Posted in Oneshot

Smiling Angel (Oneshot)

image

Author: @siskameliaaa
Pairing: Choi Minho&Park Jiyeon
Genre: sad, romance, angst.
Warning: typo, abal, OOC, dll.

Ini kisah tentangku dan gadis dengan sejuta senyum yang aku temui ketika musim panas tiba.

All about Choi Minho Pov.

                                 Smiling Angel

Manusia itu tidak abadi, kami para manusia hanya sebuah titipan di muka bumi ini. Jika saat nya nanti.. saat dimana Tuhan akan mengambilku, aku ingin orang-orang mengenangku. Karena, aku ingin menjadi berharga.

Daun-daun mulai berguguran bertanda musim panas telah tiba. Ku angkat wajah ini guna melihat cerahnya langit biru diatas sana, suatu saat nanti itulah yang akan menjadi tempat ku untuk beristirahat. Aku menghela nafas lelah, didepan sana segerombolan anak-anak SMA tengah bercanda menikmati masa-masa sekolah.

“Hey! Kau melamun?” Aku menoleh kesamping, disamping ku sudah ada seorang gadis berambut dark coklat, matanya berwarna coklat caramel. Ia tersenyum hingga matanya menyipit, aku beralih keseragam sekolah Kirin yang dia kenakan.

Di seragamnya terdapat sebuah nam tag bertuliskan Park Jiyeon. Aku hanya diam memperhatikan senyumannya, dia tersenyum damai seperti tidak punya beban kehidupan.

Gadis itu masih tersenyum hingga tangannya terjulur kedepan wajah ku. “Ini untuk mu.” Katanya

Aku masih diam tidak mengerti, kini aku melihat sebuah es krim yang berada di kedua tangannya bingung, sekali lagi dia tersenyum melihat kelakuan ku.

“Kau tau? Es krim itu bisa membuat sedih mu hilang.” Begitu tuturnya,

Ragu-ragu aku mengambil es krim ditangannya, dia hanya tersenyum kemudian menikmati es krim milik nya. Tanpa sadar bibir ini ikut tersenyum.

Manis..

Es krim ini manis seperti pemberinya.

Aku terpana melihatnya, baru kali ini aku bertemu dengan seorang gadis dengan senyum malaikat. Dia cantik, angin berhembus nakal membelai rambut panjang itu, tidak ada niatan untuk merapikan rambutnya kembali, gadis ber nam tag Park Jiyeon itu hanya asik menikmati es krim yang mulai meleleh ditangannya.

Dia tertawa seperti anak kecil saat menjilati sisa es krim di bibirnya. Saat mata kami bertemu… dia kembali tersenyum.

“Siapa nama mu?” Tanya nya, suara nya yang halus mampu membuat bulu roma ku berdiri.

“Minho.. Choi Minho.”

Gadis itu mengulurkan tangannya “Nan Park Jiyeon imnida.. kau bisa memanggilku Jiyeon.”

“Ah! Sial… aku telat.”

Jiyeon melirik gemas arloji ditangannya, kemudian dia menoleh kearah ku dengan tatapan menyesal. “Minho, maaf aku harus pergi. Kita bisa bertemu lagi nanti.” Katanya, aku tersenyum maklum sebelum akhirnya dia pergi dan menghilang dari pandangan ku.

                                  Smiling Angel

“Kau kemana saja? Kami mencari mu, Minho.” Aku bergidik acuh, suster ini begitu cerewet, hampir setiap hari aku terkena omelannya. Rasanya aku ingin menggaruk wajah buruk rupa itu.

“Ya!!! Kau dengar aku tidak?!” Dia menjerit emosi.

“Baiklah aku menyerah, cepat ganti baju mu. Setelah itu temui dokter Cho! Kau besok harus melakukan chemoterapy.”

.
.
.
.

Panas… tubuh ku rasanya seperti terbakar. Andai saja aku tidak memikirkan perasaan Ayah dan Ibu ku, aku tidak ingin melakukan kegiatan menyakitkan ini. Aku lebih baik santai menikmati ajal menjemput, sebenarnya apa yang aku lakukan ini tidak akan membuat ku sembuh. Tapi, ini hanya memperhambat kematian ku.

