon, satu hal yang menjadi inti kecemasan ku adalah; Jiyeon sadar akan dosa yang kami lakukan, lalu dia mencoba memperbaiki diri bersama Woobin.

Pria itu adalah pria terakhir yang mendapat restu ku bersama Jiyeon, tentu saja setelah aku mati. Selama aku hidup, maka hanya akulah yang pantas bersama Jiyeon.

“Rapat hari ini cukup sampai disini,” aku bersorak girang begitu Appa mengakhiri rapat. Yang aku lakukan kemudian tentu buru-buru keluar dan bersiap menelepon Jiyeon. Tapi sebelum aku menekan tombol hijau pada layar touch screen, handphone ku lebih dulu bergetar.

My Dino

Aku tebak, kau sudah selesai rapat. Jadi aku tidak mengganggu ‘kan? Hari ini begitu membosankan jika kau ingin tau. Aku tidak bisa berhenti memikirkan mu. Aku tunggu di mana hanya ada aku dan kau, dan semua orang hanya seperti semut yang tidak pantas di takuti.

Oppa, saranghae :*

Aku memang tidak pernah salah memilih gadis untuk dicintai. Setelah Jiyeon berhasil membuat perasaan ku menghangat, tangan ku dengan lincah merangkum sebuah kalimat.

Persiapkan dirimu, sayang.

Jeongmal saranghaeyo :*

.
.
.
.
.
.

Langit senja menembus cakrawala, sinar oranye nya menusuk jiwa. Aku bisa melihat bagaimana cahaya oranye yang terpantul kaca besar menghiasi wajah Jiyeon hingga ia terlihat seperti dewi yunani yang baru turun dari singgasana. Tampilannya sungguh sederhana dengan dress hitam tanpa lengan sebatas paha, rambutnya tergerai lembut dan tangannya dengan lincah bergerak abstrak diatas kertas putih, tatapannya menembus keluar jendela, dimana banyak gedung bertingkat dan kendaraan berlalu lalang.

“Apa yang kau lukis?” Tanya ku setelah mencuri kesempatan untuk mencium pipi nya, “hanya melukis gedung bertingkat di depan.” Ia sungguh merendah, yang aku lihat jauh dari apa yang dia katakan. Dia memang melukis sebuah gedung, tapi diatas gedung itu ada sesosok gadis dengan satu sayap, dan dibawahnya terdapat dasar tak berujung. Kemudian di langitnya terdapat sebuah lubang besar seperti pusaran air.

Aku tidak pernah bisa mengerti apa arti dari setiap lukisan yang dia miliki.

“Bagaimana kencan mu?” Tanyaku disertai kerlingan menggoda, dia bangkit dan mengalungkan tangannya di leher ku lalu memberikan ciuman singkat di bibir, “jangan merusak suasana hati ku, itu bukan kencan. Hanya pertemuan bodoh tidak berarti.”

Oh, dan aku senang mendengarnya.

“Apa yang dia lakukan?” Aku terkekeh sambil mencium pipi dan bibirnya bergantian saat dia mulai merotasikan mata, “oppa..” rengeknya, yang jelas dia begitu menggoda hingga aku lupa bagaimana caranya untuk berkedip.

Aku kembali menciumnya, “apapun itu, aku tidak akan pernah membiarkannya menyentuh mu seujung kuku pun.”

“dia bahkan tidak menyentuh kuku ku, dia hanya sesekali memegang tangan ku.” Aku rasanya ingin menangis mendengar kepolosannya.

Dia memang paling pandai merusak suasana, sebentar membuat ku senang. Sebentar lagi membuat ku merana. “Aku siap memotong tangannya setelah ini,” dia tersenyum antusias, “aku tidak sabar melihatnya.”

Well, dia memang gadis yang berbeda.

“Oppa..”

“Ne?”

“Kiss me.”

Ugh, aku merasa seperti menaiki rollercoaster. Biasanya tanpa meminta pun Jiyeon akan lebih dulu mencium ku, tapi saat Jiyeon meminta disertai rona merah jelas aku tidak pernah merasa keberatan. Dan aku tergoda untuk mendorongnya ke dinding sambil menciumnya buru-buru. Jiyeon membalas tidak kalah cepat, kami terus bermain lidah sambil sesekali berhenti untuk menghirup udara dengan rakus dan kembali berciuman.

