Posted in Uncategorized

Jealous?

image

Author: @siskameliaaa
Pairing: Choi Minho&Park Jiyeon
Type: Oneshot
Warning: typo, abal, AU, OOC, dll.

Jiyeon kesal karena Minho kekasihnya selalu bersikap acuh, Jiyeon selalu dibuat cemburu karena banyak nya penggemar Minho. Lalu…. apa yang akan di lakukan Jiyeon untuk membuat Minho cemburu?

                               Jealous?

“KYAAA MINHO SUNBAE!”

“MINHO OPPA SARANGHAE.”

“CHOI MINHO FIGHTING!!!”

Suara sorak gadis-gadis siswi Seoul High School terdengar nyaring melengking. Hampir semua gadis meneriaki satu nama -Choi Minho, pince charming si atlet basket idaman wanita.

Tidak perduli akan teriakan yang terus mengelu-elukan namanya, pria jangkung itu terus mendribble bola disertai keringat yang mengucur dari pelipisnya, lantas jeritan para kaum hawa pun makin menggema.

“Lihat saja tingkah nya, dasar genit!” Kata seorang gadis yang mengenakan kostum cheers, gadis bernama Park Jiyeon itu hanya mengerucut kan bibir nya kesal. Sesekali ia meremas tangan nya gusar.

Sementara itu, gadis disebelah Jiyeon hanya tertawa geli melihat tingkah laku sahabat karib nya itu, “Itu kan resiko jika berpacaran dengan pangeran sekolah.”

Jiyeon mendelik tajam, “Apanya yang pangeran, huh? Memang dia punya istana dimana? Aku tidak melihat mahkota di kepalanya. Bodoh! Dia hanya manusia biasa yang Tuhan ciptakan, dan sial nya sangat tampan.”

“Dan kau begitu mencintainya.” Luna tertawa senang begitu Jiyeon melempar handuk bekas kearah Luna, beruntung nya Luna masih bisa menangkap dan ekspresi kekesalan teraut jelas di wajah Jiyeon.

Jiyeon mengela nafas lelah, dia bosan jika tiap hari harus mendengar para gadis mengelu-elu kan nama sang kekasih. Jiyeon pernah protes ke Minho, tapi Minho hanya acuh membuat Jiyeon gigit jari. Tidak jarang juga Jiyeon mendapatkan tatapan tajam dari penggemar Minho, membuat Jiyeon makin frustasi tentu saja.

Minho memang populer karena ketampanan nya ditambah dia merupakan atlet basket ke banggaan sekolah. Oh, jangan lupakan bahwa dia anak tunggal seorang pengusaha tambang emas di Korea.

Tapi, jangan meremehkan Jiyeon. Gadis itu sama populer nya dengan Minho, dia cantik?tentu. Pintar?jangan tanya! Jiyeon adalah ketua cheers yang nama nya selalu paling kencang disebut kaum adam saat sedang beraksi di lapangan. Jiyeon merupakan putri bungsu dari pemilik hotel berbintang di Korea, terlebih Ibu nya memiliki beberapa cabang restaurant Itali yang begitu terkenal. Kakak nya saja – Park Hyo Joon saat ini sedang membuka cabang hotel di negeri sakura alias Jepang.

Kurang apa lagi?

Tapi…. Jiyeon tidak pernah puas akan ke populerannya, banyak pria yang mendekati nya secara terang-terangan seperti para gadis yang mendekati Minho.

Sekali lagi, Jiyeon tidak puas! Kenapa? Karena Minho selalu acuh tidak perduli, sementara Jiyeon harus menahan rasa cemburu yang menggebu-gebu.

“Minho Oppa ini untuk mu.” Kata seorang gadis sembari memberikan botol air mineral saat Minho keluar lapangan untuk istirahat.

“Terimakasih.”

Gadis itu menjerit kesenangan karena Minho menerima pemberiannya, walau tanpa senyuman. Ah! Kita melupakan satu lagi, Minho itu makhluk terdatar yang pernah di temui. Dia tidak pernah menunjukan ekspresi berarti, bahkan hanya sebuah senyuman saja sulit sekali di dapat. Kecuali Jiyeon tentu saja, entah apa yang gadis itu lakukan selalu saja membuat Minho tersenyum, walau tipis. Ingat Minho itu makhluk datar, jadi walaupun dia tersenyum sangat tipis, itu merupakan suatu keajaiban!

Disaat para atlet basket istirahat, inilah saat nya para gadis cheers menunjukan bakat mereka. Ini memang bukan perlombaan besar, hanya pertandingan persahabatan. Tapi walaupun begitu, Seoul High School tetap memimpin jauh di depan.