Disaat anak seusia ku menghabiskan waktu mereka bersama teman-temannya disekolah, aku justru hanya bisa berdiam di rumah sakit ini sejak usia ku menginjak 15th. Kanker otak ini perlahan membuat rambut ku kian menipis, efek chemoterapy yang aku jalani jelas membuat kulit kepala ku menjadi panas.

Tidak ada yang bisa aku lakukan selain tidur berbaring di ranjang rumah sakit. Aku hanya bisa pergi jika aku berhasil kabur dari penjara para penyakit seperti ku.

“Ya! Park Jiyeon jangan berlari di lorong!!!!”

Langkah ku terhenti seiring suara teriakan memanggil nama seorang gadis yang kemarin siang aku temui. Mata ku terbelalak tidak percaya, di depan sana seorang gadis berseragam Kirin tengah tertawa senang sambil kaki jenjangnya berlari di lorong-lorong rumah sakit.

Sesekali Jiyeon menengok kebelakangnya sambil tertawa mengejek ke arah suster yang juga ikut berlari mengejar.

“Aku hanya pergi sebentar eonni!” Teriak nya lantang. Ini aneh, aku seperti menonton sebuah drama yang sering di tonton spupu ku saat ia menginap dirumah sakit untuk menemani ku. Aku bagaikan sutradara yang sedang mengawasi artis ku dalam ber akting.

“Tidak bisa!!! Nanti Oppa mu memarahi ku!!!!”

Jiyeon semakin berlari tidak perduli hingga suster itu pun akhirnya menyerah. Pertemuan kedua? Suatu kebetulan? atau takdir?

.
.
.
.

Kembali ku pandangi daun-daun maple yang berguguran karena tiupan angin. Disini aku selalu merasa tenang, bisa menghirup udara sejuk tanpa berbaur dengan bau obat-obatan rumah sakit.

“Hey tuan! Kau mau es krim?”

Ah gadis ini lagi. Ini pertemuan ku yang ke tiga setelah kemarin aku melihat nya berlari di lorong rumah sakit. Dia kembali menyodorkan es krim rasa vanila untukku, dan strawberry untuk nya. Aku mengambilnya kemudian tersenyum “terimakasih” kata ku.

Jiyeon tertawa “Hey. Ini es krim kedua yang aku berikan, kenapa baru berterimakasih sekarang?”

“Aku..tidak tau.”

Dia kembali tertawa. Aneh! Apa dia tidak pernah lelah tertawa? Jiyeon mengacuhkan ku, dia lebih asik dengan es krim di tangannya. Aku ingin bertanya kenapa kemarin dia berlari? Tapi ku urungkan niat ku, bukankah itu lancang? Baru kenal kemudian kau sudah mencampuri urusan pribadi nya? Aku masih mengerti sopan santun.

“Kau seperti orang penyakitan saja. Kenapa wajah mu selalu pucat?”

Aku tertawa pahit. “Ya, aku memang sakit.” Ku lihat dia terkejut karena jawaban ku, kini dia kembali tersenyum. “Kau sakit apa? Maaf jika aku lancang.”

Kanker otak.”

Aku ingin tertawa saat melihatnya tersedak es krim. Wajahnya memerah karena batuk. Ku gerakan tangan ku untuk mengusap punggung Jiyeon. “Pelan-pelan jika makan es krim.” Begitu nasehat ku.

Jiyeon tersenyum terimakasih, tangannya menggengam tangan ku yang tidak memegang es krim. “Kau tau? Itu tandanya hidup mu tidak lama lagi kan? Ayo buat kenangan se indah mungkin sebelum kau pergi jauh.”

“Apa maksud mu?”

“Jangan tunjukan wajah seperti itu. Tersenyumlah, setidaknya buat orang terdekat mu ikut tersenyum karena senyuman mu. Kau harus kuat, jika kau kuat maka keluarga mu akan ikut kuat.”

“Tsk! Kau tidak tau apa yang aku rasakan. Jangan pernah ikut campur!” Aku banting es krim di tanganku, ku lihat dia terkejut akan kelakuan ku. Aku tidak perduli. Tau apa dia tentang penyakit ku? Dia tidak tau bagaimana aku harus berjuang melawan penyakit ini. Dia yang sehat mudah saja menyuruh ku untuk tersenyum.