“APA YANG KALIAN LAKUKAN?!”

DEG

Jiyeon dan aku merasakan ketegangan begitu suara familiar terdengar. Buru-buru kami menengok ke sumber suara, dan ugh. Aku merasa lutut ku melemas dan tangan Jiyeon tampak bergetar, “Eonni…”

“Je-las-kan!”

“Apa yang kau lakukan di apartemen ku, Jiwon?”

“JANGAN MENGALIHKAN PEMBICARAAN!”

Jiyeon semakin mengeratkan pegangannya pada tangan ku, dan aku melakukan hal yang sama agar dia bisa tenang. Aku baru ingat, saat dokumen ku tertinggal dan hanya Jiwon yang bisa menolong. Tanpa sadar aku memberikannya sandi apartemen yang harusnya hanya aku dan Jiyeon yang tau.

Bangkai sudah tercium harumnya berkat kecerobohan ku.

“Lepaskan!” Aku bahkan tidak memiliki tenaga saat Jiwon dengan kasar melepaskan tangan Jiyeon dan menyeretnya untuk menjauh, “aku tau kau yang memulai semuanya, Choi Siwon.”

“Eonni ini bukan salah Oppa.”

“TUTUP MULUT MU JIYEON!”

Aku merasa marah saat Jiyeon menunduk takut begitu Jiwon membentaknya, aku saja bahkan tidak pernah berani membentaknya. Jiyeon itu tipikal gadis yang harus selalu di lembuti, sekeras kepala apapun dia. Tetap saja cara ampuh untuk menyadarkannya hanya sebuah kesabaran dan nasehat tanpa teriakan. Dan aku baru sadar bahwa ini pertama kalinya Jiwon membentak Jiyeon, aku tau kami dalam masalah besar.

“Berani membentaknya, kau berurusan dengan ku.”

“Dan kau akan berurusan dengan Appa.”

Aku merasa semakin marah saat Jiwon menyeret Jiyeon pergi tanpa menghiraukan teriakannya yang terus memanggil nama ku, kaki ku melangkah tergesa dan menghalau jalan Jiwon. Kami terlibat pertengkaran besar dengan Jiwon yang selalu menyudutkan ku. Aku merasa payah saat tidak bisa menjawab semua perkataannya, karena semua itu benar. Aku hanyalah pecundang brengsek yang memanfaatkan kepolosan Jiyeon untuk ku miliki. Dan dia juga berasumsi bahwa alasan Jiyeon bersikap kurang baik pada Woobin karena pengaruh ku.

“EONNI SALAH! aku sungguh-sungguh mencintai Siwon Oppa, bagiku.. hanya Oppa yang selalu membuat jantung ku berdebar. Dan hanya Oppa yang membuat ku melupakan masalah lewat perlakuannya.”

“Kau hanya terlalu terbiasa bersamanya, Jiyeon.”

“AKU BILANG EONNI SALAH! Aku dan Siwon Oppa memang terbiasa bersama sejak kecil, tapi aku bisa membedakan apa itu cinta. Aku bukan anak kecil lagi Eonni, aku sudah dewasa dan tau apa yang terbaik untuk ku. Dan Siwon Oppa yang terbaik untukku.”

Jiyeon memang sudah dewasa, perkataannya tadi justru membuat ku bersalah. Tapi melihat kesungguhannya justru semakin menguatkan ku untuk membawanya pergi agar cepat terlepas dari ini semua. Jiwon bahkan tidak dapat berkata-kata saat Jiyeon selesai berkata, tatapan Jiyeon beralih untuk melihat ku, “aku mencintai Siwon Oppa..”

PLAK

“KAU HARUS SADAR DENGAN SIAPA KAU JATUH CINTA!”

“CHOI JIWON!”

“Eonni…”

“maafkan aku Jiyeon, aku melakukan ini karena aku menyayangi mu. Ikut aku pulang.”

