Posted in Oneshot

My Lady

image

Author: @siskameliaaa
Pairing: Park Jiyeon&Kim Woobin
Genre: Romance, hurt, drama
Warning: Typo, abal, gaje, OOC, dll.

                         My Lady

Lady Jiyeon, Nyonya memanggil anda.” Seorang butler membungkuk hormat begitu seorang gadis menoleh kearahnya, tatapan gadis itu tidak bisa terbaca, hanya senyuman tipis yang keluar dari sudut bibir mungilnya.

.
.
.
.

Gadis berhelai hitam kecoklatan itu menuruni tangga melingkar hati-hati, caranya berjalan dan tersenyum begitu anggun, rambutnya disanggul keatas khas seorang bangsawan. Gaun dark blue tanpa lengan menjuntai ke lantai, menyebabkan jemari lentik itu mengangkat ujung gaun tersebut guna mempermudahnya saat berjalan.

“Ibu memanggilku?” tanya nya disertai senyuman anggun.

“Kau cantik sekali putri ku.”

“Kau sedang memuji dirimu sendiri, bu?”

Wanita berumur itu terkekeh atas lontaran sang anak. “Oh, kau memang putri ku, sayang.”

“Jadi, kau sudah siap?” Jiyeon mengangguk dan dibalas senyuman anggun sang Ibu.

“Ibu berharap kau menemukan pasanganmu disana.”

Jiyeon menyenggol main-main lengan sang Ibu “Ibu… aku kan sudah bilang, aku tidak suka sebuah komitmen.”

“Ayolah sayang, kau tau Ibu dan Ayah sudah sangat ingin menimang seorang cucu?”

“Bu.. sepertinya kita akan terlambat, Ayah pasti akan marah.”

Sang Ibu memutar mata pongah. “Kau mengalihkan pembicaraan, Lady Jiyeon!” Jiyeon hanya tersenyum sebagai jawaban atas sindiran Ibu nya.

                          My Lady

Sebuah bangunan Eropa kuno terlihat sangat megah dengan arsitektur-arsitektur keemasan dipadu keperakan yang menghiasi dinding. Ditambah luas nya halaman yang mampu diisi ratusan lebih mobil, ditengah taman terdapat sebuah air mancur dengan patung dewa cupid diatasnya. Perpaduan antara gaya klasik Eropa dan traditional Korea menciptakan kesan wah tersendiri bagi setiap tamu yang datang.

Banyak sekali kalangan bangsawan yang menghadiri pesta tersebut, pesta pencarian jodoh untuk sang anak pemilik rumah. Kolot, dijaman semodern ini masih saja ada perbedaan kasta. Yaitu, dilarangnya kelas bangsawan untuk bergaul dengan kelas menengah kebawah. Tradisi yang masih terbawa dari jaman nenek moyang, jadi jangan heran jika kalian tidak menemukan rakyat jelata ditengah-tengah para bangsawan tersebut.

Langkah kaki seorang gadis cantik yang mulai memasuki ruang aula tempat pesta dilaksanakan mulai menyedot setiap perhatian pria bangsawan yang masih melajang.

Siapa yang tidak kenal seorang Park Jiyeon? Bangsawan keturunan Korea-Eropa ini begitu digilai para pria bangsawan. Dengan menyandang nama Routledge di belakangnya, maka semua orang akan menunduk hormat. Bangsawan Routledge sendiri adalah bangsawan terkaya pada era nya, bahkan orang-orang di Eropa begitu memuja dirinya yang dikenal sebagai  Katherine Patricia Routledge.

“Park Jiyeon.” Seruan suara cempreng khas seorang gadis menggema ditelinganya, pandangannya kini tertuju kearah gadis bangsawan bernama belakang Macmillan yang sudah berjalan anggun menghampirinya. “Luna..”

.
.
.
.
.
.

“Dia datang..”

“Aku tau, tapi dia tidak mungkin mau menemuiku.”

“Itu memang salah mu, tuan Charles Robert Redford.” Pria bernama Charles itu memincing tajam kearah pemuda dihadapannya.

“Oh baiklah, maafkan aku Woobin-ssi.”

