Posted in Tokyo Tower

3. Tokyo Tower : Hunting

siskameliaaa-copy

Poster by Ladyoong @ posterfanfictiondesign.wordpress.com 

Story by @siskameliaaa

Pairing: Park Jiyeon and Choi Minho

Genre  : Romance, Sad, Hurt

Warning : Typo, abal, OOC, gaje, alur kecepetan,dll.

Untuk tulisan yang berwarna abu-abu, itu berarti isi hati seseorang yah;)

Mereka bertemu di Tokyo Tower. Sama-sama menyukai fotografi.. saling berbagi dan saling mengasihi. Tapi, disaat salah satu dari mereka menyatakan perasaannya..Takdir mempermainkan mereka. Akankah mereka mampu mengubah takdir?

Tokyo Tower

“kenapa kau tetap mamakai marga mu itu hah?! Ingat Jiyeon, kau itu sekarang sudah resmi menjadi Kitagawa. Kau pewaris perusahaan keluarga Kitagawa”Masako –Ibu Jiyeon. memandang tajam Jiyeon, sejak pulang sekolah tadi Jiyeon tiba-tiba saja disuruh ke ruangan ibunya. Tidak ada tanggapan apapun dari gadis bersurai dark coklat itu.

“kau bisu hah?! Astaga kau itu harapan ku satu-satunya. Kenapa kau melakukan ini? Aku tidak mau tau besok aku akan menyuruh orang untuk mengurus marga mu kembali”

BRAK!

Masako tersentak kaget saat Jiyeon tiba-tiba saja memukul meja lumayan keras, mata itu saling tatap untuk beberapa detik.

“dengar, aku tidak akan pernah mau mengganti margaku. Sejak awal margaku adalah Park! Aku menghargai mu karena kau sangat baik selama ini, tapi jujur saja akhir-akhir ini aku merasa kau berubah. Kau bukan Eomma ku lagi, dan… oh astaga! Kenapa kau membebani semua ini kepada ku? Bukankah Keiko adalah anak pertama mu? Seharusnya dia kan yang menjadi pewaris perusahaan Kitagawa?aku tidak masalah jika kau ingin menjadikan aku boneka mu. Tapi aku tidak sudi jika harus mengganti marga ku”

“TAPI MENURUT TRADISI KELUARGA KITA KAU HANYA BISA MENJADI AHLI WARIS JIKA MERUBAH MARGA MENJADI KITAGAWA!!”jerit Masako

Jiyeon menyeringai “kau melupakan satu hal, hanya keturunan murni Kitagawa seperti Keiko. Sementara aku hanya anak tiri mu e-o-mm-a”

PLAK

Jiyeon terperangah sambil memegangi pipinya yang sudah memerah akibat tamparan keras dari Masako, mata indah itu menatap tidak percaya. Masako selama ini selalu bersikap lembut tidak pernah membentak ataupun memukulnya. Tapi kini Masako terlihat seperti hilang kendali, ia berubah. Bukan lagi Eomma nya yang dulu. Semua karena perebutan harta keluarga Kitagawa

“Ji, ma-maafkan Eomma ne?Eomma hanya tidak ingin perusahaan Kitagawa jatuh ketangan yang salah”kata Masako penuh sesal

“wae? Kau takut kalau perusahaan Kitagawa jatuh ketangan Oji-san?Eomma kau benar-benar keterlaluan. Oji-san orang yang baik, apasalahnya jika perusahaan jatuh ketangannya?”

“kau tidak tau hah?! Oji-san mu sedang diselidiki atas penggelapan uang negara!! Aku tidak ingin perusahaan menjadi kotor karena ulahnya. Aku sudah cukup pusing dengan kematian Appa mu dan sekarang kau malah menambah bebanku”

“terserah kau saja, toh aku hanya boneka mu kan”

.

.

.

Jiyeon membanting tubuhnya disisi kasur berukuran Queen size super empuk miliknya, matanya menerawang langit-langit kamar. Di Jantung dan kepalanya seperti ada yang mengisi penuh sehingga bisa meledak kapan saja karena kapasitas yang kurang memadai.