“ANIYA! OPPAAAA!”

Aku kembali menghadang Jiwon, tangan ku sudah bersiap untuk menamparnya. Aku benar-benar marah melihat pipi mulus Jiyeon berwarna kemerahan akibat tamparan keras Jiwon, sebelum itu terjadi Jiwon lebih dulu menendang keras perut ku hingga membentur dinding sambil kembali menyeret Jiyeon. Pecundang, tidak berguna! Ya! Aku memang pecundang tidak berguna, sebelum aku merasa seperti manusia terbodoh lagi, aku buru-buru mengejar Jiwon yang membawa Jiyeon.

“Brengsek.”

                                     Punish

PLAK!

Tamparan itu tidak berarti apa-apa saat melihat Jiyeon yang tertunduk sambil menjerit memanggil nama ku, jeritan Jiyeon yang membuat ku merasakan siksaan batin. Aku bahkan merasa tuli saat Appa membentakku dan terus memukul ku hingga aku benar-benar tidak kuat untuk bangkit lagi. Aku terjatuh dan tangan ku terulur untuk mencapai Jiyeon, tapi Jiwon dan Eomma justru membawanya pergi. Menghiraukan teriakan Jiyeon dan teriakan ku.

Aku mendongak, melihat sudah ada dua orang butler kepercayaan Appa, “seret dia pergi. Pastikan malam ini juga dia sudah berada di rumah madam Choi.

Oh tidak, madam Choi adalah satu-satunya orang yang sangat aku takuti. Ibu dari Ayah ku itulah alasan kenapa keluarga ku memiliki jiwa pemimpin yang keras. Aku tidak akan sanggup membayangkan hukuman apa yang akan aku dapat begitu madam Choi mengetahui ini. Jiyeon adalah cucu kesangan nya, jelas dia akan murka melihat cucu kesayangannya terperangkat dalam kelakuan keji yang aku lakukan.

“Aku kecewa padamu, Choi Siwon.”

.
.
.
.
.
.
.
.

“Siapkan paspor dan visa untuknya, aku akan membawanya ke Las Vegas.”

“Aku tidak ingin kemana-mana madam!”

“Tutup mulut mu! Kelakuan mu sudah mencoreng nama baik keluarga.”

“Dan aku akan mempercepat pertunangan Jiyeon dengan keluarga Kim.”

“HALMOENI!!”

Madam Choi memanglah seorang madam, aura nya sangat kuat dan menakutkan. Tapi dia tetaplah Nenek ku, harusnya dia bisa bersikap baik pada cucu nya. Aku memang tidak pernah salah jika mencap beliau sebagai ratu penyihir. Bukan hanya aku, bahkan Jiwon dan Jiyeon pun sependapat. Begitu pula dengan semua sepupu ku, tapi kadang dia menjadi yang paling bijaksana saat kami dalam masalah. Otak ku langsung bereaksi begitu nama Jiyeon terucap dalam pikiran ku, melihat bagaimana keadaannya tadi membuat tubuh ku terbakar. Aku tidak mungkin hanya diam menjadi penonton, tapi aku ingin menjadi sutradara yang mengarahkan bagaimana endingnya.

Diam adalah emas, itu membuat otak ku mencerna dengan baik. Mungkin hal yang pantas aku lakukan untuk saat ini hanya diam. Bukan berarti aku menyerah, tapi aku harus bisa membuat pikiran ku tenang jika ingin cepat keluar dari semua masalah –lari dari masalah. Aku bukan orang bodoh, aku Choi Siwon.. yang akan melakukan seribu cara demi sebuah kebahagiaan.

                                 Punish

Aku harusnya tau bahwa menyelinap diacara sebesar ini bukanlah hal mudah, berhasil lari dari Las Vegas pada hari ketiga dengan mudah justru membuat ku tidak akan takut berbuat seperti ini. Aku sudah setengah jalan, dan aku harus terus melangkah demi mencapat garis finish. Mungkin saat ini madam Choi sudah mendapatkan kabar mengenai diriku yang menghilang, maka aku harus segera membawa Jiyeon kabur.