“Kau terlihat idiot Hyunwoo.”

Pria bernama Hyunwoo itu memutar mata bosan, kita tatapan nya terarah ke seorang gadis mungil berhelai pirang sebahu. Pria itu menyeringai, kemudian meninju main-main lengan Woobin. “Aku ingin menemui gadis ku dulu.” Katanya dan dibalas gidikan bahu Woobin.

Woobin Pov.

Dia gadisku, mata hijau nya mampu membuat ku tunduk dalam sejenak. Suara nya yang lemah lembut seperti alunan penghantar tidur cukup membuat ku terdiam, sentuhan dari tangan halusnya berhasil membuat ku mati rasa. Dia gadis ku. She’s My Lady – Park Jiyeon.

Apapun yang dia lakukan akan terlihat sempurna dimataku, aku mengeraskan rahangku begitu tatapan para pria lajang itu sedang mengamati gadis ku seakan ingin menelanjanginya. Sial! Aku sudah tidak tidak punya kuasa atas dirinya lagi.

Tatapan mata kami bertemu, aku mencoba untuk tersenyum, hanya untuknya. Tapi, apa yang aku dapat? Gadis ku kini hanya menatap ku sebentar lalu membuang mukanya acuh. Kemana gadis ku yang dulu? Yang selalu tersenyum riang saat mata kami bertemu, selalu memeluk tubuh ini saat aku tersenyum untuknya.

Saat ini aku hanya bisa mengepalkan tangan ku, aku geram. Dia mengacuhkan ku dan kini sedang berbincang dengan makhluk astral itu? Sial kau Hongbin! Aku akan membuat perhitungan dengan mu.

                             My Lady

Alunan musik dansa mengalun lembut di aula. Masing-masing dari mereka yang memiliki pasangan sudah menginjakkan kaki dilantai dansa, bergerak maju-mundur-depan-belakang dengan irama slow mengikuti musik. Termasuk Jiyeon dan Hongbin yang sudah terlarut dalam irama.

Sementara itu tidak jauh dari sana terdapat sepasang mata sehitam jelaga telah mengamati baik-baik kedua pasangan tersebut. Sesekali dia mendecih tak suka, dia masih harus bersabar agar rencananya untuk menculik sang gadis berjalan mulus.

“Kau sudah menemukan calon mu?” Pria itu melirik sekilas, dilihatnya sang Ayah yang sedang menantikan jawabannya. Woobin, dia menjawab tanpa melepas pandangannya dari Jiyeon. “Ya. Tapi kau harus bersabar Ayah, butuh perjuangan untuk mendapatkannya kembali.”

Sang Ayah hanya menatap bingung dirinya. “Apa maksud mu?”

“Tidak.”

.
.
.
.

Jiyeon Pov.

Pesta ini membosankan! Aku muak melihat mereka, aku seperti berada di tengah-tengah opera yang sedang berlangsung secara live. Menjijikan, mereka akan memasang wajah sok manis nya untuk mencari perhatian ku. Heh, mereka fikir aku bodoh? Aku tidak tau kenapa Ayah dan Ibu betah berlama-lama dengan para manusia penuh sandiwara ini? Oh.. jangan katakan jika kedua orang tua ku pun melakukan hal yang sama? Tidak! Ayah, Ibu.. aku tau kalian orang baik.

Nafas ku tercekat begitu desahan nafas seseorang meniup tengkuk ku, Tuhan… aku mengenal parfum ini.

“Aku merindukan mu, sayang.”

Terkutuk siapapun itu yang telah membuat ku mati rasa. Sial! Dimana tenaga turbo ku?

“Apa yang kau lakukan?” Suaraku tercekat, aku mencoba melepaskan tangannya yang sudah mengunci tubuh ini.

Dia hanya menyeringai, mencoba menggodaku. Ayah, Ibu aku butuh oxygen. Pria ini tidak pernah berubah, wangi tubuhnya mengingatkan ku akan sosok pria sederhana yang aku temui disebuah villa keluarga ku. Pria yang mampu membuat ku lupa akan daratan, pria yang membuatku buta karena cinta.

“Memeluk gadis ku.”