“Minho..”

Masa bodo dengan tata krama. Aku tinggal kan dia seorang diri di taman kota, sial! Emosi ku tidak bisa di tahan.

                                 Smiling Angel

“Halooo.. aku membawakan banyak makanan untu mu.” Aku melotot tidak percaya, bagaimana gadis ini bisa tau ruangan ku di rawat? Apa dia seorang penguntit?

“Kenapa diam? Kau pasti bosan kan dengan makanan rumah sakit? Tenang saja, makanan ini aman untuk mu.”

“Kenapa kau disini?” Kataku dingin. Gadis ini benar-benar tidak bisa ditebak, bukannya diam dia justru tertawa. Kenapa dia tidak takut?

Jiyeon mengacak rambut ku gemas, kemudian tatapannya berubah saat melihat telapak tangannya penuh dengan rambut ku. Lalu dia mengambil sesuatu di tas nya, aku hanya mengernyit bingung saat sebuah toples bening lah yang dia ambil.

Gadis itu kemudian memasukkan rambut ku kedalamnya, dia kembali tersenyum. “Ini kenangan untukku.”

Aku semakin tidak bisa menebak apa yang ada difikirannya. “Dari mana kau tau aku disini?”

“Aku kemarin mengikuti mu.” Katanya disertai cengiran polos.

“Kau tidak suka? Padahal kan niat ku baik ingin menjengukmu.”

“Kau menyukai ku?” Aku menyipitkan mata ku tidak percaya saat melihat rona merah di wajah nya.

“A..aniya! Aku hanya ingin berteman dengan mu.”

Aku menghela nafas lelah, baiklah. Tidak baik kan menolak pertemanan? Untuk kali ini, aku akan berbuat baik.

.
.
.
.

“Selamat sore Minho!!!!”

Sudah seminggu ini Jiyeon selalu datang mengunjungi ku. Pagi, siang, sore hingga malam.

dia tidak pernah absen dari kamar rawat ku. Bahkan dia sudah kenal dengan anggota keluarga ku. Saat aku bertanya, ‘apa dia tidak sekolah?’ Dia selalu menjawab ‘aku bolos’ tak ayal aku langsung menyentil jidatnya. Saat aku bertanya ‘apa keluarga mu tidak mencari mu?’ Dan dia menjawab ‘mereka tau aku sedang menjenguk mu’ kemudian aku tersenyum.

Dan saat aku bertanya, ‘apa kau tidak punya kegiatan selain kesini?’ Dia tersenyum sambil berkata ‘punya, aku selalu ke taman kota disaat seorang pria sedang duduk termenung dibawah pohon maple.’ Kembali aku menyentil jidat nya gemas.

“Aku hari ini membawa monopoli. Mau bermain?” Aku mengangguk sebagai jawaban iya atas pertanyaannya.

                              Smiling Angel

Sudah tiga minggu ini aku tidak melihat Jiyeon datang berkunjung, bahkan disaat aku kabur ke taman kota pun dia tidak datang memberikan ku es krim.

Aku merindukannya, aku merindukan senyumnya. Apa aku menyukai nya? Aku tidak pernah merasakan perasaan asing seperti ini.

Rindu disaat dia tidak ada, sedih tidak bisa melihat senyumannya. Aku ingin dia yang tersenyum untuk ku, ingin dia yang begitu cerewet memperhatikan ku.

Park Jiyeon… kau dimana?

.
.
.
.

“Mau es krim?” Aku menoleh cepat begitu suara yang sangat aku rindukan mengisi gendang telinga.

Dia tersenyum menggoda. “Merindukan ku?” Tanyanya.

“Kau kemana saja?”

Jiyeon kembali tertawa dan mengambil tempat duduk disamping ku. Gadis ini memberikan es krim vanila seperti biasa, aku mengambil nya. “Terimakasih.”

“Aku sibuk dengan urusan sekolah. Huh! Rasanya aku ingin seperti mu saja. Hanya tidur dan makan tanpa perlu pusing memikirkan tugas.”

“Dan harus merasakan sakit..” Jelasku, Jiyeon mempout kan bibir nya, kebiasaan disaat dia sedang kesal.