Disaat Minho jalan menghampiri Jiyeon, gadis itu hanya melengos acuh dan membuang sebotol air mineral yang masih baru ke tong sampah.

“Sepertinya dia kesal, Minho.” Kata Onew salah satu sahabat Minho, dahi Minho mengkerut tidak mengerti. Lantas Key yang memang selalu peka memutar bola mata nya bosan. “Air mineral itu.” Jawab Key.

Oke ini keterlaluan! Bahkan di saat diri nya sudah peka pun, dia tetap acuh tidak perduli. Wajah nya tetap datar.

Tapi……..

Kenapa Minho membuang botol air mineral yang di berikan gadis tadi ke tong sampah? Terlebih pria jangkung itu mengambil botol air mineral yang di buang Jiyeon dan langsung meminum nya, membuat yang melihat jijik seketika.

“Dasar jorok.”

Begitulah tanggapan para temannya. Ya, Minho sih tidak perduli orang lain bilang apa, toh yang minum air itu kan dia bukan temannya.

“KYAAA PARK JIYEON!”

“GO GO GO PARK JIYEON FIGHTING!”

“OH MY GODDNESS!!!!!!”

“KYOPTA!”

Segelintir teriakan para kaum adam dan hawa yang lebih dominan teriakan para kaum adam membuat nama yang di teriaki tersenyum lebar sembari diri nya terus saja menunjukkan bakat nya.

Hingga dimana Jiyeon berada di puncak dan bersiap untuk loncat membuat mereka makin riuh seketika.

Jiyeon mengatur nafas nya sejenak tanpa menutupi deretan gigi yang berjajar rapi. Dia harus nekat, ini merupakan trik baru yang mereka pelajari. Walaupun berbahaya dan sempat mengalami cidera saat latihan tapi semoga terbalas dengan melihat para penggemar nya tersenyum gembira.

Ya! Jiyeon harus meloncat tinggi dan salto diatas sebelum akhir nya ditangkap teman-teman nya yang berada di bawah.

Gadis itu memulai loncatan dan salto diatas, kemudian kaki nya ia tekuk hingga menyentuh tangan. Semua menjadi hening saat Jiyeon memulai aksi nya, hingga Jiyeon berhasil mendarat dengan sempurna tanpa cidera membuat seluruh orang yang ada di audium berdiri dan meloncat gembira.

“DAEBAK PARK JIYEON!!!!” Jerit kekompakan mereka lantas membuat para gadis-gadis cheers tersenyum gembira akan kerja keras mereka.

.
.
.
.

“Jinjja Choi Minho! Gadis mu itu benar-benar daebak!” Jerit Key saat melihat Jiyeon mendarat dengan sempurna, mata nya tidak mengedip sejak tadi. Tidak sadar jika disamping nya Minho tengah menatap tajam dirinya.

Minho mendengus kesal, botol minum yang sudah habis ia remas kencang. Kenapa Minho seperti itu? Jelas sekali jika Minho tidak suka gadis nya di tatap penuh damba oleh para kaum adam. Cemburu? Tapi kenapa saat Jiyeon sudah duduk di samping nya Minho hanya acuh dan memasang wajah datar? Jiyeon semakin geram.

Atau jangan-jangan Minho itu gay? Yang membuat nya cemburu bukan karena melihat gadis nya di tatap penuh damba, tapi karena diri nya iri dan ingin di tatap penuh damba oleh para kaum adam?

Benarkah seperti itu Choi Minho?

“Jinjja Park Jiyeon, neo! Jeongmal daebak!!” Kata Onew disertai anggukan Key.

“Jinjja?!”

Kali ini Jaebum ikut gabung dan memberikan dua jempol untuk Jiyeon, “Kyeopta!” Kata Jaebum disambut senyuman malu-malu Jiyeon.

“Tsk! Kalian cepatlah kita harus kembali bertanding.” Kata Minho membuat teman se tim nya menggeram kesal.

“Kenapa dia? Jinjja! Apa dia tidak punya hati, huh?” Jiyeon meringis melihat kelakuan Minho, siapa yang tidak kesal? Jiyeon tidak butuh pujian orang lain, yang ia butuhkan hanyalah pujian dari kekasihnya, Choi Minho. Tapi kenapa Minho malah seperti itu?

IU menepuk bahu Jiyeon. “Sepertinya kau harus curiga, aku khawatir dia tidak mencintai mu dan hanya main-main dengan mu.” Bisik nya.

“Atau bisa saja dia mempunyai gadis lain yang ia sukai.” Kata Suzy menimpali. Bahu Jiyeon semakin lemas mendengar tanggapan dari teman-temannya. Memang sih Jiyeon juga sempat curiga, tapi dia mencoba berfikir positif. Tapi, jika teman-temannya sudah berbicara seperti ini dia harus bagaimana?

