Posted in Tokyo Tower

6. Tokyo Tower : Traitor!

siskameliaaa-copy

Poster by Ladyoong @ posterfanfictiondesign.wordpress.com

Story by @siskameliaaa
Pairing : Park Jiyeon and Choi Minho
Genre : Romance, Sad, Hurt, Action
Warning : Typo, abal, OOC, gaje, alur kecepetan,dll.

Iblis saja bisa menyamar menjadi malaikat, lalu apakah malaikat akan menyamar menjadi iblis?

Tokyo Tower

“kau yakin dia, Jiyeon?” tanya seorang gadis berambut merah sebahu, gadis itu duduk amat manis di salah satu deretan kursi yang membentuk sebuah pusaran dan terdapat meja panjang di tengah-tengahnya. Semua mata kini mengarah padanya, menunggu reaksi yang akan dikeluarkan sang gadis. Tidak ada yang berani angkat bicara kecuali gadis itu yang bertanya.

“ne, nona.”

Jawaban tegas dari seseorang yang ia tanyai tadi cukup membuatnya memikirkan suatu hal yang cukup dimengerti oleh orang-orang yang sedari tadi hanya duduk mendengarkan. Seraya paham akan hal yang terjadi selanjutnya, mereka harus memutar otak agar tidak terjadi hal yang tidak diinginkan.
Park Jiyeon, nama yang sederhana namun dapat menciptakan suatu suasana yang sangat berbahaya.

Tidak lama lagi semua akan dimulai, teka-teki serta puzzle yang acak-acakan akan tersusun rapih sedikit demi sedikit. Ada sedikit senyuman tulus penuh kerinduan yang tercipta sesaat setelah suasana kembali benar-benar hening.

Semua mata masih tetap mengarah kearahnya saat gadis itu mulai berdiri dan berjalan kearah kaca besar yang ada diruangan itu, tangannya mengelus pundak seorang wanita paruh baya yang diam duduk dikursi roda sambil memandang keluar, menikmati hamparan bunga dandelion yang ia tanam sendiri demi mengobati kerinduannya untuk seseorang

“aku akan mambawanya untuk menemui mu, dia harus bertanggung jawab atas ini semua.” kata gadis itu sembari tersenyum sendu melihat kondisi wanita paruh baya yang ada dihadapannya itu.

oOo

“ya!! Berhenti kau Park Jiyeon!!!!” teriakan menggema dari sudut-sudut koridor cukup menarik perhatian untuk semua murid yang kebetulan sedang melintas dikoridor, terlebih yang berteriak adalah Choi Minho si atlet tampan pujaan para gadis di Horikoshi Gakuen yang sedang mengejar seorang gadis pindahan bernama Park Jiyeon.

Jiyeon terus saja berlari sambil menarik tangan Sulli, ia tidak perduli jika teman barunya itu cukup kelelahan karena jujur saja lari Jiyeon itu sangat cepat bahkan Minho pun cukup kualahan dan lebih memilih berhenti, sampai akhirnya Jiyeon benar-benar bisa menghindar dan berhenti di balik dinding besar dekat perpustakaan.

“ya!!! Huhhhhh kau mau membunuhku hahhh?”geram Sulli, matanya memandang tajam Jiyeon. sementara Jiyeon hanya tersenyum polos melihat temannya itu kelelahan

“kau tidak lelah hah?ishh kau menyebalkan!!!! Bisa-bisanya kau tersenyum setelah mengajakku berlari seratus kilometer eoh?sebenarnya kenapa kau menghindari Minho Sunbae?” Pipi Jiyeon seketika memerah saat ia membayangkan kejadian ketika Minho ingin mengantarnya dengan hanya menggunakan boxer.

“tsk! kau berlebihan, kita kan hanya berlari dari kantin sampai perpustakaan. Jaraknya tidak sampai seratus kilometer.” katanya kamudian, mata Sulli memutar bosan,

“lalu kenapa kau menghindari Minho Sunbae?” tanyanya lagi seakan tidak senang karena pertanyaan yang sebelumnya tidak dijawab.