Jendela kacanya yang terbuka membuat ku berharap lebih, tapi tingginya balkon itu justru membuat ku harus kembali berpikir keras. Disini tidak ada pohon besar ataupun tangga darurat. Memikirkan ini membuat ku semakin frustasi, sudah tidak banyak waktu. Saat mendengar lantunan lagu always on my mind, adrenalin ku kembali berpacu. Itu berarti acara akan segera di mulai.

Sret.

Untuk pertama kali nya dalam sehari aku terus menerus mencap diriku seperti orang bodoh. Begitu melihat sprai yang menjuntai panjang kebawah dan seorang gadis yang berusaha turun, aku meraskan oxygen disekita menghilang ditiup angin malam.

Hap.

Dia Jiyeon, sangat cantik dengan Long dress merah maroon ketat yang memperlihatkan lekuk tubuhnya, bagian bahu belakangnya terbuka menambah kesan menggoda, rambutnya sudah tersanggul rapih, tapi dia masih belum menyadari kehadiran ku yang berdiri tepat dibelakangnya. Dia tampak sibuk mengangkat long dress itu hingga mencapai lutut, dan aku baru sadar dia tidak mengenakan heels, melainkan sepatu kets berwarna putih gading, jelas sangat kontras dengan long dress merah maroonnya.

Satu kesimpulan ku; dia bersiap berlari untuk kabur.

“Ommo!” Kagetnya begitu berbalik, kedua tangannya menutup mulut dan matanya melotot lebar.

“Aku disini, untuk membawa mu pergi.”

“Oppa!!!”

Tidak bertemu Jiyeon selama empat hari seperti tidak bertemu selama empat tahun, kami saling memeluk seperti magnet. Logika ku segera pulih saat mendengar suara teriakan dari kamarnya yang memanggil namanya, “ayo kita pergi dari sini, aku sudah menyiapkan mobil.” Mobil yang sudah aku curi.

“Ya, bawa aku pergi kemana pun kau mau.”

.
.
.
.
.
.
.
.

“Oppa eottoke?? Oppa mereka semakin dekat!” Jerit Jiyeon, brengsek! Aku berusaha membuatnya tenang dengan terus melontarkan kata cinta. Tapi mata ku tidak bisa berhenti untuk tidak melihat kaca spion, dua mobil audi hitam terus membuntuti kami. Itu pasti orang-orang suruhan Appa. Kaki ku bergerak liar menekan pedal gas guna menambah kecepatan.

“Oppa, aku bersunggung-sungguh mencintai mu. Jika kita berdua harus mati, maka aku rela karena aku mati bersama mu.”

Aku menengok marah sambil terus menambah kecepatan, “omong kosong, kita akan hidup bahagia setelah ini. Percaya padaku semua akan baik-baik sa–”

BRAAAKKKK

DUAGHH

                                  Punish

Perubahan langit yang oranye menjadi kelabu tidak lantas membuat gadis itu bangkit, tangannya masih setia meraba sebuah gundukan berbingkai photo sosok pria tampan berlesung pipit. Kicauan burung yang bersenandung indah sudah berubah menjadi suara gagak yang cempreng. Terpaan angin disertai tetes demi tetes air tetap tidak membuatnya berubah pikiran untuk pergi.

“Choi Jiyeon! Astaga, kau membuat seisi rumah panik.” Jiwon berlari tergesa sambil memeluk tubuh mungil Jiyeon yang makin kurus tiap bulannya, tangan kiri Jiwon mengambang diatas kepala Jiyeon untuk menghindari tetesan air hujan yang mulai menderas, sementara tangan kanannya berfungsi untuk memeluk tubuh Jiyeon dan mengangkatnya untuk berdiri, “Oppa kedinginan Eonni..” Jiwon semakin memeluk Jiyeon untuk menguatkan, walau pada dasarnya dia sendiri tidaklah cukup kuat. “Dia baik-baik saja, nanti kita akan mengunjunginya lagi.” Yakin Jiwon, Jiyeon sendiri pasrah saat Jiwon kembali menyeretnya dan masuk kedalam mobil, menembus lebatnya hujan dan meninggalkan Siwon di kedinginan badai, sunyi.