Mata Jiyeon sudah mulai berkaca-kaca, rasanya sesak. Minho memang bukan tipe pria romantis, bahkan Minho tidak pernah mengatakan kata ‘sarang‘ padanya. Hanya sekali, itu pun saat Minho menyatakan perasaannya. Selebihnya, Jiyeon lah yang lebih sering bilang ‘saranghae‘. Wajar kan jika Jiyeon harus curiga?

Luna mengelus kepala Jiyeon, tangan halus nya menghapus air mata Jiyeon yang tanpa sadar sudah turun. “Tapi Minho hanya memberikan senyum nya untuk mu, jangan berfikiran negatif Park Jiyeon.” Lembut nya berkata, Jiyeon hanya diam sembari tersenyum sinis.

“Hey! Kami hanya bercanda, walaupun dia menyebalkan. Orang bodoh sekalipun tau Minho itu sangat mencintai mu.” Kata IU disertai anggukan Suzy. Jiyeon hanya mengangguk pasrah, dalam hati gadis cantik itu mengamini apa yang di ucapkan teman-temannya.

“THREE POINT! CHUKKAE SEOUL HIGH SCHOOL!!”

Ya, pada akhir nya Jiyeon hanya bisa memendam sendiri karena tidak ingin ada perkelahian. Mungkin setelah ini Jiyeon bisa meminta waktu untuk kencan sebagai perayaan atas kemenangan sekolah mereka.

                               Jealous?

Suasana ramai parkiran dan lorong sekolah sebagai penanda bahwa aktifitas pelajar sedang berlangsung, tatapan genit dan buas kini dapat dilihat ketika prince dan princess sekolah mulai berjalan di koridor.

Tangan Minho menggenggam tangan Jiyeon posesif saat sekumpulan pria memberikan hadiah berupa coklat, bunga, boneka dan semacam nya. Jiyeon senang saja menerimanya, tapi jengkel juga karena Minho malah menyeret nya dan tidak berhasil mendapat hadiah-hadiah itu. Padahal itu semua merupakan kesukaan Jiyeon.

“Nanti kau telat masuk kelas.” Kata Minho memperjelas ketika Jiyeon menatap tajam dirinya, Jiyeon hanya menghela nafas bosan. Padahal dia pikir Minho cemburu, tapi ternyata jawabannya begitu mengecewakan.

.
.
.
.

Waktu istirahat adalah waktu yang di tunggu-tunggu oleh para murid, dimana waktu itu merupakan waktu yang pas untuk mengisi perut mereka yang kosong.

“Pria mu menunggu di luar.” Kata Hyorin teman sebangku Jiyeon, Jiyeon hanya melirik sekilas lewat ekor matanya kemudian kembali tangannya digerakan untuk mencatat.

“Biar saja.”

Hyorin tertawa jenaka, terlebih ia melihat raut kekesalan tertera di wajah elok Minho karena lamanya Jiyeon keluar.

“Temani aku makan.” Kata Minho lantang, entah sejak kapan pria jangkung itu sudah berdiri di depannya dengan kedua tangan yang sengaja di masuki kedalam saku celana. Benar-benar seperti pemuda angkuh.

Kembali Jiyeon hanya melirik sekilas, kemudian melanjutkan mencatat. Hyorin yang sejak tadi memperhatikan hanya diam menahan gemas, begitu pun Luna, Suzy dan IU yang memperhatikan dari bangku mereka masing-masing.

“Aku masih mencatat. Kau duluan saja.”

“Tidak bisa! Kau harus menemani ku!” Perintah nya mutlak.

Jiyeon menggeram kesal, gadis itu kemudian menutup buku catatan nya kasar. “Kajja.” Ketus nya, berjalan lebih dulu dan meninggalkan Minho yang tersenyum tipis melihat kelakuan gadis nya.

Keempat gadis yang sedari tadi hanya memperhatikan kini saling tatap penuh arti. “Sudah ku duga kan, Minho itu sangat mencintai Jiyeon.” Kata IU memulai.

“Ne! Tapi dia itu memang bodoh, tidak peka.” Jawab Hyorin yang langsung disetujui berupa anggukan ketiga temannya.

.
.
.
.
.

Gadis berhelai dark coklat menggelombang se punggung itu memainkan makanannya tanpa minat, tidak perduli jika Minho sedari tadi terus memperhatikannya.

“Hey, ada apa?” Tanya Minho lembut, tangan besarnya berusaha menghentikan tangan Jiyeon yang sedari tadi hanya mengaduk makanan, Jiyeon mendesah perlahan. “Tidak.”

“Kau bohong?”

“Aku tidak lapar.”