Gadis itu kemudian merogoh saku seragam sailor nya, garis lengkung seperti bulan sabit terpatri jelas disudut bibir gadis tersebut. Ditangannya sudah ada kertas beserta deretan-deretan angka yang siap dihubungi kapan saja.

“hubungi tidak? Ish tapi kan aku yeoja bagaimana jika aku terlihat seperti mengejar-ngejarnya? Aigoo harga diriku”dumel jiyeon sambil memukul-mukul kening nya

“kalau tidak aku duluan lalu siapa?Minho kan tidak tau nomor ku, huh harusnya tadi aku yang memberikan nomor telfon ku, bukan dia! Kalau seperti itu kan nanti dia yang akan menelfon ku lebih dulu. Park Jiyeon pabbo, kau itu kenapa sih selalu menjadi orang bodoh jika dekat-dekat dengannya? Oh ayolah telfon?tidak?telfon? tidak?ah telfon!!”

Jiyeon buru-buru bangkit dari tidurnya dan mengobrak-abrik isi tasnya untuk mencari handphone miliknya, setelah ketemu buru-buru ia membuka gumpalan kertas yang tanpa sadar ia remas-remas sejak tadi

“IGEO MWOYAH?”jeritnya saat menyadari kondisi angka-angka tak beraturan didalamnya

“CHOI MINHO KENAPA KAU HARUS MENULIS MENGGUNAKAN PENSIL SIH?!!ARRGGHHHH”

oOo

“haahhh!! Kenapa di dunia ini harus diciptakan pensil? Kalau tidak ada pensil Minho tidak mungkin menulis menggunakan pensil. Kemungkinan juga angka-angka itu tidak akan hancur. Aish kenapa juga aku harus meremas kertas itu?kenapa untuk menelfon saja aku harus gengsi? Aahhhhh jadi yang salah disini itu siapa? Aku atau pensil?atau Minho yang menulis memakai pensil?”

Keiko memandang aneh adik nya itu, sejak tadi Jiyeon terus saja cemberut. Wajahnya juga nampak kusut, bahkan tadi Jiyeon menggeleng-gelengkan kepalanya seperti patung boneka di dalam mobil mereka.

“IIIIISSHHHHHH”jerit Jiyeon tak pelak langsung mendapat perhatian Keiko dan sang supir pribadi, gadis itu masih asik dengan dunianya sendiri tanpa memperdulikan sekitar hingga tiba-tiba saja ia menggelengkan kepala lebih keras dan berhenti didepan wajah Keiko yang masih menatapnya tanpa berkedip.

“kau sakit?”tanya Keiko

“mwoh? Kau kira aku gila? Ish yang gila itu kau!! Sudah lanjut baca saja sana jangan ikut campur urusanku”kata Jiyeon sengit, sementara Keiko menaikkan sebelah alisnya makin tidak mengerti

“aku kan hanya tanya dia sakit atau tidak, tapi kenapa dia bilang ‘gila’?”bingung Keiko

Jiyeon melirik tajam Keiko, sepertinya suasana hatinya sedang sensitif “maksudmu aku itu sakit jiwa kan?ish tidak usah mengelak”sengit Jiyeon sekali lagi dan dibalas gedikan bahu Keiko tanda tidak perduli.

.

.

.

“Minho kau itu sedang menunggu telfon siapa sih? Dari tadi kau hanya diam sambil menatap handphone mu serius sekali, seperti sedang menatap mata seorang gadis yang – hmmpp!”

“tidak usah banyak omong”kata Minho stoic setelah dengan tanpa dosanya ia menyumpal mulut temannya itu menggunakan tempat pensil miliknya.

“kenapa dia belum juga menelfon ku sih?apa jangan-jangan kertas itu hilang? Atau basah? Atau luntur?aiissshhh bodoh-bodoh itu tidak mungkin, mungkin saja Jiyeon sedang sibuk jadi belum sempat menghubungi ku. Tapi sibuk apanya?iisshhhh nado molla”

“kau aneh”

Minho menoleh, disampingnya temannya itu sedang menatapnya jijik

“kau dari tadi hanya menggeleng-gelengkan kepala mu, lalu memukul-mukul handphone terus geleng-geleng lagi.. aigoo cinta memang membuat kita melupakan dunia, dan bergelut di dunia fana ckckck”

“omae!”

