Posted in Oneshot

Just You – Oneshot Vers.

BSbGC48CAAExeYi

Story by @siskameliaaa

Pairing : Choi Minho&Park Jiyeon

Genre : Sad, Hurt, Angst

Warning : OOC, Typo, AU, Bosenin,dll.

 

“temanmu yang di Singapore?”tanya seorang gadis kepada gadis lainnya.

“ne! Dia akan pindah kesini. Sebenarnya dia itu asli Korea rumahnya pun dekat dengan rumahku, tapi waktu di Junior High School dia pindah ke Singapore entah untuk apa”

“yeoja atau namja?”teman pria nya menyahuti semangat, gadis itu tersenyum senang

“yeoja, dia itu anaknya menyenangkan. Dia juga cantik dan baik aku yakin kalian akan cepat akrab dengannya. Aku tidak mengerti, dia mempunyai iner sendiri. Siapa saja yang kenal dengannya pasti akan merasa nyaman”

“aku jadi tidak sabar”

“apa dia sekelas dengan kita?”

“tidak usah khawatir, Appa nya sudah mengurus semuanya agar ia bisa sekelas dengan kita”

“daebak!”

“aku akan mendekatinya!!”

“yak! Tidak bisa begitu, aku juga ingin mendekatinya”

Tiga orang yeoja dan tiga orang namja, keenam sahabat yang selalu menghabisakan waktu bersama diatas atap gedung sedang asik memperbincangkan perihal seorang gadis yang sebentar lagi akan bergabung dengan mereka, dibalik itu semua hanya ada satu orang yang tidak tertarik. Seorang pria yang memiliki garis rahang yang tegas, pria itu tidak perduli dan hanya konsentrasi dengan buku tebal ditangannya. Sesekali angin sejuk menerpa rambut pendeknya membuat sang rambut berkibar acak-acakan.

Just You

Mata hitam sekelam malam itu terpaku, terpaku akan satu titik didepan sana. Menatap seorang gadis yang berdiri tegap disertai senyum anggunnya, terlihat dari segi manapun ia seperti keturunan bangsawan, caranya berdiri dan tersenyum benar-benar terlihat anggun. Mata itu berkeliling kesekitar dan terhenti disatu titik, gadis itu tersenyum kearah seorang gadis yang duduk di barisan ke tiga dekat jendela.

“Annyeong haseyo Park Jiyeon imnida..”

Suaranya, suara yang begitu ia rindukan. Mata itu kembali berkeliling dan mata sekelam malam yang sedari tadi memperhatikan gadis itu tetap mengawasinya. Hingga mata itu kemudian terpaku, tepaku di satu titik yang sama. Senyumnya memudar perlahan, pria itu bisa melihat ada sedikit aniya banyak emosi yang tersirat di mata jernih itu.

“Minho-ah..a –aku mencintaimu”

Gadis itu tertunduk malu, tidak berani menatap langsung mata sang pria dihadapannya.

“kau gila?! Kita baru seminggu saling kenal –“

Gadis itu tau jika pria ini menolaknya, menolak secara halus. Dadanya sesak jantungnya berdetak tiga kali lipat.

“ –lagipula besok aku harus kembali ke Korea,masa liburanku sudah habis”

Tidak ada tanggapan apapun dari gadis itu, ia hanya menggigit bibir bawahnya dan meremas sesuatu ditangan yang ia sembunyikan dibalik punggung sedari tadi. Gadis berambut hitam pekat sebahu itu paham, tidak mungkin pria itu mencintai dirinya hanya dalam waktu singkat. Hanya dirinyalah yang bodoh disini. Kebaikan itu mungkin hanya kebaikan seorang teman kepada temannya.

“apa tidak ada sedikit perasaan untukku?”

–sedikit saja sedikit.

“tidak! Maafkan aku. Sebaiknya kau lupakan aku”

Kaki itu melangkah menjauhinya, tidak perduli seorang gadis yang menatap nanar punggung tegap itu. Perlahan buliran bening menetes setelah lama hanya bisa menggenang dipermukaan. Lututnya terasa lemas tangannya bergetar sehingga menyebabkan sebuah benda yang sedari tadi dipegangnya jatuh tak bisa dicegah.

Itu…sebuah gantungan kunci berbentuk hati, warnanya seperti warna batu giok. Hijau dan jernih,membuat siapa saja akan merasa tenang jika melihat benda itu. Didalam hatinya juga terdapat cairang bening seperti air.

“…yeon”

“Jiyeon”

Gadis itu tersadar dari lamunannya dan memutuskan kontak mata dengan si pria.

“ne saem?”

“kau duduk bersama Sulli.. Sulli angkat tangan mu”

Jiyeon tersenyum senang begitu Sulli mengangkat tangannya, begitupun sebaliknya.

.

.

.

“woaa jadi kau tinggal di Singapore sudah empat tahun?! Daebak! Kapan-kapan ajak aku kesana yah”kata seorang pria disampingnya

“dasar maunya yang geratisan saja!”Sulli menimpali dan disambut tawa yang lain.

Mereka, ketujuh pasang sahabat itu sedang duduk melingkar diatap gedung. Menikmati semilir angin musim semi yang sejuk.

“kita belum berkenalan ‘kan?”seorang gadis berambut blonde sebahu tersenyum tulus.

“aku Luna”katanya kemudian

Kini seorang gadis berambut hitam pekat lurus sepinggang mengulurkan tangannya “aku Krystal”katanya kemudian dan disambut uluran halus tangan Jiyeon.

“aku Chanyeol!!!”teriak si pria yang tadi minta diajak ke Singapore, Jiyeon terkekeh sendiri. Pria ini begitu hyper dan menyenangkan.

“Lee Taemin”

Ah kali ini rasanya Jiyeon ingin tersenyum geli sendiri melihat pria sok tampan dihadapannya. Apa-apan gayanya, merapihkan kerah dan menyisir jambul rambutnya. Bahkan pria itu tidak punya jambul, rambutnya pendek. Masih mau sok-sok an membuat jambul?lucu.

Semua mata kini mengarah kesatu objek, termasuk Jiyeon. hanya satu orang masih diam sedari tadi.