Pria gila ini semakin mengeratkan pelukan ditubuh ini, sesekali ia mencium mesra tengkuk ku dan membuat aku merinding geli.

“Siapa gadis mu? Aku bukan gadis mu.”

Dia terlihat kecewa, “Kau sudah tidak mencintaiku, hm?”

“Aku memang tidak pernah mencintai mu, aku hanya mencintai seorang pria biasa yang aku temui di Busan.” Aku berusaha menormalkan detak jantungku sambil terus berusaha melepaskan tangannya, tsk! Aku akan menghukum tenaga ku sendiri begitu aku terlepas dari ini semua.

Woobin tersenyum amat manis.. ugh, tunggu? Apa aku bilang? Manis? Ya ya ya aku akui dia memang manis dan err…. hot? Entahlah aku tidak yakin.

“Kau mencintai ku, sayang.”

“Siapa kau?! Aku mencintai seorang rakyat biasa. Bukan bangsawan pembual seperti mu.”

“Aku pria biasa itu.”

Aku tertawa meremehkan, tapi suara ku terdengar aneh karena menahan geli dibagian tengkuk. Lagi-lagi dia mencium tengkuk ku, jika saja tanganku tidak ditahan olehnya…. sudah ku pastikan cap tangan ku segera menghiasi wajah semulus porselin itu.

“Jangan membuat ku tertawa tuan, kau seorang bangsawan.” Ku paksakan diriku tertawa, tidak tahu kah dia bahwa aku kecewa?

“Aku bisa jelaskan.”

Kali ini aku tersenyum puas karena bisa terbebas dari nya dengan memanfaatkan kelalaiannya. Dia menatap ku horror dan aku membalasnya tak kalah horror.

Cukup! Ini jamannya emansipasi wanita, aku tidak suka seorang pria yang menyakiti wanita. Terlebih menyakiti gadis cantik seperti ku.

“Kau membuang waktu ku.” Aku berujar sinis sebelum meninggalkannya seorang diri di balkon, aku masih bisa mendengar jelas dia menjerit frusrasi, perduli apa aku?

Flashback.

Desauan angin membuat daun-daun maple berguguran. Siapa sangka di atas bukit berjurang tajam ini terdapat tempat yang begitu indah, banyak tumbuhan bunga daisy putih yang memenuhi seluruh tanah berumput liar hijau. Di dekat tepi jurang terdapat deretan pohon maple yang sedang menerbangkan daun nya acak-acak.

Park Jiyeon, dia tidak menyesal kabur dari villa pribadi miliknya untuk datang kesini, awalnya ia hanya penasaran apa yang bisa dia lihat dari bukit ini. Ternyata dia bisa melihat surga miliknya sendiri. Tempat ini begitu nyaman untuk dijadikan tempat pelepas penat.

Gadis itu berpenampilan sangat sederhana dengan dress rumahan berwarna putih tulang dan rambut yang tergerai indah, dia menggunakan flatshoes berwarna perak sebagai pelengkap.

Kakinya mulai melangkah riang sambil memutar-mutar tubuhnya mengikuti desauan angin. Rambut indahnya berterbangan kesana-kemari, dia tertawa. Begitu lepas, wajah nya benar-benar terlihat sangat cantik ditambah suara tawa yang sangat renyah.

“KYAAAAAA”

Matanya meneliti sekitar, dia terlihat was-was.

“Tolong!!!!”

Kemudian Jiyeon tersadar jika seseorang membutuhkan pertolongannya, dicarinya sumber suara. Jiyeon menyelipkan anak rambutnya dibalik telinga guna mempertajam indra pendengarannya.

Langkahnya semakin dipercepat saat sumber suara mulai dekat.

“Tolong…. dibawah sini.”

Mata beriris hijau susu itu terbelalak menyaksikan seorang pria yang seding bergelantung diatas dahan pohon, tshirt yang dia pakal robek disebelah lengan, terdapat luka parah disana.

“Pegang tangan ku.”

Pria itu ragu-ragu meraih tangan Jiyeon. “Tidak apa-apa, aku kuat.”

HAP!