Minho mendengus kesal, pria jangkung itu merubah posisi nya hingga berada di samping Jiyeon. Perlahan ia mengambil sendok yang berada di genggaman Jiyeon. “Mau aku suapin?”

Blush

Rasa hangat menjalar di wajah Jiyeon sehingga menciptakan guratan merah jambu di kedua pipi nya. “Oppa…”

“Ayolah. Aku tidak ingin kau sakit, buka mulut mu.”

Jiyeon membuka mulut nya kaku, sejujur nya ia senang menerima perlakuan seperti ini dari Minho. Tapi, saat ini seisi kantin tertuju ke arah nya dan entah kenapa membuat nya susah berekspresi.

“Kau harus makan yang banyak, jelek!” Printah Minho disertai ejekan. Jiyeon mempout kan bibir nya lucu, pipi nya menggembung seperti bakpao, Minho harus mengakui jika kekasih nya ini memanglah sangat sempurna secara fisik. Wajah nya bersih tanpa jerawat, tidak ada bintik hitam yang menodai. Kulit nya putih mulus seperti bayi. Dan pipi chubby nya selalu saja membuat Minho gemas ingin menggigit.

                                Jealous?

“Oppa, ini boneka siapa?” Tanya Jiyeon begitu melihat Minho membawa boneka ketika pria jangkung itu menjemput nya untuk pulang di kelas.

“Ini boneka ku, dari Sulli.”

Jiyeon mendelik tajam, “Choi Sulli?” Tanyanya memastikan.

“Ne.”

“Kenapa menerima nya? Kau menyukai nya?” Jiyeon tidak sadar jika suara nya mulai meninggi hingga menjadi pusat perhatian kini.

Pria jangkung itu kemudian menarik tangan Jiyeon untuk menjauh, tidak memperdulikan teriakan Jiyeon yang minta dilepas.

Hingga Minho berhasil memasukan Jiyeon ke dalam mobil dan dirinya menyusul masuk.

Jiyeon sudah melipat tangannya di depan dada, matanya sudah memincing tajam minta penjelasan.

“Sudahlah jangan kekanakan, itu hanya sebuah boneka.”

Gadis bermata coklat caramel itu melotot tidak percaya mendengar kekasih nya bersikap santai seolah itu bukanlah hal penting.

“NE!! AKU MEMANG KEKANAKAN!” Jeritnya. Matanya sudah merah menahan sesak sejak tadi.

Kalo boleh jujur, Jiyeon tidak ingin berada di situasi seperti ini. Jiyeon tidak siap jika akhir dari pertengkaran ini berujung dengan kata perpisahan. Tapi hati Jiyeon sudah terlanjur sesak, ia sudah tidak bisa menahannya lagi.

Kesabaran yang dia pendam selama ini sudah mencapai puncak nya.

“Tenangkan fikiran mu. Kita pulang.”

Tidak ada kata yang terucap setelahnya, Jiyeon memalingkan wajah nya ke arah jendela sembari jemari lentik nya menghapus kasar air mata yang sudah jatuh.

Tanpa sadar Minho memperhatikannya dan mendesah lelah.

                               Jealous?

“Jadi kekasih mu itu tidak pernah cemburu?”

Jiyeon mengagguk disertai petikan halus dari gitar yang sedang ia maini. Tatapan nya kosong tapi tangannya terus bergerak menciptakan sebuah tangga lagu. Hongbin, spupu Jiyeon yang baru saja datang dari Jepang hanya menggelengkan kepala melihat kelakuan spupu nya itu.

“Aku punya ide.” Kata Hongbin.

“Kau bilang temannya Minho ada yang suka dengamu, siapa namanya?”

Taemin.” Jiyeon menjawab tanpa minat.

“Bagaimana jika kau dekati Taemin, buat Minho cemburu.” Hongbin tersenyum senang begitu melihat Jiyeon tersenyum akan ide nya.

“Aku rasa itu bukan ide yang buruk.”

.
.
.
.

Jiyeon sengaja berangkat pagi-pagi kesekolah untuk menghindari Minho, hati nya belum siap jika harus bertatapan dengan sang kekasih. Rasa sesak di dada nya kembali melanda jika mereka bertemu. Lagi pula ini demi kelancaran ide yang dicetus hongbin.

Kibaran rambut yang berterbangan di tiup angin membuat Jiyeon menutup matanya, kepalanya ia senderkan di jendela kelas yang berada di lantai tiga. Kepala nya yang keluar membuat rambut nya ikut keluar karena tertiup angin.