“itu..ah aku hanya ingin mengajak mu berlari saja. Olahraga untuk menambah program diet mu.” jawab Jiyeon sembari tangannya menggaruk pipi sembari tersenyum polos.
Mulut Sulli terbuka tak percaya akan jawaban dari teman baru nya itu. Hell… dia memang dalam proses diet, tapi bisakah temannya itu mencari jawaban yang lebih masuk akal?

“huh..aku tidak tau sebenarnya apa yang terjadi, tapi.. ah kau membuatku gila, Park Jiyeon.” Sulli berteriak frustasi sembari mengacak-acak rambutnya dan menghentakkan kakinya berkali-kali sementara Jiyeon hanya menatap bingung tingkah Sulli.

“kau aneh.” kata Jiyeon yang dibalas tatapan maut milik Sulli.

“KAU YANG LEBIH ANEH!!!”

.
.
.

Suasana kelas yang suntuk karena sensei yang mengajar seperti tidak niat membuat Jiyeon memutar alasan agar ia bisa membolos dan menghilangkan kantuknya. Dengan alasan tak logis nya ‘lagi’ yang mengatakan jika dia mendengar panggilan dari wali kelas nya untuk segera keruang guru lewat telepati, dan anehnya sang guru yang memang percaya karena terbius sebuah drama pun akhirnya percaya dan mengijinkannya, akhirnya Jiyeon bisa keluar diiringi tatapan tak percaya dari teman-temannya termasuk Sulli yang hanya bisa membuka mulut sembari matanya melotot tidak berkedip.

“entah sugesti atau apa, tapi jika mendengar ceramah guru pasti mengantuk. Tapi jika sudah terbebas dari guru itu rasanya aku tidak bisa menutup mata.” keluhnya sembari jalan mengikuti kakinya melangkah.
Jiyeon terus saja berjalan mengikuti kakinya, tanpa sadar jika dia sudah menuruni tangga dan melewati kelas Minho.

Hingga..”yaa! kena kau nona Park!” suara berat Minho berhasil membuat Jiyeon menegang, seakan habis di kageti hantu Jiyeon memutar tubuhnya kikuk.

“YA!!! KAU HAMPIR SAJA MEMBUAT JANTUNGKU COPOT!”

“baru hampir dan tidak copot kan?kalo copot aku tinggal menguburmu.”

Mata itu melotot penuh emosi, jika ini sebuah anime pasti sudah keluar asap yang mengepul dari kedua telinga Jiyeon dan ada perempatan siku di dahinya,

“kau menyumpahi aku mati eoh?!” katanya sengit.

“aniya, kalo kau mati kau tidak akan bisa berkencan denganku. Lebih baik kita berkencan dulu baru kau mati.”

“MWOH?!!!” jerit Jiyeon tidak percaya akan kata-kata yang Minho katakan tadi, terlebih pria itu mengatakannya sangat dan amat acuh sembari melipat tangannya didepan dada.

“aku bercanda bodoh. Minggu ini aku tunggu di stasiun Osaka jam sembilan pagi arraseo?ah… jangan telat.”katanya, Minho segera membalikkan badan tanpa perduli dengan kebisuan Jiyeon.
Mata beriris caramel itu mengedip lucu sembari mengatupkan bibirnya yang terbuka.

“YAA!! APA MAKSUDMU?!” lantangnya berteriak, tidak perduli jika akan ada guru yang menegur karena kata-kata Minho yang sepertinya terbilang ambigu susah untuk ia mengerti, walau sebenarnya ia mengerti tapi ia ingin memastikan sesuatu agar tidak salah persepsi.

Minho menolehkan kepalanya tanpa ikut membalikkan badan “itu sebagai permintaan maaf mu karena meninggalkanku tempo hari.” jawab Minho, pria itu lalu membalikkan badan kembali, tapi setelah itu ia tersenyum senang karena melihat reaksi Jiyeon yang semakin melebarkan mulutnya tidak percaya.