“ah kenalkan ini Minho. Dia kekasihku…”Sulli tersenyum malu-malu kala memperkenalkan Minho sebagai kekasihnya. Pria itu tidak merespon, mata sekelam malam itu menatap tajam ke arah mata yang mulai meredup itu.

A –apa?ini apa?kenapa?dadanya bergemuruh, rasanya sesak. Iner nya menjerit.

“ke..kekasih?”suaranya lirih nyaris terbawa angin musim semi.

“ne! Kami sudah berpacaran selama satu setengah tahun”

Oh daebak! Ternyata begitu.. mata itu semakin meredup. kenapa?KENAPA TUHAN!?? Jangan.. jangan sampai pertahanannya runtuh. Mereka tidak boleh tau apa yang sedang ia rasakan. Mereka memang tidak tau, tapi ada salah satu diantara mereka yang tau.

“aku ingin keperpustakaan”

Semua mata menatapnya. Menatap kearah pria yang baru saja bangkit dan berjalan lurus kedepan tanpa menoleh lagi kebelakang.

“ah jangan difikirkan, semenjak liburan usai ia memang lebih suka menyendiri”Sulli tersenyum aneh, merasa tidak enak mungkin.

Kenapa Minho?kau merasa tidak enak hati karena meolak gadis sebaik itu?jangan.. jangan seperti itu Jiyeon tidak suka dikasihani, justru jika kau bersikap seperti itu kau sama saja membuat Jiyeon merasa bersalah. Seharusnya, sejak awal mereka memang tidak boleh bertemu. Seharusnya takdir tidak mempertemukan mereka. Dan seharusnya Tuhan tidak membiarkan Jiyeon mencintai pria itu. Pria yang ternyata adalah kekasih sahabatnya sendiri.

.

.

.

Minho tau saat Sulli memperkenalkan dirinya sebagai kekasih gadis tersebut, mata itu meredup. Mata yang sangat disukainya layu. Kenapa gadis itu harus berada di Korea? Dan kenapa juga takdir mempertemukannya kembali dengan Jiyeon lewat Sulli? Apa takdir sedang tertawa sekarang? Bukannya Minho tidak perduli.. salah itu salah, justru pria itu sangat perduli. Ia pergi karena tidak ingin lebih lama menatap mata yang layu itu.

Ia tidak tega jika harus menyakitinya. Mata itu sama seperti saat Minho menolaknya, layu tidak ada cahaya. Berbeda saat pertama kali mereka bertemu. Berbinar dan bercahaya, ada sesuatu dibola matanya yang membuat Minho terjerat lebih dalam dan dalam sehingga tidak bisa terlepas. Ada suatu dorongan yang membuat Minho ingin tetap membuat mata itu tetap bersinar.

Tapi –justru ia lah orang yang harus disalahkan karena membuat mata itu layu.

“kau orang Korea?”

Gadis itu memekik kegirangan sementara pria yang ada dihadapannya diam menatap kemanik mata si gadis. Kemudian pria itu mengangguk tanpa melepaskan kontak mata.

“wuaaaa daebak! Akhirnya aku bisa bertemu dengan orang Korea disini. Aku bosan tiap hari harus melihat wajah-wajah Asing seperti mereka”katanya sambil menunjuk orang-orang disekitar patung Singa yang mengucurkan air lewat mulutnya.

“bukankah kau orang Korea juga?”

Lagi-lagi gadis itu bersikap kekanakan, ia mengangguk cepat kemudian mengerucutkan bibirnya lucu.

“ne! Tapi aku sudah tinggal disini selama empat tahun. Membosankan”katanya

“kalau begitu kau sudah hafal tempat-tempat menyenangkan yang ada disini ‘kan?”

“tentu saja”

“mau menemaniku jalan-jalan?”

Gadis itu berpose lucu sambil tangannya mengetuk-ngetuk pelan dagunya mencoba untuk berfikir, matanya berkilat nakal “boleh, tapi ada syaratnya”

“mwoh?”

“kau harus jadi temanku!”dasar, itu bukan pengajuan syarat. Tapi perintah mutlak! Lihat saja gayanya yang bertolak pinggang dan penggunaan kata ‘harus’ yang berarti tidak bisa dibantah. Sungguh gadis yang unik.

oOo

“Ommo kau benar-benar Jiyeon? sungguh? Aigoo kau benar-benar cantik. Tapi tunggu kenapa kau terlihat kurusan!? Chagi apa kau melupakan pesanku untuk makan secara teratur? Kau itu nakal sekali sih selalu saja membantah apa yang aku katakan. Gadis nakal”Jiyeon tersenyum saat Eomma Sulli menjawil hidungnya.

“Eomma sudahlah kasihan Jiyeon jika kau marahi seperti itu”kata Sulli sambil membawa tujuh gelas berisi minuman dingin.

“Ahjumma kau terlihat sayang sekali dengan Jiyeon, berbeda dengan Sulli kau selalu saja memarahinya kekekeke –Oups!”Chanyeol berhenti terkekeh begitu mendapat tatapan menusuk dari Sulli.

Eomma Sulli merangkul manja Jiyeon “tentu saja! Dia ini anak kesayanganku, dulu dia sering sekali bermain disini, menginap bahkan bisa berminggu-minggu disini”

“dia itu menyebalkan. Saat di omeli Ahjumma Park pasti larinya kesini dan mengadu seperti anak kucing”Sulli mendengus sebal kemudian tersenyum tulus dan ikut merangkul Jiyeon.

“tapi aku senang, ia yang mengajariku artinya hidup. Dulu aku ini anak yang pemalu dan tidak bisa bersosialisasi, tapi dengan sabar Jiyeon memperkenalkanku dengan teman-temannya dan membuatku percaya diri”

“kalian berlebihan…”

“aniya. Itu benar, kau cahaya dikeluarga ini sayang”gadis itu tersenyum haru, Eomma nya Sulli itu memang sangat menyayanginya dari dulu bahkan hingga sekarang.

“kenapa jadi mellow begini sih!!”Chanyeol merutuk sebal, pasalnya pria hyper ini sangat membenci suasana sedih seperti ini. Walaupun sebenarnya ia sempat terbawa suasana seperti yang lainnya tapi tetap saja ia tidak ingin lama-lama terjebak dalam keadaan seperti ini.