Wajahnya bercahaya akibat pantulan mentari pagi, begitu bersinar dan mempesona. Tanpa sadar… satu persatu murid SHS mulai meramaikan sekolah. Tidak dikit kaum adam yang tidak sengaja melintas dibawah terpesona akan paras cantik seorang Park Jiyeon. Walaupun Jiyeon berada di lantai tiga, Jiyeon masih terlihat cantik secara alami.

                               Jealous?

“Kau mau kemana?” Tanya Minho, Jiyeon yang baru saja keluar kelas hanya memberikan senyuman tipis, “aku ingin mencari Taemin.” Jawabnya

Minho hanya diam memperhatikan Jiyeon yang sudah memasuki kelas nya, ya Minho tau kenapa Jiyeon kesana. Karena disanalah Jiyeon akan menemukan Taemin yang merupakan teman satu kelas nya.

Langkah kaki itu perlahan mengikuti jejak sang gadis, namun ia tidak masuk kedalam melainkan hanya berdiri di bibir pintu. Memperhatikan sembari bersender dan melipat kedua tangannya di depan dada.

“Ne! Aku baru saja mendapatkan dua tiket pertunjukan opera. Kau mau kan menemani ku?”

Taemin tersenyum, tangannya mengambil satu tiket yang diberikan Jiyeon. “Kenapa tidak mengajak Minho?” Tanyanya.

Jiyeon mengerucutkan bibirnya, “Minho tidak suka acara yang seperti ini. Kau mau tidak?”

“Tentu saja, mana mungkin aku menolak.”

“KYAAAA KAU MEMANG YANG TERBAIK!” Jerit Jiyeon, gadis manis itu memeluk Taemin tanpa sadar membuat Taemin hanya mengerjap lucu disertai rona merah yang membuat wajahnya terlihat aneh.

“Kalau begitu aku pergi dulu ne? Besok kau jemput aku dirumah!” Kata Jiyeon.

“Ne, Princess.” Jawab Taemin disertai kerlingan nakal, tak ayal membuat Jiyeon memukul main-main bahu pria itu.

Saat Jiyeon akan membalikan badannya, ia sempat terpaku sesaat melihat Minho yang sedang menatap tajam kearahnya dan Taemin. Tapi itu hanya sesaat, gadis cantik itu segera berjalan santai walau hati nya deg-deg an karena tatapan tajam Minho.

Minho mencengkram keras pergelangan tangan Jiyeon saat gadis itu dengan acuh melewatinya. “Temani aku makan.

.
.
.
.

Suara bising murid-murid tidak membuat kedua anak berbeda gender ini terganggu. Minho dan Jiyeon justru sangat menikmati makanan yang ada di atas meja masing-masing. Mereka makan dalam diam, sesekali Minho melirik gadis nya yang sedang menikmati makan siang yang tersedia.

“Kenapa kau pergi duluan?” Tanya Minho.

Jiyeon menghentikan makannya dan mengambil sapu tangan untuk mengelap bibirnya. “Neh?” Tanyanya kemudian.

“Tadi pagi.”

“Ah! Ada yang harus ku kerjakan, jadi aku pergi duluan. Maaf tidak mengabari mu, aku buru-buru tadi.”

“Urusan apa?”

“Bukan apa-apa, itu tidak penting.” Jiyeon menjawab begitu acuh, sementara Minho mengeraskan rahangnya sehingga terdengar bunyi gesekan antar gigi yang begitu nyaring jika didengar sendiri.

“Kenapa kau mengajak Taemin? Aku bisa menemani mu.”

Jiyeon tersenyum manis, “aku tidak ingin membuat mu mati bosan, lagi pula kau tidak akan cemburu kan? Taemin itu kan teman mu!”

“Tsk! Aku tidak cemburu. Silakan saja pergi.”

Jiyeon meremas tangannya sendiri. Rasa sesak kembali menyerang jantungnya. Rasanya seperti diremuk oleh tangan besar tak kesat mata. Gadis itu tersenyum tipis dengan kepala menunduk, “ne aku akan pergi.” Kata Jiyeon, nadanya begitu lemah dan datar.

                               Jealous?

“Jinjja? Dia benar-benar tidak perduli?”

Jiyeon mengangguk lemah, gadis itu hanya memandang kosong jendela kamarnya sembari memeluk boneka pororo erat.

“Tsk! Aku tidak percaya ada manusia seperti itu di dunia ini. Aku fikir pria seperti itu hanya ada dalam dunia fiksi.”

“Nyatanya memang ada kan? Dan dia adalah kekasih spupu mu ini. Aku bisa merasakan perasaan seperti apa yang dirasakan para gadis di drama saat kekasih nya acuh tidak perduli. Dulu, aku akan mentertawakan kebodohan mereka. Sekarang, aku akan mentertawakan kebodohan ku sendiri.”