“SEJAK KAPAN AKU MEMINTA MAAF EOH?!” jeritnya lagi tak pelak membuat semua pintu kelas terbuka dan memunculkan semua guru dari balik pintu kelas masing-masing. Semua melemparkan tatapan tajam pada satu titik hingga Jiyeon menyadari dan segera berlari mencari aman, dan melihat Jiyeon berlari seperti itu membuat Minho tertawa puas sampai pintu-pintu kembali tertutup terkecuali dengan pintu yang berada tepat disamping dia berdiri.
Seorang pria bertubuh kekar dengan kacamata dan kumis tebal yang menghiasi wajah seramnya masih terus memperhatikan Minho yang belum bisa berhenti tertawa.

“Choi Minho, kau bilang kau ingin ke UKS karena ada masalah dengan pita suara mu?!”kata pria tadi berhasil membuat suara tawa Minho berhenti dan menoleh waspada kearah sumber suara.

Sensei…

oOo

Suara ketikan laptop sangat jelas terdengar didalam ruangan yang cukup sunyi, Keiko memandang serius kearah layar laptop tersebut sembari jari-jemari nya menari indah di atas keyboard. Matanya tidak berkedip sedikit pun seakan-akan objek yang ia lihat benar-benar menarik perhatiannya. Terkadang ia tersenyum, namun terkadang ia menunjukkan mimik wajah sedih. Satu tarikan nafas ia keluarkan sebelum akhirnya ia menutup kembali layar laptopnya.

“tidak selalu orang yang kita anggap baik adalah seorang malaikat, bahkan iblis sekalipun bisa saja jelmaan malaikat.”

.
.
.

Jiyeon Pov.

Menjadi diriku itu tidak mudah, ada saat-saat tertentu dimana kau harus merubah kepribadian mu agar identitas asli mu tidak diketahui. Bukan hanya harus bermain peran layaknya seorang artis, tapi aku juga tidak boleh memiliki perasaan apapun terhadap seseorang. Karena, suatu saat itu akan menjadi senjata untuk ku sendiri.

Kelemahan, yah! Orang sehebat apapun pasti memiliki titik kelemahan tertentu, termasuk perasaan cinta terhadap orang lain. Aku tidak akan perduli jika aku berada dalam bahaya, tapi aku akan jadi perduli jika orang yang aku sayangi berada dalam bahaya karena ku.

Aku tau aku egois karena berani mencintai Minho, tapi aku berjanji bahwa aku akan selalu menjaganya. Tidak perduli jika orang bilang dunia sudah terbalik sekalipun, bagiku apapun yang terjadi dengan Minho nanti, itu adalah tanggung jawabku.

“aku sudah membereskan bukti-bukti yang melibatkan Haruma.” kataku sembari melirik sinis tokoh pembawa masalah dikeluargaku, dia hanya tersenyum bodoh walau aku tahu itu ucapan terimakasih nya untukku. Tapi tetap saja senyumannya itu terlihat sangat aneh.

“apa kau sudah tau perusahaan kita yang berada disebelah barat berhasil direbut keluarga Nakama?”tanya Ibu

Tanpa dia beritahu pun aku sudah tau, dan seseorang yang berada dibalik ini semua tentu saja Osamu sialan itu. Ah berbicara tentang Osamu Mukai, aku jadi sedikit penasaran dengan seorang gadis berambut merah sebahu yang tanpa sengaja aku curi identitasnya dari laci Keiko.

“ya, aku sudah tau.”

“lalu apa rencana mu selanjutnya?”

“serang saja langsung, tunggu apalagi.”

“ey! Tunggu dulu, jika kita menyerang tanpa strategi kau bisa mati ditempat saat itu juga.”

Tsk! dasar pembawa masalah, yang ditanya aku kenapa harus dia yang tidak terima. Ini urusan keluargaku bukan urusan keluarganya.