“ah aku akan membuatkan cake untuk kalian”

Eomma Sulli melangkahkan kakinya menuju dapur diikuti Sulli yang berniat membantu.

“SULLI AKU PINJAM CHARGER MU YAH!!”teriak Luna dan berlari begitu saja menaiki anak tangga,

“KALAU BEGITU AKU PINJAM POWER BANK MU”dan disusul langkah lari Krystal.

“ahh bosan aku ingin keliling rumah ini saja”

“aku ikut”

Dan tinggallah mereka berdua diruang tamu, diliputi kesunyian dan kecanggungan. Mereka sama-sama diam tidak berniat atau tidak berani untuk berbicara terlebih dahulu. Minho lebih memilih berkutat dengan buku ditangannya sementara Jiyeon meremas – remas tangannya gugup.

“aku mengerti”

Minho mengangkat kepalanya dan memperhatikan Jiyeon yang duduk tidak jauh darinya. Gadis itu memandang kosong kedepan. Tatapan matanya terlihat tidak fokus.

“kenapa kau menolakku”

–Aku tidak ingin mengerti.

“sungguh aku mengerti”

–Aku ingin bersikap egois

“aku tidak akan bersikap egois”

–katakan kau tidak mencintai Sulli

“aku tau kau mencintainya”

–jangan jadikan itu sebuah alasan

“itukan alasan mengapa kau menolakku?kau sudah memiliki Sulli”

–berbahagialah bersamaku

“semoga kau bahagia bersamanya”

–aku akan selalu mencintaimu. Selamanya

“aku akan melupakanmu”

“JIYEON-AH KAU BISA MEMBANTUKU?!”

Suara teriakan Sulli membuat Jiyeon tidak ingin melanjutkan kata-katanya atau mungkin memang tidak mempunyai kata-kata untuk dilanjutkan, gadis itu menoleh kearah Minho dan tersenyum.

Tidak.. jangan tersenyum jika yang kau perlihatkan hanyalah senyum penuh kepedihan. Jangan membuat Minho merasa bersalah, gadis itu pergi tanpa bisa ditahannya. Tangannya kaku lidahnya kelu. Ia merasa seperti orang bodoh saat ini. Ada gadis yang ia sakiti tapi ia tidak bisa berbuat lebih karena akan ada gadis lain yang disakiti.

 oOo

“Ji wajah mu pucat?!”Taemin panik begitu melihat Jiyeon memasuki kelas. Pria itu segera berlari kearahnya dan menyentuh kening gadis tersebut. Tangan mungil itu kemudian menyingkirkan secara halus tangan Taemin dari keningnya “aku hanya kelelahan”elaknya.

“Aigoo aku lupa kau itu kan tidak boleh lelah. Maafkan aku kerena mamaksamu bermain hingga larut”kata Sulli sembari menatap Jiyeon khawatir.

“Ji? Kau tidak boleh lelah? Memangnya kau punya penyakit?”Luna menatapnya penuh selidik sementara Jiyeon hanya tersenyum samar “Aniya, aku memang tidak suka berolahraga saja dan menyebabkan fisikku menjadi lemah”

“KALAU BEGITU AKU AKAN MENEMANIMU BEROLAHRAGA”

PLETAK

“aww!!! Sakit Krys”

“kau berisik! Tidak usah berteriak juga bodoh. Ini dikelas”

Kenapa?saat di sangapore pun Jiyeon sepucat itu waktu gadis itu menemaninya berkeliling seharian. Minho menatap miris gadis itu, rasanya ia ingin merengkuh gadis itu kedalam dekapannya. Bibir yang biasanya berwarna pink itu kini menjadi putih pucat, pipi yang biasanya bersemu merah saat dipuji Minho kini putih pucat. Minho juga bisa melihat dengan jelas ada bulir keringat di kening gadis itu.

Gadis bodoh. Sudah tau sakit kenapa memaksakan diri ingin masuk kelas? Mata sekelam malam itu masih saja memperhatikan setiap gerak-gerik Jiyeon hingga gadis itu sudah duduk manis dibangkunya masih dengan teman-teman yang mengelilinginya.

.

.

.

“Oppa ayo aaaa –aku sudah menyiapkan bekal ini untukmu”Sulli terus saja memaksa Minho untuk membuka mulut. Mau tidak mau pria itu membuka mulutnya dan membiarkan sesuap nasi goreng kimchi memasuki mulutnya.

“aahhh kalian romantis sekali sih..aku jadi iri”kata Luna diikuti anggukan Krystal.

“makanya cari pacar sana. Tapi aku tidak berani jamin jika pacar kalian akan setampan Oppa ‘ku’ ini”

“huh ne ne ne aku tau pacar mu ini memang tampan”Krystal mendenus tidak suka.

Mereka saling suap-menyuap, Sulli terlihat senang berbeda dengan Minho yang tanpa ekspresi. Dibalik itu semua ada seorang gadis yang tersakiti, ia mengepalkan tangannya erat mencoba mengalihkan pemandangan kearah lain. dadanya begitu sesak saking sesaknya membuat air mata menggenang dipelupuknya.

Mereka terlihat bahagia, tolong Jiyeon tidak ingin menjadi orang jahat disini. Tapi kenapa?kenapa rasanya begitu perih? Ia ingin nyawanya dicabut sekarang juga. Orang yang kau cintai bermesraan bersama sahabatmu sendiri didepan matamu.

Gadis itu berusaha menguatkan hatinya, ia menarik nafas dalam-dalam dan kembali menatap kedua sejoli itu.

CUP

Tolong….tolong cabut nyawanya sekarang juga!! SEKARANG!!! Inernya terus menjerit frustasi.

“woaaa kau benar-benar tidak bisa melihat suasana Choi Sulli. Bisa-bisanya kau mengecup pipi Minho didepan kami”dengus Chanyeol dan hanya dibalas juluran lidah Sulli.

Mata Minho langsung membulat dan refleks menatap Jiyeon. dada itu bergemuruh, rasanya sesak begitu melihat gadis itu diam tidak bersuara, Minho bisa melihat genangan-genangan air mata bertumpuk dimatanya. Tangan gadis itu terkepal kuat, tidak jangan menangis. Tolong, Minho rela melakukan apa saja agar gadis itu tidak menangis.