Hongbin membawa kepala Jiyeon ke dadanya, sementara dia memeluk erat kepala Jiyeon yang saat ini sedang duduk diatas ranjang queen size miliknya. Hongbin menaru dagu nya diatas kepala Jiyeon dengan posisi ia yang masih berdiri. Tangannya mengelus lembut kepala Jiyeon.

“Aku selalu berdoa yang terbaik untuk mu.” Katanya, satu kalimat sederhana itu bahkan berhasil membuat Jiyeon menangis hingga sesegukan di dada bidang Hongbin.

Tidak ada suara apapun yang terdengar selama beberapa menit, hanya suara jam dan suara Jiyeon yang masih sesegukanlah yang terdengar.

“Hongbin-ya….. gomawo, jeongmal gomawo.”

Hongbin menarik wajah Jiyeon hingga bertatapan dengannya, wajah Jiyeon kini benar-benar aneh dengan jejak air mata dimana-mana. Mata serta hidung nya sudah membengkak akibat menangis.

“Kau tau? Sejak kecil kita di besarkan bersama-sama. Kau sudah seperti adik ku sendiri.” Katanya, tangannya kemudian menghapus sisa-sia air mata dengan kedua jempolnya.

Jiyeon tersenyum disertai hisapan ingus yang terus saja turun. “Dasar jorok!” Kata Hongbin, tangannya menyentil dahi Jiyeon gemas, membuat Jiyeon menatap tidak terima.

“YAAAA!” Jeritnya kemudian.

.
.
.
.
.

Hari minggu cerah, burung-burung berkicauan merdu. Seorang gadis duduk didepan cermin, sejak tadi ia hanya menghela nafas berkali-kali. Hari ini ia akan pergi dengan Taemin untuk nonton konser, sejak kemarin Minho sama sekali tidak mengabari nya.

Jiyeon memang ingin menghubungi Minho lebih dulu. Tapi, ego nya lebih kuat untuk tidak menghubungi. Dia merasa lelah karena semua ini. Jika saja ia Minho terus bersikap seperti itu, Jiyeon bertekad akan mengakhiri hubungan mereka.

Sudah cukup, cukup selama ini Jiyeon meragukan perasaan Minho. Toh, pria itu memang tidak punya perasaan. Jadi untuk menghentikan itu semua, Jiyeon harus mengakhirinya.

“JIYEON TAEMIN SUDAH DATANG!”

Jiyeon tersentak dari lamunannya ketika teriakan Hongbin berhasil memasuki gendang telinga. Gadis berhelai dark coklat itu merapikan rambutnya sebentar, ia mengambil tas serong yang berada diatas kasur kemudian melangkah keluar.

                              Jealous?

“Operanya tidak seru?” Tanya Taemin karena kebisuan Jiyeon sejak opera dimulai hingga selesai.

“Seru.”

“Lalu kenapa kau diam saja? Ada masalah?”

“Aniya, nan gwenchana.”

Taemin memutar mata kesal, kaki nya terus mengikuti kemana langkah kaki gadis didepannya melangkah dalam diam. Udara malam yang dingin tidak membuat langkah gadis itu berhenti.

Kaki jenjang Jiyeon terus saja berjalan di pinggiran sungai han, tatapannya kosong. Taemin yang jengah karena diabaikan kini mempercepat langkahnya untuk mengejar sang gadis yang sudah jauh di depan.

“YAA!!! eh… Minho?” Teriak Taemin yang berubah menjadi gumaman, pria itu awal nya ingin melampiaskan rasa kesal nya. Tapi tidak jadi saat melihat Minho berjalan kearah mereka dan berdiri tepat di depan Jiyeon.

“Neh?” Tanya Jiyeon. Gadis itu kemudian mengikuti arah pandang Taemin dan seketika matanya melebar begitu Minho sudah berada dihadapannya.

“Sudah selesaikan? Kajja!”

Minho menarik paksa Jiyeon tanpa memperdulikan teriakan tidak terima Taemin dan rengekan kesakitan Jiyeon.

Bruk!

“Awwww. .” Jiyeon meringis saat Minho mendorongnya untuk bersender di mobil, pria itu kemudian mengunci Jiyeon dengan kedua tangannya.

Mata Minho berkilat tajam, “apa maumu, huh? Kau tau? Seharian ini aku tidak berhenti memikirkan mu. Apa yang kalian lakukan tanpa aku?” Tanyanya.

“Neh?”

“Jinjja Park Jiyeon! Kau itu kekasih ku!!! Kenapa kau mengajak Taemin dan bukan aku? Kau anggap aku apa, huh?”

“Kau bilang tidak keberatan.” Kata Jiyeon polos membuat Minho meraup wajahnya sendiri frustasi.