“ya, Haruma benar. Kita harus memiliki strategi.” aku hanya memutar bola mataku malas, jika tau akan seperti ini kenapa harus bertanya kepadaku?kenapa tidak tanyakan langsung saja dengan si bodoh itu?
Aku sudah cukup kesal dan memutuskan untuk angkat tangan “aku tidak ikut campur.”kataku kemudian.

.
.
.

Hari libur biasanya selalu ditunggu-tunggu para pelajar, terang saja hari libur merupakan surganya para pelajar. Dimana kita bisa mengistirahatkan otak serta tubuh kita, tidak perlu bangun pagi dan berfikir menguras otak. Menggunakan waktu luang untuk bermalas-malasan serta bermain sesuka hati.

“Jinjja!! Kemana dia? Bukankah aku sudah bilang jangan telat!” Minho menggerutu sejak lima menit yang lalu, matanya terus melirik kearah pintu masuk stasiun sambil sesekali matanya melirik gemas arloji yang melingkar di tangan kirinya.
Sambil sesekali jemarinya mengetik sebuah pesan, lalu kerena tidak sabar ia menekan tombol-tombol angka yang sudah di hapalnya luar kepala kemudian menempelkan handphonenya di telinga.

Minho terus seperti itu hingga sebuah tepukan berhasil membuatnya menoleh, matanya melirik gemas sang tersangka “kau kemana saja eoh?!” katanya begitu melihat Jiyeon datang tanpa memiliki beban sedikit pun.

“emm, mianhae aku telat bangun.” jawab Jiyeon polos

“telat bangun?! Astaga Jiyeon!! aku fikir kau kenapa-kenapa di jalan.” tidak percaya Minho akan jawaban Jiyeon yang terbilang sangat-sangat menyebalkan.

Hey! Minho saja tidak bisa tidur semalaman karena ini merupakan kenca pertamanya, walaupun sebenarnya mereka pernah berjalan berdua tapi itu belum bisa dikatakan kencan.

Bahkan saking tidak bisa tidurnya Minho benar-benar tidak tidur semalaman hingga pagi menjelang dan ia segera bersiap-siap karena tidak ingin membiarkan Jiyeon menunggu lama, tapi apa Jiyeon tidak merasakan apa yang Minho rasakan?gugup di saat kencan pertama?

Tapi, sebenarnya Jiyeon pun merasakan hal yang sama. Bedanya karena tidak bisa tidur semalaman paginya Jiyeon malah tertidur sampai tidak mendengar suara alarm dan menyebabkan dia kesiangan.
“mianhae.” kata Jiyeon, tangannya ia satukan sembari kedua matanya mengerjap-ngerjap lucu.

“huh baiklah, kali ini aku maafkan. Tapi tidak untuk lain kali arraseo?”

“ne, Appa.” mata besar Minho melotot sebal saat Jiyeon melontarkan kata ‘apa’, seakan tidak perduli Jiyeon justru mengalihkan pandangannya kearah lain “apa katamu?” tanya Minho sembari menarik paksa pipi Jiyeon dengan kedua tangan besarnya.

“Appa.” ulangnya memperjelas.

“sejak kapan aku menjadi Appa mu? Seharusnya kau panggil aku Chagiya.”

“mwo?! Chagiya?tsk! itu menjijikan. Lagi pula kau cocok dengan panggilan Appa. Sikap mu yang memarahiku persis seperti seorang Ayah yang sedang menasihati anaknya untuk tidak mengulangi kesalahannya lagi.”

“Jinjja Park Jiyeon!!”

“aish! Keretanya sudah mau berangkat. Kajja! Aku tidak ingin tertinggal kereta karena mu”

Jiyeon berjalan lebih dulu masuk kedalam salah satu gerbong, menyisahkan Minho yang masih melotot menatap punggung gadis itu

“Aigoo apa dia tidak sadar jika sudah empat kereta yang lewat begitu saja karena keterlambatannya?!Jinjja Choi Minho kenapa kau harus menyukai gadis sepertinya?!”

oOo

“Jadi mereka sudah merencanakan penyerangan untuk keluarga ini? bukan begitu, Keiko-san?!”