“Ji temani aku ke kantin ne?”Taemin menarik tangan Jiyeon tanpa menunggu jawaban apapun dari gadis itu. Gadis itu tetap diam dan menatap linglung Taemin seolah bicara ‘kenapa rasanya sakit’. Taemin mengerti, dia tidak bodoh. Sejak awal ia memang merasa ada sesuatu dibalik tatapan Jiyeon dan Minho.

Taemin tersenyum, ia mengerti perasaan gadis itu. Sebentar lagi, yah sebentar lagi pertahanan gadis itu akan runtuh. Pria itu lalu buru-buru menenggalamkan Jiyeon ke lehernya, membiarkan lehernya basah akan air mata.

“Chanyeol-ah aku mencuri start. Wink!”elaknya begitu mendapat tatapan bertanya ke lima manusia itu. Ah tidak mungkin hanya ke empatnya saja karena yang satunya lagi sudah mengetahui apa yang terjadi. Tangan pria itu terkepal kuat, ia tidak suka melihat pria lain menyentuh gadisnya. Tunggu –gadisnya? Sejak kapan Minho mengklaim Jiyeon sebagai miliknya?

“YAK CURANG!!!!”

Chanyeol menjerit setelah Taemin dan Jiyeon sudah berada di ambang pintu. Telat!

oOo

sudah seminggu ini Jiyeon menghindarinya, dan sudah seminggu ini gadis itu selalu menghabiskan waktu bersama Taemin. Seluruh hatinya memberontak, dia tidak suka tapi tidak bisa bertindak lebih.

“Minho aku ingin bicara”

Minho menoleh, di ambang pintu sudah ada Krystal yang menatapnya serius.

“bicara saja”

Gadis itu melangkah maju setelah mendapat restu dari sipemilik kamar, ia duduk disisi tempat tidur sementara Minho masih tiduran dengan kaki yang menggantung kebawah, lengan kanan pria itu menutupi matanya sementara tangan kirinya ia letakkan di perutnya.

Krystal mendesah perlahan “aku tidak bodoh, aku punya mata untuk melihat” pria itu tidak merespon, ia masih diam di posisi semula “aku tau ada yang aneh sejak melihat kalian saling tatap waktu Jiyeon memperkenalkan diri”berhasil kini Minho melepaskan lengan yang menutupi matanya, pria itu mendengarkan dengan baik apa yang akan dikatakan Krystal selanjutnya.

“mata kalian tidak bisa dibohongi. Ada emosi yang terpendam disana, bukan hanya aku. Kami semua menyadarinya bahkan Sulli pun menyadarinya”Krystal menolehkan kepalanya kebelakang berusaha melihat ekspresi macam apa yang diperlihatkan Minho.

Pria itu tetap diam tanpa ekspresi, sepertinya tidak terkejut.

“saat kau dan Sulli bermesraan diatap, kami merasakannya. Kau tidak nyaman dan selalu melirik Jiyeon yang berpaling menatap hampa pepohonan yang tertiup angin. Dan saat Sulli mencium pipimu, wajah mu panik seperti takut ketahuan berselingkuh. Aku tau kenapa Taemin membawa Jiyeon pergi. Gadis itu menangis ‘kan? Minho… kami disini netral, Jiyeon juga sudah menjadi bagian dari kami. Kau mau menceritakan semuanya?”

Mata Minho menatap abstrak langit-langit kamar. Memutar memori saat pertama kali bertemu dengan Jiyeon dan terakhir kali saat ia dengan tega menyakiti gadis sebaik Jiyeon.

“aku bertemu dengannya saat berlibur ke singapore, gadis itu sangat senang karena bertemu dengan orang Korea sepertiku, dia bilang ‘aku bosan selalu bertemu dengan orang Asing seperti mereka’”

Minho tersenyum saat membayangkan pertemuan pertama mereka sementara Krystal terus mendengarkan.

“matanya, ada sesuatu dimatanya yang membuatku terjerat lebih dalam. Mata itu jernih sejernih air laut. Tawanya begitu renyah, dia yang menemaniku selama satu minggu penuh. Ia yang mengenalkanku betapa indahnya Singapore. Dan dia yang memberikanku sebuah kehangatan dan kenyamanan yang tidak aku dapat dari Sulli. Aku sadar aku hanya menyayangi Sulli sebatas kakak dan adik. Tapi Jiyeon beda, dia membuat ku ingin memilikinya seutuhnya. Aku mencintainya”

Mata itu kini sarat akan emosi.

“aku bodoh!! Saat itu hari aku ingin berpamitan dengannya, gadis itu mengungkapkan isi hatinya. Tapi aku dengan bodohnya menolaknya. Saat itu yang ada difikiranku hanya sebuah perasaan bersalah. Itu semua tidak benar, aku bodoh karena jatuh cinta disaat yang salah. Aku memutuskan untuk membuatnya membenciku dan biarkan aku yang menanggung semuanya sendirian. Andai saja, andai saja statusku bukan kekasih Sulli, aku pasti langsung memeluknya dan mengatakan jika aku juga mencintainya”

KLIK

Krystal mematikan tombol yang sedari tadi dibiarkan menyala saat pertama kali ia memasuki kamar Minho. Membiarkan empat pasang telinga mendengarkan setiap kata dan kata yang terucap dari bibir pria itu. Membiarkan seseorang terisak di sebrang sana.

.

.

.

Dikelas suasana begitu canggung, semua sibuk akan fikirannya masing-masing. Saking sibuknya mereka tidak menyadari wajah Jiyeon yang semakin memucat, gadis itu memandang hampa pohon-pohon lewat jendela.

DRRRTTTT

DRRRTTTT

DRRRTTTT

Pandangan mereka kini terfokus begitu mendengar suara handphone Jiyeon yang bergetar diatas meja, gadis itu kemudian mengambilnya dan menempelkan benda itu ketelinganya.

Gadis itu terpaku, dan semua menyadari wajah pucat seperti mayat hidup itu kini menegang. Tangannya bergetar, handphonenya jatuh pecah berkeping-keping.

Jiyeon menyambar tasnya dan berniat berlari jika saja sebuah tangan tidak menahan langkahnya.