“oups! Sepertinya aku lupa jika harus menemui Hikaru Sensei. Ja, ne!”

oOo

“semua karena pensil itu”

Jiyeon berjalan lemas sambil menundukkan kepalanya, lagi-lagi diisi kepalanya hanya ada pensil dan pensil. Ia terus saja berjalan tanpa memandang kedepan hingga…

DUK!

Semua yang melihat refleks memegangi kening mereka sambil bergumam ‘ow’.

“ouch sakit!”keluhnya sambil mengusap kening kemudian membungkuk tanpa semangat.

“sumimasen”lantangnya dan dibalas dengan tawa menggelegar seluruh siswa

Jiyeon mengangkat kepalanya untuk mencari tau apa yang membuat seluruh murid tertawa begitu nyaringnya. Ketika kepala itu terangkat wajah itu langsung memerah padam seperti tomat

“JINJJA PARK JIYEON, KENAPA KAU MEMINTA MAAF DENGAN TIANG EOH?!!”

Jiyeon sejak tadi tidak sadar jika dirinya berjalan menuju lapangan sepak bola dan sukses menabrak tiang gawang, terlebih saat ini sedang waktunya istirahat dan seluruh murid banyak yang berkumpul dilapangan bersama teman-teman se geng mereka.

Gadis beriris coklat itu langsung lari meninggalkan lapangan menuju toilet, ia lalu membuka keran westafel dan mencuci muka berkali-kali

“DASAR PENSIL BODOH!!!”jeritnya

“aku tidak mau keluar, pokoknya aku tidak ingin keluar ishhh”

.

.

.

“kau lama sekali sih”Jiyeon tertegun saat seorang pria tiba-tiba saja berdiri disampingnya. Jiyeon fikir sudah tidak akan ada lagi murid yang berkeliaran mengingat bel masuk sudah berbunyi sajak lima menit yang lalu.

“aku khawatir tau!”kata pria itu masih membuat Jiyeon tertegun

“Mi-Minho?”

“hn”

“sedang apa kau disini?”

“tentu saja menunggu mu”

“ta-tapi bukankah bel masuk sudah berbunyi sejak tadi? Kau tidak masuk kelas?”

“kan aku sudah bilang, aku khawatir”Minho memalingkan wajahnya untuk menutupi rona di wajahnya.

“khawatir? Dengan ku?”tanya Jiyeon malu-malu

“huh kau itu cantik tapi kenapa loading nya lama sekali sih”kesal Minho mempertahankan wajah stoic nya

“maaf saja jika loading ku lama”kata Jiyeon tidak kalah kesalnya

“kajja!”

Minho tiba-tiba saja menarik tangan Jiyeon “eh? Kemana? Kau tidak ingin masuk kelas?”tanya Jiyeon

“aniya, aku ingin menemani mu saja. Aku yakin kau juga tidak ingin masuk kelas ‘kan?”

oOo

“jadi nomor itu hancur?”tanya Minho dibalas anggukan lemah Jiyeon, saat ini mereka sedang duduk dibawah pohon sakura didekat taman sekolah

“pantas saja kau tidak menghubungi ku”

“kau menunggu aku menghubungi mu?”tanya Jiyeon, gadis itu memiringkan wajahnya dan menatap Minho polos tidak memperdulikan rona merah di wajah tampan pria bermata besar itu.

“eh?ano – ah Ji kau itu masuk kelas berapa?”tanya Minho berusaha menghindari tatapan tajam mata Jiyeon

“kau berusaha mengalihkan pembicaraan?”tanya Jiyeon seduktif

“aniya! Aku bertanya sungguh-sungguh”

“huh, aku masuk kelas 11-A”kata Jiyeon membuat Minho bernafas lega. Rupanya gadis ini memang benar-benar polos

“berarti kau itu adik kelas ku?”