Satu tahun yang lalu, mobil Jiyeon dan Siwon menghantam keras truk hingga mobil mereka hancur terguling. Siwon meninggal di tempat dalam posisi memeluk Jiyeon sebagai pelindung. Tapi Jiyeon masih memiliki napas dan harus koma hingga satu tahun.

Awalnya Jiyeon mengamuk dan terus menyalahkan semua orang atas apa yang terjadi pada Siwon, gadis itu bahkan beberapa kali melakukan percobaan bunuh diri. Hingga sang Ayah terpaksa menyewa beberapa asisten untuk mengawasi Jiyeon.

Di bulan berikutnya, Jiyeon berhenti berontak. Tapi dia menjadi seperti mayat hidup, tidak ingin bicara ataupun makan.

Dibulan berikutnya lagi, Jiyeon mulai membuka suara walau hanya satu patah kata. Setiap hari yang menjadi tujuannya adalah makam Siwon dan sebuah tempat di pinggir jalan. Berbicara seperti orang tidak waras dan terus menceritakan banyak hal, mulai dari hari nya yang menyebalkan, membosankan dan berakhir dengan tangisan sambil berkata bahwa Jiyeon merindukan sosok nya.

Hingga sekarang, Jiyeon terus hidup dalam dunia hitam putih. Bukan abu-abu.

.
.
.
.
.
.
.

Korea terus di guyur hujan setiap harinya, khususnya daerah Seoul. Tapi itu tidak pernah membuat Jiyeon berhenti melakukan hobi nya yang sudah berlangsung selama sebulan ini.

Sosoknya selalu bisa dilihat saat jam menunjukkan pukul lima sore, dan akan menghilang begitu salah satu keluarga menjemput. Mungkin bunuh diri sudah bosan dia lakukan, dan berdiri dipinggir jalan tempat kecelakaannya dan Siwon membuatnya selalu merasa yakin bahwa ada jiwa Siwon yang tertinggal. Dia selalu berharap bisa bertemu Siwon disini, dan Jiyeon selalu mengenakan dress putih gading selutut. Walau modelnya selalu berganti.

Gadis itu masih setia berdiri dengan payung bening yang menutupi kepalanya.

“Wajahmu basah,” kata seorang pria jangkung sambil menyodorkan sebuah sapu tangan, Jiyeon tidak bereaksi. Pemuda itu kemudian berinisiatif mengelap wajah basah Jiyeon menggunakan sapu tangan tadi yang membuat gadis itu tersentak.

Kedua mata mereka bertemu, onyx bertemu onyx. Pria itu sangat tampan dengan seragam bola yang masih melekat di tubuhnya, dia mengenakan payung berwarna hijau emerald dan harum tubuhnya seperti cytrus yang hangat.

“Nugu?” Tanya Jiyeon, dan pria itu tersenyum menunjukkan deretan gigi putihnya yang rapih. Untuk sesaat Jiyeon marasa kerinduannya meluap.

Sosok itu…

Sangat mirip dengan Siwon.

“Choi Minho imnida.”

End?

A/n: oke sebelum kalian pada protes gue mau jelasin. Tadinya gue mau bikin WonJi yang happy ending dengan mereka yang kabur terus hidup dengan banyak anak. Tapi itu mainstream bgt kayanya. Dan gue bikin yang sesuai fakta kehidupan aja, engga selalu loh yang berhubungan dosa berakhir happy. Gilaaaaa semedi dimana gue jadi orang bener kaya gini XD tapi antimainstream kan? GUE KANGEN KALIAN LOH!💋 minggu kemaren sibuk sama RL, bahkan gue gabisa begadang lagi.