“ada apa?”tanya Sulli

“aku harus pergi!!!”jeritnya, wajahnya begitu frustasi. Krystal,Taemin,Chanyeol dan Luna menghampirinya.

“AKU BILANG AKU HARUS PERGI”ia semakin menjerit histeris dan mengundang perhatian anak-anak dikelas. Ia melepas kasar tangan Sulli, fikirannya kasar.

“ma..maafkan aku”suaranya melembut merasa bersalah, tapi kepanikan diwajahnya tidak memudar. Dan berikutnya ia lari tanpa bisa dicegah meskipun sudah diteriaki berkali-kali. Bahkan disaat Chanyeol dan Taemin ingin mengejar gadis itu sudah menghilang tanpa jejak.

.

.

.

Suara kaki menggema dikoridor sekolah, pagi-pagi sekali dicuaca yang sejuk seperti ini Sulli sudah berkeringat dan bajunya sangat berantakkan. Ia terus berlari tanpa perduli banyak siswa yang perotes karena ia tabrak. Langkahnya melambat kala tujuannya sudah didepan mata, saat sudah sampai langkahnya benar-benar melambat. Matanya sudah memanas, sambil menatap lemah teman-temannya yang duduk dibangku masing-masing ia bergumam lirih.

“Appa Jiyeon meninggal karena kecelakaan kemarin”

PRANG

Kaca yang dipegang Luna pecah, nafasnya tercekat.

oOo

ke enam anak manusia itu sedang berdoa dalam hati, Minho mengendarai mobilnya diatas rata-rata. Saat mereka kerumah Jiyeon, salah satu pelayan disana mengatakkan jika seluruh keluarga sudah berada di makam untuk melaksanakan upacara pemakaman. Bodoh kenapa ia tidak membeitahu teman-temannya. Memangnya gadis itu menganggap mereka apa?

Begitu mereka sudah sampai, Minho memarkir asal mobilnya didekat mobil-mobil yang lain. ramai sekali, mereka harus benar-benar menyelinap sehingga bisa sampai didepan.

Kaki mereka terpaku. Terpaku ditempat yang sama, memandang kesatu titik yang sama. Memandang keseseorang yang begitu mereka khawatirkan. Didepan sana, Park Jiyeon duduk manis diatas kursi roda, wajahnya pucat se-pucat pucatnya. Rambutnya ia biarkan berkibar ditiup angin. Disampingnya ada Eommanya yang terus menangis. Sementara gadis itu hanya diam tanpa ada air mata. Disitu juga ada Eomma Sulli yang mencoba menenangkan Eomma nya Jiyeon.

Minho ingin sekali merengkuhnya, tapi ia tahan dan hanya bisa mengepalkan tangannya. Gadis itu begitu rapuh, tidak ada air mata setetespun, itu tandanya kesedihannya benar-benar sudah diambang batas.

Tanpa sadar kaki mereka melangkah untu lebih dekat. Sulli,Krystal dan Luna langsung terisak dan memeluk Jiyeon bersamaan.

“hikksss Ji, ada kami”kata Sulli

“jangan takut, ada hiksss kami disini”sambung Luna

“menangislah”lanjut Krystal sembari mengelus wajah pucat Jiyeon

“jangan berisik.. nanti Appa ku tidak bisa istirahat”katanya semakin membuat tangis ketiga wanita itu membesar.

Bahkan ketiga lelaki yang katanya lebih kuat dari wanita itu tidak sanggup melihat pemandangan seperti ini. Chanyeol dan Taemin sudah sedari tadi menangis sementara Minho baru mengeluarkan air mata saat Jiyeon berbicara.

….

Keenam orang itu hanya bisa melihat Jiyeon yang sudah di dorong menjauh. Jiyeon bilang ia ingin sendiri dan tidak ingin bertemu siapapun. Ia butuh ketenangan.

.

.

.

Sudah sepuluh hari mereka tidak mendapat kabar, saat mereka kerumah Jiyeon orang rumah bilang jika Jiyeon tidak ada dirumah.

“apa Jiyeon kembali ke Singapore?”tanya Luna, gadis itu menatap nanar pepohonan yang tertiup angin. Kegiatan yang selalu dilakukan Jiyeon.

“kenapa tidak bilang?”kali ini Sulli yang bergumam lirih, sama seperti Luna gadis ini juga melakukan kegiatan yang selalu dilakukan Jiyeon. Menatap pohon yang tertiup angin.

“kata Lee Saem juga Jiyeon sudah tidak bersekolah lagi disini”kali ini Chanyeol yang berbicara.

BRAK!!!

“hosh ah hosh aku mencari hosh kalian”Taemin berbicara putus-putus

“Jiyeon”katanya begitu bisa mengatur nafas kembali, semua menegang saat sebuah nama terucap.

“aku bertemu dengannya di Seoul Hospital. Kata dokter disana, sudah sepuluh hari ini ia berada disana. Dia…sakit Leukimia”

1 detik

2 detik

“MWOH?!!!”

Apa lagi Tuhan???? Kenapa kau selalu memberikan kejutan berturut-turut. Cukup, cukup sudah pertahanan Minho. Dia tidak ingin Jiyeon menanggung beban sendirian, ia mencintai gadis itu. Ia akan melakukan apapun untuk gadis itu.

“tunggu aku Jiyeon”

Kini pria itu berusaha mengumpulkan keberaniannya “Sulli..”katanya dan sukses menjadi pusat perhatian.

“maafkan aku. Aku tau aku pria brengsek, tapi aku tidak bisa seperti ini terus disaat orang yang aku cintai berjuang seorang diri. Kau mau marah, marah saja padaku, kau mau menampar, tampar saja aku sesuka hatimu.. tapi aku mohon lepaskan aku. Aku mencintai Jiyeon”

PLAK

Air matanya sudah menggenang saat Sulli menampar Minho, gadis itu terisak kecil.

“bodoh.. hikksss bodoh. Kau manusia terbodoh yang pernah aku temui!!! Kenapa? KENAPA BARU MENGATAKANNYA SEKARANG????”

Semua masih diam “aku melepasmu, aku tau kalian saling mencintai”katanya kemudian. Ia tersenyum tulus “tolong kembalikan dia seperti dulu”

Dan Minho langsung berlari, berlari mengejar cintanya yang sudah menanti.