“Jadi.. kau merindukan ku tidak?!”

Aku tersenyum menggoda, aku meraih tengkuknya hingga wajah kami sangat dekat, sial! Kenapa dia cantik sekali? “Nan bogoshipo~”

Wajah nya memerah karena bisikan ku, aku tertawa gemas, kemudian dia mendorong dada ku. “KAU MEMPERMAINKAN KU, HAH?!” Jeritnya dan aku hanya tertawa puas melihat reaksi yang begitu berlebihan.

                               Smiling Angel

“Minho… aku bosan! Kajja kita jalan-jalan.”

“Kemana?”

“Emm… Namsan?”

“Kajja.”

.
.
.

“Jiyeon ayolah, kau tidak lelah? Dari tadi kita terus berjalan dan kau selalu saja berlari kesana-sini.”

“Minho ini menyenangkan. Ayo beli gembok!” Dia menarik tangan ku terlalu bersemangat. Aku hanya tersenyum mengikuti kemauannya.

.
.
.

“Ini.. tulislah sesuatu disini.” Kata Jiyeon

Aku mengambil gembok dan spidol yang dia berikan. Aku berfikir sesaat, aku tidak tau ingin menulis apa. Aku melirik Jiyeon yang sedang serius menuliskan sesuatu di gembok miliknya, aku tersenyum.

‘Saranghaeyo Park Jiyeon.’

“Kau sudah selesai?”

“Ne.”

“Kajja kita buang kuncinya.”

                                Smiling Angel

“Minho.. boleh aku memeluk mu?”kata Jiyeon.

Wajahnya pucat, aku tidak mengerti kenapa dia tiba-tiba ingin memelukku.

“Jaebal..” Katanya lagi

Ku tarik Jiyeon kedalam pelukankku, tangannya dingin. Dapat kurasakan tangannya meremas baju ku. Ada apa dengannya?

“Gwenchana?”

Dia tidak menjawab, Jiyeon hanya menganggukan kepalanya yang kemudian dia telungkupkan di leher ku. Aku bisa merasakan keringat yang mengenai leher ku.

Aku hanya diam dan mengeretkan pelukan kami. Hingga aku tidak merasakan remasan di baju ku lagi, ada dia tertidur? Aku melepaskan pelan-pelan dirinya, ku lihat matanya sudah terpejam.
Ah tidak! Dia pingsan!!!!

Jiyeon bertahanlah aku mohon! Aku menggendongnya dan berlari ke rumah sakit. Sial!! Kepala ku sakit. Tidak! Aku harus kuat. Jiyeon aku mohon kau harus kuat.

Keringat mulai turun keleherku, dinginnya angin malam tidak bisa membuat keringatku berhenti menetes. Aku menangis frustasi, kepalaku sudah tidak bisa menahan sakit.

Dapat ku rasakan jarum menusuk-nusuk kepalaku.

BRUK!

BODOH KAU CHOI MINHO!

Aku kembali menggendong tubuh Jiyeon yang sempat jatuh karena kelalaian ku. Wajah nya semakin pucat, aku harus segera sampai kerumah sakit.

Sebentar lagi, sebentar lagi kami sampai.

tapi, kepalaku semakin sakit. Aku sudah tidak dapat menahan rasa sakit ini…

BRUK!!!

Aku mati rasa, aku bahkan sudah tidak bisa mengangkat tubuh gadis ku lagi. Kami sama-sama tergeletak di loby, pandanganku mengabur karena air mata ini.

Ku dengar sayup-sayup orang berteriak menghampiri kami..

Bantuan datang sayang.

                               Smiling Angel

Mata ku terasa sangat berat, bau obat-obatan memasuki indra pencium ku. Perlahan-lahan aku memaksakan untuk membuka kedua bola mata ini.

“Syukurlah kau sudah sadar Minho.”

“Kau tidak sadar selama tiga hari. Kau membuat kami semua khawatir.”

Aku memandangi satu persatu orang yang ada disini, semua keluarga ku hadir. Dan aku melihat mereka tersenyum lega karena kesadaran ku.

Tunggu….

Aku tidak sadar selama tiga hari? Jiyeon? Lalu bagaimana dengan Jiyeon?