“memangnya kau kelas apa?”

“aku 12-A”

“berarti aku harus memanggil mu Minho-senpai?”

“dan aku harus memanggil mu Jiyeon-dono?”

“panggil Jiyeon saja”

“panggil Minho saja”

Mereka berdua terdiam karena berbicara bersamaan, tiba-tiba saja suasana menjadi sangat canggung.

“emm, kau bilang nomorku hancur kan?”tanya Minho mencoba mencairkan suasana

Jiyeon mengangguk”ne, wae?”

“kemarikan tangan mu”

“untuk apa?”

“aku akan menuliskan nomor ku lagi”

“ANDWE!”jerit Jiyeon lantas membuat Minho melebarkan matanya.

“em itu maksudku.. ah kemarikan handphone mu”kata Jiyeon tersenyum lebar

“untuk apa?”

“kemarikan saja”

Minho menyerah, ia memberikan handphonenya dan diterima oleh Jiyeon. Gadis itu buru-buru mengetikkan sesuatu dengan cepat

“igeo”katanya setelah selesai dengan kegiatannya tersebut

“aku sudah menyimpan nomor ku disana”kata Jiyeon menjawab kebingungan Minho, pria bermata besar itu mengangguk paham. Tiba-tiba saja Minho merasakan getar di handphonenya dan membuka isi pesan yang baru saja masuk

“aigoo aku lupa”kata Minho sambil menepuk keningnya

“Ji, aku ada kuis. Maaf aku harus meninggalkan mu, tidak apa-apa kan? Nanti aku akan menelfon mu”

Jiyeon mengerjap berkali-kali saat Minho tiba-tiba berlari seperti mengejar rampok

“jadi itu yang namanya Minho”

Jiyeon menoleh, disampingnya sudah ada seorang pria yang juga menoleh kearahnya. Mata indah itu membulat, sedangkan pria itu masih stay cool dengan headset yang menggantung ditelinga

“OTAK AYAM!”                                                                                                                                                                                     haruma miura 2

oOo

drrttttt

‘kau besok ada waktu?’ -Minho

Jiyeon terkesiap saat membaca pesan yang baru saja masuk, jemari lentik itu tanpa sadar sudah bergerak begitu lincahnya, setelah menekan tombol send Jiyeon berjalan maju mundur sambil menggenggam handphonenya erat-erat

drrttttt

‘bagaimana kalau besok kau ikut aku kesuatu tempat?aku ingin menunjukkan tempat yang bagus untuk di foto. Eotthe?’

“KYAAAA!!!! AKU MANA MUNGKIN MENOLAAAKKKK”

Dan suara teriakan itu sukses membuat burung yang hinggap di pohon dekat jendela Kamar Jiyeon terbang ketakutan.

.

.

.

“kenapa yah, jika seseorang yang sedang jatuh cinta selalu saja senyum-senyum sendiri sambil memperhatikan handphone mereka”kata Siwon

Minho menoleh masih dengan handphone yang ada didalam genggamannya “kau menyindir ku?”tanyanya

“sebenarnya sih tidak, tapi jika kau merasa itu bisa ku perhitungkan”

Minho menatap sengit Siwon, sementara Siwon langsung bangkit dari sofanya dan pergi ke kamarnya sambil bersiul-siul

“bilang saja kau iri karena tidak pernah jatuh cinta”gumam Minho tak pelak membuat langkah Siwon terhenti

“apa kau bilang?!”tanya Siwon sengit

Minho hanya memandangnya sekilas kemudian sok menyibukkan diri dengan handphone nya

“aku tidak bilang apa-apa, tapi jika kau memang mendengarnya bisa aku perhitungkan”

Daann sebuah kemoceng baru saja mendarat di wajah Minho..

oOo

“kau mau kemana?”

Langkah Jiyeon terhenti, diruang tamu ada Keiko yang sedang duduk disofa sambil membulak-balik sebuah majalah.