Keiko mengangguk ragu, dia sendiri tidak mengerti kenapa dia memberitahu ini kepada musuh yang dianggap hama oleh Ibu nya. Keiko hanya yakin jika apa yang dia lakukan ini akan menyelamatkan adik nya dari dunia hitam.

Jadi siapa yang penghianat disini? gadis berambut merah sebahu itu tersenyum kecut, matanya memandang bawahannya satu persatu seakan mengabsen dari ujung ke ujung hingga tatapannya terfokus ke satu orang pria berbadan tegap. seringai kecil menghiasi bibir semerah darah itu

Siwon-ssi, lakukan tugasmu!”
Siwon mengangguk paham sebelum akhirnya ia membungkuk memberi hormat, “ne, Lady Park!

.
.
.

“CHOI MINHOOOOO LIHAT LENSA KU BASAH!” Jiyeon menjerit frustasi, hampir saja ia mencekik leher jenjang Minho jika dia tidak ingat banyak sekali orang berlalu lalang dipinggir pantai. Gadis beriris caramel itu hanya bisa menghentakan kaki kesal diatas pasir putih sembari tangannya menggosokan lensa kamera yang ada ditangannya menggunakan ujung tshirt.

Sementara itu Minho langsung menghentikan tawanya begitu tatapannya tertuju kearah perut rata Jiyeon, ia meneguk ludah susah payah, kulit perut Jiyeon begitu mulus dan terawat.. bahkan tidak ada lemak yang menyebabkan perut indah itu menggembung.

“YA!!!! KAU LIHAT APA EOH?!”

BRAAKKK

“e..etto.. a-aniya, aku hanya sedang melihat emm.. melihat kamera mu, hehe.” Jiyeon melotot tidak percaya, sementara Minho mengusap keningnya yang terkena timpukan tas Jiyeon.

“jinjja???”

“ne.” Minho segera bernafas lega saat Jiyeon kembali terfokus dengan lensanya, irama detakan jantungnya begitu kencang, seakan permainan rollercoaster berpindah kedalam jantungnya, meluncur dan terjun begitu cepatnya. Minho tidak mengerti, hanya dengan melihat perut indah Jiyeon saja sudah bisa membuat nya berfikiran liar, bagaimana rasanya jika dia berada dibawahku sambil menyebut namaku? Minho menggelengkan kepalanya cepat untuk menghilangkan fikiran-fikiran negatif yang datang tanpa ia harapkan.

“Choi Minho! kau harus ganti rugi!”

“AKU TIDAK BERFIKIRAN MESUM!!”

“eh?!”

Jiyeon sudah mengeluarkan senyum menggodanya disertai seringai jahir dari bibirnya, sementara Minho makin gugup disertai rona merah jambu di kedua pipi nya.

“kau apa, eh?”Jiyeon semakin menggoda, jari telunjuk nya menusuk-nusuk gemas pinggul Minho seakan lupa dengan nasib kameranya.

“lupakan.” gadis cantik itu tidak menyerah, dia terus saja menusuk-nusukan jarinya disertai senyum menggoda yang keluar dari bibir mungilnya.

“aku bilang lupakan.”kesal Minho

“mesum, eoh? jinjja?”

“YAAA!!” teriakan Minho berhasil membuat Jiyeon tertawa lepas hingga perut nya terasa keram.

oOo

Malam sudah larut, tidak terasa Jiyeon sudah sampai dikediamannya. Gadis itu tidak langsung masuk kedalam kamarnya, melainkan menyiapkan semua alat yang sudah tersedia diruang penyimpanan. Malam ini, ya malam ini dia akan membalaskan dendamnya kepada keluarga Nakama.
Segala peralatan penyamaran sudah melekat ditubuhnya, rambut coklat bergelompangnya kini sudah tergantikan dengan rambut pirang sepinggang, ada sebuah tempelan di pipinya yang membuat kulit seputih porselin itu terlihat cacat dengan luka sayatan di pipi sebelah kanan nya, sarung tangan hitam se sikut telah terpasang, baju hitam tanpa lengan yang terbuat dari kulit khusus pun telah terpasang elok ditubuh gadis itu. Ditambah celana berbahan serupa sudah menutupi sebagian paha mulusnya, menyisakan kaki mulusnya yang tidak tertutupi.