“Ji….yeon” susah payah aku menyebut nama gadis ku.

Ada apa? Kenapa semuanya diam? Mereka mengenal baik Jiyeon kan?

“Kau haus?” Aku menggelang lemah.

“Ji….yeon?”

Ibu menghela nafas, tatapannya nanar. “Dia belum sadar.”

“Ne?”

.
.
.
.

Kursi roda yang aku duduki berjalan kearah ruang IGD. Aku hanya diam mengikuti suster yang pernah ku lihat saat sedang mengejar Jiyeon saat itu.

Dia bilang, dia akan membawaku bertemu dengan gadis ku.

Seorang dokter memakai pakaian scrub keluar dari ruang IGD, ia melepas masker di mulutnya. Ku lihat wajah nya begitu lelah.

“ah! Kau Choi Minho?” Tanyanya, aku mengangguk dan dia tersenyum miring.

“Aku Park Hyo Joon, Kakak Jiyeon.”

“Jiyeon sakit apa?”

“Kanker tulang. Sudah sejak kecil….”

Hahaha.. happy birthday Choi Minho? Terkejut? ini bahkan bukan hari ulang tahun ku. Ini buka juga april mob, dan ini bukan malan hallowen.

“Jiyeon sering cerita tentang mu.”

“Apa maksud mu?”

“Sejak kecil Jiyeon sudah tinggal disini, dia tidak seperti orang penyakitan. Dia selalu tersenyum, dan bercanda dengan para suster. Bahkan dia berhasil meyakinkan kami untuk tetap bersekolah seperti anak-anak sehat pada umum nya.”

“………”

“Hingga dia cerita tentang seorang pria yang dia temui di taman kota, dia bilang…. dia menyukai pria itu. Dia menyukai mu.”

“M..mwo?”

Air mata menetes dari kedua mata ku.  Jadi, Jiyeon sakit? Tapi kenapa dia tidak bilang? Saat dia meremas baju ku, apa dia sedang menahan rasa sakitnya?

Kenapa dia begitu bodoh? Seharusnya dia membagi rasa sakitnya dengan ku.

“Dia menolak donor sumsum tulang belakang, karena dia tidak ingin sembuh. Dia ingin berjuang bersama-sama melawan sakit dengan pria yang ia sukai itu. Jiyeon tidaj ingin sembuh sendiri, dia ingin melihat kau sembuh lebih dulu.”

Bodoh! Kau bodoh Park Jiyeon!!! Kenapa kau memikirkan ku?!

Hyo Joon menepuk kepala bahu ku pelan. “Jiyeon didalam..”

.
.
.
.

Banyak alat-alat medis yang menempel ditubuhnya, aku baru sadar jika tubuhnya sangat kurus. Aku juga baru tau saat ia menghilang selama tiga minggu, itu karena keadaannya sangat kritis. Disaat ia sadar dia langsung menemuiku hingga sekarang sakit nya kembali parah.

“Kau begitu mencintaiku, heh?!”

Aku mengigit bibir ini, aku sudah tidak bisa menahan tangis lagi.

“Na…do. Saranghae.”

                               Smiling Angel

“Dan Aurora terbebas dari kutukannya karena ciuman sejati yang diberikan pangeran philip..”

Ku tutup buku dongeng ke sukaan Jiyeon, Hyo Joon bilang Jiyeon sangat menyukai princess Aurora dibandingakan princess lainnya.

Aurora tidak perlu repot-repot mencari pangerannya. Ia hanya tertidur, dan sang pangeranlah yang berjuang untuk mendapatkannya.

Jika Cinderella, ia harus menjadi pembantu terlebih dahulu baru bisa bertemu dengan sang pangeran.

Ariel, harus mengorbankan suara nya demi sebuah kaki.

Aku tertawa begitu mendengar penjelasan Jiyeon yang ia katakan pada Kakak nya.

“Hey sleeping beauty, harus kah pangeran mu ini mencium mu agar kau bangun?”

Perlahan aku taru baku cerita diatas meja, aku mengelus rambut indah Jiyeon dan mencium sekilas bibirnya.

“Cepat bangun, sayang.”

.
.
.
.

“Jiyeon sudah sadar?” Tanyaku begitu bertemu dengan dokter Hyo Joon di lorong.