“hanya ingin memotret”kata Jiyeon sambil membenarkan letak kamera DSLR dilehernya

“aku harap kau tidak menemui pria itu”kata Keiko lagi tanpa menatap Jiyeon, pandangan gadis Jepang itu tetap terfokus dengan majalah nya

“hah tidak usah mengurusi ku. Urusi saja hubungan mu dengan pria jalang itu”kata Jiyeon sebelum pergi begitu saja meninggalkan Keiko yang menatap sendu punggung Jiyeon

“ini semua demi kebaikan mu Ji”kata Keiko bergumam lirih

.

.

.

“sebenarnya kita mau kemana sih? Kenapa tempatnya jauh sekali”kesal Jiyeon sementara Minho hanya diam tidak menanggapi pertanyaan gadis tersebut

“Minho!! Kau itu tidak sopan sekali sih, jika ditanya jawab dong”

“cerewet”

Jiyeon mempout kan bibirnya lucu, gadis itu langsung terdiam dan melanjutkan perjalanan dengan wajah cemberut, sesekali ia menghentakkan kakinya entah karena kesal atau kelelahan karena sudah berjalan cukup jauh dari stasiun bus yang mereka naikki

“tutup matamu”kata Minho tiba-tiba

“tidak mau!!”tolak Jiyeon

“aku bilang tutup matamu”

“dan aku bilang tidak mau”

“ck! Mendokusai”

Minho segera menutup kedua mata Jiyeon dengan telapak tangan nya yang besar “yak!! Apa yang kau lakukan!!”jerit Jiyeon sambil meronta melepa tangan Minho

“hanya menutup matamu, tidak usah norak bodoh”kata Minho dingin

.

.

.

“SEBENARNYA APA MAU MU SIH?!!”tanya Jiyeon sengit setelah Minho melepaskan tangannya, pria bermata besar itu mengeluarkan smirk nya dan menunjuk kedepan menggunakan dagu, Jiyeon mengikuti arahan Minho dengan wajah menekuk masam.

Mata indah itu membulat dan nampak berbinar “ommo!! Minho ini?!”tanya Jiyeon tidak percaya, tangan kirinya ia gunakan untuk menutup mulutnya sedangkan tangan kanannya ia gunakan untuk menunjuk kedepan, sedangkan kepalanya terus bergerak kedepan dan kesamping –ke arah Minho.

Minho mengangguk dan tersenyum lembut “selamat datang di Hitachi Seaside Park”katanya

“aigoo ini bukit warna yang seperti negri dongeng itu?”tanya Jiyeon antusias

“ne, kau beruntung saat ini sedang musim gugur. Jadi kita bisa melihat bunga Nemophila”kata Minho dibalas anggukan semangat Jiyeon.222565_hitachi-seaside-park_663_382 (1)

Gadis itu segera berlari-lari kecil seperti anak kecil, mata itu nampak berbinar sambil dengan antusiasnya ia memotret hamparan biru muda dari bunga Nemophila

Hitachi Seaside Park merupakan taman seluas 3,5 hektar yang dipenuhi bunga berbagai warna. Di puncak taman yang oleh wisatawan diberi julukan Bukit Warna, kita dapat melihat 170 jenis bunga. Jika berkunjung pada musim semi, kita akan disuguhi sekumpulan bunga Daffodil dan Tulip yang mekar. Sementara pada musim panas taman ini menyajikan panorama cantik bunga Mawar dan Nemophila. Selain bunga ini, kita juga akan mendapatkan hamparan biru muda dari bunga Nemophila. Atau gradasi merah muda dan magenta dari bunga Cosmos dan Kochia. Kedua spesies ini bermekaran pada musim gugur. Jadi, tidak ada waktu khusus untuk mengunjungi Hitachi Seaside Park. Taman ini merekah sepanjang tahun.

Disaat Jiyeon masih asik dengan kameranya untuk memotret hamparan bunga itu, Minho justru asik memotret setiap gerak-gerik Jiyeon.

“Minho sini!!!”teriak Jiyeon dari bawah

“ne!”

.

.

.