“Pria mana yang tidak keberatan saat gadis nya mengajak pergi pria lain?”

“Kau!”

Minho menghela nafas panjang, kedua tangannya kini ia gunakan untuk menangkup wajah Jiyeon yang terlihat mungil. “Sayang, aku berbohong oke? Aku cemburu melihat mu dengan Taemin. Bahkan aku rela menjadi stalker untuk mengikuti mu seharian ini. Aku berusaha sabar agar tidak mencolok mata Taemin saat ia menatap mu. Itu benar-benar menyiksa. Hey! Kenapa menangis?”

“Aku tidak percaya, ini kalimat terpanjang yang kau ucapkan. Dan lagi kau memanggil ku sayang, kau tau? Ini pertama kali nya kau memanggilku seperti itu selama satu tahun ini.”

Minho meringis mendengar Jiyeon berkata jujur, sejahat itukah dia selama ini? Minho tidak tau jika sikap nya selama ini membuat gadis nya begitu menderita. Tangannya menghapus air mata Jiyeon kemudian menyatukan kening mereka.

“Maafkan aku,” katanya disertai kecupan lembut di bibir Jiyeon.

“Kau mencintai ku?”

“Kalau tidak aku tidak mungkin berada disini.”

“Tapi kenapa selama ini kau tidak pernah cemburu? Kau bahkan terlihat tidak perduli?”

Minho mengelus lembut rambut Jiyeon. “Aku tidak cemburu? Hey, bahkan aku ingin sekali membunuh pria yang dengan beraninya memuja mu didepan ku. Aku juga ingin menelan teman-teman ku saat mereka membicarakan mu. Tapi, aku tidak ingin seperti pria kebanyakan yang langsung marah-marah tidak jelas karena hal seperti itu. Aku tidak ingin membuat mu risih, cukup aku pendam sendiri. Dan kalau aku tidak perduli dengan mu, aku tidak mungkin mengikuti mu seharian ini kan? Aku terlalu takut jika kau pergi tanpa ku.” Katanya panjang lebar.

“Aku suka kau yang seperti ini, kau begitu manis dan romantis. Aku yakin, para penggemar mu akan jatuh pingsan jika diperlakukan seperti ini.” Kata Jiyeon.

Minho kembali mencium bibir Jiyeon, kali ini bibirnya menghisap bibir bawah Jiyeon membuat Jiyeon menghisap bibir atas Minho. Begitu terus bergantian hingga mereka kehabisan nafas dan melepaskan bibir mereka tanpa menghilangkan jarak yang begitu intim.

“Aku tidak perduli dengan mereka, aku hanya akan bersikap seperti ini di depan mu.” Kata Minho, pria jangkung itu kemudian memeluk tubuh ramping Jiyeon posesif.

“Aku gadis paling beruntung jika begitu.” Jawab Jiyeon yang dibalas Minho dengan kecupan singkat dikepalanya. “Tentu, sayang.”

“Oppa….”

“Hn?”

“Aku lebih suka jika kau bilang cemburu saat kau memang sedang cemburu. Kau tau? Itu begitu manis”

“Ne, jika itu mau mu sayang. Aku akan lakukan.”

Jiyeon tersenyum didalam pelukan Minho, tangannya semakin erat memeluk tubuh tegap Minho disertai pergerakan kepalanya yang berusaha mencari tempat ternyaman di dada bidang kekasihnya, perlakuan itu lantas membuat Minho tersenyum dan ikut mengeratkan pelukannya.

“Jiyeon?”

“Ne?”

“Menikahlah dengan ku saat lulus nanti.”

“MWO?”

Fin.

Ampun…… aku lagi suka banget bikin cerita oneshot. Bosen banget kayanya liburan dirumah terus, mau post TT6 tapi gaada paket modem, wifi juga gaada. Duh malangnya nasib. Maaf ya kalo ada typo aku males baca ulang soalnya XD.

so, mind to comment?

Epilog!

Pagi-pagi sekali SHS dibuat gempar akan kedatangan pasangan fenomenal Choi Minho dan Park Jiyeon. Memang dimana ada mereka selalu saja menjadi pusat perhatian. Tapi bukan itu masalahnya, kejadian langka ini lantas membuat para gadis menjerit tidak terima.

Kenapa?

Ya! Minho dan Jiyeon berjalan sembari tangan Minho melingkar rapih di pinggang Jiyeon sesekali Minho mencium gemas pipi sang gadis untuk membuktikan jika gadis itu miliknya dan tidak boleh ada yang mengganggu jika tidak ingin mati.

Hingga mereka sudah berada di depan kelas Jiyeon pun para murid belum bisa melepaskan tatapan dari pasangan yang selalu membuat iri itu.