Kaki ku berlari menyusuri lorong, Auro ra ku sudah bangun?

Tidak ada hal membahagiakan di dunia ini selain mendapat kabar jika Jiyeon sudah sadar. Tunggu aku, pangeran Philip mu akan segera datang.

Aku tertawa bodoh.

Ku buka perlahan pintu ruang rawat Jiyeon. Diatas tempat tidur sana ia sedang tertidur damai, aku melangkah hati-hati tidak ingin mengganggu istirahatnya.

Tangan ini terjulur menyentuh kulit pucatnya.

Ah dia terbangun. Tapi dia tidak terkejut, apa Hyo Joon sudah menceritakan semua nya?

Jiyeon tersenyum walau kondisi nya sangat lemah. “Kau tampan dengan kepala botak itu.” Katanya di sertai tawa renyah.

Aku ikut tersenyum walau air mata kian menetes.

“Kenapa menangis? Tidak ingin memelukku?”

Air mata semakin banyak yang keluar, ku peluk hati-hati tubuh ringkih gadis ku. Jiyeon membalas pelukanku, ia mengelus punggungku lembut.

“Aku mencintaimu..” Kata ku saat pelukan kami terlepas.

Jiyeon kembali tersenyum. “Aku tau, aku juga mencintaimu.”

Tuhan… biarkan kami bersama. Aku sangat mencintai gadis ku ini.

                             Smiling Angel

Tidak terasa musim dingin telah tiba. Aku semakin mengeratkan pelukan ku terhadap Jiyeon. Kami berdua berbaring diatas ranjang rumah sakit ditemani selimut yang menghangatkan tubuh ini.

“Oppa.. aku bosan.”

“Mau jalan-jalan?”

Jiyeon mendongak untuk menatapku, kemudian aku cium sekilas bibir pucatnya. “Kabur lagi maksud mu?” Tanyanya

Aku mengangguk. “Kau takut?”

“Aniya!”

.
.
.
.
.

“Siap?”

Aku menggenggam erat tangan Jiyeon. Ku benarkan syal di lehernya dan mengecup sekilas dahi gadisku ini.

“Emm.” Jiyeon mengangguk mantap.

“YAAAA!!! PARK JIYEON! CHOI MINHO! KALIAN MAU KEMANA LAGI?!!”

“Oppa palliiiii.”

Aku dan Jiyeon semakin berlari berusaha menghindari orang-orang yang mengejar kami. Aku tertawa melihat Jiyeon tertawa, ini sungguh menyenangkan.

Gadis ku ini semakin tertawa senang saat kami berhasil keluar dari rumah sakit.

Ku peluk erat Jiyeon begitu angin kencang menyapu wajah kami. Jiyeon menggeleng-gelengkan kepalanya ke dada ini membuat aku tertawa geli.

“Oppa… aku ingin ke sungai han.”

“Kajja kita kesana.”

.
.
.
.

“Hati-hati, sayang.” Kata ku memperingati.

“Ne.” Dia mengangguk patuh seperti anak kucing, aku mengelus pelan rambut nya sementara dia masih asik dengan sosis bakar di tangannya.

“Itu masih panas.” Peringati ku. Dia kembali mengangguk patuh, dasar! Aku semakin gemas melihatnya. Aku gigit gemas pipi chubby gadis ku dan dia menatap ku tidak suka.

“Mau lagi?”

“Tidak.”

Jiyeon mengambil posisi ternyaman untuknya. Dia duduk dipangkuanku sementara tanganku melingkar di perutnya, kami duduk di tepian sungai han menikmati bintang di langit malam yang cerah.

“Aku mencintaimu.” Bisikku disertai kecupan di lehernya. Dia terkekeh geli. “Aku juga mencintaimu, Oppa.” Jawab nya. Tangannya mengusap halus tangan ku yang melingkar di perutnya.

“Oppa.. kau tau? Sejak tadi semua orang memperhatikan mu.”

“Mungkin mereka jijik melihat kepala ku yang botak.”

Jiyeon bangun dari posisinya, dia menangkup wajah ku dengan tangan mungil milik nya. Mata kami saling tatap tanpa arti. “Ani.” Jiyeon menggeleng tegas, kemudian dia mencium bibir ini lembut. Mata kami kembali bertemu. “Itu karena kau sangat keren.”