“Minho foto aku palli!!”teriak Jiyeon

Minho mengangguk dan langsung mengarahkan kameranya kearah Jiyeon sambil memutar-mutar lensa kameranya. Minho tersenyum tipis saat Jiyeon mulai merentangkan kedua tangannya dan tersenyum amat lebar dengan background bunga Nemophila

Jepret!

“sekali lagi!!”

Kali ini Jiyeon hanya menunjukkan senyum lebar dan sebuah jari membentuk angka ‘V’

“sekarang giliran mu, ayo aku foto”kata Jiyeon bersiap-siap dengan kamera miliknya

“ani –“

Jepret!

“yak!! Park Jiyeon apa yang kau lakukan!!”teriak Minho dan dibalas cengiran polos Jiyeon “memotret mu”katanya

“tapi –“

Jepret!

“PARK JIYEON!!”

“BWAHAHAHHAHA MINHO KAU HARUS LIAT MUKA MU LUCU SEKALI DISINI”

“Park Jiyeon!! kemarikan kameramu”kata Minho tajam, pria itu maju selangkah namun Jiyeon malah ikut mundur selangkah dan menggelengkan kepalanya “andwe!! Ini untuk kenang-kenangan wleee”katanya sambil menjulurkan lidah persis anak kecil

“tsk! kemarikan”

Kali ini Minho berjalan cepat kearah Jiyeon, tapi gadis itu malah berlari menghindari “AKU BILANG TIDAK MAU!!”teriaknya

Minho pun segera berlari menyusulnya, terjadilah aksi kejar-kejaran antara mereka. Jiyeon tertawa geli saat Minho masih berusaha untuk mengejarnya, sementara tanpa Jiyeon sadari Minho juga ikut tersenyum melihat Jiyeon yang begitu bahagia.

“KENA!!”teriak Minho begitu berhasil meraih kamera yang diangkat Jiyeon tinggi-tinggi, Jiyeon mengangkat wajahnya kedua mata itu saling terpaku masih dalam posisi Minho meraih kemera yang Jiyeon angkat tinggi-tinggi dari belakang.

Minho memajukan wajahnya, mempersempit jarak diantara mereka. Mata Jiyeon mulai terpejam saat kulit halusnya bisa merasakan hembusan nafas Minho.

“DAPAT!!” teriak Minho begitu dirinya berhasil mengambil kamera dari tangan Jiyeon

Mata Jiyeon mengerjap, wajahnya sudah memerah karena malu. Jadi pria itu cuma mempermainkannya saja? Atau Jiyeon saja yang sangat kepedean.

“ommo jantungku”

“selesai, ini aku kembalikan”kata Minho sambil kembali mengalungkan kamera Jiyeon dileher gadis itu.

“wae? Kau fikir aku ingin menciummu eoh?”goda Minho berhasil membuat wajah Jiyeon semakin memerah

“aniyo!!”elaknya cepat

“ahhh aku ingin berkeliling mencari tempat yang lain saja”katanya lagi dan pergi begitu saja meninggalkan Minho. Setelah Jiyeon pergi, Minho segera memegangi jantungnya

“aigoo jantungku”

.

.

.

“hahhh aku lelah sekali”kata Jiyeon, gadis itu segera merebahkan tubuhnya diatas rumput-rumput hijau disekitar bunga Nemophila

“kau senang?”tanya Minho yang juga ikut merebahkan tubuhnya disamping Jiyeon

Gadis itu menoleh “ne sangat senang” kata Jiyeon sambil tangannya mengutak atik sang kamera kesayangannya

“aku senang jika kau senang”

Jiyeon tersenyum mendengar gumaman Minho, dalam hati ia merutuki perlakuan manis Minho. Jika seperti ini dia jadi semakin susah menghilangkan perasaannya kepada pria itu. Tapi, perduli apa?dia tidak ingin kehilangan pria ini. Eommanya boleh saja mengatur hidpnya, tapi tidak untuk menjauhi pria sebaik Minho

“Minho…”

“ne?”