“Masuklah, aku akan menjemput mu saat istirahat nanti, sayang.” Kata Minho disertai kecupan sayang di dahi Jiyeon. Gadis itu tersenyum manis dan membalas mencium pipi Minho. “Ne.” Jawabnya.

Sebelum pergi Minho menyempatkan diri nya untuk memperhatikan seluruh murid yang kini memperhatikannya dan sang kekasih hingga matanya kini tertuju ke atah Taemin yang sudah merengut kesal. Minho mengeluarkan smirk nya sebelum berkata, “DENGAR! PARK JIYEON AKAN MENIKAH DENGAN KU SETELAH LULUS NANTI. JADI JANGAN ADA YANG BERANI MENDEKATINYA JIKA TIDAK INGIN MATI.”

Suara teriakan kekecewaan terdengar riuh seketika membuat Jiyeon menunduk malu.

Advertisements

Author:

If you Jiyeon fans, you must stay here. but, if you hate my fav idol..you must go on without drama. thx

35 thoughts on “Jealous?

  1. daebak 😀
    emang jiyeon sma minho pasangan terfenomenal,,
    cocok bnget karakter minho sma jiyeonnya 😀
    so sweet pkoknya minho keliatan cuek bnget pdhalaslinya dia perhatian bnget 😀
    ditunggu ff minji lainnya 😀

  2. Aku suka karakter minho yang dingin gini walau pu nyebelin tapi sweet banget. Di tunggu ff minji lainnya

  3. Ohhhhhhhhhh so sweet bangetttt ceritany, ya awalnya minho sempet buat kesel karena sikap cuekny, tp ternyata dy prhatian bnget.

  4. di akhir baru keluar sifat minho yang posesif,hahahaa ide hongbin keren…jadi jiyeon gak ragu lagi ama perasaan minho.ceritanya sweat betul

  5. Ommooo kyeopta kyeopta. Ahh nrk psangn pling gemesinnn yg prn ad minho yg kelwat datar dan acuh tp sbnrnya enggak dlm atu kuatiran bgt sdg ci cwe sll brharp lbi pdhl ud jls cwo ny y skp ny bgt itu mentokk. Dan yeay yu ide hongbin akhrby brhasill minho cmbru jg. Ah mrk sweet. Mau donk klo d ksi lnjtnya . Seruuuuu author good ff

  6. Astaga minho segitu takutbya kehilangan jiyeon sampe rela jd stalker jiyeon seharian… hahahha sampe2 minho br lulus mw lgsg nikah.. aigoo suka bgt sm minji… minji jjang^^

  7. Aigoo romance bingo:g!!!
    Yang baca jadi gemes sama Minho Jiyeon:D!!!
    Karena Minho yang terlalu
    Gengsi mengungkapkan bahwa dia cemburu:D
    Pokoknya mereka buat greget:D!! Cucok banget:D!!
    Dtunggu tulisan” lainnya Fighting&Hwaiting!!

  8. kasian si temtem >< wkwkwkwk..
    Aku ikut berbahagia MinJi ❤
    Minho Gokiel kalo cemburu :v fruatasi sendiri ngadepin jiyeon~ tapi akhirnya jujur jugaaaa~~
    Hahahaha Sweet ♥

  9. akhirnya minho ngaku jug klau dia cemburu.wah ternyata minho bisa juga ya romantis.suka sama ceritanya.

  10. Suka dari judul , alur cerita suasananya komplittt dehhh minji emang superrr !!! Lanjut eon buat lanjutanya hihi ^^

  11. Hahahaaa sweet bgt cerita nya
    Suka deh sama tiap moment nya
    Bikin gemesssss
    Dan pas minho teriak klo jiyeon akan menikah dgn minho itu kerennnnn bgt

  12. Huwwaa..so sweet.sdh aku duga kalo minho itu gak ingn nunjukkin perasaan dia yg sebenarx tp jd salah paham jiyeon nya.

  13. Kekekekekek daebak.. dsr choi keroro sok cuek bngt pdhl udh jealous mnt ampun.. mamam tuh jiyi jln sm si taem2.. kwkwkw.. Akhirx meledak jg si choi keroro.. kwkwkwkwk.. jd melting deh bc si minji.. uhuuuuy kwkwk plak di gmpr author

  14. Genes baca ni ff. Minho kesannya cuek banget dan gak pernah cemburuan tp siapa yg nyangka ternyata minho cemburu banget cuma terlanjur gengsi dan dia jg takut jiyeon risih dan malah berakibat buruk. Tp akhirnya minho gak tahan memendam cemburunya pas jiyeon jalan ma taemin. Dan pengakuan minho akhirnya berujung manis dan sweettt 😘😘😘

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s