“kau melakukan hal yang benar”Krystal menepuk bahu Sulli. Semuanya ikut tersenyum, mereka sama-sama melihat langit dan memejamkan mata, mersakan terpaan angin sejuk dari atap sekolah.

Cinta itu seperti pensil yang tertinggal dikelas, kalau tidak hilang pasti diambil teman.

Tapi, untuk saat ini siapa yang harus disalahkan? Jiyeon?gadis itu bahkan dari awal tidak tau jika ia mencintai orang yang salah. Minho? Apasalah nya?ia hanya sedang jatuh cinta. Waktu? Yah waktu yang salah karena membuat mereka jatuh cinta diwaktu Minho masih berstatus kekasih Sulli.

oOo

Minho bisa melihatnya, didepan sana seorang gadis sedang duduk termenung diatas kursi roda. Matanya memandang kosong hamparan rumput yang bergoyang tertiup angin. Ia melangkahkan kakinya mendekat, pria itu berjongkok didepan gadis yang masih memandang kosong ke hamparan rumput tersebut.

Miris rasanya melihat orang yang kita sayangi terdiam seperti tidak bernyawa.

“hey..”

Minho mengelus lembut pipi Jiyeon, gadis itu kini mengalihkan pandangannya. Matanya masih kosong.

“kenapa disini? Disini dingin”katanya sembari membuka blazer dan memakaikannya ke tubuh gadis itu.

“Sulli..”

Suara itu..nyaris tak terdengar.

“tidak apa, aku sudah tidak ada hubungan apapun lagi dengannya. Aku disini untuk mu”Minho tersenyum lembut, wajah itu semakin mendekat. Hingga Jiyeon bisa merasakan terpaan hangat di pipinya. Matanya terpejam memperlihatkan bulu mata lentik gadis itu.

CUP

Minho menempelkan bibirnya dikening Jiyeon, lama sangat lama. Hingga akhirnya ia terpaksa melepaskan nya.

“maafkan aku”matanya begitu teduh, dadanya sesak jika mengingat penderitaan Jiyeon akhir-akhir ini.

“kenapa minta maaf?”

“karena aku seorang pengecut. Aku tidak berani memperjuangkan cintaku untuk mu”

“…”

“tapi jangan khawatir, aku sudah mengurus semuanya. Aku sudah berbicara dengan Sulli, dia dia mengerti. Itulah alasan kenapa aku bisa ada disini, aku disini untukmu. Hanya untuk mu”

“tapi kau menyakitinya”

Tangan Minho bergerak untuk mengelus kedua pipi Jiyeon “tapi aku juga tidak bisa menyakitimu lebih dari ini. Hidup itu harus bisa menentukan pilihan, jika tidak maka kau akan terjebak selamanya di jurang kehampaan.

“kau mencintaiku?”

“aku sangat mencintaimu”

“kau percaya reingkarnasi?”

–tidak

“aku percaya”

“aku ingin dikehidupan selanjutnya kita hidup bahagia”

“apa maksud mu?”

Jiyeon tersenyum tulus “aku sangat mencintaimu” dan mata itu tertutup perlahan seiring nafas nya yang kian memudar.

“hey! Bangun…kau bilang ingin hidup bersama ku?”

Minho menggigit bibirnya, matanya menerawang keatas awan.

“kalau begitu setelah lulus nanti aku kan langsung melamar mu, kita akan memiliki banyak anak. Kau senang kan?”katanya sambil mencium telapak tangan Jiyeon yang mulai mendingin. Minho semakin menggigit bibirnya agar sesuatu di matanya tidak menetes.

“kenapa diam?”

“reingkarnasi huh? Aku percaya sekarang”

“karena dikehidupan berikutnya aku akan membuatmu bahagia. Tidak akan aku biarkan setetes air mata pun jatuh karena ku. Akan aku buat kau selalu tersenyum. Akan ku bunuh siapa saja yang menyakitimu. Park Jiyeon aku harap dikehidupan selanjutnya aku bisa mewujudkan mimpi mu –mimpi kita”

“PARK JIYEOOOOOONNNNNN SARANGHAAAAAAEEEEEEEEEE”

oOo

“Minho belum turun juga?”Sulli mengangguk lemah

“anak itu!! Apa dia tidak ingin melihat Jiyeon untuk terakhir kalinya huh”dengan langkah tergesa-gesa Taemin menaiki anak tangga.

“MINHO”

DOR

DOR

DOR

“AKU TAU KAU SEDIH TAPI KAMI JUGA SEDIH!! JANGAN SEPERTI INI CHOI MINHO”

BRAK

“MIN –ho?”

 

“bagaimana?”Krystal dkk ikut menyusul, langkah mereka ikut terhenti ditepi ranjang. Krystal,Luna dan Sulli menutup mulut tidak percaya. Sedangkan Taemin dan Chanyeol hanya diam tanpa kata.

“ada surat”kata Chanyeol bergetar.

“oxygen ku sudah habis. Tanah yang ku pijak sudah menipis, matahari yang selalu menyinariku disiang hari sudah menghilang, bulan yang menerangi malamku pun ikut menghilang. Bahkan bintang-bintang sudah pergi tak berbekas. Duniaku hancur, duniaku sudah pergi. Oxygen,tanah, matahari, bulan, bintang sudah pergi meninggalkanku. Untuk apa aku hidup jika dengan kehampaan? Dia nafas ku, dia tempatku untuk berpijak, dia cahayaku, dia yang menemaniku, dia yang selalu membuatku bahagia. Dia sudah pergi.

Biarkan aku bersamanya, tidak akan aku biarkan siapapun untuk mengganggunya. Dia milikku, aku milikknya. Tidak ada yang bisa memisahkan kami, bukannya tidak bisa tapi tidak akan aku biarkan. Biarkan maut sekalipun, maka aku juga akan melawan maut agar bisa bersamanya. Hanya dia”

“BODOH!!! KAU BODOH!!!”Taemin mengguncang tubuh kaku itu membabi buta.

“kenapa kau begitu bodoh. Kenapa?KENAPA KAU MEMINUM OBAT TIDUR SABANYAK INI HAH?!!”