Jiyeon segera mengambil asal samurai yang tergantung di dinding, samurai yang telah membunuh puluhan orang. Bibirnya menyeringai sadis “Osamu Mukai, ucapkan selamat tinggal.”

.
.
.

Jam sudah menunjukan pukul 01.00am, jalanan kota Tokyo sudah mulai lenggang karena berkurangnya aktifitas di malam hari, sebagian dari mereka sedang asik menikmati waktu santai dibalik selimut. Berbeda dengan tiga mobil sedan berwarna hitam yang kini memacu kecepatan diatas rata-rata, disalah satu mobil itu terdapat dua gadis cantik dengan pandangan berbeda satu sama lain. Jiyeon gadis yang sedari tadi diam kini menyeringai atas kediaman Keiko. “Aku harap kau tidak berkhianat, Kakak.”

Keiko semakin bergerak gelisah disisi Jiyeon, tangannya sudah terkepal dan berkeringat. Sesekali ia melirik arloji di tangannya. Menghitung mundur dengan waspada, didepannya ada Haruma yang tidak pernah lepas memperhatikan gerakan mencurigakan Keiko.

Hingga ditempat sepi, mata Keiko mulai terpejam…

BOOOMMMM

Suara ledakan besar tercipta dari arah depan dan belakang, membuat mobil sedan hitam yang berada ditengan membanting stir kesamping guna menghindari api yang muncul begitu besar dari kedua mobil itu. Mata Jiyeon dan Haruma terbelalak seketika, begitu pun dengan supir yang berada disisi Haruma.

Jiyeon lantas keluar tergesa-gesa untuk melihat keadaan kedua mobil tadi disusul Haruma dan sang supir, sementara Keiko harus menormalkan detak jantungnya terlebih dahulu sebelum ikut keluar mobil.

“APA-APAN INI?! SIAPA YANG MELAKUKAN INI?!!” Jiyeon berteriak marah, ia sudah mengeluarkan samurainya sambil memperhatikan sekitar. Tatapannya waspada, kemudian ia menoleh ke Haruma.

“hubungi eomma, kita butuh bantuan.”

“sial! tidak ada sinyal.” keluh Haruma, Jiyeon semakin waspada.

“SIAPA KALIAN? CEPAT KELUAR!!”

DORRR

Hingga sebuah suara tembakan membuat Jiyeon cepat menoleh, matanya kembali terbelalak saat supir nya sudah tergeletak dengan luka tembakan di kepala.

“brengsek! APA YANG KAU LAKUKAN? KENAPA DIAM SAJA EOH?” sial. Jiyeon sudah tidak tau harus bagaimana, gadis itu sangat kesal melihat Keiko hanya diam tanpa berbuat apapun.

“ini ulahmu kan, Keiko-san?” tuding Haruma.

Suasana kian panas, ditempat segelap ini tinggal mereka bertiga.. Haruma dan Jiyeon kini sudah menuding Keiko dengan samurai mereka masing-masing, sementara Keiko hanya diam mencoba tenang.

“APA MAU MU PENGKHIANAT?!” Jiyeon sudah tidak bisa mengendalikan emosinya, bahkan ujung samurainya berhasil melukai leher Keiko.

“TAHAN PARK JIYEON!”

Jiyeon kenal suara ini… ini suara… “Osamu Mukai..

“kalian sengaja?!” kali ini Haruma sudah benar-benar geram, samurainya sudah berpindah kearah Osamu, namun samurai itu berhasil ditepis oleh Osamu sehingga menyebabkan pertarungan sengit diantara mereka berdua.

Jiyeon masih diam tidak percaya, ini ulah Keiko? cih! Jiyeon ingin tertawa, disaat dirinya sudah mulai bisa mempercayai Keiko, jadi ini balasannya?idiot.