CHU~

“gomawo”

Minho tertegun saat Jiyeon tiba-tiba mencium pipinya, wajahnya sudah merah seperti tomat. Untuk saja Jiyeon langsung pergi setelah mencium pipinya, jadi ia tidak perlu malu karena gadis itu tidak melihat rona merah dipipinya, dan Minho berani jamin jika wajah Jiyeon juga sudah merah padam, makanya gadis itu langsung lari setelah menciumnya. Hah lucu sekali, pikir Minho

“Park Jiyeon!! kau membuatku gilaaa”kata Minho sambil mengacak rambutnya

Dari jauh ada seseorang yang mengikuti mereka dari tadi, tangan orang itu mengepal menahan marah. Gigi nya bergemelutuk saking kesalnya, matanya menatap tajam kearah Minho dan Jiyeon.

yah, bersenang-senanglah dulu”katanya kemudian

.

.

Disepanjang perjalanan pulang suasana canggung meliputi mereka, mulai dari keluar dari bukit bunga sampai memasuki bus dan turun dari bus mereka hanya saling diam tanpa bicara

“dimana rumah mu? Aku kan mengantar mu pulang”kata Minho memecah keheningan, Jiyeon tiba-tiba saja menegang

“ah –em tidak usah, ini sudah malam aku bisa pulang sendiri”jawab Jiyeon gelagapan

“justru karena ini sudah malam, aku tidak mungkin membiarkan mu pulang seorang diri. Kau ini seorang gadis. Bahaya jika berjalan sendirian”cerewet Minho, Jiyeon hanya pasrah saja ketika Minho menarik tangannya. Mau tidak mau Jiyeon menunjukkan jalan kearah rumahnya, walaupun berat tapi ini sudah ditengah jalan.

“semoga setelah ini tidak akan terjadi apa-apa dengan mu Minho, dan aku harap kau tidak nekat untuk menemuiku dirumah”

.

.

.

“ini rumah mu?”tanya Minho sambil memperhatikan rumah didepannya, dia sungguh terkejut ternyata dijaman semodern ini masih ada rumah bernuansa khas tradisional Jepang. Walaupun sangat kental dengan rumah tradisional Jepang, rumah itu juga tidak lepas dari kata klasik. Perpaduan antara gaya tradisional dan modern membuat kesan ‘wah’ sendiri dimata Minho

“ne”kata Jiyeon

“emm kalau begitu aku pulang dulu ne, ini sudah malam. Sayonara”

“Minho….”

Langkah Minho terhenti saat Jiyeon tiba-tiba saja memegang tangannya begitu erat, wajah gadis itu nampak panik

“ne?”

“hati-hati”katanya

Minho tersenyum lembut, ia kemudian berbalik mengacak rambut Jiyeon

CHU~

Jiyeon memejamkan matanya saat Minho mencium keningnya cukup lama “jangan khawatir, aku bisa menjaga diriku”katanya setelah melepas ciumannya

“cepat masuk”

“ne, konbawa”

“konbawa mo”

.

.

“dari mana kau?!”Jiyeon merasa lutut nya sangat lemas, bulu kuduknya tidak-tiba saja merinding saat sang Eomma sudah berdiri didepannya dengan sorot mata memandang tajam, disampingnya ada Keiko yang diam tanpa ekspresi “siapa pria tadi?!” dan Jiyeon merasakan ketakutan yang amat besar saat itu juga.

 

tbc

Oji-san : paman

Omae : kau (kasar)

-senpai : sebutan untuk senior

-dono : setingkat dibawah, tapi menunjukkan rasa hormat

Sayonara : selamat tinggal

Konbawa : selamat malam

Konbawa mo : selamat malam juga

Mendokusai : merepotkan                                                                                                                                                                             Sedikit-sedikit udah mulai keungkapkan? Diatas juga udah dijelasin kenpa Jiyeon harus pindah marga dan tradisi apa yang ada dikeluarga mereka. Masih banyak teka-teki yang belum keungkap tapi aku agak engga pede buat ngelanjutin. Responnya kurang bikin aku engga semangat 😦

Next or delete?

komen yah^^

Advertisements

Author:

If you Jiyeon fans, you must stay here. but, if you hate my fav idol..you must go on without drama. thx

25 thoughts on “3. Tokyo Tower : Hunting

  1. minho sama jiyeon sama2 lg kasmaran..siapa yg ngeliat minji sampai tangannya mengepal gitu..otak ayam siapa dia sebenarnya next thor penasaran dg kelanjutannya

  2. Lanjut thor..
    Emg kenapa jiyeon gak boleh deket”sama minho??
    terus siapa itu yang gak suka kedekatan minho n jiyeon??
    next part thor..