Sial! Kenapa dia begitu manis?

“Oppa…”

“Emm?”

“Dingin..”

“Aigoo. Kajja kita kembali.”

                                Smiling Angel

“Astaga Park Jiyeon! Kami dari tadi mencari mu dan ternyata kau berada di kamar kekasih mu ini, eoh?!”

“Aish eonni. Aku kan memang selalu kesini jika bosan di kamar ku.”

“Tapi aku hampir saja mati berdiri melihat dokter Park marah.”

“Kau berlebihan. Tadi aku baru saja bertemu Oppa.”

Suster Im hanya menggeleng frustasi sementara Jiyeon terkekeh geli di balik pelukan ku.

“Ah sudahlah aku lelah menghadapi pasangan seperti kalian.”

“Tapi, jika kami tidak ada kau pasti akan merindukan kami kan?!”

Aku memperhatikan raut wajah suster Im yang mendadak kaku, kini dia menunjukkan senyum pedihnya. “Kalian akan sembuh.” Begitu katanya yang dibalas gidikan bahu Jiyeon.

.
.
.
.
.

“AKU TIDAK MAU OPERASI OPPA!!!”

“Dengar, kau harus Ji. I ni demi keselamatan mu.”

“Dan membiarkan Ibu hidup tanpa sum-sum tulang belakang? Membunuhnya perlahan? AKU TIDAK MAU!”

“Jiyeon-ya.. dengarkan Oppa.”

“Aniya! Lagi pula aku tidak ingin sembuh sendirian, aku ingin sembuh bersama Minho!”

Degh!

Jantung ini seperti tertimpa satu ton besi. Sakit dan sesak.

Kenapa Jiyeon masih memikirkan ku disaat kesempatannya untuk sehat sudah didepan mata?

Aku melangkahkan kaki ku yang terasa berat, meninggalkan kamar rawat Jiyeon dengan enggan. Fikiran ku menerawang pada saat pertemuan kami dulu. Jika kami tidak bertemu apakah mungkin mau melakukan operasi? Apa dia sudah sembuh saat ini?

BRUK

Tabrakan seseorang yang membuatku jatuh tidak membuat ku segera berdiri. Aku hanya diam terduduk diatas lantai dingin ini. Suara derap langkah kaki yang berlari kearah ku membuat telinga ku tuli. Tidak! Bukan kearah ku. Mereka melewati ku dan masuk keruangan Jiyeon, aku merasa bodoh karena otak ku entah berada dimana. Aku hanya memperhatikan mereka dalan diam.

Hingga aku melihat Hyo Joon beserta para perawat membantunya mendorong tempat tidur keluar dari kamar menuju ruang IGD. Aku dapat melihat wajah Jiyeon yang pucat serta darah kering yang keluar dari hidungnya.

Ada apa ini?!

Seakan baru mendapatkan nyawa ku kembali. Aku segera berdiri dan berlari mengejar mereka.

Terlambat! Jiyeon sudah masuk kedalan ruang IGD dan aku hanya bisa terduduk menjerit memanggil nama nya berulang kali.

Tuhan…. ambil nyawa ku, dan selamatkan gadis ku.

.
.
.
.

Sudah hampir tiga jam aku menunggu dan menahan rasa sakit dikepala. Aku harus tetap terjaga. Aku ingin kuat untuk Jiyeon.

Ku lihat lampu ruang IGD sudah padam, segera saja aku berdiri ketika Hyo Joon keluar sambil menyeka keringat di dahi nya.

“Jiyeon?”

“Masuklah.”

Aku lantas berlari kedalam begitu Hyo Joon mengijinkan. Jiyeon sadar, tapi aku lihat dia menahan rasa sakit. Dia tersenyum perih melihat ku, air mata menetes disela-sela matanya.

“Oppa…” lirihnya, suaranya nyaris tak terdengar akibat alat bantu nafas yang bertengger di mulutnya.

“Kau harus operasi, kau harus sembuh. Jangan fikirkan aku.”

Dia menggeleng lemah, kembali tersenyum. Dan aku hanya bisa meremas tangannya disertai tangis.