Kedua tangan pria itu sudah tergenggam erat di kedua tangan Jiyeon. Susah payah Jiyeon menarik tubuh pria yang tidak bisa dibilang kecil itu, tangan Jiyeon sudah memerah karena menahan bobot tubuh yang sangat berat.

“Terimakasih.” Pria itu berujar tulus, Jiyeon tidak menjawab, tatapannya kini terfokus ke lengan pria tersebut yang terluka. “Kau berdarah.”

Jiyeon panik, dia tidak tau harus bagaimana. Sementara pria itu hanya diam memperhatikan wajah ayu Jiyeon. Sampai matanya terbelalak ketika Jiyeon merobek ujung dress nya untuk membalut luka di lengan nya.

“Setidaknya darahnya akan cepat berhenti jika aku ikat seperti ini.”

Aku Woobin.. siapa nama mu?

Ragu-ragu Jiyeon menjawab, jika dilihat-lihat pria ini hanyalah seorang rakyat biasa. Apa tidak apa-apa dia memperkenalkan dirinya?

Emm.. nan Jiyeon imnida.

Semenjak saat itu mereka selalu bertemu di jam dan waktu yang sama.

“Oppa… kau tidak pernah cerita mengenai keluarga mu.” Jiyeon bersandar didada bidang Woobin, saat ini mereka sedang berada diatas sepeda milik Woobin sambil menikmati sunset dari atas bukit.

“Aku hanya seorang rakyat biasa, bukan seorang bangsawan seperti mu.”

“Aku tidak suka jika kau merendahkan dirimu sendiri. Kau tau kan aku mencintai mu meski kau bukan seorang bangsawan.”

Woobil mencium pipi Jiyeon gemas. “Kau manis sekali. Aku jadi semakin mencintaimu.”

“Nado Saranghae..” Jiyeon membalas disertai senyum jenaka, membuat Woobin semakin gemas dan mencium bibir mungil Jiyeon berkali-kali, sementara Jiyeo  hanya tertawa senang.

Hingga suatu hari, dihari Jiyeon harus kembali ke Seoul..

“Oppaaaaaa!!”

Woobin terperanjat dalam pelukan seorang gadis, segera saja ia melepas pelukannya dan melihat Jiyeon sudah menangis karenanya. Mata yang biasanya cerah kini meredup karenanya.

“Kau siapa? Gadis desa? Tsk! Kau tidak tahu siapa dia?”

“Krystal Jung!”

Dia Kim Woobin, bangsawan keturunan Redford. Dia kekasih ku.

“KRYSTAL JUNG!!!”

“Oppa…”

“Aniya Jiyeon-ah. Aku bisa jelaskan…”

“PEMBOHONGGGGG!!!”

“PARK JIYEON!!!! ARRGGHHH”

Pada akhirnya Woobin hanya bisa menatap nanar punggung Jiyeon yang telah hilang dari pandangannya.

Flashback off.

Jiyeon Pov.

Gilaaaaaa!!! Tuhan bisakah kau membuatku koma sesaat? Badanku kaku, aku malu, senang, sedih, kesal. Apa-apaan ini? Pria ini benar-benar tidak waras!

“Eumph…”

Aku mencoba mendorongnya, namun tenaganya begitu kuat. Masa bodo, aku tidak perduli dengan tatapan para tamu yang tertuju kearah kami. Yang aku tau, aku menikmati ciuman ini. Pria ini memang susah di tebak, aku masih ingat bagaimana dia tiba-tiba saja membalikkan tubuhku, menarik tengkukku hingga berakhir dengan ciuman panas di depan para tamu undangan. Aku merasakan air liur menetes dari bibirku, aku tidak tau air liur siapa itu. Dia semakin bernafsu mengisap bibirku saat aku mulai membalas ciumannya. Kami saling beradu lidah dan berakhir ketika kami kehabisan nafas.

“Kau masih mencintaiku, sayang. Kau tidak bisa mengelak, kamu membalas ciuman ku tadi.”

Sial! Wajah ku sudah memerah seperti udang rebus, sementara dia menjilat air liur yang menetes dari bibir ku. Damn!

“Aku akan menjelaskan sesuatu.”