  3. apa jiyeon udah dijodohin jadi gk boleh deket” sama minho ?? eomma tirinya jiyeon mengerikan >< tpi sbnernya dia baik kan?? hihihiww moment minji nya so sweet ❤
    Fighting thor^^ !!

  4. Minji makin deket, jiyi sama minho udh pd berani nih main cium2
    Si otak ayam itu siapa? Apakah dia d jodohin sama jiyeon
    Oh ternyata jiyi cuma anak tiri yah, tp knp harus dia yg jd ahli waris kan ada keiko yg anak kandungnya? Masih bnyak hal yg bkin penasaran next next lanjut yaaa

  5. itu siapa yg ngintai Minho mha jiyeon … *?*

    truss kan jiyeon itu anak tiri, ko’ bisa dia yg bakal jd pewaris prusahaan keluarga kitagawa dan ada apa dgn minho ko’ nda boleh dkat” ama jiyeon -.- #Bingung *?*

    *ditunggu next part’a thor, jgn smpe d’delete ya please^^ *sambilNgusap”TelapakTangan

  6. Minji semakin deket ,, penasaran sama si otak ayam itu siapa. Trus siapa yang ngikutin minji ,, suka ceritanya apalagi moment minji nya

  7. knp ibu jiyeon over protektif bgt sm jiyeon?
    Trus ngelarang jiyeon utk berhubungan dgn minho?
    Apakah minho itu musuh mereka?

  8. siapa tuh orang yang melihat MinJi??

    eomma nya jiyeon bener bener deh..
    kasian si jiyeon dikekang gitu T_T
    Minho harus jaga jiyeon kekeke
    next part 😀

  9. lanjut.jiyi anak tiri tapi knpa eommax mau jiyi mewarisi kekayaanx ya? masih byak yg lom tuntas.semangaaaat…

  10. Anyyeong thorr:) Lanjuttt aja thor ni msh pnsran lika liku hdup jiyeon dan minho:D jadi jiyeon anak tiri? Aigoo ksian jiyeon:^ini msh kurang thor ayoo lanjutt thor;)
    Next Chapter thor Fighting&Hwaiting!!

  11. Ooow jadi jiyeon itu anak tiri toh, tp knp harus dy yg nanggung beban itu? Kenapa ga keiko?
    Yg mengepalkan tangan saat minji berduaan tuh siapa?
    Lanjut donk thorrr
    XD

  12. Wah siapa yg ngikutin minji penasaran.. kok eomma jiyi ngelarang jiyi buat dekat” minho
    Penasaran alasannya apa?

  13. ” Aahhhhh jadi yang salah disini itu
    siapa? Aku atau pensil?atau Minho
    yang menulis memakai pensil?” ”

    ji eonni , salah author nya :’v kkkkkkk
    bcanda thor , mian .-.

    boleh otw lanjut baca ne 😉

  14. Bukan’a apa ya Q sedikit ngakak pas ada tulisan Dono padahal itu kan untuk junior dibawah kita tapi aneh aja hehehe

    Jiyi tega banget masa pacar ku dipanggil Otak Ayam padahal Haruma kan otak cerdas, tampan, manis pula apalagi ada tahi lalat’a duhhh pacar ku dan kenapa pula setiap aktor jepang yg Q sukai ada tahi lalat’a mungkin takdir

    Jieee MinJi udah mulai berani kiss walau di pipi dan kening duhhh bahagia kali lihat kalian dan penasaran siapa yg kesal melihat kedekatan mereka hemmm misteri guest’a bikin penasaran

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s