“Aku lelah… aku ingin istirahat.”

“Andwe!!! Kau kuat. Aku tau! Kau janji kan kita akan sembuh bersama? Kau harus operasi. Aku akan memanggilkan Hyo Joon.”

Aku hampir saja ingin berlari keluar jika saja Jiyeon tidak menahan tangan ku.

Dia kembali menggeleng. “Aku… tidak…kuat.”

“Ani!!! Kau kuat!”

“Oppa….sa..ra..ng…”

TUUUTTTTTTTTTTTTTT

“ANDWEEEEEEEE!!!!!”

Ah kepalaku! Tuhan.. kau mau ambil aku sekarang? Ne, ambil aku! Arrgghhhhhhhhh ini sakit sekali. Bahkan ini terasa lebih sakit dari sebelum-sebelumnya. Tangan kanan ku meremas tangan Jiyeon yang sudah dingin sementara tangan kiri ku meremas kepala ku frustasi.

“CHOI MINHO!!”

Pandanganku gelap….

                               Smiling Angel

Suara kicauan burung disertai harum bunga musim semi membuat ku tidak mengerti, berada dimana aku sekarang? Banyak tumbuhan bunga warna-warni disekelilingku. Kenapa aku memakai pakaian serba putih seperti ini? Apa aku sudah meninggal?

“Oppa…”

Suara ini? Refleks aku menoleh kebelakang, itu…. aku tidak percaya, itu Jiyeon. Gadis ku? Dia sangat cantik dengan dress putih gading yang ia kenakan. Rambutnya tergerai indah, senyumnya begitu damai dan mempesona.

“Mau ikut dengan ku?”

Aku meraih tangannya disertai senyum senang. “Tentu.”

.
.
.
.

Aku tidak percaya, Jiyeon membawa ku ke sebuah pemakaman?

Disana terdapat nisan bertuliskan nama ku dan nama nya. Jiyeon menggengam erat tangan ku, kami saling menoleh kemudian Jiyeon tersenyum. “Mau lihat bagaimana kau di kenang, hm?”

End.

Apa ini?aduh maaf kalo pendek, aku ngetik di hp. Ditambah baru sembuh dari galau gara-gara berita yuri yang katanya sempet kencan sama minho. Aduh, itu masa lalu okay? Yang penting masa depan nya si abang itu jiyeon eonni! *ketawajahat*

So, mind to comment please?

Advertisements

Author:

If you Jiyeon fans, you must stay here. but, if you hate my fav idol..you must go on without drama. thx

22 thoughts on “Smiling Angel (Oneshot)

  1. mengharuhkan… wuah.. coba ajah mereka sembuh dan bersatu.. daebakk bosa bikin aku hampir nangis.. ditunggu ff minji lainnya thor

  2. Sedih:’) kalau mereka sembuh bersatu jjang deh
    Tapi mereka bersatu diakhir hayat mereka:’)
    Jiyeon kuat Minho juga
    Mereka sama sama ingin sembuh tapi jiyeon ingin minho sembuh dahulu
    Mereka tetap bersama diakhir hayat
    Pokoknya ditunggu Ff lainnya Fighting&Hwaiting!!

  3. Oh my God.. akhirx mrk brsatu aku snang mrk brsama di akhir tp aku jd nangis bcx.. biar gmn pun ga rela mrk meninggal.. kasian n miris bngt sumpah.. sakit tp slalu trsnyum n brsha kuat.. gmn rsax klrga yg di tinggalkan.. huhuhu.. mdh2an nanti ff minji brktx happy end ya..

  4. Sad 😭😭😭😭
    Sedih menyesakkan banget bacanya
    This is true love
    Feelnya dpt banget bacanya smp sesegukan

  5. walopun mereka meninggal tapi mereka ttp bersama tp ini so sweet banget ^^ aku sukaaa 🙂 minji emang takkan terpisahkan :*

  6. Walau tidak bersatu di dunia tapi mereka bersatu di alam lain dan walau mereka hanya sebentar merasakan bahagia bersama di dunia tapi mereka akan merasakan bahagia yg selama”a di dunia lain duhhh ini mah sad di dunia tapi happy di akhirat bagus” MinJi bersatu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s