Aku hanya diam menunggunya berbicara. Lidah ku sudah terlalu kelu dan aku tidaj berani menatap kemana pun, karena aku yakin semua tamu sedang memperhatikan kami. Ayah, Ibu.. maafkan anak mu ini.

“Aku dari awal sudah menyukai mu, aku terjatuh dari tebing karena terlalu terpesona melihat kau tertawa..”

Aku masih terdiam menunggunya melanjutkan kalimat. Sejujurnya aku cukup terkejut.

“Aku hanya tidak ingin kau menjauhi ku karena tau aku seorang bangsawan, tapi saat kau menyebutkan nama akhir mu..  aku benar-benar menyesal telah berbohong. Mengenai krystal, dia hanya seorang gadis yang terobsesi dengan ku. Aku hanya mencintai mu Jiyeon, Saranghaeyo.”

Dia kembali mengisap bibir ini. Sial! Aku jatuh dua kali kedalan posananya.

“Kau harus tanggung jawab atas semua ini, sayang..” aku berbisik disela-sela ciuman kami, ku lihat dia menyeringai.

“Tentu, My Lady..”

Aku tidak ingin menampakkan wajah ku yang sudah semerah darah ini. Setidaknya tidak untuk saat ini.

Semoga besok aku tidak menemukan hal memalukan seperti ini di koran pagi langganan Ayah ku.

Park Jiyeon.”

Kim Woobin.”

eugh! Mati kau Park Jiyeon, Ayah mu dan Ayah Woobin telah memergoki kalian berdua. Berdoa saja semoga mereka tidak menikahkan kami saat ini juga.

End.

Hay! Aku balik dengan oneshot nih! Tadinya mau update TT6, tapi gabisa dipindahin ke hp. Yaudah aku iseng bikin oneshot deh. Gatau kenapa aku lagi suka masangin jiyeon sama woobin :3

Soo, mind for comment please?!

Advertisements

Author:

If you Jiyeon fans, you must stay here. but, if you hate my fav idol..you must go on without drama. thx

24 thoughts on “My Lady

  1. Wohoooo hot couple hot scene… great kissing… heee need a sequel author syk. Plissssss

    Alur ny aq skbonshotbnybok aq jg sk karaktr nya.. seqUell sequel

  2. Wah..keren “..ternyata wonbin bangsawan juga..ahh so sweeet..lucu nya saking terpesona ma jiyeon sampai jatuh ke jurang..kirain di rampok atau apa gitu kkkkk..tapi lau cast cowo nya minho ,myungsoo pasti lebih keren lagi heheee..miane cuma opini ku.. :v

  3. astaga tampilan wordpressnya keren,cute..pada hal kanbagus trnyata woobin juga dari bangsawan.kalau gak sederajat kan mereka akan banyak halangan.tapi yg buat jiyi marah mungkn karna kristal ya udah terbakar cemburu..pokokny ditunggu lanjutan ff mu yg lainnya..

  4. Woahhh uri jiyiii.. akhrx ktmu ff pair jiyi.. snang banget d.. jrng2 bs ktmu couple ini.. wah woobin sih pk bhng.. untung aja jiyi msh cinta.. kekekek mdh2an lgsg di nikahkan deh mrk.. bs buat ff mrk lg ga? Huhuhu jebal

  5. aduuh bayangin jiyi kayak gitu, pasti cantiiikk banget,,,
    dan untung mereka sesama bangsawan, gk asik kalo yg satu rakyat biasa, pasti jalan cintanya rumit,,, pusing bayanginnya

  6. Tumben ada couple jiyeon woobin kkkk
    Woobin saking terpesonanya sama jiyeon smp jatuh gt, bukan cuma jatuh fisik nya tp hati nya juga jatuh ke jiyeon 😃😃😃

  7. akhirnya akhirnya nemu yang castnya woobin. next bikinin yang castnya ini lagi ya author, gomawo kekeke~

  8. Wah …woobin terpesona dengan jiyeon ampek jatuh ke jurang…untunng aja ada jiyeo…
    Woobin bernafsu bgt ama jiyeon bener2 bikin malu..hi..hi..hi
    ohya buat woobin><jiyeon lagi dong…!plissss

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s