“hikksss Taemin sudah”Chanyel berusaha menenangkan Taemin, sementara ketiga gadis yang ada disana hanya memalingkan wajah mereka, mereka tidak sanggup melihat sahabat yang selama ini bersama mereka terbaring kaku, matanya terbuka, mulutnya mengeluarkan busa.

“semoga kalian bertemu disana”kata Taemin sambil memukul keras kasur Minho.

.

.

.

.

.

.

.

“menurut mu bagaimana?”

“itu sih salah Minho nya, kenapa dia itu lambat sekali. Sebagai seorang pria harusnya dia dari awal menegaskan perasaannya. Dasar pria lambat”

“tunggu, Sulli-ah kau bilang novel itu kau temukan digudang?”

“ne, kata Eomma ku nenek buyut ku yang membuat cerita ini”

“aneh…” 

“apanya yang aneh IU-ah?”

“nama mu Choi Sulli, terus dikelas sebelah kita juga ada yang bernama Choi Minho. Apa jangan-jangan kalian reingkarnasi mereka? Nama nenek buyut mu itu juga Choi Sulli kan?”

“mana mungkin, itu hanya kebetulan”

“iya juga sih, kisah nya juga berbeda. Walaupun sama-sama dingin tapi kau dan Minho tidak mempunyai hubungan apapun, saling kenal saja tidak. Iya sih kau memang menyukainya, tapi Minho kan tidak”

“KAU MAU MATI YA?”

“ha ha ha aku hanya bercanda. Tapi nih ya, jika aku bisa bertemu dengan seseorang yang bernama Park Jiyeon di sekolah ini, aku percaya jika kalian itu reingkarnasi”

Sulli menoyor kepala IU “tidak mungkin”

oOo

mata Sulli dan IU melotot, demi apa? Kenapa bisa? Didepan sana ada seorang gadis berambut dark coklat bergelombang sedang tersenyum lebar keseisi kelas. Dia cantik, sangat cantik seperti Barbie. Tunggu.. bukan itu yang membuat kedua gadis itu melotot. Melainkan namanya, yah namanya. Anak baru itu baru saja memperkenalkan namanya. Hell tadi gadis itu bilang…

“Annyeong haseyo, Park Jiyeon imnida”

PARK JIYEON? KOK BISAAAAA????

kedua gadis itu menatap penuh selidik Jiyeon, sementara yang ditatap hanya tersenyum canggung.

“kau sungguh Park Jiyeon?!”tanya IU sambil menunjuk wajah Jiyeon menggunakan sumpitnya. Jiyeon segera menyingkirkan sumpit itu lalu terkekeh sendiri. “ne, kau itu kenapa sih?”tanyanya

“mustahil”

Kedua gadis itu menggumam bersamaan.

“kalian aneh, sudah ya aku ingin memesan minuman dulu”kata Jiyeon, gadis itu melenggang bak model profesional, sementara Sulli dan IU masih tidak bisa mengedipkan matanya.

BRUK

“ah mianhae”mata Jiyeon membulat begitu menabrak seseorang, untung saja ia belum memesan minuman. Jika sudah habislah riwayatnya. Kepalanya terangkat mencoba melihat rupa orang yang ditabraknya.

Mata itu.. hitam sekelam malam, bertemu dengan mata yang mampu menariknya lebih dalam. Keduanya sama-sama terpaku. Sama-sama tidak ingin melepas pandangan mereka, hanya dengan sebuah kontak mata saja sudah bisa membuat memori-memori terkumpul dikepala mereka berdua.

Pria itu tersenyum “aku seperti pernah bertemu dengan mu”katanya kemudian. Jiyeon juga balas tersenyum “aku pun, aneh.”

“biar ku tebak, namamu … Jiyeon? Park Jiyeon?”tidak tau kenapa nama itu terlintas diotaknya, seakan ada sesuatu dengan nama itu. Gadis itu tersenyum dan mengangguk “namamu, Minho.. Choi Minho?”

Dan kedua manusia itu tertawa aneh mentertawakan diri mereka sendiri. Tidak memperdulikan tatapan aneh seluruh orang dikantin.

MINHO TERTAWA? DEMI APA? KOK BISA?

“MUSTAHIL”kedua gadis itu menatap horror Minho dan Jiyeon, mulut mereka terbuka lebar.

Menjadi pusat perhatian memang menyenangkan, tapi kalau menjadi pusat perhatian karena berteriak di kantin apa tetap menyenangkan?

Kedua gadis itu segera menutup mulut mereka dan cepat-cepat lari keluar kantin.

“Sulli, IU jangan tinggalakan aku!!!”Jiyeon menjerit sebal, hampir saja ia ingin mengejar mereka berdua jika tidak ada tangan yang menghalanginya.

“nanti aku akan mengantarkan mu, kebetulan kelas kita bersebelahan”

“KOK BISA?!!”

Oh rasanya mereka masih tidak bisa berfikiran jernih. Sepanjang koridor mereka terus saja bergumam ‘kok bisa’

Langkah Sulli terhenti ia mencengkram tangan IU.

“kalau begitu kita harus mempersatukan mereka”

IU mengangguk mantap “TENTU SAJA”

 

 

Fin

Wahahahahaha tamat dengan gaje nya. aduh maafkan aku karena bikin ff bosenin kaya gini. Ini aku bikin karena otak buntu buat lanjutin Just You, jadi kayanya itu bakal aku delete aja deh terus aku ganti sama yang baru. Tenang-tenang itu gaakan seaneh ini kok. Curhat ya, masa aku hampir nangis pas bikin ff ini. Hampir berarti feel kurang dapet, maaf L.

Yaudah lah yuk komen 😀 ada kritik?saran?atau PUJIAN? Lalalala.

#ParayForGaza #PrayForPalestine #SaveGaja #SavePalestine. Aku sedih masa nih ya waktu Israel nyerang Palestine, rakyat Israel tuh jadiin itu tontonan. Pas roket itu meledak kena rumah mereka malah ketawa kesenengan. Jahat banget gak sih? Aku nangis pas nonton berita itu. Aku gak kuaddd, tuh kan banyak omong -_- langsung aja deh komen.