TRASSS

Darah segar muncrat kepermukaan wajah Jiyeon, Osamu terbelalak menyaksikan Keiko yang sudah terkapar karena luka tusuk di perutnya. Jiyeon menyeringai keji, kini pandangan membunuh ia tunjukan ke arah Osamu.

“KEIKO-CHAANNNN!!!”

PRANGGG

Kembali suara benturan antar samurai terdengar, kali ini samurai milik Jiyeon yang beradu dengan milik Osamu. Jiyeon sengaja menghalangi tubuh Osamu dengan samurainya, namun berhasil ditepis oleh Osamu. Jiyeon terlalu asik dengan Osamu sehingga tidak menyadari jika ada seorang wanita yang telah membawa Keiko pergi, saat ini Haruma bahkan harus berjuang menghadapi tiga orang pria bertubuh tegap seorang diri.

“JIYEON DIBELAKANG MU!!” jerit Haruma susah payah, pria itu sudah lemas dengan luka tusuk disekujur tubuhnya, Jiyeon berbalik dan mendapati seseorang sudah menodongkan pistol dikepalanya.

“K-au?!”

“Helo, little lady!

Choi..Siwon?

tbc.
acak-acakan?maaf aku buru-buru, comment plis?:

Advertisements

Author:

If you Jiyeon fans, you must stay here. but, if you hate my fav idol..you must go on without drama. thx

14 thoughts on “6. Tokyo Tower : Traitor!

  1. waduhhhh Choi Siwon ????
    ommo… siwon musuh ?
    Ahhh Jinjja sebenernya apa yg terjadihhh!! padhal baru ketawa2 sama momentnya MinJi ~ engga lama lagsung tegang Lagi ><..
    makin seruuu..

  2. Kenapa semuanya pada nyerang balik jiyeon (keiko & siwon).
    Please jiyeon jgn sampai kalah semoga.
    Wah chingumantap ceritanya keren tegang banget 🙂 dirunggu part lanjutannya

  3. jiyi keren bisa bertarung dg menggunakan samurai, inget mv day by day. Minho mana minho mana… Jiyi butuh bntuan

  4. yah makin aja banyak pertumpahan darah .
    minho oppa harus banyak sabar ngadepin jiyi eonni…..
    next part ya….

  5. pnasaran bgt , keiko knapa ngasih tau k nakama rencana nya .
    ishh , trus jiyeon bisa brtahan donk ya . siwon kluarga nakama. jd minho jg donk ,, eh yg mana jahat yg mna baik sebenarnya keren siska ..
    next dtunggu yaa , fighting

  6. Lady park tuh siapa? Udh pernah muncul apa blm? Mian klo aku lupa kkkk
    Siwon musuh??
    Aduhh itu gimana nasib jiyeon?
    Keiko selamat apa ga?
    Dy di bawa sama lady park itu?

    Diawal happy2 ternyata diakhir menegangkan

  7. ha’ !!
    omo omo omo …
    aigooo siwon terlibat juga
    *pegang kepala
    pusing dan bingung

    huhuhu jd ji eonni gmn ?? T.T

    author suka nnton anime ya ?
    ini critany kek cerita d anime yg tiba” buat dag dig dug duarrr/?

    kkkkk izn lnjut baca be thor ^^

  8. Sebenar’a Lady Park itu siapa dan kenapa Bang Simba kerja sama Lady Park bearti Bang Simba sudah tau siapa Jiyi sebenar’a dan kenapa pula Bang Simba manggil Jiyi Little Lady Park hemmm penuh teka teki apa jangan” Lady Park ada hubungan keluarga sama Jiyi dan wanita paruh baya yg ada itu ibu kandung Jiyi duhhh pusing pala ini

    Kocakkk pas Jiyi kabur dari kejaran Menong si Kodok Tiang dan Menong kocak ya alesan ke UKS karena pita suara bermasalah ehhh tapi bisa ketawa keras pas Jiyi teriak keras yg mengakibatkan guru” pada keluar kelas hahahahaha

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s