Padahal biasanya gue tidur pagi mulu, curhatin Jiyeon sama si Risa. Kita mah gila kalo udah bahas Jiyeon-Yesung. Minji nya minggir sejenak, demi melepaskan Jiyeon dari jeratan si *ehem* haha. Dan gue merasa ini ga maksimal, soalnya gue lagi kena WB parah! Eh itu si abang kenapa nongol? Haha. Ceritanya, pas gue siram kepala pake air dingin, tiba-tiba aja otak gua cair dan muncul beberapa ide, termasuk ide buat MC yang masih berupa tengkorak. Buat yg gasuka sama akhir kisah Wonji, anggap aja ESWY gaada sequel😂

Dan kisah baru segera dimulai *hohoho*

Advertisements

Author:

If you Jiyeon fans, you must stay here. but, if you hate my fav idol..you must go on without drama. thx

30 thoughts on “Punish

  1. Saeng eon ngs bcax huhuhu.. ksian wonpa dy jd meninggal n ga happy end bareng jiyi.. cb mrk ga balapan gt.. huhuumm next dong.m bakal jd minji y? Mdh2an keroro bs bkn baby ji balik lg jd happy ne? Jebal.. pasti ortu mrk gila jg khlangan anakx ckckck ksian huhu

  2. wow entah knp aku suka sma ending nya,klo misal mereka bersatu jd gimana gitu.lebih baik kya ini aja..gak ada sequel? yah pdhl berharap bnyk,tp bkal ada kisah baru ttng mereka ka.,iya kan.

  3. sad ending brakhir tragis,,, tidakkkkkkkkkk gak mungkin gak mau. knp bang siwon aihhhh bkin jd meting sih., knp mrk gak bhgia aja sih. ya ampunnnnnnnnn

  4. minho,? huh walaupun jiyeon siwon saling mencintai tapi @ku juga gk stuju mereka bersama…. yei jadi nya jiyeon ketemu Minho

  5. 😦 😦 kirain wonji bakal bersama :-(tapi ya sudahlah udah takdir mungkin,
    choi yg lain datang tuk jiyeon bangkit lg dari keterpurukan 🙂

  6. wahh tragis bnget 😦
    lebih setuju gini sihh soalnya kan wonji emang saudara kandung jdi g mungkin buat bersatu meskipun aku inginnya mereka bersatu,,
    tpi untungnya ada minho meskipun itu tanggung,,
    g diceritain kisah kelanjutan minji 😀
    mau minta sequel malah di note nya g ada sequell,,,
    ditunggu ff jiyeon lainnya 😀

  7. kok ak mlh setuju ya mereka ga bisa bersama?? #eh…
    bukannya gmn2 tp kn kalo wonji menikah, nah anakny kan kmgkinan bsar bkl cacat, jd mrk psti ga bhgia

    eh ada abang minho… lanjutin dong cerita mrk brdua #minji

  8. Akhirnya sad ending 😢😢 Jiyeon dia berubah sejak siwon meninggal.
    . dikira bakal happy ending dan dikira jiyeon itu bukan anak kandung nya keluarha CHOI tapi itu semua salah 😂😂 haaha…keren…keren.. Deh pokoknya mah…

  9. Jujur aku dah ngeblank mau comment apa ttg ff ini gegera kmrn gagal comment kkkk
    Kirain comment ku masuk spam ehhh ternyata ga

    Aku bingung mau review lagi soalnya ga tega euy bacanya

  10. , walaupun sedih siwon meninggal, tp gak apa lah dripda cinta trlarang.. wach kaya nya minho bkl gnti’n posisi siwon . bgus lah ^^

  11. Aigoo~ udah lama banget eonni gak on, eh taunya siska udah beralih lagi ke Minji wkwkwk
    Kenapa dengan siwon ??
    Kenapa harus mati sih ??
    Kasih eonni aja dehh..
    Saeng, maapin eonni ntar kalo di ff yang lain komennya pendek, ntar jari eonni keriting karena banyak ff yang harus dikomen nihh..
    Tetap semangat yaa ^^

  12. ceritanya lebih baik begini sih , dr pada mereka bahagia tp org2 disekitarnya marah, kecewa , sedihh.. jiyeon berubah menjadi sosok diam kasiann bgt ,
    tp minho datang yeahh jiyeon jgn kaya mayat hidup lg …
    kerenn chingu .
    kaget bgt waktu jiwon datang bener2 gk diduga..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s