Advertisements

Author:

If you Jiyeon fans, you must stay here. but, if you hate my fav idol..you must go on without drama. thx

63 thoughts on “Just You – Oneshot Vers.

  1. huahh, q nangis bneran wktu jiyi x meninggal, huaa, hiks hiks.
    tp untung lc d khidupan slanjut x mreka gk complicated, hee

  2. huuaaaaaa~~ masa sedih bgt thor 😥 hiks.. hiks.. Fellnya kena bgtt apalagi pas minho ngajakin jiyeon Nikah.,. Langsung kebayang pas jiyeon di MV the seeya T~T
    dan tadinya mau protes sama author karna jiyeon nya dimatiin(?) tapi pas tau minho mati juga gk jadi XD cinta mrka abadi.. sampe maut memisahkan dan reinkarnasi Menyatukan(?) kekeke~ God Job! :-*

    1. iya dong aku engga rela kalau abang minong tetep idup. terus dia nikah sama cewek lain gitu? OH NOOOOOOO!!!! biarkan abang minong menyusul cinta sejatinya. awawaw:*

  3. ak kira bakalan sad ending,
    ternyata mereka dipertemukan di dunia nyata..
    feel nya dapet sampe nangis baca nya..

  4. Aku kira end nya sad,udh buat aku nangis nih.huhuhu
    ternyata ehh msh ada kelanjtnx.hahaha seneng gak sad ending.

  5. Daebakkkkkk aku nyesekk banged bacanya
    dr awal galau terus, trus apa yg jiyeon rasain tuh nyampe ke aku, gimana sesaknya dy menahan cinta
    aduhhh bikin makin miris aja
    Dan pas minho bunuh diri itu makin bikin nyesekk
    Tp untung mereka bereinkarnasi jd walaupun di kehidupan sebelumnya minji tidak bersatu di masa depan minji akan bersatu

    aku juga ga tega bacanya klo minji sad ending kkkk

  6. Kirain bakalan sad ending ,berasa banget feel nya pas jiyoen meninggal . Tapi untungnya di masa depan minji bersatu

  7. Bagus banget crtnya .dpt kok feelnya pas bagian jiyeon ditimpa brrlipat2 msalah :”
    Nyesrk pas minho jg bnuh diri #shock
    Eh trnyta dia d pertemukannn . Sbnrnya krg pnjg dkit lg aja smpe mreka pacaran .heheheheheh

  8. Nice Ff:’) Sad Ending:^ Tapi akhirnyaa Bersatu juga Minji<3Feelny Krasa banget:^ hdup jiyeon bnyak banget maslah.. Minho bunuh dri,,, tapi akhrnya kembali lagi dan bersatu ama jiyeon:*Minho Jangan Sia"kan Jiyeon lagi yaw:D
    Pokoknya Selalu dtnggu tulisan" mu;) Fighting&Hwaiting!!!

  9. syang bgt ff ini crtanya oneshoot
    klau chaptered pst akn lbh bnyak moment minji.
    hwaaa ska bgt crtanya.
    n aq kra bkalan sad ending eh trnyata happy ending.
    keren deh bt authornya.

    1. makasih.. nanti bakal ada just you chapter vers nya kok. tp beda cerita dan ada sisi humornya. sekedar bocoran, nanti minho yang bakal suka sama jiyeon bukan jiyeonnya.

  10. kirain bakalan sad ending!! alx, bagian awalx itu lho bikin nyesek … apalagi pas tau jiyi mnderita leukimia sampai akhinya minji meninggal>.<
    tp untunglah dimasa depn minji dipertemukan kmbali^^

  11. keren banget banget banget ff”nya .. sempet ngira bakal sad ending ternyata gk.. ah yg terpenting minji bersatu. minji Jjang!!! authot jg Jjang!!! !♡ minji forever aku tunggu berita kalian dating kkk aminn

  12. thorr keren!!
    kirain minho bakalan lanjut sama sulli ~_~
    Cinta nya MinJi emang ga bisa dipisah tuh…
    Daebak! ditunggu ff lainnya yaaa♥♥♥

  13. lebi suka just you chapter kemana2 dr sisi alur konflik karakter tokoh aq sk semua nya berbanding terbalik sama yg ini,,, malah trkesan kok bukan versi oneshot tp uda beda jauhhhh. yg just you part 2 kapan yahhhh aq trtarikkkk bgt lohh ngguin lama bgt g post2 author ny kmn nihh

  14. Ada kehidupan slanjut’y ! KOK BISA? Kata2 it bnr2 terngiang d kpalaku,,sumpah yg paling lucu dan berbekas saat suli dan iu bilang KOK BISA? :v Meskipun nyesek jg pas liat uri jiyi meninggal 😥

  15. anyeong,,aku new reader,,kesan pertama saat nemu blog ini cmn stu kata ‘sedih’ baguss,, lanjutt ff yang lainnya yaa,,

  16. anyeong,,aku new reader,,kesan pertama saat nemu blog ini cmn stu kata ‘sedih’ baguss,, lanjutt ff yang lainnya yaa,,oh iya , ini oneshoot vers(?) nah loh berarti ada yg chap vers nya?

  17. Huaaaaa , saya suka banget sama ff authorrr .. Kerennn , daebak banget , hihihihi , saya mau memperkenalkan diri ” saya readers baru yg terdampar di blog authorr ” saya baru baca ff ini aja uda seneng banget , gilaaa deh suka banget sama ff ini , authorr bisa buat sad sekaligus happy ending(?) Hahahah , pokoknya seruu dehhh .. Gomawoo authorr … Jjjjaaannngggg authorrr .. Keep Writing (y)

  18. ffnya bener2 membawa reader ikut merasakan bagaimana rasanya menjadi jiyeon, nyesek banget, ff ini juga mengecoh, tidak mudah ditebak 😀 daebak

  19. Huaaaaaa rekarnasi ?
    Bneran kah ? Ya ampun kok bisa? Hahahha
    Sedih sedih sedih, jiyi sumpah menderita banget, salut sama sulli, tapi ya emang terlambat, keburu jiyinya meninggal, tapi di kehiduoan selanjutnya mereka bersatu, bnr2 daebak. Hahhaha
    Fiuhhhh untung ga sed ending, nangis darah deh kalo sad , hehehhe 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s